| rudyanto08 (Penasihat) 26/08/08 14:40 | ๐ Fren di jual Ke Esia Baca berita di Bisnis Indonesia hari ini, kelihatannya persaingan yang sangat ketat akan memaksa merger Operator, dan Fren to Esia ini permulaannya ??? Hary Tanoe Lego Fren ke Esia Tuesday, 26 August 2008 - Selasa, 26/08/2008 - Bisnis Indonesia JAKARTA: PT Global Mediacom Tbk, secara bertahap, menjual saham anak perusahaannya yang memiliki kegiatan di luar bisnis media. Salah satu saham anak perusahaan yang akan dilepas adalah PT Mobile-8 Telecom Tbk, penyedia jasa telepon Fren, kepada PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), operator seluler berbasis code division multiple access (CDMA) Esia. berita selanjutnya ------------------------------------------------------------------------------------------ berita terbaru tentang seluler Post Extras: ๐จ๏ธ Cetak |
| rusco (Penasihat) 15/09/09 08:17 | ๐ Re: Fren di jual Ke Esia Laba Bakrie Telecom naik 16,7% JAKARTA: Laba bersih PT Bakrie Telecom Tbk pada semester I/2009 naik 16,7% menjadi Rp72,8 miliar dibandingkan dengan semester I/2008, yaitu Rp62,4 miliar. Kenaikan itu seiring dengan pertumbuhan pendapatan bersih (net revenue) pada semester I/ 2009 yang mencapai Rp1,33 triliun atau naik 44,9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yaitu Rp938 miliar. Menurut Direktur Utama Bakrie Telecom Anindya N Bakrie, jumlah pelanggan Bakrie Telecom semester I/2009 mencapai 8,9 juta pelanggan atau tumbuh 63,8% dibandingkan dengan jumlah pelanggan pada tahun lalu, yaitu 5,4 juta pelanggan. Apabila dibandingkan dengan triwulan I/2009, jumlah pelanggan Bakrie Telecom mengalami peningkatan 10,9% dari sebelumnya yang berjumlah 8 juta pelanggan. Anindya mengatakan laju pertumbuhan pelanggan itu, terutama disebabkan oleh semakin dikenalnya merek Esia oleh masyarakat. "Dengan pencapaian positif ini ditambah berhasilnya Bakrie Telecom mendapatkan tambahan bandwith sebesar 1,25 Mhz dan lisensi sambungan langsung jarak jauh maupun sambungan langsung internasional menjadikan Bakrie Telecom siap berkembang penuh," ujarnya, kemarin. Berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit, Bakrie Telecom mencetak pendapatan kotor (gross revenue) Rp1,66 triliun pada semester I/2009 atau naik 34,9% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2008, yaitu Rp1,23 triliun. Peningkatan pendapatan itu juga menjadikan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi melonjak tajam 81,6% dari Rp341,30 miliar pada semester I/2008 menjadi Rp619,90 miliar pada semester I/2009. Oleh Sylviana Pravita R.K.N. Bisnis Indonesia Post Extras: ๐จ๏ธ Cetak |
| rusco (Penasihat) 16/09/09 08:22 | ๐ Re: Fren di jual Ke Esia Harga konversi bond Mobile-8 Rp50 Dana cadangan Rp8 miliar disetor kemarin JAKARTA: PT Mobile-8 Telecom Tbk menetapkan harga konversi obligasi menjadi saham (debt to equity swap) di level Rp50 per saham. Nilai konversi obligasi menjadi saham senilai Rp50 itu ditentukan berdasarkan Peraturan Bursa Efek Indonesia dan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, yaitu harga rata-rata dalam 25 hari terakhir perdagangan. Operator berbasis code division multiple access (CDMA) itu juga menetapkan pembelian kembali (buyback) obligasi I Mobile-8 Telecom Tahun 2007 senilai Rp675 miliar dijadwalkan pada 17 September-13 Oktober 2009. "Pelaksanaan buyback itu dilaksanakan atas obligasi yang sudah direstrukturisasi pada RUPO [rapat umum pemegang obligasi] 29 Juni 2009," ujar Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik kepada Bisnis kemarin. Menurut dia, mekanisme pembelian kembali obligasi itu melalui penerbitan saham baru seri B kepada pemegang obligasi. Anak perusahaan PT Global Mediacom Tbk itu, lanjutnya, tidak berkewajiban membeli seluruh obligasi yang ditawarkan oleh pemegang obligasi dalam periode penawaran buyback obligasi. "Hal itu bisa terjadi apabila harga penawaran jual yang ditawarkan oleh pemegang obligasi melampaui target harga yang ditetapkan oleh perseroan," katanya. Terkait dengan rencana penerbitan saham baru (rights issue) Mobile-8, perseroan akan menggelar rapat umum pemegang saham (RUPS) pada 30 Oktober 2009 atau mundur 1 bulan dari rencana semula, yaitu 30 September. RUPS itu nantinya membahas tiga agenda yaitu pertama, peningkatan modal dasar perseroan. Kedua, peningkatan modal ditempatkan