| rudyanto08 (Penasihat) 26/08/08 14:40 | 🙂 Fren di jual Ke Esia Baca berita di Bisnis Indonesia hari ini, kelihatannya persaingan yang sangat ketat akan memaksa merger Operator, dan Fren to Esia ini permulaannya ??? Hary Tanoe Lego Fren ke Esia Tuesday, 26 August 2008 - Selasa, 26/08/2008 - Bisnis Indonesia JAKARTA: PT Global Mediacom Tbk, secara bertahap, menjual saham anak perusahaannya yang memiliki kegiatan di luar bisnis media. Salah satu saham anak perusahaan yang akan dilepas adalah PT Mobile-8 Telecom Tbk, penyedia jasa telepon Fren, kepada PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), operator seluler berbasis code division multiple access (CDMA) Esia. berita selanjutnya ------------------------------------------------------------------------------------------ berita terbaru tentang seluler Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 12/03/09 09:50 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia RUMOR PASAR Investor Daily 12 Maret 2009 12/03/2009 07:52:47 WIB Asing Buru Saham Mobile-8 Pemodal bisa mencermati saham PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) karena dikabarkan sejumlah investor akan memburu sahamnya dalam jangka pendek maupun menengah. Menurut berita pasar yang didengar sumber Investor Daily, perusahaan telekomunikasi asal Swiss dikabarkan berniat mengakuisisi saham Mobile-8. Siapa lagi yang berminat dengan Mobile-8??? Post Extras: 🖨️ Cetak |
| erwin101010 (Penasihat) 12/03/09 10:57 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia wah rame jg yg minat sama mobile-8 Post Extras: 🖨️ Cetak |
| erwin101010 (Penasihat) 19/03/09 01:50 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia SLI Bakrie Telecom Terganjal Interkoneksi Peluncuran komersial akses sambungan langsung internasional (SLI) milik PT Bakrie Telecom Tbk terganjal pembukaan interkoneksi oleh operator SLI existing. VP Intercarrier PT Bakrie Telecom Tbk Hery Nugroho mengungkapkan interkoneksi memang sampai saat ini belum dibuka oleh operator SLI lainnya dan pihaknya masih terus mengusahakannya. “Ada beberapa persoalan teknis yang memerlukan waktu terutama pada proses set-up di lapangan,” ujarnya kepada Bisnis, kemarin. Ketika disinggung kemungkinan belum dibukanya interkoneksi tersebut karena Bakrie Telecom akan menerapkan tarif yang lebih murah dari operator lainnya, mantan anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) itu tidak secara tegas membantahnya. “Operator lain minta agar tarif promosi hanya diterapkan dengan pola yang berbeda dengan tarif SLI existing,” katanya. Dahulu, penyelenggara SLI hanya dilaksanakan oleh Indosat dengan nomor pendek 001. Namun, adanya kebijakan duopoli telekomunikasi saluran tetap antara Telkom dan Indosat yang dimulai pada Agustus 2002 menjadikan Telkom yang semula hanya bermain dalam telekomunikasi domestik pun segera mendapat lisensi sebagai penyelenggara SLI dengan nomor pendek 007. Pada 2007, Indosat juga pernah mempermasalahkan penutupan interkoneksi SLI oleh Telkom di telepon rumah dan wartel namun dapat diselesaikan dengan baik oleh BRTI. VP Marketing and Corporate Communication PT Telkom Tbk Eddy Kurnia menegaskan tidak benar jika disebut Telkom telah mempersulit pembukaan interkoneksi SLI Bakrie Telecom. “Pembukaan interkoneksi berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku dan berdasarkan perjanjian kerja sama yang disepakati,” ujarnya. Direktur Marketing Indosat Guntur S. Siboro mengungkapkan pihaknya akan membuka interkoneksi dengan Bakrie Telecom apabila operator tersebut sudah meluncurkannya secara komersial. -Bisnis- Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 20/03/09 08:44 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Mobile-8 hentikan ekspansi jaringan JAKARTA ([tautan dihapus]): PT Mobile-8 Telecom Tbk menghentikan ekspansi pembangunan jaringan telekomunikasi seluler dan fixed wireless access (FWA) secara nasional dan hanya menambah kapasitas di area kongesti. Direktur Layanan Korporasi Merza Fachys mengatakan kegiatan perluasan jaringan hanya dilakukan untuk mengatasi wilayah yang