| Elnino899 (Penasihat) 23/03/10 10:52 | 🙂 Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih ini katanya Esia juga nanti akan terjun ke Broadband ..kira-kira dia pakai technology apa ya apakah pakai EVDO-REV A mudahan mudahan harganya kompetitif dan berkualitas... jangan seperti Wimode internet paling mahal.. ini ambil dari Detik BTel Siapkan Jurus Baru di Kompetisi Mobile Broadband Andrian Fauzi - detikinet Ilustrasi (Ist.) Bandung - Bakrie Telecom (BTel) saat ini tengah menyiapkan produk baru untuk layanan mobile broadband. Ibarat dalam sebuah pertarungan, perusahaan milik Bakrie Grup ini tengah menyiapkan jurus baru. Tren industri telekomunikasi ke depannya memang banyak diprediksi akan beralih ke data. Saat ini tanda-tandanya juga sudah terlihat jelas. Semua operator saat ini trafik datanya meningkat tajam. BTel sebagai salah satu operator berbasis CDMA pada dasarnya telah memiliki layanan broadband sejak dulu. Layanan yang diberi nama Wimode saat itu muncul sebagai alternatif bagi layanan broadband yang saat itu dikuasai oleh operator GSM. Namun sayangnya perkembangan Wimode seakan jalan di tempat. Alhasil keberadaan Wimode sendiri mulai dilupakan oleh masyarakat. Dalam sesi perbincangan santai dengan detikINET, EVP Sales Bakrie Telecom, Irfandi Firmansyah mengatakan bahwa masa depan industri telekomunikasi adalah data. "Jelas komunikasi data adalah masa depan industri ini," tegasnya, Jumat (19/3/2010) petang. Ditanya apakah pihaknya tidak terlambat menyambut pasar yang sudah haus akan layanan broadband, Irfandi menegaskan bahwa pihaknya tidak terlambat. "Tidak telat. Karena sekali ketinggalan, 2-3 langkah bisa lewat. Ini kuda-kuda untuk menyambut kompetisi yang berat lain nantinya," katanya. Lalu apakah layanan tersebut adalah penyempurnaan dari Wimode ataukah produk baru, Irfandi dengan diplomatis menjawab "Pokoknya dalam waktu dekat lah. Tahun ini yang jelas. Tunggu saja kejutan dari kami," katanya. ( afz / ash ) Tetap update informasi di manapun dengan [tautan dihapus] Post Extras: 🖨️ Cetak |
| Hoekz (Penasihat) 09/06/10 16:34 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih gratisannya asal bener aja neh speed nya.. hehee Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 10/06/10 11:12 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih Fitch kaji ulang peringkat BTEL Mustafa menilai opsi merger menguntungkan kedua pihak JAKARTA: Perusahaan pemeringkat Fitch Ratings akan menelaah kembali peringkat PT Bakrie Telecom Tbk bila terjadi konsolidasi bisnis CDMA dengan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. Associate Director Fitch Asia Pacific Marchelius Mario mengatakan konsolidasi keduanya akan mengurangi tekanan tarif antara kedua operator dan menyediakan sinergi pemasaran, peningkatan skala ekonomi dan mengurangi belanja modal ekspansi. Meski demikian, transaksi tersebut bisa memengaruhi peringkat Telkom dan Bakrie Telecom. "Fitch akan mencari kejelasan lebih jauh seputar struktur transaksi dan bagaimana operasi Bakrie Telecom dikombinasikan Telkom-Flexi sebelum pemeringkatan diberikan," tuturnya melalui surat elektronik kemarin. Fitch menilai transaksi tersebut justru tidak akan memengaruhi peringkat Telkom yang saat ini berada di posisi BB+/Stable atau setara dengan peringkat negara Indonesia yang juga BB+/Stable Meski detil transaksi