| rudyanto08 (Penasihat) 26/08/08 14:40 | 🙂 Fren di jual Ke Esia Baca berita di Bisnis Indonesia hari ini, kelihatannya persaingan yang sangat ketat akan memaksa merger Operator, dan Fren to Esia ini permulaannya ??? Hary Tanoe Lego Fren ke Esia Tuesday, 26 August 2008 - Selasa, 26/08/2008 - Bisnis Indonesia JAKARTA: PT Global Mediacom Tbk, secara bertahap, menjual saham anak perusahaannya yang memiliki kegiatan di luar bisnis media. Salah satu saham anak perusahaan yang akan dilepas adalah PT Mobile-8 Telecom Tbk, penyedia jasa telepon Fren, kepada PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), operator seluler berbasis code division multiple access (CDMA) Esia. berita selanjutnya ------------------------------------------------------------------------------------------ berita terbaru tentang seluler Post Extras: 🖨️ Cetak |
| erwin101010 (Penasihat) 26/08/08 14:53 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia wow fren sama esia merger ???... tambah mantap aja nih esia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| picolas10 (Penasihat) 26/08/08 16:27 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia smart bubar donk Post Extras: 🖨️ Cetak |
| erwin101010 (Penasihat) 26/08/08 17:41 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Mungkin klo esia sama fren uda gabung ... esia gogo nya uda ga kepake lg Post Extras: 🖨️ Cetak |
| belanak (Penasihat) 26/08/08 17:41 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia merger terus kasih harga lebih murah lagi ,,,, Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 26/08/08 17:54 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Hary Tanoe lego Fren ke Esia JAKARTA: PT Global Mediacom Tbk, secara bertahap, menjual saham anak perusahaannya yang memiliki kegiatan di luar bisnis media. Salah satu saham anak perusahaan yang akan dilepas adalah PT Mobile-8 Telecom Tbk, penyedia jasa telepon Fren, kepada PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), operator seluler berbasis code division multiple access (CDMA) Esia. "Kami mengkaji untuk fokus ke bisnis inti, yaitu media. Anak perusahaan yang di luar bisnis media akan kami lepas," ujar Presiden Grup dan CEO Global Mediacom Tbk Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo kepada Bisnis akhir pekan lalu. Namun, dia tidak bersedia berkomentar mengenai penjualan saham Mobile-8 kepada Bakrie Telecom. Sebagai langkah awal divestasi Mo-bile-8, Global Mediacom pada awal bulan ini melepas 15,8% saham-atau 3,19 miliar saham-operator Fren ke pasar pada harga Rp143 per saham dengan nilai Rp457,54 miliar. Dengan demikian, kepemilikan Global Mediacom berkurang dari 66,8% menjadi 51%. "Tujuan dari transaksi itu adalah memperkuat fokus perseroan di bisnis media," tutur Hary. Namun, dia tidak bersedia menjelaskan mengenai identitas investor yang membeli saham Mobile-8 itu. Presdir Mobile-8 Wityasmoro Sih Handayanto mengatakan masalah divestasi itu merupakan urusan pemegang saham. "Saya tidak pernah mengetahui rencana itu dan [hal tersebut] tidak ada urusannya dengan direksi." Segera diumumkan Sumber Bisnis yang mengetahui transaksi itu menambahkan kelompok Bakrie serius dengan rencana tersebut dan mereka membeli saham itu di pasar. "Mereka sudah bernegosiasi dan tidak lama lagi diumumkan ke publik." Struktur korporasiGlobal Mediacom per 30 Juni 2008 Media Media Nusantara Citra 71,4 % RCTI 100% Global TV 100% TPI* 100% Media Nusantara Informasi 100% MNI Global 100% Media Nusantara Citra BV 100% Cross Media International 99,9% MNC Internasional Middle East 100% Star Media Nusantara 70% Telekomunikasi dan TI Mobile-8 Telecom 67% Infokom Elektrindo 100% Media berbasis pelanggan MNC Sky Vision (Indovision) 51% Sky Vision Networks** 100% Infrastruktur Citra Kalimantan Energi 80% Global Mediacom 100% Sumber: Materi paparan publik global mediacom, 