| rudyanto08 (Penasihat) 26/08/08 14:40 | π Fren di jual Ke Esia Baca berita di Bisnis Indonesia hari ini, kelihatannya persaingan yang sangat ketat akan memaksa merger Operator, dan Fren to Esia ini permulaannya ??? Hary Tanoe Lego Fren ke Esia Tuesday, 26 August 2008 - Selasa, 26/08/2008 - Bisnis Indonesia JAKARTA: PT Global Mediacom Tbk, secara bertahap, menjual saham anak perusahaannya yang memiliki kegiatan di luar bisnis media. Salah satu saham anak perusahaan yang akan dilepas adalah PT Mobile-8 Telecom Tbk, penyedia jasa telepon Fren, kepada PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), operator seluler berbasis code division multiple access (CDMA) Esia. berita selanjutnya ------------------------------------------------------------------------------------------ berita terbaru tentang seluler Post Extras: π¨οΈ Cetak |
| rusco (Penasihat) 22/07/09 08:50 | π Re: Fren di jual Ke Esia Empat perusahaan berebut beli Mobile-8 JAKARTA: Sebanyak empat perusahaan berebut membeli 19% saham PT Global Mediacom Tbk atas kepemilikan perusahaan telekomunikasi PT Mobile-8 Telecom Tbk. Presiden Direktur dan CEO Global Mediacom Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo mengatakan perseroan masih membicarakan detail divestasi tersebut dengan seluruh pihak itu. "Saya belum bisa menyebutkannya [nama perusahaan dan sektor usahanya], termasuk juga kapan divestasi itu akan tuntas, karena saat ini kami masih bicara dengan empat pihak itu," ujarnya kepada Bisnis, kemarin. Hary mengatakan perseroan berencana menjual seluruh kepemilikan Global Mediacom di Mobile-8 terkait dengan rencana perseroan untuk fokus pada investasi di sektor media. Global Mediacom merupakan pemilik 19% saham Mobile-8, sedangkan Jerash Investment Pte Ltd menguasai 32% saham operator telepon itu. Direktur Utama Mobile-8 Merza Fachys mengatakan perseroan tidak mengetahui pihak-pihak yang terlibat dengan rencana divestasi itu. "Kami tidak mengetahui. Itu merupakan domain dari pemegang saham." Pada 29 Juni 2009, Mobile-8 mencapai lima langkah restrukturisasi atas obligasi berdenominasi rupiah senilai Rp675 miliar. Pertama, perpanjangan jatuh tempo surat utang dari 15 Maret 2012 menjadi 15 Maret 2017. Kedua, pemangkasan tingkat bunga obligasi menjadi 5% pada 2009-2011, 8% pada 2012-2014, dan 18% pada 2015-2017. Obligasi rupiah itu semula memberikan bunga 12,375% per tahun. Ketiga, pembayaran denda Rp1 miliar karena keterlambatan pelunasan bunga. Mobile-8 melunasi bunga tertunggak melalui 4 kali angsuran pada 31 Juli, September, Desember, dan Maret 2010. Keempat, perseroan wajib menyediakan dana cadangan yang disetor pada 31 Agustus 2009 dan 15 September 2009. Apabila sinking fund itu terpakai saat belum jatuh tempo obligasi, perseroan wajib menambah dana itu. Kelima, perseroan juga diwajibkan meraih laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) positif pada kuartal I/2010. "Apabila kami mampu menjaga EBITDA positif, kami tidak perlu melaksanakan injeksi modal." Pada perdagangan kemarin, harga saham emiten berkode FREN ini ditutup pada level Rp55 atau turun 1,79% dibandingkan dengan penutupan perdagangan 17 Juli 2009, yaitu Rp56. Oleh Sylviana Pravita R.K.N. Bisnis Indonesia Post Extras: π¨οΈ Cetak |
| rusco (Penasihat) 22/07/09 16:05 | π Re: Fren di jual Ke Esia Penjualan Saham Mobile-8 Hampir Final Kamis, 16 Juli 2009 - Investor Daily JAKARTA - Proses penjualan 19% saham PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) milik PT Global Mediacom Tbk (BMTR) hampir final. Manajemen Global Mediacom sedang merampungkan negosiasi dengan sejumlah calon pembeli yang terdiri atas investor lokal dan asing. "Rencana penjualan saham itu hampir mencapai titik temu. Semuanya investor baru, bukan Jerash Investment," kata Direktur Utama Mobile-8 Telecom Merza Fachys di Jakarta, Rabu (15/7). Menurut dia, pemilik 32% saham Mobile-8, Jerash Investment, tidak berniat menambah kepemilikan sahamnya di perusahaan operator seluler berbasis code division multiple access (CDMA) itu. Merza menjelaskan, sebagian dana yang disuntikkan investor baru tersebut akan dialokasikan untuk membayar kupon obligasi Mobile-8. "Itu langkah yang kemungkinan kami tempuh bila dana operasional perseroan tidak cukup untuk membayar kupon obligasi," tuturnya. Dia menambahkan, kupon obligasi yang sempat tertunggak akan dibayar dengan menggunakan kas internal pada Agustus 2009. "Kami memiliki dua kali tunggakan kupon obligasi," ucap dia. Merza Fachys mengakui, selama semester 1-2009, Mobile-8 masih membukukan kerugian bersih. Meski demikian, kerugian itu diperkirakan lebih kecil dibanding periode sama 2008 sebesar Rp 99,8 miliar. "Penurunan kerugian terutama dipicu efisiensi biaya di berbagai sektor. Tahun ini, kami juga mengerem ekspansi perluasan wilayah ke kota-kota baru," paparnya. Sebelumnya, Global Mediacom menjajaki penjualan saham Mobile-8 kepada 2-3 calon investor. Beberapa calon investor yang dikabarkan meminati saham Mobile-8 adalah Qatar Telecom (Qtel) dan Swiss Telecom. Pemilik saham Mobile-8 per 30 September 2008 adalah Jerash Investment (32%), Global Mediacom (19%), Qualcomm Incorporated (5,01%), KT Freetel Co Ltd Korea (2%), dan publik (41,99%). Global Mediacom semula pemegang saham mayoritas, namun pada triwulan III-2008 perusahaan itu melepas sebagian besar kepemilikannya kepada Jerash Investment. Bos Global Mediacom HaryTanoesoedibjo baru-baru ini menegaskan, pihaknya tak lagi memberikan keistimewaan kepada Mobile-8. "Mobile-8 kan cuma investasi surat berharga biasa. Jadi, bisa saya jual kapan saja kalau saya mau," tandasnya. Menurut Hary Tanoe, kepemilikan Global Mediacom di Mobile-8 tinggal tersisa 19%, sehingga sudah digolongkan sebagai investasi surat berharga. Apalagi pendapatan Mobile-8 tidak lagi dikonsolidasikan ke Global Mediacom, kecuali sebagai pendapatan ekuitas semata. "Posisi kami sekarang hanya sebagai salah satu pemegang saham biasa," tuturnya. Dalam rapat umum pemegang