Home - Komunitas - Panduan - Kontak
Indonesian Gadgeteers
Forum Diskusi:
Main Index | Search | Panduan | Aturan | Kontak  ·  Tanpa registrasi: cukup isi nama
>> Forumponsel
rudyanto08
(Penasihat)
26/08/08 14:40
πŸ™‚ Fren di jual Ke Esia
Baca berita di Bisnis Indonesia hari ini, kelihatannya persaingan yang sangat ketat akan memaksa merger Operator, dan Fren to Esia ini permulaannya ???

Hary Tanoe Lego Fren ke Esia

Tuesday, 26 August 2008 - Selasa, 26/08/2008 - Bisnis Indonesia

JAKARTA: PT Global Mediacom Tbk, secara bertahap, menjual saham anak perusahaannya yang memiliki kegiatan di luar bisnis media.
Salah satu saham anak perusahaan yang akan dilepas adalah PT Mobile-8 Telecom Tbk, penyedia jasa telepon Fren, kepada PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), operator seluler berbasis code division multiple access (CDMA) Esia.
berita selanjutnya

------------------------------------------------------------------------------------------
berita terbaru tentang seluler
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
26/08/08 14:53
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
wow fren sama esia merger ???... tambah mantap aja nih esia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
picolas10
(Penasihat)
26/08/08 16:27
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
smart bubar donk
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
26/08/08 17:41
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Mungkin klo esia sama fren uda gabung ... esia gogo nya uda ga kepake lg
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
belanak
(Penasihat)
26/08/08 17:41
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
merger terus kasih harga lebih murah lagi ,,,,
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
26/08/08 17:54
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Hary Tanoe lego Fren ke Esia

JAKARTA: PT Global Mediacom Tbk, secara bertahap, menjual saham anak perusahaannya yang memiliki kegiatan di luar bisnis media.

Salah satu saham anak perusahaan yang akan dilepas adalah PT Mobile-8 Telecom Tbk, penyedia jasa telepon Fren, kepada PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), operator seluler berbasis code division multiple access (CDMA) Esia.

"Kami mengkaji untuk fokus ke bisnis inti, yaitu media. Anak perusahaan yang di luar bisnis media akan kami lepas," ujar Presiden Grup dan CEO Global Mediacom Tbk Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo kepada Bisnis akhir pekan lalu.

Namun, dia tidak bersedia berkomentar mengenai penjualan saham Mobile-8 kepada Bakrie Telecom.

Sebagai langkah awal divestasi Mo-bile-8, Global Mediacom pada awal bulan ini melepas 15,8% saham-atau 3,19 miliar saham-operator Fren ke pasar pada harga Rp143 per saham dengan nilai Rp457,54 miliar. Dengan demikian, kepemilikan Global Mediacom berkurang dari 66,8% menjadi 51%.

"Tujuan dari transaksi itu adalah memperkuat fokus perseroan di bisnis media," tutur Hary. Namun, dia tidak bersedia menjelaskan mengenai identitas investor yang membeli saham Mobile-8 itu.

Presdir Mobile-8 Wityasmoro Sih Handayanto mengatakan masalah divestasi itu merupakan urusan pemegang saham. "Saya tidak pernah mengetahui rencana itu dan [hal tersebut] tidak ada urusannya dengan direksi."

Segera diumumkan

Sumber Bisnis yang mengetahui transaksi itu menambahkan kelompok Bakrie serius dengan rencana tersebut dan mereka membeli saham itu di pasar. "Mereka sudah bernegosiasi dan tidak lama lagi diumumkan ke publik."

Struktur korporasiGlobal Mediacom per 30 Juni 2008
Media
Media Nusantara Citra 71,4 %
RCTI 100%
Global TV 100%
TPI* 100%
Media Nusantara Informasi 100%
MNI Global 100%
Media Nusantara Citra BV 100%
Cross Media International 99,9%
MNC Internasional Middle East 100%
Star Media Nusantara 70%
Telekomunikasi dan TI
Mobile-8 Telecom 67%
Infokom Elektrindo 100%
Media berbasis pelanggan
MNC Sky Vision
(Indovision) 51%
Sky Vision Networks** 100%
Infrastruktur
Citra Kalimantan Energi 80%
Global Mediacom 100%
Sumber: Materi paparan publik global mediacom, 23 April 2008
Ket : *) dalam proses untuk peningkatan menjadi 100%.
**) Dalam proses stukturrisasi

Bisnis CDMA yang dikembangkan Mobile-8 sama dengan yang dioperasikan oleh BTEL saat ini, sehingga sangat mudah menyatukan keduanya dalam satu entitas bisnis.

Pemilik Grup Bakrie Nirwan Dermawan Bakrie yang ditemui Bisnis kemarin tidak bersedia menjawab soal itu. "Saya tidak bisa menjawab. Tanyakan saja ke Pak Anin [Anindya Novyan Bakrie, Dirut BTEL]," ujarnya.

Ketika dihubungi, Anindya Bakrie belum bersedia menjelaskan transaksi itu lebih jauh.

Namun, eksekutif yang mengetahui transaksi tersebut memastikan BTEL membeli 15,8% saham Mobile-8 itu melalui pasar.

"Keahlian Global Mediacom kan di industri pertelevisian. Persaingan di industri ini luar biasa ketat. Kami butuh fokus," ujarnya.

Selain menjual Mobile-8 kepada Bakrie Telecom, katanya, Mobile-8 juga menjajaki mekanisme merger dengan Bakrie Telecom.

"Kedua operator terbukti mampu melalui masa sulit. Frekuensinya sama 800 Mhz. Fren dan Esia sama-sama bergerak, tapi Esia di CDMA dan Fren di sektor fixed-wireless. Mereka saling melengkapi melalui merger ini dan daya saing mereka pasti meningkat," ujarnya.

Menurut dia, jika merger itu direalisasikan, saham Global Mediacom di Mobile-8 otomatis terdilusi.

Namun, kekuatan aset Mobile-8 dan BTEL akan membentuk perusahaan telekomunikasi baru terbesar keempat di Indonesia. Nilai aset gabungan Mobile-8 dan BTEL bisa mencapai Rp12,6 triliun, dengan perincian 1.500 base transceiver station Fren Rp4,6 triliun dan aset Bakrie Telecom Rp8 triliun.

Sebagai perbandingan, total aset PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Rp85 triliun, PT Indosat Tbk Rp46 triliun, dan PT Excelcomindo Pratama Tbk Rp23 triliun.

Seorang bankir investasi membenarkan BTEL ditawari saham Mobile-8. "Karena operator Fren menyerah. Apalagi persaingan di bisnis seluler semakin ganas." (abraham runga/M. Munir haikal)(sylviana.pravita@[tautan dihapus] wisnu.wijaya@[tautan dihapus])

Oleh Sylviana Pravita R.K.N. & Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
26/08/08 23:19
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Ga sabar pengen liat hasil kolaborasinya ... pleki lewat deh
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
murbei
(Penasihat)
27/08/08 08:49
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
asik asik hidup pleki...eh esia!
untung pake esia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
27/08/08 10:23
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Pemilik Fren dan Esia negosiasi jual beli saham

JAKARTA: Manajemen PT Global Mediacom Tbk menyatakan terjadi pembicaraan mengenai rencana jual beli saham antara pemegang saham PT Mobile-8 Telecom Tbk dan pemilik PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), operator Esia.

"Kalau memang dari pembicaraan itu menghasilkan keputusan yang saling menguntungkan, kenapa tidak. Apakah yang dipilih adalah merger atau penjualan kami tidak mengetahui keputusannya karena Pak Hary [CEO Global Mediacom Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo] yang mengetahui hal itu," ujar Sekretaris Perusahaan Global Mediacom Gilang Iskandar kepada Bisnis kemarin.

Sekretaris Perusahaan Mo-bile-8 Chris Taufik menambahkan rencana penjualan saham itu kemungkinan dibahas di level pemegang saham.

"Yang kami sampaikan kepada Bursa Efek Indonesia adalah dari sisi formalnya, karena rencana itu belum dibahas. Namun, kemungkinan hal itu dibahas di level pemegang saham," ujarnya.

Statistik pelanggan kartu prabayar di RI
Operator Pelanggan Update
Lisensi seluler:
Telkomsel 50.548.000 Juni
Indosat 25.750.628 Maret
XL 22.423.262 Juni
NTS 591.990 Juli
Hutchison CPT (3) 3.209.196 Juni
Mobile-8 Telecom 3.772.079 Juli
Sampoerna TI 405.287 Feb
Smart Telecom 504.330 Juli
Lisensi fixed wireless:
Indosat (StarOne) 677.163 Maret
Telkom (Flexi) 6.690.198 Juli
Bakrie Telecom (Esia) 4.456.663 Maret
Sumber : Laporan terbaru operator ke Ditjen Postel

Pemegang saham emiten penyedia jasa telepon Fren per 31 Juli 2008 adalah Global Mediacom sebanyak total 66,81% saham dan Qualcomm Incorporated 5,01%. Selebihnya 28,18% dipegang oleh publik dengan kepemilikan kurang dari 5%.

Sementara itu, PT Media Nusantara Citra Tbk hadir dalam Indonesia Investor Conference 2008 yang diselenggarakan oleh Citigroup kemarin. Pertemuan itu dihadiri oleh 44 emiten dan manajer investasi asing dan lokal itu.

Presiden Grup dan CEO Global Mediacom Hary yang juga Bos Media Nusantara Citra pun hadir dalam pertemuan itu. Namun, dia belum bersedia menjelaskan secara detail rencana penjualan Mobile-8. "Maaf, saya sedang roadshow."

Hary juga tidak mengatakan apakah roadshow itu terkait dengan penjelasan kinerja semester II Mobile-8 atau membahas rencana divestasi.

Sumber Bisnis menuturkan Hary Tanoe dan rombongannya banyak menerima pertanyaan dari manajer investasi mengenai rencana itu.

"Jadi, intinya adalah meski Bakrie Telecom merupakan investor yang dinilai paling strategis, tetapi tampaknya masih ada kemungkinan bagi investor strategis lainnya. Siapa tahu bisa mendapat nilai yang lebih tinggi dari Bakrie Telecom," ujar sumber itu.

Cabut suspend

BEI berencana mencabut suspend perdagangan saham emiten berkode FREN hari ini. "Bursa mencabut penghentian sementara perdagangan efek Mobile-8 di seluruh pasar pada 27 Agustus 2008," ungkap Kepala Divisi Perdagangan Saham Supandi dalam keterbukaan informasinya, kemarin.

Harga saham BTEL kemarin ditutup pada level Rp280 atau naik 7,69% dibandingkan dengan penutupan perdagangan 25 Agustus 2008, yaitu Rp260.

Heru Sutadi, Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia, mengisyaratkan rencana penerbitan peraturan menteri akan mengatur merger operator telekomunikasi.

Dia memprediksi dengan kompetisi pasar yang semakin ketat dan lebarnya kesenjangan antara operator existing, langkah merger maupun akuisisi tidak mungkin dihindari. (Pudji Lestari/Abraham Runga) (sylviana.pravita@[tautan dihapus]

Oleh Sylviana Pravita R.K.N. & Roni Yunianto
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
27/08/08 10:25
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Menanti kelahiran raksasa bisnis seluler CDMA

Apa bedanya layanan CDMA (code division multiple access) Fren dari PT Mobile-8 dan Esia dari PT Bakrie Telecom?

Kalau pertanyaan itu ditujukan kepada pelanggan seluler, mereka akan menjawab bahwa nomor Fren bisa dibawa ke luar kota secara berpindah-pindah, sedangkan nomor Esia tidak bisa di bawa ke luar kota, kecuali diaktifkan terlebih dahulu.

Kalau pertanyaan itu ditujukan kepada kedua operator itu, maka Mobile-8 akan menjawab Fren merupakan layanan seluler seperti GSM yang jangkauannya sudah meluas di seluruh wilayah Pulau Jawa. Adapun Esia akan mengklaim sebagai layanan telepon rumah yang mobile, karena pesawatnya menggunakan telepon seluler.

Jawaban atas pertanyaan itu semuanya benar. Sekalipun sama-sama mengadopsi teknologi CDMA dan beroperasi pada frekuensi 800 MHz, kedua operator CDMA itu memegang lisensi penyelenggaraan telekomunikasi yang berbeda.

Sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah No.52/200 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi, penyelenggaraan jaringan telekomunikasi terdiri dari dua: penyelenggaraan jaringan tetap dan penyelenggaraan jaringan bergerak.

Mobile-8 menggelar layanan Fren dengan lisensi sebagai penyelenggara jaringan bergerak, sedangkan Bakri Telecom mengantongi lisensi penyelenggaraan jaringan telepon tetap untuk layanan Esia.

Lalu apa bedanya? Toh kedua layanan itu sama-sama menggunakan ponsel, artinya percakapan bisa dilakukan secara begerak.

Memang benar, secara teknologi keduanya pada dasarnya menggunakan pesawat ponsel. Namun, yang membedakan keduanya adalah fitur roaming yang hanya dimiliki pemegang lisensi penyelenggaraan jaringan bergerak. Fitur ini memungkinkan pelanggan untuk berpindah dari satu kota ke kota yang lain cukup dengan menggunakan satu nomor.

Itulah sebabnya nomor Fren-yang menjangkau lebih dari 100 kota atau kabupaten-dapat digunakan secara berpindah-pindah di kota atau kabupaten tersebut tanpa harus melakukan migrasi nomor.

Sebaliknya, Esia sebagai pemegang lisensi penyelenggara jaringan tetap tidak memiliki fasilitas roaming. Itulah sebabnya, nomor Esia-yang layanannya menjangkau sekitar 50 kota/kabupaten-hanya dapat digunakan secara lokal berdasarkan domisili pelanggan.

Memang, Esia saat ini menawarkan fitur layanan Esia GOGO untuk membantu pelanggan bepergian ke kota di dalam jangkauan Esia tanpa mengganti kartu. Namun, fasilitas itu harus diaktifkan sehari sebelum keberangkatan dan hanya bisa digunakan sesampai kota tujuan.

Jadi misalnya Anda dari Jakarta hendak ke Solo, maka nomor Esia Anda akan aktif setibanya di Solo. Kalau misalnya ketika melewati Semarang Anda mencoba menyalakan ponsel, maka ponsel Anda tidak dapat diaktifkan kendati kota Semarang masuk jangkauan layanan Esia.

Berbeda dengan kartu Fren, ketika melintasi kota-kota sepanjang rute perjalanan Jakarta-Solo, Anda tetap bisa berkomunikasi dengan menggunakan nomor Fren.

Dengan melihat perbedaan fitur dari dua penyelenggaraan jaringan yang berbeda tersebut, mana yang menurut Anda paling nyaman untuk digunakan? Tentu saja jawabannya adalah Fren, karena layanannya senyaman layanan seluler GSM (global system for mobile communications) PT Telkomsel, PT Indosat, dan PT Excelcomindo (XL).

Namun, pasar ternyata memberikan respons yang agak menyimpang, karena populasi pelanggan Esia mampu melampaui Fren. Esia mengklaim jumlah pelanggannya mencapai sekitar 4,9 juta nomor hingga akhir kuartal I/2008. Adapun pelanggan Fren hingga akhir 2007 mencapai lebih dari tiga juga.

Dilego ke Esia

Melihat keberhasilan layanan jaringan telepon tetap berbasis ponsel CDMA Esia tersebut, Mobile-8 rupanya tergiur untuk ikutan main di ceruk pasar tersebut dengan meluncurkan layanan CDMA Hepi.

Mobile-8 menargetkan menjaring 600.000 pelanggan dengan target mengelar layanan Hepi di 20 kota.

Belum sempat melihat gebrakan Mobile-8 di ceruk jaringan telepon tetap CDMA tersebut, Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo, pemilik Mobile-8 berniat menjual bisnis telepon CDMA tersebut. PT Global Mediacom Tbk-induk perusahaan Mobile-8-akan melepas 15,8% sahamnya melalui bursa, sehingga kepemilikannya di Mobile-8 tinggal 51%. (Bisnis, 26 Agustus 2008)

CEO Global Mediacom itu tengah melakukan penataan bisnis utuk lebih berkonsentrasi ke bisnis mutlimedia dengan menjual anak usaha di luar bisnis inti tersebut. Salah satunya adalah dengan menjual anak usahanya di bidang telekomunikasi.

Bakrie Telecom disebut-sebut akan membeli 15,8% saham tersebut, bahkan ada wacana kedua operator CDMA itu akan merger. Kalau ini terjadi, peta persaingan bisnis seluler-terutama segmen CDMA-di Tanah Air akan berubah.

Peleburan Fren dan Esia akan menjelma menjadi kekuatan besar, karena memegang lisensi yang lengkap: satu lisensi jaringan bergerak dan dua lisensi jaringan tetap. Raksasa bisnis seluler CDMA akan segera lahir. (sutarno@[tautan dihapus])

Oleh Sutarno
Wartawan Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
Elnino899
(Penasihat)
27/08/08 12:56
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
bukannya dulu juga fren sudah mau dijual .. kalau gak salah ke grup sinarmas ...dan nego tidak jadi .. akhirnya Sinar mas membuat sendiri SMART
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
z0mbi3
(Penasihat)
27/08/08 14:01
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
dulu mobile-8 mungkin lebih mapan pas ditawar Sinar Mas Group...
skrg tiba2 dah gak sanggup, drpd dilepas ke Sinar Mas (yg artinya jilat ludah sendiri...), lebih baik jual ke market leader???

yah pendapat gw sih gitu, who knows what will happen next
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
margopati
(Penasihat)
27/08/08 15:28
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
keren jg Bakrie Telekom, tar produknya jadi satu apa tetep dipisah nih.sama2 CDMA.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
27/08/08 15:39
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Yang pasti ini bakal jadi kerjasama yang saling menguntungkan antar kedua belah pihak
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
1ind
(Penasihat)
27/08/08 16:29
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
great.. paling gak pemiliknya tetep bangsa sendiri.. bkn asing lagi
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
hokwell
(Anggota)
27/08/08 16:30
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
betul dulu sudah hampir deal dengan SinarMas, orang2 SinarMas sudah sempat *audit* di kantor mobile-8, tapi gak jelas apa real reasonnya tau2 gak jadi...

kalo yang sekarang ini, gak tau deh.. kalo share 15.8% yang dijual minggu kemaren itu emang betul dijual oleh Pak HT, tapi belum pasti kalo itu Btel yang beli....
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
adiajack
(Penasihat)
27/08/08 17:11
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Quote:
BEI Cabut Suspen FREN & BBIA

Rabu, 27 Agustus 2008

Jakarta (Indofinanz) - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memutuskan untuk melakukan pencabutan penghentian sementara (suspensi) perdagangan efek PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) di seluruh pasar sejak sesi pertama hari ini atau 27 Agustus 2008. Pencabutan suspensi ini dilakukan setelah manajemen FREN menyatakan pemberitaan yang disampaikan salah satu harian ekonomi nasional tak benar dan menyesatkan.

Tp entah benar, entah tdk, aku sdh beli FREN 2 mgg kemarin.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
r3ndhy
(Penasihat)
27/08/08 23:32
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
ah, cuma 15 persen masih belum menjadikan fren milik btel
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
HajiGaul
(Penasihat)
28/08/08 08:09
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Quote:
R_w1n said:
Mungkin klo esia sama fren uda gabung ... esia gogo nya uda ga kepake lg

tetep beda, satu FWA satu lagi selular ...
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
28/08/08 09:26
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Grup Bakrie incar 25% saham Indosat

JAKARTA: Setelah niat Qatar Telecom Q.S.C. (Qtel) mengakuisisi 85,71% saham PT Indosat Tbk terbentur aturan daftar negatif investasi, Grup Bakrie berniat membeli 25% saham operator seluler terbesar kedua di Indonesia itu.

Pembelian saham Indosat bisa dilaksanakan melalui penawaran tender atau mengumpulkan saham dari pasar. Namun, sejauh ini belum ada kesepakatan secara internal di Grup Bakrie mengenai skema pembelian saham Indosat dan pembiayaannya.

Sumber Bisnis yang mendengar informasi itu mengatakan dengan bersinergi bersama Indosat, anak perusahaan Grup Bakrie yang bergerak di telepon seluler berbasis code division multiple access (CDMA) yaitu PT Bakrie Telecom Tbk, bisa menjangkau area yang telah dilayani oleh Indosat.

"Belum ada kesepakatan mengenai pihak yang ditunjuk untuk membeli Indosat, apakah Bakrie Telecom, Bakrie & Brothers, dan perusahaan yang lain. Banyak alternatif yang bisa ditempuh," ujarnya kemarin.

Estimasi kinerja saham tiga operator telekomunikasi
Operator Target harga
(Rp/saham) P/E inti 2009
(kali)
Bakrie Telecom 270* 12,5
Indosat 6.500 14,6
Mobile-8 90* -
Sumber : Riset CIMB-GK Securities, 26 Agustus.
Keterangan : *) Target sudah terlampaui, P/E (rasio harga saham terhadap laba bersih per saham

Dia menilai akuisisi Indosat lebih menguntungkan bagi Grup Bakrie karena bisa masuk dua segmen telekomunikasi sekaligus yaitu global system for mobile communication (GSM) dan CDMA.

"Grup Bakrie membidik Indosat dengan pertimbangan bisa melakukan sinergi bisnis, misalnya penggunaan menara bersama. Namun, ganjalan rencana itu adalah sumber pendanaan."

Menurut dia, saat ini Grup Bakrie masih mengkaji sumber pendanaan untuk membeli saham sebanyak 25% milik Indosat.

Manajemen Bakrie & Brothers menyatakan secara gamblang keinginannya membeli saham Indosat dalam. Hal itu terungkap dalam riset CIMB-GK Securities per 20 Agustus 2008. Laporan itu mengulas Corporate Day yang digelar oleh CIMB-GK di Bali pada 14-15 Agustus 2008

Bisnis meminta konfirmasi ke Presiden Direktur Bakrie Telecom Anindya Novyan Bakrie, tetapi telepon selulernya tidak bisa dihubungi.

Direktur Bakrie & Brothers Dileep Srivastava ketika dikonfirmasi tidak bersedia berkomentar mengenai rencana Grup Bakrie yang membidik 25% saham Indosat.

Memegang kunci

Satu bankir investasi lokal menambahkan Bakrie Telecom kini memegang kunci dari semua strategi terkait dengan akuisisi PT Mobile-8 Telecom Tbk, operator penyedia jasa layanan telepon Fren, dan rencana pembelian saham Indosat.

"Pembicaraan awal antara pemilik Fren dan Bakrie Telecom merupakan salah satu opsi konsolidasi antar operator CDMA di tengah ganasnya persaingan. Namun, masih ada opsi utama yang tengah digodok Grup Bakrie yakni akuisisi Indosat," ujarnya.

Menurut dia, opsi membeli saham operator seluler Mentari itu merupakan yang utama karena bisa memberikan nilai tambah sangat besar terhadap Bakrie Telecom dan Grup Bakrie secara menyeluruh."Rencana akuisisi Fren merupakan opsi kedua yang dipertimbangkan Grup Bakrie jika gagal masuk Indosat, sehingga negosiasinya masih terlalu dini," tuturnya.

Grup Bakrie, ujarnya, kini menunggu keputusan Mahkamah Agung terkait dengan sengketa antara Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan Singapore Technologies Telemedia.

"Begitu MA memenangkan KPPU, Altimo [perusahaan investasi dari Rusia], siap menjadi mitra Grup Bakrie untuk mengakuisisi saham Indosat," ujarnya.

Meski opsi akuisisi Mobile-8 merupakan strategi kedua Grup Bakrie, harga saham emiten berkode FREN kemarin langsung meroket sejak praperdagangan saham. Lonjakan harga saham Mobile-8 terjadi setelah bursa mencabut suspend saham itu kemarin.

Saham FREN melesat ke level Rp120 setelah naik Rp49 atau 69,01%. Saham emiten itu mencatat nilai transaksi sebesar Rp 50 miliar, atau melompat 100 kali lipat dibandingkan dengan nilai transaksi rata-rata hariannya. Akibatnya sistem perdagangan bursa pun menyetop dengan terpaksa perdagangan saham itu.

Dari sisi volume, ada sebanyak 440,8 juta saham FREN yang diperdagangkan. Harga saham FREN men-cetak level rekornya tahun ini di level Rp260 pada 2 Januari.

Berdasarkan harga penutupan kemarin, Mobile-8 tercatat memiliki kapitalisasi pasar senilai Rp2,43 tri-liun.

Harga saham Bakrie Telecom kemarin ditutup di posisi Rp285 per saham, atau naik 1,79% dari penutupan hari sebelumnya Rp280. Apabila mengacu pada harga tersebut, kapitalisasi pasar mencapai Rp8,11 triliun, dan price to earning ratio (P/E) 36,62 kali.

Secara terpisah, Komisaris Utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Tanri Abeng membantah kabar adanya rencana BUMN itu membeli saham BTEL. (Pudji Lestari) (bambang. jatmiko@[tautan dihapus]

Oleh Bambang P. Jatmiko & Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rudyanto08
(Penasihat)
28/08/08 09:50
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Wah kelihatannya Bakrie paling berpeluang untuk jadi operator besar di Indo juga ya (kalau benar mau ambil saham Indosat ataupun Mobile-8),
mumpung pemilik masih ada di kabinet ?
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
28/08/08 16:15
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Menanti kejutan ekspansi gila2an dari si Bakrie
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
Elnino899
(Penasihat)
29/08/08 08:25
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Tunggu bundling HP Dual CDMA ,.. kayaknya Hapenya belum ada ya yang Dual CDMA...

sepertinya kurang prospek tuh fren ... untuk ijin mobile ..susah melawan GSM ..yang jaringan nya sudah seluruh indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
HajiGaul
(Penasihat)
29/08/08 08:49
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
ada kok HP dual CDMA yang inject, tapi gak bisa hidup barengan ...
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
hopeless
(Penasihat)
30/08/08 08:25
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
trus buat apa mobile 8 ngeluarin hepi?
Ga penting
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
hokwell
(Anggota)
30/08/08 08:54
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
tujuan utamanya pasti ambil indosat, karena buat apa punya dua cdma?
tapi kalo gak dapat, mungkin aja dia beli mobile-8 and di combine dengan Esia dan Hepi nya di kill ??
any comments?
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
murbei
(Penasihat)
30/08/08 09:00
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
ya buat hepi hepinan
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
bm_iqbal
(Penasihat)
30/08/08 09:06
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
kalo operator jadi sedikit khan modal buat beli stock voucher kurangan
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
Elnino899
(Penasihat)
30/08/08 12:24
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
bagusan operator diciutkan ,kualitas ditingkatkan harga diturunkan.. jadi gak bikin pusing ..mestinya cuma 3 operator
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
meylano
(Penasihat)
26/09/08 17:21
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
bakal main kuat sinyalnya.....
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
baiyo
(Anggota)
13/11/08 15:45
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
yang penting Esia bisa jadi Fren yang Hepi dan tetap Smart & Flexible tentunya dalam menghadapi perang tarif ini.. halah! hahahahaha..
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
z0mbi3
(Penasihat)
13/11/08 15:55
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
wah nih thread enaknya digembok, kan udah gak relevan...

wong mobile-8 udah dibeli sama Jerash Investment kok
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
20/11/08 12:10
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Tingkat persaingan industri telekomunikasi dinilai masih wajar. Sehingga belum perlu terjadi merger antar operator.

Demikian pandangan Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar. "Saya rasa persaingan baru sekadar ketat saja, belum sampai taraf berdarah-darah. Belum ada yang mengibarkan bendera putih, itu artinya operator masih untung," kata dia.

"Jadi saya rasa, operator belum saatnya merger karena masih banyak area yang belum terlayani," lanjutnya ketika ditemui di sela Indonesia Berprestasi Award yang diselenggarakan XL di Hotel Kempinski Indonesia, Jakarta, Rabu (19/11/2008).

Pernyataan Basuki itu mengomentari isu merger antara Bakrie Telecom dan Mobile-8 Telecom yang kembali berhembus saat beauty contest tender Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ) tengah digelar.

Menurutnya, kedua operator itu harus bersaing membuka kode akses SLJJ di 50 kota, dimana sedikitnya 15 kota harus dibangun di kawasan Indonesia timur. "Di bawah itu, gugur. Nilai pembangunan di timur bobotnya lebih tinggi," tandas Basuki.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
HajiGaul
(Penasihat)
25/11/08 09:31
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Quote:
R_w1n said:
Mungkin klo esia sama fren uda gabung ... esia gogo nya uda ga kepake lg

tetep aja beda bro ... fren lisensinya selular sedangkan esia lisensinya FWA
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
yepai
(Penasihat)
25/11/08 11:19
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Kayaknya mesti dipisahkan deh merger secara bisnis dengan merger secara operator. Tapi gw sendiri kurang yakin dengan kemampuan finansial bakrie. lha wong kabar yang beredar juga banyak perusahaannya yang merugi atau mau bangkrut terkena krisis global sekarang ini.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
25/11/08 12:10
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Quote:
HajiGaul said:
tetep beda, satu FWA satu lagi selular ...

emang iy
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
25/11/08 12:12
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Quote:
HajiGaul said:
tetep aja beda bro ... fren lisensinya selular sedangkan esia lisensinya FWA

jgn sampe double post, om haji.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
mangsan
(Anggota)
28/11/08 17:41
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Fren..fren, CDMA pertama ko jadi melempem yach

Bravo ESIA
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
29/11/08 07:42
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Quote:
mangsan said:
Fren..fren, CDMA pertama ko jadi melempem yach

Bravo ESIA

Salah, Boss... CDMA pertama itu Flexi, trus yang kedua Esia, baru ketiganya Fren...

Tapi Fren emg CDMA selular pertama...
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
02/12/08 00:37
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Perusahaan telekomunikasi PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) akan menjual 543 menara telekomunikasi yang dimilikinya. Penjualan itu dilakukan beserta prasarana dan sarana pendukung infrastruktur telekomunikasi yang terkait.

Untuk rencana penjualan aset tersebut perseroan akan meminta persetujuan pemegang saham pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 16 Desember 2008. Dalam RUPSLB tersebut perseroan juga akan meminta persetujuan perubahan kegiatan usaha.

BTEL adalah perusahaan telekomunikasi kedua yang melakukan penjualan menara BTS setelah PT Excelcomindo Pratama Tbk (EXCL) yang sedang mempersiapkan penjualan 700 menaranya.

BTEL memiliki lisensi di 900 Mhz dengan merek dagang antara lain Esia. Per 30 September 2008 BTEl memiliki total aset Rp 8,1 triliun. Mayoritas saham BTEL masih dimiliki oleh Bakrie Brothers.

-Detik-
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
02/12/08 11:33
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Kasihan Mobile-8 klo gak segera didownload, sudahlah beli saja...
-----------------------------------------
Mobile-8 Restrukturisasi Utang US$ 100 Juta
02/12/2008 10:17:18 WIB
JAKARTA , Investor Daily

PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) mengajukan proposal restrukturisasi utang obligasi senilai US$ 100 juta kepada DB Trustee Ltd. Perusahaan investasi asal Hong Kong itu menganggap bahwa obligasi perseroan mengalami event of default.

Direktur Mobile-8 Telecom Anthony C Kartawiria menjelaskan, Trustee telah menyampaikan surat kepada perseroan mengenai event of default pada 26 November 2008. Pasalnya, Mobile-8 belum mengajukan penawaran untuk membeli kembali (buyback) obligasi, seiring perubahan kepemilikan saham pengendali dari PT Global Mediacom Tbk (BMTR) ke Jerash Investment.

β€œAtas pendapat Trustee perihal terjadinya event of default, Trustee meminta perseroan untuk mempercepat pembayaran atas seluruh jumlah obligasi selambat-lambatnya 14 hari kerja sejak 26 November 2008,” jelas Anthony dalam penjelasan resminya di Jakarta, Senin (1/12).

Anthony mengatakan, perseroan kini tengah mengkaji secara intensif, termasuk dengan pihak eksternal untuk mencari solusi terbaik untuk penyelesaian utang obligasi US$ 100 juta yang diterbitkan anak usahanya, Mobile-8 Telecom Finance Company BV.

β€œKami sudah sampaikan usulan restrukturisasi utang obligasi kepada Trustee pada 6 dan 18 November 2008. Tapi, perseroan belum menerima tanggapan yang positif dari Trustee,” ungkap dia.

Direktur Mobile-8 Telecom Merza Fachys pernah mengatakan, perseroan siap mencari alternatif pendanaan apabila pemegang obligasi meminta perseroan untuk buyback obligasi. Beberapa opsi pendanaan yang menjadi wacana saat ini adalah penawaran umum terbatas (rights issue), pinjaman bank, atau lembaga keuangan lainnya.

β€œJerash Investment selaku pemegang saham baru juga akan membantu perseroan dalam restrukturisasi utang obligasi ini, namun belum tahu apa bentuknya,” jelas dia.

Belum lama ini, Jerash Investment, investor asal Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), berhasil menguasai 32% saham Mobile-8. Kepemilikan saham PT Global Mediacom Tbk menyusut menjadi 19%. Sisa saham dimiliki KT Freetel Co Ltd Korea sebesar 2% dan publik 41,99%.

Masuknya Jerash Investment sebagai pemegang saham mayoritas Mobile-8 justru direspons negatif oleh berbagai kalangan. Setelah Moody’s Investor Services, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) juga telah menurunkan peringkat perusahaan dan obligasi I-2007 senilai Rp 675 miliar. Peringkat operator seluler itu turun dari BBB+ menjadi BBB-. Peringkat baru tersebut berlaku mulai 21 Oktober 2008-1 Februari 2009.

Selain itu, Pefindo juga menetapkan Mobile-8 dalam status creditwatch dengan implikasi negatif. Sebab, kata Dirut Pefindo Kahlil Rowter, perubahan pemegang saham pengendali menyebabkan pemegang obligasi dolar Mobile-8 berhak meminta pembayaran dalam waktu dekat. β€œKalau itu dipenuhi perseroan, keuangannya tidak akan memadai,” jelas dia.

Namun, kata Kahlil, penurunan peringkat Mobile-8 sebanyak dua level itu tidak mengarah pada tingkat yang berbahaya. Sebab, pada prinsipnya, perseroan mampu membayar obligasi apabila tidak ada perubahan pemegang saham. β€œJadi, sebenarnya tidak perlu khawatir, meski tetap waspada karena ada risiko jangka pendek,” jelas dia. (jau)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
yepai
(Penasihat)
03/12/08 11:26
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Quote:
R_w1n said:
Perusahaan telekomunikasi PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) akan menjual 543 menara telekomunikasi yang dimilikinya. Penjualan itu dilakukan beserta prasarana dan sarana pendukung infrastruktur telekomunikasi yang terkait.

Untuk rencana penjualan aset tersebut perseroan akan meminta persetujuan pemegang saham pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 16 Desember 2008. Dalam RUPSLB tersebut perseroan juga akan meminta persetujuan perubahan kegiatan usaha.

BTEL adalah perusahaan telekomunikasi kedua yang melakukan penjualan menara BTS setelah PT Excelcomindo Pratama Tbk (EXCL) yang sedang mempersiapkan penjualan 700 menaranya.

BTEL memiliki lisensi di 900 Mhz dengan merek dagang antara lain Esia. Per 30 September 2008 BTEl memiliki total aset Rp 8,1 triliun. Mayoritas saham BTEL masih dimiliki oleh Bakrie Brothers.

-Detik-

PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) lagi BU (Butuh Uang) yah ??
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
riantyo
(Penasihat)
03/12/08 16:45
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Bukan butuh uang bro...kalo bisa sewa ngapain memiliki secara biaya maintenace BTS mahal, karena sekarang di wajib kan menara bersama . meminimalisir resiko.. xl aja dah di jual semua bts nya .. biar gak beban maintenace dan tetek bengek yg lain nya... kalo punya 10 BTS gak masalah kalo ratusan ya pusing kali
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
04/12/08 07:44
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Obligasi Mobile-8 berpotensi cross-default

JAKARTA: Kemungkinan gagal bayar (default) PT Mobile-8 Telecom Tbk atas percepatan pembayaran obligasi senior tanpa jaminan US$100 juta bisa memicu gagal bayar silang (cross-default) atas obligasi Rp675 miliar.

Apabila ditotal, operator telepon Fren itu berpotensi gagal bayar Rp1,88 triliun atas seluruh surat utangnya.

Mobile-8 terancam default atas pelunasan lebih awal surat utang dolar karena perusahaan itu gagal melaksanakan penawaran tender terhadap obligasi itu dalam 30 hari setelah terjadi perubahan pengendali perusahaan.

Jerash Investment, special purpose vehicle asal Dubai, kini menguasai 32% saham Mobile-8. PT Global Mediacom Tbk hanya memiliki 19% saham Mobile-8. Global Mediacom melepas sahamnya ke Jerash dengan tujuan agar mempertajam fokus strategi perseroan.

"Pemangkasan peringkat obligasi dolar dari Caa2 menjadi Ca mencerminkan fakta likuiditas Mobile-8 saat ini tidak cukup untuk menutup pelunasan lebih awal, sehingga gagal bayar tidak bisa dihindari. Gagal bayar itu bisa memicu cross-default terhadap obligasi rupiah senior berjaminan," ujar Ivan Palacious, AVP/analis Moody's Investor Services dalam pernyataannya yang dirilis kemarin.

Cross-default adalah penetapan gagal bayar terhadap satu surat utang yang memicu gagal bayar terhadap surat utang lainnya.

Moody's menyoroti kurangnya likuiditas perseroan guna memenuhi kewajiban percepatan pembayaran utang obligasi dan kupon bunga yang belum terbayar dalam waktu 14 hari kerja setelah 26 November 2008.

Direktur Keuangan Mobile-8 Anthony C. Kartawiria mengatakan perseroan saat ini mulai mencari masukan terkait dengan restrukturisasi obligasi rupiah. Tiga solusi yang ditawarkan perseroan kepada sekitar 50 institusi pemegang obligasi itu adalah penundaan jangka waktu pembayaran obligasi, pengurangan nilai kewajiban pembayaran utang, dan konversi obligasi menjadi saham.

"Kalau terjadi default atas obligasi dolar, otomatis obligasi rupiah juga langsung default. Itu ada dalam covenant kami bahwa apabila terjadi gagal bayar terhadap utang apa pun, obligasi rupiah langsung default," tutur Anthony.

Satu pemegang obligasi rupiah Mobile-8 mengatakan investor mendengar adanya potensi cross-default itu. Namun, sejauh ini pembayaran bunga obligasi itu masih lancar. "Kami berharap Mobile-8 tetap membayar bunga dan pokoknya saat jatuh tempo. Kalau dikonversi menjadi saham, kami akan tolak usulan itu," ujarnya.

Hingga akhir September, Moody's menyatakan Mobile-8 mempunyai kas di bank yang dibatasi penggunaannya dan investasi jangka pendek senilai Rp681 miliar. Operator CDMA itu tidak mempunyai fasilitas kredit. Bahkan, pada kuartal IV, arus kas Mobile-8 diperkirakan negatif. Harga saham emiten berkode FREN kini Rp50. (Wisnu Wijaya) (sylviana.pravita@[tautan dihapus])

Oleh Sylviana Pravita R.K.N.
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
10/12/08 23:40
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Mobile-8 Telecom dinyatakan gugur dalam tender Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ). Operator Fren dan Hepi ini gagal memenuhi uang jaminan tender.

"Mobile-8 gugur karena tidak berhasil memenuhi bid bond atau uang jaminan tender sebesar Rp 5 miliar," kata Kepala Pusat Informasi Depkominfo, Gatot S Dewa Broto lewat percakapan telepon, Rabu (10/12/2008).

Alhasil, peserta tender SLJJ hanya menyisakan operator Bakrie Telecom. Tender lisensi ini menggunakan metode penilaian beauty contest.

Mobile-8 mulanya berniat memenangkan lisensi SLJJ untuk mengembangkan produk layanan telepon nirkabel area terbatas Hepi. Namun demikian, operator yang sebagian sahamnya dirumorkan telah beralih tangan ke Bakrie Telecom ini, masih memiliki akses jarak jauh lewat layanan seluler Fren.

-Detik-
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
10/12/08 23:41
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Bakrie Telecom tinggal selangkah lagi memenangkan tender Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ). Pesaing satu-satunya, Mobile-8 Telecom, telah dinyatakan gagal memenuhi persyaratan tender.

Meski operator Esia dan Wifone ini bisa dibilang hampir pasti mendapatkan lisensi SLJJ, namun Bakrie masih harus melewati beberapa seleksi terlebih dulu.

"Belum tentu Bakrie langsung menang. Kami masih memeriksa kesiapan operator ini," ujar Kepala Pusat Informasi Depkominfo, Gatot S Dewa Broto lewat percakapan telepon, Rabu (10/12/2008).