23 April 2008 Ket : *) dalam proses untuk peningkatan menjadi 100%. **) Dalam proses stukturrisasi Bisnis CDMA yang dikembangkan Mobile-8 sama dengan yang dioperasikan oleh BTEL saat ini, sehingga sangat mudah menyatukan keduanya dalam satu entitas bisnis. Pemilik Grup Bakrie Nirwan Dermawan Bakrie yang ditemui Bisnis kemarin tidak bersedia menjawab soal itu. "Saya tidak bisa menjawab. Tanyakan saja ke Pak Anin [Anindya Novyan Bakrie, Dirut BTEL]," ujarnya. Ketika dihubungi, Anindya Bakrie belum bersedia menjelaskan transaksi itu lebih jauh. Namun, eksekutif yang mengetahui transaksi tersebut memastikan BTEL membeli 15,8% saham Mobile-8 itu melalui pasar. "Keahlian Global Mediacom kan di industri pertelevisian. Persaingan di industri ini luar biasa ketat. Kami butuh fokus," ujarnya. Selain menjual Mobile-8 kepada Bakrie Telecom, katanya, Mobile-8 juga menjajaki mekanisme merger dengan Bakrie Telecom. "Kedua operator terbukti mampu melalui masa sulit. Frekuensinya sama 800 Mhz. Fren dan Esia sama-sama bergerak, tapi Esia di CDMA dan Fren di sektor fixed-wireless. Mereka saling melengkapi melalui merger ini dan daya saing mereka pasti meningkat," ujarnya. Menurut dia, jika merger itu direalisasikan, saham Global Mediacom di Mobile-8 otomatis terdilusi. Namun, kekuatan aset Mobile-8 dan BTEL akan membentuk perusahaan telekomunikasi baru terbesar keempat di Indonesia. Nilai aset gabungan Mobile-8 dan BTEL bisa mencapai Rp12,6 triliun, dengan perincian 1.500 base transceiver station Fren Rp4,6 triliun dan aset Bakrie Telecom Rp8 triliun. Sebagai perbandingan, total aset PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Rp85 triliun, PT Indosat Tbk Rp46 triliun, dan PT Excelcomindo Pratama Tbk Rp23 triliun. Seorang bankir investasi membenarkan BTEL ditawari saham Mobile-8. "Karena operator Fren menyerah. Apalagi persaingan di bisnis seluler semakin ganas." (abraham runga/M. Munir haikal)(sylviana.pravita@[tautan dihapus] wisnu.wijaya@[tautan dihapus]) Oleh Sylviana Pravita R.K.N. & Wisnu Wijaya Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| erwin101010 (Penasihat) 26/08/08 23:19 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Ga sabar pengen liat hasil kolaborasinya ... pleki lewat deh Post Extras: 🖨️ Cetak |
| murbei (Penasihat) 27/08/08 08:49 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia asik asik hidup pleki...eh esia! untung pake esia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 27/08/08 10:23 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Pemilik Fren dan Esia negosiasi jual beli saham JAKARTA: Manajemen PT Global Mediacom Tbk menyatakan terjadi pembicaraan mengenai rencana jual beli saham antara pemegang saham PT Mobile-8 Telecom Tbk dan pemilik PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), operator Esia. "Kalau memang dari pembicaraan itu menghasilkan keputusan yang saling menguntungkan, kenapa tidak. Apakah yang dipilih adalah merger atau penjualan kami tidak mengetahui keputusannya karena Pak Hary [CEO Global Mediacom Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo] yang mengetahui hal itu," ujar Sekretaris Perusahaan Global Mediacom Gilang Iskandar kepada Bisnis kemarin. Sekretaris Perusahaan Mo-bile-8 Chris Taufik menambahkan rencana penjualan saham itu kemungkinan dibahas di level pemegang saham. "Yang kami sampaikan kepada Bursa Efek Indonesia adalah dari sisi formalnya, karena rencana itu belum dibahas. Namun, kemungkinan hal itu dibahas di level pemegang saham," ujarnya. Statistik pelanggan kartu prabayar di RI Operator Pelanggan Update Lisensi seluler: Telkomsel 50.548.000 Juni Indosat 25.750.628 Maret XL 22.423.262 Juni NTS 591.990 Juli Hutchison CPT (3) 3.209.196 Juni Mobile-8 Telecom 3.772.079 Juli Sampoerna TI 405.287 Feb Smart Telecom 504.330 Juli Lisensi fixed wireless: Indosat (StarOne) 677.163 