belum dibuka, Marchelius menilai konsolidasi kedua operator code division multiple access (CDMA) terbesar itu menguntungkan industri telekomunikasi Indonesia di tengah iklim kompetisi seperti sekarang. Per Desember 2009, pelanggan Telkom-Flexi mencapai 15,1 juta sedangkan Bakrie Telecom mencapai 10,6 juta orang. Gabungan keduanya akan melahirkan operator nirkabel terbesar keempat di Indonesia, menyusul PT XL Axiata Tbk yang basis pelanggannya mencapai 31,4 juta. Kedua entitas itu kini beroperasi di kanal 800 megahertz (MHz) berdasarkan teknologi CDMA 2000 1x, masing-masing dengan bandwidth 5 MHz. Marchelius juga menilai pascakonsolidasi, kombinasi keduanya akan menciptakan diversifikasi geografi yang lebih baik di Indonesia karena saat ini terjadi tumpang-tindih basis pelanggan dan cakupan layanan keduanya. "Kebanyakan pelanggan Bakrie Telecom bertempat tinggal di Jakarta, Banten dan Jawa Barat, sedangkan basis Telkom-Flexi dan cakupan layananya lebih luas dari sisi lokasi geografi," ujarnya. Penuh sesak Fitch menilai industri nirkabel di Indonesia boleh dikatakan penuh sesak dengan total 10 pemain pada akhir 2009. Pelanggan industri mencapai 190 juta pada akhir tahun lalu, yang menyiratkan penetrasi utama 82%. Namun, penetrasi riil diperkirakan masih rendah di posisi sekitar 50% setelah disesuaikan dengan penghitungan keberadaan kartu SIM. Dengan penetrasi seluler masih relatif moderat, pertumbuhan yang wajar diharapkan tetap berlanjut untuk jangka menengah. Menteri BUMN Mustafa Abubakar akan mendukung jika sampai opsi merger yang ditempuh untuk mengawinkan Telkom dan Bakrie Telecom, karena lebih memicu pencapaian target pertumbuhan. Dia mengatakan Kementerian BUMN tidak memberikan arahan apa pun dalam menentukan antara opsi merger dan akuisisi, guna mengawinkan dua badan usaha yang menjalankan bisnis layanan telepon tetap berbasis CDMA Flexi dan Esia tersebut. "Secara prinsip kami setuju ada kerja sama ini, karena dapat memperkuat BUMN Telkom sendiri, dan saya melihat peluang win-win solution-nya besar," katanya kemarin.. Ketika ditanyakan niat Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyusuri apakah aksi korporasi itu melanggar hukum persaingan dengan terciptanya kecenderungan terjadinya monopoli, Mustafa mengatakan akan dibicarakan oleh pihak Telkom dan Bakrie Telecom. Seperti diketahui Telkom menyatakan siap mengakuisisi, tetapi PT Bakrie & Brothers Tbk lebih memilih opsi merger. (Fahmi Achmad) (arif.gunawan@[tautan dihapus] /linda.silitonga@[tautan dihapus]) Oleh Arif Gunawan S. & Linda T. Silitonga Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| erwin101010 (Penasihat) 10/06/10 14:03 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih Merger Flexi-Esia Harus Hindarkan Monopoli Penggabungan Esia dengan Telkom Flexi diharapkan tidak menimbulkan praktik monopoli dalam bisnis. Penggabungan dua operator CDMA terbesar itu diharapkan tetap dilakukan dalam koridor bisnis yang sehat. "Saya kira dihindari monopoli, saya tetap berpesan kalaupun ini terjadi penggabungan harus tetap dalam koridor bisnis yang sehat sebagai pelaku bisnis telekomunikasi," ujar Menteri BUMN Mustafa Abubakar, saat ditemui di Kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (10/6/2010). Flexi saat ini tercatat sebagai operator CDMA terbesar pertama di Indonesia, sementara esia yang dimiliki