| rudyanto08 (Penasihat) 26/08/08 14:40 | 🙂 Fren di jual Ke Esia Baca berita di Bisnis Indonesia hari ini, kelihatannya persaingan yang sangat ketat akan memaksa merger Operator, dan Fren to Esia ini permulaannya ??? Hary Tanoe Lego Fren ke Esia Tuesday, 26 August 2008 - Selasa, 26/08/2008 - Bisnis Indonesia JAKARTA: PT Global Mediacom Tbk, secara bertahap, menjual saham anak perusahaannya yang memiliki kegiatan di luar bisnis media. Salah satu saham anak perusahaan yang akan dilepas adalah PT Mobile-8 Telecom Tbk, penyedia jasa telepon Fren, kepada PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), operator seluler berbasis code division multiple access (CDMA) Esia. berita selanjutnya ------------------------------------------------------------------------------------------ berita terbaru tentang seluler Post Extras: 🖨️ Cetak |
| erwin101010 (Penasihat) 14/04/09 22:35 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Telkom + BTEL ??? ga ada yg bisa saingin d Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 21/04/09 16:42 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Selasa, 21/04/2009 15:49 WIB Bakrie Telecom Jual Menara Rp 450 Miliar Achmad Rouzni Noor II - detikinet Jakarta - PT Bakrie Telecom Tbk akhirnya menyelesaikan proses tender penjualan 543 menara telekomunikasinya dengan harga Rp 450 miliar. Sebagai pemenang telah ditetapkan PT Solusi Tunas Pratama, yang berhasil menyisihkan lima peserta tender lainnya. Harga penjualan tersebut lebih tinggi dibanding target awal penjualan menara yang dipatok pada harga Rp 380,22 miliar yang disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perusahaan pada Desember 2008. Dokumen Term Sheet yang mencakup kesepakatan jual beli dan sewa balik antara Bakrie dan Solusi Tunas Pratama telah ditandatangani pada 15 April 2009. Kini prosesnya dilanjutkan dengan penyelesaian dokumen penjualan, yaitu Sales & Purchase Agreement (SPA) dan Master Lease Agreement (MLA). Rakhmat Junaidi, Direktur Corporate Services PT Bakrie Telecom, berharap pada akhir April ini, kedua dokumen tersebut sudah bisa ditandatangani. "Dari total nilai transaksi sebesar Rp 450 miliar, Bakrie Telecom akan mendapatkan dana bersih dari pembeli senilai Rp 390 miliar," jelasnya di Jakarta, Selasa (21/4/2009). Sedangkan sisanya, lanjut Rakhmat, Rp 60 miliar akan diretensi oleh pembeli sebagai dana cadangan untuk perpanjangan masa sewa tanah atau gedung yang ditempati oleh menara telekomunikasi tersebut menjadi 10 tahun, sesuai periode lease-back atau sewa-kembali menara telekomunikasi tersebut Dana penjualan menara akan digunakan perseroan untuk belanja modal (capital expenditure) 2008-2010 yang nilai keseluruhannya mencapai US$ 600 juta. Belanja modal tersebut sebagian didapatkan dari right issue senilai Rp 3 triliun yang telah dilakukan pada kuartal pertama 2008. Kemudian 50% terakhir melalui skema vendor financing, kas internal perseroan, serta dari hasil penjualan tower ini. Keseluruhan pembayaran oleh Solusi Tunas Pratama akan dilaksanakan dalam beberapa tahap, yang akan dimulai pada akhir bulan ini. Selain harga penawaran yang di atas peserta lainnya, Bakrie Telecom juga melihat pada kemampuan dan kredibilitas Solusi Tunas Pratama. (rou/faw) Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 22/04/09 16:43 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia PT Solusi Tunas Pratama Menangi Menara Bakrie 22/04/2009 16:23:05 WIB Oleh Rizagana dan Imam Suhartadi JAKARTA, INVESTOR DAILY PT Bakrie Telecom Tbk akhirnya menetapkan PT Solusi Tunas Pratama (STP) sebagai pemenang tender penjualan 543 menara telekomunikasi mililknya. Harganya Rp 450 miliar atau di atas harga awal penetapannya yang sebesar Rp 380,22 miiliar. Direktur Corporate Services PT Bakrie Telecom Tbk Rakhmat Junaidi mengatakan, PT STP telah mengalahkan lima peserta tender lainnya. Lima peserta tender lain itu pernah disebutkan Dirut Bakrie Telecom Anindya Bakrie, yakni PT Tower Bersama, PT Protelindo, PT Retower, PT Padi Mekatel dan PT Powertel. “Setelah melalui proses review dan penilaian atas keseluruhan peserta tender, kami yakin PT STP merupakan mitra jangka panjang yang tepat dan menjadikan penjualan menara ini sebagai awal langkah kerjasama strategis lainnya di masa depan,” kata Rakhmat