Home - Komunitas - Panduan - Kontak
Indonesian Gadgeteers
Forum Diskusi:
Main Index | Search | Panduan | Aturan | Kontak  ·  Tanpa registrasi: cukup isi nama
>> Forumponsel
Halaman dalam topik ini: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | (tampilkan semua)
rudyanto08
(Penasihat)
26/08/08 14:40
πŸ™‚ Fren di jual Ke Esia
Baca berita di Bisnis Indonesia hari ini, kelihatannya persaingan yang sangat ketat akan memaksa merger Operator, dan Fren to Esia ini permulaannya ???

Hary Tanoe Lego Fren ke Esia

Tuesday, 26 August 2008 - Selasa, 26/08/2008 - Bisnis Indonesia

JAKARTA: PT Global Mediacom Tbk, secara bertahap, menjual saham anak perusahaannya yang memiliki kegiatan di luar bisnis media.
Salah satu saham anak perusahaan yang akan dilepas adalah PT Mobile-8 Telecom Tbk, penyedia jasa telepon Fren, kepada PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), operator seluler berbasis code division multiple access (CDMA) Esia.
berita selanjutnya

------------------------------------------------------------------------------------------
berita terbaru tentang seluler
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
09/06/09 08:22
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Pengadilan tolak permohonan PKPU
PT Mobile 8 bantah terbitkan obligasi US$

JAKARTA: Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menolak permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) yang diajukan oleh dua kreditur PT Mobile 8 Telecom Tbk terhadap perusahaan itu.

"Menolak permohonan para pemohon untuk seluruhnya," ujar Reno Listowo, ketua majelis hakim yang memeriksa dan memutus permohonan PKPU saat sidang pembacaan putusan di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, kemarin.

Permohonan PKPU terhadap PT Mobile 8 itu dilayangkan dua kreditur Java Investment Advisory Group Incorporated dan Precise Circle Limited

Dalam pertimbangan hukumnya, majelis hakim berpendapat permohonan PKPU yang diajukan kedua kreditur itu pembuktiannya dinilai tidak sederhana, yakni terkait dengan kapasitas kreditur dan debitur.

Pasalnya, selama pemeriksaan permohonan PKPU ada beda pendapat antara pemohon dan termohon (PT Mobile 8), di mana termohon menolak secara tegas bahwa pihaknya merupakan debitur.

PT Mobile 8 Telecom Tbk membantah pihaknya tidak pernah menerbitkan obligasi dolar AS, tetapi anak usahanya Mobile 8 Telecom Finance Company BV yang menerbitkan surat berharga itu..

Sebelumnya, Java Investment dan Precise Circle mengajukan permohonan PKPU karena mengklaim sebagai pemegang obligasi dolar AS yang diterbitkan oleh Mobile 8 Telecom Finance, anak usaha PT Mobile 8.

Dalam permohonan PKPU yang diajukan pada 20 Mei 2009, PT Mobile 8 Telecom (termohon) diklaim mempunyai utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih kepada Java Investment dan Precise Circle (pemohon).

Salah satu kuasa hukum para pemohon, Tommi S. Siregar, mengungkapkan kekecewaannya atas putusan majelis hakim yang menolak permohonan PKPU yang dilayangkan oleh pihaknya.

Pemohon kecewa

"Kami kecewa karena kami sudah berusaha baik-baik untuk menjaga agar Mobile 8 lebih panjang waktu pembayarannya dan utang terjamin," katanya, seusai sidang putusan permohonan PKPU, kemarin.

Akan tetapi, dia belum bisa memastikan apakah akan mengajukan upaya hukum terkait dengan putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat tersebut. Pasalnya, dia mengaku perlu mengonsultasikan terlebih dahulu dengan para kliennya.

Sementara itu, kuasa hukum termohon, Duma Hutapea, menilai pertimbangan hukum dan putusan majelis hakim sudah tepat dan sesuai dengan ketentuan yang termuat dalam UU No.37/2004 tentang Kepailitan dan PKPU.

Kemarin, sebelum sidang pembacaan putusan oleh majelis hakim kuasa hukum para pemohon sempat mengajukan permohonan pencabutan PKPU yang diajukan terhadap PT Mobile 8.

Tommi menyebutkan permohonan pencabutan PKPU tersebut diajukan karena pihaknya menginginkan agar penyelesaian proses restrukturisasi utang dilaksanakan di luar persidangan.

Akan tetapi, Duma ternyata menolak permohonan pencabutan yang diajukan oleh para pemohon tersebut.

"Saya tolak permohonan pencabutan karena saya yakin dengan apa yang kita jalankan. Berarti dia [para pemohon] ragu akan kedudukannya," tuturnya.

Sengketa antara kedua pihak ini berawal ketika Mobile 8 Telecom Finance menerbitkan Guaranteed Senior Notes (obligasi dolar AS), tertanggal 15 Agustus 2007 dengan nilai total US$100 juta, yang ditawarkan dengan tingkat bunga 11,25% per tahun.

Para pemohon merupakan pemegang obligasi yang diterbitkan Mobile 8 Telecom Finance tersebut, dengan nilai nominal US$100.000 untuk Java Investment sebagaimana statement tertanggal 17 April 2009 dan US$100.000 untuk Precise Circle sebagaimana statement tertanggal 17 April 2009. (elvani@[tautan dihapus])

Oleh Elvani Harifaningsih
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
10/06/09 13:41
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Bunga obligasi Mobile-8 diusulkan dipangkas
Kajian Mandiri Sekuritas memuat paket restrukturisasi

JAKARTA: Hasil kajian dari penasihat keuangan pemegang obligasi PT Mobile-8 Telecom Tbk mengusulkan satu paket kombinasi restrukturisasi surat utang.