oleh PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) merupakan operator CDMA terbesar kedua. Lembaga pemeringkat, Fitch Ratings sebelumnya mengatakan, hingga akhir tahun 2009, Telkom-Flexi tercatat memiliki 15,1 juta pelanggan, sementara Bakrie Telecom memiliki 10,6 juta pelanggan. Gabungan keduanya akan menciptakan operator dengan pelanggan terbesar keempat di Indonesia, dibelakang PT XL Axiata Tbk yang memiliki 31,4 juta pelanggan hingga akhir tahun 2009. Mustafa menyatakan pihaknya sudah memberikan sinyal merestui penggabungan kedua provider CDMA tersebut walaupun surat balasan kepada pihak Telkom atas permintaan gabungan tersebut belum diberikan. "Iya secara resmi belum dibalas, tapi secara prinsip sudah oke, go. Sudah bilang ke Pak Rinaldy (Dirut Telkom), secara prinsip oke. Sekarang tahapnya adalah melanjutkan negosiasi pihak sana-pihak sini bertemu untuk mencari formula yang win-win," tegasnya. Mustafa menilai penggabungan dua operator CDMA tersebut merupakan penambahan kekuatan bagi Telkom. "Itu aksi korporasi. Kalau mereka minta arahan dari Kementerian wajar-wajar saja secara prinsip kita melihat gabungan itu positif, penambah kekuatan bagi Telkom," ujarnya. Ia melihat penggabungan itu bukan mengisyaratkan Telkom mengalami kerugian. Hal tersebut, lanjutnya, terlihat dari jumlah pelanggan Telkom yang justru lebih banyak dari Esia. Telkom memiliki 15 juta pelanggan, sedangkan Esia 10-12 juta pelanggan. "Tidak rugi. Dan mereka juga saya rasa Pak Rinaldy sudah ada hitung-hitungan pasti sehingga merasa ada keyakinan kerjasama ini lebih keuntungan dari tidak. Kita kan sekitar punya 15 juta pelanggan, mereka kan 10-12 juta pelanggan, kalau ini dikerjasamakan menjadi satu kekuatan yang solid mungkin lebih mudah mengejar pertumbuhan," urainya. -Detik- Post Extras: 🖨️ Cetak |
| Hoekz (Penasihat) 10/06/10 15:51 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih merger gini mau monopoli neh kayanya atau ga sudah takut ketinggalan dengan yg laen kali ye... Post Extras: 🖨️ Cetak |
| eleven_oc (Pendatang Baru) 10/06/10 16:55 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih mang esia dah punya jaringan evdo? klo masih ngandelin CDMA 1X cepe deh..... sama aja kayak wimode skarang.... Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 11/06/10 06:15 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih Telkom pembeli siaga rights issue Bakrie Telecom JAKARTA: PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dan PT Bakrie & Brothers Tbk akan menjadi pembeli siaga penawaran umum terbatas (rights issue) PT Bakrie Telecom Tbk yang dijadwalkan Agustus 2010. Seorang eksekutif yang terlibat dalam kerja sama itu mengatakan aksi tersebut merupakan tahap awal konsolidasi layanan telepon tetap berbasis CDMA (code division multiple access) milik Telkom dan Bakrie Telecom, Flexi dan Esia. "Kerja sama itu semula dijadwalkan ditandatangani malam ini [tadi malam]. Tapi kemudian diundur menunggu hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) Telkom besok [hari ini]," ujarnya di Jakarta, tadi malam. Dia menjelaskan sejauh ini angka rights issue Bakrie Telecom masih dikalkulasi. Setelah mengantongi dana segar hasil rights issue, anak perusahaan Bakrie & Brothers itu akan mengakuisisi divisi Flexi setelah dipisah (spin off) menjadi perseroan terbatas, sehingga akhirnya