Junaidi di Jakarta, Selasa (21/4). Rakhmat, ketika dihubungi Investor Daily, tidak menyebutkan siapa pemilik PT STP. “PT STP itu pemain lokal,” kata dia. Penelusuran menemukan, PT STP adalah pemain lama di bisnis menara telekomunikasi. Perusahaan yang dimiliki, Benny Harianto Djie, salah satu pemilik PT Ciptadana Securities ini, juga telah memiliki beberapa menara telekomunikasi. Pada waktu tender menara bersama di Sumatera Utara, PT STP juga ikut. “Tapi, PT STP tidak ada kaitannya sama sekali dengan PT Ciptadana Securities. Hanya saja, salah satu pemiliknya adalah salah satu pemegang saham Ciptadana. Tapi dalam bisnis, keduanya tidak ada kaitannya sama sekali,” kata Dirut PT Cipadana Securities Ferry Budiman Tanja kepada Investor Daily, tadi malam. Menurut Rakhmat, ketatnya persaingan dalam menentukan pemenang menyebabkan proses seleksi menyita waktu hingga lima bulan. Dari enam peserta akhirnya tinggal tiga peserta, dan dua di antaranya membentuk konsorsium, yakni PT Tower Bersama dan Retower. Dengan demikian, peserta tender tinggal dua, yakni PT STP dan Konsorsium Tower Bersama dan Retower. “Akhirnya PT STP-lah yang ditetapkan sebagai pemenang tender,” katanya. Rahmat mengungkapkan, alasan Bakrie memilih PT STP, selain pertimbangan harga penawaran di atas peserta lainnya, perusahaan tersebut memiliki kemampuan dan kredibilitas. Hal itu terlihat dari pengalaman perusahaan ini dalam membangun dan mengoperasikan menara bersama dengan berbagai operator telekomunikasi di Indonesia. Selain itu, perusahaan tersebut juga telah menunjukkan kemampuan dalam berbagai proyek pembangunan dan pengelolaan menara bersama dengan bekerja sama pemerintah daerah di berbagai daerah di Indonesia seperti di Sumatera Utara dan DKI Jakarta. ”Skema penjualan yang bukan jual putus, melainkan dijual untuk disewa kembali. Ini pula yang membuat kami harus benar-benar cermat dalam memilih pemenang tender," kata Rakhmat. Lebih lanjut Rahmat menjelaskan, dokumen Term Sheet yang mencakup kesepakatan jual beli dan sewa balik antara PT Bakrie Telecom dan PT STP telah ditandatangani pada 15 April 2009. Kini prosesnya dilanjutkan dengan penyelesaian dokumen penjualan, yaitu Sales & Purchase Agreement (SPA) dan Master Lease Agreement (MLA). “Diharapkan pada akhir bulan ini, kedua dokumen tersebut sudah bisa ditandatangani,” kata Rahmat. Berdasarkan total nilai transaksi sebesar Rp 450 Miliar, Bakrie Telecom akan mendapatkan dana bersih dari pembeli senilai Rp 390 miliar. Sisanya, Rp 60 miliar akan diretensi oleh pembeli sebagai dana cadangan untuk perpanjangan masa sewa tanah/gedung yang ditempati oleh menara telekomunikasi tersebut selama 10 tahun. Hal ini sesuai dengan periode lease-back atau sewa-kembali menara telekomunikasi tersebut. “Keseluruhan pembayaran oleh PT STP akan dilaksanakan dalam beberapa tahap, yang akan dimulai pada akhir bulan ini,” imbuhnya. Menurut Rahmat, dana penjualan menara ini nantinya akan digunakan perseroan untuk belanja modal 2008–2010 yang nilai keseluruhannya mencapai US$ 600 juta. Pada tahun ini, belanja modal Bakrie Telecom telah ditetapkan sebesar US$ 170 juta. *** Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 29/04/09 12:56 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Kenapa gak dijual ke BTEL saja yah??? ------------------------------------------ Rabu, 29/04/2009 12:22 WIB Opsi Bangkrut Muncul di RUPO FREN Indro Bagus SU - detikFinance Jakarta - Para pemegang obligasi PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) mengajukan opsi bangkrut dan meminta perseroan segera melakukan pelelangan aset yang diusulkan dalam rapat umum pemegang obligasi yang akan digelar siang ini, Rabu (29/4/2009). Dalam RUPO kali ini, manajemen FREN sendiri mengajukan sejumlah restrukturisasi agar permasalahan pembayaran bunga dan pokok obligasi ada jalan keluarnya. "Salah satu usulan yang akan diajukan para pemegang obligasi dalam RUPO siang nanti adalah opsi membangkrutkan perseroan dan meminta dilakukan pelelangan aset," ujar sumber detikFinance. Menurut sumber tersebut, para pemegang obligasi rupiah FREN memilih opsi status bangkrut dan segera dilakukan pelelangan aset, ketimbang menerima usulan restrukturisasi jatuh tempo obligasi sebagaimana akan diajukan manajemen FREN dalam RUPO. "Para pemegang