Beberapa eksekutif yang mendengar informasi itu mengatakan kajian yang dibuat oleh PT Mandiri Sekuritas itu menyebutkan adanya kombinasi pemangkasan bunga obligasi, perpanjangan tenor, dan cicilan bunga yang tertunggak.

"Dalam rapat antara Mandiri Sekuritas dan streering committee obligasi Mobile-8 hari ini [kemarin], dibahas mengenai kombinasi restrukturisasi surat utang. Namun, skema itu akan dibahas dalam rapat umum pemegang obligasi yang dijadwalkan pada 30 Juni," tuturnya kepada Bisnis, kemarin.

Mobile-8 gagal membayar bunga obligasi dengan nilai pokok Rp675 miliar yang jatuh tempo pada 15 Maret senilai Rp20,88 miliar. Operator telepon yang berbasis code division multiple access itu dijadwalkan membayar bunga lagi pada 15 Juni.

Steering committee obligasi Mobile-8 terdiri dari 13 investor institusi yang mewakili 72% dari jumlah surat utang setara dengan Rp486 miliar. Anggota steering committee adalah Dapen Bank Indonesia, Dapen PLN, Dapen Semen Padang, Dapen Krakatau Steel, Dapen Pos, dan Dapenma Pamsi.

Kinerja Mobile-8 Telecom per 31 Maret 2009 (Rp miliar)
2009 2008
Pendapatan usaha 93,62 210,14
Laba usaha (167,89) 2,78
Rugi sebelum pajak (240,55) (32,06)
Rugi bersih (180,64) (22,30)
Rugi per saham (Rp) (9,16) (1,10)
Sumber : Mobile-8

Anggota lainnya adalah Reksa Dana BNI Berbunga Tiga, Reksa Dana BNI Terproteksi, Bank Central Asia, dan Bank Internasional Indonesia. Selebihnya yaitu Ramayana Lestari Sentosa, Tri Daya, dan Danareksa Sekuritas.

Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik ketika dikonfirmasi membenarkan adanya pertemuan antara penasihat keuangan dan pemegang obligasi. "Saya tidak mengikuti pertemuan itu, sehingga tidak mendapat informasi mengenai hasilnya."

Iman Rachman, Head of Investment Banking Mandiri Sekuritas, mengatakan sedang rapat ketika dikonfirmasi mengenai isi dari hasil kajian tersebut. "Saya dengan rapat."

Dia juga tidak merespons pesan singkat yang dikirimkan melalui telepon selulernya tadi malam.

Sumber Bisnis menambahkan pemegang obligasi sepakat untuk tidak memberi vonis gagal bayar kepada operator telekomunikasi itu. Asalkan, Mobile-8 menjalankan paket restrukturisasi yang diusulkan oleh Mandiri Sekuritas.

Tenor diperpanjang

Paket itu menyebutkan obligasi rupiah Mobile-8 senilai Rp675 miliar diperpanjang masa jatuh temponya 5 tahun menjadi 15 Maret 2017 dari semula 15 Maret 2012.

Pembayaran bunga obligasi tertunggak, yang seharusnya dibayarkan secara kuartalan pada Maret dan pada bulan ini, akan diselesaikan dalam 6 bulan ke depan hingga Desember.

Selain itu, bunga obligasi berikutnya diturunkan menjadi berturut-turut 5%, 5%, 8%, dan 12% per tahun pada tahun ini dan tahun-tahun berikutnya. Ini lebih rendah dari bunga obligasi yang seharusnya sebesar 12,375% per tahun.

"Kekurangan pembayaran bunga itu akan dibayarkan pada akhir periode. Secara periode kami memang tidak rugi tetapi secara time of money kami merugi," tuturnya.

Ketika diterbitkan obligasi I/2007 Mobile-8 mengantongi peringkat BBB+ dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Obligasi rupiah dijamin dengan fidusia atas sebagian perangkat infrastruktur telekomunikasi perusahaan sebesar 110% dari seluruh jumlah pokok obligasi yang masih beredar.

Apabila peringkat obligasi memburuk, jaminan fidusia naik menjadi 130% dari seluruh jumlah pokok obligasi. Pada 18 Maret 2009, Pefindo merevisi peringkat obligasi tersebut menjadi idD (default/gagal bayar).

Penurunan peringkat juga dialami oleh surat utang berjaminan senior senilai US$100 juta. Pada 2 Desember 2008, Standard & Poor's merevisi peringkat surat utang menjadi gagal bayar dibandingkan dengan peringkat saat diterbitkan yakni B.

Moody's bahkan menarik peringkatnya sejak 20 Februari 2009. Mobile-8 juga belum membayar bunga obligasi ini sebesar US$5,62 juta atau setara Rp61,59 miliar yang pembayarannya jatuh tempo pada 1 Maret 2009.

Perseroan juga tidak menggelar penawaran tender terhadap obligasi dolar pada harga premium, meskipun terjadi pergantian pemegang saham pengendali.(pudji.lestari@[tautan dihapus] wisnu.wijaya@[tautan dihapus])

Oleh Pudji Lestari & Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
15/06/09 09:37
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
'Mobile-8 agar dijual'
Pemegang saham baru harus efektif pada akhir 2009

JAKARTA: PT Mandiri Sekuritas mengusulkan agar PT Mobile-8 Telecom Tbk segera dijual ke investor strategis pada akhir tahun ini.

"Pemodal strategis diharapkan efektif menjadi pemegang saham baru Mobile-8 paling lambat pada akhir 2009, sehingga operator telepon itu mendapat dana segar untuk membiayai operasionalnya," ujar seorang eksekutif yang mengetahui isi kajian yang dibuat oleh Mandiri Sekuritas kepada Bisnis pada akhir pekan lalu.