terjadi merger. Informasi mengenai rencana rights issu Bakrie Telecom sempat muncul awal pekan ini bersamaan dengan pernyataan Telkom untuk menggabungkan Flexi dan Esia. Namun, saat itu baik manajemen Telkom maupun Bakrie Telecom sama-sama membantahnya. Dalam laporan keuangan Bakrie Telecom per Maret 2010, Bakrie & Brothers menguasai 34,38% saham atau 9,79 miliar saham Bakrie Telecom, sedangkan 65,62% saham lainnya dimiliki publik. Dengan asumsi rights issue Bakrie Telecom yang berkode BTEL dilaksanakan pada harga penutupan kemarin, yakni Rp170 per lembar, Bakrie & Brothers harus menyiapkan dana segar senilai Rp1,66 triliun untuk melaksanakan haknya agar tidak terdilusi. Menurut eksekutif itu, Telkom ingin menguasai 51% dari 34,38% saham Bakrie Telecom milik Bakrie & Brothers. Dengan asumsi harga BTEL Rp170 dan tak ada pemegang saham publik yang memakai haknya dalam rights issue, Telkom harus menyediakan Rp848,3 miliar. Berdasarkan laporan keuangan Telkom kuartal I/2010, jumlah dana yang harus disediakan BUMN telekomunikasi terbesar untuk mengendalikan mayoritas saham Bakrie Telecom itu hanya 12,5% dari jumlah kas dan setara kasnya yang mencapai Rp6,75 triliun. Memang dijadwalkan Dikonfirmasi atas informasi ini, seorang eksekutif puncak Grup Bakrie yang meminta identitasnya tidak dibuka mengatakan penandatanganan kesepakatan Telkom dan Bakrie Telecom memang sudah dijadwalkan pada Kamis malam. "Semula [penandatanganan] itu memang direncanakan pada Kamis malam [kemarin], tapi ditunda setelah RUPST Telkom karena ada beberapa poin yang belum disepakati," ujarnya tanpa memerinci poin-poin yang belum disepakati itu. Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah dan Direktur Keuangan Telkom Sudiro Asno yang coba dikontak tadi malam belum berhasil dihubungi. Namun sebelumnya, Rinaldi mengatakan manajemen siap menyediakan dana untuk mengonsolidasikan Flexi dan Esia. Secara terpisah, analis PT Asia Kapitalindo Securities Tbk Bodi Gautama menilai rights issue itu berpotensi besar mendongkrak kinerja Bakrie Telecom, karena perseroan memperoleh dana segar untuk pengembangan bisnis data. Opsi itu lebih mungkin diambil sebab opsi rights issue tanpa hak memesan efek lebih dahulu 10% tidak cukup mengakomodir niat Telkom menguasai mayoritas saham Bakrie Telecom. "Pertanyaannya, apa Grup Bakrie rela melepas dominasinya di Bakrie Telecom?" tuturnya. Terkait dengan utang Bakrie Telecom, Bodi mengatakan perseroan niscaya tak akan memakai dana hasil rights issue itu untuk membayar utang, meski posisi utang per 2009 mencapai Rp4 triliun. Pasalnya, posisi rasio utang terhadap ekuitas perseroan masih terjaga di level 1,29 kali. Angka tersebut terlihat masih lebih baik dibandingkan dengan PT Indosat Tbk yang mencapai 1,94 kali. Di sisi lain, rasio utang terhadap ekuitas Telkom masih lebih baik dari Bakrie Telecom, yakni 1,02 kali. Hingga akhir kuartal I/2010, Bakrie Telecom mempunyai utang jangka pendek Rp410,17 miliar dan utang jangka panjang Rp1,21 triliun. Selain itu, perseroan juga mempunyai obligasi Rp650 miliar dan surat utang senior US$250 juta atau Rp2,31 triliun. (Arif Gunawan S/Bastanul Siregar/ Abraham R. Mali) (wisnu.wijaya@ [tautan dihapus]) Oleh Wisnu Wijaya Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| djuned89 (Penasihat) 11/06/10 17:07 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih Quote: ikay said: mang esia dah punya jaringan evdo? klo masih ngandelin CDMA 1X cepe deh..... sama aja kayak wimode skarang.... Ada... maka dari itu flexi sama esia merger, soalnya kanal tambahan nya harus sharing, jadi lebih efisien kalo merger. CMIIW Post Extras: 🖨️ Cetak |