obligasi menilai membangkrutkan dan melelang aset lebih baik ketimbang menerima usulan restrukturisasi namun belum jelas juga apakah nanti setelah restrukturisasi akan dapat dilunasi," ujar sumber tersebut. Obligasi rupiah FREN senilai Rp 675 miliar sedang dalam status potensi gagal bayar lantaran perseroan tidak sanggup membayar bunga obligasi yang jatuh tempo 7 April 2009 senilai Rp 20,88 miliar. Semula, jatuh tempo pembayaran bunga ditetapkan pada 15 Maret 2009. Namun manajemen meminta perpanjangan jatuh tempo hingga 7 April 2009, meski obligasi rupiah FREN sebenarnya jatuh tempo Maret 2012. Obligasi rupiah berkupon bunga 12,375% per tahun ini, diterbitkan dengan menunjuk PT Bank Permata Tbk (BNLI) sebagai wali amanat. Sebagai wali amanat, BNLI juga berencana menggelar RUPO secara terpisah terkait masalah potensi gagal bayar tersebut. Berdasarkan pengumuman RUPO yang dipublikasikan FREN, agenda yang akan diajukan manajemen dalam RUPO adalah penjelasan dan pertangunggjawaban FREN atas kelalaian terhadap ketentuan perjanjian perwaliamanatan dan usulan restrukturisasi penyelesaian utang obligasi perseroan. Salah satu bank yang menjadi pemegang obligasi FREN mengakui kalau opsi membangkrutkan dan meminta lelang aset merupakan salah satu usulan yang akan diajukan dalam RUPO. "Opsi itu memang ada. Namun membangkrutkan dan melakukan pelelangan aset kan bukan jalan yang mudah. Namun usulan kesana memang ada. Tapi kita lihat saja nanti," ujar manajemen bank swasta tersebut saat dihubungi detikFinance. Sementara Corporate Secretary FREN Chris Taufik ketika dikonfirmasi enggan berkomentar soal usulan tersebut. Chris hanya mengatakan, manajemen akan menawarkan usulan restrukturisasi kepada para pemegang obligasi. "Agenda tetap sama dengan yang telah dipublikasikan. Belum ada perubahan," ujarnya. (dro/ir) Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 30/04/09 08:34 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Mandiri akan uji tuntas Mobile-8 13 Anggota Komite Pengarah mewakili obligasi senilai Rp486 miliar JAKARTA: Penasihat keuangan PT Mandiri Sekuritas-yang mewakili pemegang obli?ga?si-akan melaksanakan uji tuntas keuangan (financial due diligence) terhadap PT Mobile-8 Telecom Tbk dalam 2 bulan ke depan. Uji tuntas keuangan itu untuk mengetahui kondisi keuangan operator telepon berbasis code division multiple access (CDMA) secara menyeluruh, sehingga bisa dicari alternatif penyelesaian obligasi macet senilai Rp675 miliar. "Alternatif solusi penyelesaian surat utang itu akan dimintakan persetujuan dalam rapat umum pemegang obligasi [RUPO] yang dijadwalkan paling lambat pada 30 Juni tahun ini," ujar seorang pemegang obligasi kepada Bisnis kemarin. Menurut dia, RUPO Mobile-8 kemarin menyepakati beberapa hal yaitu penunjukkan penasihat keuangan Mandiri Sekuritas, pembentukan Komite Pengarah (steering committee) yang mewakili pemegang obligasi, dan tidak ada kewajiban bagi perusahaan telepon itu untuk memenuhi kewajiban pembayaran bunga ke-8 dan pembatasan keuangan. Mobile-8 wajib membayar bunga obligasi setiap 3 bulan dari 15 Juni 2007 hingga 15 Maret 2012. Operator telepon itu seharusnya membayar bunga obligasi Rp20,88 miliar pada 15 Maret dan 15 Juni 2009. Namun, perusahaan itu lalai membayar bunga obligasi senilai Rp20,88 miliar yang jatuh tempo pada 15 Maret. Pemegang obligasi itu menambahkan anggota Komite Pengarah terdiri dari 13 investor yang mewakili 72% dari jumlah surat utang Mobile-8 atau setara Rp486 miliar. (lihat tabel) Sementara itu, seorang pemegang obligasi lainnya menambahkan jika RUPO pada 30 Juni dinilai tidak efektif, investor berencana mengajukan opsi melelang jaminan surat utang Mobile-8 yang nilainya kini mencapai 130% dari total obligasi. "Apabila dalam RUPO Juni kami melihat bahwa tawaran perseroan tidak menarik, kami akan mendesak pelaksanaan lelang jaminan," katanya. Dalam rapat informal belum lama ini, katanya, Mobile-8 masih berkeras pada usulan skema restrukturisasi semula yaitu konversi obligasi menjadi saham. "Bagaimana pemegang obligasi bersedia mengikuti usulan itu? Harga saham Mobile-8 tidak bergerak dari level Rp50 dan masih disuspensi oleh Bursa Efek Indonesia," katanya. Ikuti prosedur Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik mengatakan