Home - Komunitas - Panduan - Kontak
Indonesian Gadgeteers
Forum Diskusi:
Main Index | Search | Panduan | Aturan | Kontak  ·  Tanpa registrasi: cukup isi nama
>> Forumponsel
Halaman dalam topik ini: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | (tampilkan semua)
rudyanto08
(Penasihat)
26/08/08 14:40
🙂 Fren di jual Ke Esia
Baca berita di Bisnis Indonesia hari ini, kelihatannya persaingan yang sangat ketat akan memaksa merger Operator, dan Fren to Esia ini permulaannya ???

Hary Tanoe Lego Fren ke Esia

Tuesday, 26 August 2008 - Selasa, 26/08/2008 - Bisnis Indonesia

JAKARTA: PT Global Mediacom Tbk, secara bertahap, menjual saham anak perusahaannya yang memiliki kegiatan di luar bisnis media.
Salah satu saham anak perusahaan yang akan dilepas adalah PT Mobile-8 Telecom Tbk, penyedia jasa telepon Fren, kepada PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), operator seluler berbasis code division multiple access (CDMA) Esia.
berita selanjutnya

------------------------------------------------------------------------------------------
berita terbaru tentang seluler
Post Extras: 🖨️ Cetak
yepai
(Penasihat)
03/12/08 11:26
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Quote:
R_w1n said:
Perusahaan telekomunikasi PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) akan menjual 543 menara telekomunikasi yang dimilikinya. Penjualan itu dilakukan beserta prasarana dan sarana pendukung infrastruktur telekomunikasi yang terkait.

Untuk rencana penjualan aset tersebut perseroan akan meminta persetujuan pemegang saham pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 16 Desember 2008. Dalam RUPSLB tersebut perseroan juga akan meminta persetujuan perubahan kegiatan usaha.

BTEL adalah perusahaan telekomunikasi kedua yang melakukan penjualan menara BTS setelah PT Excelcomindo Pratama Tbk (EXCL) yang sedang mempersiapkan penjualan 700 menaranya.

BTEL memiliki lisensi di 900 Mhz dengan merek dagang antara lain Esia. Per 30 September 2008 BTEl memiliki total aset Rp 8,1 triliun. Mayoritas saham BTEL masih dimiliki oleh Bakrie Brothers.

-Detik-

PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) lagi BU (Butuh Uang) yah ??
Post Extras: 🖨️ Cetak
riantyo
(Penasihat)
03/12/08 16:45
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Bukan butuh uang bro...kalo bisa sewa ngapain memiliki secara biaya maintenace BTS mahal, karena sekarang di wajib kan menara bersama . meminimalisir resiko.. xl aja dah di jual semua bts nya .. biar gak beban maintenace dan tetek bengek yg lain nya... kalo punya 10 BTS gak masalah kalo ratusan ya pusing kali
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
04/12/08 07:44
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Obligasi Mobile-8 berpotensi cross-default

JAKARTA: Kemungkinan gagal bayar (default) PT Mobile-8 Telecom Tbk atas percepatan pembayaran obligasi senior tanpa jaminan US$100 juta bisa memicu gagal bayar silang (cross-default) atas obligasi Rp675 miliar.

Apabila ditotal, operator telepon Fren itu berpotensi gagal bayar Rp1,88 triliun atas seluruh surat utangnya.

Mobile-8 terancam default atas pelunasan lebih awal surat utang dolar karena perusahaan itu gagal melaksanakan penawaran tender terhadap obligasi itu dalam 30 hari setelah terjadi perubahan pengendali perusahaan.

Jerash Investment, special purpose vehicle asal Dubai, kini menguasai 32% saham Mobile-8. PT Global Mediacom Tbk hanya memiliki 19% saham Mobile-8. Global Mediacom melepas sahamnya ke Jerash dengan tujuan agar mempertajam fokus strategi perseroan.

"Pemangkasan peringkat obligasi dolar dari Caa2 menjadi Ca mencerminkan fakta likuiditas Mobile-8 saat ini tidak cukup untuk menutup pelunasan lebih awal, sehingga gagal bayar tidak bisa dihindari. Gagal bayar itu bisa memicu cross-default terhadap obligasi rupiah senior berjaminan," ujar Ivan Palacious, AVP/analis Moody's Investor Services dalam pernyataannya yang dirilis kemarin.

Cross-default adalah penetapan gagal bayar terhadap satu surat utang yang memicu gagal bayar terhadap surat utang lainnya.

Moody's menyoroti kurangnya likuiditas perseroan guna memenuhi kewajiban percepatan pembayaran utang obligasi dan kupon bunga yang belum terbayar dalam waktu 14 hari kerja setelah 26 November 2008.

Direktur Keuangan Mobile-8 Anthony C. Kartawiria mengatakan perseroan saat ini mulai mencari masukan terkait dengan restrukturisasi obligasi rupiah. Tiga solusi yang ditawarkan perseroan kepada sekitar 50 institusi pemegang obligasi itu adalah penundaan jangka waktu pembayaran obligasi, pengurangan nilai kewajiban pembayaran utang, dan konversi obligasi menjadi saham.

"Kalau terjadi default atas obligasi dolar, otomatis obligasi rupiah juga langsung default. Itu ada dalam covenant kami bahwa apabila terjadi gagal bayar terhadap utang apa pun, obligasi rupiah langsung default," tutur Anthony.

Satu pemegang obligasi rupiah Mobile-8 mengatakan investor mendengar adanya potensi cross-default itu. Namun, sejauh ini pembayaran bunga obligasi itu masih lancar. "Kami berharap Mobile-8 tetap membayar bunga dan pokoknya saat jatuh tempo. Kalau dikonversi menjadi saham, kami akan tolak usulan itu," ujarnya.

Hingga akhir September, Moody's menyatakan Mobile-8 mempunyai kas di bank yang dibatasi penggunaannya dan investasi jangka pendek senilai Rp681 miliar. Operator CDMA itu tidak mempunyai fasilitas kredit. Bahkan, pada kuartal IV, arus kas Mobile-8 diperkirakan negatif. Harga saham emiten berkode FREN kini Rp50. (Wisnu Wijaya) (sylviana.pravita@[tautan dihapus])

Oleh Sylviana Pravita R.K.N.
Bisnis Indonesia
Post Extras: 🖨️ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
10/12/08 23:40
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Mobile-8 Telecom dinyatakan gugur dalam tender Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ). Operator Fren dan Hepi ini gagal memenuhi uang jaminan tender.

"Mobile-8 gugur karena tidak berhasil memenuhi bid bond atau uang jaminan tender sebesar Rp 5 miliar," kata Kepala Pusat Informasi Depkominfo, Gatot S Dewa Broto lewat percakapan telepon, Rabu (10/12/2008).