Mandiri Sekuritas merupakan penasihat keuangan yang ditunjuk oleh steering committee, yang beranggotakan 13 investor institusi, untuk membuat kajian. Nantinya, hasil kajian itu digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam rapat umum pemegang obligasi (RUPO) yang dijadwalkan pada 30 Juni.

Penjualan saham kepada investor strategis merupakan salah satu opsi, selain suntikan dari pemegang saham melalui rights issue yang dikombinasikan dengan restrukturisasi utang obligasi rupiah.

Jerash Investment Ltd pada 30 April 2009 menguasai 32% saham Mobile-8, PT Global Mediacom Tbk dan PT Bhakti Asset Management memiliki 19% saham dan 7,28%, sedangkan Qualcom Incorporated dan UOB Kay Hian Private Ltd memiliki 5,01% dan 13,29% saham.

Berdasarkan materi rapat informasi dengan pemegang obligasi pada 19 Desember 2008, Mobile-8 membutuhkan dana segar US$100 juta pada tahun ini.

Ketika dikonfirmasi mengenai injeksi modal dari pemegang saham baru Mobile-8, Director Head of Investment Banking Mandiri Sekuritas Iman Rachman tidak merespons panggilan dan pesan singkat yang dikirimkan oleh Bisnis.

Tenor diperpanjang

Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Christoporus Siswandi Taufik mengatakan belum membaca kajian dari Mandiri Sekuritas itu. "Saya belum lihat kajian itu, yang jelas kami ingin tenor obligasi diperpanjang. Kami tunggu hasil RUPO."

Steering committee obligasi Mobile-8, yang mewakili 72% dari jumlah surat utang setara dengan Rp486 miliar, beranggota Dapen Bank Indonesia, Dapen PLN, Dapen Semen Padang, Dapen Krakatau Steel, Dapen Pos, dan Dapenma Pamsi.

Anggota lainnya adalah Reksa Dana BNI Berbunga Tiga, Reksa Dana BNI Terproteksi, Bank Central Asia, dan Bank Internasional Indonesia. Selebihnya yaitu Ramayana Lestari Sentosa, Tri Daya, dan Danareksa Sekuritas.

Mobile-8 gagal membayar bunga obligasi dengan nilai pokok Rp675 miliar yang jatuh tempo pada 15 Maret senilai Rp20,88 miliar. Operator telepon itu dijadwalkan membayar bunga lagi pada 15 Juni. Paket restrukturisasi itu mengungkapkan tenor obligasi rupiah Mobile-8 senilai Rp675 miliar diperpanjang 5 tahun menjadi 15 Maret 2017 dari semula 15 Maret 2012.

Selain itu, bunga obligasi berikutnya diturunkan menjadi berturut-turut 5% pada tahun pertama dan kedua, 5% pada tahun ketiga dan keempat, dan 12% pada tahun terakhir. (pudji.lestari@[tautan dihapus] wijaya@[tautan dihapus])

Oleh Pudji Lestari & Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
15/06/09 11:51
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
ini msl mobile-8 ga beres2 nih
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
persebaya
(Penasihat)
15/06/09 12:18
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
m-8 ?? Hidup segan ... mati pun segan ...
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
auliafathya
(Anggota)
15/06/09 14:28
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Permasalahanya itu Pemegang saham moyority Fren yaitu group Bimantara mau jual fren dengan harga mahal. Mana mau Bakry group Beli? Apalagi Flexi ? karena kalau dihitung2 Fren itu tinggal ijin Frek. doang karena invest nya sebenarnya dari hutang aja . Kecuali Fren dijual dengan standart saham yaitu Rp 50,0 mungkin Esia atau Flexi atau Smart mau beli....
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
persebaya
(Penasihat)
15/06/09 16:25
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
^-^ Biasanya kalo nawar kepemilikan saham dalam jumlah besar (Block Sale) ... discountnya maut .. kalo sekarang harga saham FREN mentog di gocap ... biasanya ditawar di 25 atau kurang .... (discount > 50 % .. ) lagian utangnya gedhe - gedhean .... Itu berita di inet pemegang obligasinya udah mendesak untuk dibayar bunganya ... and management fren nggak mampu ....

Beritanya sih kalo FREN nggak bisa dapat dana 1 trilyun buat operasional (OPEX 3 th), FREN bisa default .... (pailit) ...
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
16/06/09 08:06
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Mantap, Indosat & QTEL, ingin beli M8 juga...

------------------------------------

Gobel incar Mobile-8

Diperlukan suntikan US$100 juta pada 2009

JAKARTA: Pengusaha nasional Rachmat Gobel yang sekaligus menjadi mitra lokal Qatar Telecom QSC (Qtel) di Indonesia mengincar saham operator telepon PT Mobile-8 Telecom Tbk.

Seorang eksekutif yang mengetahui rencana itu mengatakan Rachmat akan membeli Mobile-8 apabila harga yang ditawarkan tidak mahal. β€œAda kemungkinan Rachmat menggandeng mitranya di PT Indosat Tbk yaitu Qtel agar nantinya bisa disinergikan,” ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Saat dikonfirmasi kemarin, Rachmat membenarkan rencana itu. Dia mengatakan masih mendalami rencana strategis tersebut.

β€œSaya pernah bicara tentang minat ini [dengan pemegang saham dan manajemen Mobile-8], tetapi saya belum mengambil keputusan apa-apa karena rencana itu masih ditelaah lebih mendalam,” tuturnya.