| Hoekz (Penasihat) 11/06/10 17:44 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih @djuned89: bro jadi yg nebeng esia gt yah maksudnya? Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 12/06/10 07:52 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih 'Telkom tak diintervensi' Perombakan direksi dan komisaris ditunda JAKARTA: Spekulasi adanya faktor politik dalam rencana sinergi Flexi-Telkom dengan Esia-Bakrie Telecom merebak menyusul keputusan pemerintah menunda perombakan direksi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk pada RUPS perseroan, kemarin. Spekulasi itu beredar berdasarkan asumsi direksi baru Telkom kelak tergoda mengubah kebijakan strategis konsolidasi antara unit layanan telepon tetap berbasis CDMA (code division multiple access) milik Telkom dan PT Bakrie Telecom Tbk, Flexi dan Esia. "Tapi di sini saya tegaskan, tidak ada intervensi politik. Penundaan itu [perombakan direksi Telkom] semata karena masih harus menunggu hasil dari Tim Penilai Akhir (TPA)," kata Menteri BUMN Mustafa Abubakar di Jakarta kemarin, menepis spekulasi itu. Semula rapat umum pemegang saham (RUPS) Telkom mengagendakan dua hal, yakni pembagian dividen tahun buku 2009 dan perombakan direksi. Namun, agenda yang terakhir dibatalkan karena pemerintah, sebagai pemilik mayoritas saham Telkom, belum menyiapkan nama calon direksi pengganti. Rencana perombakan direksi itu sendiri terungkap pekan lalu, nyaris bersamaan dengan niat Telkom menyinergikan Flexi dan Esia. Selang satu hari setelah rencana perombakan tersebut terungkap, beredar lima nama kandidat Dirut Telkom. Kelima nama itu adalah Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah, mantan Dirut Indosat Johnny Swandi Sjam, mantan Dirut PT Telkomsel Kiskenda Suriahardja, mantan Wakil Dirut PT Perusahaan Listrik Negara Rudiantara, dan Direktur Enterprise dan Wholesale Telkom Arief Yahya. Pemerintah juga akan mengganti posisi satu direktur, dua komisaris independen, dan komisaris utama. "Masa jabatan posisi itu sudah habis. Khusus untuk posisi dirut, kami sudah mengusulkan tiga nama untuk dinilai TPA," kata Mustafa. Kabar yang beredar, posisi direktur yang diganti adalah Direktur Enterprise dan Wholesale Arief Yahya, yang juga menjadi kandidat dirut pengganti Rinaldi. Untuk komisaris utama adalah Tanri Abeng, komisaris independen Arif Arryman dan P. Sartono. Mustafa menekankan perombakan direksi Telkom akan diagendakan dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang jadwalnya belum ditentukan. Berdasarkan ketentuan pasar modal, perpanjangan dibolehkan paling cepat 35 hari. Dengan keputusan itu, pemegang saham akhirnya menyepakati memperpanjang masa jabatan direksi dan komisaris Telkom sampai RUPSLB tersebut. "Dan ini tak ada hubungannya dengan sinergi Flexi dan Esia, karena untuk yang itu pertimbangannya murni bisnis," katanya. Pembagian dividen Untuk dividen, RUPS menyepakati angka Rp5,66 triliun setara dengan Rp288,06 per saham atau 50% dari laba bersih 2009. Nilai itu terdiri atas dividen interim Rp524,19 miliar