Alhasil, peserta tender SLJJ hanya menyisakan operator Bakrie Telecom. Tender lisensi ini menggunakan metode penilaian beauty contest.

Mobile-8 mulanya berniat memenangkan lisensi SLJJ untuk mengembangkan produk layanan telepon nirkabel area terbatas Hepi. Namun demikian, operator yang sebagian sahamnya dirumorkan telah beralih tangan ke Bakrie Telecom ini, masih memiliki akses jarak jauh lewat layanan seluler Fren.

-Detik-
Post Extras: 🖨️ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
10/12/08 23:41
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Bakrie Telecom tinggal selangkah lagi memenangkan tender Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ). Pesaing satu-satunya, Mobile-8 Telecom, telah dinyatakan gagal memenuhi persyaratan tender.

Meski operator Esia dan Wifone ini bisa dibilang hampir pasti mendapatkan lisensi SLJJ, namun Bakrie masih harus melewati beberapa seleksi terlebih dulu.

"Belum tentu Bakrie langsung menang. Kami masih memeriksa kesiapan operator ini," ujar Kepala Pusat Informasi Depkominfo, Gatot S Dewa Broto lewat percakapan telepon, Rabu (10/12/2008).

Namun yang pasti, jika Bakrie akhirnya memenangkan lisensi ini, itu artinya mereka berhasil melengkapi lisensi yang diperoleh sebelumnya. Akhir tahun lalu, Bakrie juga berhasil memenangkan lisensi Sambungan Langsung Internasional (SLI).

Lisensi SLJJ jelas sangat diperlukan Bakrie untuk menyalurkan SLI secara langsung kepada pelanggannya tanpa perlu repot-repot menyewa saluran tetap SLJJ operator lain.

Ketika dikonfirmasi, Direktur Bakrie Telecom Rakhmat Junaidi, mengaku belum tahu tentang kegagalan pesaingnya. Ia pun belum mau terlalu optimistis mengingat perusahaan keluarga Bakrie tersebut belum dinyatakan menang oleh pemerintah.

-Detik-
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
11/12/08 08:26
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Bakrie Telecom belum aman di seleksi SLJJ

JAKARTA: Peluang PT Bakrie Telecom Tbk menjadi penggelar jaringan sambungan langsung jarak jauh (SLJJ) ketiga di Indonesia masih akan ditentukan oleh hasil verifikasi dokumen dalam proses seleksi yang tengah berlangsung saat ini.

Rakhmat Junaidi, Direktur Corporate Services PT Bakrie Telecom Tbk, mengatakan pihaknya berharap akan dapat mengikuti proses yang berjalan.

"Secara umum, SLJJ menarik bagi kami yang juga menggelar sambungan langsung internasional," ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Menurut Rakhmat, pihaknya juga berharap dapat membantu program pemerintah. "Ini tantangan bagi semua pihak secara keseluruhan termasuk dalam hal pembukaan kode akses," tegasnya.

Gatot S. Dewa Broto, Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo, menuturkan posisi Bakrie Telecom belum sepenuhnya aman, kendati menjadi peserta tunggal dalam tahapan berikutnya seleksi SLJJ ini, menyusul gugurnya PT Mobile-8 Telecom Tbk dalam seleksi lelang proyek, karena gagal menyerahkan bidbond atau jaminan penawaran sebesar Rp5 miliar tepat pada waktunya.

"Terhadap seluruh dokumen PT Bakrie, tim seleksi sedang melakukan pemeriksaan dan verifikasi kebenarannya, termasuk dengan instansi yang berkompeten lainnya," ujarnya kemarin.

Dalam acara pembukaan dokumen yang dihadiri peserta dan tim seleksi kemarin, PT Bakrie melengkapi seluruh 16 dokumen yang dipersyaratkan. Adapun Mobile-8 tidak melengkapi satu dokumen, yaitu dokumen jaminan penawaran yang menyebabkan operator itu dinyatakan gugur.

Faktor kelengkapan dokumen telah menyebabkan Mobile-8 tidak lolos ke tahapan verifikasi.

Adapun terhadap seluruh dokumen Bakrie Telecom, tim seleksi sedang melakukan pemeriksaan dan verifikasi kebenarannya, termasuk dengan pihak instansi lain yang berkompeten.

Oleh Roni Yunianto & Arif Pitoyo
Bisnis Indonesia
Post Extras: 🖨️ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
20/12/08 17:53
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Meski pertumbuhan industri telekomunikasi 2009 mendatang diproyeksi akan melambat, namun Bakrie Telecom tetap percaya diri pertumbuhan pelanggannya di atas angka industri. "Kami optimistis meraih 10,5 juta pelanggan di akhir 2009 nanti," kata Dirut Bakrie Telecom Anindya Bakrie.

Menurut Wakil Dirut Bakrie Telecom Bidang Pemasaran, Erik Meijer, target tersebut tumbuh hampir 50%. Hingga akhir 2008 ini pelanggan telepon nirkabel area terbatas Bakrie diperkirakan mencapai 7 juta pelanggan.

"Saya rasa akan lebih dari itu, sebab hingga September saja, pelanggan kami telah lebih dari 6,5 juta," demikian ujarnya.

Sebelumnya, Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) memproyeksikan pertumbuhan pelanggan di industri telekomunikasi melambat, dari tahun ini yang diperkirakan tumbuh 40%, menjadi 20% di 2009 mendatang.

Namun demikian, Erik mengaku tak khawatir, dari perkiraan 240 juta populasi penduduk saat ini, pengguna telekomunikasi yang benar-benar jadi pelanggan diperkirakannya hanya 70-80 juta, bukan 120 juta.

"Perlu diketahui, angka pelanggan ratusan juta itu tidak selalu benar, sebab karakteristik pengguna di Indonesia unik, misalnya, memiliki dua nomor telepon dimana satu GSM seluler, satu lagi CDMA fixed wireless seperti Esia."

"Nah, berhubung pasarnya baru terserap sepertiga, jadi masih banyak peluang untuk meraih pelanggan," tandasnya.

Bakrie sendiri tak akan banyak mengubah aksi pemasarannya di 2009 mendatang. Operator yang tengah menunggu putusan pemenang tender Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ), masih akan menerapkan strategi tarif murah serta bundling ponsel CDMA murah.
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
22/12/08 16:23
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Bakrie Telecom Segera Akuisisi Mobile-8
20/12/2008 13:15:27 WIB
Oleh Karidun Pardosi dan Jauhari Mahardhika

JAKARTA, Investor Daily
PT Bakrie Telecom Tbk secepatnya mengakuisisi PT Mobile-8 Telecom Tbk guna memperkuat bisnis telekomunikasi dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada nasabah. Nilai akuisisi ditaksir mencapai Rp 1,47 triliun.