obligasi (RUPO) Mobile-8, akhir Juni lalu, manajemen Mobile-8 menyepakati tawaran pemegang obligasi terkait restrukturisasi utang obligasi perseroan senilai Rp 675 miliar. Dengan tercapainya kesepakatan itu, aset perseroan yang dijaminkan tidak disita. Poin-poin restrukturisasi yang disepakati antara lain: penyelesaian obligasi rupiah yang lebih baik dibanding obligasi dolar AS, cicilan empat kali dalam satu tahun untuk kupon obligasi yang belum dibayar sebesar Rp 41,76 miliar, pembayaran denda dua kupon sekitar Rp 1 miliar, dan ketentuan sinking fund (dana yang disisihkan untuk tujuan tertentu). RUPO juga menyepakati penurunan kupon obligasi menjadi 5% untuk tiga tahun pertama, 8% untuk tiga tahun selanjutnya, dan 12% untuk dua tahun terakhir. Sebelumnya, kupon obligasi senilai Rp 675 miliar itu dipatok 12,375%. Sedangkan tenor obligasi diperpanjang menjadi 2017, dari sebelumnya 2012. Di sisi lain, manajemen sepakat laba sebelum beban bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) Mobile-8 pada kuartal 1-2010 harus positif. Dengan demikian, Mobile-8 tidak perlu menambah modal melalui penerbitan saham baru (rights issue), penjualan saham kepada investor strategis, atau pinjaman subordinasi dari pemegang saham. Manajemen Mobile-8 optimistis jika restrukturisasi berhasil dilaksanakan, perseroan bisa kembali modal (break even point/BEP) pada akhir 2009. Perseroan juga menargetkan kenaikan jumlah pelanggan sebanyak 1-1,5 juta menjadi sekitar 4,5 juta hingga akhir tahun ini. Per akhir kuartal 1-2009, pelanggan Mobile-8 berjumlah 3,2 juta. Post Extras: π¨οΈ Cetak |
| rusco (Penasihat) 10/08/09 11:09 | π Re: Fren di jual Ke Esia MOBILE-8 BAYAR KUPON OBLIGASI, Mitra Rajasa Gagal Bayar Utang US$ 220 Juta Oleh Yohana SP Philips dan Jauhari Mahardhika JAKARTA , INVESTOR DAILY Mira International Holdings Pte Ltd, anak usaha PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA) belum membayar utang senilai US$ 220 juta yang jatuh tempo pada 30 Juni 2009. Gagal bayar itu dinilai menyulitkan sejumlah pemodal, yang salah satunya dikabarkan adalah konglomerat asal Hong Kong, Li Ka-Shing. Mitra Rajasa melalui Mira International telah berutang kepada sejumlah pemodal international untuk mengakuisisi PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) senilai US$ 595 juta pada 2008. Ketika itu, Goldman Sachs bertindak sebagai pengatur pinjaman (arranger). Namun, berdasarkan kesepakatan yang tertuang dalam dokumen LBO (leverage buyout), Apexindo harus membayar kewajiban sebesar US$ 130 juta dalam bentuk dividen kepada Mira International pada 30 Juni 2009. Dana tersebut diperlukan untuk membayar utang Mira kepada pemodal asing yang tahun lalu mengucurkan dana guna mengambil alih Apexindo. Selain itu, Apexindo harus membayar US$ 90 juta untuk pembelian kapal dari Mira International pada 30 Juni 2009. Dengan demikian, total dana yang seharusnya diterima dan dibayarkan oleh Mira mencapai US$ 220 juta atau sekitar Rp 2,2 triliun. Namun, Apexindo belum membayarnya. Padahal, perseroan telah menerbitkan obligasi sebesar Rp 600 miliar. Di samping itu, perseroan mendapatkan dana US$ 269 juta dari pelanggannya. Sedangkan kinerja perusahaan per kuartal I-2009 cukup fantastis dengan lonjakan laba bersih sekitar 166% menjadi US$ 27,6 juta. βPemodal telah meminta debitor untuk menyelesaikan pembayaran, tapi belum ada respons. Jika permohonan diabaikan, para pemodal akan memilih jalur penyelesaian sesuai kesepakatan yang berlaku,β kata seorang pemodal seperti dikutip dari IFR Asia, akhir pekan lalu. Sementara itu, ketika dihubungi, Komisaris Utama Mitra Rajasa Tito Sulistio, Dirut Mitra Rajasa Benny Prananto, Sekretaris Perusahaan Mitra Rajasa Immaculata Watimena, Direktur Keuangan Apexindo Agustinus Lamboan, dan Sekretaris Perusahaan Apexindo Ade R Satari, tidak meresponsnya. Direktur Mitra Rajasa Anton Natakoesoemah mengaku belum mendapatkan informasi terkini ketika ditanya soal gagal bayar utang kepada Mitra Rajasa kepada sejumlah pemodal internasional sebesar US$ 220 juta. βSaya tidak mengikuti rapat belakangan ini, karena masih di luar kota,β ujarnya singkat. Obligasi Mobile-8 Sementara itu, PT Mobile 8 Telecom Tbk (FREN) telah membayar kupon obligasi yang tertunggak pada 31 Juli 2009 sebesar Rp 41,76 miliar, yang ditambah denda Rp 1 miliar. Pembayaran kupon itu merupakan bagian dari restrukturisasi utang obligasi perseroan senilai Rp 675 miliar. IFR Asia melaporkan, perseroan penyedia layanan telekomunikasi CDMA itu memang berencana mencairkan dana investasi jangka pendek untuk melunasi kupon obligasi yang tertunggak selama ini. Namun, belum lama ini, perseroan dan pemegang obligasi telah menyetujui restrukturisasi obligasi rupiah tersebut. Beberapa poin restrukturisasi yang disepakati adalah penyelesaian obligasi rupiah yang lebih baik dibanding obligasi dolar Mobile-8, cicilan empat kali dalam satu tahun untuk kupon obligasi yang belum dibayar sebesar Rp 41,76 miliar, pembayaran denda dua kupon sekitar Rp 1 miliar, dan ketentuan sinking fund (dana yang disisihkan untuk tujuan tertentu). Selain itu, rapat umum pemegang obligasi (RUPO) juga menyepakati penurunan kupon obligasi menjadi 5% untuk tiga tahun pertama, 8% untuk tiga tahun selanjutnya, dan 12% untuk dua tahun terakhir. Sebelumnya, kupon obligasi senilai Rp 675 miliar itu dipatok 12,375%. Sedangkan tenor obligasi diperpanjang menjadi 2017 dari sebelumnya 2012. Dalam pernyataan resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Direktur Keuangan Mobile-8 Anthony Kartawiria menjelaskan, perseroan menyediakan dana cadangan pembayaran utang (sinking fund) sebesar Rp 16,87 miliar terkait kewajibannya itu. Dana tersebut akan dibayarkan dalam dua tahap, yakni 31 Agustus 2009 dan 15 September 2009. βSumber pendanaan dari kas internal yang diperoleh dari hasil kegiatan usaha perseroan,β jelasnya. Hingga semester I-2009, Mobile-8 masih membukukan rugi bersih sebesar Rp 269,55 miliar, naik 170% dibandingkan periode sama 2008 senilai Rp 99,8 miliar. Rugi usaha perseroan melonjak tajam dari Rp 11,93 miliar menjadi Rp 361,5 miliar. Sedangakn pendapatan perseroan anjlok 58,39% menjadi Rp 189,72 miliar. Post Extras: π¨οΈ Cetak |