yang dibagi 28 Desember 2009 dan dividen final Rp5,14 triliun yang dibagikan 26 Juli nanti. RUPS juga menyepakati alokasi laba bersih untuk program kemitraan Rp28,33 miliar serta program bina lingkungan senilai Rp90 miliar. Sisa laba bersih akan ditempatkan sebagai laba ditahan. Deputi Menteri BUMN Bidang Pertambangan, Industri Strategis, Energi dan Telekomunikasi Sahala Lumban Gaol menambahkan pemerintah mengajukan perpanjangan sementara itu agar perseroan dapat menyelesaikan isu-isu pengembangan sesegera mungkin. Namun, Sahala juga menepis bahwa 'penyelesaian isu-isu pengembangan sesegera mungkin' itu adalah tercapainya kesepakatan antara manajemen Telkom dan Bakrie Telecom mengenai sinergi Flexi dan Esia. "Tidak ada urusannya. Itu hanya aksi korporasi biasa." Sementara itu, Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah menegaskan bahwa hingga saat ini Telkom belum membuat kesepakatan apapun dengan PT Bakrie and Brothers Tbk, induk usaha Bakrie Telecom, terkait dengan rencana konsolidasi Flexi dan Esia. "Saat ini kami tidak bisa memberikan pernyataan apa-apa karena belum ada kesepakatan apa-apa. Belum ada kesepakatan jual beli atau apa. Kalau ada sebagai perusahaan publik kan harus menyampaikan ke bursa," katanya. Rinaldi juga tidak mengonfirmasi atau membantah informasi yang menyebutkan perseroan menyimpan rencana untuk menjadi pembeli siaga penawaran umum terbatas (rights issue) saham Bakrie Telecom Tbk bersama dengan Bakrie & Brothers. "No comment," katanya. (Bambang P. Jatmiko) (ratna.ariyanti@[tautan dihapus] Oleh Ratna Ariyanti & Bastanul Siregar Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| djuned89 (Penasihat) 13/06/10 07:54 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih Quote: Hoekz said: @djuned89: bro jadi yg nebeng esia gt yah maksudnya? bisa dibilang iya (untuk diluar jabotabek),,,sebelumnya ditemukan kanal nyempil diantara kanal flexi dan esia, karena berimpit maka esia dapet sharingnya di daerah jabotabek sedangkan flexi diluar jabotabek..tapi tau sendiri kan, kalo jabtabek itu area "basah" buat internet..mungkin daripada jalan sendiri-sendiri kan kurang maksimal akhirnya digabung aja biar maksimal penggunaan kanalnya.. CMIIW Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 14/06/10 10:34 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih Telkom & Bakrie belum sepakat soal kepemilikan Telkom tunjuk Bahana Securities sebagai penasihat JAKARTA: PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dan PT Bakrie & Brothers Tbk belum sepakat mengenai pembagian porsi kepemilikan di PT Bakrie Telecom Tbk pascapenawaran umum terbatas operator CDMA itu. Seorang eksekutif yang mengetahui persoalan ini mengatakan kebijakan Kementerian BUMN yang menangguhkan pergantian direksi dan komisaris Telkom merupakan buntut dari belum rampungnya pembahasan usulan konsolidasi Flexi dan Esia, kedua merek dagang layanan telepon berbasis code division multiple access (CDMA) milik Telkom dan Bakrie Telecom. Rapat umum pemegang saham (RUPS) tahunan Telkom pada Jumat pekan lalu mempertahankan Rinaldi Firmansyah dan Tanri Abeng sebagai presdir dan preskom Telkom. Rapat membatalkan agenda pergantian keduanya dengan alasan belum adanya rekomendasi nama dari Tim Penilai Akhir di Kementerian BUMN. Namun, sumber tadi mengatakan penangguhan itu lantaran Rinaldi dan