sudah padat kapasitasnya. "Kongesti artinya beban jaringan Mobile-8 sudah mendekati 80%. Wilayah yang terkena kongesti biasanya terjadi di kota-kota besar dan padat penduduknya," ujarnya kepada Bisnis, kemarin. Berdasarkan laporan keuangan per September 2008, kas dan setara kas Mobile-8 merosot secara signifikan menjadi Rp160,17 miliar dari posisi akhir September 2007 sebesar Rp652,49 miliar. Mobile-8 membukukan rugi bersih Rp275,29 miliar per September 2008 dibandingkan dengan laba bersih per September 2007 Rp55 miliar. Rugi bersih itu terjadi karena lonjakan beban usaha. Pendapatan bersih operator itu per September tahun ini Rp610,76 miliar dibandingkan dengan per September tahun lalu Rp626,31 miliar. Mobile-8 akan memprioritaskan belanja modal tahun ini untuk meningkatkan kapasitas cakupan wilayah layanan yang sudah ada dibandingkan dengan agresif melakukan ekspansi. Jaringan milik operator tersebut telah mencakup seluruh Jawa, Bali, Sumatra, dan sebagian di Kalimantan dan Sulawesi. Saat ini base transceiver station (BTS) sudah 1.500-2.000 unit. Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) akan mengawasi secara lebih ketat kinerja dari PT Mobile-8 Telecom Tbk (Mobile-8) setelah perusahaan tersebut terbelit masalah obligasi dalam rupiah dan dolar AS belum lama ini. Pada pertengahan tahun lalu, operator tersebut mengalokasikan belanja modal sekitar US$200 juta untuk mengembangkan jaringannya secara nasional. Sekjen Indonesia Telecommunication User Group (Idtug) Mohammad Jumadi mengatakan frekuensi yang kurang optimal digunakan sebaiknya diserahkan ke operator lain saja. (Fita Indah Maulani) Oleh Arif Pitoyo Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| citayam (Anggota) 22/03/09 19:33 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Hem.....Flexi Merger sama siapa yah peluang bisnis klik [tautan dihapus] Post Extras: 🖨️ Cetak |
| erwin101010 (Penasihat) 23/03/09 00:00 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia jah ujung2nya jualan Post Extras: 🖨️ Cetak |
| taufic05 (Newbie) 23/03/09 17:25 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Hi semuanya... salam kenal.. baru jadi anggota forum ne.. Btw, ada info up date lagi ngga ttg rencana Mobile-8 yang mau di akuisisi sama Bakrie Tel? Konon ada rumor yang bilang kalo Mobile-8 jg mau di akuisisi sama Sampoerna Tel (ceria), bener ga tuh?? thank you atas informasinya teman2.. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| erwin101010 (Penasihat) 23/03/09 23:05 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Quote: uncleT said: Hi semuanya... salam kenal.. baru jadi anggota forum ne.. Btw, ada info up date lagi ngga ttg rencana Mobile-8 yang mau di akuisisi sama Bakrie Tel? Konon ada rumor yang bilang kalo Mobile-8 jg mau di akuisisi sama Sampoerna Tel (ceria), bener ga tuh?? thank you atas informasinya teman2.. Welcome to the jungle eh FP Msl Kabar Mobile-8 mau diakuisisi uda dr dulu sih wacananya cuma ya gitu2 aja sebatas wacana doang sampe skrg, ga ada kelanjutan beritanya lg sampe skrg. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 24/03/09 07:07 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Tambahan: kabarnya Telkom juga ikutan bursa juragan barunya Mobile-8... Ada yang ga rela kalo BTEL ambil alih... Post Extras: 🖨️ Cetak |
| djuned89 (Penasihat) 24/03/09 08:12 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia iya salam kenal juga... HmMm...M-8 jd rebuTan niH... -- Posted from my Mobile phone Post Extras: 🖨️ Cetak |
| AGNI_POWER (Penasihat) 25/03/09 15:13 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia kok xl ga ikutan?kan blm pny bisnis cdma?biar tmbh rame n lgkp -- Posted from my Mobile phone Post Extras: 🖨️ Cetak |