Namun yang pasti, jika Bakrie akhirnya memenangkan lisensi ini, itu artinya mereka berhasil melengkapi lisensi yang diperoleh sebelumnya. Akhir tahun lalu, Bakrie juga berhasil memenangkan lisensi Sambungan Langsung Internasional (SLI).

Lisensi SLJJ jelas sangat diperlukan Bakrie untuk menyalurkan SLI secara langsung kepada pelanggannya tanpa perlu repot-repot menyewa saluran tetap SLJJ operator lain.

Ketika dikonfirmasi, Direktur Bakrie Telecom Rakhmat Junaidi, mengaku belum tahu tentang kegagalan pesaingnya. Ia pun belum mau terlalu optimistis mengingat perusahaan keluarga Bakrie tersebut belum dinyatakan menang oleh pemerintah.

-Detik-
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
11/12/08 08:26
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Bakrie Telecom belum aman di seleksi SLJJ

JAKARTA: Peluang PT Bakrie Telecom Tbk menjadi penggelar jaringan sambungan langsung jarak jauh (SLJJ) ketiga di Indonesia masih akan ditentukan oleh hasil verifikasi dokumen dalam proses seleksi yang tengah berlangsung saat ini.

Rakhmat Junaidi, Direktur Corporate Services PT Bakrie Telecom Tbk, mengatakan pihaknya berharap akan dapat mengikuti proses yang berjalan.

"Secara umum, SLJJ menarik bagi kami yang juga menggelar sambungan langsung internasional," ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Menurut Rakhmat, pihaknya juga berharap dapat membantu program pemerintah. "Ini tantangan bagi semua pihak secara keseluruhan termasuk dalam hal pembukaan kode akses," tegasnya.

Gatot S. Dewa Broto, Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo, menuturkan posisi Bakrie Telecom belum sepenuhnya aman, kendati menjadi peserta tunggal dalam tahapan berikutnya seleksi SLJJ ini, menyusul gugurnya PT Mobile-8 Telecom Tbk dalam seleksi lelang proyek, karena gagal menyerahkan bidbond atau jaminan penawaran sebesar Rp5 miliar tepat pada waktunya.

"Terhadap seluruh dokumen PT Bakrie, tim seleksi sedang melakukan pemeriksaan dan verifikasi kebenarannya, termasuk dengan instansi yang berkompeten lainnya," ujarnya kemarin.

Dalam acara pembukaan dokumen yang dihadiri peserta dan tim seleksi kemarin, PT Bakrie melengkapi seluruh 16 dokumen yang dipersyaratkan. Adapun Mobile-8 tidak melengkapi satu dokumen, yaitu dokumen jaminan penawaran yang menyebabkan operator itu dinyatakan gugur.

Faktor kelengkapan dokumen telah menyebabkan Mobile-8 tidak lolos ke tahapan verifikasi.

Adapun terhadap seluruh dokumen Bakrie Telecom, tim seleksi sedang melakukan pemeriksaan dan verifikasi kebenarannya, termasuk dengan pihak instansi lain yang berkompeten.

Oleh Roni Yunianto & Arif Pitoyo
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
20/12/08 17:53
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Meski pertumbuhan industri telekomunikasi 2009 mendatang diproyeksi akan melambat, namun Bakrie Telecom tetap percaya diri pertumbuhan pelanggannya di atas angka industri. "Kami optimistis meraih 10,5 juta pelanggan di akhir 2009 nanti," kata Dirut Bakrie Telecom Anindya Bakrie.

Menurut Wakil Dirut Bakrie Telecom Bidang Pemasaran, Erik Meijer, target tersebut tumbuh hampir 50%. Hingga akhir 2008 ini pelanggan telepon nirkabel area terbatas Bakrie diperkirakan mencapai 7 juta pelanggan.

"Saya rasa akan lebih dari itu, sebab hingga September saja, pelanggan kami telah lebih dari 6,5 juta," demikian ujarnya.

Sebelumnya, Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) memproyeksikan pertumbuhan pelanggan di industri telekomunikasi melambat, dari tahun ini yang diperkirakan tumbuh 40%, menjadi 20% di 2009 mendatang.

Namun demikian, Erik mengaku tak khawatir, dari perkiraan 240 juta populasi penduduk saat ini, pengguna telekomunikasi yang benar-benar jadi pelanggan diperkirakannya hanya 70-80 juta, bukan 120 juta.

"Perlu diketahui, angka pelanggan ratusan juta itu tidak selalu benar, sebab karakteristik pengguna di Indonesia unik, misalnya, memiliki dua nomor telepon dimana satu GSM seluler, satu lagi CDMA fixed wireless seperti Esia."

"Nah, berhubung pasarnya baru terserap sepertiga, jadi masih banyak peluang untuk meraih pelanggan," tandasnya.

Bakrie sendiri tak akan banyak mengubah aksi pemasarannya di 2009 mendatang. Operator yang tengah menunggu putusan pemenang tender Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ), masih akan menerapkan strategi tarif murah serta bundling ponsel CDMA murah.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
22/12/08 16:23
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Bakrie Telecom Segera Akuisisi Mobile-8
20/12/2008 13:15:27 WIB
Oleh Karidun Pardosi dan Jauhari Mahardhika

JAKARTA, Investor Daily
PT Bakrie Telecom Tbk secepatnya mengakuisisi PT Mobile-8 Telecom Tbk guna memperkuat bisnis telekomunikasi dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada nasabah. Nilai akuisisi ditaksir mencapai Rp 1,47 triliun.

β€œNegosiasi dengan pengendali utama Mobile-8 telah berlangsung lama. Saat ini kami tinggal merampungkan nilai akuisisinya. Kalau kami tidak mengambil alih operator lain, pertumbuhan bisnis sangat terbatas,” kata salah satu petinggi Bakrie Group kepada Investor Daily di Jakarta, Jumat (19/12).

Dia berharap, proses akuisisi bisa rampung tahun depan. Namun, dia belum bersedia menyebutkan nilai akuisisi, karena dalam tahap finalisasi.

Eksekutif PT Global Mediacom Tbk (BMTR) juga mengakui, perseroan siap melepas 19% saham Mobile-8 Telecom (FREN) kepada Bakrie Telecom (BTEL). β€œNegosiasi pembelian saham membutuhkan waktu, sepertinya baru rampung 2009,” ujar dia.

Menurut dia, dengan membeli sisa saham Global Mediacom 19%, Bakrie Telecom bakal menguasai 51% saham Mobile-8 atau menjadi pemegang saham mayoritas. Bahkan, Bakrie Telecom disinyalir telah memiliki 32% saham Mobile-8 melalui Jerash Investment Ltd, special purpose vehicle (SPV) bermarkas di Dubai, Uni Emirat Arab.

Global Mediacom, perusahaan milik Hary Tanoesoedibjo, tengah bernegosiasi intensif dengan keluarga Bakrie terkait harga akuisisi. Dengan asumsi harga penutupan saham FREN Rp 50 per unit kemarin, nilai akuisisi 51% atau 10,32 miliar lembar Mobile-8 diperkirakan mencapai Rp 1,47 triliun.

Global Mediacom awalnya menguasai 51% saham Mobile-8. Namun, pada September 2008, Jerash Investment memborong sahamnya pada harga Rp 143.

Direktur Keuangan Bakrie Telecom Jastiro Abi membantah, perseroan ingin mengambilalih Mobile-8. Sebab, Bakrie Telecom lebih fokus meningkatkan kinerja keuangan melalui organik. β€œKami tidak berencana mengakuisisi saham Mobile-8,” kata dia.

Rencana pengambilalihan Mobile-8 itu cukup mengejutkan di tengah upaya keluarga Bakrie untuk melunasi utang senilai Rp 11, 8 triliun. Bakrie terpaksa gagal bayar (default) atas gadai saham (repurchase agreement/repo) Rp 154,9 miliar kepada Recapital Securities dan Aldira pada Oktober 2008.

Kinerja keuangan dan prospek bisnis anak usaha Bakrie sebenarnya cukup bagus, antara lain PT Bumi Resources Tbk (BUMI), Bakrie Telecom, PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), dan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY). Hal tersebut tercermin dari hasil kinerja keuangan per September 2008 yang masih meraup laba bersih, kendati laba bersih turun.

Namun, gadai saham senilai Rp 11,84 triliun yang dilakukan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) sebagai induk keluarga Bakrie dianggap menjadi pemicu anjloknya harga-harga saham.

Sebagai contoh, laba bersih Bakrie Telecom terus meningkat setiap tahun. Tahun 2006, laba bersih mencapai Rp 73 miliar dan tahun berikutnya melonjak menjadi Rp 144 miliar. Pada September 2008, laba bersihnya tercatat Rp 121 miliar.

Membaiknya kinerja keuangan perseroan kurang diimbangi kenaikan harga saham. Harga saham tertinggi BTEL pernah menembus Rp 410 per unit tahun ini dan terendah Rp 50. Bakrie & Brothers merupakan pemegang saham terbesar saham Bakrie Telecom.

Menurut petinggi itu, Bakrie Telecom dan Mobile-8 sama-sama operator fixed wireless access (FWA) dan memiliki izin lisensi nasional. Artinya, dari segi teknologi dan frekuensi sangat tepat untuk digabungkan. Bakrie Telecom memiliki tiga bandwidth (kanal), sedangkan Mobile-8 empat.

Total pelanggan perseroan tercatat 6,5 juta pada September 2008 dan ditargetkan naik menjadi 7 juta akhir tahun. Jumlah pelanggan diproyeksikan bertambah menjadi 10,5 juta 2009 dan bakal melonjak menjadi 14 juta 2010.

Kapasitas satu kanal mampu menampung sekitar 3 juta pelanggan. Artinya, dengan mengandalkan tiga kanal, lalu lintas Bakrie Telecom sangat padat dan terbatas, sehingga kualitas layanan tidak begitu optimal.

β€œJadi, tidak ada pilihan lain kecuali mengakuisisi operator sejenis, sehingga kanal bertambah. Pasalnya, alokasi kanal bagi operator FWA dari pemerintah sudah habis,” tandas dia.

Total pelanggan Mobil-8 ditargetkan mencapai 6,5 juta hingga akhir 2008.

Dia mengakui, perseroan sangat membutuhkan tambahan kanal baru, sehingga mampu bersaing dengan operator telekomunikasi lain dan lebih leluasa meluncurkan berbagai fitur yang terbaru guna memenuhi kebutuhan pelanggan. Dengan mengandalkan kanal tersedia saat ini, Bakrie Telecom hanya sanggup menyajikan fitur sederhana, antara lain suara dan pesan singkat.

Di tengah ketatnya persaingan jasa telekomunikasi di Indonesia, lanjut dia, perseroan harus sanggup menyediakan fitur-fitur yang canggih, antara lain video on demand, streaming tv, dan kecepatan akses download gambar atau musik.

Tinggal Lisensi

Dihubungi terpisah, Kepala Riset Recapital Securities Poltak Hotradero menilai, rencana akuisisi itu bakal berdampak positif terhadap pengembangan bisnis kedua operator CDMA itu. Penggabungan kedua operator akan mendongkrak pangsa pasar Bakrie Telecom. β€œBahkan, akuisisi itu berpotensi menyaingi dominasi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk,” ujar dia.

Telkom merupakan operator FWA terbesar di dalam negeri lewat Telkom Flexi, dengan jumlah pelanggan lebih dari 10 juta.

Dia mengatakan, banyaknya operator telepon jasa seluler dan CDMA saat ini mengakibatkan persaingan tidak sehat, sehingga sangat diperlukan konsolidasi berupa merger minimal menjadi empat operator.

Menurut Poltak, dengan jumlah utang Mobile 8 yang sangat besar ditambah lagi default emisi obligasi, kehadiran Bakrie Telecom diharapkan dapat menyelamatkan bisnisnya. β€œSekarang Mobile-8 tinggal lisensi saja, harga saham turun drastis dan terjadi gagal bayar penerbitan obligasi,” jelas dia. Nilai gagal bayar surat utang Mobile-8 mencapai US$ 100 juta.

Bakrie Telecom menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) senilai US$ 200 juta 2009. Sebagian besar dana akan dipakai menambah unit base transceiver station (BTS).

Jastiro Abi menjelaskan, belanja modal tahun depan merupakan bagian dari total capex 2008 hingga 2010 yang mencapai US$ 600 juta. Belanja modal tahun depan bersumber dari kombinasi kas, vendor financing, dan hasil penerbitan saham terbatas (rights issue) Rp 3 triliun.

Perseroan telah menggunakan dana hasil rights issue Rp 1,7 triliun, sehingga masih menyimpan dana segar Rp 1,3 triliun.

Buyback Saham Bumi

Sementara itu, pelaksanaan pembelian kembali (buyback) saham Bumi Resources sebesar 17% hingga Februari 2009 terancam batal. Pasalnya, Bumi belum menyetorkan dana buyback saham kepada Recapital Securities sebagai broker pelaksana.

Presdir Recapital Securities Abi Hurairah Mochdie mengakui, perseroan belum berani melaksanakan pembelian kembali saham sebelum dana tersedia. β€œSampai sekarang, dana belum dikucurkan Bumi, sehingga kami tidak mau mengeksekusinya,” kata dia kepada Investor Daily.

Namun, Sekretaris Perusahaan Bumi Resources Dileep Srivasta menegaskan, Recapital tinggal menunggu instruksi untuk memulai buyback saham. Sebab, rencana pembelian kembali saham akan dilaksanakan sesuai jadwal yang disampaikan kepada publik.

Bumi berniat membeli kembali saham guna mencegah kejatuhan harga yang lebih terpuruk lagi. Total dana buyback mencapai Rp 8,25 triliun. Sebagian dana bersumber dari kas, sisanya pinjaman, termasuk rencana penerbitan surat utang jangka pendek (medium term notes/MTN) senilai Rp 6 triliun.

Sebelumnya, otoritas bursa dan pasar modal meminta agar dana buyback 100% berasal dari kas internal, bukan lewat pinjaman. Harga saham BUMI kemarin melemah 2,2% dari Rp 890 menjadi Rp 870 per unit.

Terkait pelunasan utang gadai saham, Abi mengatakan, Bakrie & Brothers berjanji melunasi sisa kewajiban sebesar Rp 134,9 miliar pada 22 Desember mendatang. Dengan menggadaikan 116,67 juta saham UNSP dan 45,95 juta saham BUMI, Recapital memberikan pinjaman Rp 189 miliar kepada Bakrie & Brothers. Sebesar Rp 45 miliar sudah dilunasi, tapi sisanya gagal bayar pada Oktober 2008. (hut/fei)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
22/12/08 17:31
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
wuih mantap deh bakrie
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
22/12/08 19:45
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Setelah pesaing utamanya -- Mobile-8 -- gugur di fase awal, Bakrie Telecom dengan mudah memenangkan tender Sambungan Telepon Jarak Jauh (SLJJ).

Kepala Humas dan Pusat Informasi Depkominfo Gatot S. Dewa Broto mengatakan, dasar hukum penetapan BTel sebagai pemenang tender SLJJ dituangkan lewat surat keputusan Menkominfo nomor 379/Kep/M.Kominfo/12/2008 tertanggal 16 Desember 2008.

"Hanya saja secara prosedural yang berhak mengumumkan kepada pemenang lelang adalah Ketua Seleksi yakni Dirjen Postel. Btel pun baru diberi tahu menang dari surat resmi Dirjen yang dikirimkan hari ini," ujar Gatot kepada detikINET, Senin (22/12/2008).

Jalan yang ditempuh Bakrie untuk memenangkan tender SLJJ memang kurang mendapat tantangan. Pasalnya, Mobile-8 selaku pesaing terkuat gugur karena tidak berhasil memenuhi bid bond atau uang jaminan tender sebesar Rp 5 miliar. Alhasil, BTel pun melenggang kangkung sendirian ke babak selanjutnya tanpa pesaing.

Namun, Gatot menolak jika dikatakan kemenangan Btel ini dipaksakan karena tak adanya pilihan lain. "Kemarin saya bilang saat itu (ketika Mobile 8 gugur-red.) Btel belum sepenuhnya aman. Bisa saja mereka juga gagal," tukasnya

Meski demikian, Gatot juga tak memungkiri gugurnya Mobile-8 di tengah jalan membuat tawaran BTel tak bisa dibandingkan. "Kita juga sebetulnya menginginkan real fight. Tapi jangan lupa, kita juga melakukan evaluasi, kalau ada yang tidak akurat langsung kita cut," pungkasnya.

-Detik-
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
23/12/08 08:13
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Lepas Mobile-8, Mediacom Investasi Rp 1,5 T
22/12/2008 16:29:32 WIB
Oleh Jauhari Mahardhika
JAKARTA, Investor Daily

PT Global Mediacom Tbk (BMTR) bakal menginvestasikan Rp 1,5 triliun untuk menyukseskan peluncuran satelit Indostar II di Kazakhstan tahun depan. Sebagian dana akan dipenuhi dari hasil penjualan 51% saham PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN).

β€œJumlah dana hasil penjualan saham Mobile-8 yang nantinya dialokasikan untuk satelit, masih dihitung. Sebab, Global Mediacom masih negosiasi harga dengan PT Bakrie Telecom Tbk,” kata sumber Investor Daily yang mengetahui transaksi itu di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dia menjelaskan, Global Mediacom akan melepas sisa sahamnya pada Mobile-8 sebesar 19%. Dengan pembelian saham tersebut, kata dia, Bakrie Telecom yang merupakan operator seluler Esia bakal menguasai 51% saham Mobile-8, operator Fren.

β€œJika transaksi itu done, Bakrie Telecom akan menjadi pemegang saham mayoritas Mobile-8,” tegasnya. Saat ini, Bakrie Telecom diduga telah memiliki 32% saham Mobile-8 melalui Jerash Investment Ltd, special purpose vehicle (SPV) yang bermarkas di Dubai, Uni Emirat Arab.

Global Mediacom semula menguasai 51% saham Mobile-8. Namun, pada September 2008, Jerash Investment memborong saham Mobile-8 dengan harga Rp 143 per saham. Jika dengan asumsi harga tersebut, total pembelian 51% atau 10,32 miliar saham Mobile-8 mencapai Rp 1,47 triliun.

Sementara itu, pada penutupan perdagangan pekan lalu, saham Mobile-8 dengan kode FREN stagnan di level Rp 50. Nilai transaksinya sebesar Rp 12,8 juta.

David Fernando Audy, investor relations Global Mediacom, tidak ingin berkomentar ketika dikonfirmasi mengenai negosiasi penjualan saham Mobile-8 kepada Bakrie Telecom.

Dia hanya membenarkan bahwa perseroan membutuhkan modal besar untuk memperkuat bisnis media tahun depan. Salah satunya meluncurkan satelit Indostar II. β€œNilai investasinya minimal sekitar Rp 1,5 triliun,” ujar David.

Investasi untuk satelit itu berasal dari kas internal dan alternatif pendanaan lainnya. Sebelumnya, Global Mediacom mendapatkan komitmen pinjaman senilai US$ 225 juta dari institusi keuangan.

Peluncuran satelit Indostar II di Baikonour, Kazakhstan itu guna meningkatkan layanan pada bisnis televisi berbayar anak Global Mediacom, yaitu PT MNC Skyvision (Indovision). Saat ini, satelit tersebut sedang dibuat oleh Boeing Satellite System di Los Angeles, Amerika Serikat.

β€œDengan satelit Indostar II nantinya, layanan MNC Skyvision bisa ditingkatkan menjadi 500 saluran dibandingkan dengan Indostar I yang kini hanya 52 saluran,” jelas David. Selain itu, perseroan akan menargetkan satu juta pelanggan atau naik 66,6% dari tahun ini sebanyak 600 ribu pelanggan.

Pertumbuhan Organik

Sementara itu, ketika dikonfirmasi mengenai Mobile-8, Presiden Direktur PT Bakrie Telecom Tbk Anindya Bakrie mengatakan, perseroan belum akan mengakuisisi 51% saham operator seluler Fren tersebut. Sebab, Bakrie Telecom masih memfokuskan pertumbuhan usaha secara organik.

β€œSampai sekarang, kami masih fokus pada organic growth dengan meningkatkan kapasitas bandwidth di Pulau Jawa dan Sumatera. Jadi, kami belum akan mengambil alih operator lain,” kata Anindya di sela acara Munas V Kamar Dagang dan Industri (Kadin) 2008 di Jakarta, Minggu (21/12).

Menurut dia, pihaknya harus meningkatkan bandwidth karena jumlah pelanggan tahun depan ditargetkan mencapai 10,5 juta dari sekitar tujuh juta pada akhir 2008.

Sebelumnya, seorang petinggi Grup Bakrie mengatakan kepada Investor Daily, Bakrie Telecom secepatnya mengambil alih Mobile-8 guna menambah kapasitas bandwidth dan memperkuat bisnis telekomunikasi di tengah ketatnya persaingan.

Dia mengatakan, tanpa mengambil alih perusahaan lain, seperti Mobile-8, perseroan sulit berkembang. Padahal, pelanggan menuntut fitur yang canggih dan bukan sekadar suara dan pesan singkat. Saat ini, perseroan hanya memiliki tiga kanal, sedangkan Mobile-8 empat kanal.

Sementara itu, seorang eksekutif Global Mediacom juga membenarkan, perseroan tengah bernegosiasi dengan keluarga Bakrie terkait jual beli saham Mobile-8. β€œNegosiasi ini butuh waktu, sepertinya baru rampung tahun depan,” ujar dia. (nov)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
hopeless
(Penasihat)
23/12/08 08:55
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
wah hebat dunk indovision bs nyampe 500 saluran nantinya
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
23/12/08 13:26
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Sambut Natal 2008, Bakrie Telecom memperluas wilayah cakupan di Sulawesi Utara, khususnya Manado, Tondano, Tomohon dan Airmadidi. Esia membebaskan percakapan telepon sesama pelanggan Bakrie Telecom selama 6 bulan di wilayah itu.

Bersamaan dengan peresmian di Sulawesi Utara, Bakrie Telecom juga meluncurkan produk baru Hape Esia Kasih. Untuk program itu Bakrie Telecom mempersiapkan 10 ribu Hape Kasih dan 20 ribu nomor Esia, Wifone dan Wimode.

Hape Esia Kasih ditawarkan dengan harga Rp 299 ribu (termasuk PPN) plus bonus kirim sms gratis sebanyak 240 ribu karakter. Esia sengaja menggunakan istilah karakter karena tarif sms Esia dihitung Rp 1 per karakter. Bukan atas dasar banyaknya pengiriman sms, seperti operator telekomunikasi lain.

Esia juga akan membebaskan percakapan telepon sesama pelanggan Esia di dalam kota yang sama. Dikarenakan kode area Manado sama dengan Tomohon, Tondano maupun Airmadidi, yaitu 0431 maka percakapan telepon antar pelanggan Esia di ke empat kota tersebut juga akan gratis.

Tarif gratis ini akan diberlakukan hingga masa promosi ini berakhir 6 bulan mendatang atau sampai dengan akhir Juni 2009.

β€œTentu kurang etis jika kami menyuruh masyarakat untuk mencoba tapi masih dibebani biaya percakapan telepon. Karena itu sengaja kami gratiskan dan jika masih ada yang kurang berkenan, silahkan sampaikan,” kata Erik Meijer, Wakil Direktur Utama PT Bakrie Telecom Tbk.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
23/12/08 14:18
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Meski sudah ditetapkan sebagai pemenang tender Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ), posisi Bakrie Telecom belum sepenuhnya aman. Masih ada sejumlah kewajiban yang harus dibereskan operator pemilik produk Esia dan WiFone itu.

Kepala Humas dan Pusat Informasi Depkominfo Gatot S. Dewa Broto mengatakan, BTel masih harus menyerahkan jaminan pelaksanaan (performance bond) kepada menteri yang ditunjuk sebagai jaminan pelaksanaan pembangunan paling lambat tanggal 9 Januari 2009.

"Kalau sampai batas waktu tersebut tak dipenuhi kewajibannya, maka pemerintah akan mencairkan bidbone (jaminan penawaran). Tetapi dengan adanya pencairan itu bukan berarti mereka lepas dari performance bond," imbuh Gatot kepada detikINET.

Nah, jika BTel masih membandel dan sampai batas waktu selanjutnya yakni tanggal 23 Januari 2009, performance bond tidak diserahkan maka izin Prinsip Penyelenggaraan Jaringan Tetap SLJJ tidak diterbitkan.

Selain kewajiban diatas, lanjut Gatot, PR BTel yang juga masih ditunggu adalah memberikan proyeksi kepada pemerintah. Seperti terkait rencana pembangunan jaringan, tarif hingga pengembangan SDM.

"Seperti pengalaman tender SLI, pada satu tahun pertama kita akan melakukan evaluasi untuk mengecek progresnya," pungkasnya.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
26/12/08 17:45
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Bakrie Telecom menjadi operator jaringan tetap ketiga yang memiliki lisensi Sambungan Langsung Internasional (SLI) sekaligus Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ). Sebelumnya, kedua izin layanan tersebut hanya dikuasai incumbent Telkom dan Indosat secara duopoli.

Dengan mengantungi tiga izin lisensi layanan sekaligus, operator Esia dan Wifone ini pun mengaku siap mengawali 2009 dengan menjadi full service network provider.

"Lengkap sudah lisensi yang kami miliki, sekarang waktunya memaksimalkan potensi dan kepercayaan yang kami miliki bagi kepentingan pengembangan usaha di masa depan," kata Anindya Bakrie, pemilik sekaligus Dirut Bakrie Telecom, dalam rilisnya, Rabu (24/12/2008).

Untuk pelaksanaan pembangunan proyek SLJJ, Bakrie Telecom telah menganggarkannya sebagai bagian dari belanja modal di tahun 2009. Belanja modal tersebut adalah sebesar US$ 200 juta.

"Kami akan mensinergikan layanan SLJJ dan sambungan internasional sehingga dapat memberikan keuntungan bagi pelanggan, dalam hal ini tentu saja berupa layanan telekomunikasi yang terjangkau dan berkualitas," sambung Anindya.

Keberhasilan mendapatkan lisensi SLJJ akan semakin memperkuat posisi Bakrie Telecom sebagai operator telekomunikasi nasional. "Kami baru saja membuka layanan di 55 kota baru di Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan dan Sulawesi," tuturnya lagi.

Bakrie mencanangkan target yang cukup agresif dimana pada tahun 2009, target jumlah pelanggan mencapai 10,5 juta dan 14 juta pelanggan di tahun 2010. Di 2008 sendiri, target 7 juta pelanggan sangat besar kemungkinannya untuk terlampaui karena pada kuartal ketiga 2008, Bakrie Telecom telah mencapai 6,5 juta pelanggan.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
10/01/09 14:15
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Sedikitnya, 80 ribu orang Tegal yang tergabung dalam Forum Komunikasi Mahasiswa dan Masyarakat Tegal (Forkommat) akan menjadi pengguna Esia, layanan telepon mobilitas terbatas Bakrie Telecom.

Ini dipastikan setelah kedua belah pihak saling mengikat perjanjian tertulis di Wisma Bakrie II, Jakarta, Jumat (9/1/2008). Nota kesepahaman ditandatangani oleh Direktur Bakrie Telecom Rakhmat Junaidi dan Ketua Forkommat Muhammad Jumadi.

Kerjasama ini jelas disambut hangat pihak Bakrie Telecom mengingat mereka mendapatkan puluhan ribu pelanggan baru tanpa perlu bersusah payah.

"Layanan kami memang menyasar pada komunitas. Kerjasama ini bisa jadi cikal bakal untuk kerjasama komunitas daerah selanjutnya," kata Rakhmat.

Sementara Jumadi menambahkan, pelanggan baru asal Tegal yang bisa disasar Esia bisa lebih dari 80 ribu pelanggan, mengingat angka itu hanya anggota yang terdaftar dalam Forkommat. "Ini belum termasuk keluarganya,"

-Detik-
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
10/01/09 14:17
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Bakrie Telecom mengaku tak sabar ingin segera menggelar layanan SLI dan SLJJ. Meski telah lulus uji laik operasi, mereka harus sabar sedikit karena izin penyelenggaraan belum diterbitkan pemerintah.

Direktur Bakrie Telecom Rakhmat Junaidi menuturkan pihaknya telah berhasil memperoleh sertifikat lulus ULO untuk akses sambungan langsung internasional (SLI) saluran jernih.

"Setelah ULO berhasil didapat, kini tinggal menunggu izin penyelenggaraan. Mungkin Februari sudah bisa jalan," kata Rakhmat di Wisma Bakrie II, Jakarta (9/1/2008).

Untuk menyelenggarakan sambungan SLI, Btel menganggarkan US$ 25 juta untuk pembangunan lima tahun. Di tahun 2009 ini, operator Esia ini akan membangun dua sentral gerbang internasional SLI di Batam dan Jakarta.

Btel berharap bisa menyelenggarakan SLI saluran jernih kepada pelanggannya dengan tarif yang lebih terjangkau. Namun, layanan SLI masih mahal jika operator ini masih terkendala biaya terminasi sambungan jarak jauh (SLJJ) lewat operator lain.

Untungnya, Btel berhasil memeroleh lisensi SLJJ lewat beauty contest. Sehingga, kanal saluran SLI bisa dibawa sendiri tanpa harus membayar interkoneksi dengan operator lain.

"Penghematan dari sini bisa kami pastikan sangat signifikan. Ini investasi besar bagi kami," kata Rakhmat tanpa mau menyebut jumlah penghematan biaya yang dimaksud.

Namun, SLJJ Btel juga masih harus menunggu keluarnya izin prinsip sebelum kemudian ULO dan mendapatkan izin penyelenggaraan.

"23 Januari ini kita akan dapat izin prinsip, baru setelah itu izin penyelenggaraan. Kami inginnya secepat mungkin izin bisa keluar," tandas Rakhmat.

-Detik-
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
13/01/09 17:39
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
AKUISISI BUMI TERUS DIPERSOALKAN, Sinar Mas Jual 6,2% Saham Bakrie Telecom 13/01/2009 17:17:41 WIB
Oleh Jauhari Mahardhika dan Deviana Chuo

JAKARTA , Investor Daily
PT Sinar Mas Sekuritas telah menjual 6,2% saham PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), yang sempat dibeli pada November 2008. Penjualan saham operator seluler Esia itu dinilai wajar, karena tujuannya untuk investasi.

Berdasarkan laporan biro administrasi efek PT Ficomindo Buana Registrar, kemarin, PT Sinar Mas Sekuritas tidak tercantum lagi sebagai pemegang 5% saham atau lebih Bakrie Telecom sejak 30 Desember 2008. Sementara itu, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menguasai 22,54% saham, sedangkan Credit Suisse Cabang Singapura s/a Long Haul Holdings Ltd-BTEL masih memiliki 8,08%.

Sebelumnya, dalam laporan per 28 November 2008, PT Sinar Mas Sekuritas tercatat sebagai pemegang 6,2% saham Bakrie Telecom. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) 22,43% dan Credit Suisse Cabang Singapura s/a Long Haul Holdings Ltd-BTEL 8,08%.

Ketika dikonfirmasi, Dirut Sinar Mas Sekuritas Kokaryadi Chandra tidak bersedia berkomentar. Seorang asistennya berkata, β€œPak Kokaryadi tidak bisa diganggu dulu.”

Di lain pihak, Direktur Bakrie Telecom Rakhmat Junaidi mengatakan, pihaknya sangat terbuka bagi investor yang ingin membeli dan menjual saham Bakrie Telecom. β€œJadi, bebas saja apabila ada perusahaan yang keluar masuk untuk investasi,” jelas dia.

Berdasarkan data Investor Daily, harga rata-rata saham Bakrie Telecom selama Desember 2008 sebesar Rp 51. Sedangkan harga tertinggi sempat di level Rp 53 dan terendah Rp 50.

Namun, harga tersebut lebih rendah dibandingkan November 2008, atau periode pembelian saham Bakrie Telecom oleh Sinar Mas Sekuritas. Ketika itu, harga rata-rata mencapai Rp 58 dengan harga tertinggi Rp 72 dan terendah Rp 50.

Analis PT Panin Sekuritas Purwoko Sartono mengatakan, prospek sektor telekomunikasi yang saat ini digeluti Bakrie Telecom sebenarnya masih menjanjikan. Sejak dua bulan terakhir, harga BTEL cenderung flat pada level Rp 50-an. β€œHal itu lebih disebabkan sentimen negatif terhadap Grup Bakrie,” ujar dia.

Berdasarkan analisis, kata Purwoko, saat ini merupakan waktu yang tepat membeli BTEL untuk investasi jangka panjang. β€œHarga BTEL yang tidak bergerak dari level Rp 50 membuat saham itu tidak dalam posisi jual,” tuturnya.

Bumi Resources
Sementara itu, polemik mengenai aksi korporasi PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terus berlanjut. Kali ini, Badan pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) meminta penjelasan lebih rinci dari perusahaan milik Grup Bakrie itu terkait akuisisi tiga perusahaan, yaitu PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Fajar Bumi Sakti, dan PT Pendopo Energi Batubara.

Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany menegaskan, manajemen Bumi Resources harus membuktikan bahwa akuisisi ketiga perusahaan senilai Rp 6 triliun itu bukan transaksi material dan tidak mengandung benturan kepentingan, seperti yang diungkapkan sebelumnya.

β€œSelama ini, manajemen Bumi telah melakukan transaksi tanpa meminta persetujuan Bapepam. Karena itu, kami meminta penjelasan apakah benar transaksi itu tidak material dan tidak mengandung benturan kepentingan,” kata Fuad.

Fuad mengakui, pihaknya belum dapat memberikan penilaian dan pernyataan atas transaksi Bumi. Namun, kata dia, Bapepam sendiri juga akan memeriksa transaksi itu.

Di tempat terpisah, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga akan memanggil manajemen Bumi Resources. β€œKami akan memanggil Bumi Resources, setelah surat yang kami layangkan dijawab oleh mereka,” ujar Dirut BEI Erry Firmansyah. (c123)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
14/01/09 09:35
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Uji TV digital swasta dimulai
Telkom & Mobile-8 garap pasar mobile TV

JAKARTA: Dua konsorsium yang masing-masing beranggotakan operator PT Telkom Tbk dan PT Mobile-8 Telecom Tbk mulai menggelar uji coba layanan televisi melalui jaringan seluler atau mobile TV bersamaan dengan uji coba siaran televisi digital.

Freddy Tulung, Dirjen Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi Depkominfo, menuturkan kedua konsorsium tersebut akan menggelar uji coba mobile TV bersamaan dengan uji coba siaran TV digital.

"Kedua konsorsium nantinya bisa mengajukan izin penyelenggaraan, mereka punya privilege terutama karena telah menggelar uji coba," ujarnya kepada Bis-nis belum lama ini.

Menurut Freddy, konsorsium tersebut baru mengantongi izin sementara yang berlaku 9 bulan dan dapat di-per-panjang sampai 1 tahun untuk masa uji coba.

Dalam periode Januari-Maret, Depkominfo bersama konsorsium siaran TV digital dan mobile TV akan menguji coba peralatan.

"Jika semua lancar, pada September 2009 izin siaran digital mobile TV dan izin siaran digital bebas langganan [free to air] lembaga penyiaran bisa ter-bit."

PT Telkom Tbk bergabung bersama PT Telkomsel dan PT Indonusa Telemedia (TelkomVision) dalam konsorsium Grup Telkom.

Adapun konsorsium Tren Mobile TV diperkuat oleh sejumlah perusahaan di antaranya PT Mobile-8 Telecom Tbk dengan stasiun televisi di bawah PT Media Nusantara Citra Tbk (MNC).

Mobile-8 merupakan grup Global Mediacom Tbk yang menjadi anak usaha MNC yang mempunyai kepemilikan di stasiun RCTI, TPI dan Global TV.

Kedua konsorsium penggelar uji coba televisi digital bergerak itu tahun lalu lolos seleksi penyelenggaraan uji coba yang diminati enam konsorsium.

Depkominfo telah meminta mereka mengajukan alokasi frekuensi akhir November 2008.

Menurut penilaian Depkominfo bersama Departemen Perindustrian dan Badan Pengkajian Penerapan Teknologi, kedua konsorsium mewakili grup perusahaan yang siap dari sisi kompetensi layanan ber-gerak digital, basis teknologi serta sum-ber daya manusia untuk uji coba.

Dukungan handset

Sukaca Purwokardjono, Division Head Fren Product Marketing PT Mobile-8 Telecom Tbk, menuturkan melalui langkah itu pihaknya akan melanjutkan eks-plo-ra-si layanan mobile TV yang telah dirintis pertama kali melalui layanan TV Mobi pa-da 2006.

"Ketika itu, kualitas digital layanan ini belum banyak direspons pasar karena hand-set belum banyak , kami akan eksplorasi ini agar bernilai plus di sisi konsumen," ujarnya kepada Bisnis.

Sebelumnya, Alcatel-Lucent Indonesia memperkirakan layanan siaran TV bergerak di Indonesia akan masif selama ada kerja sama antara stasiun siaran TV dan operator 3G.

Data PT Alcatel-Lucent Indonesia menyebutkan kesuksesan layanan mobile TV sangat terkait dengan ketersediaan handset yang jaringan distribusinya dapat didukung operator. Peran stasiun TV sebagai pendorong layanan mobile TV juga besar. (roni.yunianto@[tautan dihapus])

Pada mobile TV, dikenal standar DVB-H atau Digital Video Broadcasting-Hand-held, yaitu standar untuk siaran televisi digital terrestrial untuk peranti genggam yang menggunakan pemancar terrestrial untuk pengiriman layanan.

DVB-SH atau Digital Video Broadcasting-Satelite Handheld merupakan evolusi dari DVB-H yang dapat menggunakan metode pengiriman layanan melalui satelit, pemancar terrestrial ataupun kombinasi dari keduanya (hybrid).

DVB-H hanya bekerja pada pita frekuensi band di 174MHz-230MHz sampai dengan 1400MHz-1500MHz. Sementara DVB-SH dapat bekerja pada pita frekuensi 174MHz-230MHz sampai 3GHz.

Aplikasi penyiaran di jaringan seluler diperkirakan lebih dimungkinkan digelar dengan teknologi radio yang memiliki efisiensi spektrum yang lebih besar, misalnya high speed packet access plus (HSPA +), WiMax, atau long term evolution (LTE). (roni.yunianto@[tautan dihapus])

Oleh Roni Yunianto
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
31/01/09 09:42
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Sori, thread ini gue naikin lagi. Emg proses akuisisi M8 ini cukup menarik untuk disimak...
---------------------------
BHAKTI SECURITIES TANGANI RIGHTS ISSUE, Investor Timteng Minati Saham Mobile-8
Oleh Eva Fitriani
JAKARTA , Investor Daily

Tiga perusahaan investasi dari Timur Tengah telah menyatakan minatnya untuk membeli saham PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN). Ketiga investor tersebut akan menjadi pemegang saham baru melalui penawaran umum terbatas (rights issue).

β€œKami telah berbicara dengan tiga investor timur tengah dan mereka telah menyatakan minatnya untuk memiliki saham Mobile-8,” kata Dirut Mobile-8 Telecom Wityasmoro Sih Handayanto di sela peluncuran kartu perdana perseroan di Jakarta, Kamis (29/1).

Wityasmoro mengatakan, pihaknya sudah meminta persetujuan pemegang saham mayoritas mengenai rencana masuknya pemegang saham baru dengan skema rights issue. Pihaknya juga telah menunjuk PT Bhakti Securities untuk menangani penerbitan saham baru tersebut.

Hingga 30 Desember 2008, Jerash Investment, special purpose vehicle (SPV) berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab, menguasai 32% saham Mobile-8. PT Global Mediacom Tbk (BMTR) memiliki 19% saham, UOB Kay Hian Pte Ltd 13,29%, PT Bhakti Asset Management 7,28%, dan Qualcomm Incorporated 5,01%. Sedangkan sisa saham sebesar 23,42% dimiliki publik.

Ketika ditanya mengenai target dana dari hasil rights issue, Wityasmoro enggan menyebutkannya. Sebab, kata dia, rencana tersebut masih dalam penjajakan. Tahun lalu, perseroan berniat rights issue untuk meraup dana sebesar Rp 2 triliun. Namun, hingga kini, aksi korporasi itu tertunda akibat krisis keuangan global.

Direktur Mobile-8 Merza Fachys menambahkan, pihaknya tidak mungkin menargetkan kembali dana hasil rights issue sebesar Rp 2 triliun. Pasalnya, harga saham perseroan dengan kode FREN sudah turun drastis. Pada perdagangan kemarin, FREN masih stagnan di level Rp 50.

β€œMeksi demikian, rencana rights issue kemungkinan kami lakukan tahun ini untuk memenuhi modal kerja dan investasi,” ujar Wityasmoro. Tahun ini, Mobile-8 mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) di bawah US$ 100 juta atau lebih rendah dibandingkan capex 2008 sebesar US$ 140 juta.