“Negosiasi dengan pengendali utama Mobile-8 telah berlangsung lama. Saat ini kami tinggal merampungkan nilai akuisisinya. Kalau kami tidak mengambil alih operator lain, pertumbuhan bisnis sangat terbatas,” kata salah satu petinggi Bakrie Group kepada Investor Daily di Jakarta, Jumat (19/12).

Dia berharap, proses akuisisi bisa rampung tahun depan. Namun, dia belum bersedia menyebutkan nilai akuisisi, karena dalam tahap finalisasi.

Eksekutif PT Global Mediacom Tbk (BMTR) juga mengakui, perseroan siap melepas 19% saham Mobile-8 Telecom (FREN) kepada Bakrie Telecom (BTEL). “Negosiasi pembelian saham membutuhkan waktu, sepertinya baru rampung 2009,” ujar dia.

Menurut dia, dengan membeli sisa saham Global Mediacom 19%, Bakrie Telecom bakal menguasai 51% saham Mobile-8 atau menjadi pemegang saham mayoritas. Bahkan, Bakrie Telecom disinyalir telah memiliki 32% saham Mobile-8 melalui Jerash Investment Ltd, special purpose vehicle (SPV) bermarkas di Dubai, Uni Emirat Arab.

Global Mediacom, perusahaan milik Hary Tanoesoedibjo, tengah bernegosiasi intensif dengan keluarga Bakrie terkait harga akuisisi. Dengan asumsi harga penutupan saham FREN Rp 50 per unit kemarin, nilai akuisisi 51% atau 10,32 miliar lembar Mobile-8 diperkirakan mencapai Rp 1,47 triliun.

Global Mediacom awalnya menguasai 51% saham Mobile-8. Namun, pada September 2008, Jerash Investment memborong sahamnya pada harga Rp 143.

Direktur Keuangan Bakrie Telecom Jastiro Abi membantah, perseroan ingin mengambilalih Mobile-8. Sebab, Bakrie Telecom lebih fokus meningkatkan kinerja keuangan melalui organik. “Kami tidak berencana mengakuisisi saham Mobile-8,” kata dia.

Rencana pengambilalihan Mobile-8 itu cukup mengejutkan di tengah upaya keluarga Bakrie untuk melunasi utang senilai Rp 11, 8 triliun. Bakrie terpaksa gagal bayar (default) atas gadai saham (repurchase agreement/repo) Rp 154,9 miliar kepada Recapital Securities dan Aldira pada Oktober 2008.

Kinerja keuangan dan prospek bisnis anak usaha Bakrie sebenarnya cukup bagus, antara lain PT Bumi Resources Tbk (BUMI), Bakrie Telecom, PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), dan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY). Hal tersebut tercermin dari hasil kinerja keuangan per September 2008 yang masih meraup laba bersih, kendati laba bersih turun.

Namun, gadai saham senilai Rp 11,84 triliun yang dilakukan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) sebagai induk keluarga Bakrie dianggap menjadi pemicu anjloknya harga-harga saham.

Sebagai contoh, laba bersih Bakrie Telecom terus meningkat setiap tahun. Tahun 2006, laba bersih mencapai Rp 73 miliar dan tahun berikutnya melonjak menjadi Rp 144 miliar. Pada September 2008, laba bersihnya tercatat Rp 121 miliar.

Membaiknya kinerja keuangan perseroan kurang diimbangi kenaikan harga saham. Harga saham tertinggi BTEL pernah menembus Rp 410 per unit tahun ini dan terendah Rp 50. Bakrie & Brothers merupakan pemegang saham terbesar saham Bakrie Telecom.

Menurut petinggi itu, Bakrie Telecom dan Mobile-8 sama-sama operator fixed wireless access (FWA) dan memiliki izin lisensi nasional. Artinya, dari segi teknologi dan frekuensi sangat tepat untuk digabungkan. Bakrie Telecom memiliki tiga bandwidth (kanal), sedangkan Mobile-8 empat.

Total pelanggan perseroan tercatat 6,5 juta pada September 2008 dan ditargetkan naik menjadi 7 juta akhir tahun. Jumlah pelanggan diproyeksikan bertambah menjadi 10,5 juta 2009 dan bakal melonjak menjadi 14 juta 2010.

Kapasitas satu kanal mampu menampung sekitar 3 juta pelanggan. Artinya, dengan mengandalkan tiga kanal, lalu lintas Bakrie Telecom sangat padat dan terbatas, sehingga kualitas layanan tidak begitu optimal.

“Jadi, tidak ada pilihan lain kecuali mengakuisisi operator sejenis, sehingga kanal bertambah. Pasalnya, alokasi kanal bagi operator FWA dari pemerintah sudah habis,” tandas dia.

Total pelanggan Mobil-8 ditargetkan mencapai 6,5 juta hingga akhir 2008.

Dia mengakui, perseroan sangat membutuhkan tambahan kanal baru, sehingga mampu bersaing dengan operator telekomunikasi lain dan lebih leluasa meluncurkan berbagai fitur yang terbaru guna memenuhi kebutuhan pelanggan. Dengan mengandalkan kanal tersedia saat ini, Bakrie Telecom hanya sanggup menyajikan fitur sederhana, antara lain suara dan pesan singkat.

Di tengah ketatnya persaingan jasa telekomunikasi di Indonesia, lanjut dia, perseroan harus sanggup menyediakan fitur-fitur yang canggih, antara lain video on demand, streaming tv, dan kecepatan akses download gambar atau musik.

Tinggal Lisensi

Dihubungi terpisah, Kepala Riset Recapital Securities Poltak Hotradero menilai, rencana akuisisi itu bakal berdampak positif terhadap pengembangan bisnis kedua operator CDMA itu. Penggabungan kedua operator akan mendongkrak pangsa pasar Bakrie Telecom. “Bahkan, akuisisi itu berpotensi menyaingi dominasi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk,” ujar dia.

Telkom merupakan operator FWA terbesar di dalam negeri lewat Telkom Flexi, dengan jumlah pelanggan lebih dari 10 juta.

Dia mengatakan, banyaknya operator telepon jasa seluler dan CDMA saat ini mengakibatkan persaingan tidak sehat, sehingga sangat diperlukan konsolidasi berupa merger minimal menjadi empat operator.