Operator telepon berbasis code division multiple access itu gagal bayar bunga obligasi Rp675 miliar dan US$100 juta. Gagal bayar itu bermula ketika pemegang saham mayoritas Mobile-8, PT Global Mediacom Tbk, menjual 32% saham operator telepon itu kepada perusahaan private equity fund yang berpusat di Dubai yaitu Jerash Investment Ltd yang dipimpin oleh seorang CEO Shiv Dave.

Divestasi itu membuat kepemilikan Global Mediacom berkurang dari 51%, sehingga salah satu klausul dalam perjanjian obligasi dolar berlaku. Klausul itu membuka peluang buyback surat utang. Perusahaan telepon itu tidak melaksanakan klausul itu dan terjadilah default yang dikhawatirkan memicu gagal bayar silang terhadap obligasi rupiah.

Mobile-8 gagal bayar bunga obligasi rupiah yang jatuh tempo pada 15 Maret senilai Rp20,88 miliar.

Presiden Grup dan CEO Global Mediacom Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo tidak bersedia menjelaskan mengenai pendekatan yang dilakukan oleh Gobel.

β€œSoal kabar bahwa Qatar berminat atas saham Global Mediacom, itu tidak benar. Namun, saya tidak bisa mengonfirmasi isu mengenai Mobile-8 karena yang bisa menyampaikan hal itu adalah manajemen Mobile-8, meskipun Global Mediacom masih memiliki saham itu.”

Direktur Utama Mobile-8 Merza Fachys tidak membantah ketika dikonfirmasi soal minat Rachmat Gobel untuk membeli Mobile-8. Namun, dia menolak menjelaskan lebih lanjut.

3 Investor

Menurut dia, kini terdapat tiga investor yang berminat membeli saham Mobile-8. β€œNilainya belum kami tentukan. Yang jelas, valuasi dari perusahaan ini masih bergantung pada hasil dari restrukturisasi utang obligasi dolar dan rupiah,” ujarnya. Dia menuturkan seluruh pemodal strategis yang berminat membeli saham perseroan masih dalam tahap penjajakan.

β€œAda pemodal yang meminta penasihat keuangan atas penjualan saham Mobile-8 dan kami akan menyediakan hal itu. Saya belum bisa menyampaikan identitas mengenai calon investor itu,” ujarnya.

Operator penyedia jasa telepon Fren itu sedang berupaya menempuh restrukturisasi obligasi rupiah berjaminan dengan pemegang obligasi. PT Mandiri Sekuritas ditunjuk sebagai penasihat keuangan oleh pemegang obligasi untuk membuat kajian terkait dengan kondisi internal Mobile-8.

Tenor obligasi rupiah Mobile-8 senilai Rp675 miliar diusulkan diperpanjang 5 tahun menjadi 15 Maret 2017 dari semula 15 Maret 2012.

Pembayaran bunga obligasi tertunggak, yang seharusnya dibayarkan secara kuartalan pada Maret dan pada bulan ini, akan diselesaikan dalam 6 bulan ke depan hingga Desember.

Selain itu, bunga obligasi berikutnya diturunkan menjadi berturut-turut 5% pada tahun pertama dan kedua, 5% pada tahun ketiga dan keempat, dan 12% pada tahun terakhir. Usulan bunga itu lebih rendah dari bunga obligasi yang seharusnya sebesar 12,375% per tahun.

Selain mengusulkan paket restrukturisasi obligasi, Mandiri Sekuritas juga menyodorkan adanya pinjaman dari pemegang saham dan masuknya investor strategis.

β€œPemegang saham baru efektif paling lambat pada akhir 2009,” ujar sumber Bisnis lainnya.

Materi rapat informal obligasi Mobile-8 mengungkapkan perseroan membutuhkan suntikan dana segar US$100 juta pada tahun ini dan US$25 juta pada 2011.

Menurut analis saham PT BNI Securities M. Alfatih, posisi Mobile-8 yang melaksanakan restrukturisasi obligasi membuat daya tawar menjadi rendah.

Saham Mobile-8 hingga kemarin masih disuspensi oleh Bursa Efek Indonesia di level Rp50.

Oleh Sylviana Pravita R.K.N. & Wisnu Wijaya

Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
16/06/09 08:24
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Pemegang Obligasi Mobile-8 Setujui Opsi Restrukturisasi
16/06/2009 07:58:05 WIB
Oleh Deviana Chuo
JAKARTA, INVESTOR DAILY

Mayoritas pemegang obligasi rupiah PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) menyetujui opsi restrukturisasi daripada penambahan modal perseroan. Jika manajemen tidak sepakat, obligasi senilai Rp 675 miliar itu akan dinyatakan gagal bayar (default) dan aset jaminan bakal dieksekusi.

Persetujuan terhadap opsi restrukturisasi obligasi Mobile-8 tersebut merupakan hasil pertemuan antara komite pengarah (steering committee/SC) yang terdiri atas 13 institusi pemegang obligasi Mobile-8 bersama PT Mandiri Sekuritas selaku financial advisor di Jakarta, Senin (15/6).

Sumber Investor Daily yang mengetahui hasil rapat tersebut, mengungkapkan, ada enam poin restrukturisasi yang diputuskan kemarin. Beberapa poin itu di antaranya pemegang obligasi meminta penyelesaian obligasi rupiah harus lebih baik dibanding obligasi dolar Mobile-8. Perseroan juga diizinkan menyicil empat kali dalam satu tahun untuk kupon obligasi yang belum dibayar sebesar Rp 41,76 miliar.

Poin selanjutnya dalam restrukturisasi obligasi berkupon 12,375% itu adalah ketentuan terkait sinking fund dan laba sebelum beban bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) yang harus positif. Di samping itu, poin perpanjangan tenor obligasi dan penurunan bunga juga disepakati pemegang obligasi yang tergabung dalam komite pengarah.