Mengenai PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) yang juga berencana mengakuisisi saham perseroan, Wityasmoro hanya mengatakan bahwa hal itu merupakan urusan pemegang saham. Sebelumnya, seorang eksekutif Global Mediacom mengungkapkan, pihaknya akan melepas 19% saham Mobile-8 kepada Bakrie Telecom.

Global Mediacom yang merupakan perusahaan milik pengusaha Hary Tanoesoedibjo itu tengah bernegosiasi secara intensif dengan keluarga Bakrie terkait harga akuisisi Mobile-8. β€œNegosiasi pembelian saham Mobile-8 ini membutuhkan waktu, sepertinya akan selesai pertengahan 2009,” ujar sumber itu. Dia pun mengungkapkan, Bakrie Telecom nantinya bakal menguasai mayoritas saham Mobile-8.

Namun, di tengah kabar pembelian saham itu, Mobile-8 menyatakan gagal bayar obligasi senilai US$ 100 juta. Saat ini, DB Trustee Pte Ltd selaku wali amanat, telah mengajukan gugatan terhadap Mobile-8 di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Tak Capai Target
Sementara itu, mengenai kinerja Mobile-8 tahun lalu, Wityasmoro mengaku belum bisa mengungkapkannya, karena masih diaudit. Dia hanya mengatakan, pendapatan perseroan hingga akhir 2008 tidak mencapai target. Pasalnya, persaingan harga antar perusahaan telekomunikasi sangat ketat.

Hingga September 2008, pendapatan usaha perseroan Rp 610,76 miliar atau turun 2,48% dibandingkan periode sama 2007 sebesar Rp 626,3 miliar. Melonjaknya beban usaha sebesar 48,73% menjadi Rp 763,76 miliar mengakibatkan rugi bersih Rp 275,29 miliar. Padahal, pada periode sama 2007, Mobile-8 mampu meraih laba Rp 55 miliar.

β€œNamun, tahun ini, kami optimistis bisa mencapai target pertumbuhan pendapatan sebesar 10-20%,” ujar Wityasmoro. Sementara itu, jumlah pelanggan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar lima-enam juta dari tahun lalu yang masih di bawah empat juta pelanggan.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
12/03/09 09:50
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
RUMOR PASAR Investor Daily 12 Maret 2009
12/03/2009 07:52:47 WIB

Asing Buru Saham Mobile-8
Pemodal bisa mencermati saham PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) karena dikabarkan sejumlah investor akan memburu sahamnya dalam jangka pendek maupun menengah. Menurut berita pasar yang didengar sumber Investor Daily, perusahaan telekomunikasi asal Swiss dikabarkan berniat mengakuisisi saham Mobile-8.

Siapa lagi yang berminat dengan Mobile-8???
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
12/03/09 10:57
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
wah rame jg yg minat sama mobile-8
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
19/03/09 01:50
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
SLI Bakrie Telecom Terganjal Interkoneksi

Peluncuran komersial akses sambungan langsung internasional (SLI) milik PT Bakrie Telecom Tbk terganjal pembukaan interkoneksi oleh operator SLI existing.

VP Intercarrier PT Bakrie Telecom Tbk Hery Nugroho mengungkapkan interkoneksi memang sampai saat ini belum dibuka oleh operator SLI lainnya dan pihaknya masih terus mengusahakannya.

β€œAda beberapa persoalan teknis yang memerlukan waktu terutama pada proses set-up di lapangan,” ujarnya kepada Bisnis, kemarin.

Ketika disinggung kemungkinan belum dibukanya interkoneksi tersebut karena Bakrie Telecom akan menerapkan tarif yang lebih murah dari operator lainnya, mantan anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) itu tidak secara tegas membantahnya.

β€œOperator lain minta agar tarif promosi hanya diterapkan dengan pola yang berbeda dengan tarif SLI existing,” katanya.

Dahulu, penyelenggara SLI hanya dilaksanakan oleh Indosat dengan nomor pendek 001. Namun, adanya kebijakan duopoli telekomunikasi saluran tetap antara Telkom dan Indosat yang dimulai pada Agustus 2002 menjadikan Telkom yang semula hanya bermain dalam telekomunikasi domestik pun segera mendapat lisensi sebagai penyelenggara SLI dengan nomor pendek 007.

Pada 2007, Indosat juga pernah mempermasalahkan penutupan interkoneksi SLI oleh Telkom di telepon rumah dan wartel namun dapat diselesaikan dengan baik oleh BRTI.

VP Marketing and Corporate Communication PT Telkom Tbk Eddy Kurnia menegaskan tidak benar jika disebut Telkom telah mempersulit pembukaan interkoneksi SLI Bakrie Telecom.

β€œPembukaan interkoneksi berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku dan berdasarkan perjanjian kerja sama yang disepakati,” ujarnya.

Direktur Marketing Indosat Guntur S. Siboro mengungkapkan pihaknya akan membuka interkoneksi dengan Bakrie Telecom apabila operator tersebut sudah meluncurkannya secara komersial.

-Bisnis-
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
20/03/09 08:44
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Mobile-8 hentikan ekspansi jaringan

JAKARTA ([tautan dihapus]): PT Mobile-8 Telecom Tbk menghentikan ekspansi pembangunan jaringan telekomunikasi seluler dan fixed wireless access (FWA) secara nasional dan hanya menambah kapasitas di area kongesti.

Direktur Layanan Korporasi Merza Fachys mengatakan kegiatan perluasan jaringan hanya dilakukan untuk mengatasi wilayah yang sudah padat kapasitasnya.

"Kongesti artinya beban jaringan Mobile-8 sudah mendekati 80%. Wilayah yang terkena kongesti biasanya terjadi di kota-kota besar dan padat penduduknya," ujarnya kepada Bisnis, kemarin.

Berdasarkan laporan keuangan per September 2008, kas dan setara kas Mobile-8 merosot secara signifikan menjadi Rp160,17 miliar dari posisi akhir September 2007 sebesar Rp652,49 miliar.

Mobile-8 membukukan rugi bersih Rp275,29 miliar per September 2008 dibandingkan dengan laba bersih per September 2007 Rp55 miliar.

Rugi bersih itu terjadi karena lonjakan beban usaha. Pendapatan bersih operator itu per September tahun ini Rp610,76 miliar dibandingkan dengan per September tahun lalu Rp626,31 miliar.

Mobile-8 akan memprioritaskan belanja modal tahun ini untuk meningkatkan kapasitas cakupan wilayah layanan yang sudah ada dibandingkan dengan agresif melakukan ekspansi.

Jaringan milik operator tersebut telah mencakup seluruh Jawa, Bali, Sumatra, dan sebagian di Kalimantan dan Sulawesi. Saat ini base transceiver station (BTS) sudah 1.500-2.000 unit.

Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) akan mengawasi secara lebih ketat kinerja dari PT Mobile-8 Telecom Tbk (Mobile-8) setelah perusahaan tersebut terbelit masalah obligasi dalam rupiah dan dolar AS belum lama ini.

Pada pertengahan tahun lalu, operator tersebut mengalokasikan belanja modal sekitar US$200 juta untuk mengembangkan jaringannya secara nasional.

Sekjen Indonesia Telecommunication User Group (Idtug) Mohammad Jumadi mengatakan frekuensi yang kurang optimal digunakan sebaiknya diserahkan ke operator lain saja. (Fita Indah Maulani)

Oleh Arif Pitoyo
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
citayam
(Anggota)
22/03/09 19:33
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Hem.....Flexi Merger sama siapa yah

peluang bisnis klik
[tautan dihapus]
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
23/03/09 00:00
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
jah ujung2nya jualan
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
taufic05
(Newbie)
23/03/09 17:25
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Hi semuanya... salam kenal.. baru jadi anggota forum ne..

Btw, ada info up date lagi ngga ttg rencana Mobile-8 yang mau di akuisisi sama Bakrie Tel?

Konon ada rumor yang bilang kalo Mobile-8 jg mau di akuisisi sama Sampoerna Tel (ceria), bener ga tuh??

thank you atas informasinya teman2..
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
23/03/09 23:05
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Quote:
uncleT said:
Hi semuanya... salam kenal.. baru jadi anggota forum ne..

Btw, ada info up date lagi ngga ttg rencana Mobile-8 yang mau di akuisisi sama Bakrie Tel?

Konon ada rumor yang bilang kalo Mobile-8 jg mau di akuisisi sama Sampoerna Tel (ceria), bener ga tuh??

thank you atas informasinya teman2..

Welcome to the jungle eh FP

Msl Kabar Mobile-8 mau diakuisisi uda dr dulu sih wacananya cuma ya gitu2 aja sebatas wacana doang sampe skrg, ga ada kelanjutan beritanya lg sampe skrg.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
24/03/09 07:07
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Tambahan: kabarnya Telkom juga ikutan bursa juragan barunya Mobile-8... Ada yang ga rela kalo BTEL ambil alih...
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
djuned89
(Penasihat)
24/03/09 08:12
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
iya salam kenal juga...

HmMm...M-8 jd rebuTan niH...

-- Posted from my Mobile phone
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
AGNI_POWER
(Penasihat)
25/03/09 15:13
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
kok xl ga ikutan?kan blm pny bisnis cdma?biar tmbh rame n lgkp

-- Posted from my Mobile phone
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
26/03/09 00:02
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Quote:
Undergrounder said:
kok xl ga ikutan?kan blm pny bisnis cdma?biar tmbh rame n lgkp

-- Posted from my Mobile phone

XL ga tertarik utk maen di CDMA ...
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
31/03/09 08:21
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Bakrie Telecom siap buka SLI April

JAKARTA: PT Bakrie Telecom Tbk siap bersaing dengan operator SLI eksisting dalam penyediaan layanan sambungan langsung internasional (SLI) seiring dengan rencana komersialisasinya bulan depan.

Hery Nugroho, VP Intercarrier PT Bakrie Telecom Tbk, mengungkapkan pihaknya tetap optimistis dengan penjualan SLI, meski sudah ada dua operator eksisting besar yang bermain di segmen telepon internasional itu.

"Sepanjang harganya murah dan kualitas bagus, pasti akan dicari konsumen," tuturnya kepada Bisnis, baru-baru ini.

Dahulu, penyelenggara SLI hanya dilaksanakan oleh Indosat dengan nomor pendek 001. Namun, adanya kebijakan duopoli telekomunikasi saluran tetap antara Telkom dan Indosat yang dimulai pada Agustus 2002 menjadikan Telkom yang semula hanya bermain dalam telekomunikasi domestik pun segera mendapat lisensi sebagai penyelenggara SLI dengan nomor pendek 007.

Pada 2007, Indosat juga pernah mempermasalahkan penutupan interkoneksi SLI oleh Telkom di telepon rumah dan wartel, tetapi dapat diselesaikan dengan baik oleh BRTI.

PT Bakrie Telecom sendiri dipastikan menjadi penyelenggara SLI setelah memenangkan tender pada 17 September 2007. Operator tersebut berkomitmen akan meluncurkan layanannya secara komersial pada April, mundur dari rencana semula Februari dengan nomor pendek 009.

Untuk menyelenggarakan sambungan SLI, Btel menganggarkan US$25 juta untuk pembangunan lima tahun. Pada tahun ini, operator Esia ini akan membangun dua sentral gerbang internasional SLI di Batam dan Jakarta.

Hery melanjutkan penyelenggara jasa SLI bisa menjual layanannya ke semua pelanggan operator mana saja, dengan catatan hak dan kewajiban interkoneksi yang jelas.

"Bahwa interkoneksi itu kewajiban, itu memang mutlak. Jadi, Btel tetap optimistis dengan jualan SLI-nya, sepanjang harga murah dan kualitas bagus pasti akan dicari konsumen," tuturnya.

Kendala interkoneksi

Sejak pemberian izin prinsip SLI pada akhir Januari tahun ini, PT Bakrie Telecom Tbk masih terkendala pembukaan interkoneksi dari operator eksisting yaitu Telkom dan Indosat.

Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah mengungkapkan tak ada alasan bagi Telkom untuk menutup interkoneksi SLI dengan Bakrie Telecom.

"Pelanggan Grup Telkom sangat besar, mencakup sekitar 90 juta orang, sementara pelanggan Btel hanya sekitar 7 juta, sehingga bukan merupakan pesaing kami," ujarnya belum lama ini.

Menurut dia, apabila interkoneksi SLI dengan Btel dibuka, yang untung besar justru Telkom sendiri.

Menanggapi hal itu, Hery mengatakan akses sambungan langsung internasional merupakan jasa teleponi dasar jadi tidak bergantung pada jaringan atau besarnya jumlah pelanggan.

Hingga akhir tahun lalu, jumlah pelanggan PT Bakrie Telecom adalah mencapai 7,3 juta orang.

Oleh Arif Pitoyo
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
31/03/09 15:07
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
moga2 aja tarif yg ditawarkan dari esia, murah utk SLI nya jg
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
01/04/09 08:33
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Minimal segini yang harus "ditutup" BTEL, jika pengen terus beli M-8...
-------------------------------------------------
Rugi bersih Mobile-8 capai Rp1,06 triliun

JAKARTA: PT Mobile-8 Telecom Tbk membukukan rugi bersih Rp1,06 triliun per 31 Desember 2008 terkait dengan besarnya nilai beban bunga utang perseroan yang mencapai Rp367,25 miliar.

Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik menjelaskan perseroan belum menargetkan besarnya pendapatan dan laba bersih pada tahun ini.

"Kami sedang melaksanakan restrukturisasi utang dan menjajaki injeksi dana dari sejumlah investor, setelah itu kami menentukan target perseroan. Kami menunggu hasil restrukturisasi utang dan injeksi dana itu dulu," ujarnya kemarin.

Chris menuturkan jumlah suntikan dana yang dibutuhkan dan investor yang berminat sedang dibahas di level pemegang saham mayoritas, yaitu Jerash Investment Ltd dan PT Global Mediacom Tbk.

Selanjutnya, Chris memaparkan anjloknya kinerja perseroan pada tahun lalu disebabkan oleh tingginya beban bunga perseroan. Beban bunga itu merupakan konsekuensi dari utang perseroan pada 2007.

"Selain itu, juga akibat rugi kurs, rugi derivatif, dan peningkatan utang perseroan pada 2008."

Beban usaha perseroan per 31 Desember 2008 menembus Rp1,13 triliun atau melonjak 59,21% dari periode yang sama pada 2007 senilai Rp712,81 miliar.

Rasio peningkatan beban usaha perseroan itu tercatat lebih besar dari pertumbuhan pendapatan. Dampaknya, perseroan membukukan rugi usaha Rp403,05 miliar.

Padahal, tahun sebelumnya perseroan membukukan laba usaha Rp169,72 miliar.

Pos beban lain-lain juga melonjak 586% menjadi Rp775,44 miliar dibandingkan dengan periode yang sama pada 2007, yaitu Rp112,88 miliar.

Lonjakan pos beban lain-lain itu, terutama disebabkan oleh adanya kerugian derivatif mencapai Rp142 miliar, beban bunga Rp367,25 miliar, dan rugi kurs mencapai Rp182,76 miliar.

Oleh Sylviana Pravita R.K.N.
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
08/04/09 07:27
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Mobile-8 putuskan tak bayar bunga obligasi
Penempatan investasi melalui Bhakti melonjak 200%

JAKARTA: Manajemen PT Mobile-8 Telecom Tbk akhirnya memutuskan tidak membayar bunga obligasi Rp20,88 miliar yang seharusnya jatuh tempo pada 15 Maret setelah diberi waktu 14 hari oleh wali amanat hingga 7 April.

Operator telepon berbasis code division multiple access (CDMA) itu tidak melunasi kewajibannya karena kini dalam proses restrukturisasi dengan kreditur.

"Sesuai dengan perjanjian perwaliamanatan, wali amanat akan mengumumkan mengenai bunga obligasi itu di surat kabar yang akan disusul dengan panggilan pelaksanaan rapat umum pemegang obligasi [RUPO]," ujar Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik ketika dihubungi Bisnis kemarin.

Sejak menerima surat dari Wali amanat, Mobile-8 diberi waktu 14 hari untuk melunasi pembayaran bunga obligasi.

Berdasarkan laporan keuangan, operator telepon itu hanya mempunyai kas dan setara kas pada akhir Desember tahun lalu sebesar Rp23,73 miliar, tergerus hebat 97,2% dibandingkan dengan kas dan setara kas pada akhir 2007 sebesar Rp852,67 miliar. Di sisi lain, utang usaha Mobile-8 pada tahun lalu jumlahnya mencapai Rp579,25 miliar dan utang lainnya Rp160,40 miliar.

"Dari sisi arus kas, kondisi Mobile-8 cukup berat, sehingga kami mengutamakan pencadangan dana untuk membiayai operasional perusahaan. Itu kondisi riil perseroan," tuturnya.

Menurut dia, kondisi arus kas itu sebelumnya diantisipasi oleh manajemen Mobile-8 melalui negosiasi restrukturisasi utang dengan pemegang obligasi. Namun, hasilnya tidak secepat yang diharapkan.

Mobile-8 juga masih dibebani oleh surat utang senilai total Rp1,73 triliun yang terdiri dari obligasi rupiah Rp675 miliar yang jatuh tempo pada 2012 dan obligasi US$100 juta yang jatuh tempo pada 2013.

Selain menunggak pembayaran bunga obligasi rupiah, operator CDMA itu belum melunasi bunga obligasi dolar sebesar US$5,63 juta yang jatuh tempo pada 1 Maret 2009. "Itu karena kami dan pemegang obligasi dolar dalam proses hukum di pengadilan," ujar Chris.

Investasi jangka pendek

Meski kas dan setara kasnya hanya Rp23,73 miliar, investasi jangka pendek Mobile-8 tahun lalu justru bertambah 45,66% dari Rp198,38 miliar pada 2007 menjadi Rp288,98 miliar pada akhir tahun lalu.

Satu pemegang obligasi menambahkan kas dan setara kas Mobile-8 tergerus drastis, tetapi kreditur harus melihat juga lonjakan jumlah penempatan investasi. "Dari pos investasi pada surat berharga itu, seharusnya bisa diketahui dana yang masih dimiliki oleh Mobile-8," katanya.

Penempatan investasi terbesar Mobile-8 melalui PT Bhakti Asset Management, perusahaan terafiliasi, senilai Rp200,65 miliar pada tahun lalu, melonjak 200% dibandingkan dengan nilai penempatan pada 2007 sebesar Rp66,84 miliar.

Mobile-8 menempatkan investasi lainnya melalui TDM Aset Manajemen dan Clariden Leu Ltd. Jumlah penghasilan atas investasi itu mencapai Rp32,85 miliar pada 2008.

Pada bulan lalu, Mobile-8 mencairkan seluruh investasinya pada Clariden, sedangkan investasi pada Lehman Liquidity Fund ditarik pada Maret tahun lalu.

Pemegang obligasi itu menambahkan Mobile-8 bisa menarik investasi jangka pendek yang ditempatkan pada Bhakti Asset Management untuk melunasi bunga obligasi Rp20 miliar.

Namun, Chris mengatakan sebagian dana investasi itu telah digunakan oleh Mobile-8. "Kami dalam proses pembicaraan dengan vendor terkait dengan pembayaran tagihan, ada yang dibayar bertahap dan periode jatuh temponya diubah," ujarnya.

Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) akan memutuskan sanksi kasus laporan keuangan Mobile-8 pekan depan. "Baru akan dirapatkan pekan depan ," ujar Kepala Biro Perundang-undangan dan Bantuan Hukum Bapepam-LK Robinson Simbolon.

Mobile 8 diindikasikan melanggar aturan karena tidak memasukkan kerugian transaksi derivatif perusahaan pada laporan keuangan perusahaan. (21) (wisnu.wijaya@[tautan dihapus])

Oleh Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
08/04/09 07:30
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Mobile-8 tunggu restrukturisasi
Default obligasi ciptakan ketidakpastian bisnis

Dalam iklan, PT Mobile-8 Telecom Tbk boleh memakai ungkapan 'bayar pake daun'. Namun, dalam kenyataan tidak demikian. Kegagalan perseroan membayar obligasinya senilai total Rp1,73 triliun berbuntut panjang.

Krisis finansial yang berimbas terhadap depresiasi kurs sepanjang tahun lalu sebesar 17% mau tidak mau membuat operator seluler ini menghadapi kenaikan nilai utangnya yang berbasis dolar.

Akibatnya, perusahaan layanan CDMA (code-division multiple access) tersebut menanggung beban obligasi US$100 juta yang jatuh tempo pada 2013 dan obligasi rupiah Rp675 miliar yang berjatuh tempo 2012.

Sampai sekarang, mereka menunggak pembayaran bunga yang dijadwalkan pada 16 Maret sebesar Rp20,88 miliar, serta pembayaran bunga obligasi dolar sebesar US$5,63 juta pada 1 Maret 2009.

PT Pemeringkat Efek Indonesia telah menyatakan obligasi I/2007 senilai Rp675 miliar gagal bayar, sehingga peringkat utang Mobile-8 turun ke level idD dari idCCC, dan peringkat emiten anjlok dari idSD (selective default) menjadi idD (default).

Analis Pefindo Niken Indriarsih dan Vonny Widjaja menjelaskan penurunan peringkat itu mencerminkan gagal bayarnya kupon obligasi senilai Rp20,88 miliar.

"Pada saat bersamaan, kami menarik peringkat perseroan dari status pengawasan kredit dengan implikasi negatif," tutur Niken pada hari yang sama ketika Mobile-8 gagal membayar kupon obligasi.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pun membekukan perdagangan obligasi emiten berkode saham FREN tersebut sejak Maret lalu. Sahamnya di pasar pun mentok di harga terendah Rp50 per unit.

Melihat perkembangan tersebut, analis PT CIMB-GK Securities Indonesia Kelvin Goh menilai persoalan obligasi tersebut membuat bisnis Mobile-8 berada di ambang ketidakpastian.

"Kami akan menghentikan pantauan atas Mobile-8 karena kami percaya kelanjutan bisnisnya di ambang ketidakpastian," tuturnya dalam laporan riset per 12 Maret.

Sebelumnya, CIMB-GK memberikan peringkat underperform saham perseroan berkode FREN. Berdasarkan metode arus kas diskonto (DCF), mereka menetapkan target harga Rp90 per saham yang merefleksikan biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) sebesar 18%.

Default silang

Kelvin menilai kegagalan bayar Mobile-8 atas surat utang senior tanpa jaminan senilai US$100 juta bisa memicu gagal bayar silang terhadap obligasi lainnya yang berjaminan senilai Rp675 miliar.

Perseroan gagal mempercepat pembayaran obligasi dolarnya setelah gagal melaksanakan penawaran tender (tender offer) atas obligasi tersebut dalam jangka waktu 30 hari sejak Global Mediacom menjual kepemilikannya di Mobile-8 dari 38,6% menjadi 19%.

Kelvin menilai wajar jika pemegang saham obligasi berdenominasi dolar itu mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat untuk menahan aset-aset perseroan.

Per September 2008, perseroan memiliki kas Rp223 miliar dengan beban utang mencapai Rp2,76 triliun. Mereka mau tidak mau harus memangkas belanja modalnya menjadi minimum.

"Untuk membiayai kembali obligasi, upaya menambah utang atau ekuitas yang merupakan langkah problematis pada kondisi sekarang, makin dipersulit dengan kondisi fundamental perseroan yang buruk," tutur Kelvin.

Jerash Investment Ltd dan PT Global Mediacom Tbk, pemegang saham mayoritas Mobile-8 Telecom, sejauh ini mengkaji rencana pelepasan saham Mobile-8 kepada investor strategis.

"Ada dua hal yang akan kami laksanakan, yaitu restrukturisasi utang dan menjajaki injeksi dana dari sejumlah investor. Skema injeksi dana itu memang tidak menutup kemungkinan melalui masuknya pemodal baru di level pemegang saham," tutur Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik (Bisnis, 2 April).

Komposisi ketat

Di luar faktor obligasi, CIMB-GK menyoroti ketatnya kompetisi bisnis CDMA yang makin memojokkan posisi Mobile-8. Produk Flexi sebagai pemimpin pasar saat ini berani menawarkan telepon gratis bagi pelanggannya di Jakarta, dan PT Bakrie Telecom Tbk menawarkan telepon gratis bagi pelanggan di Jawa Timur.

"Dengan status Mobile-8 sebagai operator penuh layanan seluler, pelanggannya bisa tergiur beralih ke operator dengan mobilitas terbatas karena telepon CDMA mereka bisa dipakai untuk layanan mobilitas terbatas lainnya," tuturnya.

Terakhir, penurunan drastis tarif layanan GSM (global system for mobile communication) menghilangkan kemampuan Mobile-8 untuk membuat produknya berbeda dari layanan lain dan mempersulit pengembangan waralabanya.

Pendapatan triwulan III/2008 anjlok 31% secara triwulanan dibandingkan dengan kontraksi di Telkomsel yang hanya sebesar 1% dan pertumbuhan Bakrie Telecom sebesar 18,5%. Basis pelanggan merosot 13% secara triwulanan menjadi tiga juta pada triwulan III/2008, dan tidak berubah pada triwulan IV.

Rata-rata pendapatan per pelanggan (average revenue per user/ARPU) secara campuran menurun dari Rp28.000 pada triwulan II/2008 menjadi sekitar Rp20.000 pada akhir 2008, dan hanya tersisa Rp18.000 per pelanggan pada awal tahun ini.

Dalam laporan keuangan per 2008, Mobile-8 membukukan rugi bersih Rp1,06 triliun karena besarnya beban bunga utang perseroan yang menembus Rp367,25 miliar. Pada 2007, perusahaan itu masih membukukan laba bersih Rp50,34 miliar. (arif.gunawan@[tautan dihapus])

Oleh Arif Gunawan S.
Wartawan Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
editopan
(Penasihat)
09/04/09 01:30
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
gelo.. udeah deh fren di ambil alih smart aja..
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
10/04/09 05:38
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Pertanda pemerintah persiapkan kemungkinan akuisisi operator tahun ini??
-------------------------------------
Kepmen Konsolidasi Operator Terbit Sebelum Ganti Kabinet
09/04/2009 12:31:16 WIB
Oleh Rizagana dan Encep Saepudin
JAKARTA, INVESTOR DAILY

Pemerintah dan BRTI tengah menyiapkan regulasi yang memungkinkan operator telekomunikasi melakukan konsolidasi dengan banyak pilihan. Saat ini, konsolidasi hanya dimungkinkan dengan mempertahankan salah satu perusahaan lama. Aturan baru itu diharapkan hadir sebelum pergantian kabinet baru.

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengatakan, banyak kasus akuisisi dan merger di antara operator telekomunikasi yang telah terjadi. Penggabungan PT Indosat dengan PT Satelindo beberapa waktu lalu yang mempertahankan PT Indosat sebagai survival company adalah salah satu contoh.

β€œAkuisisi atau merger menjadi masalah bila melahirkan nama baru. Misalnya, perusahaan A dan perusahaan B bergabung menjadi perusahaan C. Yang begini belum ada aturannya,” kata Heru kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (6/4).

Ketua Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Merza Fachys mengatakan, sejatinya tidak hanya merger Indosat dan Satelindo yang sudah terjadi, tetapi juga terjadi pada PT Smart Telecom yang merupakan hasil merger antara Primasel dengan PT Wireless Indonesia (WIN, anak perusahaan Sinar Mas).

β€œBahkan, Mobile-8 juga merupakan hasil merger dengan tiga perusahaan lainnya,” kata Merza, yang juga direktur PT Mobile-8 Telecom.

Pada Mei 2007, Ditjen Bapepam dan Lembaga Keuangan Departemen Keuangan meresmikan merger PT Mobile- 8 Telecom Tbk (Mobile-8) dengan tiga anak usahanya, PT Komunikasi Selular Indonesia (Komselindo), PT Metro Selular Nusantara (Metrosel), dan PT Telekomindo Selular Raya (Telesera). Tiga anak perusahaannya itu melebur ke PT Mobile-8 Telecom.

Menurut Merza, dengan kasus-kasus itu, sebenarnya tidak ada masalah bagi operator telekomunikasi untuk melakukan konsolidasi, baik merger maupun akuisisi. Ia malah mempertanyakan tentang aturan yang melarang pemindahtanganan lisensi dan frekuensi dalam bisnis telekomunikasi.

β€œJadi, kalau faktanya sudah ada yang merger dan melakukan akuisisi, itu kan pengalihan lisensi. Karena itu, pengalihan lisensi yang bagaimana yang tidak boleh?” kata Merza.

Sebelumnya, Dirjen Postel Depkominfo Basuki Yusuf Iskandar mengatakan, dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 53/2000 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit, pasal 25, pengalihan lisensi telekomunikasi tidak boleh. Namun, untuk pemindahtanganan frekuensi diperkenankan sepanjang mendapat izin dari Menteri.

Pada Pasal 25 PP No 53/2000 tersebut disebutkan, (1) pemegang alokasi frekuensi radio tidak dapat mengalihkan alokasi frekuensi radio yang telah diperolehnya kepada pihak lain. Pada ayat (2) disebutkan, izin stasiun radio tidak dapat dialihkan kepada pihak lain kecuali ada persetujuan dari Menteri.

Oleh karena itu, lanjut dia, pemerintah kini tengah mengodok revisi aturan itu untuk memfasilitasi konsolidasi antar-operator di dalam negeri. β€œKalau mempersiapkan aturannya secara utuh dan baru, saya kira akan memakan waktu panjang. Untuk itu, kami hanya akan lakukan adjustment sehingga memenuhi keinginan konsolidasi,” kata Basuki.

Hanya saja, lanjut Basuki, penyesuaian itu sedang digodok untuk menghindari peluang percaloan dalam hal perizinan. Oleh karena itu, pemerintah dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) tengah menggodok kriteria-kriterianya dalam rangka mempersempit ruang bagi percaloan lisensi. β€œSaya belum berani ngomong tentang kriteria itu karena masih dalam kajian,” kata Basuki.

Menurut Heru, kriteria merger yang memungkinkan lahirnya perusahaan baru, menurut Heru, masih dibahas dengan melibatkan instansi lain, seperti Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Peraturan setingkat keputusan menteri (Kepmen) ini dijanjikan sudah disetujui sebelum Kabinet Indonesia Bersatu demisioner.

Keputusan menteri ini, ujar dia, mendesak untuk disahkan untuk menjadi payung hukum konsolidasi. Saat ini, kompetisi antaroperator makin sengit. Persaingan ini akan meminggirkan operator yang kondisinya kepayahan. Pada akhirnya, mereka harus bergabung agar kinerjanya tetap baik. ***
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
14/04/09 10:40
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Telkom akan beli M8 ato BTEL??
--------------------------------------------------------------------
Telkom, Kian Mantap di Tengah Krisis
14/04/2009 08:10:16 WIB
Oleh Myrna Agata Riyanto

Genderang perang yang ditabuh para operator telekomunikasi di Tanah Air tak segegap-gempita dulu lagi. Konon, era perang tarif dalam bisnis β€˜halo-halo’ segera berakhir. Tentu saja PT Telkom Tbk (TLKM) masih menjadi jawaranya. Bagaimana dengan harga saham TLKM?

Tak bisa disangkal, industri telekomunikasi masih merupakan sektor usaha yang paling menggiurkan di negeri ini. Lihat saja PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Tbk. Sekalipun ekonomi sedang lesu darah, emiten bersandi saham TLKM itu masih agresif berekspansi.

Untuk membiayai ekspansinya, Telkom sedang mencari pinjaman US$ 500 juta. Utang tersebut bakal digunakan untuk menutup anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini sebesar Rp 20-22 triliun. Sekitar 50-60% capex Telkom dibiayai dari kas internal, sedangkan sisanya dari pinjaman perbankan.

β€œMeminjam dari bank adalah opsi yang paling memungkinkan. Kalau menerbitkan obligasi, apalagi dalam bentuk dolar AS, bunganya tinggi,” ujar analis PT Ciptadana Securities Syaiful Adrian.

Dibanding pesaing-pesaingnya, capex Telkom memang tergolong β€˜aduhai’. Tapi itu wajar lantaran Telkom sedang gencar-gencarnya berekspansi, terutama pada bisnis seluler.

Untuk bisnis seluler, Telkom mengalokasikan Rp 14-15 triliun dari total capex. Melalui divisi bisnisnya, Telkom Flexi, Telkom juga sedang berancang-ancang mengakuisisi operator code division multiple access (CDMA).

Krisis memang belum bisa diprediksi kapan berakhir. Toh, laba bersih Telkom tahun ini kemungkinan masih naik. Tahun lalu, Telkom mencatatkan laba bersih Rp 13,7 triliun. Tahun ini, laba bersih Telkom diprediksi naik tipis menjadi Rp 14 triliun. Pada 2009, Telkom juga diperkirakan masih mampu membukukan pendapatan Rp 75 triliun, dibanding Rp 66 triliun pada 2008.

Laba bersih Telkom terpangkas lantaran tahun lalu terjadi perang tarif yang amat sengit. Apalagi sejumlah operator pesaing Telkom, seperti Excelcomindo, kelebihan kapasitas, sehingga mereka menurunkan harga untuk memperoleh pangsa pasar.

Tahun ini, perang tarif diprediksi berakhir. β€œPangsa pasar telekomunikasi sudah hampir penuh semua. Makanya, para operator tak akan berebut pasar lagi,” tutur Syaiful Adrian.

Dalam hitungan analis Ciptadana Securities tersebut, debt to equity ratio (DER) Telkom tahun ini bakal meningkat dari sekitar 40% menjadi 44%. β€œItu terjadi karena utang Telkom sebagian besar dalam bentuk dolar AS. Saat ini kan rupiah melemah,” ucap Syaiful yang memperkirakan price to earning ratio (PER) Telkom tahun ini berkisar 9 kali dengan price to book value (PBV) 3,5 kali.

Masih Khawatir

Dalam beberapa hari terakhir, saham TLKM terkoreksi. Tapi pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (13/4), saham TLKM ditutup menguat menjadi Rp 7.400 dibanding sebelumnya Rp 6.900. Saham TLKM ditransaksikan dengan volume 36.713.500 senilai Rp 267,9 miliar dan frekeunsi 2.514 kali.

Sebetulnya, pola saham Telkom menunjukkan tren peningkatan (up trend) sejak Oktober 2008. β€œPola baru pergerakan saham TLKM akan menunjukkan penurunan serius bila harganya turun menjadi Rp 6.700,” papar analis BNI Securities Muhammad Al Fatih.

Dalam ancar-ancar Al Fatih, level support TLKM berada pada harga Rp 6.950–Rp 6.700, sedangkan level resistance-nya pada level Rp 7.650–Rp 7.900.

Kenapa harga TLKM belum menggeliat signifikan? Rupanya, sebagian investor masih mengkhawatirkan pelemahan ekonomi. Itu sebabnya, sekalipun Telkom gencar berekspansi, harga TLKM belum naik secara konsisten.

β€œMasih bermunculannya berita-berita negatif tentang perekonomian Amerika Serikat (AS) turut memengaruhi pergerakan harga saham Telkom,” ujar Alfatih.

Dalam jangka pendek, Al Fatih merekomendasikan hold sahamTLKM dengan catatan, pada level support harus dilihat apakah akan terjadi penurunan ataukah harga TLKM tertahan pada level keseimbangan baru. β€œInvestor Telkom boleh bersiap-siap time to buy apabila terjadi rebound di atas Rp 6.700,” tuturnya.

Hanya saja, bila TLKM sudah menyentuh Rp 6.700, investor harus berhati-hati. Soalnya, bila TLKM sudah tembus Rp 6.700, berarti saatnya investor menjual (sell) sebelum harganya turun lebih dalam lagi. β€œDalam jangka menengah, kemungkinan terjadi penurunan bila harga TLKM sudah berada di bawah level tersebut,” kata Al Fatih.

Lain Al Fatih, lain pula David Cornelis. Analis saham ini menyarankan investor jangka panjang membeli saham TLKM. Alasannya, Telkom merupakan perusahaan bermodal besar. Neraca keuangannya pun masih oke. Apalagi TLKM tergolong saham blue chips alias saham unggulan yang kerap menjadi penggerak indeks harga saham gabungan (IHSG). Pokoknya, β€œTLKM dapat dijadikan saham pilihan untuk dikoleksi dalam jangka panjang,” tandas David.

TIPS TLKM

Fundamental (2008)
Laba bersih: Rp 13,7 triliun
Pendapatan: Rp 66 triliun

Prediksi (2009)
Laba bersih: Rp 14 triliun
Pendapatan: Rp 75 triliun

Teknikal
Level support: Rp 6.950 – Rp 6.700,
Level resistance: Rp 7.650 – Rp 7.900

Rekomendasi
Jangka pendek dan menengah: hold
Jangka panjang: buy
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
14/04/09 22:35
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Telkom + BTEL ??? ga ada yg bisa saingin d
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
21/04/09 16:42
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Selasa, 21/04/2009 15:49 WIB
Bakrie Telecom Jual Menara Rp 450 Miliar
Achmad Rouzni Noor II - detikinet

Jakarta - PT Bakrie Telecom Tbk akhirnya menyelesaikan proses tender penjualan 543 menara telekomunikasinya dengan harga Rp 450 miliar. Sebagai pemenang telah ditetapkan PT Solusi Tunas Pratama, yang berhasil menyisihkan lima peserta tender lainnya.

Harga penjualan tersebut lebih tinggi dibanding target awal penjualan menara yang dipatok pada harga Rp 380,22 miliar yang disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perusahaan pada Desember 2008.

Dokumen Term Sheet yang mencakup kesepakatan jual beli dan sewa balik antara Bakrie dan Solusi Tunas Pratama telah ditandatangani pada 15 April 2009. Kini prosesnya dilanjutkan dengan penyelesaian dokumen penjualan, yaitu Sales & Purchase Agreement (SPA) dan Master Lease Agreement (MLA).

Rakhmat Junaidi, Direktur Corporate Services PT Bakrie Telecom, berharap pada akhir April ini, kedua dokumen tersebut sudah bisa ditandatangani.

"Dari total nilai transaksi sebesar Rp 450 miliar, Bakrie Telecom akan mendapatkan dana bersih dari pembeli senilai Rp 390 miliar," jelasnya di Jakarta, Selasa (21/4/2009).

Sedangkan sisanya, lanjut Rakhmat, Rp 60 miliar akan diretensi oleh pembeli sebagai dana cadangan untuk perpanjangan masa sewa tanah atau gedung yang ditempati oleh menara telekomunikasi tersebut menjadi 10 tahun, sesuai periode lease-back atau sewa-kembali menara telekomunikasi tersebut

Dana penjualan menara akan digunakan perseroan untuk belanja modal (capital expenditure) 2008-2010 yang nilai keseluruhannya mencapai US$ 600 juta. Belanja modal tersebut sebagian didapatkan dari right issue senilai Rp 3 triliun yang telah dilakukan pada kuartal pertama 2008. Kemudian 50% terakhir melalui skema vendor financing, kas internal perseroan, serta dari hasil penjualan tower ini.

Keseluruhan pembayaran oleh Solusi Tunas Pratama akan dilaksanakan dalam beberapa tahap, yang akan dimulai pada akhir bulan ini. Selain harga penawaran yang di atas peserta lainnya, Bakrie Telecom juga melihat pada kemampuan dan kredibilitas Solusi Tunas Pratama.

(rou/faw)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
22/04/09 16:43
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
PT Solusi Tunas Pratama Menangi Menara Bakrie
22/04/2009 16:23:05 WIB
Oleh Rizagana dan Imam Suhartadi
JAKARTA, INVESTOR DAILY

PT Bakrie Telecom Tbk akhirnya menetapkan PT Solusi Tunas Pratama (STP) sebagai pemenang tender penjualan 543 menara telekomunikasi mililknya. Harganya Rp 450 miliar atau di atas harga awal penetapannya yang sebesar Rp 380,22 miiliar.

Direktur Corporate Services PT Bakrie Telecom Tbk Rakhmat Junaidi mengatakan, PT STP telah mengalahkan lima peserta tender lainnya. Lima peserta tender lain itu pernah disebutkan Dirut Bakrie Telecom Anindya Bakrie, yakni PT Tower Bersama, PT Protelindo, PT Retower, PT Padi Mekatel dan PT Powertel.

β€œSetelah melalui proses review dan penilaian atas keseluruhan peserta tender, kami yakin PT STP merupakan mitra jangka panjang yang tepat dan menjadikan penjualan menara ini sebagai awal langkah kerjasama strategis lainnya di masa depan,” kata Rakhmat Junaidi di Jakarta, Selasa (21/4).

Rakhmat, ketika dihubungi Investor Daily, tidak menyebutkan siapa pemilik PT STP. β€œPT STP itu pemain lokal,” kata dia. Penelusuran menemukan, PT STP adalah pemain lama di bisnis menara telekomunikasi. Perusahaan yang dimiliki, Benny Harianto Djie, salah satu pemilik PT Ciptadana Securities ini, juga telah memiliki beberapa menara telekomunikasi. Pada waktu tender menara bersama di Sumatera Utara, PT STP juga ikut.