| erwin101010 (Penasihat) 26/03/09 00:02 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Quote: Undergrounder said: kok xl ga ikutan?kan blm pny bisnis cdma?biar tmbh rame n lgkp -- Posted from my Mobile phone XL ga tertarik utk maen di CDMA ... Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 31/03/09 08:21 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Bakrie Telecom siap buka SLI April JAKARTA: PT Bakrie Telecom Tbk siap bersaing dengan operator SLI eksisting dalam penyediaan layanan sambungan langsung internasional (SLI) seiring dengan rencana komersialisasinya bulan depan. Hery Nugroho, VP Intercarrier PT Bakrie Telecom Tbk, mengungkapkan pihaknya tetap optimistis dengan penjualan SLI, meski sudah ada dua operator eksisting besar yang bermain di segmen telepon internasional itu. "Sepanjang harganya murah dan kualitas bagus, pasti akan dicari konsumen," tuturnya kepada Bisnis, baru-baru ini. Dahulu, penyelenggara SLI hanya dilaksanakan oleh Indosat dengan nomor pendek 001. Namun, adanya kebijakan duopoli telekomunikasi saluran tetap antara Telkom dan Indosat yang dimulai pada Agustus 2002 menjadikan Telkom yang semula hanya bermain dalam telekomunikasi domestik pun segera mendapat lisensi sebagai penyelenggara SLI dengan nomor pendek 007. Pada 2007, Indosat juga pernah mempermasalahkan penutupan interkoneksi SLI oleh Telkom di telepon rumah dan wartel, tetapi dapat diselesaikan dengan baik oleh BRTI. PT Bakrie Telecom sendiri dipastikan menjadi penyelenggara SLI setelah memenangkan tender pada 17 September 2007. Operator tersebut berkomitmen akan meluncurkan layanannya secara komersial pada April, mundur dari rencana semula Februari dengan nomor pendek 009. Untuk menyelenggarakan sambungan SLI, Btel menganggarkan US$25 juta untuk pembangunan lima tahun. Pada tahun ini, operator Esia ini akan membangun dua sentral gerbang internasional SLI di Batam dan Jakarta. Hery melanjutkan penyelenggara jasa SLI bisa menjual layanannya ke semua pelanggan operator mana saja, dengan catatan hak dan kewajiban interkoneksi yang jelas. "Bahwa interkoneksi itu kewajiban, itu memang mutlak. Jadi, Btel tetap optimistis dengan jualan SLI-nya, sepanjang harga murah dan kualitas bagus pasti akan dicari konsumen," tuturnya. Kendala interkoneksi Sejak pemberian izin prinsip SLI pada akhir Januari tahun ini, PT Bakrie Telecom Tbk masih terkendala pembukaan interkoneksi dari operator eksisting yaitu Telkom dan Indosat. Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah mengungkapkan tak ada alasan bagi Telkom untuk menutup interkoneksi SLI dengan Bakrie Telecom. "Pelanggan Grup Telkom sangat besar, mencakup sekitar 90 juta orang, sementara pelanggan Btel hanya sekitar 7 juta, sehingga bukan merupakan pesaing kami," ujarnya belum lama ini. Menurut dia, apabila interkoneksi SLI dengan Btel dibuka, yang untung besar justru Telkom sendiri. Menanggapi hal itu, Hery mengatakan akses sambungan langsung internasional merupakan jasa teleponi dasar jadi tidak bergantung pada jaringan atau besarnya jumlah pelanggan. Hingga akhir tahun lalu, jumlah pelanggan PT Bakrie Telecom adalah mencapai 7,3 juta orang. Oleh Arif Pitoyo Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| erwin101010 (Penasihat) 31/03/09 15:07 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia moga2 aja tarif yg ditawarkan dari esia, murah utk SLI nya jg Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 01/04/09 08:33 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Minimal segini yang harus "ditutup" BTEL, jika pengen terus beli M-8... ------------------------------------------------- Rugi bersih Mobile-8 capai Rp1,06 triliun JAKARTA: PT Mobile-8 Telecom Tbk membukukan rugi bersih Rp1,06 triliun per 31 Desember 2008 terkait dengan besarnya nilai beban bunga utang perseroan yang mencapai Rp367,25 miliar. Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik menjelaskan perseroan belum menargetkan besarnya pendapatan dan laba bersih pada tahun ini. "Kami sedang melaksanakan restrukturisasi utang dan menjajaki injeksi dana dari sejumlah investor, setelah itu kami menentukan target perseroan. Kami menunggu hasil restrukturisasi utang dan injeksi dana itu dulu," ujarnya kemarin. Chris menuturkan jumlah suntikan dana yang dibutuhkan dan investor yang berminat sedang dibahas di level pemegang saham mayoritas, yaitu Jerash Investment Ltd dan PT Global Mediacom Tbk. Selanjutnya, Chris memaparkan anjloknya kinerja