Menurut Poltak, dengan jumlah utang Mobile 8 yang sangat besar ditambah lagi default emisi obligasi, kehadiran Bakrie Telecom diharapkan dapat menyelamatkan bisnisnya. “Sekarang Mobile-8 tinggal lisensi saja, harga saham turun drastis dan terjadi gagal bayar penerbitan obligasi,” jelas dia. Nilai gagal bayar surat utang Mobile-8 mencapai US$ 100 juta.

Bakrie Telecom menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) senilai US$ 200 juta 2009. Sebagian besar dana akan dipakai menambah unit base transceiver station (BTS).

Jastiro Abi menjelaskan, belanja modal tahun depan merupakan bagian dari total capex 2008 hingga 2010 yang mencapai US$ 600 juta. Belanja modal tahun depan bersumber dari kombinasi kas, vendor financing, dan hasil penerbitan saham terbatas (rights issue) Rp 3 triliun.

Perseroan telah menggunakan dana hasil rights issue Rp 1,7 triliun, sehingga masih menyimpan dana segar Rp 1,3 triliun.

Buyback Saham Bumi

Sementara itu, pelaksanaan pembelian kembali (buyback) saham Bumi Resources sebesar 17% hingga Februari 2009 terancam batal. Pasalnya, Bumi belum menyetorkan dana buyback saham kepada Recapital Securities sebagai broker pelaksana.

Presdir Recapital Securities Abi Hurairah Mochdie mengakui, perseroan belum berani melaksanakan pembelian kembali saham sebelum dana tersedia. “Sampai sekarang, dana belum dikucurkan Bumi, sehingga kami tidak mau mengeksekusinya,” kata dia kepada Investor Daily.

Namun, Sekretaris Perusahaan Bumi Resources Dileep Srivasta menegaskan, Recapital tinggal menunggu instruksi untuk memulai buyback saham. Sebab, rencana pembelian kembali saham akan dilaksanakan sesuai jadwal yang disampaikan kepada publik.

Bumi berniat membeli kembali saham guna mencegah kejatuhan harga yang lebih terpuruk lagi. Total dana buyback mencapai Rp 8,25 triliun. Sebagian dana bersumber dari kas, sisanya pinjaman, termasuk rencana penerbitan surat utang jangka pendek (medium term notes/MTN) senilai Rp 6 triliun.

Sebelumnya, otoritas bursa dan pasar modal meminta agar dana buyback 100% berasal dari kas internal, bukan lewat pinjaman. Harga saham BUMI kemarin melemah 2,2% dari Rp 890 menjadi Rp 870 per unit.

Terkait pelunasan utang gadai saham, Abi mengatakan, Bakrie & Brothers berjanji melunasi sisa kewajiban sebesar Rp 134,9 miliar pada 22 Desember mendatang. Dengan menggadaikan 116,67 juta saham UNSP dan 45,95 juta saham BUMI, Recapital memberikan pinjaman Rp 189 miliar kepada Bakrie & Brothers. Sebesar Rp 45 miliar sudah dilunasi, tapi sisanya gagal bayar pada Oktober 2008. (hut/fei)
Post Extras: 🖨️ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
22/12/08 17:31
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
wuih mantap deh bakrie
Post Extras: 🖨️ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
22/12/08 19:45
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Setelah pesaing utamanya -- Mobile-8 -- gugur di fase awal, Bakrie Telecom dengan mudah memenangkan tender Sambungan Telepon Jarak Jauh (SLJJ).

Kepala Humas dan Pusat Informasi Depkominfo Gatot S. Dewa Broto mengatakan, dasar hukum penetapan BTel sebagai pemenang tender SLJJ dituangkan lewat surat keputusan Menkominfo nomor 379/Kep/M.Kominfo/12/2008 tertanggal 16 Desember 2008.

"Hanya saja secara prosedural yang berhak mengumumkan kepada pemenang lelang adalah Ketua Seleksi yakni Dirjen Postel. Btel pun baru diberi tahu menang dari surat resmi Dirjen yang dikirimkan hari ini," ujar Gatot kepada detikINET, Senin (22/12/2008).

Jalan yang ditempuh Bakrie untuk memenangkan tender SLJJ memang kurang mendapat tantangan. Pasalnya, Mobile-8 selaku pesaing terkuat gugur karena tidak berhasil memenuhi bid bond atau uang jaminan tender sebesar Rp 5 miliar. Alhasil, BTel pun melenggang kangkung sendirian ke babak selanjutnya tanpa pesaing.

Namun, Gatot menolak jika dikatakan kemenangan Btel ini dipaksakan karena tak adanya pilihan lain. "Kemarin saya bilang saat itu (ketika Mobile 8 gugur-red.) Btel belum sepenuhnya aman. Bisa saja mereka juga gagal," tukasnya

Meski demikian, Gatot juga tak memungkiri gugurnya Mobile-8 di tengah jalan membuat tawaran BTel tak bisa dibandingkan. "Kita juga sebetulnya menginginkan real fight. Tapi jangan lupa, kita juga melakukan evaluasi, kalau ada yang tidak akurat langsung kita cut," pungkasnya.

-Detik-
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
23/12/08 08:13
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Lepas Mobile-8, Mediacom Investasi Rp 1,5 T
22/12/2008 16:29:32 WIB
Oleh Jauhari Mahardhika
JAKARTA, Investor Daily

PT Global Mediacom Tbk (BMTR) bakal menginvestasikan Rp 1,5 triliun untuk menyukseskan peluncuran satelit Indostar II di Kazakhstan tahun depan. Sebagian dana akan dipenuhi dari hasil penjualan 51% saham PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN).

“Jumlah dana hasil penjualan saham Mobile-8 yang nantinya dialokasikan untuk satelit, masih dihitung. Sebab, Global Mediacom masih negosiasi harga dengan PT Bakrie Telecom Tbk,” kata sumber Investor Daily yang mengetahui transaksi itu di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dia menjelaskan, Global Mediacom akan melepas sisa sahamnya pada Mobile-8 sebesar 19%. Dengan pembelian saham tersebut, kata dia, Bakrie Telecom yang merupakan operator seluler Esia bakal menguasai 51% saham Mobile-8, operator Fren.

“Jika transaksi itu done, Bakrie Telecom akan menjadi pemegang saham mayoritas Mobile-8,” tegasnya. Saat ini, Bakrie Telecom diduga telah memiliki 32% saham Mobile-8 melalui Jerash Investment Ltd, special purpose vehicle (SPV) yang bermarkas di Dubai, Uni Emirat Arab.

Global Mediacom semula menguasai 51% saham Mobile-8. Namun, pada September 2008, Jerash Investment memborong saham Mobile-8 dengan harga Rp 143 per saham. Jika dengan asumsi harga tersebut, total pembelian 51% atau 10,32 miliar saham Mobile-8 mencapai Rp 1,47 triliun.