β€œTapi, PT STP tidak ada kaitannya sama sekali dengan PT Ciptadana Securities. Hanya saja, salah satu pemiliknya adalah salah satu pemegang saham Ciptadana. Tapi dalam bisnis, keduanya tidak ada kaitannya sama sekali,” kata Dirut PT Cipadana Securities Ferry Budiman Tanja kepada Investor Daily, tadi malam.

Menurut Rakhmat, ketatnya persaingan dalam menentukan pemenang menyebabkan proses seleksi menyita waktu hingga lima bulan. Dari enam peserta akhirnya tinggal tiga peserta, dan dua di antaranya membentuk konsorsium, yakni PT Tower Bersama dan Retower. Dengan demikian, peserta tender tinggal dua, yakni PT STP dan Konsorsium Tower Bersama dan Retower.

β€œAkhirnya PT STP-lah yang ditetapkan sebagai pemenang tender,” katanya.

Rahmat mengungkapkan, alasan Bakrie memilih PT STP, selain pertimbangan harga penawaran di atas peserta lainnya, perusahaan tersebut memiliki kemampuan dan kredibilitas. Hal itu terlihat dari pengalaman perusahaan ini dalam membangun dan mengoperasikan menara bersama dengan berbagai operator telekomunikasi di Indonesia.

Selain itu, perusahaan tersebut juga telah menunjukkan kemampuan dalam berbagai proyek pembangunan dan pengelolaan menara bersama dengan bekerja sama pemerintah daerah di berbagai daerah di Indonesia seperti di Sumatera Utara dan DKI Jakarta.

”Skema penjualan yang bukan jual putus, melainkan dijual untuk disewa kembali. Ini pula yang membuat kami harus benar-benar cermat dalam memilih pemenang tender," kata Rakhmat.

Lebih lanjut Rahmat menjelaskan, dokumen Term Sheet yang mencakup kesepakatan jual beli dan sewa balik antara PT Bakrie Telecom dan PT STP telah ditandatangani pada 15 April 2009. Kini prosesnya dilanjutkan dengan penyelesaian dokumen penjualan, yaitu Sales & Purchase Agreement (SPA) dan Master Lease Agreement (MLA).

β€œDiharapkan pada akhir bulan ini, kedua dokumen tersebut sudah bisa ditandatangani,” kata Rahmat.

Berdasarkan total nilai transaksi sebesar Rp 450 Miliar, Bakrie Telecom akan mendapatkan dana bersih dari pembeli senilai Rp 390 miliar. Sisanya, Rp 60 miliar akan diretensi oleh pembeli sebagai dana cadangan untuk perpanjangan masa sewa tanah/gedung yang ditempati oleh menara telekomunikasi tersebut selama 10 tahun. Hal ini sesuai dengan periode lease-back atau sewa-kembali menara telekomunikasi tersebut.

β€œKeseluruhan pembayaran oleh PT STP akan dilaksanakan dalam beberapa tahap, yang akan dimulai pada akhir bulan ini,” imbuhnya.

Menurut Rahmat, dana penjualan menara ini nantinya akan digunakan perseroan untuk belanja modal 2008–2010 yang nilai keseluruhannya mencapai US$ 600 juta. Pada tahun ini, belanja modal Bakrie Telecom telah ditetapkan sebesar US$ 170 juta. ***
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
29/04/09 12:56
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Kenapa gak dijual ke BTEL saja yah???
------------------------------------------
Rabu, 29/04/2009 12:22 WIB
Opsi Bangkrut Muncul di RUPO FREN
Indro Bagus SU - detikFinance

Jakarta - Para pemegang obligasi PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) mengajukan opsi bangkrut dan meminta perseroan segera melakukan pelelangan aset yang diusulkan dalam rapat umum pemegang obligasi yang akan digelar siang ini, Rabu (29/4/2009).

Dalam RUPO kali ini, manajemen FREN sendiri mengajukan sejumlah restrukturisasi agar permasalahan pembayaran bunga dan pokok obligasi ada jalan keluarnya.

"Salah satu usulan yang akan diajukan para pemegang obligasi dalam RUPO siang nanti adalah opsi membangkrutkan perseroan dan meminta dilakukan pelelangan aset," ujar sumber detikFinance.

Menurut sumber tersebut, para pemegang obligasi rupiah FREN memilih opsi status bangkrut dan segera dilakukan pelelangan aset, ketimbang menerima usulan restrukturisasi jatuh tempo obligasi sebagaimana akan diajukan manajemen FREN dalam RUPO.

"Para pemegang obligasi menilai membangkrutkan dan melelang aset lebih baik ketimbang menerima usulan restrukturisasi namun belum jelas juga apakah nanti setelah restrukturisasi akan dapat dilunasi," ujar sumber tersebut.

Obligasi rupiah FREN senilai Rp 675 miliar sedang dalam status potensi gagal bayar lantaran perseroan tidak sanggup membayar bunga obligasi yang jatuh tempo 7 April 2009 senilai Rp 20,88 miliar. Semula, jatuh tempo pembayaran bunga ditetapkan pada 15 Maret 2009.

Namun manajemen meminta perpanjangan jatuh tempo hingga 7 April 2009, meski obligasi rupiah FREN sebenarnya jatuh tempo Maret 2012.

Obligasi rupiah berkupon bunga 12,375% per tahun ini, diterbitkan dengan menunjuk PT Bank Permata Tbk (BNLI) sebagai wali amanat. Sebagai wali amanat, BNLI juga berencana menggelar RUPO secara terpisah terkait masalah potensi gagal bayar tersebut.

Berdasarkan pengumuman RUPO yang dipublikasikan FREN, agenda yang akan diajukan manajemen dalam RUPO adalah penjelasan dan pertangunggjawaban FREN atas kelalaian terhadap ketentuan perjanjian perwaliamanatan dan usulan
restrukturisasi penyelesaian utang obligasi perseroan.

Salah satu bank yang menjadi pemegang obligasi FREN mengakui kalau opsi membangkrutkan dan meminta lelang aset merupakan salah satu usulan yang akan diajukan dalam RUPO.

"Opsi itu memang ada. Namun membangkrutkan dan melakukan pelelangan aset kan bukan jalan yang mudah. Namun usulan kesana memang ada. Tapi kita lihat saja nanti," ujar manajemen bank swasta tersebut saat dihubungi detikFinance.

Sementara Corporate Secretary FREN Chris Taufik ketika dikonfirmasi enggan berkomentar soal usulan tersebut. Chris hanya mengatakan, manajemen akan menawarkan usulan restrukturisasi kepada para pemegang obligasi.

"Agenda tetap sama dengan yang telah dipublikasikan. Belum ada perubahan," ujarnya.

(dro/ir)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
30/04/09 08:34
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Mandiri akan uji tuntas Mobile-8
13 Anggota Komite Pengarah mewakili obligasi senilai Rp486 miliar

JAKARTA: Penasihat keuangan PT Mandiri Sekuritas-yang mewakili pemegang obli?ga?si-akan melaksanakan uji tuntas keuangan (financial due diligence) terhadap PT Mobile-8 Telecom Tbk dalam 2 bulan ke depan.

Uji tuntas keuangan itu untuk mengetahui kondisi keuangan operator telepon berbasis code division multiple access (CDMA) secara menyeluruh, sehingga bisa dicari alternatif penyelesaian obligasi macet senilai Rp675 miliar.

"Alternatif solusi penyelesaian surat utang itu akan dimintakan persetujuan dalam rapat umum pemegang obligasi [RUPO] yang dijadwalkan paling lambat pada 30 Juni tahun ini," ujar seorang pemegang obligasi kepada Bisnis kemarin.

Menurut dia, RUPO Mobile-8 kemarin menyepakati beberapa hal yaitu penunjukkan penasihat keuangan Mandiri Sekuritas, pembentukan Komite Pengarah (steering committee) yang mewakili pemegang obligasi, dan tidak ada kewajiban bagi perusahaan telepon itu untuk memenuhi kewajiban pembayaran bunga ke-8 dan pembatasan keuangan.

Mobile-8 wajib membayar bunga obligasi setiap 3 bulan dari 15 Juni 2007 hingga 15 Maret 2012. Operator telepon itu seharusnya membayar bunga obligasi Rp20,88 miliar pada 15 Maret dan 15 Juni 2009. Namun, perusahaan itu lalai membayar bunga obligasi senilai Rp20,88 miliar yang jatuh tempo pada 15 Maret.

Pemegang obligasi itu menambahkan anggota Komite Pengarah terdiri dari 13 investor yang mewakili 72% dari jumlah surat utang Mobile-8 atau setara Rp486 miliar. (lihat tabel)

Sementara itu, seorang pemegang obligasi lainnya menambahkan jika RUPO pada 30 Juni dinilai tidak efektif, investor berencana mengajukan opsi melelang jaminan surat utang Mobile-8 yang nilainya kini mencapai 130% dari total obligasi.

"Apabila dalam RUPO Juni kami melihat bahwa tawaran perseroan tidak menarik, kami akan mendesak pelaksanaan lelang jaminan," katanya.

Dalam rapat informal belum lama ini, katanya, Mobile-8 masih berkeras pada usulan skema restrukturisasi semula yaitu konversi obligasi menjadi saham.

"Bagaimana pemegang obligasi bersedia mengikuti usulan itu? Harga saham Mobile-8 tidak bergerak dari level Rp50 dan masih disuspensi oleh Bursa Efek Indonesia," katanya.

Ikuti prosedur

Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik mengatakan pada RUPO tersebut perseroan telah memaparkan pertanggungjawaban mengenai kelalaian perseroan terkait dengan tidak dibayarnya bunga obligasi per 15 Maret.

Pembayaran bunga obligasi itu sempat diberi perpanjangan waktu 14 hari setelah tanggal jatuh tempo oleh wali amanat menjadi 7 April.

"Dalam RUPO hari ini pemegang obligasi tidak menyampaikan tentang eksekusi jaminan. Yang jelas, jaminan kami atas obligasi berupa peralatan telekomunikasi nilainya 130% dari obligasi yang diterbitkan perseroan," ujarnya.

Perseroan akan mengikuti prosedur seperti yang diatur dalam prospektus perwaliamanatan. Meski demikian, Chris tidak menjelaskan secara detail prosedur tersebut.

Prospektus obligasi sendiri secara umum mengatur masalah kelalaian pemenuhan kewajiban oleh perusahaan penerbit. Bilamana terjadi penundaan kewajiban obligasi, surat utang bisa jatuh tempo dan dapat ditagih pembayarannya seketika.

Berdasarkan laporan keuangan, operator telepon itu mempunyai kas dan setara dengan kas pada akhir Desember tahun lalu sebesar Rp23,73 miliar, turun 97,2% dibandingkan dengan posisi pada akhir 2007 sebesar Rp852,67 miliar.

Di sisi lain, utang usaha Mobile-8 pada tahun lalu jumlahnya mencapai Rp579,25 miliar dan utang lainnya Rp160,40 miliar.

Operator telepon itu membukukan rugi bersih senilai Rp1,06 triliun sepanjang tahun lalu karena besarnya nilai beban bunga utang perseroan yang menembus Rp367,25 miliar. Perusahaan itu masih membukukan laba bersih Rp50,34 miliar pada 2007.

Anjloknya kinerja perseroan pada tahun lalu disebabkan oleh tingginya beban bunga perseroan yang merupakan konsekuensi dari utang perseroan pada 2007. (sylviana.pravita@[tautan dihapus]

Oleh Sylviana Pravita R.K.N. & Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
30/04/09 09:53
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
MANDIRI SEKURITAS SIAPKAN ALTERNATIF PENYELESAIAN, RUPO Mobile-8 Batalkan Opsi
30/04/2009 09:20:58 WIB
Oleh Deviana Chuo
JAKARTA, INVESTOR DAILY

Rapat umum pemegang obligasi (RUPO) PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) membatalkan opsi konversi utang menjadi saham (debt to equity swap) yang diputuskan pada Desember 2008.

Perseroan akan mencari alternatif penyelesaian kewajiban obligasi rupiah senilai Rp 675 miliar bersama PT Mandiri Sekuritas selaku penasihat keuangan.

Menurut Direktur Keuangan Mobile-8 Anthony, Mandiri Sekuritas yang bertindak sebagai wakil pemegang obligasi Mobile-8 akan melangsungkan uji tuntas keuangan (financial due diligence) dan menyiapkan langkah alternatif penyelesaian kewajiban surat utang tersebut.

β€œAlternatif itu akan dimintakan persetujuan RUPO selanjutnya yang bakal digelar paling lambat pada 30 Juni 2009,” kata dia pada RUPO perseroan di Jakarta, Rabu (29/4)..

Anthony berharap langkah alternatif bisa diambil. "Itu penting supaya diperoleh alternatif yang menguntungkan semua pihak. Jadi, sekarang kami minta lupakan dulu bentuk restrukturisasi dengan konversi saham," ujarnya.

RUPO tersebut hanya membahas kewajiban obligasi rupiah. RUPO dihadiri 84,13% pemegang obligasi yang mewakili outstanding sekitar Rp 567,9 miliar. Mobile-8 menanggung beban obligasi US$ 100 juta dan obligasi rupiah senilai Rp 675 miliar yang masing-masing jatuh tempo pada 2013 dan 2012 serta harus segera dibeli kembali (buyback), menyusul terjadinya perubahan pemegang saham.

Obligasi US$ 100 juta seharusnya jatuh tempo pada 2013. Namun, karena Mobile-8 tidak dapat menggelar penawaran tender setelah terjadi pergantian pemegang saham pengendali, DB Trustee selaku kreditor menyatakan obligasi itu gagal bayar (default). DB Trustee selanjutnya meminta Mobile-8 membayar seluruh obligasi pada 16 Desember 2008. Namun, sampai jatuh tempo, perseroan tidak mampu membayar.

Di sisi lain, pemegang obligasi Mobile-8 juga meminta seluruh biaya uji tuntas ditanggung perseroan. Namun, kondisi itu tidak menghilangkan kesempatan bagi pemegang obligasi untuk menyatakan gagal bayar lebih awal melalui RUPO yang diusulkan minimal oleh 30% pemegang obligasi. Kondisi itu bisa terjadi jika perseroan dinilai tidak serius menyelesaikan kewajibannya.

Mobile-8 sampai sekarang menunggak pembayaran bunga sebesar Rp 20,88 miliar dan pembayaran bunga obligasi dolar AS sebesar US$ 5,63 juta yang dijadwalkan pada 16 Maret dan 1 Maret 2009.

Usulan alternatif baru untuk penyelesaian obligasi itu awalnya dimunculkan komisi pengarah (steering committee/SC) yang mewakili 72% outstanding obligasi. "Ketika itu, SC tidak menyetujui restrukturisasi yang diusulkan akhir tahun lalu, salah satunya debt to equity swap," kata Direktur Utama Mobile-8 Widyasmoro.

Meski demikian, mayoritas pemegang obligasi setuju untuk menyatakan obligasi Mobile-8 I Tahun 2007 tidak default. Persetujuan itu disampaikan 29 institusi yang mewakili outstanding obligasi senilai Rp 469 miliar. Jumlah tersebut dinyatakan kuorum sesuai ketentuan yang tercantum dalam perjanjian perwaliamanatan.

Di samping itu, para pemegang obligasi menyetujui permintaan manajemen Mobile-8 untuk tidak memenuhi kewajibannya hingga 30 Juni 2009. Kewajiban itu meliputi pembayaran kupon ke-8 dan financial covenant, yakni perbandingan antara utang dan EBITDA serta perbandingan antara EBITDA dan net finance charges yang berlaku untuk laporan keuangan tahunan 2009.

Kas Belum Cukup
Widyasmoro mengungkapkan, pihaknya belum dapat membayar kupon obligasi karena posisi kas belum mencukupi.

Untuk itu, kata Widyasmoro, Mobile-8 tengah menjajaki ekspansi dengan menciptakan produk baru agar mampu menghasilkan pendapatan dalam bentuk kas. Pada Januari 2009, perseroan meluncurkan produk Mobi yang merupakan bisnis untuk teknologi komunikasi data internet.

Dia menjelaskan, alternatif penyelesaian obligasi juga dijajaki dengan mencari investor baru. Kecuali itu, penambahan modal oleh investor lama masih mungkin dilakukan melalui opsi penerbitan saham baru (rights issue).
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
04/05/09 13:55
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Operator di Indonesia Idealnya Enam
Oleh Encep Saepudin
JAKARTA, INVESTOR DAILY

Konsultan Frost and Sullivan memperhitungkan, jumlah operator telekomunikasi di Indonesia idealnya cuma enam, bukan 11 operator seperti yang ada sekarang. Salah satu alasannya adalah kinerja operator di Tanah Air diperkirakan menurun 41% pada kurun 2008-2014.

Serikat konsultan yang mempunyai perhatian khusus pada bidang telekomunikasi dan bermarkas di Amerika Serikat (AS) ini memperkirakan, operator telekomunikasi di Indonesia akan mengalami gelombang merger dan akuisisi. Operator yang baru tidak akan kuat bersaing dengan operator besar yang sudah lebih dulu hadir di Persada ini.

"Indonesia idealnya hanya memiliki enam operator saja untuk memperebutkan `kue` yang ada di sini," kata Country Director Frost and Sullivan untuk Indonesia Eugene van de Weerd di Jakarta, akhir pekan lalu.

Perang tarif, menurut van de Weerd, tidak akan optimal kecuali operator menggunakan tarif yang sederhana, semisal tarif flat atau rata. Operator tidak dapat lagi hanya mengandalkan pemasukan dari layanan suara dan SMS, tetapi harus mulai menyediakan layanan lain.

"Operator harus lebih kreatif mencari fitur-fitur yang menarik. Justru dari sana pemasukan akan mengalir," ujar dia.

Dirut PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Rinaldi Firmansyah ketika berkunjung ke kantor Investor Daily beberapa waktu lalu juga mengindikasikan hal yang sama. Bahwa jumlah operator di Indonesia idealnya lima atau enam buah.

β€œKami percaya, dalam tahun ini juga ada satu atau dua operator yang akan melakukan konsolidasi. Dan, hingga 2011, saya kira, jumlah operator di Indonesia idealnya tinggal lima operator saja,” kata Rinaldi.

Saat ini, jumlah operator di Indonesia ada 11 perusahaan. Yakni, PT Telkom, PT Telkomsel, PT Indosat, PT Excelcomindo Pratama, PT Bakrie Telecom, PT Mobile-8 Telecom, PT Smart Telecom, PT Hutchison CP Telecom, PT Natrindo Telepon Seluler, PT Sampoerna Telecom, dan PT Pasifik Satelit Nusantara.

Jumlah ini terlalu banyak dibandingkan Amerika Serikat (AS) yang cuma empat operator, Australia yang semula empat kini tinggal tiga operator, Tiongkok ada tiga operator, India yang tadinya tujuh kini tinggal enam operator. Banyak negara hanya memiliki tiga atau empat operator telekomunikasi.

Sedangkan Ketua Komite Tetap Telekomunikasi Kadin Indonesia Johnny Swandi Sjam mengatakan, operator telekomunikasi saat ini dihadapkan pada perang tarif yang justru menekan pendapatan masing-masing penyelenggara telekomunikasi. Hal ini ikut menekan jumlah dana yang diinvestasikan untuk pengembangan kapasitas, jangkauan dan produk baru.

β€œKarena itu, Kadin Indonesia mendukung langkah konsolidasi agar kondisi telekomunikasi menjadi sehat,” kata Johnny, yang juga dirut PT Indosat Tbk.

Sementara itu, Asosiasi Telepon Seluler Indonesia (ATSI) tidak secara tegas menyetujui wacana konsolidasi itu. β€œHingga kini, asosiasi belum pernah mendengar adanya pertemuan pemilik operator untuk membicarakan penyatuan atau peleburan dua atau lebih operator. Asosiasi pun belum pernah dimintai saran atau nasehat oleh mereka untuk pengambilan kebijakan ini,” kata Sekjen ATSI Dian Siswarini.

Namun, Dian menyarankan agar pemerintah melakukan kajian. Selain itu, ATSI juga mengharapkan, adanya regulasi yang lebih konsisten tentang limitasi kepemilikan asing (dalam daftar negatif investasi/DNI) dan transfer license jika ada perubahan kepemilikan.

Bakrie dan Mobile-8

Beberapa waktu lalu beredar isu bahwa pemilik dan manajemen PT Bakrie Telecom mengadakan pembicaraan serius dengan PT Mobile-8 Telecom. Namun, Presdir Bakrie Telecom Anindya Bakrie membantah kemungkinan operator Esia itu merger dengan operator Fren.

β€œKalau pertemuan, dimana saja bisa terjadi. Sekarang saja kita lagi ketemuan dengan teman-teman,” kata dia.

Anindya mengatakan, Bakrie Telecom masih fokus pada bisnis inti, yaitu mengembangkan dan memperkuat Esia di pasar. Karena itu, pihaknya belum berniat untuk melakukan merger atau akuisisi.

β€œTidak ada alasan kami untuk melakukan merger ataupun akuisisi. Kinerja perusahaan cukup bagus, dan hingga akhir Desember 2008 kami sudah punya tujuh juta pelanggan lebih,” ungkapnya. ***
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
04/05/09 14:03
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Mobile-8 Tunda Ekspansi
JAKARTA, INVESTOR DAILY

PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) menunda rencana pembangunan 300-400 menara pemancar telekomunikasi (base tranceiver station/BTS). Penundaan ekspansi tersebut merupakan salah satu upaya perseroan untuk meminimalisasi pengeluaran dana tahun ini.

Dirut Mobile-8 Telecom Wityasmoro Sih Handayanto menegaskan, pihaknya telah menghentikan sementara pembangunan BTS. β€œKami akan fokus pada peningkatan kapasitas di tempat-tempat yang sudah ada,” kata dia dalam rapat umum pemegang obligasi (RUPO) perseroan di Jakarta, belum lama ini.

Mobile-8 akan mengkaji ulang sejumlah rencana investasi yang telah disusun sebelumnya. Perseroan hanya akan mengembangkan bisnis operator CDMA (code division multiple access) di Jawa melalui peningkatan kualitas layanan.

Pada kuartal I-2009, Mobile-8 membukukan rugi bersih Rp 185,4 miliar atau membengkak 731,4% dibandingkan periode sama 2008 sebesar Rp 22,3 miliar. Pendapatan konsolidasi perseroan juga anjlok 48,9% menjadi Rp 135,6 miliar dari sebelumnya Rp 265,2 miliar.

β€œKerugian ini karena perang tarif tahun lalu, sehingga pasar irasional. Mudah-mudahan, kondisi itu tidak berlanjut pada 2009,” kata Wityasmoro. (fei)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
05/05/09 08:13
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Telkom jajaki lepas saham divisi Flexi

JAKARTA: PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) mengkaji pelepasan sebagian saham divisi telepon berbasis code division multiple access (CDMA) Flexi setelah pemisahan unit usaha itu (spin-off) terwujud.

"Kami sedang mengkaji apakah akan menjual sekarang atau nanti. Apakah kami kembangkan dulu, lantas kemudian dijual. Belum ada keputusan tentang kajian itu," kata Komisaris Utama Telkom Tanri Abeng kepada Bisnisi kemarin.

Dia mengatakan apabila sebagian saham Flexi dijual, perseroan berencana tetap menguasai mayoritas saham tersebut

Sejak 2 tahun yang lalu, katanya, beberapa investor telah menyatakan minatnya untuk membeli saham Flexi.

"Apabila ada mitra yang akan masuk ke Flexi, nilainya harus tinggi. Meski demikian, langkah ini harus kami kaji dengan hati-hati. Bila diputuskan untuk dilepas, Telkom harus tetap menjadi mayoritas, seperti di Telkomsel," tuturnya.

Telkom berencana memisahkan unit bisnis Flexi agar efisien, fokus, dan menyiapkan kemungkinan konsolidasi dengan operator lain yang mempunyai teknologi CDMA.

Rencana itu bahkan disebut-sebut akan difinalisasi pada Juli 2009.

Selanjutnya, perseroan masih terus mendalami kajian pengambilalihan sebagian saham perusahaan telekomunikasi Iran, Telecommunication Company of Iran (TCI).

"Kami masih terus mendalami dari sisi komersial, politik dan finansial," kata Tanri. Menurut dia, perseroan juga segera merealisasikan akuisisi perusahaan lokal terkait dengan fokus ekspansi perseroan yang ingin mengembangkan jaringan bergerak, CDMA, pita lebar, dan interkoneksi.

Guna keperluan akuisisi serta merger, Telkom mencari dana senilai Rp4,8 triliun. Jumlah tersebut merupakan bagian dari kebutuhan pinjaman eksternal sekitar US$700 juta yang sedang dicari oleh BUMN telekomunikasi itu.

Telkom berkomitmen untuk mencari sumber pendapatan baru (new wave) yang berhasil menyumbang 15% dari pendapatan Telkom yang tidak terkonsolidasi pada tahun lalu.

Perseroan tahun ini berharap new wave dapat menyumbang 18%-20% dari pendapatan yang tidak dikonsolidasi pada 2009. belanja modal perseroan tahun ini mencapai US$2,1 miliar.

Jumlah pelanggan seluler Telkom per 31 Desember 2008 naik 36% dibandingkan dengan pelanggan pada 2007 menjadi 65,3 juta pelanggan.

Selanjutnya, pelanggan jaringan kabel mencapai 8,6 juta pelanggan atau turun 0,6% dibandingkan 2007. Adapun, pelanggan Speedy naik 253% menjadi 850.000 pelanggan.

Pada penutupan perdagangan kemarin, harga saham emiten berkode TLKM ini ditutup pada level Rp7.950 atau naik 2,58% dibandingkan dengan penutupan perdagangan 1 Mei 2009, yaitu Rp7.750 per saham. Apabila mengacu pada harga saham itu, kapitalisasi pasar perseroan mencapai Rp160,27 triliun.

Oleh Sylviana Pravita R.K.N.

Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
06/05/09 09:58
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Tambah ruwet...

----------------------------------------------------

Selasa, 05/05/2009 18:27 WIB

Mobile-8 Tepis Isu Bangkrut

Achmad Rouzni Noor II - detikinet

Jakarta - Mobile-8 Telecom yakin masih mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan bisnis telekomunikasi di negeri ini. Nah, agar tetap bisa bersaing, operator seluler berbasis CDMA ini berjanji akan keluar menyerang.

Seperti permainan bola, pertahanan terbaik ialah keluar menyerang. Menyerang dengan inovasi baru. Itu yang sedang kami lakukan agar tetap bisa bertahan di bisnis ini," ujar Division Head of Product Management Mobile-8, Sukaca Purwokardjono, di sela peluncuran paket Maxi pascabayar Fren di EX Plaza, Jakarta, Selasa (5/5/2009).

Seperti diketahui, kondisi keuangan Mobile-8 sedang tidak bagus. Pemilik merek dagang Fren dan Hepi ini secara mengejutkan membukukan rugi bersih Rp 1,068 triliun. Kerugian itu, terutama kontribusi dari transaksi swap dengan Lehman Brothers yang kini telah bangkrut.

Kerugian yang dahsyat membuat Mobile-8 semakin kencang dirumorkan bakal jadi korban pertama yang kena dampak pertarungan keras di industri telekomunikasi negeri ini.

Namun Sukaca meyakini, Mobile-8 masih mampu bertahan untuk beberapa bulan ke depan karena sedang ada aksi penyelamatan. Kami sedang restrukturisasi," ujarnya tanpa mau merinci lebih detail.

Dari seliweran rumor yang beredar, Mobile-8 harus melakukan tiga langkah untuk menuntaskan kesulitan keuangan yang dideritanya. Yakni, melakukan penawaran saham terbatas (rights issue), merger, atau akuisisi. Saat ini, peminat yang katanya ingin masuk ke Mobile-8 ada tiga, yakni Telkom, Bakrie Telecom, dan Sinar Mas Grup.

Masih dari desas-desus, keputusan itu harus diambil menjelang tutup semester pertama tahun ini. Jika tidak ada deal dengan pemilik lama, tiga peminat itu tidak akan memperbaharui penawarannya. "Dan bisa dipastikan Mobile-8 akan bangkrut," kata rumor yang beredar.

Hal ini dibantah tegas oleh Sukaca. "Belum ada sejarahnya operator di negeri ini akan bubar. Industri telekomunikasi itu investasi jangka panjang. Operator mengalami kerugian itu hal biasa. Lihat saja, di tahun berapa operator bisa tidak merah rapor-nya? Perlu bertahun-tahun."

Biar bagaimana pun, Mobile-8 tidak memungkiri kalau aktivitas pemasarannya kurang berhasil. [bTahun lalu, bisa dibilang hampir tidak ada penambahan pelanggan. Terlebih, dari 3,5 juta pelanggan yang dimiliki, 300 ribu terpaksa dihanguskan karena sudah tidak produktif (churn).

Namun demikian, Sukaca masih optimistis pihaknya bisa segera membalikkan keadaan. Dengan dana marketing Rp 100 miliar yang dikantunginya tahun ini, ia yakin bisa membuat inovasi produk yang membuat layanan Mobile-8 kembali diminati. "Tunggu saja dalam waktu dekat ini," tandasnya.

(rou/faw)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
HajiGaul
(Penasihat)
06/05/09 12:56
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
baca berita2 diatas jadi ragu mo beli mobi ....
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
06/05/09 14:19
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
akhirnya gw balik lg, abis kelar uts

belakangan ini fren gw perhatiin lagi gencar2nya iklan di TV
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
HajiGaul
(Penasihat)
06/05/09 15:47
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
gemana gak gencar, wong anggaran promosinya sampe 100M
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
06/05/09 16:02
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Teteplah susah jg bw fren, dibanding operator cdma laen esia, starone, flexi, smart ... fren paling memble ky mati pun segan, hidup pun empot2an
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
hopeless
(Penasihat)
06/05/09 18:03
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
fren ngeluarin hp murah lg biar bisa naek lg neh. Btw ga ada investor asing yg mau beli?

-- Posted from my Mobile phone
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
z0mbi3
(Penasihat)
06/05/09 19:45
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Quote:
HajiGaul said:
gemana gak gencar, wong anggaran promosinya sampe 100M

iklannya di grup MNC hahahaha anggap aja gratis...
so kagak ada hubungannya dengan anggaran, yakinnya malah anggaran mepet deh, kecuali mereka udah gak peduli dengan jebloknya posisi mereka di bursa saham
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
AA_Ariel
(Penasihat)
06/05/09 21:07
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Quote:
Z0MBI3 said:
iklannya di grup MNC hahahaha anggap aja gratis...
so kagak ada hubungannya dengan anggaran, yakinnya malah anggaran mepet deh, kecuali mereka udah gak peduli dengan jebloknya posisi mereka di bursa saham

sama aja bos. smart juga gratis di ocean punya sapa?
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
editopan
(Penasihat)
06/05/09 23:36
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
yg jelas Sinarmas lebih kuat.. sapa tau beli smart dapet paperline , SIDU, minyak kunci mas, rekening bank sinarmas, asuransi, rumah di BSD, serpong, permata buana, de el el..

but eniwei.. *berdoa semoga fren mo di jual ke sinar mas group.

IF FREN+SMART Then

SMART vs ESIA Fight will be a great one next year in CDMA Ring.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
07/05/09 01:10
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
300 Ribu Pelanggan Mobile-8 Hangus

Mobile-8 Telecom harus rela kehilangan 300 ribu pelanggannya. Dari yang tadinya sekitar 3,5 juta pelanggan, kini terpaksa susut menjadi 3,2 juta.

Division Head of Product Management Mobile-8, Sukaca Purwokardjono, menjelaskan, hilangnya 300 ribu pelanggan itu terjadi pada kuartal ketiga dan keempat 2008 lalu.

"Kami terpaksa melakukan deletion 300 ribu pelanggan karena sudah tidak aktif dan tidak produktif lagi. Pembersihan ini supaya tidak memberatkan sistem," jelasnya di sela peluncuran paket Maxi pascabayar Fren di EX Plaza, Jakarta, Selasa (5/5/2009).

Mayoritas pelanggan yang dihapus berasal dari pengguna seluler prabayar Fren. Meski demikian, seluler prabayar Fren masih mendominasi jumlah pelanggan dengan angka 2,551 juta. Sisanya pelanggan fixed wireless access (FWA) Hepi 500 ribu dan pascabayar Fren 149 ribu.

Namun jika dilihat dari rata-rata penggunaan pulsa alias average revenue per user (ARPU), menurut Sukaca, paling tinggi masih didominasi pascabayar Fren yang setiap bulannya Rp 70-80 ribu. Sementara prabayar Fren 15-20 ribu dan Hepi Rp 10 ribu.

-Detik-

"Hepi sebelumnya belum ada pascabayar. Rencananya kuartal pertama atau kedua tahun ini akan diluncurkan," tandasnya.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
HajiGaul
(Penasihat)
07/05/09 10:45
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
berharap gak sampe bangkrut .... pelanggan yang udah 2,5jt mo diapain tuh kalo sampe bangkrut
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
07/05/09 15:34
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Ditawarin ke Esia saja... Esia kan juga butuh pelanggan kan???
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
07/05/09 22:49
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
semua operator juga butuh pelanggan ga cuma esia doang ...
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
08/05/09 01:44
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Fren Luncurkan Paket Pascabayar Maxi

Operator telekomunikasi CDMA Mobile 8 nampak kian serius memperluas pangsa pasarnya. Kali ini melalui salah satu produknya, Fren, perusahaan ini meluncurkan layanan paska bayar baru. "Layanan paska bayar Fren memang sudah ada sejak 2005. Kali ini kami meluncurkan paket pas kabayar baru yang diberi nama Paket Maxi," ujar Susanto Sosilo, Direktur Sales and Marketing Mobile-8.

Susanto mengakui salah satu kendala dalam meluncurkan layanan paska bayar adalah kepercayaan dari masyarakat. Umumnya pelanggan kurang tertarik dengan jenis layanan ini karena yang mereka tahu paska bayar itu mahal, disebabkan karena pelanggan tidak bisa mengontrol pemakaian pulsa.

Hal lain yang membuat calon pelanggan kurang tertarik adalah, karena sedikitnya penghargaan terhadap loyalitas pelanggan pengguna paska bayar jika dibandingkan dengan pengguna pra bayar.

Mobile-8 agaknya cukup tanggap menjawab berbagai keluhan tersebut, yaitu dengan meluncurkan layanan paskabayar murah dengan berbagai fasilitas dan bonus yang diberikan setiap saat.

Hal ini dibenarkan oleh Sukaca Purwokardjo, Produk Marketing dan Strategi Fren dan Hepi Mobile-8, "Oleh karena itulah strategi pemasaran produk kami adalah melancarkan produk inovatif guna membantu pelanggan berhemat di masa krisis seperti sekarang," ujar Sukaca.

Paket Maxi ini memiliki dua macam pilihan yaitu Paket Maxi 50 dan Paket Maxi 100. Pelanggan dapat memilih berlangganan sebesar 50 ribu atau 100 ribu sebulan. Jadi tak perlu khawatir kebobolan karena nominal paket yang pelanggan pilih adalah limit dalam menggunakan telepon.

Selain itu, tentu saja Mobile-8 menjanjikan bonus sebagai penghargaan terhadap loyalitas pelanggan yang memakai layanan tersebut. Bonus tak hanya diberikan pada masa promo saja, namun setiap saat ketika pelanggan telah mencapai pemakaian tertentu.

-OkeZone-
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
auliafathya
(Anggota)
08/05/09 08:58
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Saya dengar beberapa hari yang lalu orang2 Esia sudah datang dan audit Finance Mobile-8 berarti ada titik terang akan adanya pembelian saham oleh Esia
Kalau sampai ndak jadi sudah pasti flexi akan mengambilnya karena channal flexi sudah penuh apalagi jumlah pelanggannya sudah hampir 10 jt an
Dalam hal ini nilai tawar fren bisa tinggi karena untuk rebutan Esia dan Flexi......
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
taufic05
(Newbie)
08/05/09 11:43
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Thank you atas infonya boss... Ngemeng2, pelanggan Flexi bukannya udah mencapai 16 juta ya?? kalo pelanggan Esia sekarang berapaan ya??

thank you ya atas infornya...
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
HajiGaul
(Penasihat)
08/05/09 14:19
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
dibeli siapa aja yang penting layanannya selalu oke
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
08/05/09 15:41
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Pas diaudit, ternyata di kasnya M8 yang ada cuma DAUN... Tau deh, kalo cuma punya daun, BTEL yakin beli gak?? BTW, Telkom juga berminat dengan BTEL juga...
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
HajiGaul
(Penasihat)
09/05/09 07:36
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
kan di aset gak cuma cash doang, ada juga aset tetap seperti hardware dll
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
09/05/09 18:09
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Quote:
uncleT said:
Thank you atas infonya boss... Ngemeng2, pelanggan Flexi bukannya udah mencapai 16 juta ya?? kalo pelanggan Esia sekarang berapaan ya??

thank you ya atas infornya...

target esia taon ini diharapkan bisa mencapai 10,5 juta pelanggan
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
11/05/09 06:55
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Mobile-8 incar pertumbuhan 75% pelanggan

JAKARTA: PT Mobile-8 Telecom Tbk memproyeksikan pertumbuhan 75% pelanggan pascabayar menyusul target kontribusi 25% pendapatan dari segmen tersebut terhadap total pendapatan 2009.

Sukaca Purwokardjono, Divison Head Fren Product Marketing PT Mobile-8, menuturkan pihaknya optimistis dengan pertumbuhan dan penetrasi layanan termasuk di antaranya dalam mengelola segmen pascabayar.

"Kami menargetkan segmen ini bertambah dari 150.000 pelangan menjadi 250.000 pelanggan pada tahun ini atau tumbuh 75% dan memberi kontribusi 25% bagi total pendapatan," ujarnya baru-baru ini.

Menurut Sukaca, walaupun secara umum Mobile-8 menguasai 4% pangsa pasar dari total segmen pascabayar di Indonesia yang mencapai 3,6 juta, segmen ini merupakan segmen yang memiliki tingkat kesetiaan yang tinggi dan tidak sensitif terhadap harga.

"Segmen ini masih kompetitif walaupun saat ini memberi kontribusi 15% terhadap pendapatan, sehingga secara strategi kami akan mengatur portofolio produk dengan paket-paket yang seimbang baik prabayar maupun pascabayar," jelasnya.

Susanto Sosilo, Sales & Marketing Director PT Mobile-8, mengatakan untuk menjawab kebutuhan pelanggan pascabayar, pihaknya meluncurkan paket Maxi yaitu paket produk reguler Fren pascabayar dengan bonus langsung, program loyalitas, dan tarif hemat.

Pelanggan di segmen tersebut, tuturnya, juga dimudahkan dengan fitur WorldPassport yang memungkinkan jelajah internasional secara fleksibel di negara dengan jaringan GSM maupun CDMA. "Ini satu-satunya kemudahan dan kemampuan yang ada di dunia dan kami miliki saat ini," ujarnya.

Dalam program Maxi, operator tersebut mengklaim memberikan penghematan 30% tarif komunikasi dibandingkan dengan tarif pascabayar dari operator lainnya. Program itu di antaranya memberikan gratis pulsa, SMS dan Internet hingga potongan tagihan biaya telekomunikasi dengan syarat batas pemakaian tertentu.

Mobile-8 juga tengah mengevaluasi mekanisme baru untuk mempermudah persyaratan penggunaan fitur jelajah World Passport dengan penggunaan kartu kredit. Saat ini umumnya operator termasuk Mobile-8 masih menerapkan mekanisme deposit sebagai solusi atas kendala penagihan secara realtime (realtime billing) dan memungkinkan pelanggan melakukan percakapan di luar negeri.

Manajemen PT Mobile-8 optimistis dengan strategi yang agresif menyusul keberhasilan operator itu meningkatkan infrastruktur jumlah base transceiver station menjadi tiga kali lipat pada tahun lalu.

Oleh Roni Yunianto
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
11/05/09 06:57
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Capex Bakrie Telecom capai US$365 juta

JAKARTA: PT Bakrie Telecom Tbk memerlukan pembiayaan eksternal US$97 juta untuk memenuhi belanja modal (capital expenditure/capex) hingga tahun depan yang menembus US$365 juta.

Belanja modal itu untuk meningkatkan kapasitas dan daya jangkau jaringan telekomunikasi ke depan.

"Setelah rights issue Rp3 triliun pada 2008, perseroan juga menjual menara telekomunikasi senilai Rp390 miliar. Dana itu untuk memenuhi sebagian kebutuhan dari belanja modal perseroan," ujar Wakil Direktur Utama Bakrie Telecom M. Danny Buldansjah kepada Bisnis kemarin.

Dia mengatakan setelah menjual 543 menara telekomunikasi, Bakrie Telecom akan melaksanakan sistem sewa dan menggunakan dana penjualan menara guna pengembangan perseroan.