perseroan pada tahun lalu disebabkan oleh tingginya beban bunga perseroan. Beban bunga itu merupakan konsekuensi dari utang perseroan pada 2007. "Selain itu, juga akibat rugi kurs, rugi derivatif, dan peningkatan utang perseroan pada 2008." Beban usaha perseroan per 31 Desember 2008 menembus Rp1,13 triliun atau melonjak 59,21% dari periode yang sama pada 2007 senilai Rp712,81 miliar. Rasio peningkatan beban usaha perseroan itu tercatat lebih besar dari pertumbuhan pendapatan. Dampaknya, perseroan membukukan rugi usaha Rp403,05 miliar. Padahal, tahun sebelumnya perseroan membukukan laba usaha Rp169,72 miliar. Pos beban lain-lain juga melonjak 586% menjadi Rp775,44 miliar dibandingkan dengan periode yang sama pada 2007, yaitu Rp112,88 miliar. Lonjakan pos beban lain-lain itu, terutama disebabkan oleh adanya kerugian derivatif mencapai Rp142 miliar, beban bunga Rp367,25 miliar, dan rugi kurs mencapai Rp182,76 miliar. Oleh Sylviana Pravita R.K.N. Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 08/04/09 07:27 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Mobile-8 putuskan tak bayar bunga obligasi Penempatan investasi melalui Bhakti melonjak 200% JAKARTA: Manajemen PT Mobile-8 Telecom Tbk akhirnya memutuskan tidak membayar bunga obligasi Rp20,88 miliar yang seharusnya jatuh tempo pada 15 Maret setelah diberi waktu 14 hari oleh wali amanat hingga 7 April. Operator telepon berbasis code division multiple access (CDMA) itu tidak melunasi kewajibannya karena kini dalam proses restrukturisasi dengan kreditur. "Sesuai dengan perjanjian perwaliamanatan, wali amanat akan mengumumkan mengenai bunga obligasi itu di surat kabar yang akan disusul dengan panggilan pelaksanaan rapat umum pemegang obligasi [RUPO]," ujar Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik ketika dihubungi Bisnis kemarin. Sejak menerima surat dari Wali amanat, Mobile-8 diberi waktu 14 hari untuk melunasi pembayaran bunga obligasi. Berdasarkan laporan keuangan, operator telepon itu hanya mempunyai kas dan setara kas pada akhir Desember tahun lalu sebesar Rp23,73 miliar, tergerus hebat 97,2% dibandingkan dengan kas dan setara kas pada akhir 2007 sebesar Rp852,67 miliar. Di sisi lain, utang usaha Mobile-8 pada tahun lalu jumlahnya mencapai Rp579,25 miliar dan utang lainnya Rp160,40 miliar. "Dari sisi arus kas, kondisi Mobile-8 cukup berat, sehingga kami mengutamakan pencadangan dana untuk membiayai operasional perusahaan. Itu kondisi riil perseroan," tuturnya. Menurut dia, kondisi arus kas itu sebelumnya diantisipasi oleh manajemen Mobile-8 melalui negosiasi restrukturisasi utang dengan pemegang obligasi. Namun, hasilnya tidak secepat yang diharapkan. Mobile-8 juga masih dibebani oleh surat utang senilai total Rp1,73 triliun yang terdiri dari obligasi rupiah Rp675 miliar yang jatuh tempo pada 2012 dan obligasi US$100 juta yang jatuh tempo pada 2013. Selain menunggak pembayaran bunga obligasi rupiah, operator CDMA itu belum melunasi bunga obligasi dolar sebesar US$5,63 juta yang jatuh tempo pada 1 Maret 2009. "Itu karena kami dan pemegang obligasi dolar dalam proses hukum di pengadilan," ujar Chris. Investasi jangka pendek Meski kas dan setara kasnya hanya Rp23,73 miliar, investasi jangka pendek Mobile-8 tahun lalu justru bertambah 45,66% dari Rp198,38 miliar pada 2007 menjadi Rp288,98 miliar pada akhir tahun lalu. Satu pemegang obligasi menambahkan kas dan setara kas Mobile-8 tergerus drastis, tetapi kreditur harus melihat juga lonjakan jumlah penempatan investasi. "Dari pos investasi pada surat berharga itu, seharusnya bisa diketahui dana yang masih dimiliki oleh Mobile-8," katanya. Penempatan investasi terbesar Mobile-8 melalui PT Bhakti Asset Management, perusahaan terafiliasi, senilai Rp200,65 miliar pada tahun lalu, melonjak 200% dibandingkan dengan nilai penempatan pada 2007 sebesar Rp66,84 miliar. Mobile-8 menempatkan investasi lainnya melalui TDM Aset Manajemen dan Clariden Leu Ltd. Jumlah penghasilan atas investasi itu mencapai Rp32,85 miliar pada 2008. Pada bulan lalu, Mobile-8 mencairkan seluruh investasinya pada Clariden, sedangkan investasi pada Lehman Liquidity Fund ditarik pada Maret tahun lalu. Pemegang obligasi itu menambahkan Mobile-8 bisa menarik investasi jangka pendek yang ditempatkan pada Bhakti Asset Management untuk melunasi bunga obligasi Rp20 miliar. Namun, Chris mengatakan sebagian dana investasi itu telah digunakan oleh Mobile-8. "Kami dalam proses pembicaraan dengan vendor terkait dengan pembayaran tagihan, ada yang dibayar bertahap dan periode jatuh temponya diubah," ujarnya. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) akan memutuskan sanksi kasus laporan keuangan Mobile-8 pekan depan. "Baru akan dirapatkan pekan depan ," ujar Kepala Biro Perundang-undangan dan Bantuan Hukum Bapepam-LK Robinson Simbolon. Mobile 8 diindikasikan melanggar aturan karena tidak memasukkan kerugian transaksi derivatif perusahaan pada laporan keuangan perusahaan. (21) (wisnu.wijaya@[tautan dihapus]) Oleh Wisnu Wijaya Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 08/04/09 07:30 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Mobile-8 tunggu restrukturisasi Default obligasi ciptakan ketidakpastian bisnis Dalam iklan, PT Mobile-8 Telecom Tbk boleh memakai ungkapan 'bayar pake daun'. Namun, dalam kenyataan tidak demikian. Kegagalan perseroan membayar obligasinya senilai total Rp1,73 triliun berbuntut panjang. Krisis finansial yang berimbas terhadap depresiasi kurs sepanjang tahun lalu sebesar 17% mau tidak mau membuat operator seluler ini menghadapi kenaikan nilai utangnya yang berbasis dolar. Akibatnya, perusahaan layanan CDMA (code-division multiple access) tersebut menanggung beban obligasi US$100 juta yang jatuh tempo pada 2013 dan obligasi rupiah Rp675 miliar yang berjatuh tempo 2012. Sampai sekarang, mereka menunggak pembayaran bunga yang dijadwalkan pada 16 Maret sebesar Rp20,88 miliar, serta pembayaran bunga obligasi dolar sebesar US$5,63 juta pada 1 Maret 2009. PT Pemeringkat Efek Indonesia telah menyatakan obligasi I/2007 senilai Rp675 miliar gagal bayar, sehingga peringkat utang Mobile-8 turun ke level idD dari idCCC, dan peringkat emiten anjlok dari idSD (selective default) menjadi idD (default). Analis Pefindo Niken Indriarsih dan Vonny Widjaja menjelaskan penurunan peringkat itu mencerminkan gagal bayarnya kupon obligasi senilai Rp20,88 miliar. "Pada saat bersamaan, kami menarik peringkat perseroan dari status pengawasan kredit dengan implikasi negatif," tutur Niken pada hari yang sama ketika Mobile-8 gagal membayar kupon obligasi. PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pun membekukan perdagangan obligasi emiten berkode saham FREN tersebut sejak Maret lalu. Sahamnya di pasar pun mentok di harga terendah Rp50 per unit. Melihat perkembangan tersebut, analis PT CIMB-GK Securities Indonesia Kelvin Goh menilai persoalan obligasi tersebut membuat bisnis Mobile-8 berada di ambang ketidakpastian. "Kami akan menghentikan pantauan atas Mobile-8 karena kami percaya kelanjutan bisnisnya di ambang ketidakpastian," tuturnya dalam laporan riset per 12 Maret. Sebelumnya, CIMB-GK memberikan peringkat underperform saham perseroan berkode FREN. Berdasarkan metode arus kas diskonto (DCF), mereka menetapkan target harga Rp90 per saham yang merefleksikan biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) sebesar 18%. Default silang Kelvin menilai kegagalan bayar Mobile-8 atas surat utang senior tanpa jaminan senilai US$100 juta bisa memicu gagal bayar silang terhadap obligasi lainnya yang berjaminan senilai Rp675 miliar. Perseroan gagal mempercepat pembayaran obligasi dolarnya setelah gagal melaksanakan penawaran tender (tender offer) atas obligasi tersebut dalam jangka waktu 30 hari sejak Global Mediacom menjual kepemilikannya di Mobile-8 dari 38,6% menjadi 19%. Kelvin menilai wajar jika pemegang saham obligasi berdenominasi dolar itu mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat untuk menahan aset-aset perseroan. Per September 2008, perseroan memiliki kas Rp223 miliar dengan beban utang mencapai Rp2,76 triliun. Mereka mau tidak mau harus memangkas belanja modalnya menjadi minimum. "Untuk