| rusco (Penasihat) 11/08/09 15:44 | π Re: Fren di jual Ke Esia Isunya naik lagi... Saham M8 naik trus tuh... ------------------------------------ BTEL Kembali Menawar FREN Senin, 10 Agustus 2009 - Tabloid Kontan JAKARTA. Perusahaan telepon milik Grup Bakrie, PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) masih berminat membeli 19% saham PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) milik PT Global Mediacom Tbk (BMTR). Menurut kabar yang beredar, BTEL segera mengajukan penawaran baru untuk membeli 3,844 miliar saham FREN. Sejauh ini manajemen Bakrie Telecom belum bersedia mengomentari soal rencana pembelian saham FREN ini. "Sejauh ini BTEL masih bertahan dengan pertumbuhan organik," kata Sekretaris Perusahaan BTEL Rachmad Junaidi, kemarin (9/8). Direktur Utama BMTR Harry Tanoesoedibjo membenarkan sudah ada calon pembeli saham FREN. Namun, dia enggan mengungkapkan calon pembelinya. "Saya tidak bisa menyebutkan calon pembelinya karena terikat perjanjian kerahasiaan," elaknya Harry menyatakan, BMTR akan langsung menutup transaksi penjualan dengan calon pembeli.FREN itu. Saat ini proses penjualan saham FREN masih berjalan. BMTR terus mengurangi kepemilikan saham FREN. Tahun lalu misalnya, BMTR menjual 22,79% saham FREN miliknya kepada Jerash In-vestment Usai penjualan tersebut, BMTR tinggal memiliki 19% saham FREN. FREN menyatakan, penjualan ini bagian dari restrukturisasi bisnis FREN. Maklum, sesuai kesepakatan restrukturisasi dengan para pemegang obligasinya, FREN berusaha mencari suntikan dana guna menyehatkan keuangan dan menjalankan roda bisnisnya Salah satunya adalah dengan mencari investor baru. "Proses itu masih terus berjalan di level pemegang saham," kata Chris Taufik Sekretaris Perusahaan FREN. Post Extras: π¨οΈ Cetak |
| rusco (Penasihat) 13/08/09 08:48 | π Re: Fren di jual Ke Esia Sinar Mas & Mobile-8 jajaki sinergi Nilai buku per Juni hanya Rp22,63/saham JAKARTA: Smart Telecom, perusahaan telepon Grup Sinar Mas, mulai menjajaki peluang bersinergi dengan anak perusahaan PT Global Mediacom Tbk yaitu PT Mobile-8 Telecom Tbk. Beberapa pihak yang mendengar informasi itu mengatakan eksekutif Grup Sinarmas mulai berbicara dengan pemilik Mobile-8 terkait dengan kemungkinan menjalin sinergi. "Pembicaraan baru dimulai, tetapi belum diketahui bentuk sinerginya. Apakah melalui merger atau Smart Telecom mengakuisisi saham Mobile-8," ujarnya kepada Bisnis belum lama ini. Menurut dia, seandainya Grup Sinar Mas berminat membeli Mobile-8, perlu diketahui harganya. "Dengan harga Rp50 per saham, saham Mobile-8 masih terlalu mahal, apalagi utangnya cukup besar dan menderita rugi usaha," tuturnya. Jika Sinar Mas ingin meleburkan Mobile-8 ke Smart Telecom, ujar sumber itu, bagaimana mekanismenya. "Apakah saham Mobile-8 dibeli Smart, atau melalui penukaran saham." Global Mediacom kini memiliki 19% saham Mobile-8 Telecom, sedangkan Jerash Investment Ltd menguasai 32% saham operator penyedia jasa telepon CDMA dengan merek Fren dan Hepi itu. Direktur Utama Mobile-8 Merza Fachys ketika dikonfirmasi mengatakan mendengar mengenai pembicaraan dengan Sinar Mas. "Saya dengar demikian, Sinar Mas juga berminat. Namun, soal pelepasan saham Mobile-8 itu di level pemegang saham, bukan wewenang saya." Presdir & CEO Global Mediacom Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo mengatakan membuka kemungkinan terhadap seluruh investor yang berminat. Meski demikian, dia enggan menyebutkan identitas investor tersebut. "Kami belum bisa memperkirakan kapan divestasi itu akan tuntas karena kami masih berbicara dengan empat pihak itu." Merza menambahkan fokus dari manajemen Mobile-8 saat ini adalah meningkatkan kinerja operasional dan finansial dari Mobile-8. "Kami akan berusaha menguasai pasar lebih dalam melalui produk baru dari Mobile-8, yaitu Fren Duo dan Mobi untuk menggenjot peningkatan kinerja keuangan," ujarnya. Selain Smart Telecom, PT Bakrie Telecom Tbk juga dikabarkan tengah menjajaki konsolidasi dengan Mobile-8. Operator telepon milik Grup Bakrie itu mengisyaratkan bisa mewujudkan merger dan akuisisi dengan operator telekomunikasi lain pada pertengahan tahun depan. Mobile-8 mengalami lonjakan rugi bersih hingga 170% menjadi Rp269,55 miliar dibandingkan dengan periode yang sama 2008, yaitu Rp99,80 miliar. Nilai buku Pardomuan Sihombing, Kepala Riset PT Paramitra Alfa Sekuritas, mengatakan dengan kondisi Mobile-8 yang kesulitan keuangan seperti saat ini, valuasinya lebih baik menggunakan nilai buku. Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2009, nilai ekuitas Mobile-8 mencapai Rp457,77 miliar, sedangkan jumlah saham yang ditempatkan dan disetor penuh mencapai 20,23 miliar saham. Berarti nilai buku Mobile-8 mencapai Rp22,63 per saham. (sylviana.pravita@[tautan dihapus] Oleh Sylviana Pravita R.K.N. & Wisnu Wijaya Bisnis Indonesia Post Extras: π¨οΈ Cetak |