Berdasarkan materi paparan publik perseroan yang akan dipresentasikan pada 12 Mei 2009, belanja modal perseroan 2008-2010 mencapai US$597 juta. Pada tahun ini, perseroan membutuhkan belanja modal US$202 juta dan tahun depan US$163 juta.

Emiten itu membutuhkan pendanaan eksternal senilai US$97 juta guna memenuhi sebagian dari belanja modal hingga tahun depan, selebihnya dari kas internal dan ekuitas.

Meski demikian, sebagian besar kebutuhan pendanaan telah terpenuhi melalui penerbitan saham baru Rp3 triliun, utang, kas internal, dan vendor financing mencapai US$150 juta.

"Kami menargetkan jumlah pelanggan pada tahun depan mencapai 14 juta pelanggan dan pada tahun ini ditargetkan 10,5 juta pelanggan," katanya.

Jumlah pelanggan Bakrie Telecom pada akhir Maret 2009 mencapai 8 juta. Jumlah ini mengalami pertumbuhan 78,8% dibandingkan dengan pelanggan pada periode yang sama tahun lalu sebesar 4,5 juta. Pada akhir 2008, pelanggan Bakrie Telecom mencapai 7,3 juta pelanggan.

Meski demikian, laba bersih operator telepon itu pada triwulan I/2009 tergerus menjadi Rp5,7 miliar dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama pada tahun lalu, yaitu Rp27,4 miliar.

Anjloknya laba bersih perusahaan tersebut disebabkan oleh rugi kurs senilai Rp14,2 miliar pada 3 bulan pertama tahun ini, padahal perseroan mengalami laba kurs senilai Rp25,9 miliar pada kuartal I/2008.

Presiden Direktur BTEL Anindya N. Bakrie mengatakan rugi kurs itu disebabkan oleh dampak dari belanja modal perseroan dalam denominasi dolar.

"Untuk utang dalam mata uang asing, Bakrie Telecom telah menerapkan lindung nilai. Rugi kurs terhadap belanja modal itu karena depresiasi rupiah."

Oleh Sylviana Pravita R.K.N.
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
12/05/09 00:39
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Semoga kualitasnya jg bs trus ditingkatkan ...
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
13/05/09 08:02
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Bakrie Telecom tak bagi dividen

JAKARTA: PT Bakrie Telecom Tbk mengusulkan untuk tidak membagikan dividen tahun buku 2008 kepada pemegang saham karena dananya akan digunakan untuk memenuhi pembiayaan ekspansi tahun ini.

Per 31 Desember 2008, Bakrie Telecom membukukan laba bersih Rp136,81 miliar atau Rp5,19 per saham, turun dibandingkan dengan perolehan laba pada 2007 sebesar Rp144,27 miliar atau Rp7,65 per saham.

Direktur Keuangan Bakrie Telecom Jastiro Abi mengatakan manajemen mengusulkan untuk tidak membagikan dividen. "Dananya akan kami gunakan untuk keperluan ekspansi tahun ini," tuturnya kemarin.

Dia memaparkan perseroan menganggarkan belanja modal sebesar US$200 juta pada tahun ini, yang dananya diperoleh dari kas internal, hasil penawaran umum terbatas tahun lalu, pembiayaan vendor, dan penjualan menara.

Sebagian besar belanja modal, dialokasikan untuk penambahan kapasitas di kota yang sudah masuk jaringan operator telepon berbasis code division multiple access (CDMA) itu.

Di Jakarta, kapasitas akan ditingkatkan agar dapat melayani sebanyak 7 juta-8,5 juta pelanggan dari sebelumnya 6 juta-7 juta pelanggan. Namun, secara nasional perseroan menekankan perluasan jangkauan ketimbang peningkatan kapasitas.

Hingga akhir Maret, Bakrie Telecom telah memperluas wilayah layanan ke 69 kota di seluruh Indonesia, dengan enam kota di antaranya ditambahkan pada kuartal I/2009. Pada periode yang sama, jumlah pelanggan menjadi 8 juta. Pada 2009, manajemen menargetkan jumlah pelanggan naik menjadi 10,5 juta dibandingkan dengan tahun lalu sebanyak 7,3 juta pelanggan.

Jastiro menargetkan perseroan membukukan pertumbuhan hingga dua digit pada tahun ini. "Fundamental jelas lebih baik dari tahun lalu, double digit dari sisi pendapatan dan EBITDA (earning before interest, tax, depreciation, and amortization/laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi). Margin EBITDA tetap 30%-31%."

Dia menambahkan pada tahun ini perseroan akan membukukan pendapatan luar biasa sebesar Rp120 miliar dari transaksi penjualan 543 menara.

Oleh Pudji Lestari
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
14/05/09 17:26
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Bakrie Telecom Hadir di 69 Kota
JAKARTA, INVESTOR DAILY

Sampai dengan akhir Maret 2009, Bakrie Telecom telah menjangkau 69 kota di seluruh Indonesia. Perluasan ini turut membantu peningkatan jumlah pelanggan Bakrie Telecom pada kuartal I 2009 menjadi delapan juta.

Kota-kota yang telah dilayani Esia, Wimode, dan Wifone tersebut tersebar di berbagai pulau besar, seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Bali.

”Kami telah berkomitmen memperluas kehadiran Bakrie Telecom di berbagai kota di Indonesia dan kami akan terus berupaya memenuhi komitmen tersebut. Tentu butuh waktu dan dilakukan secara bertahap, tapi jelas upaya tersebut kami penuhi,” kata Wakil Direktur Utama PT Bakrie Telecom Tbk M Buldansyah di Jakarta, belum lama ini.

Buldansyah yang akrab disapa Danny mengatakan, selama kuartal I 2009, Bakrie Telecom telah menambah enam kota dari 64 kota pada posisi akhir 2008. Kota-kota tersebut meliputi Cilacap, Jambi, Madiun, Magetan, Kisaran dan Pematang Siantar. Pada tahun ini, operator Esia ini menargetkan jumlah pelanggannya mencapai 10,5 juta dan menjadi 14 juta pada akhir 2010.

”Pada 2007, Bakrie Telecom memulai ekpansi nasional di kota-kota besar di Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Pada 2008, kami mengombinasikannya dengan kota kecil. Pada tahun ini, kami akan lebih fokus di kota-kota kecil di Jawa dan Sumatera,” kata Danny.

Kebijakan Bakrie Telecom memperluas jangkauan wilayah layanan itu ditujukan agar basis pelanggan Esia, Wifone dan Wimode juga merata ke berbagai kota. Tumbuhnya jumlah pelanggan berakibat positif terhadap kinerja keuangan. (rz)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
29/05/09 18:05
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Tanda-2 bersiap diambil BTEL

---------------------------------------

Direksi-Komisaris Mobile-8 Dirombak

Pemegang saham selanjutnya menyetujui pengangkatan Merza Fachys sebagai direktur utama

Jum'at, 29 Mei 2009, 17:40 WIB

Arinto Tri Wibowo, Nerisa

VIVAnews - PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) merombak sebagian besar direksi dan seluruh komisaris perusahaan.

Perombakan itu disinyalir karena kerugian perusahaan sepanjang 2008 yang mencapai Rp 1,06 triliun, atau tergerus 2.223,1 persen dari laba bersih 2007 Rp 50,34 miliar.

Direktur Utama Mobile-8 Telecom Wityasmoro S Handayanto mengatakan, dirinya bersama Direktur Penjualan dan Pemasaran Susanto Sosilo mengundurkan diri. "Seluruh komisaris juga mengundurkan diri," kata dia pada jumpa pers perseroan di Jakarta, Jumat 29 Mei 2009.

Dewan Komisaris Mobile-8 yang mundur adalah Komisaris Utama Agum Gumelar. Selain itu, anggota komisaris lainnya yang mengundurkan diri adalah Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo, Djoko Leksono Sugiarto, dan Mohamad S Hidayat.

Dia mengungkapkan, rapat umum pemegang saham (RUPS) tahunan menyetujui pengangkatan presiden komisaris Harmanto Tanidjaja, serta anggota komisaris Felix Ali Chandra dan komisaris independen Edwin Sudibyo.

Wityasmoro menambahkan, pemegang saham juga menyetujui pengangkatan Merza Fachys sebagai direktur utama perusahaan yang baru. Sedangkan Anthony Kartawiria tetap menjabat sebagai direktur.

Selain itu, perseroan mengangkat dua direksi baru, yakni Beydra Yendi dan Lukas A Heriyanto. Kedua direksi itu dinilai berpengalaman di Mobile-8.

"Direksi baru akan efektif pada 1 Juni 2009," ujarnya.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
30/05/09 01:00
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Mobile-8 Jajaki Investor Baru
Investor baru bisa masuk melalui pembelian saham hasil penawaran umum terbatas
Jum'at, 29 Mei 2009, 19:04 WIB
Arinto Tri Wibowo, Nerisa

VIVAnews - PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) tengah menjajaki beberapa calon investor baru untuk menyuntikkan dana segar bagi perseroan.

Investor baru bisa masuk melalui pembelian saham hasil penawaran umum terbatas (rights issue) perseroan. Perusahaan operator telekomunikasi berbasis code division multiple access (CDMA) itu berharap penjajakan itu bisa rampung secepatnya.

"Tahun ini, kalau bisa, as soon as possible," kata Direktur Utama Mobile-8 Telecom Wityasmoro S Handayanto usai paparan publik perusahaan di Menara Kebon Sirih, Jakarta, Jumat 29 Mei 2009.

Dia menambahkan, pemegang saham sudah bertemu beberapa calon investor dan mendiskusikan kesempatan itu. Meski demikian, perusahaan belum memperoleh penjelasan dari pemegang saham Mobile-8 terkait masuknya investor baru tersebut.

Wityasmoro mengungkapkan, investor baru bisa menjadi pembeli siaga (standby buyer) pada rights issue perseroan. Meski demikian, pemegang saham lama juga berpotensi meningkatkan kepemilikan sahamnya jika berminat turut serta pada rights issue itu.

"Kalau dananya hanya dipakai untuk itu (restrukturisasi obligasi), mana ada yang mau," katanya saat ditanyakan apakah dana investor baru hanya dialokasikan untuk restrukturisasi utang obligasi.

Wityasmoro menambahkan, Mobile-8 memiliki dua opsi pada restrukturisasi obligasi rupiah, yakni memperpanjang waktu jatuh tempo (rescheduling) utang obligasi atau campuran antara rescheduling dan swap ke ekuitas.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik menambahkan, keputusan restrukturisasi obligasi rupiah perusahaan diharapkan selesai menjelang 30 Juni 2009, sebelum rapat umum pemegang obligasi (RUPO).

PT Mandiri Sekuritas selaku penasihat keuangan perseroan tengah membahas restrukturisasi bersama dengan steering commitee.

Sementara itu, obligasi dolar AS akan dibahas pada rapat kedua 15 Juli 2009. "Kami sedang mempersiapkan tanggapan Mobile-8," tuturnya.

Mobile-8 menargetkan penambahan pelanggan baru sepanjang 2009 menjadi 4-5 juta untuk produk Hepi dan Fren. Selain itu, pelanggan aktif diharapkan bertumbuh hingga 20 persen hingga akhir 2009.

Sebelumnya, pada akhir 2008 pelanggan Hepi mencapai 333 ribu dan Fren 2,67 juta.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
30/05/09 20:28
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
BTel Hentikan Penjualan Hape Esia Hidayah

BTel menghentikan penjualan produk Hape Esia Hidayah setelah target 500 ribu unit tercapai.

Produk tersebut rencananya akan digantikan dengan produk baru lainnya yang belum dapat disebutkan secara rinci.

"Kami memang hanya menyediakan 500 ribu Hape Esia Hidayah sejak Ramadan tahun lalu, dan sekarang sudah tercapai," ujar Executive Vice President Bakrie Telecom Ridzki Kramadibrata usai acara pengumuman pemenang paket umroh hape Esia Hidayah, di Wisma Bakrie di Kuningan, Jakarta, Kamis (28/5/2009).

Lebih lanjut, Ridzki mengatakan, Esia akan mengembangkan layanan tambahan bagi para pelanggan di program berikutnya.

"Hape Esia Hidayah termasuk populer jadi kami akan meluncurkan program serupa jelang puasa nanti. Tapi masih dipikirkan lagi," katanya.

Saat ini, menurut Ridzki jangkauan Esia sudah 70 kota dan Hape Esia Hidayah juga tersebar di semua kota tersebut.

"Penyebarannya paling banyak di wilayah Jabodetabek," tandas Ridzki.

Pada kuartal 1 tahun 2009, BTel telah membukukan jumlah pelanggan hingga 8 juta. Angka ini meningkat hampir dua kali liat dibanding kuartal pertama tahun sebelumnya, yang hanya sekira 4,5 juta pelanggan.

-OkeZone-
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
31/05/09 09:44
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Investasi Fren di Bhakti melonjak

JAKARTA: PT Mobile-8 Telecom Tbk menempatkan investasi melalui PT Bhakti Asset Management senilai Rp200,65 miliar pada tahun lalu, melonjak dibandingkan dengan nilai penempatan pada 2007 sebesar Rp66,84 miliar guna pencadangan modal kerja perseroan.

Direktur Utama Mobile-8 Merza Fachys menjelaskan investasi di Bhakti Asset diperlukan untuk keperluan pencadangan.

Rapat umum pemegang saham kemarin menunjuk Merza Fachys sebagai Direktur Utama Mobile-8 yang semula dijabat oleh Wityasmoro Sih Handayanto. Namun, Jerash Investment yang menguasai 32% saham Mobile-8 tidak menempatkan representasinya.

β€œKami menempatkan investasi di Bhakti Asset Management guna pencadangan bagi keperluan-keperluan perseroan,” ujar Merza, kemarin.

Penempatan investasi Mobile-8 ke Bhakti Asset yang merupakan perusahaan terafiliasi, menjadi yang terbesar.

Mobile-8 menempatkan investasi lain ke TDM Aset Manajemen dan Clariden Leu Ltd. Jumlah penghasilan atas investasi itu mencapai Rp32,85 miliar pada tahun lalu.

Pada bulan lalu, Mobile-8 mencairkan seluruh investasinya di Clariden, sedangkan investasi di Lehman Liquidity Fund ditarik pada Maret 2008.

Penempatan investasi di Bhakti itu sempat disoroti pemegang obligasi yang menilai Mobile-8 seharusnya bisa menarik investasi jangka pendek di Bhakti Asset Management untuk melunasi bunga obligasi Rp20 miliar.

Pada kesempatan yang sama, Wityasmoro mengatakan perseroan akan menetapkan langkah lebih lanjut pada 30 Juni 2009 terkait dengan restrukturisasi utang obligasi perseroan senilai Rp675 miliar.

Oleh Sylviana Pravita R.K.N.
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
03/06/09 09:53
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Mobile-8 gagal bayar bunga obligasi ke Java & Precise

JAKARTA: PT Mobile-8 Telecom Tbk tidak bisa membayar obligasi dengan total pokok bunga dan denda obligasi US$215.000 atau setara dengan Rp2,25 miliar kepada Java Investment Advisory Group Incorporated dan Precise Circle Limited.

Menurut Direktur Mobile-8 Anthony C. Kartawiria, langkah tersebut berbuntut diajukannya surat permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang oleh Java Investment dan Precise Circle yang mengaku sebagai pemegang surat obligasi yang diterbitkan oleh Mobile-8 Telecom Finance Company B.V.

β€œMobile-8 pada 1 Juni 2009 melalui kuasa hukumnya telah memenuhi panggilan untuk menghadap pada persidangan perkara kepailitan,” ujarnya dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia, kemarin.

Dia menjelaskan pokok obligasi yang belum dibayar oleh Mobile-8 adalah US$100.000 dan bunga senilai US$7.500. Jumlah pokok obligasi dan bunga yang sama juga belum dibayar Mobile-8 kepada Precise Circle.

Selanjutnya, Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik mengatakan Mobile-8 telah menunjuk kuasa hukum Duma&Partners dalam rangka menghadapi sidang perkara kepailitan itu.

Java dan Precise merupakan pemegang obligasi berdenominasi dolar yang diterbitkan oleh Mobile-8 Telecom Finance, anak perusahaan Mobile-8.

β€œDalam dokumen memang disebutkan bahwa pemegang obligasi minimal membeli satu obligasi senilai US$100.000. Jadi, tampaknya Java dan Precise memegang satu obligasi perseroan.”

Java dan Precise, lanjut Chris, merupakan dua pihak dari pemegang obligasi dolar dari Mobile-8 yang diterbitkan dengan total US$100 juta.

Pemegang obligasi yang diwakili oleh wali amanat, yaitu DB Trustees meminta adanya percepatan pembayaran obligasi yang semula jatuh tempo pada 2013 itu.

Adapun, kasus tersebut diajukan DB Trustees ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan pada 15 Juli 2009 perseroan akan menghadapi panggilan persidangan yang kedua.

β€œJava dan Precise mengambil langkah sendiri dengan mengajukan sidang pailit itu di luar kasus yang diajukan DB Trustees.”

Chris mengatakan perseroan segera memfinalisasi restrukturisasi utang obligasi berdenominasi rupiah senilai Rp675 miliar.

Oleh Sylviana Pravita R.K.N.
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
super_4G
(Penasihat)
07/06/09 17:26
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
semoga pas gabung, mereka keluarin layanan EV-DO nya, biar pilihan provider makin banyak dan tersebar merata.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
09/06/09 08:22
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Pengadilan tolak permohonan PKPU
PT Mobile 8 bantah terbitkan obligasi US$

JAKARTA: Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menolak permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) yang diajukan oleh dua kreditur PT Mobile 8 Telecom Tbk terhadap perusahaan itu.

"Menolak permohonan para pemohon untuk seluruhnya," ujar Reno Listowo, ketua majelis hakim yang memeriksa dan memutus permohonan PKPU saat sidang pembacaan putusan di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, kemarin.

Permohonan PKPU terhadap PT Mobile 8 itu dilayangkan dua kreditur Java Investment Advisory Group Incorporated dan Precise Circle Limited

Dalam pertimbangan hukumnya, majelis hakim berpendapat permohonan PKPU yang diajukan kedua kreditur itu pembuktiannya dinilai tidak sederhana, yakni terkait dengan kapasitas kreditur dan debitur.

Pasalnya, selama pemeriksaan permohonan PKPU ada beda pendapat antara pemohon dan termohon (PT Mobile 8), di mana termohon menolak secara tegas bahwa pihaknya merupakan debitur.

PT Mobile 8 Telecom Tbk membantah pihaknya tidak pernah menerbitkan obligasi dolar AS, tetapi anak usahanya Mobile 8 Telecom Finance Company BV yang menerbitkan surat berharga itu..

Sebelumnya, Java Investment dan Precise Circle mengajukan permohonan PKPU karena mengklaim sebagai pemegang obligasi dolar AS yang diterbitkan oleh Mobile 8 Telecom Finance, anak usaha PT Mobile 8.

Dalam permohonan PKPU yang diajukan pada 20 Mei 2009, PT Mobile 8 Telecom (termohon) diklaim mempunyai utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih kepada Java Investment dan Precise Circle (pemohon).

Salah satu kuasa hukum para pemohon, Tommi S. Siregar, mengungkapkan kekecewaannya atas putusan majelis hakim yang menolak permohonan PKPU yang dilayangkan oleh pihaknya.

Pemohon kecewa

"Kami kecewa karena kami sudah berusaha baik-baik untuk menjaga agar Mobile 8 lebih panjang waktu pembayarannya dan utang terjamin," katanya, seusai sidang putusan permohonan PKPU, kemarin.

Akan tetapi, dia belum bisa memastikan apakah akan mengajukan upaya hukum terkait dengan putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat tersebut. Pasalnya, dia mengaku perlu mengonsultasikan terlebih dahulu dengan para kliennya.

Sementara itu, kuasa hukum termohon, Duma Hutapea, menilai pertimbangan hukum dan putusan majelis hakim sudah tepat dan sesuai dengan ketentuan yang termuat dalam UU No.37/2004 tentang Kepailitan dan PKPU.

Kemarin, sebelum sidang pembacaan putusan oleh majelis hakim kuasa hukum para pemohon sempat mengajukan permohonan pencabutan PKPU yang diajukan terhadap PT Mobile 8.

Tommi menyebutkan permohonan pencabutan PKPU tersebut diajukan karena pihaknya menginginkan agar penyelesaian proses restrukturisasi utang dilaksanakan di luar persidangan.

Akan tetapi, Duma ternyata menolak permohonan pencabutan yang diajukan oleh para pemohon tersebut.

"Saya tolak permohonan pencabutan karena saya yakin dengan apa yang kita jalankan. Berarti dia [para pemohon] ragu akan kedudukannya," tuturnya.

Sengketa antara kedua pihak ini berawal ketika Mobile 8 Telecom Finance menerbitkan Guaranteed Senior Notes (obligasi dolar AS), tertanggal 15 Agustus 2007 dengan nilai total US$100 juta, yang ditawarkan dengan tingkat bunga 11,25% per tahun.

Para pemohon merupakan pemegang obligasi yang diterbitkan Mobile 8 Telecom Finance tersebut, dengan nilai nominal US$100.000 untuk Java Investment sebagaimana statement tertanggal 17 April 2009 dan US$100.000 untuk Precise Circle sebagaimana statement tertanggal 17 April 2009. (elvani@[tautan dihapus])

Oleh Elvani Harifaningsih
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
10/06/09 13:41
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Bunga obligasi Mobile-8 diusulkan dipangkas
Kajian Mandiri Sekuritas memuat paket restrukturisasi

JAKARTA: Hasil kajian dari penasihat keuangan pemegang obligasi PT Mobile-8 Telecom Tbk mengusulkan satu paket kombinasi restrukturisasi surat utang.

Beberapa eksekutif yang mendengar informasi itu mengatakan kajian yang dibuat oleh PT Mandiri Sekuritas itu menyebutkan adanya kombinasi pemangkasan bunga obligasi, perpanjangan tenor, dan cicilan bunga yang tertunggak.

"Dalam rapat antara Mandiri Sekuritas dan streering committee obligasi Mobile-8 hari ini [kemarin], dibahas mengenai kombinasi restrukturisasi surat utang. Namun, skema itu akan dibahas dalam rapat umum pemegang obligasi yang dijadwalkan pada 30 Juni," tuturnya kepada Bisnis, kemarin.

Mobile-8 gagal membayar bunga obligasi dengan nilai pokok Rp675 miliar yang jatuh tempo pada 15 Maret senilai Rp20,88 miliar. Operator telepon yang berbasis code division multiple access itu dijadwalkan membayar bunga lagi pada 15 Juni.

Steering committee obligasi Mobile-8 terdiri dari 13 investor institusi yang mewakili 72% dari jumlah surat utang setara dengan Rp486 miliar. Anggota steering committee adalah Dapen Bank Indonesia, Dapen PLN, Dapen Semen Padang, Dapen Krakatau Steel, Dapen Pos, dan Dapenma Pamsi.

Kinerja Mobile-8 Telecom per 31 Maret 2009 (Rp miliar)
2009 2008
Pendapatan usaha 93,62 210,14
Laba usaha (167,89) 2,78
Rugi sebelum pajak (240,55) (32,06)
Rugi bersih (180,64) (22,30)
Rugi per saham (Rp) (9,16) (1,10)
Sumber : Mobile-8

Anggota lainnya adalah Reksa Dana BNI Berbunga Tiga, Reksa Dana BNI Terproteksi, Bank Central Asia, dan Bank Internasional Indonesia. Selebihnya yaitu Ramayana Lestari Sentosa, Tri Daya, dan Danareksa Sekuritas.

Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik ketika dikonfirmasi membenarkan adanya pertemuan antara penasihat keuangan dan pemegang obligasi. "Saya tidak mengikuti pertemuan itu, sehingga tidak mendapat informasi mengenai hasilnya."

Iman Rachman, Head of Investment Banking Mandiri Sekuritas, mengatakan sedang rapat ketika dikonfirmasi mengenai isi dari hasil kajian tersebut. "Saya dengan rapat."

Dia juga tidak merespons pesan singkat yang dikirimkan melalui telepon selulernya tadi malam.

Sumber Bisnis menambahkan pemegang obligasi sepakat untuk tidak memberi vonis gagal bayar kepada operator telekomunikasi itu. Asalkan, Mobile-8 menjalankan paket restrukturisasi yang diusulkan oleh Mandiri Sekuritas.

Tenor diperpanjang

Paket itu menyebutkan obligasi rupiah Mobile-8 senilai Rp675 miliar diperpanjang masa jatuh temponya 5 tahun menjadi 15 Maret 2017 dari semula 15 Maret 2012.

Pembayaran bunga obligasi tertunggak, yang seharusnya dibayarkan secara kuartalan pada Maret dan pada bulan ini, akan diselesaikan dalam 6 bulan ke depan hingga Desember.

Selain itu, bunga obligasi berikutnya diturunkan menjadi berturut-turut 5%, 5%, 8%, dan 12% per tahun pada tahun ini dan tahun-tahun berikutnya. Ini lebih rendah dari bunga obligasi yang seharusnya sebesar 12,375% per tahun.

"Kekurangan pembayaran bunga itu akan dibayarkan pada akhir periode. Secara periode kami memang tidak rugi tetapi secara time of money kami merugi," tuturnya.

Ketika diterbitkan obligasi I/2007 Mobile-8 mengantongi peringkat BBB+ dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Obligasi rupiah dijamin dengan fidusia atas sebagian perangkat infrastruktur telekomunikasi perusahaan sebesar 110% dari seluruh jumlah pokok obligasi yang masih beredar.

Apabila peringkat obligasi memburuk, jaminan fidusia naik menjadi 130% dari seluruh jumlah pokok obligasi. Pada 18 Maret 2009, Pefindo merevisi peringkat obligasi tersebut menjadi idD (default/gagal bayar).

Penurunan peringkat juga dialami oleh surat utang berjaminan senior senilai US$100 juta. Pada 2 Desember 2008, Standard & Poor's merevisi peringkat surat utang menjadi gagal bayar dibandingkan dengan peringkat saat diterbitkan yakni B.

Moody's bahkan menarik peringkatnya sejak 20 Februari 2009. Mobile-8 juga belum membayar bunga obligasi ini sebesar US$5,62 juta atau setara Rp61,59 miliar yang pembayarannya jatuh tempo pada 1 Maret 2009.

Perseroan juga tidak menggelar penawaran tender terhadap obligasi dolar pada harga premium, meskipun terjadi pergantian pemegang saham pengendali.(pudji.lestari@[tautan dihapus] wisnu.wijaya@[tautan dihapus])

Oleh Pudji Lestari & Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
15/06/09 09:37
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
'Mobile-8 agar dijual'
Pemegang saham baru harus efektif pada akhir 2009

JAKARTA: PT Mandiri Sekuritas mengusulkan agar PT Mobile-8 Telecom Tbk segera dijual ke investor strategis pada akhir tahun ini.

"Pemodal strategis diharapkan efektif menjadi pemegang saham baru Mobile-8 paling lambat pada akhir 2009, sehingga operator telepon itu mendapat dana segar untuk membiayai operasionalnya," ujar seorang eksekutif yang mengetahui isi kajian yang dibuat oleh Mandiri Sekuritas kepada Bisnis pada akhir pekan lalu.

Mandiri Sekuritas merupakan penasihat keuangan yang ditunjuk oleh steering committee, yang beranggotakan 13 investor institusi, untuk membuat kajian. Nantinya, hasil kajian itu digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam rapat umum pemegang obligasi (RUPO) yang dijadwalkan pada 30 Juni.

Penjualan saham kepada investor strategis merupakan salah satu opsi, selain suntikan dari pemegang saham melalui rights issue yang dikombinasikan dengan restrukturisasi utang obligasi rupiah.

Jerash Investment Ltd pada 30 April 2009 menguasai 32% saham Mobile-8, PT Global Mediacom Tbk dan PT Bhakti Asset Management memiliki 19% saham dan 7,28%, sedangkan Qualcom Incorporated dan UOB Kay Hian Private Ltd memiliki 5,01% dan 13,29% saham.

Berdasarkan materi rapat informasi dengan pemegang obligasi pada 19 Desember 2008, Mobile-8 membutuhkan dana segar US$100 juta pada tahun ini.

Ketika dikonfirmasi mengenai injeksi modal dari pemegang saham baru Mobile-8, Director Head of Investment Banking Mandiri Sekuritas Iman Rachman tidak merespons panggilan dan pesan singkat yang dikirimkan oleh Bisnis.

Tenor diperpanjang

Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Christoporus Siswandi Taufik mengatakan belum membaca kajian dari Mandiri Sekuritas itu. "Saya belum lihat kajian itu, yang jelas kami ingin tenor obligasi diperpanjang. Kami tunggu hasil RUPO."

Steering committee obligasi Mobile-8, yang mewakili 72% dari jumlah surat utang setara dengan Rp486 miliar, beranggota Dapen Bank Indonesia, Dapen PLN, Dapen Semen Padang, Dapen Krakatau Steel, Dapen Pos, dan Dapenma Pamsi.

Anggota lainnya adalah Reksa Dana BNI Berbunga Tiga, Reksa Dana BNI Terproteksi, Bank Central Asia, dan Bank Internasional Indonesia. Selebihnya yaitu Ramayana Lestari Sentosa, Tri Daya, dan Danareksa Sekuritas.

Mobile-8 gagal membayar bunga obligasi dengan nilai pokok Rp675 miliar yang jatuh tempo pada 15 Maret senilai Rp20,88 miliar. Operator telepon itu dijadwalkan membayar bunga lagi pada 15 Juni. Paket restrukturisasi itu mengungkapkan tenor obligasi rupiah Mobile-8 senilai Rp675 miliar diperpanjang 5 tahun menjadi 15 Maret 2017 dari semula 15 Maret 2012.

Selain itu, bunga obligasi berikutnya diturunkan menjadi berturut-turut 5% pada tahun pertama dan kedua, 5% pada tahun ketiga dan keempat, dan 12% pada tahun terakhir. (pudji.lestari@[tautan dihapus] wijaya@[tautan dihapus])

Oleh Pudji Lestari & Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
15/06/09 11:51
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
ini msl mobile-8 ga beres2 nih
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
persebaya
(Penasihat)
15/06/09 12:18
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
m-8 ?? Hidup segan ... mati pun segan ...
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
auliafathya
(Anggota)
15/06/09 14:28
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Permasalahanya itu Pemegang saham moyority Fren yaitu group Bimantara mau jual fren dengan harga mahal. Mana mau Bakry group Beli? Apalagi Flexi ? karena kalau dihitung2 Fren itu tinggal ijin Frek. doang karena invest nya sebenarnya dari hutang aja . Kecuali Fren dijual dengan standart saham yaitu Rp 50,0 mungkin Esia atau Flexi atau Smart mau beli....
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
persebaya
(Penasihat)
15/06/09 16:25
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
^-^ Biasanya kalo nawar kepemilikan saham dalam jumlah besar (Block Sale) ... discountnya maut .. kalo sekarang harga saham FREN mentog di gocap ... biasanya ditawar di 25 atau kurang .... (discount > 50 % .. ) lagian utangnya gedhe - gedhean .... Itu berita di inet pemegang obligasinya udah mendesak untuk dibayar bunganya ... and management fren nggak mampu ....

Beritanya sih kalo FREN nggak bisa dapat dana 1 trilyun buat operasional (OPEX 3 th), FREN bisa default .... (pailit) ...
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
16/06/09 08:06
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Mantap, Indosat & QTEL, ingin beli M8 juga...

------------------------------------

Gobel incar Mobile-8

Diperlukan suntikan US$100 juta pada 2009

JAKARTA: Pengusaha nasional Rachmat Gobel yang sekaligus menjadi mitra lokal Qatar Telecom QSC (Qtel) di Indonesia mengincar saham operator telepon PT Mobile-8 Telecom Tbk.

Seorang eksekutif yang mengetahui rencana itu mengatakan Rachmat akan membeli Mobile-8 apabila harga yang ditawarkan tidak mahal. β€œAda kemungkinan Rachmat menggandeng mitranya di PT Indosat Tbk yaitu Qtel agar nantinya bisa disinergikan,” ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Saat dikonfirmasi kemarin, Rachmat membenarkan rencana itu. Dia mengatakan masih mendalami rencana strategis tersebut.

β€œSaya pernah bicara tentang minat ini [dengan pemegang saham dan manajemen Mobile-8], tetapi saya belum mengambil keputusan apa-apa karena rencana itu masih ditelaah lebih mendalam,” tuturnya.

Operator telepon berbasis code division multiple access itu gagal bayar bunga obligasi Rp675 miliar dan US$100 juta. Gagal bayar itu bermula ketika pemegang saham mayoritas Mobile-8, PT Global Mediacom Tbk, menjual 32% saham operator telepon itu kepada perusahaan private equity fund yang berpusat di Dubai yaitu Jerash Investment Ltd yang dipimpin oleh seorang CEO Shiv Dave.

Divestasi itu membuat kepemilikan Global Mediacom berkurang dari 51%, sehingga salah satu klausul dalam perjanjian obligasi dolar berlaku. Klausul itu membuka peluang buyback surat utang. Perusahaan telepon itu tidak melaksanakan klausul itu dan terjadilah default yang dikhawatirkan memicu gagal bayar silang terhadap obligasi rupiah.

Mobile-8 gagal bayar bunga obligasi rupiah yang jatuh tempo pada 15 Maret senilai Rp20,88 miliar.

Presiden Grup dan CEO Global Mediacom Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo tidak bersedia menjelaskan mengenai pendekatan yang dilakukan oleh Gobel.

β€œSoal kabar bahwa Qatar berminat atas saham Global Mediacom, itu tidak benar. Namun, saya tidak bisa mengonfirmasi isu mengenai Mobile-8 karena yang bisa menyampaikan hal itu adalah manajemen Mobile-8, meskipun Global Mediacom masih memiliki saham itu.”

Direktur Utama Mobile-8 Merza Fachys tidak membantah ketika dikonfirmasi soal minat Rachmat Gobel untuk membeli Mobile-8. Namun, dia menolak menjelaskan lebih lanjut.

3 Investor

Menurut dia, kini terdapat tiga investor yang berminat membeli saham Mobile-8. β€œNilainya belum kami tentukan. Yang jelas, valuasi dari perusahaan ini masih bergantung pada hasil dari restrukturisasi utang obligasi dolar dan rupiah,” ujarnya. Dia menuturkan seluruh pemodal strategis yang berminat membeli saham perseroan masih dalam tahap penjajakan.

β€œAda pemodal yang meminta penasihat keuangan atas penjualan saham Mobile-8 dan kami akan menyediakan hal itu. Saya belum bisa menyampaikan identitas mengenai calon investor itu,” ujarnya.

Operator penyedia jasa telepon Fren itu sedang berupaya menempuh restrukturisasi obligasi rupiah berjaminan dengan pemegang obligasi. PT Mandiri Sekuritas ditunjuk sebagai penasihat keuangan oleh pemegang obligasi untuk membuat kajian terkait dengan kondisi internal Mobile-8.

Tenor obligasi rupiah Mobile-8 senilai Rp675 miliar diusulkan diperpanjang 5 tahun menjadi 15 Maret 2017 dari semula 15 Maret 2012.

Pembayaran bunga obligasi tertunggak, yang seharusnya dibayarkan secara kuartalan pada Maret dan pada bulan ini, akan diselesaikan dalam 6 bulan ke depan hingga Desember.

Selain itu, bunga obligasi berikutnya diturunkan menjadi berturut-turut 5% pada tahun pertama dan kedua, 5% pada tahun ketiga dan keempat, dan 12% pada tahun terakhir. Usulan bunga itu lebih rendah dari bunga obligasi yang seharusnya sebesar 12,375% per tahun.

Selain mengusulkan paket restrukturisasi obligasi, Mandiri Sekuritas juga menyodorkan adanya pinjaman dari pemegang saham dan masuknya investor strategis.

β€œPemegang saham baru efektif paling lambat pada akhir 2009,” ujar sumber Bisnis lainnya.

Materi rapat informal obligasi Mobile-8 mengungkapkan perseroan membutuhkan suntikan dana segar US$100 juta pada tahun ini dan US$25 juta pada 2011.

Menurut analis saham PT BNI Securities M. Alfatih, posisi Mobile-8 yang melaksanakan restrukturisasi obligasi membuat daya tawar menjadi rendah.

Saham Mobile-8 hingga kemarin masih disuspensi oleh Bursa Efek Indonesia di level Rp50.

Oleh Sylviana Pravita R.K.N. & Wisnu Wijaya

Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
16/06/09 08:24
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Pemegang Obligasi Mobile-8 Setujui Opsi Restrukturisasi
16/06/2009 07:58:05 WIB
Oleh Deviana Chuo
JAKARTA, INVESTOR DAILY

Mayoritas pemegang obligasi rupiah PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) menyetujui opsi restrukturisasi daripada penambahan modal perseroan. Jika manajemen tidak sepakat, obligasi senilai Rp 675 miliar itu akan dinyatakan gagal bayar (default) dan aset jaminan bakal dieksekusi.

Persetujuan terhadap opsi restrukturisasi obligasi Mobile-8 tersebut merupakan hasil pertemuan antara komite pengarah (steering committee/SC) yang terdiri atas 13 institusi pemegang obligasi Mobile-8 bersama PT Mandiri Sekuritas selaku financial advisor di Jakarta, Senin (15/6).

Sumber Investor Daily yang mengetahui hasil rapat tersebut, mengungkapkan, ada enam poin restrukturisasi yang diputuskan kemarin. Beberapa poin itu di antaranya pemegang obligasi meminta penyelesaian obligasi rupiah harus lebih baik dibanding obligasi dolar Mobile-8. Perseroan juga diizinkan menyicil empat kali dalam satu tahun untuk kupon obligasi yang belum dibayar sebesar Rp 41,76 miliar.

Poin selanjutnya dalam restrukturisasi obligasi berkupon 12,375% itu adalah ketentuan terkait sinking fund dan laba sebelum beban bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) yang harus positif. Di samping itu, poin perpanjangan tenor obligasi dan penurunan bunga juga disepakati pemegang obligasi yang tergabung dalam komite pengarah.

Menurut dia, pemegang obligasi akan mengajukan perpanjangan jatuh tempo hingga semester I-2017 dari sebelumnya 2012. Sedangkan kupon obligasi bisa diturunkan menjadi 5% untuk tiga tahun pertama, 8% untuk tiga tahun selanjutnya, dan 12% untuk dua tahun terakhir.

Terkait kinerja Mobile-8, pemegang obligasi meminta operator Fren tersebut membukukan EBITDA positif pada 2010. Jika tidak tercapai, perseroan harus menambah modal. Mekanisme yang dapat ditempuh adalah penjualan saham kepada investor strategis, penerbitan saham baru (rights issue), atau pinjaman subordinasi dari pemegang saham mayoritas. Tapi, kalau penambahan modal tidak dapat direalisasikan dalam waktu tertentu, obligasi akan dinyatakan default.

β€œNamun, untuk saat ini, Mobile-8 tidak perlu menambah modalnya melalui penjualan saham, karena pemegang obligasi memilih opsi restrukturisasi,” ungkap sumber itu.

Poin-poin restrukturisasi akan diajukan kepada manajemen Mobile-8 dalam rapat umum pemegang obligasi (RUPO) pada 29 Juni 2009. Jika manajemen tidak menyetujui usulan itu, Obligasi I Mobile-8 Telecom Tahun 2007 akan dinyatakan default. Setelah itu, pemegang obligasi akan meminta eksekusi aset jaminan yang nilainya mencapai 120% dari pokok obligasi. Jaminan itu berupa infrastruktur milik perseroan, salah satunya menara telekomunikasi.

Beban Berkurang
Sumber itu juga mengatakan, opsi restrukturisasi yang disepakati pemegang obligasi sebenarnya memberi kesempatan kepada manajemen untuk memperbaiki kinerja perseroan. Pasalnya, restrukturisasi dapat mengurangi beban keuangan, sehingga Mobile-8 dapat melanjutkan ekspansinya.

Direktur Utama Mobile-8 Merza Fachys pernah mengatakan, jika restrukturisasi berhasil, perseroan dapat membukukan break event point (BEP) pada akhir 2009. Perseroan juga menargetkan kenaikan jumlah pelanggan sebanyak 1-1,5 juta menjadi sekitar 4,5 juta hingga akhir tahun ini. Sedangkan per akhir kuartal I-2009, perseroan memiliki 3,2 juta pelanggan Fren dan Hepi.

Head of Economic Research PT Bank International Indonesia Tbk (BII) Juniman mengatakan, bisnis telekomunikasi sebenarnya memiliki prospek yang baik, tapi membutuhkan modal yang kuat. Meski demikian, industri ini masih memiliki ruang untuk berkembang di Indonesia yang penduduknya mencapai 220 juta jiwa.

Beberapa Poin Restrukturisasi Obligasi Mobile-8 yang Disepakati

* Pemegang obligasi meminta penyelesaian obligasi rupiah harus lebih baik dibanding obligasi dolar Mobile-8.