membiayai kembali obligasi, upaya menambah utang atau ekuitas yang merupakan langkah problematis pada kondisi sekarang, makin dipersulit dengan kondisi fundamental perseroan yang buruk," tutur Kelvin. Jerash Investment Ltd dan PT Global Mediacom Tbk, pemegang saham mayoritas Mobile-8 Telecom, sejauh ini mengkaji rencana pelepasan saham Mobile-8 kepada investor strategis. "Ada dua hal yang akan kami laksanakan, yaitu restrukturisasi utang dan menjajaki injeksi dana dari sejumlah investor. Skema injeksi dana itu memang tidak menutup kemungkinan melalui masuknya pemodal baru di level pemegang saham," tutur Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik (Bisnis, 2 April). Komposisi ketat Di luar faktor obligasi, CIMB-GK menyoroti ketatnya kompetisi bisnis CDMA yang makin memojokkan posisi Mobile-8. Produk Flexi sebagai pemimpin pasar saat ini berani menawarkan telepon gratis bagi pelanggannya di Jakarta, dan PT Bakrie Telecom Tbk menawarkan telepon gratis bagi pelanggan di Jawa Timur. "Dengan status Mobile-8 sebagai operator penuh layanan seluler, pelanggannya bisa tergiur beralih ke operator dengan mobilitas terbatas karena telepon CDMA mereka bisa dipakai untuk layanan mobilitas terbatas lainnya," tuturnya. Terakhir, penurunan drastis tarif layanan GSM (global system for mobile communication) menghilangkan kemampuan Mobile-8 untuk membuat produknya berbeda dari layanan lain dan mempersulit pengembangan waralabanya. Pendapatan triwulan III/2008 anjlok 31% secara triwulanan dibandingkan dengan kontraksi di Telkomsel yang hanya sebesar 1% dan pertumbuhan Bakrie Telecom sebesar 18,5%. Basis pelanggan merosot 13% secara triwulanan menjadi tiga juta pada triwulan III/2008, dan tidak berubah pada triwulan IV. Rata-rata pendapatan per pelanggan (average revenue per user/ARPU) secara campuran menurun dari Rp28.000 pada triwulan II/2008 menjadi sekitar Rp20.000 pada akhir 2008, dan hanya tersisa Rp18.000 per pelanggan pada awal tahun ini. Dalam laporan keuangan per 2008, Mobile-8 membukukan rugi bersih Rp1,06 triliun karena besarnya beban bunga utang perseroan yang menembus Rp367,25 miliar. Pada 2007, perusahaan itu masih membukukan laba bersih Rp50,34 miliar. (arif.gunawan@[tautan dihapus]) Oleh Arif Gunawan S. Wartawan Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| editopan (Penasihat) 09/04/09 01:30 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia gelo.. udeah deh fren di ambil alih smart aja.. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 10/04/09 05:38 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Pertanda pemerintah persiapkan kemungkinan akuisisi operator tahun ini?? ------------------------------------- Kepmen Konsolidasi Operator Terbit Sebelum Ganti Kabinet 09/04/2009 12:31:16 WIB Oleh Rizagana dan Encep Saepudin JAKARTA, INVESTOR DAILY Pemerintah dan BRTI tengah menyiapkan regulasi yang memungkinkan operator telekomunikasi melakukan konsolidasi dengan banyak pilihan. Saat ini, konsolidasi hanya dimungkinkan dengan mempertahankan salah satu perusahaan lama. Aturan baru itu diharapkan hadir sebelum pergantian kabinet baru. Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengatakan, banyak kasus akuisisi dan merger di antara operator telekomunikasi yang telah terjadi. Penggabungan PT Indosat dengan PT Satelindo beberapa waktu lalu yang mempertahankan PT Indosat sebagai survival company adalah salah satu contoh. “Akuisisi atau merger menjadi masalah bila melahirkan nama baru. Misalnya, perusahaan A dan perusahaan B bergabung menjadi perusahaan C. Yang begini belum ada aturannya,” kata Heru kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (6/4). Ketua Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Merza Fachys mengatakan, sejatinya tidak hanya merger Indosat dan Satelindo yang sudah terjadi, tetapi juga terjadi pada PT Smart Telecom yang merupakan hasil merger antara Primasel dengan PT Wireless Indonesia (WIN, anak perusahaan Sinar Mas). “Bahkan, Mobile-8 juga merupakan hasil merger dengan tiga perusahaan lainnya,” kata Merza, yang juga direktur PT Mobile-8 