perseroan tanpa hak memesan efek terlebih dahulu dengan cara pengeluaran saham baru, yaitu saham Seri B dengan nilai Rp50 per saham. Ketiga, pemberian wewenang kepada direksi perseroan dengan persetujuan Dewan Komisaris untuk melaksanakan pengeluaran efek bersifat ekuitas tanpa memberikan hak memesan efek telebih dahulu. Aksi korporasi itu bertujuan memenuhi kewajiban perseroan dalam meraih laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (earnings before interest, tax, depreciation, amortization/EBITDA) positif pada kuartal I/2010. Apabila Mobile-8 mampu menjaga EBITDA positif, perusahaan telekomunikasi itu tidak perlu melaksanakan injeksi modal. Dana cadangan Mobile-8 kemarin menyetor dana cadangan (sinking fund) senilai Rp8 miliar terkait dengan restrukturisasi obligasi perseroan Rp675 miliar. "Kami sudah membayar sinking fund senilai Rp8 miliar pada hari ini [kemarin]. Sinking fund per 31 Agustus juga sudah kami penuhi," ujar Chris. Kewajiban itu merupakan hasil dari RUPO di mana Mobile-8 mencapai lima langkah restrukturisasi atas obligasi berdenominasi rupiah senilai Rp675 miliar. "Nilainya dua kali dari pembayaran kupon yaitu berkisar Rp16 miliar, sehingga pada 31 Agustus kami membayar Rp8 miliar dan jumlah yang sama kami bayarkan pada 15 September. Jumlah itu disesuaikan dengan tingkat kupon obligasi yang menjadi 5% pada Agustus-September 2009," katanya. Dia mengatakan perseroan memenuhi kewajiban itu melalui kas internal perseroan yang berasal dari pendapatan operasional. Analis saham PT BNI Securities M. Alfatih mengatakan langkah pengalihan utang menjadi saham itu merupakan salah satu jalan keluar untuk pembayaran utang. "Namun, kebanyakan pihak yang memberi utang semula berharap dapat memperoleh hasil, bukan ekuitas. Langkah ini pada akhirnya dapat diterima oleh para pemegang obligasi daripada mereka tidak dapat apa-apa," tutur Alfatih. Pada penutupan perdagangan kemarin, harga saham emiten berkode FREN ini ditutup menguat 1,61% ke level Rp63 dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya senilai Rp62. mengacu pada harga saham itu, kapitalisasi pasar perseroan mencapai Rp1,27 triliun.(sylviana. pravita@[tautan dihapus]) Oleh Sylviana Pravita R.K.N. Bisnis Indonesia Post Extras: ๐จ๏ธ Cetak |
| rusco (Penasihat) 28/09/09 09:19 | ๐ Re: Fren di jual Ke Esia Mobile-8 Akan Konversi Obligasi Jadi 30% Saham Oleh Deviana Chuo JAKARTA , INVESTOR DAILY PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) berniat mengkonversi utang obligasi senilai Rp 675 miliar menjadi 30% saham. Karena itu, perseroan akan menawarkan saham baru kepada pemegang obligasi dengan harga konversi Rp 65 per saham. Mobile-8 akan menerbitkan sekitar 10,38 miliar saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Nilai nominalnya ditetapkan sebesar Rp 50 per saham atau lebih rendah dari harga konversi yang dipatok Rp 65 per saham. Direktur Keuangan Mobile-8 Anthony Chandra Kartawiria mengatakan, penerbitan saham baru bukan rights issue itu sebenarnya mencapai 50% dari total modal disetor perseroan yang sebanyak 20,23 miliar saham. Namun, karena bentuknya saham baru, persentasenya menjadi lebih kecil, yakni sekitar 30%. โKonversi sekitar 30% saham itu akan terjadi setelah penerbitan saham baru selesai,โ jelas Anthony kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini. Anthony menegaskan, semua pemegang saham lama Mobile-8 bakal terdilusi setelah penerbitan saham baru. Namun, potensi dilusi belum bisa dihitung sebelum aksi korporasi itu dilaksanakan pada tahun ini. Hingga September 2009, Jerash Investment Ltd menguasai 32% saham operator seluler berbasis CDMA (code division multiple access) itu. PT Global Mediacom Tbk (BMTR) masih memiliki 19% saham, sedangkan Qualcomm Incorporated memegang 5,01% saham dan KT Freetel Co Ltd Korea 2%. Sisanya sebesar 41,99% dimiliki publik. Mobile-8 akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 30 Oktober 2009. Rapat tersebut mengagendakan persetujuan pemegang saham terkait peningkatan modal dasar, peningkatan modal disetor tanpa HMETD dengan cara pengeluaran saham baru (seri B), dan pemberian wewenang kepada direksi perseroan untuk melaksanakan pengeluaran efek bersifat ekuitas. Namun, Anthony mengakui, jumlah saham baru yang akan diterbitkan nantinya masih bergantung kepada respons pemegang