Menurut dia, pemegang obligasi akan mengajukan perpanjangan jatuh tempo hingga semester I-2017 dari sebelumnya 2012. Sedangkan kupon obligasi bisa diturunkan menjadi 5% untuk tiga tahun pertama, 8% untuk tiga tahun selanjutnya, dan 12% untuk dua tahun terakhir.

Terkait kinerja Mobile-8, pemegang obligasi meminta operator Fren tersebut membukukan EBITDA positif pada 2010. Jika tidak tercapai, perseroan harus menambah modal. Mekanisme yang dapat ditempuh adalah penjualan saham kepada investor strategis, penerbitan saham baru (rights issue), atau pinjaman subordinasi dari pemegang saham mayoritas. Tapi, kalau penambahan modal tidak dapat direalisasikan dalam waktu tertentu, obligasi akan dinyatakan default.

β€œNamun, untuk saat ini, Mobile-8 tidak perlu menambah modalnya melalui penjualan saham, karena pemegang obligasi memilih opsi restrukturisasi,” ungkap sumber itu.

Poin-poin restrukturisasi akan diajukan kepada manajemen Mobile-8 dalam rapat umum pemegang obligasi (RUPO) pada 29 Juni 2009. Jika manajemen tidak menyetujui usulan itu, Obligasi I Mobile-8 Telecom Tahun 2007 akan dinyatakan default. Setelah itu, pemegang obligasi akan meminta eksekusi aset jaminan yang nilainya mencapai 120% dari pokok obligasi. Jaminan itu berupa infrastruktur milik perseroan, salah satunya menara telekomunikasi.

Beban Berkurang
Sumber itu juga mengatakan, opsi restrukturisasi yang disepakati pemegang obligasi sebenarnya memberi kesempatan kepada manajemen untuk memperbaiki kinerja perseroan. Pasalnya, restrukturisasi dapat mengurangi beban keuangan, sehingga Mobile-8 dapat melanjutkan ekspansinya.

Direktur Utama Mobile-8 Merza Fachys pernah mengatakan, jika restrukturisasi berhasil, perseroan dapat membukukan break event point (BEP) pada akhir 2009. Perseroan juga menargetkan kenaikan jumlah pelanggan sebanyak 1-1,5 juta menjadi sekitar 4,5 juta hingga akhir tahun ini. Sedangkan per akhir kuartal I-2009, perseroan memiliki 3,2 juta pelanggan Fren dan Hepi.

Head of Economic Research PT Bank International Indonesia Tbk (BII) Juniman mengatakan, bisnis telekomunikasi sebenarnya memiliki prospek yang baik, tapi membutuhkan modal yang kuat. Meski demikian, industri ini masih memiliki ruang untuk berkembang di Indonesia yang penduduknya mencapai 220 juta jiwa.

Beberapa Poin Restrukturisasi Obligasi Mobile-8 yang Disepakati

* Pemegang obligasi meminta penyelesaian obligasi rupiah harus lebih baik dibanding obligasi dolar Mobile-8.

* Perseroan diizinkan menyicil empat kali atau tiga bulanan dalam satu tahun untuk kupon obligasi yang belum dibayar sebesar Rp 41,76 miliar.

* Ketentuan terkait sinking fund dan laba sebelum beban bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) yang harus positif pada 2010.

* Perpanjangan tenor obligasi hingga semester I-2017 dan penurunan bunga menjadi 5% untuk tiga tahun pertama, 8% untuk tiga tahun selanjutnya, dan 12% untuk dua tahun terakhir.
-----------------------------
Catatan : Kalau manajemen tidak menyetujui poin tersebut pada RUPO pada 29 Juni 2009 , obligasi akan dinyatakan gagal bayar (default). Pemegang obligasi bakal meminta eksekusi aset jaminan.
-----------------------------------

Sumber: wawancara
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
16/06/09 15:40
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
BTEL Kaji Konsolidasi dengan Mobile-8
Perseroan belum memperoleh penawaran Mobile-8 terkait rencana menggandeng mitra strategis.
Selasa, 16 Juni 2009, 14:11 WIB
Arinto Tri Wibowo, Nerisa

VIVAnews - PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) masih mempertimbangkan rencana konsolidasi bisnis telepon seluler berbasis code division multiple access (CDMA) dengan PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN).

Meski demikian, perseroan lebih fokus pada pengembangan bisnis secara organik ketimbang anorganik.

"Kami melihat arah konsolidasi akan terjadi, tapi tidak akan gegabah," kata Direktur Utama Bakrie Telecom Anindya N Bakrie pada jumpa pers perusahaan di gedung Mega Plasa, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Selasa 16 Juni 2009.

Anindya menambahkan, pihaknya belum memperoleh penawaran dari Mobile-8 terkait rencana perusahaan itu untuk menggandeng mitra strategis.

Saat ini, dia menjelaskan, Bakrie Telecom masih fokus mengembangkan bisnis telekomunikasi melalui produknya Esia, Wifone, dan Wimode. Apalagi, Bakrie Telecom mencanangkan target penambahan pelanggan menjadi 10,5 juta pada 2009.

Anindya mengungkapkan, berdasarkan hal tersebut, perseroan berupaya mempertimbangkan situasi dan kondisi yang ada, serta akan mengambil kebijakan yang paling tepat terutama dalam rencana konsolidasi. "Jangan sampai kami memilih (perusahaan) yang sakit," ujarnya.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
auliafathya
(Anggota)
17/06/09 13:05
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Wah kalau Rahmat Gobel Jadi beli Mobile-8 dan ngajak Q tel maka akan dilebur jadi Satu dengan Indosat, maka Indosat benar2 Gila, Ijin Seluler GSM punya, Ijin FWA CDMA punya, Ijin Seluler CDMA juga Punya, Ijin SLI punya, Ijin SLJJ punya, maka benar 2 Pesaing PT. Telkom sungguhan...