Telecom. Pada Mei 2007, Ditjen Bapepam dan Lembaga Keuangan Departemen Keuangan meresmikan merger PT Mobile- 8 Telecom Tbk (Mobile-8) dengan tiga anak usahanya, PT Komunikasi Selular Indonesia (Komselindo), PT Metro Selular Nusantara (Metrosel), dan PT Telekomindo Selular Raya (Telesera). Tiga anak perusahaannya itu melebur ke PT Mobile-8 Telecom. Menurut Merza, dengan kasus-kasus itu, sebenarnya tidak ada masalah bagi operator telekomunikasi untuk melakukan konsolidasi, baik merger maupun akuisisi. Ia malah mempertanyakan tentang aturan yang melarang pemindahtanganan lisensi dan frekuensi dalam bisnis telekomunikasi. “Jadi, kalau faktanya sudah ada yang merger dan melakukan akuisisi, itu kan pengalihan lisensi. Karena itu, pengalihan lisensi yang bagaimana yang tidak boleh?” kata Merza. Sebelumnya, Dirjen Postel Depkominfo Basuki Yusuf Iskandar mengatakan, dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 53/2000 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit, pasal 25, pengalihan lisensi telekomunikasi tidak boleh. Namun, untuk pemindahtanganan frekuensi diperkenankan sepanjang mendapat izin dari Menteri. Pada Pasal 25 PP No 53/2000 tersebut disebutkan, (1) pemegang alokasi frekuensi radio tidak dapat mengalihkan alokasi frekuensi radio yang telah diperolehnya kepada pihak lain. Pada ayat (2) disebutkan, izin stasiun radio tidak dapat dialihkan kepada pihak lain kecuali ada persetujuan dari Menteri. Oleh karena itu, lanjut dia, pemerintah kini tengah mengodok revisi aturan itu untuk memfasilitasi konsolidasi antar-operator di dalam negeri. “Kalau mempersiapkan aturannya secara utuh dan baru, saya kira akan memakan waktu panjang. Untuk itu, kami hanya akan lakukan adjustment sehingga memenuhi keinginan konsolidasi,” kata Basuki. Hanya saja, lanjut Basuki, penyesuaian itu sedang digodok untuk menghindari peluang percaloan dalam hal perizinan. Oleh karena itu, pemerintah dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) tengah menggodok kriteria-kriterianya dalam rangka mempersempit ruang bagi percaloan lisensi. “Saya belum berani ngomong tentang kriteria itu karena masih dalam kajian,” kata Basuki. Menurut Heru, kriteria merger yang memungkinkan lahirnya perusahaan baru, menurut Heru, masih dibahas dengan melibatkan instansi lain, seperti Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Peraturan setingkat keputusan menteri (Kepmen) ini dijanjikan sudah disetujui sebelum Kabinet Indonesia Bersatu demisioner. Keputusan menteri ini, ujar dia, mendesak untuk disahkan untuk menjadi payung hukum konsolidasi. Saat ini, kompetisi antaroperator makin sengit. Persaingan ini akan meminggirkan operator yang kondisinya kepayahan. Pada akhirnya, mereka harus bergabung agar kinerjanya tetap baik. *** Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 14/04/09 10:40 | 😐 Re: Fren di jual Ke Esia Telkom akan beli M8 ato BTEL?? -------------------------------------------------------------------- Telkom, Kian Mantap di Tengah Krisis 14/04/2009 08:10:16 WIB Oleh Myrna Agata Riyanto Genderang perang yang ditabuh para operator telekomunikasi di Tanah Air tak segegap-gempita dulu lagi. Konon, era perang tarif dalam bisnis ‘halo-halo’ segera berakhir. Tentu saja PT Telkom Tbk (TLKM) masih menjadi jawaranya. Bagaimana dengan harga saham TLKM? Tak bisa disangkal, industri telekomunikasi masih merupakan sektor usaha yang paling menggiurkan di negeri ini. Lihat saja PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Tbk. Sekalipun ekonomi sedang lesu darah, emiten bersandi saham TLKM itu masih agresif berekspansi. Untuk membiayai ekspansinya, Telkom sedang mencari pinjaman US$ 500 juta. Utang tersebut bakal digunakan untuk menutup anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini sebesar Rp 20-22 triliun. Sekitar 50-60% capex Telkom dibiayai dari kas internal, sedangkan sisanya dari pinjaman perbankan. “Meminjam dari bank adalah opsi yang paling memungkinkan. Kalau menerbitkan obligasi, apalagi dalam bentuk dolar AS, bunganya tinggi,” ujar analis PT Ciptadana Securities Syaiful Adrian. Dibanding