| rusco (Penasihat) 28/08/09 15:10 | π Re: Fren di jual Ke Esia Rights Issue FREN untuk Buyback Obligasi Rupiah JAKARTA. PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) berniat mencari dana segar lewat penawaran umum saham terbatas atau rights issue tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dulu (HMTED). Rencananya, FREN akan memakai dana hasil rights issue untuk mengurangi utangnya. Salah satunya, FREN akan membeli kembali atau buyback sebagian obligasi rupiah terbitan mereka senilai Rp 675 miliar. FREN telah menyampaikan rencana buyback itu kepada sejumlah pemegang obligasi rupiah mereka. Salah satunya, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS). FREN menyampaikan rencana itu lewat PT Bhakti Investama Tbk (BHIT). Direktur Keuangan RALS Suryanto mengungkapkan, FREN berencana melakukan buyback sebesar 43% dari pokok obligasi yang dipegang RALS senilai Rp 15 miliar. Artinya, FREN akan membeli kembali obligasi Rp 6,45 miliar. "FREN lewat Bhakti Investama menyampaikan maksud itu dua minggu lalu," ujarnya, Kamis (27/8). Menurut Suryanto, dana buyback itu berasal dari hasil rights issue. Namun, hingga saat ini RALS belum menanggapi rencana FREN itu. "Mereka juga menawarkan kepada pemegang obligasi lain," ujarnya. Sehubungan rencana penerbitan saham baru FREN, Suryanto juga mengaku belum menerima tawaran untuk mengkonversi piutangnya menjadi saham FREN. Pemegang obligasi FREN yang lainnya, Dana Pensiun Krakatau Steel, menolak tawaran untuk mengubah tagihan utang menjadi saham FREN. "Kami tidak akan melakukan hal itu," kata Nasrudin, Direktur Keuangan dan Administrasi Krakatau Steel. FREN sendiri tetap yakin opsi konversi saham ini banyak peminatnya. "Kami tidak memiliki target jumlah rights issue, sebelum negoisasi kelar," kata Merza Fachys, Direktur Utama FREN. Merza menambahkan, pemegang saham FREN hingga kini juga masih terus berusaha mencari investor baru bagi FREN. Kabarnya, Bakrie Telecom berminat membeli 19% saham FREN dari Global Mediacom. Rizki Caturini Post Extras: π¨οΈ Cetak |
| Razorlight (Penasihat) 29/08/09 16:56 | π Re: Fren di jual Ke Esia never ending issue... asal kualitas saat ini dan tarif termurah tetap dipertahankan malah ditingkatkan, saia tetap menjadi pelanggan setia produk Mobile-8 Post Extras: π¨οΈ Cetak |
| rusco (Penasihat) 01/09/09 18:19 | π Re: Fren di jual Ke Esia Apakah dengan adanya tambahan kanal ini, maka BTEL sudah bisa launching EVDO & ga perlu beli M8??? --------------------------------------------- Selasa, 01/09/2009 17:44 WIB Kanal 'Nyempil' 800 MHz Rezekinya Telkom-BTEL Achmad Rouzni Noor II - detikinet Jakarta - Setelah melalui kajian dan analisa, kanal 1019 yang 'nyempil' di frekuensi 800 MHz ternyata persis di sebelah kiri kanal milik Bakrie Telecom (Btel). Itu artinya, dari empat operator telekomunikasi yang bercokol di spektrum itu, cuma Btel dan Telkom yang dapat rezeki kanal tambahan tersebut. Kenapa? Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Mohammad Ridwan Effendi mengungkapkan demikian soal penemuan kanal tersembunyi itu kepada detikINET, Selasa (1/9/2009). "Mobile-8 Telecom dan Indosat tidak kebagian radio trunking kanal 1019. Ini rezekinya Telkom dan Btel karena kanal ini ternyata persis ada di sebelah kiri kanal 37, 78, dan 119 milik Btel," jelasnya. Spektrum 800 MHz sendiri saat ini ditempati oleh empat operator FWA (fixed wireless access) yang frekuensinya berpasangan, yakni Telkom dengan Btel, dan Indosat beserta Mobile-8 Telecom. Spektrum frekuensi itu sendiri mulanya cuma dikira total 14 kanal sana, dengan masing-masing pasangan operator dapat alokasi tujuh kanal. Alokasi kanal terbanyak ada di Mobile-8, yang menggunakan empat kanal--dua untuk seluler Fren, satu untuk FWA Hepi, dan satu untuk EVDO Mobi. Sementara pasangannya, Indosat cuma kebagian dua kanal setelah FWA StarOne miliknya mengungsi dari 1900 MHz-- yang diharus dikosongkan gara-gara 3G. Sedangkan Telkom dan Btel masing-masing menguasai tiga kanal. Telkom untuk FWA Flexi, Btel untuk FWA Esia dan Wifone, serta akses internet Wimode. Sehingga total, dari 14 kanal yang dialokasikan ada dua kanal tersisa, yakni di kanal 160 dan 548. Keduanya memisahkan masing-masing operator pasangan frekuensi itu. Dengan ditemukannya kanal tersembunyi 1019, itu artinya kanal yang tersisa di 800 MHz menjadi tiga. Jika dua kanal sisa sebelumnya sudah tak lagi bisa diperebutkan -- karena untuk pita penjaga atau guard band, maka satu kanal 'nyempil' ini sangat mungkin untuk digunakan. "Nanti, Btel dan Telkom bisa sharing kanal tambahan ini. Btel pakai di Jabodetabek, Jabar dan Banten, sementara Telkom yang di luar ketiga area itu dengan cakupan nasional," tandas Ridwan. (rou/ash) Post Extras: π¨οΈ Cetak |
| rusco (Penasihat) 01/09/09 22:51 | π Re: Fren di jual Ke Esia Selasa, 01/09/2009 19:16 WIB Btel Batal Caplok Mobile-8 Karena Kanal 'Nyempil'? Achmad Rouzni Noor II - detikinet Jakarta - Dua pasangan operator untuk penggunaan frekuensi 800 MHz, Bakrie Telecom (Btel) dan Telkom, ketiban rezeki kanal 'nyempil'. Dengan kanal tambahan ini, Btel khususnya, bisa bernafas lega setelah kekurangan kapasitas pelanggan. Itukah alasan Btel tidak jadi mengakuisisi Mobile-8 yang hampir kolaps? Btel dan Mobile-8 Telecom sama-sama menempati spektrum 800 MHz. Keduanya, sebelumnya, sama-sama dapat alokasi tujuh kanal. Namun, jatah kanal kedua operator ini jadi berkurang setelah Telkom dan Indosat mengungsi ke spektrum mereka akibat gusur-gusuran frekuensi di 1900 MHz untuk 3G. Lewat Permenkominfo No 186/2006, keempat operator FWA (fixed wireless access) itu saling berbagi frekuensi secara berpasangan. Telkom dengan Btel, dan Indosat bareng Mobile-8 Telecom. Dari total kanal yang ada, alokasi terbanyak ada di Mobile-8, yang menggunakan empat kanal--dua untuk seluler Fren, satu untuk FWA Hepi, dan satu untuk EVDO Mobi. Sementara pasangannya, Indosat cuma kebagian dua kanal untuk FWA StarOne. Sedangkan Telkom dan Btel masing-masing tiga kanal. Telkom untuk FWA Flexi, Btel untuk FWA Esia dan Wifone, serta akses internet Wimode. Kanal ini jelas tidak cukup bagi Btel, khususnya setelah mereka dapat lisensi FWA nasional. Imbasnya, layanan internet Wimode operator ini terpaksa dikorbankan demi penyelenggaraan akses penggilan suara Esia. Tidak cukup pula bagi Telkom yang ingin menggenjot layanan data. Sebab, dua kanal yang tersisa di 800 MHz, yakni di kanal 160 dan 548, masing-masing sudah ditetapkan dijadikan guard band pembatas masing-masing operator pasangan frekuensi itu. Padahal sebelumnya, kedua kanal itu akan dihadiahkan kepada operator yang dapat penilaian kinerja terbaik. Fakta bahwa pelanggan Btel akan stagnan-karena terbatasnya kapasitas kanal, ini pula yang membuat rumor mereka tengah bersiap mengakuisisi Mobile-8 semakin kencang. Hal ini diakui oleh sejumlah mantan