pada RUPO tersebut perseroan telah memaparkan pertanggungjawaban mengenai kelalaian perseroan terkait dengan tidak dibayarnya bunga obligasi per 15 Maret. Pembayaran bunga obligasi itu sempat diberi perpanjangan waktu 14 hari setelah tanggal jatuh tempo oleh wali amanat menjadi 7 April. "Dalam RUPO hari ini pemegang obligasi tidak menyampaikan tentang eksekusi jaminan. Yang jelas, jaminan kami atas obligasi berupa peralatan telekomunikasi nilainya 130% dari obligasi yang diterbitkan perseroan," ujarnya. Perseroan akan mengikuti prosedur seperti yang diatur dalam prospektus perwaliamanatan. Meski demikian, Chris tidak menjelaskan secara detail prosedur tersebut. Prospektus obligasi sendiri secara umum mengatur masalah kelalaian pemenuhan kewajiban oleh perusahaan penerbit. Bilamana terjadi penundaan kewajiban obligasi, surat utang bisa jatuh tempo dan dapat ditagih pembayarannya seketika. Berdasarkan laporan keuangan, operator telepon itu mempunyai kas dan setara dengan kas pada akhir Desember tahun lalu sebesar Rp23,73 miliar, turun 97,2% dibandingkan dengan posisi pada akhir 2007 sebesar Rp852,67 miliar. Di sisi lain, utang usaha Mobile-8 pada tahun lalu jumlahnya mencapai Rp579,25 miliar dan utang lainnya Rp160,40 miliar. Operator telepon itu membukukan rugi bersih senilai Rp1,06 triliun sepanjang tahun lalu karena besarnya nilai beban bunga utang perseroan yang menembus Rp367,25 miliar. Perusahaan itu masih membukukan laba bersih Rp50,34 miliar pada 2007. Anjloknya kinerja perseroan pada tahun lalu disebabkan oleh tingginya beban bunga perseroan yang merupakan konsekuensi dari utang perseroan pada 2007. (sylviana.pravita@[tautan dihapus] Oleh Sylviana Pravita R.K.N. & Wisnu Wijaya Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 30/04/09 09:53 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia MANDIRI SEKURITAS SIAPKAN ALTERNATIF PENYELESAIAN, RUPO Mobile-8 Batalkan Opsi 30/04/2009 09:20:58 WIB Oleh Deviana Chuo JAKARTA, INVESTOR DAILY Rapat umum pemegang obligasi (RUPO) PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) membatalkan opsi konversi utang menjadi saham (debt to equity swap) yang diputuskan pada Desember 2008. Perseroan akan mencari alternatif penyelesaian kewajiban obligasi rupiah senilai Rp 675 miliar bersama PT Mandiri Sekuritas selaku penasihat keuangan. Menurut Direktur Keuangan Mobile-8 Anthony, Mandiri Sekuritas yang bertindak sebagai wakil pemegang obligasi Mobile-8 akan melangsungkan uji tuntas keuangan (financial due diligence) dan menyiapkan langkah alternatif penyelesaian kewajiban surat utang tersebut. “Alternatif itu akan dimintakan persetujuan RUPO selanjutnya yang bakal digelar paling lambat pada 30 Juni 2009,” kata dia pada RUPO perseroan di Jakarta, Rabu (29/4).. Anthony berharap langkah alternatif bisa diambil. "Itu penting supaya diperoleh alternatif yang menguntungkan semua pihak. Jadi, sekarang kami minta lupakan dulu bentuk restrukturisasi dengan konversi saham," ujarnya. RUPO tersebut hanya membahas kewajiban obligasi rupiah. RUPO dihadiri 84,13% pemegang obligasi yang mewakili outstanding sekitar Rp 567,9 miliar. Mobile-8 menanggung beban obligasi US$ 100 juta dan obligasi rupiah senilai Rp 675 miliar yang masing-masing jatuh tempo pada 2013 dan 2012 serta harus segera dibeli kembali (buyback), menyusul terjadinya perubahan pemegang saham. Obligasi US$ 100 juta seharusnya jatuh tempo pada 2013. Namun, karena Mobile-8 tidak dapat menggelar penawaran tender setelah terjadi pergantian pemegang saham pengendali, DB Trustee selaku kreditor menyatakan obligasi itu gagal bayar (default). DB Trustee selanjutnya meminta Mobile-8 membayar seluruh obligasi pada 16 Desember 2008. Namun, sampai jatuh tempo, perseroan tidak mampu membayar. Di sisi lain, pemegang obligasi Mobile-8 juga meminta seluruh biaya uji tuntas ditanggung perseroan. Namun, kondisi itu tidak menghilangkan kesempatan bagi pemegang obligasi untuk menyatakan gagal bayar lebih awal melalui RUPO yang diusulkan minimal oleh 30% pemegang obligasi. Kondisi itu bisa terjadi jika perseroan dinilai tidak serius menyelesaikan kewajibannya. Mobile-8 sampai sekarang menunggak pembayaran bunga sebesar Rp 20,88 miliar dan pembayaran bunga obligasi dolar AS sebesar US$ 5,63 juta yang dijadwalkan