Sementara itu, pada penutupan perdagangan pekan lalu, saham Mobile-8 dengan kode FREN stagnan di level Rp 50. Nilai transaksinya sebesar Rp 12,8 juta.

David Fernando Audy, investor relations Global Mediacom, tidak ingin berkomentar ketika dikonfirmasi mengenai negosiasi penjualan saham Mobile-8 kepada Bakrie Telecom.

Dia hanya membenarkan bahwa perseroan membutuhkan modal besar untuk memperkuat bisnis media tahun depan. Salah satunya meluncurkan satelit Indostar II. “Nilai investasinya minimal sekitar Rp 1,5 triliun,” ujar David.

Investasi untuk satelit itu berasal dari kas internal dan alternatif pendanaan lainnya. Sebelumnya, Global Mediacom mendapatkan komitmen pinjaman senilai US$ 225 juta dari institusi keuangan.

Peluncuran satelit Indostar II di Baikonour, Kazakhstan itu guna meningkatkan layanan pada bisnis televisi berbayar anak Global Mediacom, yaitu PT MNC Skyvision (Indovision). Saat ini, satelit tersebut sedang dibuat oleh Boeing Satellite System di Los Angeles, Amerika Serikat.

“Dengan satelit Indostar II nantinya, layanan MNC Skyvision bisa ditingkatkan menjadi 500 saluran dibandingkan dengan Indostar I yang kini hanya 52 saluran,” jelas David. Selain itu, perseroan akan menargetkan satu juta pelanggan atau naik 66,6% dari tahun ini sebanyak 600 ribu pelanggan.

Pertumbuhan Organik

Sementara itu, ketika dikonfirmasi mengenai Mobile-8, Presiden Direktur PT Bakrie Telecom Tbk Anindya Bakrie mengatakan, perseroan belum akan mengakuisisi 51% saham operator seluler Fren tersebut. Sebab, Bakrie Telecom masih memfokuskan pertumbuhan usaha secara organik.

“Sampai sekarang, kami masih fokus pada organic growth dengan meningkatkan kapasitas bandwidth di Pulau Jawa dan Sumatera. Jadi, kami belum akan mengambil alih operator lain,” kata Anindya di sela acara Munas V Kamar Dagang dan Industri (Kadin) 2008 di Jakarta, Minggu (21/12).

Menurut dia, pihaknya harus meningkatkan bandwidth karena jumlah pelanggan tahun depan ditargetkan mencapai 10,5 juta dari sekitar tujuh juta pada akhir 2008.

Sebelumnya, seorang petinggi Grup Bakrie mengatakan kepada Investor Daily, Bakrie Telecom secepatnya mengambil alih Mobile-8 guna menambah kapasitas bandwidth dan memperkuat bisnis telekomunikasi di tengah ketatnya persaingan.

Dia mengatakan, tanpa mengambil alih perusahaan lain, seperti Mobile-8, perseroan sulit berkembang. Padahal, pelanggan menuntut fitur yang canggih dan bukan sekadar suara dan pesan singkat. Saat ini, perseroan hanya memiliki tiga kanal, sedangkan Mobile-8 empat kanal.

Sementara itu, seorang eksekutif Global Mediacom juga membenarkan, perseroan tengah bernegosiasi dengan keluarga Bakrie terkait jual beli saham Mobile-8. “Negosiasi ini butuh waktu, sepertinya baru rampung tahun depan,” ujar dia. (nov)
Post Extras: 🖨️ Cetak
hopeless
(Penasihat)
23/12/08 08:55
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
wah hebat dunk indovision bs nyampe 500 saluran nantinya
Post Extras: 🖨️ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
23/12/08 13:26
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Sambut Natal 2008, Bakrie Telecom memperluas wilayah cakupan di Sulawesi Utara, khususnya Manado, Tondano, Tomohon dan Airmadidi. Esia membebaskan percakapan telepon sesama pelanggan Bakrie Telecom selama 6 bulan di wilayah itu.

Bersamaan dengan peresmian di Sulawesi Utara, Bakrie Telecom juga meluncurkan produk baru Hape Esia Kasih. Untuk program itu Bakrie Telecom mempersiapkan 10 ribu Hape Kasih dan 20 ribu nomor Esia, Wifone dan Wimode.

Hape Esia Kasih ditawarkan dengan harga Rp 299 ribu (termasuk PPN) plus bonus kirim sms gratis sebanyak 240 ribu karakter. Esia sengaja menggunakan istilah karakter karena tarif sms Esia dihitung Rp 1 per karakter. Bukan atas dasar banyaknya pengiriman sms, seperti operator telekomunikasi lain.

Esia juga akan membebaskan percakapan telepon sesama pelanggan Esia di dalam kota yang sama. Dikarenakan kode area Manado sama dengan Tomohon, Tondano maupun Airmadidi, yaitu 0431 maka percakapan telepon antar pelanggan Esia di ke empat kota tersebut juga akan gratis.

Tarif gratis ini akan diberlakukan hingga masa promosi ini berakhir 6 bulan mendatang atau sampai dengan akhir Juni 2009.

“Tentu kurang etis jika kami menyuruh masyarakat untuk mencoba tapi masih dibebani biaya percakapan telepon. Karena itu sengaja kami gratiskan dan jika masih ada yang kurang berkenan, silahkan sampaikan,” kata Erik Meijer, Wakil Direktur Utama PT Bakrie Telecom Tbk.
Post Extras: 🖨️ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
23/12/08 14:18
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Meski sudah ditetapkan sebagai pemenang tender Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ), posisi Bakrie Telecom belum sepenuhnya aman. Masih ada sejumlah kewajiban yang harus dibereskan operator pemilik produk Esia dan WiFone itu.

Kepala Humas dan Pusat Informasi Depkominfo Gatot S. Dewa Broto mengatakan, BTel masih harus menyerahkan jaminan pelaksanaan (performance bond) kepada menteri yang ditunjuk sebagai jaminan pelaksanaan pembangunan paling lambat tanggal 9 Januari 2009.

"Kalau sampai batas waktu tersebut tak dipenuhi kewajibannya, maka pemerintah akan mencairkan bidbone (jaminan penawaran). Tetapi dengan adanya pencairan itu bukan berarti mereka lepas dari performance bond," imbuh Gatot kepada detikINET.

Nah, jika BTel masih membandel dan sampai batas waktu selanjutnya yakni tanggal 23 Januari 2009, performance bond tidak diserahkan maka izin Prinsip Penyelenggaraan Jaringan Tetap SLJJ tidak diterbitkan.