obligasi. โYang pasti, penerbitan saham ini akan berdampak baik, karena bakal menurunkan posisi utang perseroan,โ ujarnya. Berdasarkan Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) No IX.D.4 tentang Penambahan Modal Tanpa HMETD, penerbitan saham baru bisa dilakukan emiten paling banyak sebesar 5% dari modal disetor. Namun, penerbitan saham baru bisa lebih dari 5% apabila bertujuan memperbaiki posisi keuangan perusahaan. Salah satunya, perusahaan yang gagal bayar utang dan berencana mengkonversi saham perseroan guna menyelesaikan kewajibannya tersebut. โJadi, kami pakai opsi lain di luar ketentuan maksimal 5%,โ kata Chris. Berisiko Tinggi Sementara itu, BNI Securities selaku pemegang obligasi menyatakan tidak berminat dengan konversi saham yang ditawarkan Mobile-8. VP Investment Management Division Head BNI Securities Isbono MI Putro menegaskan, kepemilikan saham pada Mobile-8 berisiko tinggi dibandingkan obligasi. โKalau ada likuidasi aset, pemegang obligasi yang akan dibayar terlebih dulu,โ kata dia. Isbono mengakui, manajemen Mobile-8 telah menawarkan konversi saham kepada para pemegang obligasi. Namun, dia meminta, perseroan seharusnya menggelar rapat umum pemegang obligasi (RUPO). Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik mengatakan, pihaknya belum berencana menggelar RUPO. Di lain pihak, Direktur PT Danareksa Muhammad Hanif mengatakan, pihaknya belum memutuskan menerima atau tidak tawaran konversi saham Mobile-8. โKami akan rapatkan dulu, kan batasnya sampai 13 Oktober 2009,โ jelasnya. Post Extras: ๐จ๏ธ Cetak |
| rusco (Penasihat) 29/09/09 08:31 | ๐ Re: Fren di jual Ke Esia BTEL sendiri juga mau dijual ------------------------- Bakrie Telecom jajaki merger dan akuisisi JAKARTA: PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mengkaji kemungkinan untuk merger dan akuisisi dengan investor asing. Kajian tersebut akan diselesaikan pada triwulan I/2009. "Kemungkinan untuk M&A [merger and acquisition] dengan investor asing terbuka dalam kajian kami. Seperti halnya, operator-operator telekomunikasi lain yang terbuka bagi investasi asing," kata Wakil Direktur Utama Bakrie Telecom Danny Buldansjah, kemarin. Dia mengatakan kemungkinan tersebut dapat berupa pembelian sebagian saham BTEL dan menjadi mitra strategis operator code division multiple access (CDMA) itu atau akuisisi terhadap perseroan. Meski demikian, BTEL tetap akan mempertimbangkan konsolidasi dengan operator CDMA lokal dan mempertimbangkan seluruh aksi korporasi itu bagi peningkatan nilai perusahaan. "Seperti yang dilakukan operator CDMA lainnya, kami juga mengkaji langkah konsolidasi. Meski demikian, kami perkirakan baru pada triwulan I/2009 kajian itu selesai, apakah kami memang akan berkonsolidasi atau tidak. Semua kemungkinan terbuka," ujarnya. Apabila saham BTEL dilepas pada konsolidasi itu, perseroan akan mempertimbangkan apakah harga saham anak perusahaan PT Bakrie & Brothers Tbk itu dibeli dengan harga yang tinggi. "Setiap perusahaan yang dibeli pasti mengusahakan agar nilai sahamnya dibeli dengan harga tinggi. Bila BTEL yang mengakuisisi, kami harus memastikan apakah perusahaan yang diakuisisi itu dapat meningkatkan nilai perusahaan," katanya. Laba bersih Bakrie Telecom pada semester I/2009 naik 16,7% menjadi Rp72,8 miliar dibandingkan dengan semester I/2008, yaitu Rp62,4 miliar. Kenaikan itu seiring dengan pertumbuhan pendapatan bersih pada semester I/ 2009 yang mencapai Rp1,33 triliun, naik 44,9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yaitu Rp938 Miliar. Jumlah pelanggan Bakrie Telecom semester I/2009 mencapai 8,9 juta pelanggan atau tumbuh 63,8% dibandingkan dengan jumlah pelanggan pada tahun lalu, yaitu 5,4 juta pelanggan. Apabila dibandingkan dengan triwulan I/2009, jumlah pelanggan Bakrie Telecom mengalami peningkatan 10,9% dari sebelumnya yang berjumlah 8 juta pelanggan. Pada perdagangan kemarin, harga saham emiten berkode BTEL ini ditutup pada level Rp141 atau turun 1,40% dibandingkan dengan penutupan perdagangan 25 September 2009, yaitu Rp143. Dengan mengacu pada harga saham itu, kapitalisasi pasar perseroan mencapai Rp4,01 triliun. Oleh Sylviana Pravita R.K.N. Bisnis Indonesia Post Extras: ๐จ๏ธ Cetak |
Kami memakai cookie Google Analytics untuk memahami cara situs ini dipakai. Anda boleh menerima atau menolak. Kebijakan privasi