eksekutif Btel. Konon, belum tercapai kesepakatan karena Btel harus menanggung semua hutang dan karyawan Mobile-8, meski yang diincar cuma kanal frekuensi beserta lisensinya saja. Nah, dengan ditemukannya kanal tersembunyi 1019, itu artinya ada kanal yang bisa membuat Btel kini bisa 'bernafas' lagi tanpa harus mengakuisisi Mobile-8. "Nanti, Btel dan Telkom bisa sharing kanal tambahan ini. Btel pakai di Jabodetabek, Jabar dan Banten, sementara Telkom yang di luar ketiga area itu dengan cakupan nasional," kata Mohammad Ridwan Effendi, anggota komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) kepada detikINET, Selasa (1/9/2009). Ketika dikonfirmasi detikINET tentang semua ini, Direktur Korporat Bakrie Telecom Rakhmat Junaidi malah mengaku belum tahu tentang adanya kanal yang bisa jadi 'penyambung hidup' perusahaannya. "Sejauh ini kita belum menerima surat pemberitahuannya," jawabnya tanpa mau menanggapi rencana akuisisi Mobile-8. Sementara Telkom yang sangat ini bisa menambah kapasitas untuk menggenjot layanan data juga memberikan konfirmasi serupa. "Saya harus cek dulu, nanti dikabari," tandas Eddy Kurnia, VP Marketing and Communication Telkom. Meski demikian, kata Ridwan, Ditjen Postel dan BRTI sudah komitmen mengalokasikan kanal 1019 untuk Btel dan Telkom tanpa tender. "Sebab kanal itu hanya mereka saja yang bisa pakai. Tinggal ajukan permohonan pada Menkominfo, baru kemudian diproses BRTI," jelasnya.(rou/ash) Post Extras: π¨οΈ Cetak |
| Strong_Tower (Penasihat) 02/09/09 08:50 | π Re: Fren di jual Ke Esia seru... seru... jual sahamnya dulu ah sebelum turun... *yg berandai-andai punya saham Post Extras: π¨οΈ Cetak |
| rusco (Penasihat) 02/09/09 09:14 | π Re: Fren di jual Ke Esia Esia dan Flexi dapat tambahan kanal Indosat mempertanyakan status kanal CDMA JAKARTA: PT Telkom Tbk dan PT Bakrie Telecom Tbk mendapat kanal tambahan di pita 800 MHz untuk layanan Flexi dan Esia selebar masing-masing 1,25 MHz. Esia mendapatkan kanal frekuensi tambahan tersebut untuk wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Adapun Flexi mendapatkan tambahan untuk wilayah di luar ketiga provinsi tersebut. Ridwan Effendi, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), mengungkapkan regulator menemukan adanya band kosong di sebelah kiri Esia, tepatnya di spektrum 824 MHz yang diidentifikasikan untuk IMT-2000 (International Mobile Telecommunications). βKanal frekuensi tersebut tadinya diperuntukkan bagi trunking, tetapi bisa dikurangi sehingga sekitar 1,25 MHz bisa dipakai operator fixed wireless access [FWA], yaitu Esia dan Flexi,β ujarnya kepada Bisnis kemarin. Kanal yang kosong tersebut berada di frekuensi 824 MHz, persis di sebelah kiri Esia yang bekerja di frekuensi 825 MHz. Esia dan Telkom sebenarnya juga memperebutkan kanal 160, yaitu kanal kosong yang berada di tengah-tengah kedua layanan itu, adapun Mobile-8 dan Indosat StarOne memperebutkan kanal 548. Menurut Ridwan, kedua kanal tersebut tidak akan diberikan kepada operator dan dijadikan sebagai guard band atau frekuensi penyangga agar tidak menimbulkan interferensi antardua layanan. βDengan adanya penambahan kanal tersebut, kedua operator diberikan komitmen tambahan dan dicantumkan dalam lisensi modern-nya sesuai dengan kesepakatan,β ujarnya. BRTI sendiri tidak menemukan adanya kanal kosong di sebelah kanan Indosat StarOne sehingga Mobile-8 (Fren), dan Indosat (StarOne) tidak mendapatkan alokasi kanal tambahan. Pada 2006, Menkominfo saat itu, Sofyan A. Djalil, menetapkan pembagian kanal itu di pita 800 Mhz melalui Keputusan No. 181/Kep/M. Kominfo/12/2006 tentang Pengalokasian Kanal pada Pita Frekuensi Radio 900 MHz untuk Penyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal Tanpa Kabel dengan Mobilitas Terbatas dan Jaringan Bergerak Seluler. Penataan 800 MHz Akibat penataan itu, layanan Indosat StarOne dan Telkom Flexi yang berada pada pita 3G harus pindah ke pita 800 MHz yang telah ditempati oleh Bakrie Telecom dan Mobile-8. Pita 800 MHz memiliki lebar 20 MHz atau 14 kanal. Pada spektrum tersebut, sebelumnya Mobile-8 dan Bakrie Telecom masing-masing memiliki tujuh kanal (10 MHz). Pemerintah kemudian menetapkan layanan Telkom Flexi pada spektrum milik Bakrie Telecom dengan pembagian masing-masing mendapatkan tiga kanal. Sedangkan satu kanal tersisa akan diserahkan kepada salah satu dari dua operator itu yang dinilai berkinerja paling baik 2 tahun setelah ditetapkan peraturan itu. StarOne akan ditempatkan pada frekuensi milik Mobile-8 dengan pembagian dua kanal untuk StarOne dan empat kanal untuk layanan Fren (Mobile-8). Satu kanal yang tersisa akan diberikan kepada salah satu dari dua operator itu yang dinilai paling agresif 2 tahun sejak ditetapkan peraturan tersebut.. Pembagian dan penempatan frekuensi milik StarOne, menurut Menkominfo, dimaksudkan agar kanal itu berdekatan dengan frekuensi yang digunakan untuk layanan GSM operator tersebut. Direktur Layanan Korporasi PT Bakrie Telecom Tbk Rakhmat Junaidi dan Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah tidak menanggapi pertanyaan Bisnis seputar pemberian tambahan kanal itu. Chief Marketing Officer Indosat Guntur S. Siboro menyebutkan kanal yang akan diberikan kepada Esia dan Flexi harus dicek apakah sesuai dengan standar band CDMA. βKalau memang benar untuk CDMA, lalu handset-nya pakai band apa?β ujarnya. Menurut dia, Indosat masih bisa memberikan layanan StarOne secara optimal dengan alokasi frekuensi yang ada dan belum begitu membutuhkan tambahan kanal. Pertumbuhan pelanggan StarOne memang termasuk yang paling lambat dibandingkan dengan layanan FWA lainnya sehingga dua kanal frekuensi yang ada masih mencukupi melayani pelanggan. (fita.indah@[tautan dihapus] Oleh Fita Indah Maulani & Arif Pitoyo Bisnis Indonesia Post Extras: π¨οΈ Cetak |
| Hoekz (Penasihat) 02/09/09 11:53 | π Re: Fren di jual Ke Esia yahhh saya sih semoga aja ada suatu perbaikan dalam hal kepuasaan pelanggan aja gitu... Post Extras: π¨οΈ Cetak |