Selain kewajiban diatas, lanjut Gatot, PR BTel yang juga masih ditunggu adalah memberikan proyeksi kepada pemerintah. Seperti terkait rencana pembangunan jaringan, tarif hingga pengembangan SDM.

"Seperti pengalaman tender SLI, pada satu tahun pertama kita akan melakukan evaluasi untuk mengecek progresnya," pungkasnya.
Post Extras: 🖨️ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
26/12/08 17:45
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Bakrie Telecom menjadi operator jaringan tetap ketiga yang memiliki lisensi Sambungan Langsung Internasional (SLI) sekaligus Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ). Sebelumnya, kedua izin layanan tersebut hanya dikuasai incumbent Telkom dan Indosat secara duopoli.

Dengan mengantungi tiga izin lisensi layanan sekaligus, operator Esia dan Wifone ini pun mengaku siap mengawali 2009 dengan menjadi full service network provider.

"Lengkap sudah lisensi yang kami miliki, sekarang waktunya memaksimalkan potensi dan kepercayaan yang kami miliki bagi kepentingan pengembangan usaha di masa depan," kata Anindya Bakrie, pemilik sekaligus Dirut Bakrie Telecom, dalam rilisnya, Rabu (24/12/2008).

Untuk pelaksanaan pembangunan proyek SLJJ, Bakrie Telecom telah menganggarkannya sebagai bagian dari belanja modal di tahun 2009. Belanja modal tersebut adalah sebesar US$ 200 juta.

"Kami akan mensinergikan layanan SLJJ dan sambungan internasional sehingga dapat memberikan keuntungan bagi pelanggan, dalam hal ini tentu saja berupa layanan telekomunikasi yang terjangkau dan berkualitas," sambung Anindya.

Keberhasilan mendapatkan lisensi SLJJ akan semakin memperkuat posisi Bakrie Telecom sebagai operator telekomunikasi nasional. "Kami baru saja membuka layanan di 55 kota baru di Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan dan Sulawesi," tuturnya lagi.

Bakrie mencanangkan target yang cukup agresif dimana pada tahun 2009, target jumlah pelanggan mencapai 10,5 juta dan 14 juta pelanggan di tahun 2010. Di 2008 sendiri, target 7 juta pelanggan sangat besar kemungkinannya untuk terlampaui karena pada kuartal ketiga 2008, Bakrie Telecom telah mencapai 6,5 juta pelanggan.
Post Extras: 🖨️ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
10/01/09 14:15
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Sedikitnya, 80 ribu orang Tegal yang tergabung dalam Forum Komunikasi Mahasiswa dan Masyarakat Tegal (Forkommat) akan menjadi pengguna Esia, layanan telepon mobilitas terbatas Bakrie Telecom.

Ini dipastikan setelah kedua belah pihak saling mengikat perjanjian tertulis di Wisma Bakrie II, Jakarta, Jumat (9/1/2008). Nota kesepahaman ditandatangani oleh Direktur Bakrie Telecom Rakhmat Junaidi dan Ketua Forkommat Muhammad Jumadi.

Kerjasama ini jelas disambut hangat pihak Bakrie Telecom mengingat mereka mendapatkan puluhan ribu pelanggan baru tanpa perlu bersusah payah.

"Layanan kami memang menyasar pada komunitas. Kerjasama ini bisa jadi cikal bakal untuk kerjasama komunitas daerah selanjutnya," kata Rakhmat.

Sementara Jumadi menambahkan, pelanggan baru asal Tegal yang bisa disasar Esia bisa lebih dari 80 ribu pelanggan, mengingat angka itu hanya anggota yang terdaftar dalam Forkommat. "Ini belum termasuk keluarganya,"

-Detik-
Post Extras: 🖨️ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
10/01/09 14:17
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Bakrie Telecom mengaku tak sabar ingin segera menggelar layanan SLI dan SLJJ. Meski telah lulus uji laik operasi, mereka harus sabar sedikit karena izin penyelenggaraan belum diterbitkan pemerintah.

Direktur Bakrie Telecom Rakhmat Junaidi menuturkan pihaknya telah berhasil memperoleh sertifikat lulus ULO untuk akses sambungan langsung internasional (SLI) saluran jernih.

"Setelah ULO berhasil didapat, kini tinggal menunggu izin penyelenggaraan. Mungkin Februari sudah bisa jalan," kata Rakhmat di Wisma Bakrie II, Jakarta (9/1/2008).

Untuk menyelenggarakan sambungan SLI, Btel menganggarkan US$ 25 juta untuk pembangunan lima tahun. Di tahun 2009 ini, operator Esia ini akan membangun dua sentral gerbang internasional SLI di Batam dan Jakarta.

Btel berharap bisa menyelenggarakan SLI saluran jernih kepada pelanggannya dengan tarif yang lebih terjangkau. Namun, layanan SLI masih mahal jika operator ini masih terkendala biaya terminasi sambungan jarak jauh (SLJJ) lewat operator lain.

Untungnya, Btel berhasil memeroleh lisensi SLJJ lewat beauty contest. Sehingga, kanal saluran SLI bisa dibawa sendiri tanpa harus membayar interkoneksi dengan operator lain.

"Penghematan dari sini bisa kami pastikan sangat signifikan. Ini investasi besar bagi kami," kata Rakhmat tanpa mau menyebut jumlah penghematan biaya yang dimaksud.

Namun, SLJJ Btel juga masih harus menunggu keluarnya izin prinsip sebelum kemudian ULO dan mendapatkan izin penyelenggaraan.

"23 Januari ini kita akan dapat izin prinsip, baru setelah itu izin penyelenggaraan. Kami inginnya secepat mungkin izin bisa keluar," tandas Rakhmat.

-Detik-
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
13/01/09 17:39
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
AKUISISI BUMI TERUS DIPERSOALKAN, Sinar Mas Jual 6,2% Saham Bakrie Telecom 13/01/2009 17:17:41 WIB
Oleh Jauhari Mahardhika dan Deviana Chuo

JAKARTA , Investor Daily
PT Sinar Mas Sekuritas telah menjual 6,2% saham PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), yang sempat dibeli pada November 2008. Penjualan saham operator seluler Esia itu dinilai wajar, karena tujuannya untuk investasi.

Berdasarkan laporan biro administrasi efek PT Ficomindo Buana Registrar, kemarin, PT Sinar Mas Sekuritas tidak tercantum lagi sebagai pemegang 5% saham atau lebih Bakrie Telecom sejak 30 Desember 2008. Sementara itu, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menguasai 22,54% saham, sedangkan Credit Suisse Cabang Singapura s/a Long Haul Holdings Ltd-BTEL masih memiliki 8,08%.