pada 16 Maret dan 1 Maret 2009. Usulan alternatif baru untuk penyelesaian obligasi itu awalnya dimunculkan komisi pengarah (steering committee/SC) yang mewakili 72% outstanding obligasi. "Ketika itu, SC tidak menyetujui restrukturisasi yang diusulkan akhir tahun lalu, salah satunya debt to equity swap," kata Direktur Utama Mobile-8 Widyasmoro. Meski demikian, mayoritas pemegang obligasi setuju untuk menyatakan obligasi Mobile-8 I Tahun 2007 tidak default. Persetujuan itu disampaikan 29 institusi yang mewakili outstanding obligasi senilai Rp 469 miliar. Jumlah tersebut dinyatakan kuorum sesuai ketentuan yang tercantum dalam perjanjian perwaliamanatan. Di samping itu, para pemegang obligasi menyetujui permintaan manajemen Mobile-8 untuk tidak memenuhi kewajibannya hingga 30 Juni 2009. Kewajiban itu meliputi pembayaran kupon ke-8 dan financial covenant, yakni perbandingan antara utang dan EBITDA serta perbandingan antara EBITDA dan net finance charges yang berlaku untuk laporan keuangan tahunan 2009. Kas Belum Cukup Widyasmoro mengungkapkan, pihaknya belum dapat membayar kupon obligasi karena posisi kas belum mencukupi. Untuk itu, kata Widyasmoro, Mobile-8 tengah menjajaki ekspansi dengan menciptakan produk baru agar mampu menghasilkan pendapatan dalam bentuk kas. Pada Januari 2009, perseroan meluncurkan produk Mobi yang merupakan bisnis untuk teknologi komunikasi data internet. Dia menjelaskan, alternatif penyelesaian obligasi juga dijajaki dengan mencari investor baru. Kecuali itu, penambahan modal oleh investor lama masih mungkin dilakukan melalui opsi penerbitan saham baru (rights issue). Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 04/05/09 13:55 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Operator di Indonesia Idealnya Enam Oleh Encep Saepudin JAKARTA, INVESTOR DAILY Konsultan Frost and Sullivan memperhitungkan, jumlah operator telekomunikasi di Indonesia idealnya cuma enam, bukan 11 operator seperti yang ada sekarang. Salah satu alasannya adalah kinerja operator di Tanah Air diperkirakan menurun 41% pada kurun 2008-2014. Serikat konsultan yang mempunyai perhatian khusus pada bidang telekomunikasi dan bermarkas di Amerika Serikat (AS) ini memperkirakan, operator telekomunikasi di Indonesia akan mengalami gelombang merger dan akuisisi. Operator yang baru tidak akan kuat bersaing dengan operator besar yang sudah lebih dulu hadir di Persada ini. "Indonesia idealnya hanya memiliki enam operator saja untuk memperebutkan `kue` yang ada di sini," kata Country Director Frost and Sullivan untuk Indonesia Eugene van de Weerd di Jakarta, akhir pekan lalu. Perang tarif, menurut van de Weerd, tidak akan optimal kecuali operator menggunakan tarif yang sederhana, semisal tarif flat atau rata. Operator tidak dapat lagi hanya mengandalkan pemasukan dari layanan suara dan SMS, tetapi harus mulai menyediakan layanan lain. "Operator harus lebih kreatif mencari fitur-fitur yang menarik. Justru dari sana pemasukan akan mengalir," ujar dia. Dirut PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Rinaldi Firmansyah ketika berkunjung ke kantor Investor Daily beberapa waktu lalu juga mengindikasikan hal yang sama. Bahwa jumlah operator di Indonesia idealnya lima atau enam buah. “Kami percaya, dalam tahun ini juga ada satu atau dua operator yang akan melakukan konsolidasi. Dan, hingga 2011, saya kira, jumlah operator di Indonesia idealnya tinggal lima operator saja,” kata Rinaldi. Saat ini, jumlah operator di Indonesia ada 11 perusahaan. Yakni, PT Telkom, PT Telkomsel, PT Indosat, PT Excelcomindo Pratama, PT Bakrie Telecom, PT Mobile-8 Telecom, PT Smart Telecom, PT Hutchison CP Telecom, PT Natrindo Telepon Seluler, PT Sampoerna Telecom, dan PT Pasifik Satelit Nusantara. Jumlah ini terlalu banyak dibandingkan Amerika Serikat (AS) yang cuma empat operator, Australia yang semula empat kini tinggal tiga operator, Tiongkok ada tiga operator, India yang tadinya tujuh kini tinggal enam operator. Banyak negara hanya memiliki tiga atau empat operator telekomunikasi. Sedangkan Ketua Komite Tetap Telekomunikasi Kadin Indonesia Johnny Swandi Sjam mengatakan, operator telekomunikasi saat ini dihadapkan pada perang tarif yang justru menekan pendapatan masing-masing penyelenggara telekomunikasi. Hal ini ikut menekan