Maret Telkom (Flexi) 6.690.198 Juli Bakrie Telecom (Esia) 4.456.663 Maret Sumber : Laporan terbaru operator ke Ditjen Postel Pemegang saham emiten penyedia jasa telepon Fren per 31 Juli 2008 adalah Global Mediacom sebanyak total 66,81% saham dan Qualcomm Incorporated 5,01%. Selebihnya 28,18% dipegang oleh publik dengan kepemilikan kurang dari 5%. Sementara itu, PT Media Nusantara Citra Tbk hadir dalam Indonesia Investor Conference 2008 yang diselenggarakan oleh Citigroup kemarin. Pertemuan itu dihadiri oleh 44 emiten dan manajer investasi asing dan lokal itu. Presiden Grup dan CEO Global Mediacom Hary yang juga Bos Media Nusantara Citra pun hadir dalam pertemuan itu. Namun, dia belum bersedia menjelaskan secara detail rencana penjualan Mobile-8. "Maaf, saya sedang roadshow." Hary juga tidak mengatakan apakah roadshow itu terkait dengan penjelasan kinerja semester II Mobile-8 atau membahas rencana divestasi. Sumber Bisnis menuturkan Hary Tanoe dan rombongannya banyak menerima pertanyaan dari manajer investasi mengenai rencana itu. "Jadi, intinya adalah meski Bakrie Telecom merupakan investor yang dinilai paling strategis, tetapi tampaknya masih ada kemungkinan bagi investor strategis lainnya. Siapa tahu bisa mendapat nilai yang lebih tinggi dari Bakrie Telecom," ujar sumber itu. Cabut suspend BEI berencana mencabut suspend perdagangan saham emiten berkode FREN hari ini. "Bursa mencabut penghentian sementara perdagangan efek Mobile-8 di seluruh pasar pada 27 Agustus 2008," ungkap Kepala Divisi Perdagangan Saham Supandi dalam keterbukaan informasinya, kemarin. Harga saham BTEL kemarin ditutup pada level Rp280 atau naik 7,69% dibandingkan dengan penutupan perdagangan 25 Agustus 2008, yaitu Rp260. Heru Sutadi, Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia, mengisyaratkan rencana penerbitan peraturan menteri akan mengatur merger operator telekomunikasi. Dia memprediksi dengan kompetisi pasar yang semakin ketat dan lebarnya kesenjangan antara operator existing, langkah merger maupun akuisisi tidak mungkin dihindari. (Pudji Lestari/Abraham Runga) (sylviana.pravita@[tautan dihapus] Oleh Sylviana Pravita R.K.N. & Roni Yunianto Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 27/08/08 10:25 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Menanti kelahiran raksasa bisnis seluler CDMA Apa bedanya layanan CDMA (code division multiple access) Fren dari PT Mobile-8 dan Esia dari PT Bakrie Telecom? Kalau pertanyaan itu ditujukan kepada pelanggan seluler, mereka akan menjawab bahwa nomor Fren bisa dibawa ke luar kota secara berpindah-pindah, sedangkan nomor Esia tidak bisa di bawa ke luar kota, kecuali diaktifkan terlebih dahulu. Kalau pertanyaan itu ditujukan kepada kedua operator itu, maka Mobile-8 akan menjawab Fren merupakan layanan seluler seperti GSM yang jangkauannya sudah meluas di seluruh wilayah Pulau Jawa. Adapun Esia akan mengklaim sebagai layanan telepon rumah yang mobile, karena pesawatnya menggunakan telepon seluler. Jawaban atas pertanyaan itu semuanya benar. Sekalipun sama-sama mengadopsi teknologi CDMA dan beroperasi pada frekuensi 800 MHz, kedua operator CDMA itu memegang lisensi penyelenggaraan telekomunikasi yang berbeda. Sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah No.52/200 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi, penyelenggaraan jaringan telekomunikasi terdiri dari dua: penyelenggaraan jaringan tetap dan penyelenggaraan jaringan bergerak. Mobile-8 menggelar layanan Fren dengan lisensi sebagai penyelenggara jaringan bergerak, sedangkan Bakri Telecom mengantongi lisensi penyelenggaraan jaringan telepon tetap untuk layanan Esia. Lalu apa bedanya? Toh kedua layanan itu sama-sama menggunakan ponsel, artinya percakapan bisa dilakukan secara begerak. Memang benar, secara teknologi keduanya pada dasarnya menggunakan pesawat