Sebelumnya, dalam laporan per 28 November 2008, PT Sinar Mas Sekuritas tercatat sebagai pemegang 6,2% saham Bakrie Telecom. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) 22,43% dan Credit Suisse Cabang Singapura s/a Long Haul Holdings Ltd-BTEL 8,08%.

Ketika dikonfirmasi, Dirut Sinar Mas Sekuritas Kokaryadi Chandra tidak bersedia berkomentar. Seorang asistennya berkata, “Pak Kokaryadi tidak bisa diganggu dulu.”

Di lain pihak, Direktur Bakrie Telecom Rakhmat Junaidi mengatakan, pihaknya sangat terbuka bagi investor yang ingin membeli dan menjual saham Bakrie Telecom. “Jadi, bebas saja apabila ada perusahaan yang keluar masuk untuk investasi,” jelas dia.

Berdasarkan data Investor Daily, harga rata-rata saham Bakrie Telecom selama Desember 2008 sebesar Rp 51. Sedangkan harga tertinggi sempat di level Rp 53 dan terendah Rp 50.

Namun, harga tersebut lebih rendah dibandingkan November 2008, atau periode pembelian saham Bakrie Telecom oleh Sinar Mas Sekuritas. Ketika itu, harga rata-rata mencapai Rp 58 dengan harga tertinggi Rp 72 dan terendah Rp 50.

Analis PT Panin Sekuritas Purwoko Sartono mengatakan, prospek sektor telekomunikasi yang saat ini digeluti Bakrie Telecom sebenarnya masih menjanjikan. Sejak dua bulan terakhir, harga BTEL cenderung flat pada level Rp 50-an. “Hal itu lebih disebabkan sentimen negatif terhadap Grup Bakrie,” ujar dia.

Berdasarkan analisis, kata Purwoko, saat ini merupakan waktu yang tepat membeli BTEL untuk investasi jangka panjang. “Harga BTEL yang tidak bergerak dari level Rp 50 membuat saham itu tidak dalam posisi jual,” tuturnya.

Bumi Resources
Sementara itu, polemik mengenai aksi korporasi PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terus berlanjut. Kali ini, Badan pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) meminta penjelasan lebih rinci dari perusahaan milik Grup Bakrie itu terkait akuisisi tiga perusahaan, yaitu PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Fajar Bumi Sakti, dan PT Pendopo Energi Batubara.

Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany menegaskan, manajemen Bumi Resources harus membuktikan bahwa akuisisi ketiga perusahaan senilai Rp 6 triliun itu bukan transaksi material dan tidak mengandung benturan kepentingan, seperti yang diungkapkan sebelumnya.

“Selama ini, manajemen Bumi telah melakukan transaksi tanpa meminta persetujuan Bapepam. Karena itu, kami meminta penjelasan apakah benar transaksi itu tidak material dan tidak mengandung benturan kepentingan,” kata Fuad.

Fuad mengakui, pihaknya belum dapat memberikan penilaian dan pernyataan atas transaksi Bumi. Namun, kata dia, Bapepam sendiri juga akan memeriksa transaksi itu.

Di tempat terpisah, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga akan memanggil manajemen Bumi Resources. “Kami akan memanggil Bumi Resources, setelah surat yang kami layangkan dijawab oleh mereka,” ujar Dirut BEI Erry Firmansyah. (c123)
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
14/01/09 09:35
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Uji TV digital swasta dimulai
Telkom & Mobile-8 garap pasar mobile TV

JAKARTA: Dua konsorsium yang masing-masing beranggotakan operator PT Telkom Tbk dan PT Mobile-8 Telecom Tbk mulai menggelar uji coba layanan televisi melalui jaringan seluler atau mobile TV bersamaan dengan uji coba siaran televisi digital.

Freddy Tulung, Dirjen Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi Depkominfo, menuturkan kedua konsorsium tersebut akan menggelar uji coba mobile TV bersamaan dengan uji coba siaran TV digital.

"Kedua konsorsium nantinya bisa mengajukan izin penyelenggaraan, mereka punya privilege terutama karena telah menggelar uji coba," ujarnya kepada Bis-nis belum lama ini.

Menurut Freddy, konsorsium tersebut baru mengantongi izin sementara yang berlaku 9 bulan dan dapat di-per-panjang sampai 1 tahun untuk masa uji coba.

Dalam periode Januari-Maret, Depkominfo bersama konsorsium siaran TV digital dan mobile TV akan menguji coba peralatan.

"Jika semua lancar, pada September 2009 izin siaran digital mobile TV dan izin siaran digital bebas langganan [free to air] lembaga penyiaran bisa ter-bit."

PT Telkom Tbk bergabung bersama PT Telkomsel dan PT Indonusa Telemedia (TelkomVision) dalam konsorsium Grup Telkom.

Adapun konsorsium Tren Mobile TV diperkuat oleh sejumlah perusahaan di antaranya PT Mobile-8 Telecom Tbk dengan stasiun televisi di bawah PT Media Nusantara Citra Tbk (MNC).

Mobile-8 merupakan grup Global Mediacom Tbk yang menjadi anak usaha MNC yang mempunyai kepemilikan di stasiun RCTI, TPI dan Global TV.

Kedua konsorsium penggelar uji coba televisi digital bergerak itu tahun lalu lolos seleksi penyelenggaraan uji coba yang diminati enam konsorsium.

Depkominfo telah meminta mereka mengajukan alokasi frekuensi akhir November 2008.

Menurut penilaian Depkominfo bersama Departemen Perindustrian dan Badan Pengkajian Penerapan Teknologi, kedua konsorsium mewakili grup perusahaan yang siap dari sisi kompetensi layanan ber-gerak digital, basis teknologi serta sum-ber daya manusia untuk uji coba.

Dukungan handset

Sukaca Purwokardjono, Division Head Fren Product Marketing PT Mobile-8 Telecom Tbk, menuturkan melalui langkah itu pihaknya akan melanjutkan eks-plo-ra-si layanan mobile TV yang telah dirintis pertama kali melalui layanan TV Mobi pa-da 2006.

"Ketika itu, kualitas digital layanan ini belum banyak direspons pasar karena hand-set belum banyak , kami akan eksplorasi ini agar bernilai plus di sisi konsumen," ujarnya kepada Bisnis.

Sebelumnya, Alcatel-Lucent Indonesia memperkirakan layanan siaran TV bergerak di Indonesia akan masif selama ada kerja sama antara stasiun siaran TV dan operator 3G.