jumlah dana yang diinvestasikan untuk pengembangan kapasitas, jangkauan dan produk baru. “Karena itu, Kadin Indonesia mendukung langkah konsolidasi agar kondisi telekomunikasi menjadi sehat,” kata Johnny, yang juga dirut PT Indosat Tbk. Sementara itu, Asosiasi Telepon Seluler Indonesia (ATSI) tidak secara tegas menyetujui wacana konsolidasi itu. “Hingga kini, asosiasi belum pernah mendengar adanya pertemuan pemilik operator untuk membicarakan penyatuan atau peleburan dua atau lebih operator. Asosiasi pun belum pernah dimintai saran atau nasehat oleh mereka untuk pengambilan kebijakan ini,” kata Sekjen ATSI Dian Siswarini. Namun, Dian menyarankan agar pemerintah melakukan kajian. Selain itu, ATSI juga mengharapkan, adanya regulasi yang lebih konsisten tentang limitasi kepemilikan asing (dalam daftar negatif investasi/DNI) dan transfer license jika ada perubahan kepemilikan. Bakrie dan Mobile-8 Beberapa waktu lalu beredar isu bahwa pemilik dan manajemen PT Bakrie Telecom mengadakan pembicaraan serius dengan PT Mobile-8 Telecom. Namun, Presdir Bakrie Telecom Anindya Bakrie membantah kemungkinan operator Esia itu merger dengan operator Fren. “Kalau pertemuan, dimana saja bisa terjadi. Sekarang saja kita lagi ketemuan dengan teman-teman,” kata dia. Anindya mengatakan, Bakrie Telecom masih fokus pada bisnis inti, yaitu mengembangkan dan memperkuat Esia di pasar. Karena itu, pihaknya belum berniat untuk melakukan merger atau akuisisi. “Tidak ada alasan kami untuk melakukan merger ataupun akuisisi. Kinerja perusahaan cukup bagus, dan hingga akhir Desember 2008 kami sudah punya tujuh juta pelanggan lebih,” ungkapnya. *** Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 04/05/09 14:03 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Mobile-8 Tunda Ekspansi JAKARTA, INVESTOR DAILY PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) menunda rencana pembangunan 300-400 menara pemancar telekomunikasi (base tranceiver station/BTS). Penundaan ekspansi tersebut merupakan salah satu upaya perseroan untuk meminimalisasi pengeluaran dana tahun ini. Dirut Mobile-8 Telecom Wityasmoro Sih Handayanto menegaskan, pihaknya telah menghentikan sementara pembangunan BTS. “Kami akan fokus pada peningkatan kapasitas di tempat-tempat yang sudah ada,” kata dia dalam rapat umum pemegang obligasi (RUPO) perseroan di Jakarta, belum lama ini. Mobile-8 akan mengkaji ulang sejumlah rencana investasi yang telah disusun sebelumnya. Perseroan hanya akan mengembangkan bisnis operator CDMA (code division multiple access) di Jawa melalui peningkatan kualitas layanan. Pada kuartal I-2009, Mobile-8 membukukan rugi bersih Rp 185,4 miliar atau membengkak 731,4% dibandingkan periode sama 2008 sebesar Rp 22,3 miliar. Pendapatan konsolidasi perseroan juga anjlok 48,9% menjadi Rp 135,6 miliar dari sebelumnya Rp 265,2 miliar. “Kerugian ini karena perang tarif tahun lalu, sehingga pasar irasional. Mudah-mudahan, kondisi itu tidak berlanjut pada 2009,” kata Wityasmoro. (fei) Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 05/05/09 08:13 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Telkom jajaki lepas saham divisi Flexi JAKARTA: PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) mengkaji pelepasan sebagian saham divisi telepon berbasis code division multiple access (CDMA) Flexi setelah pemisahan unit usaha itu (spin-off) terwujud. "Kami sedang mengkaji apakah akan menjual sekarang atau nanti. Apakah kami kembangkan dulu, lantas kemudian dijual. Belum ada keputusan tentang kajian itu," kata Komisaris Utama Telkom Tanri Abeng kepada Bisnisi kemarin. Dia mengatakan apabila sebagian saham Flexi dijual, perseroan berencana tetap menguasai mayoritas saham tersebut Sejak 2 tahun yang lalu, katanya, beberapa investor telah menyatakan minatnya untuk membeli saham Flexi. "Apabila ada mitra yang akan masuk ke Flexi, nilainya harus tinggi. Meski demikian, langkah ini harus kami kaji dengan hati-hati. Bila diputuskan untuk dilepas, Telkom harus tetap menjadi mayoritas, seperti di Telkomsel," tuturnya. Telkom berencana memisahkan unit bisnis Flexi agar efisien, fokus, dan menyiapkan kemungkinan konsolidasi dengan operator lain yang mempunyai teknologi CDMA. Rencana itu bahkan disebut-sebut akan difinalisasi pada Juli 2009. Selanjutnya, perseroan