* Perseroan diizinkan menyicil empat kali atau tiga bulanan dalam satu tahun untuk kupon obligasi yang belum dibayar sebesar Rp 41,76 miliar.

* Ketentuan terkait sinking fund dan laba sebelum beban bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) yang harus positif pada 2010.

* Perpanjangan tenor obligasi hingga semester I-2017 dan penurunan bunga menjadi 5% untuk tiga tahun pertama, 8% untuk tiga tahun selanjutnya, dan 12% untuk dua tahun terakhir.
-----------------------------
Catatan : Kalau manajemen tidak menyetujui poin tersebut pada RUPO pada 29 Juni 2009 , obligasi akan dinyatakan gagal bayar (default). Pemegang obligasi bakal meminta eksekusi aset jaminan.
-----------------------------------

Sumber: wawancara
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
16/06/09 15:40
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
BTEL Kaji Konsolidasi dengan Mobile-8
Perseroan belum memperoleh penawaran Mobile-8 terkait rencana menggandeng mitra strategis.
Selasa, 16 Juni 2009, 14:11 WIB
Arinto Tri Wibowo, Nerisa

VIVAnews - PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) masih mempertimbangkan rencana konsolidasi bisnis telepon seluler berbasis code division multiple access (CDMA) dengan PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN).

Meski demikian, perseroan lebih fokus pada pengembangan bisnis secara organik ketimbang anorganik.

"Kami melihat arah konsolidasi akan terjadi, tapi tidak akan gegabah," kata Direktur Utama Bakrie Telecom Anindya N Bakrie pada jumpa pers perusahaan di gedung Mega Plasa, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Selasa 16 Juni 2009.

Anindya menambahkan, pihaknya belum memperoleh penawaran dari Mobile-8 terkait rencana perusahaan itu untuk menggandeng mitra strategis.

Saat ini, dia menjelaskan, Bakrie Telecom masih fokus mengembangkan bisnis telekomunikasi melalui produknya Esia, Wifone, dan Wimode. Apalagi, Bakrie Telecom mencanangkan target penambahan pelanggan menjadi 10,5 juta pada 2009.

Anindya mengungkapkan, berdasarkan hal tersebut, perseroan berupaya mempertimbangkan situasi dan kondisi yang ada, serta akan mengambil kebijakan yang paling tepat terutama dalam rencana konsolidasi. "Jangan sampai kami memilih (perusahaan) yang sakit," ujarnya.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
auliafathya
(Anggota)
17/06/09 13:05
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Wah kalau Rahmat Gobel Jadi beli Mobile-8 dan ngajak Q tel maka akan dilebur jadi Satu dengan Indosat, maka Indosat benar2 Gila, Ijin Seluler GSM punya, Ijin FWA CDMA punya, Ijin Seluler CDMA juga Punya, Ijin SLI punya, Ijin SLJJ punya, maka benar 2 Pesaing PT. Telkom sungguhan...

Dan perlu diingat untuk CDMA nya mereka (kalau jadi nih) akan punya 7 channel Frek. javascript:void(0) Kalau diterapkan maka untuk CDMA nya khususnya EVDO bisa sampai kecepatan inetnya bisa sampai 20 M/sec (kaya di Amerika)

benar 2 bagus nih untuk kita , para Usernya .....
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
17/06/09 14:19
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Bakrie Telecom Belum Berminat Akuisisi Mobile-8
17/06/2009 12:03:03 WIB
JAKARTA, INVESTOR DAILY

PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) tidak berminat mengakuisisi saham PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN). Perseroan lebih tertarik untuk menaikkan pertumbuhan organik melalui pengembangan bisnis yang sudah ada.

Direktur Utama Bakrie Telecom Anindya Bakrie membantah telah membentuk tim kecil untuk mengkaji akuisisi Mobile-8. β€œPerseroan belum berminat untuk mengakuisisi saham Mobile-8. Para pemegang saham Bakrie Telecom juga meminta pertumbuhan anorganik dilaksanakan secara hati-hati,” ujarnya usai rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) perseroan di Jakarta, Selasa (16/6).

Hanya saja, menurut Anindya, perseroan masih mempertimbangkan rencana konsolidasi bisnis telepon seluler berbasis code division multiple access (CDMA) dengan Mobile-8. Konsolidasi tidak akan dilaksanakan secara gegabah. Pihaknya mengakui Mobile-8 belum pernah menawarkan sahamnya kepada perseroan.

Dia menambahkan, pertumbuhan organik direalisasikan melalui pengembangan sejumlah produk, seperti Esia, Wifone, dan Wimode. Perseroan juga akan mendongkrak jumlah pelanggan menjadi 10,5 juta sampai akhir tahun ini.

Guna mengembangkan bisnisnya tahun ini, menurut dia, Bakrie Telecom mengganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun 2008-2010 senilai US$ 600 juta. Dananya berasal dari hasil penerbitan saham baru (rights issue) pada 2008 senilai Rp 3 triliun. Selain itu, pembiayaan capex juga dihimpun dari hasil penjualan 543 menara dan kas internal.

Sebelumnya, Bakrie Telecom telah melepas sebanyak 543 menara telekomunikasi miliknya kepada PT Solusi Tunas Pratama senilai Rp 450 miliar. Perseroan mendapatkan dana bersih senilai Rp 390 miliar. Sisanya, Rp 60 miliar akan diretensi oleh pembeli sebagai dana cadangan untuk perpanjangan masa sewa tanah/gedung yang ditempati menara tersebut selama 10 tahun.

Dia mengatakan, pembayaran penjualan menara dilaksanakan dalam empat tahap. Pembayaran pertaman senilai Rp 140 miliar telah diterima perseroan pada 1 Juni lalu. Selanjutnya, perseroan akan menerima Rp 80 miliar pada 1 Juli, Rp 80 miliar pada 1 Agustus, dan sisanya mencapai Rp 90 miliar pada 1 September 2009.

Anindiya menambahkan, Bakrie Telecom menargetkan pangsa pasar sambungan langsung internasional (SLI) sebesar Rp 1 triliun dalam tiga tahun mendatang. Saat ini, total pangsa pasar SLI di dalam negeri mencapai Rp 3 triliun.

Direktur Keuangan Bakrie Telecom Jastiro Abi mengatakan, SLI diperkirakan mulai berkontribusi terhadap pendapatan perseroan tahun ini, meskipun nilainya kecil. β€œKami memperkirakan kontribusinya SLI mulai besar pada 2010 dan 2011,” tandas dia.

Hingga kuartal I-2009, Bakrie Telecom meraih pertumbuhan pendapatan sebesar 27,51% menjadi Rp 816,097 miliar dengan peningkatan 26,7% menjadi Rp 73,01 miliar. Namun, laba bersih turun 79,18% dari Rp 27,38 miliar menjadi Rp 5,7 miliar. Penurunan laba akibat lonjakan beban keuangan dan rugi kurs.

Perseroan mencatat pendapatan produk Esia pra bayar menjadi kotributor utama terhadap pendapatan konsolidasi Bakrie Telecom setelah bertumbuh 32,45% menjadi Rp 693,39 miliar dibanding periode sama tahun lalu Rp 468,38 miliar. Sedangkan kinerja jasa telekomunikasi lainnya, seperti Esia pasca bayar, Wifone pra bayar dan pasca bayar, Esiatel, Ratelindo reguler, dan Ratelindo wartel justru melemah. (fei)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
17/06/09 14:29
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Bakrie Telecom alokasikan laba untuk modal

JAKARTA: Pemegang saham PT Bakrie Telecom Tbk menyepakati rencana perseroan menggunakan seluruh laba bersih tahun lalu senilai Rp136,8 miliar untuk memperkuat modal kerja.

Direktur Utama Bakrie Telecom Anindya N. Bakrie mengatakan keputusan tersebut sejalan dengan strategi perseroan memenuhi kebutuhan belanja modal senilai US$600 juta untuk periode 2008-2010.

β€œLaba bersih 2008 untuk membiayai operasional dan belanja modal, sehingga tahun ini tidak ada pembagian dividen. Dari kebutuhan US$600 juta, 50% dipenuhi dari rights issue,” tuturnya kepada pers kemarin.

Sebesar 25% kebutuhan belanja modal, lanjutnya, dipenuhi dari penjualan menara dan vendor financing, dan 25% sisanya dipenuhi dari kas perusahaan termasuk pencadangan laba bersih tersebut.

Setiap tahun, lanjutnya, perseroan menganggarkan belanja modal senilai US$200 juta, dan sejauh ini telah membelanjakan modal yang nilainya mencapai US$250 juta-US$300 juta.

Direktur Keuangan Bakrie Telecom Jastiro Abi menambahkan berdasarkan perjanjian jual beli (sales and purchase agreement/SPA) penjualan menara, perseroan meraup dana hingga Rp450 miliar, yakni Rp390 miliar dari nilai penjualan dan sisanya perpanjangan sewa.

β€œTerm pembayaran dilakukan dalam empat tahap dan kami telah menerima pembayaran pertama senilai Rp140 miliar pada Juni 2009. Pembayaran selanjutnya dijadwalkan berlangsung tiga tahap hingga September,” jelasnya.

Pada pembayaran tahap kedua dan ketiga yakni pada Juli dan Agustus, perseroan akan menerima pembayaran masing-masing Rp80 miliar. Nilai pembayaran terakhir pada September sebesar Rp90 miliar.

Sebelumnya, perseroan telah menunjuk PT Solusi Tunas Pratama sebagai pemenang tender penjualan 543 menara. SPA dan Master Lease Agreement (MLA) ditandatangani pada 14 Mei 2009.

Mobile-8

Menanggapi isu upaya konsolidasi perseroan dengan pemain operator seluler berbasis code division multiple access (CDMA) lain yakni PT Mobile-8 Telecom Tbk, Anindya menyatakan belum berminat mengakuisisi perusahaan tersebut.

β€œSaat ini, kami lebih memilih untuk fokus mengembangkan bisnis secara organik, meski ke depan tidak menutup kemungkinan pengembangan bisnis secara anorganik,” tuturnya.

Saat ini, manajemen fokus mengembangkan bisnis telekomunikasi melalui produknya Esia, Wifone, dan Wimode.

Tahun ini, Bakrie Telecom menargetkan jumlah pelanggan 10,5 juta dan tumbuh menjadi 14 juta tahun depan.

Terlebih, perseroan juga memiliki bisnis sambungan internasional yang diharapkan bisa meraup sepertiga pasar sambungan lansung internasional, atau setara dengan Rp1 triliun dalam 3 tahun mendatang.

Oleh Arif Gunawan S.
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
17/06/09 14:35
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Masa depan Mobile-8

Kabar teranyar yang berembus dari lantai bursa adalah rencana Rahmat Gobel membeli saham operator telepon PT Mobile-8 Telecom Tbk. Entah terealisasi atau tidak, dalam aksi tersebut Gobel diperkirakan menggandeng mitranya di Indosat, Qatar Telecom QSC (Qtel).

Bagi Gobel dan Qtel, menguasai operator telepon berbasis code division multiple access (CDMA) itu akan memperkuat cengkeraman mereka di bidang telekomunikasi karena sebelumnya mereka sudah menguasai mayoritas saham Indosat.

Dalam konteks industri, pembelian ini merupakan momentum konsolidasi para pemain di industri tersebut sehingga terjadi penciutan jumlahnya. Dengan demikian diharapkan terjadi kompetisi yang lebih sehat dan tercipta efisiensi dalam pelayanan kepada konsumen.

Di pihak lain, bagi manajemen, karyawan dan investor publik yang memegang saham berkode FREN itu, pembelian oleh investor strategis tentu sangat menggembirakan karena menegaskan kembali prospek perusahaan tersebut.

Sudah sekian lama kinerja perusahaan itu didera persoalan finansial yang serius. Persoalan mengemuka ketika perseroan diketahui mengalami gagal bayar (default) bunga obligasi dari dua emisi, yaitu obligasi rupiah senilai Rp675 miliar dan obligasi dolar US$100 juta. Hingga kemarin, perdagangan sahamnya di lantai bursa untuk sementara dilarang. Nilai saham terakhir bertengger di level Rp50 per saham.

Ketidakmampuan membayar bunga obligasi itu bermula ketika pemegang saham mayoritas Mobile-8, PT Global Mediacom Tbk, menjual 32% saham operator telepon itu kepada Jerash Investment Ltd, perusahaan private equity fund yang berpusat di Dubai.

Divestasi itu membuat kepemilikan Global Mediacom berkurang dari 51% sehingga ada satu klausul dalam penerbitan obligasi yang mesti dipenuhi, yaitu peluang untuk membeli kembali (buyback) surat utang. Dalam kenyataan, perusahaan telepon itu tidak melaksanakan klausul itu dan terjadilah default yang dikhawatirkan memicu gagal bayar silang terhadap obligasi rupiah.

Kesulitan finansial itu juga tecermin dalam kinerjanya. Hingga akhir Maret 2009, perusahaan itu membukukan rugi bersih Rp180,64 miliar, membengkak dari posisi yang sama tahun lalu Rp22,30 miliar.

Dengan kondisi seperti itu Mandiri Sekuritas yang menjadi penasihat keuangan dari 13 investor institusi pemegang obligasi rupiah Mobile-8 mendesak agar penjualan ke investor strategis harus segera dilakukan.

Penjualan ke investor strategis dinilai lebih memungkinkan dibandingkan dengan jalan lain berupa suntikan dari pemegang saham melalui rights issue yang dikombinasikan dengan restrukturisasi utang obligasi rupiah.

Menyadari nilai tambah transaksi ini, baik bagi perseroan, pemegang saham, stakeholders maupun industri telekomunikasi, transaksi tersebut perlu mendapat dukungan yang optimal. Tidak penting pihak mana yang berhasil membelinya, entah Gobel bersama Indosatnya ataupun pihak lain.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
17/06/09 15:05
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Tidak Mencatat Transaksi Derivatif, Bapepam Denda Mobile-8 Rp 100 Juta
Perseroan melanggar ketentuan di bidang akuntansi terkait perlakuan transaksi derivatif.
Rabu, 17 Juni 2009, 14:53 WIB
Arinto Tri Wibowo, Syahid Latif

VIVAnews - Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) memberikan sanksi denda Rp 100 juta kepada PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN).

Perseroan dinilai melanggar ketentuan di bidang akuntansi terkait perlakuan atas transaksi derivatif.

Kepala Biro Perundang-undangan dan Bantuan Hukum Bapepam-LK Robinson Simbolon dalam keterangan persnya menyatakan, laporan keuangan konsolidasi Mobile-8 Telecom per 30 Juni 2008 dan 2007 tidak mencatat adanya transaksi derivatif.

Hal itu dilakukan karena adanya ketidakpastian sebagai akibat dipailitkannya Lehman Brothers Holding Inc di Amerika Serikat yang merupakan induk Lehman Brothers Special Financing (LBSF).

Bapepam-LK menilai perusahaan tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam paragraf 17 Pedoman Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 55 tentang Akuntansi Transaksi Derivatif yang mewajibkan Mobile-8 untuk mengakui seluruh instrumen derivatif dalam laporan posisi keuangan sebagai aktiva atau kewajiban.

Mobile-8, Robinson melanjutkan, juga telah mengakui bahwa seharusnya nilai mark to market (MTM) dari transaksi derivatif per Juni 2008, sehingga hal tersebut diungkapkan pada catatan 48 laporan keuangan konsolidasi Mobile-8 per 30 Juni 2008 dan 2007 sesuai paragraf 59 PSAK 55.

Dengan alasan tersebut, Bapepam mengenakan sanksi administratif kepada Mobile-8 atas pelanggaran Peraturan Bapepam-LK Nomor VIII.G.7 tentang Pedoman Penyajian Laporan Keuangan angka 1 huruf b.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
djuned89
(Penasihat)
17/06/09 16:26
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Quote:
fathya said:
Wah kalau Rahmat Gobel Jadi beli Mobile-8 dan ngajak Q tel maka akan dilebur jadi Satu dengan Indosat, maka Indosat benar2 Gila, Ijin Seluler GSM punya, Ijin FWA CDMA punya, Ijin Seluler CDMA juga Punya, Ijin SLI punya, Ijin SLJJ punya, maka benar 2 Pesaing PT. Telkom sungguhan...

Dan perlu diingat untuk CDMA nya mereka (kalau jadi nih) akan punya 7 channel Frek. javascript:void(0) Kalau diterapkan maka untuk CDMA nya khususnya EVDO bisa sampai kecepatan inetnya bisa sampai 20 M/sec (kaya di Amerika)

benar 2 bagus nih untuk kita , para Usernya .....

hu uh....gw berharap demikian...
malah menurut gw fren nya di gabungin jadi starone aja..
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
18/06/09 02:47
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
nanti motonya jadi ngorbit pake daun
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
persebaya
(Penasihat)
18/06/09 06:39
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
walaupun sudah ngorbit pakai daun yang penting tetaplah hebat dan hemat ...
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
djuned89
(Penasihat)
18/06/09 09:04
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Quote:
R_w1n said:
nanti motonya jadi ngorbit pake daun

hahahahaha....
bisa-bisa aja nih bung erwin
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
20/06/09 10:09
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
16/06/2009 - 14:00
BTEL: Mobile-8 Tidak Sehat
Mosi Retnani Fajarwati

[tautan dihapus], Jakarta - PT Bakrie Telecom (BTEL) masih mempertimbangkan langkah untuk mengakuisisi PT Mobile-8 Telecom (FREN). Walaupun Mobile-8 saat ini sebagai perusahaan yang tidak sehat.

Demikian dikatakan Direktur Utama BTEL, Anindya Bakrie di Mega Plaza Jakarta, Selasa (16/6). "Kita masih fokus ke bisnis dulu, tapi arah konsolidasi akan terjadi," ujarnya.

Anindya menjelaskan hingga kini perseroan yang dipimpinnya masih belum mendapat surat tawaran dari Mobile-8. "Kita belum dapat surat dari mereka (FREN), kita gak neko-neko ya," ujarnya.

Namun, Anindya juga menegaskan perseroan masih akan menelaah langkah tersebut. Sebab, Mobile-8 adalah sebuah perusahaan yang tidak sehat. "Bisnis sedang susah jangan sampai pilih yang sakit, mesti lihat waktu dan tempat jangan sampai serakah nanti kualat," tegas Anin.

Adapun fokus bisnis yang dimaksud adalah pengembangan bisnis agar target pelanggan tercapai sebesar 14 juta tercapai di 2010. "Bukan karena harga, tapi kita pengen fokus. Kita juga belum pernah bertemu dengan manajemen mereka," pungkasnya.

Sebelumnya, BTEL santer dikabarkan akan mengkonsolidasi Mobile-8 untuk memperkuat bisnis CDMA-nya. Namun langkah tersebut terkendala dikabarkan karena harga jual yang terlalu mahal.[mre/hid]
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
ranmasuk
(Anggota)
20/06/09 10:39
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
mudah - mudahan jangan sampai gabung, guw enag sama BTeL!!!
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
vakusma
(Penasihat)
26/06/09 18:55
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
waduh aku kok males yah klo di merger ke esia...

secara aku pilih fren gara2 manteb banget pelayanan jaringannya...

gw dulu make esia,
sms jarang masuk, tlp lama banget nyambungnya, putus2, pulsa kadang kagak masuk, klo misal complain g langsung dilayani... lama banget respon dari esianya... klo mobile8 justru sebaliknya...

apalg sekarang gw make fren dua yang murah abis menurut gw tarifnya... salah satunya aja mana ada telpon k rumah cuma 150/menit lokal pake FWA klo g hepi yang udah gabung jadi DUO... CMIIW

kayak terakhir kemaren MOBI gw g bisa ngapa2in, jaringan di tempat gw lemot, eh protes gw, 7 hari kemudian langsung ada sinyal EVDO REV-B... wedeh... ampe terpolongo gw...

menurut gw sih... g tau yang lain ngerasain kayak gitu nggak...
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
vakusma
(Penasihat)
26/06/09 19:05
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
menurut kalian mending DIBELI GOBEL apa ANINDYA BAKRIE dengan ESIANYA???

wkwkwkwk...

gw pilih GOBEL AH... heheheh
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
djuned89
(Penasihat)
26/06/09 20:31
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Quote:
vakusma said:
menurut kalian mending DIBELI GOBEL apa ANINDYA BAKRIE dengan ESIANYA???

wkwkwkwk...

gw pilih GOBEL AH... heheheh

yup...gw setuju..
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
27/06/09 00:35
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Quote:
vakusma said:
waduh aku kok males yah klo di merger ke esia...

secara aku pilih fren gara2 manteb banget pelayanan jaringannya...

gw dulu make esia,
sms jarang masuk, tlp lama banget nyambungnya, putus2, pulsa kadang kagak masuk, klo misal complain g langsung dilayani... lama banget respon dari esianya... klo mobile8 justru sebaliknya...

apalg sekarang gw make fren dua yang murah abis menurut gw tarifnya... salah satunya aja mana ada telpon k rumah cuma 150/menit lokal pake FWA klo g hepi yang udah gabung jadi DUO... CMIIW

kayak terakhir kemaren MOBI gw g bisa ngapa2in, jaringan di tempat gw lemot, eh protes gw, 7 hari kemudian langsung ada sinyal EVDO REV-B... wedeh... ampe terpolongo gw...

menurut gw sih... g tau yang lain ngerasain kayak gitu nggak...

Rev. A kali? Di mana ada Rev B?? M8 & SMART max BTSnya support untuk Rev A ...
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
vakusma
(Penasihat)
27/06/09 00:59
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Quote:
rusco said:
Rev. A kali? Di mana ada Rev B?? M8 & SMART max BTSnya support untuk Rev A ...

klo rev-A kan dimodemnya ada tulisan tuh REV-A... kayak di daerah2 lainnya...
tapi ini cuma tulisan BROADBAND... itu bukannya revB kan ya? revB dibawah REV-A bukan? wkwkwkwk... maap agak ketuker ingatannya.... ^_^
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
vakusma
(Penasihat)
27/06/09 01:06
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Quote:
vakusma said:
menurut kalian mending DIBELI GOBEL apa ANINDYA BAKRIE dengan ESIANYA???

wkwkwkwk...

gw pilih GOBEL AH... heheheh

Vote for GOBEL... jiahahaha... sotoy banget gw...

eh kalian sadar g sih... selama ini Media Global Grup (MNC, INDOVISION, M8, dll) klo jualan pasti mahal2...

Indovision: diantara2 tv sepengetahuan gw, paling mahal deh ini paket2nya...

M8: Inget g pertama kali FREN muncul... wah gengsi banget nurunin harga makanya sekarang keliatan banget dia berusaha memberikan yang murah tapi berkualitas...

Jujur sih emang yang dipegang ama grupnya NUSANTARA ini kualitas bagus2... tapi kayaknya seakan2 g ada semboyan MURAH BAGUS... mereka kayak make MAHAL BAGUS...

nah sekarang tuh... pada g mau beli saham m8 gara2 ditawarinnya kemahalan...
CMIIW... cuma sekilas pandang aja...

GIMANA NIH PILIH GOBEL ato ANINDYA BAKRIE DENGAN ESIANYA??
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
27/06/09 17:20
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
klo gw masih setia dgn esia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
29/06/09 11:31
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Nasib Obligasi Rupiah FREN Diputuskan pada Hari Ini
Senin, 29 Juni 2009 - Harian Kontan

HARI ini, para pemegang obligasi rupiah PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) bakal menggelar Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO). RUPO ini akan menentukan nasib restrukturisasi obligasi rupiah FREN senilai Rp 675 miliar.

Andiona Boedisoejoto, Head of Solution Delivery Transaction Banking Bank Permata, wali amanat obligasi rupiah FREN, menyatakan bahwa manajemen FREN akan menyampaikan sejumlah usulan restrukturisasi dalam rapat hari ini. Nah, RUPO ini akan meminta persetujuan atas rencana restruktrusiasi FREN tersebut. "Posisi wali amanat tidak dalam posisi mengajukan usul," katanya saat dihubungi KONTAN, Minggu (28/6).

Sumber KONTAN yang menjadi pemegang obligasi mengatakan, manajemen FREN harus serius mencari dana untuk mengembalikan obligasi itu. "Bila perlu mereka jual sahamnya dengan harga diskon," ujarnya. Sebelumnya, ada tiga skema restrukturisasi yang sudah dibicarakan, yakni perpanjangan waktu jatuh tempo, keringanan pembayaran bunga, dan penundaan pembayaran tunggakan bunga.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
30/06/09 13:47
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Obligasi Fren direstrukturisasi
Suntikan modal tidak diperlukan jika EBITDA Mobile-8 positif

JAKARTA: Rapat umum pemegang obligasi PT Mobile-8 Telecom Tbk (Fren) kemarin akhirnya menyepakati restrukturisasi surat utang Rp675 miliar melalui kombinasi perpanjangan tenor dan pemotongan bunga obligasi.

Operator telepon yang berbasis code division multiple access (CDMA) itu juga tidak harus melaksanakan injeksi modal, asalkan bisa mencapai laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) positif pada kuartal I tahun depan.

Menurut Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik, rapat umum pemegang obligasi (RUPO) yang dihadiri oleh 78,9% dari pemegang obligasi menyepakati seluruh agenda yang diusulkan pemegang obligasi. RUPO tersebut berlangsung alot, sekitar 6 jam.

"Pada intinya kami mencapai kesepakatan, termasuk tentang denda dan sinking fund," ujarnya seusai RUPO tadi malam.

Mobile-8 merupakan penyedia layanan telepon seluler CDMA seluler Fren, CDMA fixed wireless Hepi, dan layanan data Mobi.

Dia menjelaskan setidaknya ada lima poin penting yang disepakati dalam restrukturisasi utang Mobile-8. Pertama, perpanjangan jatuh tempo surat utang dari 15 Maret 2012 menjadi 15 Maret 2017. Kedua, pemangkasan tingkat bunga obligasi menjadi 5% pada 2009-2011, 8% pada 2012-2014, dan 18% pada 2015-2017. Obligasi rupiah itu semula memberikan bunga 12,375% per tahun.

Ketiga, pembayaran denda Rp1 miliar karena keterlambatan pelunasan bunga. Mobile-8 melunasi bunga tertunggak melalui 4 kali angsuran pada 31 Juli, September, Desember, dan Maret 2010.

Keempat, perseroan wajib menyediakan dana cadangan (sinking fund) yang disetor pada 31 Agustus 2009 dan 15 September 2009.

Kronologi gagal bayar obligasi dolar & Rupiah Mobile-8
3 Des.08 Moody’s Investor Services menilai obligasi Mobile-8 senilai Rp675 miliar berpotensi gagal bayar silang (cross-default) apabila obligasi senilai US$100 juta default.
15 Des.08 Mobile-8 membayar bunga obligasi perseroan Rp20 miliar.
16 Feb.09 Mobile-8 wajib menambah nilai jaminan obligasi Rp675 miliar karena peringkat dipangkas di bawah BBB.
13 Mar.09 Gagal bayar bung aobligasi Rp20,88 miliar.
31 Mar.09 Mencatat rugi bersih Rp1,06 triliun pada 2008.
09 Apr.09 Perseroan memutuskan tidak membayar utang bunga obligasi Rp20,88 miliar.
15 Apr.09 Pemegang obligasi Mobile-8 menunjuk penasihat keuangan Mandiri Sekuritas.
29 Apr.09 RUPO Mobile-8 menyepakati pembentukan steering committee.
29 Jun.09 RUPO Mobile-8 digelar untuk menyepakati skema restrukturisasi.
Sumber: Pengumuman dan keterbukaan informasi diolah

"Nilainya dua kali pelunasan kupon sebesar Rp16 miliar, yang dibayar pada 31 Agustus dan 15 September. Jumlah itu disesuaikan dengan tingkat kupon obligasi yang menjadi 5% pada Agustus-September 2009."

Dia menjelaskan apabila sinking fund itu terpakai sebelum obligasi jatuh tempo, perseroan wajib menambah dana itu.

Kelima, perseroan juga diwajibkan meraih EBITDA positif pada kuartal I/2010. "Apabila kami mampu menjaga EBITDA positif, kami tidak perlu melaksanakan injeksi modal," tuturnya.

Berdasarkan data Bloomberg, EBITDA Mobile-8 pada kuartal I/2009 mencapai -Rp92,43 miliar.

Denda Rp1 miliar

Salah satu pemegang obligasi mengatakan pembahasan mengenai denda Rp1 miliar dan sinking fund menyebabkan rapat berlangsung alot.

"Sejak semula Mobile-8 bersikeras tidak bersedia membayar denda akibat telat membayar bunga, padahal nilai dendanya Rp1 miliar. Itu yang membuat RUPO berjalan lama," katanya.

RUPO Mobile-8 kemarin tidak menyinggung adanya sita jaminan obligasi dan kemungkinan pailit. Perusahaan itu, yang semula hanya menawarkan konversi obligasi menjadi saham, juga gagal melaksanakan rencana itu.

"Hanya satu bank yang masih bersikeras tidak ingin mengikuti restrukturisasi, sedangkan pemegang obligasi lainnya sepakat mengikuti restrukturisasi."

Beberapa pemegang obligasi Mobile-8 a.l. Dapen Bank Indonesia, Dapen PLN, Dapen Pos, Bank Central Asia, Bank Internasional Indonesia, dan Danareksa Sekuritas.

Mobile-8, perusahaan telepon yang semula dikendalikan oleh PT Global Mediacom Tbk, gagal bayar bunga obligasi pada 15 Maret 2009 senilai Rp20,88 miliar. Operator telepon itu juga gagal bayar bunga obligasi US$100 juta yang seharusnya jatuh tempo pada 1 Maret 2013.

Mobile-8 melanggar salah satu klausul dalam perjanjian surat utang tersebut karena Global Mediacom kehilangan kendali atas Mobile-8 karena 32% sahamnya dialihkan kepada Jerash Investment Ltd.

Direktur Pencatatan Bursa Efek Indonesia Eddy Sugito menambahkan bursa masih menyuspensi perdagangan saham Mobile-8. "Kami masih menunggu hasil resmi kesepakatan antara Mobile-8 dan pemegang obligasi."

Harga saham Mobile-8 terakhir kali diperdagangkan di level Rp50 per saham sebelum disuspensi hingga saat ini.

Ujian Grup Bhakti

Analis Riset PT Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing menambahkan restrukturisasi obligasi Mobile-8 menjadi ujian bagi perusahaan di Grup Bhakti untuk menyelamatkan citra grup usaha tersebut. "Mobile-8 harus menggunakan kesempatan itu untuk menjaga nama baik grup usaha perusahaan," ujarnya.

Menurut dia, kinerja keuangan perusahaan juga harus menjadi pertimbangan untuk menentukan apakah restrukturisasi obligasi tersebut dapat dikategorikan sebagai titik balik dari keberhasilan perusahaan melunasi utangnya kepada pemegang obligasi.

Hingga saat ini, ujarnya, Mobile-8 masih berhasil menjaga citranya dengan tetap mengeluarkan inovasi baru seperti varian baru dan tetap berpromosi.

Direktur Utama PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Kahlil Rowter mengatakan perusahaan masih menunggu hasil restrukturisasi obligasi Mobile-8 sebelum menentukan langkah selanjutnya dalam pemeringkatan.

"Kalau mereka ingin menerbitkan obligasi lain untuk merestrukturisasi, baru bisa diperingkat lagi, tetapi hingga saat ini kami belum mendengar perkembangan apa-apa dari manajemen mereka." (21) (sylviana.pravita@[tautan dihapus]

Oleh Sylviana Pravita R.K.N. & Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
03/07/09 18:40
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Jumat, 03/07/2009 12:40 WIB
FREN Digugat Global Mediacom
Wahyu Daniel - detikFinance

Jakarta - PT Mobil-8 Telecom Tbk mendapat gugatan dari PT Global Mediacom Tbk terkait perbuatan melawan hukum.

Demikian disampaikan oleh Sekretaris Perusahaan PT Mobile-8 Telecom Tbk Chris Taufik dalam keterbukaannya, Jumat (3/7/2009).

"PT Mobile-8 Telecom Tbk telah menerima panggilan sidang dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat," ujarnya.

Global Mediacom sendiri menggugat 3 perusahaan sekaligus yaitu:

1. DB Trustees (HongKong) Limited sebagai Tergugat I;
2. Mobile-8 Telecom Finance Company BV sebagai Tergugat II;
3. PT Mobile-8 Telecom Tbk sebagai Tergugat III.

Gugatan tersebut diajukan karena Global Mediacom berkeberatan di ikut sertakannya sebagai Turut Tergugat II dalam sebuah perkara dengan alasan:

1. Penggugat bukan pihak di dalam Perjanjian Indenture tanggal 15Agustus 2007;
2. Penggugat tidak pernah memberikan izin baik lisan maupun tertulis atas adanya kewajiban penggugat untuk menjaga agar kepemilikan saham penggugat dei Mobile-8 tidak kurang dari 51%;
3. Tergugat I, II, dan III telah melakukan perbuatan melawan hukum.

Permintaan yang diajukan Global Mediacom pada pokok perkara adalah:
1. Meminta ganti rugi material kepada Tergugat I US$ 25 juta;
2. Meminta diletakkan sita jaminan;
3. Meminta agar terjadi pembatalan Perjanjian Identure dikarenakan perjanjian tersebut cacat hukum atau setidak-tidaknya meminta agar ketentuan mengenai Change Control dinyatakan tidak berlaku.
4. Meminta pembayaran ganti rugi secara tunai kepada Tergugat I ditambah biaya 6% per tahun terhitung sejak tanggal surat gugatan didaftarkan di kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat;
5. MemintaTergugat I, II,dan III untuk membayar uang paksa sebesar Rp 100 juta setiap kali tergugat I, II, dan III melanggar sisi keputusan.

(dnl/qom)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
auliafathya
(Anggota)
04/07/09 18:35
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
ini mah global mediakom maunya sendiri, dan sudah jelas mulai dari awal akan membangkrutkan Mobile-8. Coba aja Mayoriti saham dipegang Global mediakom, seluruh direktur, dan komisaris yg megang orang global mediakom, Sekarang mereka pura2 menggugat agar lepas tanggung jawab.........

Kalau mulai direktur sampai komisarisnya orang global mediakom ya jelas segala kebijaksanaannya pasti berhubungan dengan Global Mediakom
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
07/07/09 08:50
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Walah, masih lama eksekusinya...
--------------------------------------------
Bakrie Telecom isyaratkan merger pada 2010

JAKARTA: PT Bakrie Telecom Tbk mengisyaratkan akan merealisasikan merger dan akuisisi dengan operator telekomunikasi lain guna konsolidasi perusahaan telekomunikasi pada pertengahan tahun depan.

"Arahnya memang berkonsolidasi dengan operator telekomunikasi lain pada pertengahan tahun depan. Saat ini, Bakrie Telecom memperkuat konsolidasi internal dulu," ujar Wakil Direktur Utama Bakrie Telecom M. Danny Buldansjah, kepada Bisnis, kemarin.

Danny memaparkan langkah tersebut semakin mengerucut terkait dengan ketatnya persaingan di sektor telekomunikasi dan besarnya dana yang digelontorkan operator telekomunikasi guna pengembangan usaha.

Selain berkonsolidasi secara internal, perseroan tengah mempersiapkan perkiraan dana yang akan dihimpun guna kemungkinan merger dan akuisisi itu.

"Kami belum tahu berapa dana yang diperlukan. Begitu juga pihak mana yang akan diakuisisi atau merger dengan perseroan," ujarnya.

Terkait dengan kabar yang beredar di pasar bahwa PT Telekomunikasi Indonesia Tbk berminat terhadap kepemilikan atas Bakrie Telecom, Danny mengatakan perseroan dan Telkom belum pernah membahas langkah itu.

"Tidak tertutup kemungkinan dengan pihak mana pun, tetapi kami belum bicara apa pun dengan Telkom tentang hal itu."

Direktur Utama Bakrie Telecom Anindya Bakrie mengatakan saat ini perseroan lebih memilih untuk fokus mengembangkan bisnis secara organik, meski ke depan tidak menutup kemungkinan pengembangan bisnis secara anorganik.

Saat ini, manajemen fokus mengembangkan bisnis telekomunikasi melalui produknya Esia, Wifone, dan Wimode.

Tahun ini, Bakrie Telecom menargetkan jumlah pelanggan 10,5 juta dan ditargetkan dapat bertambah menjadi 14 juta tahun depan.

Perseroan juga memiliki bisnis sambungan internasional yang diharapkan bisa meraup sepertiga pasar sambungan lansung internasional, atau setara dengan Rp1 triliun dalam 3 tahun mendatang.

Adapun, Bakrie Telecom baru saja meraup dana Rp390 miliar dari total nilai penjualan menara telekomunikasi perseroan, yaitu Rp450 miliar.

Perseroan telah menunjuk PT Solusi Tunas Pratama sebagai pemenang tender penjualan 543 menara. Adapun, perjanjian jual beli (sales and purchasing agreement/SPA) dan Master Lease Agreement (MLA) ditandatangani pada 14 Mei 2009.

Pada perdagangan kemarin, harga saham emiten berkode BTEL ini ditutup pada level Rp123 atau turun 3,91% dibandingkan dengan 3 Juli 2009, yaitu Rp128.

Dengan mengacu pada harga saham itu, kapitalisasi pasar perseroan mencapai Rp3,50 triliun.

Oleh Sylviana Pravita R.K.N.
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
08/07/09 10:01
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Sepertinya M8 sekarang sudah mulai stabil...
--------------------------
Investasi Mobile-8 siap dicairkan
EBITDA 2010 diperkirakan Rp371,98 miliar

JAKARTA: PT Mobile-8 Telecom Tbk akan mencairkan dana investasi jangka pendek sewaktu-waktu untuk melunasi kupon bunga tertunggak Rp41,76 miliar dan denda Rp1 miliar pada 31 Juli 2009.

Perusahaan telepon itu terlambat membayar kupon bunga obligasi dengan nilai pokok Rp675 miliar. Akibat keterlambatan itu, Mobile-8 didenda Rp1 miliar.

Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik mengatakan investasi jangka pendek itu merupakan dana cadangan untuk mendukung operasional Mobile-8. "Bisa dicairkan untuk membayar kupon bunga dan denda tersebut," ujarnya.

Dia menuturkan perseroan tidak mempersiapkan dana untuk menghadapi gugatan Global Mediacom senilai US$25 juta dan sita jaminan.

"Gugatan senilai US$25 juta itu dialamatkan kepada DB Trustees dan bukan kepada Mobile-8. Namun, kami menghadapi tuntutan Rp100 juta yang ditanggung renteng dengan yang lain," tuturnya.

Direktur Keuangan Mobile-8 Anthony C. Kartawiria, dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia kemarin, mengatakan skema dan besaran kupon bunga tertunggak dan denda yang disepakati dalam rapat umum pemegang obligasi (RUPO) pada 29 Juni 2009 merupakan kajian komprehensif dari PT Mandiri Sekuritas selaku penasihat keuangan atas restrukturisasi obligasi itu.

Berdasarkan laporan keuangan anak perusahaan PT Global Mediacom Tbk per 31 Maret 2009 itu, operator penyedia jasa layanan telepon Fren tersebut mempunyai investasi jangka pendek Rp259,16 miliar yang ditempatkan di PT Bhakti Asset Management, perusahaan terafiliasi, senilai Rp169,88 miliar dan TDM Aset Manajemen sebesar Rp89,28 miliar.

Pada akhir Maret 2008, nilai investasi jangka pendek Mobile-8 hanya mencapai Rp198,66 miliar melalui Bhakti Management, TDM, dan Clariden Leu Ltd.

Namun, laporan keuangan Mobile-8 itu tidak menjelaskan secara spesifik penempatan dana investasi tersebut.

Total hasil investasi jangka pendek per 31 Maret 2009 mencapai Rp5,36 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu, perseroan berinvestasi jangka pendek Rp198,66 miliar dan membuahkan hasil investasi Rp7,88 miliar.

Anthony menjelaskan skema pembayaran kupon bunga Rp41,76 miliar akan dibayarkan secara bertahap dalam 4 kali angsuran, di mana pembayaran pertama dibayarkan pada 31 Juli 2009 dan selanjutnya dibayar bersamaan dengan pembayaran kupon, yaitu 15 September 2009, 15 Desember 2009 dan 15 Maret 2010.

Denda dari kupon bunga tertunggak senilai Rp1 miliar akan dibayar Mobile-8 dalam 4 kali angsuran dengan nilai masing-masing Rp250,15 juta.

Anthony memaparkan operator telekomunikasi berbasis code division multiple access (CDMA) itu juga menyediakan dana cadangan senilai Rp16,87 miliar yang akan disiapkan dalam 2 tahap, yaitu pada 31 Agustus 2009 dan 15 September 2009.

EBITDA positif

RUPO juga meminta Mobile-8 mencapai laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) positif pada akhir kuartal I/2010.