Data PT Alcatel-Lucent Indonesia menyebutkan kesuksesan layanan mobile TV sangat terkait dengan ketersediaan handset yang jaringan distribusinya dapat didukung operator. Peran stasiun TV sebagai pendorong layanan mobile TV juga besar. (roni.yunianto@[tautan dihapus])

Pada mobile TV, dikenal standar DVB-H atau Digital Video Broadcasting-Hand-held, yaitu standar untuk siaran televisi digital terrestrial untuk peranti genggam yang menggunakan pemancar terrestrial untuk pengiriman layanan.

DVB-SH atau Digital Video Broadcasting-Satelite Handheld merupakan evolusi dari DVB-H yang dapat menggunakan metode pengiriman layanan melalui satelit, pemancar terrestrial ataupun kombinasi dari keduanya (hybrid).

DVB-H hanya bekerja pada pita frekuensi band di 174MHz-230MHz sampai dengan 1400MHz-1500MHz. Sementara DVB-SH dapat bekerja pada pita frekuensi 174MHz-230MHz sampai 3GHz.

Aplikasi penyiaran di jaringan seluler diperkirakan lebih dimungkinkan digelar dengan teknologi radio yang memiliki efisiensi spektrum yang lebih besar, misalnya high speed packet access plus (HSPA +), WiMax, atau long term evolution (LTE). (roni.yunianto@[tautan dihapus])

Oleh Roni Yunianto
Bisnis Indonesia
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
31/01/09 09:42
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Sori, thread ini gue naikin lagi. Emg proses akuisisi M8 ini cukup menarik untuk disimak...
---------------------------
BHAKTI SECURITIES TANGANI RIGHTS ISSUE, Investor Timteng Minati Saham Mobile-8
Oleh Eva Fitriani
JAKARTA , Investor Daily

Tiga perusahaan investasi dari Timur Tengah telah menyatakan minatnya untuk membeli saham PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN). Ketiga investor tersebut akan menjadi pemegang saham baru melalui penawaran umum terbatas (rights issue).

“Kami telah berbicara dengan tiga investor timur tengah dan mereka telah menyatakan minatnya untuk memiliki saham Mobile-8,” kata Dirut Mobile-8 Telecom Wityasmoro Sih Handayanto di sela peluncuran kartu perdana perseroan di Jakarta, Kamis (29/1).

Wityasmoro mengatakan, pihaknya sudah meminta persetujuan pemegang saham mayoritas mengenai rencana masuknya pemegang saham baru dengan skema rights issue. Pihaknya juga telah menunjuk PT Bhakti Securities untuk menangani penerbitan saham baru tersebut.

Hingga 30 Desember 2008, Jerash Investment, special purpose vehicle (SPV) berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab, menguasai 32% saham Mobile-8. PT Global Mediacom Tbk (BMTR) memiliki 19% saham, UOB Kay Hian Pte Ltd 13,29%, PT Bhakti Asset Management 7,28%, dan Qualcomm Incorporated 5,01%. Sedangkan sisa saham sebesar 23,42% dimiliki publik.

Ketika ditanya mengenai target dana dari hasil rights issue, Wityasmoro enggan menyebutkannya. Sebab, kata dia, rencana tersebut masih dalam penjajakan. Tahun lalu, perseroan berniat rights issue untuk meraup dana sebesar Rp 2 triliun. Namun, hingga kini, aksi korporasi itu tertunda akibat krisis keuangan global.

Direktur Mobile-8 Merza Fachys menambahkan, pihaknya tidak mungkin menargetkan kembali dana hasil rights issue sebesar Rp 2 triliun. Pasalnya, harga saham perseroan dengan kode FREN sudah turun drastis. Pada perdagangan kemarin, FREN masih stagnan di level Rp 50.

“Meksi demikian, rencana rights issue kemungkinan kami lakukan tahun ini untuk memenuhi modal kerja dan investasi,” ujar Wityasmoro. Tahun ini, Mobile-8 mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) di bawah US$ 100 juta atau lebih rendah dibandingkan capex 2008 sebesar US$ 140 juta.

Mengenai PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) yang juga berencana mengakuisisi saham perseroan, Wityasmoro hanya mengatakan bahwa hal itu merupakan urusan pemegang saham. Sebelumnya, seorang eksekutif Global Mediacom mengungkapkan, pihaknya akan melepas 19% saham Mobile-8 kepada Bakrie Telecom.

Global Mediacom yang merupakan perusahaan milik pengusaha Hary Tanoesoedibjo itu tengah bernegosiasi secara intensif dengan keluarga Bakrie terkait harga akuisisi Mobile-8. “Negosiasi pembelian saham Mobile-8 ini membutuhkan waktu, sepertinya akan selesai pertengahan 2009,” ujar sumber itu. Dia pun mengungkapkan, Bakrie Telecom nantinya bakal menguasai mayoritas saham Mobile-8.

Namun, di tengah kabar pembelian saham itu, Mobile-8 menyatakan gagal bayar obligasi senilai US$ 100 juta. Saat ini, DB Trustee Pte Ltd selaku wali amanat, telah mengajukan gugatan terhadap Mobile-8 di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Tak Capai Target
Sementara itu, mengenai kinerja Mobile-8 tahun lalu, Wityasmoro mengaku belum bisa mengungkapkannya, karena masih diaudit. Dia hanya mengatakan, pendapatan perseroan hingga akhir 2008 tidak mencapai target. Pasalnya, persaingan harga antar perusahaan telekomunikasi sangat ketat.

Hingga September 2008, pendapatan usaha perseroan Rp 610,76 miliar atau turun 2,48% dibandingkan periode sama 2007 sebesar Rp 626,3 miliar. Melonjaknya beban usaha sebesar 48,73% menjadi Rp 763,76 miliar mengakibatkan rugi bersih Rp 275,29 miliar. Padahal, pada periode sama 2007, Mobile-8 mampu meraih laba Rp 55 miliar.

“Namun, tahun ini, kami optimistis bisa mencapai target pertumbuhan pendapatan sebesar 10-20%,” ujar Wityasmoro. Sementara itu, jumlah pelanggan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar lima-enam juta dari tahun lalu yang masih di bawah empat juta pelanggan.
Post Extras: 🖨️ Cetak
Halaman dalam topik ini: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | (tampilkan semua)
🔒 Topik lama, hanya bisa dibaca. Isinya diambil dari forum Forum Ponsel yang dulu: tautan, nomor telepon, dan alamat email sudah disembunyikan. Ingin kiriman ini dihapus atau dikoreksi? Hubungi kami dan sebutkan alamat halaman ini. Ingin membahas topik serupa? Buat topik baru di Forumponsel.
Isi forum adalah pendapat pengirimnya. Kiriman diperiksa sebelum tampil. © Forum Ponsel · Privasi · Syarat · Aturan forum