pesaing-pesaingnya, capex Telkom memang tergolong ‘aduhai’. Tapi itu wajar lantaran Telkom sedang gencar-gencarnya berekspansi, terutama pada bisnis seluler. Untuk bisnis seluler, Telkom mengalokasikan Rp 14-15 triliun dari total capex. Melalui divisi bisnisnya, Telkom Flexi, Telkom juga sedang berancang-ancang mengakuisisi operator code division multiple access (CDMA). Krisis memang belum bisa diprediksi kapan berakhir. Toh, laba bersih Telkom tahun ini kemungkinan masih naik. Tahun lalu, Telkom mencatatkan laba bersih Rp 13,7 triliun. Tahun ini, laba bersih Telkom diprediksi naik tipis menjadi Rp 14 triliun. Pada 2009, Telkom juga diperkirakan masih mampu membukukan pendapatan Rp 75 triliun, dibanding Rp 66 triliun pada 2008. Laba bersih Telkom terpangkas lantaran tahun lalu terjadi perang tarif yang amat sengit. Apalagi sejumlah operator pesaing Telkom, seperti Excelcomindo, kelebihan kapasitas, sehingga mereka menurunkan harga untuk memperoleh pangsa pasar. Tahun ini, perang tarif diprediksi berakhir. “Pangsa pasar telekomunikasi sudah hampir penuh semua. Makanya, para operator tak akan berebut pasar lagi,” tutur Syaiful Adrian. Dalam hitungan analis Ciptadana Securities tersebut, debt to equity ratio (DER) Telkom tahun ini bakal meningkat dari sekitar 40% menjadi 44%. “Itu terjadi karena utang Telkom sebagian besar dalam bentuk dolar AS. Saat ini kan rupiah melemah,” ucap Syaiful yang memperkirakan price to earning ratio (PER) Telkom tahun ini berkisar 9 kali dengan price to book value (PBV) 3,5 kali. Masih Khawatir Dalam beberapa hari terakhir, saham TLKM terkoreksi. Tapi pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (13/4), saham TLKM ditutup menguat menjadi Rp 7.400 dibanding sebelumnya Rp 6.900. Saham TLKM ditransaksikan dengan volume 36.713.500 senilai Rp 267,9 miliar dan frekeunsi 2.514 kali. Sebetulnya, pola saham Telkom menunjukkan tren peningkatan (up trend) sejak Oktober 2008. “Pola baru pergerakan saham TLKM akan menunjukkan penurunan serius bila harganya turun menjadi Rp 6.700,” papar analis BNI Securities Muhammad Al Fatih. Dalam ancar-ancar Al Fatih, level support TLKM berada pada harga Rp 6.950–Rp 6.700, sedangkan level resistance-nya pada level Rp 7.650–Rp 7.900. Kenapa harga TLKM belum menggeliat signifikan? Rupanya, sebagian investor masih mengkhawatirkan pelemahan ekonomi. Itu sebabnya, sekalipun Telkom gencar berekspansi, harga TLKM belum naik secara konsisten. “Masih bermunculannya berita-berita negatif tentang perekonomian Amerika Serikat (AS) turut memengaruhi pergerakan harga saham Telkom,” ujar Alfatih. Dalam jangka pendek, Al Fatih merekomendasikan hold sahamTLKM dengan catatan, pada level support harus dilihat apakah akan terjadi penurunan ataukah harga TLKM tertahan pada level keseimbangan baru. “Investor Telkom boleh bersiap-siap time to buy apabila terjadi rebound di atas Rp 6.700,” tuturnya. Hanya saja, bila TLKM sudah menyentuh Rp 6.700, investor harus berhati-hati. Soalnya, bila TLKM sudah tembus Rp 6.700, berarti saatnya investor menjual (sell) sebelum harganya turun lebih dalam lagi. “Dalam jangka menengah, kemungkinan terjadi penurunan bila harga TLKM sudah berada di bawah level tersebut,” kata Al Fatih. Lain Al Fatih, lain pula David Cornelis. Analis saham ini menyarankan investor jangka panjang membeli saham TLKM. Alasannya, Telkom merupakan perusahaan bermodal besar. Neraca keuangannya pun masih oke. Apalagi TLKM tergolong saham blue chips alias saham unggulan yang kerap menjadi penggerak indeks harga saham gabungan (IHSG). Pokoknya, “TLKM dapat dijadikan saham pilihan untuk dikoleksi dalam jangka panjang,” tandas David. TIPS TLKM Fundamental (2008) Laba bersih: Rp 13,7 triliun Pendapatan: Rp 66 triliun Prediksi (2009) Laba bersih: Rp 14 triliun Pendapatan: Rp 75 triliun Teknikal Level support: Rp 6.950 – Rp 6.700, Level resistance: Rp 7.650 – Rp 7.900 Rekomendasi Jangka pendek dan menengah: hold Jangka panjang: buy Post Extras: 🖨️ Cetak |
Kami memakai cookie Google Analytics untuk memahami cara situs ini dipakai. Anda boleh menerima atau menolak. Kebijakan privasi