Dan perlu diingat untuk CDMA nya mereka (kalau jadi nih) akan punya 7 channel Frek. javascript:void(0) Kalau diterapkan maka untuk CDMA nya khususnya EVDO bisa sampai kecepatan inetnya bisa sampai 20 M/sec (kaya di Amerika)

benar 2 bagus nih untuk kita , para Usernya .....
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
17/06/09 14:19
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Bakrie Telecom Belum Berminat Akuisisi Mobile-8
17/06/2009 12:03:03 WIB
JAKARTA, INVESTOR DAILY

PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) tidak berminat mengakuisisi saham PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN). Perseroan lebih tertarik untuk menaikkan pertumbuhan organik melalui pengembangan bisnis yang sudah ada.

Direktur Utama Bakrie Telecom Anindya Bakrie membantah telah membentuk tim kecil untuk mengkaji akuisisi Mobile-8. β€œPerseroan belum berminat untuk mengakuisisi saham Mobile-8. Para pemegang saham Bakrie Telecom juga meminta pertumbuhan anorganik dilaksanakan secara hati-hati,” ujarnya usai rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) perseroan di Jakarta, Selasa (16/6).

Hanya saja, menurut Anindya, perseroan masih mempertimbangkan rencana konsolidasi bisnis telepon seluler berbasis code division multiple access (CDMA) dengan Mobile-8. Konsolidasi tidak akan dilaksanakan secara gegabah. Pihaknya mengakui Mobile-8 belum pernah menawarkan sahamnya kepada perseroan.

Dia menambahkan, pertumbuhan organik direalisasikan melalui pengembangan sejumlah produk, seperti Esia, Wifone, dan Wimode. Perseroan juga akan mendongkrak jumlah pelanggan menjadi 10,5 juta sampai akhir tahun ini.

Guna mengembangkan bisnisnya tahun ini, menurut dia, Bakrie Telecom mengganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun 2008-2010 senilai US$ 600 juta. Dananya berasal dari hasil penerbitan saham baru (rights issue) pada 2008 senilai Rp 3 triliun. Selain itu, pembiayaan capex juga dihimpun dari hasil penjualan 543 menara dan kas internal.

Sebelumnya, Bakrie Telecom telah melepas sebanyak 543 menara telekomunikasi miliknya kepada PT Solusi Tunas Pratama senilai Rp 450 miliar. Perseroan mendapatkan dana bersih senilai Rp 390 miliar. Sisanya, Rp 60 miliar akan diretensi oleh pembeli sebagai dana cadangan untuk perpanjangan masa sewa tanah/gedung yang ditempati menara tersebut selama 10 tahun.

Dia mengatakan, pembayaran penjualan menara dilaksanakan dalam empat tahap. Pembayaran pertaman senilai Rp 140 miliar telah diterima perseroan pada 1 Juni lalu. Selanjutnya, perseroan akan menerima Rp 80 miliar pada 1 Juli, Rp 80 miliar pada 1 Agustus, dan sisanya mencapai Rp 90 miliar pada 1 September 2009.

Anindiya menambahkan, Bakrie Telecom menargetkan pangsa pasar sambungan langsung internasional (SLI) sebesar Rp 1 triliun dalam tiga tahun mendatang. Saat ini, total pangsa pasar SLI di dalam negeri mencapai Rp 3 triliun.

Direktur Keuangan Bakrie Telecom Jastiro Abi mengatakan, SLI diperkirakan mulai berkontribusi terhadap pendapatan perseroan tahun ini, meskipun nilainya kecil. β€œKami memperkirakan kontribusinya SLI mulai besar pada 2010 dan 2011,” tandas dia.

Hingga kuartal I-2009, Bakrie Telecom meraih pertumbuhan pendapatan sebesar 27,51% menjadi Rp 816,097 miliar dengan peningkatan 26,7% menjadi Rp 73,01 miliar. Namun, laba bersih turun 79,18% dari Rp 27,38 miliar menjadi Rp 5,7 miliar. Penurunan laba akibat lonjakan beban keuangan dan rugi kurs.

Perseroan mencatat pendapatan produk Esia pra bayar menjadi kotributor utama terhadap pendapatan konsolidasi Bakrie Telecom setelah bertumbuh 32,45% menjadi Rp 693,39 miliar dibanding periode sama tahun lalu Rp 468,38 miliar. Sedangkan kinerja jasa telekomunikasi lainnya, seperti Esia pasca bayar, Wifone pra bayar dan pasca bayar, Esiatel, Ratelindo reguler, dan Ratelindo wartel justru melemah. (fei)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
17/06/09 14:29
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Bakrie Telecom alokasikan laba untuk modal

JAKARTA: Pemegang saham PT Bakrie Telecom Tbk menyepakati rencana perseroan menggunakan seluruh laba bersih tahun lalu senilai Rp136,8 miliar untuk memperkuat modal kerja.

Direktur Utama Bakrie Telecom Anindya N. Bakrie mengatakan keputusan tersebut sejalan dengan strategi perseroan memenuhi kebutuhan belanja modal senilai US$600 juta untuk periode 2008-2010.

β€œLaba bersih 2008 untuk membiayai operasional dan belanja modal, sehingga tahun ini tidak ada pembagian dividen. Dari kebutuhan US$600 juta, 50% dipenuhi dari rights issue,” tuturnya kepada pers kemarin.

Sebesar 25% kebutuhan belanja modal, lanjutnya, dipenuhi dari penjualan menara dan vendor financing, dan 25% sisanya dipenuhi dari kas perusahaan termasuk pencadangan laba bersih tersebut.