ponsel. Namun, yang membedakan keduanya adalah fitur roaming yang hanya dimiliki pemegang lisensi penyelenggaraan jaringan bergerak. Fitur ini memungkinkan pelanggan untuk berpindah dari satu kota ke kota yang lain cukup dengan menggunakan satu nomor. Itulah sebabnya nomor Fren-yang menjangkau lebih dari 100 kota atau kabupaten-dapat digunakan secara berpindah-pindah di kota atau kabupaten tersebut tanpa harus melakukan migrasi nomor. Sebaliknya, Esia sebagai pemegang lisensi penyelenggara jaringan tetap tidak memiliki fasilitas roaming. Itulah sebabnya, nomor Esia-yang layanannya menjangkau sekitar 50 kota/kabupaten-hanya dapat digunakan secara lokal berdasarkan domisili pelanggan. Memang, Esia saat ini menawarkan fitur layanan Esia GOGO untuk membantu pelanggan bepergian ke kota di dalam jangkauan Esia tanpa mengganti kartu. Namun, fasilitas itu harus diaktifkan sehari sebelum keberangkatan dan hanya bisa digunakan sesampai kota tujuan. Jadi misalnya Anda dari Jakarta hendak ke Solo, maka nomor Esia Anda akan aktif setibanya di Solo. Kalau misalnya ketika melewati Semarang Anda mencoba menyalakan ponsel, maka ponsel Anda tidak dapat diaktifkan kendati kota Semarang masuk jangkauan layanan Esia. Berbeda dengan kartu Fren, ketika melintasi kota-kota sepanjang rute perjalanan Jakarta-Solo, Anda tetap bisa berkomunikasi dengan menggunakan nomor Fren. Dengan melihat perbedaan fitur dari dua penyelenggaraan jaringan yang berbeda tersebut, mana yang menurut Anda paling nyaman untuk digunakan? Tentu saja jawabannya adalah Fren, karena layanannya senyaman layanan seluler GSM (global system for mobile communications) PT Telkomsel, PT Indosat, dan PT Excelcomindo (XL). Namun, pasar ternyata memberikan respons yang agak menyimpang, karena populasi pelanggan Esia mampu melampaui Fren. Esia mengklaim jumlah pelanggannya mencapai sekitar 4,9 juta nomor hingga akhir kuartal I/2008. Adapun pelanggan Fren hingga akhir 2007 mencapai lebih dari tiga juga. Dilego ke Esia Melihat keberhasilan layanan jaringan telepon tetap berbasis ponsel CDMA Esia tersebut, Mobile-8 rupanya tergiur untuk ikutan main di ceruk pasar tersebut dengan meluncurkan layanan CDMA Hepi. Mobile-8 menargetkan menjaring 600.000 pelanggan dengan target mengelar layanan Hepi di 20 kota. Belum sempat melihat gebrakan Mobile-8 di ceruk jaringan telepon tetap CDMA tersebut, Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo, pemilik Mobile-8 berniat menjual bisnis telepon CDMA tersebut. PT Global Mediacom Tbk-induk perusahaan Mobile-8-akan melepas 15,8% sahamnya melalui bursa, sehingga kepemilikannya di Mobile-8 tinggal 51%. (Bisnis, 26 Agustus 2008) CEO Global Mediacom itu tengah melakukan penataan bisnis utuk lebih berkonsentrasi ke bisnis mutlimedia dengan menjual anak usaha di luar bisnis inti tersebut. Salah satunya adalah dengan menjual anak usahanya di bidang telekomunikasi. Bakrie Telecom disebut-sebut akan membeli 15,8% saham tersebut, bahkan ada wacana kedua operator CDMA itu akan merger. Kalau ini terjadi, peta persaingan bisnis seluler-terutama segmen CDMA-di Tanah Air akan berubah. Peleburan Fren dan Esia akan menjelma menjadi kekuatan besar, karena memegang lisensi yang lengkap: satu lisensi jaringan bergerak dan dua lisensi jaringan tetap. Raksasa bisnis seluler CDMA akan segera lahir. (sutarno@[tautan dihapus]) Oleh Sutarno Wartawan Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| Elnino899 (Penasihat) 27/08/08 12:56 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia bukannya dulu juga fren sudah mau dijual .. kalau gak salah ke grup sinarmas ...dan nego tidak jadi .. akhirnya Sinar mas membuat sendiri SMART Post Extras: 🖨️ Cetak |