Jika hal itu tercapai, Mobile-8 tidak memerlukan suntikan dana dari pemegang saham.

Hingga 30 April 2009, pemegang saham perseroan adalah Jerash sebanyak 32%, Global Mediacom 19%, UOB Kay Hian Private Limited 13,29%, PT Bhakti Asset Management 7,28%, Qualcomm Incorporated 5,01%, serta publik di bawah 5% total mencapai 23,42%.

Anthony menjelaskan Mobile-8 meluncurkan produk baru Fren Duo. Produk itu memungkinkan dalam satu kartu terdapat dua layanan untuk nomor seluler dan fixed wireless access.

Perseroan juga memasarkan produk layanan data yang disebut Mobi dengan target pendapatan rata-rata per pengguna yang tinggi.

"Kedua produk itu diharapkan mampu menyumbang perseroan agar bisa menjaga EBITDA positif setelah kuartal I/2010," tuturnya.

Sesuai dengan materi rapat informal Mobile-8 dan pemegang obligasi pada Desember tahun lalu, EBITDA perusahaan itu pada akhir tahun ini mencapai -Rp178,93 miliar. EBITDA Mobile-8 pada tahun depan diprediksi mencapai Rp371,98 miliar, tetapi masih membukukan rugi bersih Rp175,28 miliar. (sylviana. pravita@[tautan dihapus] [tautan dihapus])

Oleh Sylviana Pravita R.K.N. & Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
08/07/09 10:04
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Selasa, 07/07/2009 12:51 WIB
Bakrie Telecom Bantah Isu Merger Antaroperator
Achmad Rouzni Noor II - detikinet

Jakarta - Bakrie Telecom membantah selentingan kabar yang menyiratkan pihaknya akan melakukan merger dan akuisisi dengan operator telekomunikasi lain guna konsolidasi perusahaan pada pertengahan 2010 mendatang.

"Kabar itu tidak benar. Bukan Bakrie Telecom yang akan melakukan konsolidasi di 2010, tapi industri secara keseluruhan," terang Direktur Korporat PT Bakrie Telecom Tbk, Rakhmat Junaidi, kepada detikINET, Selasa (7/7/2009).

Ia juga membantah rumor tentang kemungkinan perseroan mengakuisisi PT Mobile-8 Telecom Tbk, serta kabar pasar yang beredar bahwa PT Telkom Tbk berminat terhadap kepemilikan atas Bakrie Telecom.

"Isu itu juga tidak benar. Saat ini perseroan lebih memilih untuk fokus mengembangkan bisnis secara organik, meski ke depan tidak menutup kemungkinan pengembangan bisnis secara anorganik," kata Rakhmat.

Menurutnya, manajemen saat ini lebih memilih untuk fokus mengembangkan bisnis telekomunikasi melalui produk akses nirkabel mobilitas terbatas fixed wireless access Esia, Wifone, dan Wimode.

Tahun 2009 ini, Bakrie Telecom menargetkan jumlah pelanggan 10,5 juta dan ditargetkan dapat bertambah menjadi 14 juta tahun berikutnya. Perseroan juga memiliki bisnis sambungan langsung internasional (SLI) yang diharapkan bisa meraup sepertiga pasar, atau setara dengan Rp 1 triliun dalam 3 tahun mendatang.

Adapun, Bakrie Telecom baru saja meraup dana Rp 390 miliar dari total nilai penjualan menara telekomunikasi miliknya, yaitu Rp 450 miliar. Anak usaha Bakrie & Brothers itu telah menunjuk PT Solusi Tunas Pratama sebagai pemenang tender penjualan 543 menara. Perjanjian jual beli dan sewa menara ini ditandatangani pada 14 Mei 2009 lalu. (rou/faw)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
09/07/09 11:39
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Saham Fren Dapat Diperdagangkan Lagi
09/07/2009 10:11:46 WIB
JAKARTA, [tautan dihapus]

Bursa Efek Indonesia (BEI) memutuskan untuk membuka kembali perdagangan saham PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) pada sesi I perdagangan Kamis, setelah dikenakan penghentian sementara perdagangan saham FREN sejak Maret lalu.

Kepala Divisi Pencatatan Sektor Jasa BEI, Umi Kulsum, seperti dilansir Antara, mengatakan, bursa memutuskan untuk membuka kembali perdagangan saham FREN, karena perusahaan itu memberikan keterbukaan informasi terutama hasil dari rapat umum pemegang obligasi (RUPO).

Dalam RUPO itu pemegang obligasi menyetujui untuk memperpanjang atau menjadwal ulang pembayaran utang maupun bunga obligasi sehingga hal ini akan memberikan "nafas" tambahan untuk melunasi seluruh kewajiban obligasi dan bunganya.

Sebagaimana diketahui BEI mensuspensi perdagangan saham FREN pada Maret lalu terkait perseroan belum menyerahkan dana pembayaran bunga obligasi ke-8 kepada PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) selaku agen pembayaran. (*)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
09/07/09 16:07
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Sepertinya BTEL ga jadi beli, M8 sudah sedikit demi sedikit recovery kondisi keuangannya...
--------------------------------------------
Kamis, 09/07/2009 13:30 WIB
FREN Angsur Tunggakan Bunga Rp 41,76 Miliar
Indro Bagus SU - detikFinance

Jakarta - PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) akan melakukan pembayaran secara berangsur atas kupon bunga tertunggak sebesar Rp 41,76 miliar beserta dendanya sebesar Rp 1 miliar.

"Kupon bunga tertunggak akan dibayarkan secara bertahap sebanyak 4 kali angsuran, dimulai 31 Juli 2009 dan selanjutnya setiap tanggal 15 pada September, Desember dan Maret 2010,” Demikian disampaikan Direktur FREN, Anthony C. Kartawiria, dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (9/7/2009).

Ia mengatakan, pihak BEI meragukan keuangan FREN, mengingat cash flow perseroan per 31 Maret 2009 mengalami defisit Rp 16,25 miliar. Demikian pula pembayaran denda kupon bunga tertunggak dibayarkan 4 kali angsuran masing-masing Rp 250,16 juta pada waktu bersamaan dengan pembayaran kupon bunga tertunggak.

Sementara Mandiri Sekuritas ditunjuk perusahaan selaku penasihat keuangan untuk melakukan kajian terhadap kondisi keuangan perseroan.

Lebih lanjut Anthony mengatakan, terkait dengan kewajiban menyediakan dana cadangan pembayaran utang (sinking fund) sebesar Rp 16,87 miliar. Dana tersebut akan dibayarkan dalam dua tahap yakni 31 Agustus 2009 dan 15 September 2009. Sedangkan besaran sinking fund selanjutnya akan menyesuaikan dengan kupon obligasi untuk dua periode selanjutnya.

"Sumber pendanaan dari internal kas perseroan yang diperoleh dari hasil kegiatan usaha perseroan," jeals Anthony. (dro/lih)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
10/07/09 09:45
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Siapa yang akan beli sisa saham Global Mediacom???
------------------------------------------------
Harga saham Mobile-8 meroket
Global Mediacom akan lego seluruh saham

JAKARTA: Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya mencabut penghentian sementara (suspensi) perdagangan saham PT Mobile-8 Telecom Tbk, kemarin, menyusul kepastian penyelesaian obligasi.

Harga saham berkode FREN itu langsung meroket 36% atau Rp18 ke level Rp68 pada penutupan perdagangan kemarin, menjadikannya bernilai pasar Rp1,38 triliun. Saham itu hampir 4 bulan dibekukan perdagangannya oleh bursa terhitung dari 16 Maret karena gagal bayar bunga obligasi.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Eddy Sugito mengatakan pemegang obligasi Mobile-8 mencapai kesepakatan dalam rapat umum pemegang obligasi (RUPO) yang digelar pada akhir bulan lalu.

Selain itu, bursa juga telah menggelar rapat dengar pendapat dengan manajemen operator CDMA tersebut. "Kami minta penjelasan dari mereka, keterbukaan informasinya juga sudah ada. Diharapkan informasi memadai. Kami minta komitmen mereka [manajemen], tinggal bagaimana pemodal publik melihat [risikonya], sehingga suspensinya kami cabut," tuturnya seusai pencatatan perdana saham PT Garda Tujuh Buana Tbk kemarin.

Terkait dengan adanya gugatan dari PT Global Mediacom Tbk terhadap Mobile-8, Eddy menilai gugat- menggugat adalah hal yang biasa dalam percaturan bisnis. Secara operasional, operator telepon yang mengusung produk bermerek Fren itu masih menjalankan bisnis dengan baik. "Asal jangan sampai sahamnya terus disuspensi," ujarnya.

Kepala Divisi Pencatatan Sektor Jasa BEI Umi Kulsum dan Pelaksana harian Kepala Divisi Perdagangan Saham Andre P.J. Toelle kemarin mengumumkan pencabutan suspensi saham Mobile-8 yang berlaku mulai sesi I perdagangan 9 Juli 2009.

RUPO Mobile-8 pada 29 Juni menyepakati restrukturisasi obligasi senilai Rp675 miliar melalui kombinasi perpanjangan tenor dan pemotongan bunga obligasi.

Dalam keterbukaan informasinya pada 7 Juli, Direktur Mobile-8 Anthony C. Kartawiria memaparkan gugatan yang diajukan Global Mediacom kepada perseroan dilakukan sebagai bentuk keberatan karena diikutsertakan sebagai turut tergugat II dalam gugatan DB Trustee kepada Mobile-8.

Namun, dokumen kesepakatan (indenture) yang dijadikan dasar hukum untuk pengajuan tuntutan DB Trustee kepada perseroan yang mengikutsertakan Global Mediacom tidak pernah ditandatangani ataupun disetujui oleh mantan pengendali Mobile-8 itu.

Ganti rugi

"Lagipula, tuntutan secara materiel berupa ganti rugi maupun sita jaminan di dalam materi gugatan Global Mediacom itu ditujukan kepada DB Trustee sebagai tergugat I sedangkan posisi perseroan sebagai tergugat III hanya diminta untuk tunduk pada putusan pengadilan," katanya.

Dia menambahkan apabila perseroan tidak tunduk, secara tanggung renteng bersama tergugat yang lain diminta untuk membayar uang paksa sebesar Rp100 juta untuk setiap kali pelanggaran terhadap putusan.

"Pembukaan perdagangan saham Mobile-8 ini memungkinkan adanya pembelian saham perseroan melalui pasar oleh investor," ujar Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik.

Dia menambahkan Mobile-8 menyambut baik pembukaan perdagangan saham Mobile-8 tersebut.

Menurut Presiden Direktur dan CEO Global Mediacom, induk perusahaan Mobile-8, Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo, Global mempertajam rencana pelepasan seluruh sahamnya pada Mobile-8 Telecom.

"Kami menguasai 19% saham Mobile-8 dan kami berencana menjual seluruh kepemilikan Global Mediacom atas Mobile-8. Namun, saya tidak bisa menyebutkan berapa harga per sahamnya karena bergantung pada kesepakatan atas negosiasi dengan investor," ujarnya.

Analis saham PT BNI Securities M. Al Fatih mengatakan secara teknis harga saham operator telepon itu masih harus diuji melalui dua titik kritis, yaitu pada level Rp70 dan Rp90 guna peningkatan harga saham lebih lanjut. (pudji.lestari@bisnis. [tautan dihapus]

Oleh Pudji Lestari & Sylviana Pravita R.K.N.
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
16/07/09 08:29
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Rugi Mobile-8 menipis pada Juni

JAKARTA: PT Mobile-8 Telecom Tbk mengindikasikan kerugiannya pada kuartal II/2009 lebih rendah dibandingkan dengan kuartal I/2009 berkat pertumbuhan pendapatan perseroan.

Direktur Utama Mobile-8 Merza Fachys mengatakan kerugian perseroan hingga Juni menurun dari posisi per Maret 2009. "Lebih kecil, tetapi saya belum bisa sebutkan nilainya, masih dihitung," tuturnya saat ditemui di gedung Bursa Efek Indonesia, kemarin.

Menurut dia, kerugian berkurang menyusul pemangkasan biaya di seluruh sektor termasuk keperluan promosi dan pengurangan fasilitas bagi karyawan dan grup.

Di sisi lain, pendapatan perseroan meningkat berkat peluncuran produk baru Fren Duo, produk layanan seluler dan layanan nomor telepon rumah (fixed wireless access) di dalam satu kartu secara bersamaan (dual on).

Produk ini, kata Merza, dipasarkan di 13 kota yang menjadi segmen pasar layanan fixed wireless access Hepi a.l. Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Makassar, Banjarmasin, Medan, dan Cirebon.

"Secara keseluruhan bisnis kami mengalami peningkatan. Aktivasi naik, penggunaan naik, sehingga diharapkan bisa menjadi bintang [kinerja bagus]," ujarnya.

Guna mendukung hal itu, perseroan akan menggelontorkan belanja untuk penguatan jaringan di lokasi yang sudah ada. Namun, soal nilai belanja modal dia tidak bersedia mengungkapkannya.

"Ini belum closing karena menunggu restrukturisasi. Apa pun yang kami butuhkan kami lakukan tetapi kami belum berani ekspansi besar-besaran."

Sebagai gambaran untuk per 31 Maret 2009, operator telekomunikasi ini membukukan pendapatan usaha Rp93,62 miliar turun dibandingkan dengan kuartal I/2008 yang sebesar Rp210,14 miliar. Rugi bersih membengkak menjadi Rp180,64 miliar dari semula Rp22,30 miliar.

Untuk per Juni 2008, perseroan mencatatkan pendapatan usaha Rp456,05 miliar, naik dari periode sebelumnya Rp388,47 miliar. Namun, perseroan justru merugi Rp99,80 miliar dari semula untung Rp44,35 miliar.

Merza menambahkan hingga akhir tahun ini Mobile-8 kemungkinan masih merugi, tetapi manajemen tetap mengupayakan untuk dapat menyelesaikan kewajiban berupa pembayaran bunga obligasi yang sudah jatuh tempo pada Maret dan Juni.

Oleh Pudji Lestari
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
16/07/09 08:30
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Peringkat Bakrie Telecom idA-

JAKARTA: PT Pemeringkat Efek Indonesia menetapkan peringkat idA- terhadap PT Bakrie Telecom Tbk dan obligasi I/2007 senilai Rp650 miliar.

Analis Pefindo Niken Indriarsih dan Vonny Widjaja menyatakan prospek dari hasil pemeringkatan ini stabil.

"Peringkat ini mencerminkan kuatnya permintaan dalam sektor wireless, model bisnis Bakrie Telecom, dan potensi pertumbuhan bisnisnya," paparnya pekan ini.

Namun, lanjutnya, peringkat Bakrie Telecom dihadapkan melemahnya margin keuntungan, konsentrasi investasi jangka pendek ke dua perusahaan sekuritas dan intensifnya persaingan sektor wireless. (Bisnis/mmh)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
22/07/09 08:50
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Empat perusahaan berebut beli Mobile-8

JAKARTA: Sebanyak empat perusahaan berebut membeli 19% saham PT Global Mediacom Tbk atas kepemilikan perusahaan telekomunikasi PT Mobile-8 Telecom Tbk.

Presiden Direktur dan CEO Global Mediacom Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo mengatakan perseroan masih membicarakan detail divestasi tersebut dengan seluruh pihak itu.

"Saya belum bisa menyebutkannya [nama perusahaan dan sektor usahanya], termasuk juga kapan divestasi itu akan tuntas, karena saat ini kami masih bicara dengan empat pihak itu," ujarnya kepada Bisnis, kemarin.

Hary mengatakan perseroan berencana menjual seluruh kepemilikan Global Mediacom di Mobile-8 terkait dengan rencana perseroan untuk fokus pada investasi di sektor media.

Global Mediacom merupakan pemilik 19% saham Mobile-8, sedangkan Jerash Investment Pte Ltd menguasai 32% saham operator telepon itu.

Direktur Utama Mobile-8 Merza Fachys mengatakan perseroan tidak mengetahui pihak-pihak yang terlibat dengan rencana divestasi itu. "Kami tidak mengetahui. Itu merupakan domain dari pemegang saham."

Pada 29 Juni 2009, Mobile-8 mencapai lima langkah restrukturisasi atas obligasi berdenominasi rupiah senilai Rp675 miliar.

Pertama, perpanjangan jatuh tempo surat utang dari 15 Maret 2012 menjadi 15 Maret 2017. Kedua, pemangkasan tingkat bunga obligasi menjadi 5% pada 2009-2011, 8% pada 2012-2014, dan 18% pada 2015-2017. Obligasi rupiah itu semula memberikan bunga 12,375% per tahun.

Ketiga, pembayaran denda Rp1 miliar karena keterlambatan pelunasan bunga. Mobile-8 melunasi bunga tertunggak melalui 4 kali angsuran pada 31 Juli, September, Desember, dan Maret 2010.

Keempat, perseroan wajib menyediakan dana cadangan yang disetor pada 31 Agustus 2009 dan 15 September 2009. Apabila sinking fund itu terpakai saat belum jatuh tempo obligasi, perseroan wajib menambah dana itu.

Kelima, perseroan juga diwajibkan meraih laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) positif pada kuartal I/2010. "Apabila kami mampu menjaga EBITDA positif, kami tidak perlu melaksanakan injeksi modal."

Pada perdagangan kemarin, harga saham emiten berkode FREN ini ditutup pada level Rp55 atau turun 1,79% dibandingkan dengan penutupan perdagangan 17 Juli 2009, yaitu Rp56.

Oleh Sylviana Pravita R.K.N.
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
22/07/09 16:05
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Penjualan Saham Mobile-8 Hampir Final
Kamis, 16 Juli 2009 - Investor Daily

JAKARTA - Proses penjualan 19% saham PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) milik PT Global Mediacom Tbk (BMTR) hampir final. Manajemen Global Mediacom sedang merampungkan negosiasi dengan sejumlah calon pembeli yang terdiri atas investor lokal dan asing.

"Rencana penjualan saham itu hampir mencapai titik temu. Semuanya investor baru, bukan Jerash Investment," kata Direktur Utama Mobile-8 Telecom Merza Fachys di Jakarta, Rabu (15/7).

Menurut dia, pemilik 32% saham Mobile-8, Jerash Investment, tidak berniat menambah kepemilikan sahamnya di perusahaan operator seluler berbasis code division multiple access (CDMA) itu.

Merza menjelaskan, sebagian dana yang disuntikkan investor baru tersebut akan dialokasikan untuk membayar kupon obligasi Mobile-8. "Itu langkah yang kemungkinan kami tempuh bila dana operasional perseroan tidak cukup untuk membayar kupon obligasi," tuturnya.

Dia menambahkan, kupon obligasi yang sempat tertunggak akan dibayar dengan menggunakan kas internal pada Agustus 2009. "Kami memiliki dua kali tunggakan kupon obligasi," ucap dia.

Merza Fachys mengakui, selama semester 1-2009, Mobile-8 masih membukukan kerugian bersih. Meski demikian, kerugian itu diperkirakan lebih kecil dibanding periode sama 2008 sebesar Rp 99,8 miliar.

"Penurunan kerugian terutama dipicu efisiensi biaya di berbagai sektor. Tahun ini, kami juga mengerem ekspansi perluasan wilayah ke kota-kota baru," paparnya.

Sebelumnya, Global Mediacom menjajaki penjualan saham Mobile-8 kepada 2-3 calon investor. Beberapa calon investor yang dikabarkan meminati saham Mobile-8 adalah Qatar Telecom (Qtel) dan Swiss Telecom. Pemilik saham Mobile-8 per 30 September 2008 adalah Jerash Investment (32%), Global Mediacom (19%), Qualcomm Incorporated (5,01%), KT Freetel Co Ltd Korea (2%), dan publik (41,99%). Global Mediacom semula pemegang saham mayoritas, namun pada triwulan III-2008 perusahaan itu melepas sebagian besar kepemilikannya kepada Jerash Investment. Bos Global Mediacom HaryTanoesoedibjo baru-baru ini menegaskan, pihaknya tak lagi memberikan keistimewaan kepada Mobile-8. "Mobile-8 kan cuma investasi surat berharga biasa. Jadi, bisa saya jual kapan saja kalau saya mau," tandasnya.

Menurut Hary Tanoe, kepemilikan Global Mediacom di Mobile-8 tinggal tersisa 19%, sehingga sudah digolongkan sebagai investasi surat berharga. Apalagi pendapatan Mobile-8 tidak lagi dikonsolidasikan ke Global Mediacom, kecuali sebagai pendapatan ekuitas semata. "Posisi kami sekarang hanya sebagai salah satu pemegang saham biasa," tuturnya.

Dalam rapat umum pemegang obligasi (RUPO) Mobile-8, akhir Juni lalu, manajemen Mobile-8 menyepakati tawaran pemegang obligasi terkait restrukturisasi utang obligasi perseroan senilai Rp 675 miliar. Dengan tercapainya kesepakatan itu, aset perseroan yang dijaminkan tidak disita.

Poin-poin restrukturisasi yang disepakati antara lain: penyelesaian obligasi rupiah yang lebih baik dibanding obligasi dolar AS, cicilan empat kali dalam satu tahun untuk kupon obligasi yang belum dibayar sebesar Rp 41,76 miliar, pembayaran denda dua kupon sekitar Rp 1 miliar, dan ketentuan sinking fund (dana yang disisihkan untuk tujuan tertentu).

RUPO juga menyepakati penurunan kupon obligasi menjadi 5% untuk tiga tahun pertama, 8% untuk tiga tahun selanjutnya, dan 12% untuk dua tahun terakhir. Sebelumnya, kupon obligasi senilai Rp 675 miliar itu dipatok 12,375%. Sedangkan tenor obligasi diperpanjang menjadi 2017, dari sebelumnya 2012.

Di sisi lain, manajemen sepakat laba sebelum beban bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) Mobile-8 pada kuartal 1-2010 harus positif. Dengan demikian, Mobile-8 tidak perlu menambah modal melalui penerbitan saham baru (rights issue), penjualan saham kepada investor strategis, atau pinjaman subordinasi dari pemegang saham.

Manajemen Mobile-8 optimistis jika restrukturisasi berhasil dilaksanakan, perseroan bisa kembali modal (break even point/BEP) pada akhir 2009. Perseroan juga menargetkan kenaikan jumlah pelanggan sebanyak 1-1,5 juta menjadi sekitar 4,5 juta hingga akhir tahun ini. Per akhir kuartal 1-2009, pelanggan Mobile-8 berjumlah 3,2 juta.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
10/08/09 11:09
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
MOBILE-8 BAYAR KUPON OBLIGASI,
Mitra Rajasa Gagal Bayar Utang US$ 220 Juta
Oleh Yohana SP Philips dan Jauhari Mahardhika
JAKARTA , INVESTOR DAILY

Mira International Holdings Pte Ltd, anak usaha PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA) belum membayar utang senilai US$ 220 juta yang jatuh tempo pada 30 Juni 2009. Gagal bayar itu dinilai menyulitkan sejumlah pemodal, yang salah satunya dikabarkan adalah konglomerat asal Hong Kong, Li Ka-Shing.

Mitra Rajasa melalui Mira International telah berutang kepada sejumlah pemodal international untuk mengakuisisi PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) senilai US$ 595 juta pada 2008. Ketika itu, Goldman Sachs bertindak sebagai pengatur pinjaman (arranger).

Namun, berdasarkan kesepakatan yang tertuang dalam dokumen LBO (leverage buyout), Apexindo harus membayar kewajiban sebesar US$ 130 juta dalam bentuk dividen kepada Mira International pada 30 Juni 2009. Dana tersebut diperlukan untuk membayar utang Mira kepada pemodal asing yang tahun lalu mengucurkan dana guna mengambil alih Apexindo.

Selain itu, Apexindo harus membayar US$ 90 juta untuk pembelian kapal dari Mira International pada 30 Juni 2009. Dengan demikian, total dana yang seharusnya diterima dan dibayarkan oleh Mira mencapai US$ 220 juta atau sekitar Rp 2,2 triliun.

Namun, Apexindo belum membayarnya. Padahal, perseroan telah menerbitkan obligasi sebesar Rp 600 miliar. Di samping itu, perseroan mendapatkan dana US$ 269 juta dari pelanggannya. Sedangkan kinerja perusahaan per kuartal I-2009 cukup fantastis dengan lonjakan laba bersih sekitar 166% menjadi US$ 27,6 juta.

β€œPemodal telah meminta debitor untuk menyelesaikan pembayaran, tapi belum ada respons. Jika permohonan diabaikan, para pemodal akan memilih jalur penyelesaian sesuai kesepakatan yang berlaku,” kata seorang pemodal seperti dikutip dari IFR Asia, akhir pekan lalu.

Sementara itu, ketika dihubungi, Komisaris Utama Mitra Rajasa Tito Sulistio, Dirut Mitra Rajasa Benny Prananto, Sekretaris Perusahaan Mitra Rajasa Immaculata Watimena, Direktur Keuangan Apexindo Agustinus Lamboan, dan Sekretaris Perusahaan Apexindo Ade R Satari, tidak meresponsnya.

Direktur Mitra Rajasa Anton Natakoesoemah mengaku belum mendapatkan informasi terkini ketika ditanya soal gagal bayar utang kepada Mitra Rajasa kepada sejumlah pemodal internasional sebesar US$ 220 juta. β€œSaya tidak mengikuti rapat belakangan ini, karena masih di luar kota,” ujarnya singkat.

Obligasi Mobile-8
Sementara itu, PT Mobile 8 Telecom Tbk (FREN) telah membayar kupon obligasi yang tertunggak pada 31 Juli 2009 sebesar Rp 41,76 miliar, yang ditambah denda Rp 1 miliar. Pembayaran kupon itu merupakan bagian dari restrukturisasi utang obligasi perseroan senilai Rp 675 miliar.

IFR Asia melaporkan, perseroan penyedia layanan telekomunikasi CDMA itu memang berencana mencairkan dana investasi jangka pendek untuk melunasi kupon obligasi yang tertunggak selama ini. Namun, belum lama ini, perseroan dan pemegang obligasi telah menyetujui restrukturisasi obligasi rupiah tersebut.

Beberapa poin restrukturisasi yang disepakati adalah penyelesaian obligasi rupiah yang lebih baik dibanding obligasi dolar Mobile-8, cicilan empat kali dalam satu tahun untuk kupon obligasi yang belum dibayar sebesar Rp 41,76 miliar, pembayaran denda dua kupon sekitar Rp 1 miliar, dan ketentuan sinking fund (dana yang disisihkan untuk tujuan tertentu).

Selain itu, rapat umum pemegang obligasi (RUPO) juga menyepakati penurunan kupon obligasi menjadi 5% untuk tiga tahun pertama, 8% untuk tiga tahun selanjutnya, dan 12% untuk dua tahun terakhir. Sebelumnya, kupon obligasi senilai Rp 675 miliar itu dipatok 12,375%. Sedangkan tenor obligasi diperpanjang menjadi 2017 dari sebelumnya 2012.

Dalam pernyataan resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Direktur Keuangan Mobile-8 Anthony Kartawiria menjelaskan, perseroan menyediakan dana cadangan pembayaran utang (sinking fund) sebesar Rp 16,87 miliar terkait kewajibannya itu. Dana tersebut akan dibayarkan dalam dua tahap, yakni 31 Agustus 2009 dan 15 September 2009. β€œSumber pendanaan dari kas internal yang diperoleh dari hasil kegiatan usaha perseroan,” jelasnya.

Hingga semester I-2009, Mobile-8 masih membukukan rugi bersih sebesar Rp 269,55 miliar, naik 170% dibandingkan periode sama 2008 senilai Rp 99,8 miliar. Rugi usaha perseroan melonjak tajam dari Rp 11,93 miliar menjadi Rp 361,5 miliar. Sedangakn pendapatan perseroan anjlok 58,39% menjadi Rp 189,72 miliar.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
11/08/09 15:44
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Isunya naik lagi... Saham M8 naik trus tuh...
------------------------------------
BTEL Kembali Menawar FREN
Senin, 10 Agustus 2009 - Tabloid Kontan

JAKARTA. Perusahaan telepon milik Grup Bakrie, PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) masih berminat membeli 19% saham PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) milik PT Global Mediacom Tbk (BMTR). Menurut kabar yang beredar, BTEL segera mengajukan penawaran baru untuk membeli 3,844 miliar saham FREN.

Sejauh ini manajemen Bakrie Telecom belum bersedia mengomentari soal rencana pembelian saham FREN ini. "Sejauh ini BTEL masih bertahan dengan pertumbuhan organik," kata Sekretaris Perusahaan BTEL Rachmad Junaidi, kemarin (9/8).

Direktur Utama BMTR Harry Tanoesoedibjo membenarkan sudah ada calon pembeli saham FREN. Namun, dia enggan mengungkapkan calon pembelinya. "Saya tidak bisa menyebutkan calon pembelinya karena terikat perjanjian kerahasiaan," elaknya

Harry menyatakan, BMTR akan langsung menutup transaksi penjualan dengan calon pembeli.FREN itu. Saat ini proses penjualan saham FREN masih berjalan.

BMTR terus mengurangi kepemilikan saham FREN. Tahun lalu misalnya, BMTR menjual 22,79% saham FREN miliknya kepada Jerash In-vestment Usai penjualan tersebut, BMTR tinggal memiliki 19% saham FREN.

FREN menyatakan, penjualan ini bagian dari restrukturisasi bisnis FREN. Maklum, sesuai kesepakatan restrukturisasi dengan para pemegang obligasinya, FREN berusaha mencari suntikan dana guna menyehatkan keuangan dan menjalankan roda bisnisnya

Salah satunya adalah dengan mencari investor baru. "Proses itu masih terus berjalan di level pemegang saham," kata Chris Taufik Sekretaris Perusahaan FREN.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
13/08/09 08:48
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Sinar Mas & Mobile-8 jajaki sinergi
Nilai buku per Juni hanya Rp22,63/saham

JAKARTA: Smart Telecom, perusahaan telepon Grup Sinar Mas, mulai menjajaki peluang bersinergi dengan anak perusahaan PT Global Mediacom Tbk yaitu PT Mobile-8 Telecom Tbk.

Beberapa pihak yang mendengar informasi itu mengatakan eksekutif Grup Sinarmas mulai berbicara dengan pemilik Mobile-8 terkait dengan kemungkinan menjalin sinergi.

"Pembicaraan baru dimulai, tetapi belum diketahui bentuk sinerginya. Apakah melalui merger atau Smart Telecom mengakuisisi saham Mobile-8," ujarnya kepada Bisnis belum lama ini.

Menurut dia, seandainya Grup Sinar Mas berminat membeli Mobile-8, perlu diketahui harganya. "Dengan harga Rp50 per saham, saham Mobile-8 masih terlalu mahal, apalagi utangnya cukup besar dan menderita rugi usaha," tuturnya.

Jika Sinar Mas ingin meleburkan Mobile-8 ke Smart Telecom, ujar sumber itu, bagaimana mekanismenya. "Apakah saham Mobile-8 dibeli Smart, atau melalui penukaran saham."

Global Mediacom kini memiliki 19% saham Mobile-8 Telecom, sedangkan Jerash Investment Ltd menguasai 32% saham operator penyedia jasa telepon CDMA dengan merek Fren dan Hepi itu.

Direktur Utama Mobile-8 Merza Fachys ketika dikonfirmasi mengatakan mendengar mengenai pembicaraan dengan Sinar Mas. "Saya dengar demikian, Sinar Mas juga berminat. Namun, soal pelepasan saham Mobile-8 itu di level pemegang saham, bukan wewenang saya."

Presdir & CEO Global Mediacom Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo mengatakan membuka kemungkinan terhadap seluruh investor yang berminat. Meski demikian, dia enggan menyebutkan identitas investor tersebut. "Kami belum bisa memperkirakan kapan divestasi itu akan tuntas karena kami masih berbicara dengan empat pihak itu."

Merza menambahkan fokus dari manajemen Mobile-8 saat ini adalah meningkatkan kinerja operasional dan finansial dari Mobile-8. "Kami akan berusaha menguasai pasar lebih dalam melalui produk baru dari Mobile-8, yaitu Fren Duo dan Mobi untuk menggenjot peningkatan kinerja keuangan," ujarnya.

Selain Smart Telecom, PT Bakrie Telecom Tbk juga dikabarkan tengah menjajaki konsolidasi dengan Mobile-8. Operator telepon milik Grup Bakrie itu mengisyaratkan bisa mewujudkan merger dan akuisisi dengan operator telekomunikasi lain pada pertengahan tahun depan.

Mobile-8 mengalami lonjakan rugi bersih hingga 170% menjadi Rp269,55 miliar dibandingkan dengan periode yang sama 2008, yaitu Rp99,80 miliar.

Nilai buku

Pardomuan Sihombing, Kepala Riset PT Paramitra Alfa Sekuritas, mengatakan dengan kondisi Mobile-8 yang kesulitan keuangan seperti saat ini, valuasinya lebih baik menggunakan nilai buku.

Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2009, nilai ekuitas Mobile-8 mencapai Rp457,77 miliar, sedangkan jumlah saham yang ditempatkan dan disetor penuh mencapai 20,23 miliar saham. Berarti nilai buku Mobile-8 mencapai Rp22,63 per saham. (sylviana.pravita@[tautan dihapus]

Oleh Sylviana Pravita R.K.N. & Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
28/08/09 15:10
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Rights Issue FREN untuk Buyback Obligasi Rupiah

JAKARTA. PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) berniat mencari dana segar lewat penawaran umum saham terbatas atau rights issue tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dulu (HMTED).

Rencananya, FREN akan memakai dana hasil rights issue untuk mengurangi utangnya. Salah satunya, FREN akan membeli kembali atau buyback sebagian obligasi rupiah terbitan mereka senilai Rp 675 miliar.

FREN telah menyampaikan rencana buyback itu kepada sejumlah pemegang obligasi rupiah mereka. Salah satunya, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS). FREN menyampaikan rencana itu lewat PT Bhakti Investama Tbk (BHIT).

Direktur Keuangan RALS Suryanto mengungkapkan, FREN berencana melakukan buyback sebesar 43% dari pokok obligasi yang dipegang RALS senilai Rp 15 miliar. Artinya, FREN akan membeli kembali obligasi Rp 6,45 miliar. "FREN lewat Bhakti Investama menyampaikan maksud itu dua minggu lalu," ujarnya, Kamis (27/8). Menurut Suryanto, dana buyback itu berasal dari hasil rights issue.

Namun, hingga saat ini RALS belum menanggapi rencana FREN itu. "Mereka juga menawarkan kepada pemegang obligasi lain," ujarnya.

Sehubungan rencana penerbitan saham baru FREN, Suryanto juga mengaku belum menerima tawaran untuk mengkonversi piutangnya menjadi saham FREN.

Pemegang obligasi FREN yang lainnya, Dana Pensiun Krakatau Steel, menolak tawaran untuk mengubah tagihan utang menjadi saham FREN. "Kami tidak akan melakukan hal itu," kata Nasrudin, Direktur Keuangan dan Administrasi Krakatau Steel.

FREN sendiri tetap yakin opsi konversi saham ini banyak peminatnya. "Kami tidak memiliki target jumlah rights issue, sebelum negoisasi kelar," kata Merza Fachys, Direktur Utama FREN.

Merza menambahkan, pemegang saham FREN hingga kini juga masih terus berusaha mencari investor baru bagi FREN. Kabarnya, Bakrie Telecom berminat membeli 19% saham FREN dari Global Mediacom.

Rizki Caturini
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
Razorlight
(Penasihat)
29/08/09 16:56
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
never ending issue...

asal kualitas saat ini dan tarif termurah tetap dipertahankan malah ditingkatkan, saia tetap menjadi pelanggan setia produk Mobile-8
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
01/09/09 18:19
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Apakah dengan adanya tambahan kanal ini, maka BTEL sudah bisa launching EVDO & ga perlu beli M8???
---------------------------------------------
Selasa, 01/09/2009 17:44 WIB
Kanal 'Nyempil' 800 MHz Rezekinya Telkom-BTEL
Achmad Rouzni Noor II - detikinet

Jakarta - Setelah melalui kajian dan analisa, kanal 1019 yang 'nyempil' di frekuensi 800 MHz ternyata persis di sebelah kiri kanal milik Bakrie Telecom (Btel). Itu artinya, dari empat operator telekomunikasi yang bercokol di spektrum itu, cuma Btel dan Telkom yang dapat rezeki kanal tambahan tersebut. Kenapa?

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Mohammad Ridwan Effendi mengungkapkan demikian soal penemuan kanal tersembunyi itu kepada detikINET, Selasa (1/9/2009).

"Mobile-8 Telecom dan Indosat tidak kebagian radio trunking kanal 1019. Ini rezekinya Telkom dan Btel karena kanal ini ternyata persis ada di sebelah kiri kanal 37, 78, dan 119 milik Btel," jelasnya.

Spektrum 800 MHz sendiri saat ini ditempati oleh empat operator FWA (fixed wireless access) yang frekuensinya berpasangan, yakni Telkom dengan Btel, dan Indosat beserta Mobile-8 Telecom. Spektrum frekuensi itu sendiri mulanya cuma dikira total 14 kanal sana, dengan masing-masing pasangan operator dapat alokasi tujuh kanal.

Alokasi kanal terbanyak ada di Mobile-8, yang menggunakan empat kanal--dua untuk seluler Fren, satu untuk FWA Hepi, dan satu untuk EVDO Mobi. Sementara pasangannya, Indosat cuma kebagian dua kanal setelah FWA StarOne miliknya mengungsi dari 1900 MHz-- yang diharus dikosongkan gara-gara 3G.

Sedangkan Telkom dan Btel masing-masing menguasai tiga kanal. Telkom untuk FWA Flexi, Btel untuk FWA Esia dan Wifone, serta akses internet Wimode.

Sehingga total, dari 14 kanal yang dialokasikan ada dua kanal tersisa, yakni di kanal 160 dan 548. Keduanya memisahkan masing-masing operator pasangan frekuensi itu.

Dengan ditemukannya kanal tersembunyi 1019, itu artinya kanal yang tersisa di 800 MHz menjadi tiga. Jika dua kanal sisa sebelumnya sudah tak lagi bisa diperebutkan -- karena untuk pita penjaga atau guard band, maka satu kanal 'nyempil' ini sangat mungkin untuk digunakan.

"Nanti, Btel dan Telkom bisa sharing kanal tambahan ini. Btel pakai di Jabodetabek, Jabar dan Banten, sementara Telkom yang di luar ketiga area itu dengan cakupan nasional," tandas Ridwan. (rou/ash)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
01/09/09 22:51
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Selasa, 01/09/2009 19:16 WIB
Btel Batal Caplok Mobile-8 Karena Kanal 'Nyempil'?
Achmad Rouzni Noor II - detikinet

Jakarta - Dua pasangan operator untuk penggunaan frekuensi 800 MHz, Bakrie Telecom (Btel) dan Telkom, ketiban rezeki kanal 'nyempil'. Dengan kanal tambahan ini, Btel khususnya, bisa bernafas lega setelah kekurangan kapasitas pelanggan. Itukah alasan Btel tidak jadi mengakuisisi Mobile-8 yang hampir kolaps?

Btel dan Mobile-8 Telecom sama-sama menempati spektrum 800 MHz. Keduanya, sebelumnya, sama-sama dapat alokasi tujuh kanal. Namun, jatah kanal kedua operator ini jadi berkurang setelah Telkom dan Indosat mengungsi ke spektrum mereka akibat gusur-gusuran frekuensi di 1900 MHz untuk 3G.

Lewat Permenkominfo No 186/2006, keempat operator FWA (fixed wireless access) itu saling berbagi frekuensi secara berpasangan. Telkom dengan Btel, dan Indosat bareng Mobile-8 Telecom.

Dari total kanal yang ada, alokasi terbanyak ada di Mobile-8, yang menggunakan empat kanal--dua untuk seluler Fren, satu untuk FWA Hepi, dan satu untuk EVDO Mobi. Sementara pasangannya, Indosat cuma kebagian dua kanal untuk FWA StarOne.

Sedangkan Telkom dan Btel masing-masing tiga kanal. Telkom untuk FWA Flexi, Btel untuk FWA Esia dan Wifone, serta akses internet Wimode. Kanal ini jelas tidak cukup bagi Btel, khususnya setelah mereka dapat lisensi FWA nasional. Imbasnya, layanan internet Wimode operator ini terpaksa dikorbankan demi penyelenggaraan akses penggilan suara Esia.

Tidak cukup pula bagi Telkom yang ingin menggenjot layanan data. Sebab, dua kanal yang tersisa di 800 MHz, yakni di kanal 160 dan 548, masing-masing sudah ditetapkan dijadikan guard band pembatas masing-masing operator pasangan frekuensi itu. Padahal sebelumnya, kedua kanal itu akan dihadiahkan kepada operator yang dapat penilaian kinerja terbaik.