masih terus mendalami kajian pengambilalihan sebagian saham perusahaan telekomunikasi Iran, Telecommunication Company of Iran (TCI). "Kami masih terus mendalami dari sisi komersial, politik dan finansial," kata Tanri. Menurut dia, perseroan juga segera merealisasikan akuisisi perusahaan lokal terkait dengan fokus ekspansi perseroan yang ingin mengembangkan jaringan bergerak, CDMA, pita lebar, dan interkoneksi. Guna keperluan akuisisi serta merger, Telkom mencari dana senilai Rp4,8 triliun. Jumlah tersebut merupakan bagian dari kebutuhan pinjaman eksternal sekitar US$700 juta yang sedang dicari oleh BUMN telekomunikasi itu. Telkom berkomitmen untuk mencari sumber pendapatan baru (new wave) yang berhasil menyumbang 15% dari pendapatan Telkom yang tidak terkonsolidasi pada tahun lalu. Perseroan tahun ini berharap new wave dapat menyumbang 18%-20% dari pendapatan yang tidak dikonsolidasi pada 2009. belanja modal perseroan tahun ini mencapai US$2,1 miliar. Jumlah pelanggan seluler Telkom per 31 Desember 2008 naik 36% dibandingkan dengan pelanggan pada 2007 menjadi 65,3 juta pelanggan. Selanjutnya, pelanggan jaringan kabel mencapai 8,6 juta pelanggan atau turun 0,6% dibandingkan 2007. Adapun, pelanggan Speedy naik 253% menjadi 850.000 pelanggan. Pada penutupan perdagangan kemarin, harga saham emiten berkode TLKM ini ditutup pada level Rp7.950 atau naik 2,58% dibandingkan dengan penutupan perdagangan 1 Mei 2009, yaitu Rp7.750 per saham. Apabila mengacu pada harga saham itu, kapitalisasi pasar perseroan mencapai Rp160,27 triliun. Oleh Sylviana Pravita R.K.N. Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 06/05/09 09:58 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Tambah ruwet... ---------------------------------------------------- Selasa, 05/05/2009 18:27 WIB Mobile-8 Tepis Isu Bangkrut Achmad Rouzni Noor II - detikinet Jakarta - Mobile-8 Telecom yakin masih mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan bisnis telekomunikasi di negeri ini. Nah, agar tetap bisa bersaing, operator seluler berbasis CDMA ini berjanji akan keluar menyerang. Seperti permainan bola, pertahanan terbaik ialah keluar menyerang. Menyerang dengan inovasi baru. Itu yang sedang kami lakukan agar tetap bisa bertahan di bisnis ini," ujar Division Head of Product Management Mobile-8, Sukaca Purwokardjono, di sela peluncuran paket Maxi pascabayar Fren di EX Plaza, Jakarta, Selasa (5/5/2009). Seperti diketahui, kondisi keuangan Mobile-8 sedang tidak bagus. Pemilik merek dagang Fren dan Hepi ini secara mengejutkan membukukan rugi bersih Rp 1,068 triliun. Kerugian itu, terutama kontribusi dari transaksi swap dengan Lehman Brothers yang kini telah bangkrut. Kerugian yang dahsyat membuat Mobile-8 semakin kencang dirumorkan bakal jadi korban pertama yang kena dampak pertarungan keras di industri telekomunikasi negeri ini. Namun Sukaca meyakini, Mobile-8 masih mampu bertahan untuk beberapa bulan ke depan karena sedang ada aksi penyelamatan. Kami sedang restrukturisasi," ujarnya tanpa mau merinci lebih detail. Dari seliweran rumor yang beredar, Mobile-8 harus melakukan tiga langkah untuk menuntaskan kesulitan keuangan yang dideritanya. Yakni, melakukan penawaran saham terbatas (rights issue), merger, atau akuisisi. Saat ini, peminat yang katanya ingin masuk ke Mobile-8 ada tiga, yakni Telkom, Bakrie Telecom, dan Sinar Mas Grup. Masih dari desas-desus, keputusan itu harus diambil menjelang tutup semester pertama tahun ini. Jika tidak ada deal dengan pemilik lama, tiga peminat itu tidak akan memperbaharui penawarannya. "Dan bisa dipastikan Mobile-8 akan bangkrut," kata rumor yang beredar. Hal ini dibantah tegas oleh Sukaca. "Belum ada sejarahnya operator di negeri ini akan bubar. Industri telekomunikasi itu investasi jangka panjang. Operator mengalami kerugian itu hal biasa. Lihat saja, di tahun berapa operator bisa tidak merah rapor-nya? Perlu bertahun-tahun." Biar bagaimana pun, Mobile-8 tidak memungkiri kalau aktivitas pemasarannya kurang berhasil. [bTahun lalu, bisa dibilang hampir tidak ada penambahan pelanggan. Terlebih, dari 3,5 juta pelanggan yang dimiliki, 300 ribu terpaksa dihanguskan karena sudah tidak produktif (churn). Namun demikian, Sukaca masih optimistis pihaknya bisa segera membalikkan keadaan. Dengan dana marketing Rp 100 miliar yang dikantunginya tahun ini, ia yakin bisa membuat inovasi produk yang membuat layanan Mobile-8 kembali diminati. "Tunggu saja dalam waktu dekat ini," tandasnya. (rou/faw) Post Extras: 🖨️ Cetak |