| z0mbi3 (Penasihat) 27/08/08 14:01 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia dulu mobile-8 mungkin lebih mapan pas ditawar Sinar Mas Group... skrg tiba2 dah gak sanggup, drpd dilepas ke Sinar Mas (yg artinya jilat ludah sendiri...), lebih baik jual ke market leader??? yah pendapat gw sih gitu, who knows what will happen next Post Extras: 🖨️ Cetak |
| margopati (Penasihat) 27/08/08 15:28 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia keren jg Bakrie Telekom, tar produknya jadi satu apa tetep dipisah nih.sama2 CDMA. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| erwin101010 (Penasihat) 27/08/08 15:39 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Yang pasti ini bakal jadi kerjasama yang saling menguntungkan antar kedua belah pihak Post Extras: 🖨️ Cetak |
| 1ind (Penasihat) 27/08/08 16:29 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia great.. paling gak pemiliknya tetep bangsa sendiri.. bkn asing lagi Post Extras: 🖨️ Cetak |
| hokwell (Anggota) 27/08/08 16:30 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia betul dulu sudah hampir deal dengan SinarMas, orang2 SinarMas sudah sempat *audit* di kantor mobile-8, tapi gak jelas apa real reasonnya tau2 gak jadi... kalo yang sekarang ini, gak tau deh.. kalo share 15.8% yang dijual minggu kemaren itu emang betul dijual oleh Pak HT, tapi belum pasti kalo itu Btel yang beli.... Post Extras: 🖨️ Cetak |
| adiajack (Penasihat) 27/08/08 17:11 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Quote: BEI Cabut Suspen FREN & BBIA Rabu, 27 Agustus 2008 Jakarta (Indofinanz) - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memutuskan untuk melakukan pencabutan penghentian sementara (suspensi) perdagangan efek PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) di seluruh pasar sejak sesi pertama hari ini atau 27 Agustus 2008. Pencabutan suspensi ini dilakukan setelah manajemen FREN menyatakan pemberitaan yang disampaikan salah satu harian ekonomi nasional tak benar dan menyesatkan. Tp entah benar, entah tdk, aku sdh beli FREN 2 mgg kemarin. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| r3ndhy (Penasihat) 27/08/08 23:32 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia ah, cuma 15 persen masih belum menjadikan fren milik btel Post Extras: 🖨️ Cetak |
| HajiGaul (Penasihat) 28/08/08 08:09 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Quote: R_w1n said: Mungkin klo esia sama fren uda gabung ... esia gogo nya uda ga kepake lg tetep beda, satu FWA satu lagi selular ... Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 28/08/08 09:26 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Grup Bakrie incar 25% saham Indosat JAKARTA: Setelah niat Qatar Telecom Q.S.C. (Qtel) mengakuisisi 85,71% saham PT Indosat Tbk terbentur aturan daftar negatif investasi, Grup Bakrie berniat membeli 25% saham operator seluler terbesar kedua di Indonesia itu. Pembelian saham Indosat bisa dilaksanakan melalui penawaran tender atau mengumpulkan saham dari pasar. Namun, sejauh ini belum ada kesepakatan secara internal di Grup Bakrie mengenai skema pembelian saham Indosat dan pembiayaannya. Sumber Bisnis yang mendengar informasi itu mengatakan dengan bersinergi bersama Indosat, anak perusahaan Grup Bakrie yang bergerak di telepon seluler berbasis code division multiple access (CDMA) yaitu PT Bakrie Telecom Tbk, bisa menjangkau area yang telah dilayani oleh Indosat. "Belum ada kesepakatan mengenai pihak yang ditunjuk untuk membeli Indosat, apakah Bakrie Telecom, Bakrie & Brothers, dan perusahaan yang lain. Banyak alternatif yang bisa ditempuh," ujarnya kemarin. Estimasi kinerja saham tiga operator telekomunikasi Operator Target harga (Rp/saham) P/E inti 2009 (kali) Bakrie Telecom 270* 12,5 Indosat 6.500 14,6 Mobile-8 90* - Sumber : Riset CIMB-GK Securities, 26 Agustus. Keterangan : *) Target sudah terlampaui, P/E (rasio harga saham terhadap laba bersih per saham Dia menilai akuisisi Indosat lebih menguntungkan bagi Grup Bakrie karena bisa masuk dua segmen