Setiap tahun, lanjutnya, perseroan menganggarkan belanja modal senilai US$200 juta, dan sejauh ini telah membelanjakan modal yang nilainya mencapai US$250 juta-US$300 juta.

Direktur Keuangan Bakrie Telecom Jastiro Abi menambahkan berdasarkan perjanjian jual beli (sales and purchase agreement/SPA) penjualan menara, perseroan meraup dana hingga Rp450 miliar, yakni Rp390 miliar dari nilai penjualan dan sisanya perpanjangan sewa.

β€œTerm pembayaran dilakukan dalam empat tahap dan kami telah menerima pembayaran pertama senilai Rp140 miliar pada Juni 2009. Pembayaran selanjutnya dijadwalkan berlangsung tiga tahap hingga September,” jelasnya.

Pada pembayaran tahap kedua dan ketiga yakni pada Juli dan Agustus, perseroan akan menerima pembayaran masing-masing Rp80 miliar. Nilai pembayaran terakhir pada September sebesar Rp90 miliar.

Sebelumnya, perseroan telah menunjuk PT Solusi Tunas Pratama sebagai pemenang tender penjualan 543 menara. SPA dan Master Lease Agreement (MLA) ditandatangani pada 14 Mei 2009.

Mobile-8

Menanggapi isu upaya konsolidasi perseroan dengan pemain operator seluler berbasis code division multiple access (CDMA) lain yakni PT Mobile-8 Telecom Tbk, Anindya menyatakan belum berminat mengakuisisi perusahaan tersebut.

β€œSaat ini, kami lebih memilih untuk fokus mengembangkan bisnis secara organik, meski ke depan tidak menutup kemungkinan pengembangan bisnis secara anorganik,” tuturnya.

Saat ini, manajemen fokus mengembangkan bisnis telekomunikasi melalui produknya Esia, Wifone, dan Wimode.

Tahun ini, Bakrie Telecom menargetkan jumlah pelanggan 10,5 juta dan tumbuh menjadi 14 juta tahun depan.

Terlebih, perseroan juga memiliki bisnis sambungan internasional yang diharapkan bisa meraup sepertiga pasar sambungan lansung internasional, atau setara dengan Rp1 triliun dalam 3 tahun mendatang.

Oleh Arif Gunawan S.
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
17/06/09 14:35
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Masa depan Mobile-8

Kabar teranyar yang berembus dari lantai bursa adalah rencana Rahmat Gobel membeli saham operator telepon PT Mobile-8 Telecom Tbk. Entah terealisasi atau tidak, dalam aksi tersebut Gobel diperkirakan menggandeng mitranya di Indosat, Qatar Telecom QSC (Qtel).

Bagi Gobel dan Qtel, menguasai operator telepon berbasis code division multiple access (CDMA) itu akan memperkuat cengkeraman mereka di bidang telekomunikasi karena sebelumnya mereka sudah menguasai mayoritas saham Indosat.

Dalam konteks industri, pembelian ini merupakan momentum konsolidasi para pemain di industri tersebut sehingga terjadi penciutan jumlahnya. Dengan demikian diharapkan terjadi kompetisi yang lebih sehat dan tercipta efisiensi dalam pelayanan kepada konsumen.

Di pihak lain, bagi manajemen, karyawan dan investor publik yang memegang saham berkode FREN itu, pembelian oleh investor strategis tentu sangat menggembirakan karena menegaskan kembali prospek perusahaan tersebut.

Sudah sekian lama kinerja perusahaan itu didera persoalan finansial yang serius. Persoalan mengemuka ketika perseroan diketahui mengalami gagal bayar (default) bunga obligasi dari dua emisi, yaitu obligasi rupiah senilai Rp675 miliar dan obligasi dolar US$100 juta. Hingga kemarin, perdagangan sahamnya di lantai bursa untuk sementara dilarang. Nilai saham terakhir bertengger di level Rp50 per saham.

Ketidakmampuan membayar bunga obligasi itu bermula ketika pemegang saham mayoritas Mobile-8, PT Global Mediacom Tbk, menjual 32% saham operator telepon itu kepada Jerash Investment Ltd, perusahaan private equity fund yang berpusat di Dubai.

Divestasi itu membuat kepemilikan Global Mediacom berkurang dari 51% sehingga ada satu klausul dalam penerbitan obligasi yang mesti dipenuhi, yaitu peluang untuk membeli kembali (buyback) surat utang. Dalam kenyataan, perusahaan telepon itu tidak melaksanakan klausul itu dan terjadilah default yang dikhawatirkan memicu gagal bayar silang terhadap obligasi rupiah.

Kesulitan finansial itu juga tecermin dalam kinerjanya. Hingga akhir Maret 2009, perusahaan itu membukukan rugi bersih Rp180,64 miliar, membengkak dari posisi yang sama tahun lalu Rp22,30 miliar.

Dengan kondisi seperti itu Mandiri Sekuritas yang menjadi penasihat keuangan dari 13 investor institusi pemegang obligasi rupiah Mobile-8 mendesak agar penjualan ke investor strategis harus segera dilakukan.

Penjualan ke investor strategis dinilai lebih memungkinkan dibandingkan dengan jalan lain berupa suntikan dari pemegang saham melalui rights issue yang dikombinasikan dengan restrukturisasi utang obligasi rupiah.

Menyadari nilai tambah transaksi ini, baik bagi perseroan, pemegang saham, stakeholders maupun industri telekomunikasi, transaksi tersebut perlu mendapat dukungan yang optimal. Tidak penting pihak mana yang berhasil membelinya, entah Gobel bersama Indosatnya ataupun pihak lain.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
17/06/09 15:05
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Tidak Mencatat Transaksi Derivatif, Bapepam Denda Mobile-8 Rp 100 Juta
Perseroan melanggar ketentuan di bidang akuntansi terkait perlakuan transaksi derivatif.
Rabu, 17 Juni 2009, 14:53 WIB
Arinto Tri Wibowo, Syahid Latif

VIVAnews - Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) memberikan sanksi denda Rp 100 juta kepada PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN).