| HajiGaul (Penasihat) 06/05/09 12:56 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia baca berita2 diatas jadi ragu mo beli mobi .... Post Extras: 🖨️ Cetak |
| erwin101010 (Penasihat) 06/05/09 14:19 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia akhirnya gw balik lg, abis kelar uts belakangan ini fren gw perhatiin lagi gencar2nya iklan di TV Post Extras: 🖨️ Cetak |
| HajiGaul (Penasihat) 06/05/09 15:47 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia gemana gak gencar, wong anggaran promosinya sampe 100M Post Extras: 🖨️ Cetak |
| erwin101010 (Penasihat) 06/05/09 16:02 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Teteplah susah jg bw fren, dibanding operator cdma laen esia, starone, flexi, smart ... fren paling memble ky mati pun segan, hidup pun empot2an Post Extras: 🖨️ Cetak |
| hopeless (Penasihat) 06/05/09 18:03 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia fren ngeluarin hp murah lg biar bisa naek lg neh. Btw ga ada investor asing yg mau beli? -- Posted from my Mobile phone Post Extras: 🖨️ Cetak |
| z0mbi3 (Penasihat) 06/05/09 19:45 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Quote: HajiGaul said: gemana gak gencar, wong anggaran promosinya sampe 100M iklannya di grup MNC hahahaha anggap aja gratis... so kagak ada hubungannya dengan anggaran, yakinnya malah anggaran mepet deh, kecuali mereka udah gak peduli dengan jebloknya posisi mereka di bursa saham Post Extras: 🖨️ Cetak |
| AA_Ariel (Penasihat) 06/05/09 21:07 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Quote: Z0MBI3 said: iklannya di grup MNC hahahaha anggap aja gratis... so kagak ada hubungannya dengan anggaran, yakinnya malah anggaran mepet deh, kecuali mereka udah gak peduli dengan jebloknya posisi mereka di bursa saham sama aja bos. smart juga gratis di ocean punya sapa? Post Extras: 🖨️ Cetak |
| editopan (Penasihat) 06/05/09 23:36 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia yg jelas Sinarmas lebih kuat.. sapa tau beli smart dapet paperline , SIDU, minyak kunci mas, rekening bank sinarmas, asuransi, rumah di BSD, serpong, permata buana, de el el.. but eniwei.. *berdoa semoga fren mo di jual ke sinar mas group. IF FREN+SMART Then SMART vs ESIA Fight will be a great one next year in CDMA Ring. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| erwin101010 (Penasihat) 07/05/09 01:10 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia 300 Ribu Pelanggan Mobile-8 Hangus Mobile-8 Telecom harus rela kehilangan 300 ribu pelanggannya. Dari yang tadinya sekitar 3,5 juta pelanggan, kini terpaksa susut menjadi 3,2 juta. Division Head of Product Management Mobile-8, Sukaca Purwokardjono, menjelaskan, hilangnya 300 ribu pelanggan itu terjadi pada kuartal ketiga dan keempat 2008 lalu. "Kami terpaksa melakukan deletion 300 ribu pelanggan karena sudah tidak aktif dan tidak produktif lagi. Pembersihan ini supaya tidak memberatkan sistem," jelasnya di sela peluncuran paket Maxi pascabayar Fren di EX Plaza, Jakarta, Selasa (5/5/2009). Mayoritas pelanggan yang dihapus berasal dari pengguna seluler prabayar Fren. Meski demikian, seluler prabayar Fren masih mendominasi jumlah pelanggan dengan angka 2,551 juta. Sisanya pelanggan fixed wireless access (FWA) Hepi 500 ribu dan pascabayar Fren 149 ribu. Namun jika dilihat dari rata-rata penggunaan pulsa alias average revenue per user (ARPU), menurut Sukaca, paling tinggi masih didominasi pascabayar Fren yang setiap bulannya Rp 70-80 ribu. Sementara prabayar Fren 15-20 ribu dan Hepi Rp 10 ribu. -Detik- "Hepi sebelumnya belum ada pascabayar. Rencananya kuartal pertama atau kedua tahun ini akan diluncurkan," tandasnya. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| HajiGaul (Penasihat) 07/05/09 10:45 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia berharap gak sampe bangkrut .... pelanggan yang udah 2,5jt mo diapain tuh kalo sampe bangkrut Post Extras: 🖨️ Cetak |
Kami memakai cookie Google Analytics untuk memahami cara situs ini dipakai. Anda boleh menerima atau menolak. Kebijakan privasi