Fakta bahwa pelanggan Btel akan stagnan-karena terbatasnya kapasitas kanal, ini pula yang membuat rumor mereka tengah bersiap mengakuisisi Mobile-8 semakin kencang. Hal ini diakui oleh sejumlah mantan eksekutif Btel. Konon, belum tercapai kesepakatan karena Btel harus menanggung semua hutang dan karyawan Mobile-8, meski yang diincar cuma kanal frekuensi beserta lisensinya saja.

Nah, dengan ditemukannya kanal tersembunyi 1019, itu artinya ada kanal yang bisa membuat Btel kini bisa 'bernafas' lagi tanpa harus mengakuisisi Mobile-8.

"Nanti, Btel dan Telkom bisa sharing kanal tambahan ini. Btel pakai di Jabodetabek, Jabar dan Banten, sementara Telkom yang di luar ketiga area itu dengan cakupan nasional," kata Mohammad Ridwan Effendi, anggota komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) kepada detikINET, Selasa (1/9/2009).

Ketika dikonfirmasi detikINET tentang semua ini, Direktur Korporat Bakrie Telecom Rakhmat Junaidi malah mengaku belum tahu tentang adanya kanal yang bisa jadi 'penyambung hidup' perusahaannya. "Sejauh ini kita belum menerima surat pemberitahuannya," jawabnya tanpa mau menanggapi rencana akuisisi Mobile-8.

Sementara Telkom yang sangat ini bisa menambah kapasitas untuk menggenjot layanan data juga memberikan konfirmasi serupa. "Saya harus cek dulu, nanti dikabari," tandas Eddy Kurnia, VP Marketing and Communication Telkom.

Meski demikian, kata Ridwan, Ditjen Postel dan BRTI sudah komitmen mengalokasikan kanal 1019 untuk Btel dan Telkom tanpa tender. "Sebab kanal itu hanya mereka saja yang bisa pakai. Tinggal ajukan permohonan pada Menkominfo, baru kemudian diproses BRTI," jelasnya.(rou/ash)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
Strong_Tower
(Penasihat)
02/09/09 08:50
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
seru... seru...
jual sahamnya dulu ah sebelum turun...

*yg berandai-andai punya saham
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
02/09/09 09:14
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Esia dan Flexi dapat tambahan kanal
Indosat mempertanyakan status kanal CDMA

JAKARTA: PT Telkom Tbk dan PT Bakrie Telecom Tbk mendapat kanal tambahan di pita 800 MHz untuk layanan Flexi dan Esia selebar masing-masing 1,25 MHz.

Esia mendapatkan kanal frekuensi tambahan tersebut untuk wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Adapun Flexi mendapatkan tambahan untuk wilayah di luar ketiga provinsi tersebut.

Ridwan Effendi, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), mengungkapkan regulator menemukan adanya band kosong di sebelah kiri Esia, tepatnya di spektrum 824 MHz yang diidentifikasikan untuk IMT-2000 (International Mobile Telecommunications).

β€œKanal frekuensi tersebut tadinya diperuntukkan bagi trunking, tetapi bisa dikurangi sehingga sekitar 1,25 MHz bisa dipakai operator fixed wireless access [FWA], yaitu Esia dan Flexi,” ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Kanal yang kosong tersebut berada di frekuensi 824 MHz, persis di sebelah kiri Esia yang bekerja di frekuensi 825 MHz. Esia dan Telkom sebenarnya juga memperebutkan kanal 160, yaitu kanal kosong yang berada di tengah-tengah kedua layanan itu, adapun Mobile-8 dan Indosat StarOne memperebutkan kanal 548.

Menurut Ridwan, kedua kanal tersebut tidak akan diberikan kepada operator dan dijadikan sebagai guard band atau frekuensi penyangga agar tidak menimbulkan interferensi antardua layanan.

β€œDengan adanya penambahan kanal tersebut, kedua operator diberikan komitmen tambahan dan dicantumkan dalam lisensi modern-nya sesuai dengan kesepakatan,” ujarnya.

BRTI sendiri tidak menemukan adanya kanal kosong di sebelah kanan Indosat StarOne sehingga Mobile-8 (Fren), dan Indosat (StarOne) tidak mendapatkan alokasi kanal tambahan.

Pada 2006, Menkominfo saat itu, Sofyan A. Djalil, menetapkan pembagian kanal itu di pita 800 Mhz melalui Keputusan No. 181/Kep/M. Kominfo/12/2006 tentang Pengalokasian Kanal pada Pita Frekuensi Radio 900 MHz untuk Penyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal Tanpa Kabel dengan Mobilitas Terbatas dan Jaringan Bergerak Seluler.

Penataan 800 MHz

Akibat penataan itu, layanan Indosat StarOne dan Telkom Flexi yang berada pada pita 3G harus pindah ke pita 800 MHz yang telah ditempati oleh Bakrie Telecom dan Mobile-8.

Pita 800 MHz memiliki lebar 20 MHz atau 14 kanal. Pada spektrum tersebut, sebelumnya Mobile-8 dan Bakrie Telecom masing-masing memiliki tujuh kanal (10 MHz).

Pemerintah kemudian menetapkan layanan Telkom Flexi pada spektrum milik Bakrie Telecom dengan pembagian masing-masing mendapatkan tiga kanal. Sedangkan satu kanal tersisa akan diserahkan kepada salah satu dari dua operator itu yang dinilai berkinerja paling baik 2 tahun setelah ditetapkan peraturan itu.

StarOne akan ditempatkan pada frekuensi milik Mobile-8 dengan pembagian dua kanal untuk StarOne dan empat kanal untuk layanan Fren (Mobile-8). Satu kanal yang tersisa akan diberikan kepada salah satu dari dua operator itu yang dinilai paling agresif 2 tahun sejak ditetapkan peraturan tersebut..

Pembagian dan penempatan frekuensi milik StarOne, menurut Menkominfo, dimaksudkan agar kanal itu berdekatan dengan frekuensi yang digunakan untuk layanan GSM operator tersebut.

Direktur Layanan Korporasi PT Bakrie Telecom Tbk Rakhmat Junaidi dan Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah tidak menanggapi pertanyaan Bisnis seputar pemberian tambahan kanal itu.

Chief Marketing Officer Indosat Guntur S. Siboro menyebutkan kanal yang akan diberikan kepada Esia dan Flexi harus dicek apakah sesuai dengan standar band CDMA. β€œKalau memang benar untuk CDMA, lalu handset-nya pakai band apa?” ujarnya.

Menurut dia, Indosat masih bisa memberikan layanan StarOne secara optimal dengan alokasi frekuensi yang ada dan belum begitu membutuhkan tambahan kanal.

Pertumbuhan pelanggan StarOne memang termasuk yang paling lambat dibandingkan dengan layanan FWA lainnya sehingga dua kanal frekuensi yang ada masih mencukupi melayani pelanggan. (fita.indah@[tautan dihapus]

Oleh Fita Indah Maulani & Arif Pitoyo
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
Hoekz
(Penasihat)
02/09/09 11:53
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
yahhh saya sih semoga aja ada suatu perbaikan dalam hal kepuasaan pelanggan aja gitu...
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
02/09/09 16:20
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Btel Batal Caplok Mobile-8 Karena Kanal 'Nyempil'?

Dua pasangan operator untuk penggunaan frekuensi 800 MHz, Bakrie Telecom (Btel) dan Telkom, ketiban rezeki kanal 'nyempil'. Dengan kanal tambahan ini, Btel khususnya, bisa bernafas lega setelah kekurangan kapasitas pelanggan. Itukah alasan Btel tidak jadi mengakuisisi Mobile-8 yang hampir kolaps?

Btel dan Mobile-8 Telecom sama-sama menempati spektrum 800 MHz. Keduanya, sebelumnya, sama-sama dapat alokasi tujuh kanal. Namun, jatah kanal kedua operator ini jadi berkurang setelah Telkom dan Indosat mengungsi ke spektrum mereka akibat gusur-gusuran frekuensi di 1900 MHz untuk 3G.

Lewat Permenkominfo No 186/2006, keempat operator FWA (fixed wireless access) itu saling berbagi frekuensi secara berpasangan. Telkom dengan Btel, dan Indosat bareng Mobile-8 Telecom.

Dari total kanal yang ada, alokasi terbanyak ada di Mobile-8, yang menggunakan empat kanal--dua untuk seluler Fren, satu untuk FWA Hepi, dan satu untuk EVDO Mobi. Sementara pasangannya, Indosat cuma kebagian dua kanal untuk FWA StarOne.

Sedangkan Telkom dan Btel masing-masing tiga kanal. Telkom untuk FWA Flexi, Btel untuk FWA Esia dan Wifone, serta akses internet Wimode. Kanal ini jelas tidak cukup bagi Btel, khususnya setelah mereka dapat lisensi FWA nasional. Imbasnya, layanan internet Wimode operator ini terpaksa dikorbankan demi penyelenggaraan akses penggilan suara Esia.

Tidak cukup pula bagi Telkom yang ingin menggenjot layanan data. Sebab, dua kanal yang tersisa di 800 MHz, yakni di kanal 160 dan 548, masing-masing sudah ditetapkan dijadikan guard band pembatas masing-masing operator pasangan frekuensi itu. Padahal sebelumnya, kedua kanal itu akan dihadiahkan kepada operator yang dapat penilaian kinerja terbaik.

Fakta bahwa pelanggan Btel akan stagnan--karena terbatasnya kapasitas kanal, ini pula yang membuat rumor mereka tengah bersiap mengakuisisi Mobile-8 semakin kencang. Hal ini diakui oleh sejumlah mantan eksekutif Btel. Konon, belum tercapai kesepakatan karena Btel harus menanggung semua hutang dan karyawan Mobile-8, meski yang diincar cuma kanal frekuensi beserta lisensinya saja.

Nah, dengan ditemukannya kanal tersembunyi 1019, itu artinya ada kanal yang bisa membuat Btel kini bisa 'bernafas' lagi tanpa harus mengakuisisi Mobile-8.

"Nanti, Btel dan Telkom bisa sharing kanal tambahan ini. Btel pakai di Jabodetabek, Jabar dan Banten, sementara Telkom yang di luar ketiga area itu dengan cakupan nasional," kata Mohammad Ridwan Effendi, anggota komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) kepada detikINET, Selasa (1/9/2009).

Ketika dikonfirmasi detikINET tentang semua ini, Direktur Korporat Bakrie Telecom Rakhmat Junaidi malah mengaku belum tahu tentang adanya kanal yang bisa jadi 'penyambung hidup' perusahaannya. "Sejauh ini kita belum menerima surat pemberitahuannya," jawabnya tanpa mau menanggapi rencana akuisisi Mobile-8.

Sementara Telkom yang sangat ini bisa menambah kapasitas untuk menggenjot layanan data juga memberikan konfirmasi serupa. "Saya harus cek dulu, nanti dikabari," tandas Eddy Kurnia, VP Marketing and Communication Telkom.

Meski demikian, kata Ridwan, Ditjen Postel dan BRTI sudah komitmen mengalokasikan kanal 1019 untuk Btel dan Telkom tanpa tender. "Sebab kanal itu hanya mereka saja yang bisa pakai. Tinggal ajukan permohonan pada Menkominfo, baru kemudian diproses BRTI," jelasnya.

-Detik-
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
04/09/09 10:24
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Target rights issue Mobile-8 diperbesar
Total kewajiban mencapai Rp4,24 triliun

JAKARTA: PT Mobile-8 Telecom Tbk meningkatkan target jumlah penerbitan saham baru (rights issue) dalam rangka pengalihan utang menjadi ekuitas (debt to equity swap) menjadi Rp2,12 triliun dari rencana semula Rp300 miliar-Rp500 miliar.

Aksi korporasi tersebut dijadwalkan dapat dilaksanakan pada akhir Oktober 2009. Perseroan juga akan menggelar rapat umum pemegang saham (RUPS) terkait dengan penambahan modal disetor apabila debt to equity swap yang tereksekusi mencapai sekitar 5%-6% dari modal disetor saat ini yang senilai Rp2 triliun atau berkisar Rp100 miliar-Rp120 miliar.

Menurut Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik, perseroan menawarkan mekanisme debt to equity swap itu tidak hanya pada kreditur vendor, tetapi juga terhadap pemegang obligasi perseroan.

Pengalihan utang menjadi saham diharapkan meliputi, pertama kreditur vendor yang memberi utang atas peralatan dan infrastruktur pendukung telekomunikasi perseroan senilai Rp500 miliar. Kedua, pemegang obligasi Mobile-8 berdenominasi rupiah senilai Rp675 miliar.

Ketiga, pemegang obligasi Mobile-8 berdenominasi dolar senilai US$100 juta atau setara dengan Rp1 triliun (dengan asumsi US$1= Rp10.000).

"Meski demikian, tetap saja besarnya debt-to-equity swap itu bergantung pada minat dari kreditur dan persetujuan pemegang saham," kata Chris kepada Bisnis, kemarin.

Dia mengatakan perseroan sedang mengajak para kreditur untuk mengikuti mekanisme yang ditawarkan Mobile-8. "Kami mengajak mereka sebanyak-banyaknya untuk mengikuti mekanisme ini," ujarnya.

Kinerja PT Mobile-8 Telecom Tbk per 30 Juni (Rp triliun)
2008 2009
Kewajiban dan ekuitas 4,75 4,70
Kewajiban tidak lancar 2,69 2,85
Kewajiban lancar 0,37 1,39
Pendapatan 0,48 0,18
Rugi usaha 0,01 0,36
Sumber: Mobile-8

Analis saham PT BNI Securities M. Alfatih mengatakan langkah pengalihan utang menjadi saham itu merupakan salah satu jalan keluar untuk pembayaran utang.

"Namun, kebanyakan pihak yang memberi utang semula berharap dapat memperoleh hasil, bukan ekuitas. Langkah ini pada akhirnya dapat diterima oleh para pemegang obligasi daripada mereka tidak dapat apa-apa," tuturnya.

Izin pemegang saham

Direktur Utama Mobile-8 Merza Fachys mengatakan perseroan akan meminta persetujuan RUPS atas penerbitan efek bersifat ekuitas tanpa memberikan hak memesan efek terlebih dahulu pada 30 September 2009.

"Nilai penerbitan saham akan ditentukan berdasarkan peraturan Bursa Efek Indonesia, yaitu harga rata-rata 25 hari terakhir setelah RUPS digelar," kata Merza.

Langkah tersebut, lanjut Merza, ditujukan perseroan guna memenuhi kewajiban perseroan dalam meraih laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (earnings before interest, tax, depreciation, amortization/EBITDA) positif pada kuartal I/2010.

Apabila Mobile-8 mampu menjaga EBITDA positif, perusahaan telekomunikasi itu tidak perlu melaksanakan injeksi modal.

"Kami berharap dengan adanya konversi utang menjadi saham itu, rasio utang terhadap ekuitas membaik, sehingga diharapkan ke depan EBITDA perseroan menjadi positif," katanya.

Mobile-8 membukukan kewajiban per 30 Juni 2009 mencapai Rp4,24 triliun melonjak 38,56% dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama tahun lalu yaitu Rp3,06 triliun.

Adapun, pendapatan perseroan pada semester I/2009 mencapai Rp189,72 miliar atau lebih rendah dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama 2008 yaitu Rp456,05 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan Mobile-8 yang ditandatangani oleh Direktur Mobile-8 Anthony Chandra Kartawiria dan Beydra Yandi terlihat bahwa meningkatnya kewajiban menyebabkan lonjakan rugi bersih perseroan hingga 170% menjadi Rp269,55 miliar dibandingkan dengan periode yang sama 2008, yaitu Rp99,80 miliar.

Beban usaha juga melonjak menjadi Rp551,22 miliar pada semester I/2009 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama 2008 yaitu Rp467,99 miliar.

Lonjakan kewajiban dan tingginya beban usaha menggerus kas internal perseroan menjadi Rp8,79 miliar pada semester I/2009 dari Rp170,92 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Kemarin, harga saham emiten berkode FREN ini ditutup naik 1,67% menjadi Rp61 dibandingkan dengan penutupan perdagangan 2 September 2009, yaitu Rp60. Mengacu ke harga saham itu, kapitalisasi pasar perseroan mencapai Rp1,23 triliun. (sylviana.pravita@[tautan dihapus])

Oleh Sylviana Pravita R.K.N.
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
falak
(Penasihat)
04/09/09 16:12
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Btel sepertinya memang batal.. ada tuh operator yang saat ini lagi negosiasi dengan Mobile-8 untuk akuisisi. kalo happened.. wah mantap deh..
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
07/09/09 17:38
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Senin, 07/09/2009 10:36 WIB
Alokasi Kanal Flexi-Esia Sebelum Pergantian Menkominfo
Achmad Rouzni Noor II - detikinet

Jakarta - Telkom dan Bakrie Telecom (Btel) telah mengajukan permohonan resmi tentang penggunaan kanal 1019 sebagai kanal tambahan untuk jaringan layanan Flexi dan Esia di pita frekuensi 800 MHz.

Proposal kedua operator fixed wireless access (FWA) itu telah diterima oleh Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).

Pun, BRTI telah menyetujui proposal ini. Menurut Anggota KRT BRTI Mohammad Ridwan Effendi, tinggal menunggu pengesahan dari Bagian Hukum Ditjen Postel saja.

"Paling lambat Oktober atau sebelum pergantian Menteri Kominfo yang baru, kanal 1019 selebar 1,23 MHz ini sudah bisa dialokasikan untuk Telkom dan Btel," ujarnya kepada detikINET, Senin (7/9/2009).

Kanal 1019 adalah kanal yang terletak persis di sebelah kiri dan berdampingan dengan kanal 37 milik Telkom untuk area luar Jakarta, Banten, Jawa Barat (JBJB). Sementara, kanal itu juga berdampingan dengan kanal milik Btel di area JBJB.

Alhasil, kedua operator FWA berbasis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) ini bisa berbagi pakai (sharing) frekuensi untuk menambah kapasitas jaringan dan pelanggan di area-area tersebut dengan berbasis Permenkominfo No. 181/2006.

Sebelum adanya penambahan kanal ini, Telkom dan Btel masing-masing hanya memiliki tiga kanal selebar 5 MHz dengan cakupan lisensi FWA nasional. Dengan adanya penambahan ini, keduanya bisa melakukan ekspansi layanan data berbasis Evolution Data Opimization (EVDO).(rou/wsh)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
07/09/09 17:40
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Senin, 07/09/2009 16:39 WIB
Kanal 'Nyempil' di 800 MHz
Flexi 28% Nasional, BTEL 100% di JBJB
Achmad Rouzni Noor II - detikinet

Jakarta - Jika satu kanal 'nyempil' 1019 di pita frekuensi 800 MHz sudah sampai di tangan Telkom dan Bakrie Telecom (BTEL), maka komitmen pembangunan lisensi modern untuk jaringan layanan Flexi dan Esia otomatis berubah.

Menurut Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Mohammad Ridwan Effendi, proposal perubahan komitmen pembangunan jaringan kedua operator fixed wireless access (FWA) itu telah diterima oleh pihaknya.

"Telkom telah mengajukan penambahan kapasitas untuk modern license-nya sebanyak rata-rata 28% untuk wilayah Indonesia di luar JBJB (Jakarta, Banten, Jawa Barat). Sedangkan BTEL mengajukan penambahan kapasitas lebih dari 100 % di wilayah JBJB," ungkapnya kepada detikINET, Senin (7/9/2009).

Secara nasional, Telkom memiliki 13 juta pelanggan Flexi dan Btel punya delapan juta. Di JBJB, BTEL punya sekitar empat juta pelanggan dengan kapasitas jaringan sesungguhnya untuk enam juta pelanggan.

Kedua operator ini, sebelumnya hanya memiliki tiga kanal selebar 5 MHz di 800 MHz. Dengan tambahan satu kanal 'nyempil' dengan lebar pita 1,23 MHz ini, maka keduanya bisa menggelar layanan data dengan teknologi Evolution Data Optimized (EVDO).

Kanal 1019 sendiri terletak persis di sebelah kiri dan berdampingan dengan kanal 37 milik Telkom untuk area luar JBJB. Kanal itu juga berdampingan dengan kanal milik BTEL di area JBJB.

Itu sebabnya, kedua operator berbasis Code Division Multiple Access (CDMA) ini bisa berbagi pakai frekuensi secara silang (cross sharing) untuk menambah kapasitas jaringan dan pelanggan di area-area tersebut dengan landasan payung hukum Permenkominfo No. 181/2006.(rou/wsh)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
djuned89
(Penasihat)
07/09/09 21:47
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
hmmmm.....
kalo seandainya yang nyaplok M8 adalah starone,,,bisa-bisa tambah hebring...
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
08/09/09 08:46
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Mobile-8 siap setor sinking fund

JAKARTA: PT Mobile-8 Telecom Tbk siap menyetor dana cadangan (sinking fund) senilai Rp8 miliar pada 15 September terkait dengan restrukturisasi obligasi perseroan Rp675 miliar.

"Kami sedang menyiapkan sinking fund yang harus disetor pada 15 September. Sinking fund per 31 Agustus sudah kami penuhi," ujar Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik kepada Bisnis kemarin.

Kewajiban itu merupakan hasil dari rapat umum pemegang obligasi (RUPO) pada 29 Juni 2009, di mana Mobile-8 mencapai lima langkah restrukturisasi atas obligasi berdenominasi rupiah senilai Rp675 miliar.

"Nilainya dua kali dari pembayaran kupon yaitu berkisar Rp16 miliar, sehingga pada 31 Agustus kami membayar Rp8 miliar dan jumlah yang sama kami bayarkan pada 15 September. Jumlah itu disesuaikan dengan tingkat kupon obligasi yang menjadi 5% pada Agustus-September 2009," katanya.

Dia mengatakan perseroan memenuhi kewajiban itu melalui kas internal perseroan yang berasal dari pendapatan operasional. "Yang jelas, cash flow bulanan pada Agustus dan September berkurang guna memenuhi kewajiban itu," ujarnya.

Ke depan, berdasarkan keputusan RUPO itu apabila sinking fund itu terpakai saat belum jatuh tempo obligasi, perseroan wajib menambah dana itu (top-up).

Keempat langkah lainnya, yaitu, pertama, perpanjangan jatuh tempo surat utang dari 15 Maret 2012 menjadi 15 Maret 2017. Kedua, pemangkasan tingkat bunga obligasi menjadi 5% pada 2009-2011, 8% pada 2012-2014, dan 18% pada 2015-2017. Obligasi rupiah itu semula memberikan bunga 12,375% per tahun.

Ketiga, pembayaran denda Rp1 miliar karena keterlambatan pelunasan bunga. Mobile-8 akan melunasi bunga tertunggak melalui empat kali angsuran pada 31 Juli, September, Desember, dan Maret 2010.

Keempat, perseroan juga diwajibkan meraih laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) positif pada kuartal I/2010. "Apabila kami mampu menjaga EBITDA positif, kami tidak perlu melaksanakan injeksi modal," tuturnya.

Adapun, perseroan juga masih menyelesaikan gugatan oleh wali amanat obligasi berdenominasi dolar senilai US$100 juta, yaitu DB Trustees, sehingga bunga obligasi dolar yang jatuh tempo per 1 September tidak dibayarkan perseroan.

Pada penutupan perdagangan kemarin, harga saham emiten berkode FREN ini ditutup ke level Rp64 atau naik 6,67% dibandingkan dengan penutupan perdagangan 4 September 2009, yaitu Rp60.

Dengan mengacu pada harga saham itu, kapitalisasi pasar perseroan mencapai Rp1,29 triliun.

Oleh Sylviana Pravita R.K.N.
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
08/09/09 09:09
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Telkom dan BTEL naikkan kapasitas
Kanal 1019 masih dalam range CDMA

JAKARTA: PT Telkom Tbk secara resmi mengajukan penambahan kapasitas untuk modern licensing rata-rata 28% untuk wilayah Indonesia di luar area Jawa Barat, Jakarta, Banten (JBJB), sedangkan Bakrie Telecom siap menambah kapasitas lebih dari 100%.

Hal tersebut terkait dengan penambahan kanal 1019 untuk layanan Flexi (Telkom) dan Esia (Bakrie Telecom) di pita frekuensi 800 MHz. PT Telkom Tbk dan PT Bakrie Telekom Tbk secara resmi mengajukan penggunaan kanal 1019 untuk penggunaan layanan Flexi dan Esia akhir pekan lalu.

Kanal 1019 adalah kanal yang terletak persis di kiri dan bedampingan dengan kanal 37 milik Telkom (Flexi) untuk area luar Jawa Barat Jakarta Banten (JBJB) dan Bakrie Telecom (Esia) untuk area JBJB.

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) M. Ridwan Effendi mengatakan kanal 1019 ini masih dalam range chipset CDMA (code division multiple access) dari Qualcomm dan masih bisa dikenali oleh ponsel teknologi tersebut yang beredar di pasar Indonesia.

β€œSehingga pengguna ponsel CDMA nantinya tidak perlu mengganti peranti genggamnya apabila kanal ini digunakan untuk FWA,” ujarnya kemarin.

Seperti diketahui, berdasarkan kajian teknis ilmiah dari BRTI, harus terdapat guard band (frekuensi penyangga) antaroperator CDMA-2000, sehingga kanal 160 yang terletak di antara kanal milik Telkom dan Bakrie Telecom dan kanal 548 yang terletak di antara kanal milik Mobile-8 dan Indosat, tidak dapat diberikan kepada salah satu operator mana pun.

Dengan demikian, lanjut Ridwan, kanal 1019 hanya bisa diperuntukkan bagi layanan Flexi dan Esia. BRTI sudah menerima proposal dari Telkom dan Bakrie Telecom terkait dengan penambahan kanal tersebut.

BRTI sendiri tidak menemukan adanya kanal kosong di sebelah kanan Indosat sehingga Mobile-8 (Fren), dan Indosat (StarOne) tidak mendapatkan alokasi kanal tambahan.

Menurut dia, BRTI pada prinsipnya tidak ingin dianggap seperti pilih kasih dalam pengalokasian kanal yang baru belakangan diketahui dapat digunakan untuk keperluan sistem IMT-2000 ini.

Kanal 1019 yang kosong tersebut berada di frekuensi 824 MHz, persis di sebelah kiri Esia yang bekerja di frekuensi 825 MHz.

Direktur Layanan Korporasi Bakrie Telecom Rakhmat Junaidi mengatakan pihaknya memang meningkatkan komitmen pembangunan jaringan, tetapi tidak sampai 100% dari kapasitas saat ini.

β€œKami berharap agar yang diberikan pemerintah dapat memberikan manfaat optimal kepada masyarakat,” ujarnya.

Tidak masalah

Dirut PT Mobile-8 Telecom Merza Fachys mengungkapkan pihaknya sudah memiliki empat kanal frekuensi di pita 800 MHz sehingga penambahan satu kanal pada layanan Esia dan Flexi tidak menjadi masalah.

β€œMereka baru memiliki tiga kanal, dengan ditambahnya satu kanal berarti jumlahnya sama dengan milik kami,” ujarnya.

Pada 2006, Menkominfo saat itu, Sofyan A. Djalil, menetapkan pembagian kanal itu di pita 800 Mhz melalui Keputusan No. 181/-2006 tentang Pengalokasian Kanal pada Pita 900 MHz. (fita.indah@[tautan dihapus]

Oleh Fita Indah Maulani & Arif Pitoyo
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
15/09/09 08:17
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Laba Bakrie Telecom naik 16,7%

JAKARTA: Laba bersih PT Bakrie Telecom Tbk pada semester I/2009 naik 16,7% menjadi Rp72,8 miliar dibandingkan dengan semester I/2008, yaitu Rp62,4 miliar.

Kenaikan itu seiring dengan pertumbuhan pendapatan bersih (net revenue) pada semester I/ 2009 yang mencapai Rp1,33 triliun atau naik 44,9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yaitu Rp938 miliar.

Menurut Direktur Utama Bakrie Telecom Anindya N Bakrie, jumlah pelanggan Bakrie Telecom semester I/2009 mencapai 8,9 juta pelanggan atau tumbuh 63,8% dibandingkan dengan jumlah pelanggan pada tahun lalu, yaitu 5,4 juta pelanggan.

Apabila dibandingkan dengan triwulan I/2009, jumlah pelanggan Bakrie Telecom mengalami peningkatan 10,9% dari sebelumnya yang berjumlah 8 juta pelanggan.

Anindya mengatakan laju pertumbuhan pelanggan itu, terutama disebabkan oleh semakin dikenalnya merek Esia oleh masyarakat.

"Dengan pencapaian positif ini ditambah berhasilnya Bakrie Telecom mendapatkan tambahan bandwith sebesar 1,25 Mhz dan lisensi sambungan langsung jarak jauh maupun sambungan langsung internasional menjadikan Bakrie Telecom siap berkembang penuh," ujarnya, kemarin.

Berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit, Bakrie Telecom mencetak pendapatan kotor (gross revenue) Rp1,66 triliun pada semester I/2009 atau naik 34,9% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2008, yaitu Rp1,23 triliun.

Peningkatan pendapatan itu juga menjadikan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi melonjak tajam 81,6% dari Rp341,30 miliar pada semester I/2008 menjadi Rp619,90 miliar pada semester I/2009.

Oleh Sylviana Pravita R.K.N.
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
16/09/09 08:22
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Harga konversi bond Mobile-8 Rp50
Dana cadangan Rp8 miliar disetor kemarin

JAKARTA: PT Mobile-8 Telecom Tbk menetapkan harga konversi obligasi menjadi saham (debt to equity swap) di level Rp50 per saham.

Nilai konversi obligasi menjadi saham senilai Rp50 itu ditentukan berdasarkan Peraturan Bursa Efek Indonesia dan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, yaitu harga rata-rata dalam 25 hari terakhir perdagangan.

Operator berbasis code division multiple access (CDMA) itu juga menetapkan pembelian kembali (buyback) obligasi I Mobile-8 Telecom Tahun 2007 senilai Rp675 miliar dijadwalkan pada 17 September-13 Oktober 2009.

"Pelaksanaan buyback itu dilaksanakan atas obligasi yang sudah direstrukturisasi pada RUPO [rapat umum pemegang obligasi] 29 Juni 2009," ujar Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik kepada Bisnis kemarin.

Menurut dia, mekanisme pembelian kembali obligasi itu melalui penerbitan saham baru seri B kepada pemegang obligasi.

Anak perusahaan PT Global Mediacom Tbk itu, lanjutnya, tidak berkewajiban membeli seluruh obligasi yang ditawarkan oleh pemegang obligasi dalam periode penawaran buyback obligasi.

"Hal itu bisa terjadi apabila harga penawaran jual yang ditawarkan oleh pemegang obligasi melampaui target harga yang ditetapkan oleh perseroan," katanya.

Terkait dengan rencana penerbitan saham baru (rights issue) Mobile-8, perseroan akan menggelar rapat umum pemegang saham (RUPS) pada 30 Oktober 2009 atau mundur 1 bulan dari rencana semula, yaitu 30 September.

RUPS itu nantinya membahas tiga agenda yaitu pertama, peningkatan modal dasar perseroan. Kedua, peningkatan modal ditempatkan perseroan tanpa hak memesan efek terlebih dahulu dengan cara pengeluaran saham baru, yaitu saham Seri B dengan nilai Rp50 per saham.

Ketiga, pemberian wewenang kepada direksi perseroan dengan persetujuan Dewan Komisaris untuk melaksanakan pengeluaran efek bersifat ekuitas tanpa memberikan hak memesan efek telebih dahulu.

Aksi korporasi itu bertujuan memenuhi kewajiban perseroan dalam meraih laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (earnings before interest, tax, depreciation, amortization/EBITDA) positif pada kuartal I/2010.

Apabila Mobile-8 mampu menjaga EBITDA positif, perusahaan telekomunikasi itu tidak perlu melaksanakan injeksi modal.

Dana cadangan

Mobile-8 kemarin menyetor dana cadangan (sinking fund) senilai Rp8 miliar terkait dengan restrukturisasi obligasi perseroan Rp675 miliar.

"Kami sudah membayar sinking fund senilai Rp8 miliar pada hari ini [kemarin]. Sinking fund per 31 Agustus juga sudah kami penuhi," ujar Chris.

Kewajiban itu merupakan hasil dari RUPO di mana Mobile-8 mencapai lima langkah restrukturisasi atas obligasi berdenominasi rupiah senilai Rp675 miliar.

"Nilainya dua kali dari pembayaran kupon yaitu berkisar Rp16 miliar, sehingga pada 31 Agustus kami membayar Rp8 miliar dan jumlah yang sama kami bayarkan pada 15 September. Jumlah itu disesuaikan dengan tingkat kupon obligasi yang menjadi 5% pada Agustus-September 2009," katanya.

Dia mengatakan perseroan memenuhi kewajiban itu melalui kas internal perseroan yang berasal dari pendapatan operasional.

Analis saham PT BNI Securities M. Alfatih mengatakan langkah pengalihan utang menjadi saham itu merupakan salah satu jalan keluar untuk pembayaran utang.

"Namun, kebanyakan pihak yang memberi utang semula berharap dapat memperoleh hasil, bukan ekuitas. Langkah ini pada akhirnya dapat diterima oleh para pemegang obligasi daripada mereka tidak dapat apa-apa," tutur Alfatih.

Pada penutupan perdagangan kemarin, harga saham emiten berkode FREN ini ditutup menguat 1,61% ke level Rp63 dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya senilai Rp62. mengacu pada harga saham itu, kapitalisasi pasar perseroan mencapai Rp1,27 triliun.(sylviana. pravita@[tautan dihapus])

Oleh Sylviana Pravita R.K.N.
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
28/09/09 09:19
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
Mobile-8 Akan Konversi Obligasi Jadi 30% Saham
Oleh Deviana Chuo
JAKARTA , INVESTOR DAILY

PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) berniat mengkonversi utang obligasi senilai Rp 675 miliar menjadi 30% saham. Karena itu, perseroan akan menawarkan saham baru kepada pemegang obligasi dengan harga konversi Rp 65 per saham.

Mobile-8 akan menerbitkan sekitar 10,38 miliar saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Nilai nominalnya ditetapkan sebesar Rp 50 per saham atau lebih rendah dari harga konversi yang dipatok Rp 65 per saham.

Direktur Keuangan Mobile-8 Anthony Chandra Kartawiria mengatakan, penerbitan saham baru bukan rights issue itu sebenarnya mencapai 50% dari total modal disetor perseroan yang sebanyak 20,23 miliar saham. Namun, karena bentuknya saham baru, persentasenya menjadi lebih kecil, yakni sekitar 30%.

β€œKonversi sekitar 30% saham itu akan terjadi setelah penerbitan saham baru selesai,” jelas Anthony kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.

Anthony menegaskan, semua pemegang saham lama Mobile-8 bakal terdilusi setelah penerbitan saham baru. Namun, potensi dilusi belum bisa dihitung sebelum aksi korporasi itu dilaksanakan pada tahun ini.

Hingga September 2009, Jerash Investment Ltd menguasai 32% saham operator seluler berbasis CDMA (code division multiple access) itu. PT Global Mediacom Tbk (BMTR) masih memiliki 19% saham, sedangkan Qualcomm Incorporated memegang 5,01% saham dan KT Freetel Co Ltd Korea 2%. Sisanya sebesar 41,99% dimiliki publik.

Mobile-8 akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 30 Oktober 2009. Rapat tersebut mengagendakan persetujuan pemegang saham terkait peningkatan modal dasar, peningkatan modal disetor tanpa HMETD dengan cara pengeluaran saham baru (seri B), dan pemberian wewenang kepada direksi perseroan untuk melaksanakan pengeluaran efek bersifat ekuitas.

Namun, Anthony mengakui, jumlah saham baru yang akan diterbitkan nantinya masih bergantung kepada respons pemegang obligasi. β€œYang pasti, penerbitan saham ini akan berdampak baik, karena bakal menurunkan posisi utang perseroan,” ujarnya.

Berdasarkan Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) No IX.D.4 tentang Penambahan Modal Tanpa HMETD, penerbitan saham baru bisa dilakukan emiten paling banyak sebesar 5% dari modal disetor.

Namun, penerbitan saham baru bisa lebih dari 5% apabila bertujuan memperbaiki posisi keuangan perusahaan. Salah satunya, perusahaan yang gagal bayar utang dan berencana mengkonversi saham perseroan guna menyelesaikan kewajibannya tersebut. β€œJadi, kami pakai opsi lain di luar ketentuan maksimal 5%,” kata Chris.

Berisiko Tinggi
Sementara itu, BNI Securities selaku pemegang obligasi menyatakan tidak berminat dengan konversi saham yang ditawarkan Mobile-8. VP Investment Management Division Head BNI Securities Isbono MI Putro menegaskan, kepemilikan saham pada Mobile-8 berisiko tinggi dibandingkan obligasi. β€œKalau ada likuidasi aset, pemegang obligasi yang akan dibayar terlebih dulu,” kata dia.

Isbono mengakui, manajemen Mobile-8 telah menawarkan konversi saham kepada para pemegang obligasi. Namun, dia meminta, perseroan seharusnya menggelar rapat umum pemegang obligasi (RUPO). Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik mengatakan, pihaknya belum berencana menggelar RUPO.

Di lain pihak, Direktur PT Danareksa Muhammad Hanif mengatakan, pihaknya belum memutuskan menerima atau tidak tawaran konversi saham Mobile-8. β€œKami akan rapatkan dulu, kan batasnya sampai 13 Oktober 2009,” jelasnya.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
29/09/09 08:31
😐 Re: Fren di jual Ke Esia
BTEL sendiri juga mau dijual
-------------------------
Bakrie Telecom jajaki merger dan akuisisi

JAKARTA: PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mengkaji kemungkinan untuk merger dan akuisisi dengan investor asing. Kajian tersebut akan diselesaikan pada triwulan I/2009.

"Kemungkinan untuk M&A [merger and acquisition] dengan investor asing terbuka dalam kajian kami. Seperti halnya, operator-operator telekomunikasi lain yang terbuka bagi investasi asing," kata Wakil Direktur Utama Bakrie Telecom Danny Buldansjah, kemarin.

Dia mengatakan kemungkinan tersebut dapat berupa pembelian sebagian saham BTEL dan menjadi mitra strategis operator code division multiple access (CDMA) itu atau akuisisi terhadap perseroan.

Meski demikian, BTEL tetap akan mempertimbangkan konsolidasi dengan operator CDMA lokal dan mempertimbangkan seluruh aksi korporasi itu bagi peningkatan nilai perusahaan.

"Seperti yang dilakukan operator CDMA lainnya, kami juga mengkaji langkah konsolidasi. Meski demikian, kami perkirakan baru pada triwulan I/2009 kajian itu selesai, apakah kami memang akan berkonsolidasi atau tidak. Semua kemungkinan terbuka," ujarnya.

Apabila saham BTEL dilepas pada konsolidasi itu, perseroan akan mempertimbangkan apakah harga saham anak perusahaan PT Bakrie & Brothers Tbk itu dibeli dengan harga yang tinggi.

"Setiap perusahaan yang dibeli pasti mengusahakan agar nilai sahamnya dibeli dengan harga tinggi. Bila BTEL yang mengakuisisi, kami harus memastikan apakah perusahaan yang diakuisisi itu dapat meningkatkan nilai perusahaan," katanya.

Laba bersih Bakrie Telecom pada semester I/2009 naik 16,7% menjadi Rp72,8 miliar dibandingkan dengan semester I/2008, yaitu Rp62,4 miliar.

Kenaikan itu seiring dengan pertumbuhan pendapatan bersih pada semester I/ 2009 yang mencapai Rp1,33 triliun, naik 44,9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yaitu Rp938 Miliar.

Jumlah pelanggan Bakrie Telecom semester I/2009 mencapai 8,9 juta pelanggan atau tumbuh 63,8% dibandingkan dengan jumlah pelanggan pada tahun lalu, yaitu 5,4 juta pelanggan.

Apabila dibandingkan dengan triwulan I/2009, jumlah pelanggan Bakrie Telecom mengalami peningkatan 10,9% dari sebelumnya yang berjumlah 8 juta pelanggan.

Pada perdagangan kemarin, harga saham emiten berkode BTEL ini ditutup pada level Rp141 atau turun 1,40% dibandingkan dengan penutupan perdagangan 25 September 2009, yaitu Rp143.

Dengan mengacu pada harga saham itu, kapitalisasi pasar perseroan mencapai Rp4,01 triliun.

Oleh Sylviana Pravita R.K.N.
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
πŸ”’ Topik lama, hanya bisa dibaca. Isinya diambil dari forum Forum Ponsel yang dulu: tautan, nomor telepon, dan alamat email sudah disembunyikan. Ingin kiriman ini dihapus atau dikoreksi? Hubungi kami dan sebutkan alamat halaman ini. Ingin membahas topik serupa? Buat topik baru di Forumponsel.
Isi forum adalah pendapat pengirimnya. Kiriman diperiksa sebelum tampil. © Forum Ponsel · Privasi · Syarat · Aturan forum