Perseroan dinilai melanggar ketentuan di bidang akuntansi terkait perlakuan atas transaksi derivatif.

Kepala Biro Perundang-undangan dan Bantuan Hukum Bapepam-LK Robinson Simbolon dalam keterangan persnya menyatakan, laporan keuangan konsolidasi Mobile-8 Telecom per 30 Juni 2008 dan 2007 tidak mencatat adanya transaksi derivatif.

Hal itu dilakukan karena adanya ketidakpastian sebagai akibat dipailitkannya Lehman Brothers Holding Inc di Amerika Serikat yang merupakan induk Lehman Brothers Special Financing (LBSF).

Bapepam-LK menilai perusahaan tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam paragraf 17 Pedoman Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 55 tentang Akuntansi Transaksi Derivatif yang mewajibkan Mobile-8 untuk mengakui seluruh instrumen derivatif dalam laporan posisi keuangan sebagai aktiva atau kewajiban.

Mobile-8, Robinson melanjutkan, juga telah mengakui bahwa seharusnya nilai mark to market (MTM) dari transaksi derivatif per Juni 2008, sehingga hal tersebut diungkapkan pada catatan 48 laporan keuangan konsolidasi Mobile-8 per 30 Juni 2008 dan 2007 sesuai paragraf 59 PSAK 55.

Dengan alasan tersebut, Bapepam mengenakan sanksi administratif kepada Mobile-8 atas pelanggaran Peraturan Bapepam-LK Nomor VIII.G.7 tentang Pedoman Penyajian Laporan Keuangan angka 1 huruf b.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
djuned89
(Penasihat)
17/06/09 16:26
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Quote:
fathya said:
Wah kalau Rahmat Gobel Jadi beli Mobile-8 dan ngajak Q tel maka akan dilebur jadi Satu dengan Indosat, maka Indosat benar2 Gila, Ijin Seluler GSM punya, Ijin FWA CDMA punya, Ijin Seluler CDMA juga Punya, Ijin SLI punya, Ijin SLJJ punya, maka benar 2 Pesaing PT. Telkom sungguhan...

Dan perlu diingat untuk CDMA nya mereka (kalau jadi nih) akan punya 7 channel Frek. javascript:void(0) Kalau diterapkan maka untuk CDMA nya khususnya EVDO bisa sampai kecepatan inetnya bisa sampai 20 M/sec (kaya di Amerika)

benar 2 bagus nih untuk kita , para Usernya .....

hu uh....gw berharap demikian...
malah menurut gw fren nya di gabungin jadi starone aja..
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
18/06/09 02:47
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
nanti motonya jadi ngorbit pake daun
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
persebaya
(Penasihat)
18/06/09 06:39
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
walaupun sudah ngorbit pakai daun yang penting tetaplah hebat dan hemat ...
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
djuned89
(Penasihat)
18/06/09 09:04
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Quote:
R_w1n said:
nanti motonya jadi ngorbit pake daun

hahahahaha....
bisa-bisa aja nih bung erwin
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
20/06/09 10:09
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
16/06/2009 - 14:00
BTEL: Mobile-8 Tidak Sehat
Mosi Retnani Fajarwati

[tautan dihapus], Jakarta - PT Bakrie Telecom (BTEL) masih mempertimbangkan langkah untuk mengakuisisi PT Mobile-8 Telecom (FREN). Walaupun Mobile-8 saat ini sebagai perusahaan yang tidak sehat.

Demikian dikatakan Direktur Utama BTEL, Anindya Bakrie di Mega Plaza Jakarta, Selasa (16/6). "Kita masih fokus ke bisnis dulu, tapi arah konsolidasi akan terjadi," ujarnya.

Anindya menjelaskan hingga kini perseroan yang dipimpinnya masih belum mendapat surat tawaran dari Mobile-8. "Kita belum dapat surat dari mereka (FREN), kita gak neko-neko ya," ujarnya.

Namun, Anindya juga menegaskan perseroan masih akan menelaah langkah tersebut. Sebab, Mobile-8 adalah sebuah perusahaan yang tidak sehat. "Bisnis sedang susah jangan sampai pilih yang sakit, mesti lihat waktu dan tempat jangan sampai serakah nanti kualat," tegas Anin.

Adapun fokus bisnis yang dimaksud adalah pengembangan bisnis agar target pelanggan tercapai sebesar 14 juta tercapai di 2010. "Bukan karena harga, tapi kita pengen fokus. Kita juga belum pernah bertemu dengan manajemen mereka," pungkasnya.

Sebelumnya, BTEL santer dikabarkan akan mengkonsolidasi Mobile-8 untuk memperkuat bisnis CDMA-nya. Namun langkah tersebut terkendala dikabarkan karena harga jual yang terlalu mahal.[mre/hid]
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
Halaman dalam topik ini: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | (tampilkan semua)
πŸ”’ Topik lama, hanya bisa dibaca. Isinya diambil dari forum Forum Ponsel yang dulu: tautan, nomor telepon, dan alamat email sudah disembunyikan. Ingin kiriman ini dihapus atau dikoreksi? Hubungi kami dan sebutkan alamat halaman ini. Ingin membahas topik serupa? Buat topik baru di Forumponsel.
Isi forum adalah pendapat pengirimnya. Kiriman diperiksa sebelum tampil. © Forum Ponsel · Privasi · Syarat · Aturan forum