| erwin101010 (Penasihat) 02/09/09 16:20 | π Re: Fren di jual Ke Esia Btel Batal Caplok Mobile-8 Karena Kanal 'Nyempil'? Dua pasangan operator untuk penggunaan frekuensi 800 MHz, Bakrie Telecom (Btel) dan Telkom, ketiban rezeki kanal 'nyempil'. Dengan kanal tambahan ini, Btel khususnya, bisa bernafas lega setelah kekurangan kapasitas pelanggan. Itukah alasan Btel tidak jadi mengakuisisi Mobile-8 yang hampir kolaps? Btel dan Mobile-8 Telecom sama-sama menempati spektrum 800 MHz. Keduanya, sebelumnya, sama-sama dapat alokasi tujuh kanal. Namun, jatah kanal kedua operator ini jadi berkurang setelah Telkom dan Indosat mengungsi ke spektrum mereka akibat gusur-gusuran frekuensi di 1900 MHz untuk 3G. Lewat Permenkominfo No 186/2006, keempat operator FWA (fixed wireless access) itu saling berbagi frekuensi secara berpasangan. Telkom dengan Btel, dan Indosat bareng Mobile-8 Telecom. Dari total kanal yang ada, alokasi terbanyak ada di Mobile-8, yang menggunakan empat kanal--dua untuk seluler Fren, satu untuk FWA Hepi, dan satu untuk EVDO Mobi. Sementara pasangannya, Indosat cuma kebagian dua kanal untuk FWA StarOne. Sedangkan Telkom dan Btel masing-masing tiga kanal. Telkom untuk FWA Flexi, Btel untuk FWA Esia dan Wifone, serta akses internet Wimode. Kanal ini jelas tidak cukup bagi Btel, khususnya setelah mereka dapat lisensi FWA nasional. Imbasnya, layanan internet Wimode operator ini terpaksa dikorbankan demi penyelenggaraan akses penggilan suara Esia. Tidak cukup pula bagi Telkom yang ingin menggenjot layanan data. Sebab, dua kanal yang tersisa di 800 MHz, yakni di kanal 160 dan 548, masing-masing sudah ditetapkan dijadikan guard band pembatas masing-masing operator pasangan frekuensi itu. Padahal sebelumnya, kedua kanal itu akan dihadiahkan kepada operator yang dapat penilaian kinerja terbaik. Fakta bahwa pelanggan Btel akan stagnan--karena terbatasnya kapasitas kanal, ini pula yang membuat rumor mereka tengah bersiap mengakuisisi Mobile-8 semakin kencang. Hal ini diakui oleh sejumlah mantan eksekutif Btel. Konon, belum tercapai kesepakatan karena Btel harus menanggung semua hutang dan karyawan Mobile-8, meski yang diincar cuma kanal frekuensi beserta lisensinya saja. Nah, dengan ditemukannya kanal tersembunyi 1019, itu artinya ada kanal yang bisa membuat Btel kini bisa 'bernafas' lagi tanpa harus mengakuisisi Mobile-8. "Nanti, Btel dan Telkom bisa sharing kanal tambahan ini. Btel pakai di Jabodetabek, Jabar dan Banten, sementara Telkom yang di luar ketiga area itu dengan cakupan nasional," kata Mohammad Ridwan Effendi, anggota komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) kepada detikINET, Selasa (1/9/2009). Ketika dikonfirmasi detikINET tentang semua ini, Direktur Korporat Bakrie Telecom Rakhmat Junaidi malah mengaku belum tahu tentang adanya kanal yang bisa jadi 'penyambung hidup' perusahaannya. "Sejauh ini kita belum menerima surat pemberitahuannya," jawabnya tanpa mau menanggapi rencana akuisisi Mobile-8. Sementara Telkom yang sangat ini bisa menambah kapasitas untuk menggenjot layanan data juga memberikan konfirmasi serupa. "Saya harus cek dulu, nanti dikabari," tandas Eddy Kurnia, VP Marketing and Communication Telkom. Meski demikian, kata Ridwan, Ditjen Postel dan BRTI sudah komitmen mengalokasikan kanal 1019 untuk Btel dan Telkom tanpa tender. "Sebab kanal itu hanya mereka saja yang bisa pakai. Tinggal ajukan permohonan pada Menkominfo, baru kemudian diproses BRTI," jelasnya. -Detik- Post Extras: π¨οΈ Cetak |
| rusco (Penasihat) 04/09/09 10:24 | π Re: Fren di jual Ke Esia Target rights issue Mobile-8 diperbesar Total kewajiban mencapai Rp4,24 triliun JAKARTA: PT Mobile-8 Telecom Tbk meningkatkan target jumlah penerbitan saham baru (rights issue) dalam rangka pengalihan utang menjadi ekuitas (debt to equity swap) menjadi Rp2,12 triliun dari rencana semula Rp300 miliar-Rp500 miliar. Aksi korporasi tersebut dijadwalkan dapat dilaksanakan pada akhir Oktober 2009. Perseroan juga akan menggelar rapat umum pemegang saham (RUPS) terkait dengan penambahan modal disetor apabila debt to equity swap yang tereksekusi mencapai sekitar 5%-6% dari modal disetor saat ini yang senilai Rp2 triliun atau berkisar Rp100 miliar-Rp120 miliar. Menurut Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik, perseroan menawarkan mekanisme debt to equity swap itu tidak hanya pada kreditur vendor, tetapi juga terhadap pemegang obligasi perseroan. Pengalihan utang menjadi saham diharapkan meliputi, pertama kreditur vendor yang memberi utang atas peralatan dan infrastruktur pendukung telekomunikasi perseroan senilai Rp500 miliar. Kedua, pemegang obligasi Mobile-8 berdenominasi rupiah senilai Rp675 miliar. Ketiga, pemegang obligasi Mobile-8 berdenominasi dolar senilai US$100 juta atau setara dengan Rp1 triliun (dengan asumsi US$1= Rp10.000). "Meski demikian, tetap saja besarnya debt-to-equity swap itu bergantung pada minat dari kreditur dan persetujuan pemegang saham," kata Chris kepada Bisnis, kemarin. Dia mengatakan perseroan sedang mengajak para kreditur untuk mengikuti mekanisme yang ditawarkan Mobile-8. "Kami mengajak mereka sebanyak-banyaknya untuk mengikuti mekanisme ini," ujarnya. Kinerja PT Mobile-8 Telecom Tbk per 30 Juni (Rp triliun) 2008 2009 Kewajiban dan ekuitas 4,75 4,70 Kewajiban tidak lancar 2,69 2,85 Kewajiban lancar 0,37 1,39 Pendapatan 0,48 0,18 Rugi usaha 0,01 0,36 Sumber: Mobile-8 Analis saham PT BNI Securities M. Alfatih mengatakan langkah pengalihan utang menjadi saham itu merupakan salah satu jalan keluar untuk pembayaran utang. "Namun, kebanyakan pihak yang memberi utang semula berharap dapat memperoleh hasil, bukan ekuitas. Langkah ini pada akhirnya dapat diterima oleh para pemegang obligasi daripada mereka tidak dapat apa-apa," tuturnya. Izin pemegang saham Direktur Utama Mobile-8 Merza Fachys mengatakan perseroan akan meminta persetujuan RUPS atas penerbitan efek bersifat ekuitas tanpa memberikan hak memesan efek terlebih dahulu