telekomunikasi sekaligus yaitu global system for mobile communication (GSM) dan CDMA. "Grup Bakrie membidik Indosat dengan pertimbangan bisa melakukan sinergi bisnis, misalnya penggunaan menara bersama. Namun, ganjalan rencana itu adalah sumber pendanaan." Menurut dia, saat ini Grup Bakrie masih mengkaji sumber pendanaan untuk membeli saham sebanyak 25% milik Indosat. Manajemen Bakrie & Brothers menyatakan secara gamblang keinginannya membeli saham Indosat dalam. Hal itu terungkap dalam riset CIMB-GK Securities per 20 Agustus 2008. Laporan itu mengulas Corporate Day yang digelar oleh CIMB-GK di Bali pada 14-15 Agustus 2008 Bisnis meminta konfirmasi ke Presiden Direktur Bakrie Telecom Anindya Novyan Bakrie, tetapi telepon selulernya tidak bisa dihubungi. Direktur Bakrie & Brothers Dileep Srivastava ketika dikonfirmasi tidak bersedia berkomentar mengenai rencana Grup Bakrie yang membidik 25% saham Indosat. Memegang kunci Satu bankir investasi lokal menambahkan Bakrie Telecom kini memegang kunci dari semua strategi terkait dengan akuisisi PT Mobile-8 Telecom Tbk, operator penyedia jasa layanan telepon Fren, dan rencana pembelian saham Indosat. "Pembicaraan awal antara pemilik Fren dan Bakrie Telecom merupakan salah satu opsi konsolidasi antar operator CDMA di tengah ganasnya persaingan. Namun, masih ada opsi utama yang tengah digodok Grup Bakrie yakni akuisisi Indosat," ujarnya. Menurut dia, opsi membeli saham operator seluler Mentari itu merupakan yang utama karena bisa memberikan nilai tambah sangat besar terhadap Bakrie Telecom dan Grup Bakrie secara menyeluruh."Rencana akuisisi Fren merupakan opsi kedua yang dipertimbangkan Grup Bakrie jika gagal masuk Indosat, sehingga negosiasinya masih terlalu dini," tuturnya. Grup Bakrie, ujarnya, kini menunggu keputusan Mahkamah Agung terkait dengan sengketa antara Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan Singapore Technologies Telemedia. "Begitu MA memenangkan KPPU, Altimo [perusahaan investasi dari Rusia], siap menjadi mitra Grup Bakrie untuk mengakuisisi saham Indosat," ujarnya. Meski opsi akuisisi Mobile-8 merupakan strategi kedua Grup Bakrie, harga saham emiten berkode FREN kemarin langsung meroket sejak praperdagangan saham. Lonjakan harga saham Mobile-8 terjadi setelah bursa mencabut suspend saham itu kemarin. Saham FREN melesat ke level Rp120 setelah naik Rp49 atau 69,01%. Saham emiten itu mencatat nilai transaksi sebesar Rp 50 miliar, atau melompat 100 kali lipat dibandingkan dengan nilai transaksi rata-rata hariannya. Akibatnya sistem perdagangan bursa pun menyetop dengan terpaksa perdagangan saham itu. Dari sisi volume, ada sebanyak 440,8 juta saham FREN yang diperdagangkan. Harga saham FREN men-cetak level rekornya tahun ini di level Rp260 pada 2 Januari. Berdasarkan harga penutupan kemarin, Mobile-8 tercatat memiliki kapitalisasi pasar senilai Rp2,43 tri-liun. Harga saham Bakrie Telecom kemarin ditutup di posisi Rp285 per saham, atau naik 1,79% dari penutupan hari sebelumnya Rp280. Apabila mengacu pada harga tersebut, kapitalisasi pasar mencapai Rp8,11 triliun, dan price to earning ratio (P/E) 36,62 kali. Secara terpisah, Komisaris Utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Tanri Abeng membantah kabar adanya rencana BUMN itu membeli saham BTEL. (Pudji Lestari) (bambang. jatmiko@[tautan dihapus] Oleh Bambang P. Jatmiko & Wisnu Wijaya Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rudyanto08 (Penasihat) 28/08/08 09:50 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Wah kelihatannya Bakrie paling berpeluang untuk jadi operator besar di Indo juga ya (kalau benar mau ambil saham Indosat ataupun Mobile-8), mumpung pemilik masih ada di kabinet ? Post Extras: 🖨️ Cetak |
Kami memakai cookie Google Analytics untuk memahami cara situs ini dipakai. Anda boleh menerima atau menolak. Kebijakan privasi