pada 30 September 2009. "Nilai penerbitan saham akan ditentukan berdasarkan peraturan Bursa Efek Indonesia, yaitu harga rata-rata 25 hari terakhir setelah RUPS digelar," kata Merza. Langkah tersebut, lanjut Merza, ditujukan perseroan guna memenuhi kewajiban perseroan dalam meraih laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (earnings before interest, tax, depreciation, amortization/EBITDA) positif pada kuartal I/2010. Apabila Mobile-8 mampu menjaga EBITDA positif, perusahaan telekomunikasi itu tidak perlu melaksanakan injeksi modal. "Kami berharap dengan adanya konversi utang menjadi saham itu, rasio utang terhadap ekuitas membaik, sehingga diharapkan ke depan EBITDA perseroan menjadi positif," katanya. Mobile-8 membukukan kewajiban per 30 Juni 2009 mencapai Rp4,24 triliun melonjak 38,56% dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama tahun lalu yaitu Rp3,06 triliun. Adapun, pendapatan perseroan pada semester I/2009 mencapai Rp189,72 miliar atau lebih rendah dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama 2008 yaitu Rp456,05 miliar. Berdasarkan laporan keuangan Mobile-8 yang ditandatangani oleh Direktur Mobile-8 Anthony Chandra Kartawiria dan Beydra Yandi terlihat bahwa meningkatnya kewajiban menyebabkan lonjakan rugi bersih perseroan hingga 170% menjadi Rp269,55 miliar dibandingkan dengan periode yang sama 2008, yaitu Rp99,80 miliar. Beban usaha juga melonjak menjadi Rp551,22 miliar pada semester I/2009 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama 2008 yaitu Rp467,99 miliar. Lonjakan kewajiban dan tingginya beban usaha menggerus kas internal perseroan menjadi Rp8,79 miliar pada semester I/2009 dari Rp170,92 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Kemarin, harga saham emiten berkode FREN ini ditutup naik 1,67% menjadi Rp61 dibandingkan dengan penutupan perdagangan 2 September 2009, yaitu Rp60. Mengacu ke harga saham itu, kapitalisasi pasar perseroan mencapai Rp1,23 triliun. (sylviana.pravita@[tautan dihapus]) Oleh Sylviana Pravita R.K.N. Bisnis Indonesia Post Extras: π¨οΈ Cetak |
| falak (Penasihat) 04/09/09 16:12 | π Re: Fren di jual Ke Esia Btel sepertinya memang batal.. ada tuh operator yang saat ini lagi negosiasi dengan Mobile-8 untuk akuisisi. kalo happened.. wah mantap deh.. Post Extras: π¨οΈ Cetak |
| rusco (Penasihat) 07/09/09 17:38 | π Re: Fren di jual Ke Esia Senin, 07/09/2009 10:36 WIB Alokasi Kanal Flexi-Esia Sebelum Pergantian Menkominfo Achmad Rouzni Noor II - detikinet Jakarta - Telkom dan Bakrie Telecom (Btel) telah mengajukan permohonan resmi tentang penggunaan kanal 1019 sebagai kanal tambahan untuk jaringan layanan Flexi dan Esia di pita frekuensi 800 MHz. Proposal kedua operator fixed wireless access (FWA) itu telah diterima oleh Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI). Pun, BRTI telah menyetujui proposal ini. Menurut Anggota KRT BRTI Mohammad Ridwan Effendi, tinggal menunggu pengesahan dari Bagian Hukum Ditjen Postel saja. "Paling lambat Oktober atau sebelum pergantian Menteri Kominfo yang baru, kanal 1019 selebar 1,23 MHz ini sudah bisa dialokasikan untuk Telkom dan Btel," ujarnya kepada detikINET, Senin (7/9/2009). Kanal 1019 adalah kanal yang terletak persis di sebelah kiri dan berdampingan dengan kanal 37 milik Telkom untuk area luar Jakarta, Banten, Jawa Barat (JBJB). Sementara, kanal itu juga berdampingan dengan kanal milik Btel di area JBJB. Alhasil, kedua operator FWA berbasis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) ini bisa berbagi pakai (sharing) frekuensi untuk menambah kapasitas jaringan dan pelanggan di area-area tersebut dengan berbasis Permenkominfo No. 181/2006. Sebelum adanya penambahan kanal ini, Telkom dan Btel masing-masing hanya memiliki tiga kanal selebar 5 MHz dengan cakupan lisensi FWA nasional. Dengan adanya penambahan ini, keduanya bisa melakukan ekspansi layanan data berbasis Evolution Data Opimization (EVDO).(rou/wsh) Post Extras: π¨οΈ Cetak |
| rusco (Penasihat) 07/09/09 17:40 | π Re: Fren di jual Ke Esia Senin, 07/09/2009 16:39 WIB Kanal 'Nyempil' di 800 MHz Flexi 28% Nasional, BTEL 100% di JBJB Achmad Rouzni Noor II - detikinet Jakarta - Jika satu kanal 'nyempil' 1019 di pita frekuensi 800 MHz sudah sampai di tangan Telkom dan Bakrie Telecom (BTEL), maka komitmen pembangunan lisensi modern untuk jaringan layanan Flexi dan Esia otomatis berubah. Menurut Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Mohammad Ridwan Effendi, proposal perubahan komitmen pembangunan jaringan kedua operator fixed wireless access (FWA) itu telah diterima oleh pihaknya. "Telkom telah mengajukan penambahan kapasitas untuk modern license-nya sebanyak rata-rata 28% untuk wilayah Indonesia di luar JBJB (Jakarta, Banten, Jawa Barat). Sedangkan BTEL mengajukan penambahan kapasitas lebih dari 100 % di wilayah JBJB," ungkapnya kepada detikINET, Senin (7/9/2009). Secara nasional, Telkom memiliki 13 juta pelanggan Flexi dan Btel punya delapan juta. Di JBJB, BTEL punya sekitar empat juta pelanggan dengan kapasitas jaringan sesungguhnya untuk enam juta pelanggan. Kedua operator ini, sebelumnya hanya memiliki tiga kanal selebar 5 MHz di 800 MHz. Dengan tambahan satu kanal 'nyempil' dengan lebar pita 1,23 MHz ini, maka keduanya bisa menggelar layanan data dengan teknologi Evolution Data Optimized (EVDO). Kanal 1019 sendiri terletak persis di sebelah kiri dan berdampingan dengan kanal 37 milik Telkom untuk area luar JBJB. Kanal itu juga berdampingan dengan kanal milik BTEL di area JBJB. Itu sebabnya, kedua operator berbasis Code Division Multiple Access (CDMA) ini bisa berbagi pakai frekuensi secara silang (cross sharing) untuk menambah kapasitas jaringan dan pelanggan di area-area tersebut dengan landasan payung hukum Permenkominfo No. 181/2006.(rou/wsh) Post Extras: π¨οΈ Cetak |
| djuned89 (Penasihat) 07/09/09 21:47 | π Re: Fren di jual Ke Esia hmmmm..... kalo seandainya yang nyaplok M8 adalah starone,,,bisa-bisa tambah hebring... Post Extras: π¨οΈ Cetak |
| rusco (Penasihat) 08/09/09 08:46 | π Re: Fren di jual Ke Esia Mobile-8 siap setor sinking fund JAKARTA: PT Mobile-8 Telecom Tbk siap menyetor dana cadangan (sinking fund) senilai Rp8 miliar pada 15 September terkait dengan restrukturisasi obligasi perseroan Rp675 miliar. "Kami sedang menyiapkan sinking fund yang harus disetor pada 15 September. Sinking fund per 31 Agustus sudah kami penuhi," ujar Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik kepada Bisnis kemarin. Kewajiban itu merupakan hasil dari rapat umum pemegang obligasi (RUPO) pada 29 Juni 2009, di mana Mobile-8 mencapai lima langkah restrukturisasi atas obligasi berdenominasi rupiah senilai Rp675 miliar. "Nilainya dua kali dari pembayaran kupon yaitu berkisar Rp16 miliar, sehingga pada 31 Agustus kami membayar Rp8 miliar dan jumlah yang sama kami bayarkan pada 15 September. Jumlah itu disesuaikan dengan tingkat kupon obligasi yang menjadi 5% pada Agustus-September 2009," katanya. Dia mengatakan perseroan memenuhi kewajiban itu melalui kas internal perseroan yang berasal dari pendapatan operasional. "Yang jelas, cash flow bulanan pada Agustus dan September berkurang guna memenuhi kewajiban itu," ujarnya. Ke depan, berdasarkan keputusan RUPO itu apabila sinking fund itu terpakai saat belum jatuh tempo obligasi, perseroan wajib menambah dana itu (top-up). Keempat langkah lainnya, yaitu, pertama, perpanjangan jatuh tempo surat utang dari 15 Maret 2012 menjadi 15 Maret 2017. Kedua, pemangkasan tingkat bunga obligasi menjadi 5% pada 2009-2011, 8% pada 2012-2014, dan 18% pada 2015-2017. Obligasi rupiah itu semula memberikan bunga 12,375% per tahun. Ketiga, pembayaran denda Rp1 miliar karena keterlambatan pelunasan bunga. Mobile-8 akan melunasi bunga tertunggak melalui empat kali angsuran pada 31 Juli, September, Desember, dan Maret 2010. Keempat, perseroan juga diwajibkan meraih laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) positif pada kuartal I/2010. "Apabila kami mampu menjaga EBITDA positif, kami tidak perlu melaksanakan injeksi modal," tuturnya. Adapun, perseroan juga masih menyelesaikan gugatan oleh wali amanat obligasi berdenominasi dolar senilai US$100 juta, yaitu DB Trustees, sehingga bunga obligasi dolar yang jatuh tempo per 1 September tidak dibayarkan perseroan. Pada penutupan perdagangan kemarin, harga saham emiten berkode FREN ini ditutup ke level Rp64 atau naik 6,67% dibandingkan dengan penutupan perdagangan 4 September 2009, yaitu Rp60. Dengan mengacu pada harga saham itu, kapitalisasi pasar perseroan mencapai Rp1,29 triliun. Oleh Sylviana Pravita R.K.N. Bisnis Indonesia Post Extras: π¨οΈ Cetak |
| rusco (Penasihat) 08/09/09 09:09 | π Re: Fren di jual Ke Esia Telkom dan BTEL naikkan kapasitas Kanal 1019 masih dalam range CDMA JAKARTA: PT Telkom Tbk secara resmi mengajukan penambahan kapasitas untuk modern licensing rata-rata 28% untuk wilayah Indonesia di luar area Jawa Barat, Jakarta, Banten (JBJB), sedangkan Bakrie Telecom siap menambah kapasitas lebih dari 100%. Hal tersebut terkait dengan penambahan kanal 1019 untuk layanan Flexi (Telkom) dan Esia (Bakrie Telecom) di pita frekuensi 800 MHz. PT Telkom Tbk dan PT Bakrie Telekom Tbk secara resmi mengajukan penggunaan kanal 1019 untuk penggunaan layanan Flexi dan Esia akhir pekan lalu. Kanal 1019 adalah kanal yang terletak persis di kiri dan bedampingan dengan kanal 37 milik Telkom (Flexi) untuk area luar Jawa Barat Jakarta Banten (JBJB) dan Bakrie Telecom (Esia) untuk area JBJB. Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) M. Ridwan Effendi mengatakan kanal 1019 ini masih dalam range chipset CDMA (code division multiple access) dari Qualcomm dan masih bisa dikenali oleh ponsel teknologi tersebut yang beredar di pasar Indonesia. βSehingga pengguna ponsel CDMA nantinya tidak perlu mengganti peranti genggamnya apabila kanal ini digunakan untuk FWA,β ujarnya kemarin. Seperti diketahui, berdasarkan kajian teknis ilmiah dari BRTI, harus terdapat guard band (frekuensi penyangga) antaroperator CDMA-2000, sehingga kanal 160 yang terletak di antara kanal milik Telkom dan Bakrie Telecom dan kanal 548 yang terletak di antara kanal milik Mobile-8 dan Indosat, tidak dapat diberikan kepada salah satu operator mana pun. Dengan demikian, lanjut Ridwan, kanal 1019 hanya bisa diperuntukkan bagi layanan Flexi dan Esia. BRTI sudah menerima proposal dari Telkom dan Bakrie Telecom terkait dengan penambahan kanal tersebut. BRTI sendiri tidak menemukan adanya kanal kosong di sebelah kanan Indosat sehingga Mobile-8 (Fren), dan Indosat (StarOne) tidak mendapatkan alokasi kanal tambahan. Menurut dia, BRTI pada prinsipnya tidak ingin dianggap seperti pilih kasih dalam pengalokasian kanal yang baru belakangan diketahui dapat digunakan untuk keperluan sistem IMT-2000 ini. Kanal 1019 yang kosong tersebut berada di frekuensi 824 MHz, persis di sebelah kiri Esia yang bekerja di frekuensi 825 MHz. Direktur Layanan Korporasi Bakrie Telecom Rakhmat Junaidi mengatakan pihaknya memang meningkatkan komitmen pembangunan jaringan, tetapi tidak sampai 100% dari kapasitas saat ini. βKami berharap agar yang diberikan pemerintah dapat memberikan manfaat optimal kepada masyarakat,β ujarnya. Tidak masalah Dirut PT Mobile-8 Telecom Merza Fachys mengungkapkan pihaknya sudah memiliki empat kanal frekuensi di pita 800 MHz sehingga penambahan satu kanal pada layanan Esia dan Flexi tidak menjadi masalah. βMereka baru memiliki tiga kanal, dengan ditambahnya satu kanal berarti jumlahnya sama dengan milik kami,β ujarnya. Pada 2006, Menkominfo saat itu, Sofyan A. Djalil, menetapkan pembagian kanal itu di pita 800 Mhz melalui Keputusan No. 181/-2006 tentang Pengalokasian Kanal pada Pita 900 MHz. (fita.indah@[tautan dihapus] Oleh Fita Indah Maulani & Arif Pitoyo Bisnis Indonesia Post Extras: π¨οΈ Cetak |
Kami memakai cookie Google Analytics untuk memahami cara situs ini dipakai. Anda boleh menerima atau menolak. Kebijakan privasi