Tanri diminta untuk menyelesaikan negosiasi dengan Bakrie & Brothers, induk Bakrie Telecom. Malam sebelum RUPS Telkom digelar, manajamen Telkom, Bakrie & Brothers, dan Bakrie Telecom dijadwalkan untuk menandatangani memorandum kesepakatan. "Tetapi Telkom dan Presiden Direktur Bakrie Telecom Anindya Bakrie belum sepakat mengenai jumlah saham baru yang harus diserap saat rights issue Bakrie Telecom," tuturnya. Anindya, kata eksekutif itu, bersikeras Bakrie & Brothers dan Telkom mengambil porsi masing-masing 50%. Namun, Telkom justru ingin dominan dengan kepemilikan 51% dari jumlah saham yang dimiliki Bakrie & Brothers sekarang ini sekitar 39%. Keduanya akan menjadi pembeli siaga dalam pelaksanaan rights issue Bakrie Telecom. Ketika dikonfirmasi mengenai hal ini, Presiden Direktur Bakrie & Brothers Bobby Gafur Sulistio Umar membantahnya. Menurut dia, sampai saat ini belum ada pertemuan langsung antara manajemen dan Telkom. Negosiasi operasional Pembahasan masih dilakukan di level operasional antara manajemen Bakrie Telecom dan Flexi. Pembicaraan lebih bersifat teknis mencakup bidang infrastruktur seperti pemanfaatan base transceiver station (BTS), frekuensi, kerja sama operasional sampai pemasaran. "Prosesnya masih berjalan terus. Kalau kami sebagai pemegang saham sedang mengkaji opsi terbaik. Bagi kami yang terpenting bukan harus mayoritas atau tidak, melainkan value creation yang timbul dari sinergi ini," paparnya. Meski tahapan pembicaraan menuju sinergi ini masih panjang, dia optimistis proses penggabungan keduanya bakal tuntas sebelum akhir tahun ini atau malah bisa lebih cepat. Pada perkembangan terkait, Telkom dikabarkan telah menunjuk PT Bahana Securities sebagai penasihat keuangan pelaksanaan sinergi Flexi-Esia ini. Tanri Abeng ketika dihubungi tidak merespons panggilan dan pesan yang dikirimkan Bisnis. Secara terpisah, Direktur Investment Banking Bahana Andi Sidharta mengatakan belum tahu menahu soal penunjukan tersebut. "Belum ada. Saya malah baru tahu," katanya. Kepala Riset PT Bhakti Securities Edwin Sebayang menilai rencana pembentukan perusahaan patungan antara Telkom dan Bakrie Telecom lebih banyak untung ketimbang rugi. Menurut dia, jika persentase kepemilikan dalam pembentukan perusahaan gabungan tersebut tidak seimbang, pemilik minoritas tetap akan diuntungkan. "Jika Bakrie yang jadi minoritas, mereka tetap diuntungkan misalnya saja dari transfer teknologi. Saya pribadi melihat Telkom kemungkinan besar akan menjadi mayoritasnya. Sebab secara fundamental Telkom memang lebih kuat. Bisa 51%:49%, bisa 54:46%, atau malah lebih." (10) (pudji.lestari@[tautan dihapus] Oleh Pudji Lestari & Wisnu Wijaya Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 15/06/10 14:58 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih Tiga detail 'konsolidasi' Flexi-Esia yang terabaikan Pejabat di Kementerian BUMN sibuk mengklarifikasi 'konsolidasi' Flexi-Telkom dengan Esia-Bakrie Telecom, menyusul dibatalkannya rencana perombakan direksi dan komisaris Telkom akhir pekan lalu. Tema klarifikasi: tak ada tekanan politik di balik 'konsolidasi' itu. Sebetulnya tak terlalu jelas benar dari mana datangnya spekulasi tersebut. Bantahan itulah yang agaknya justru memicu spekulasi bahwa tekanan itu memang ada-bahwa Telkom dipaksa menuntaskan 'konsolidasi' tersebut sebelum rapat pemegang saham merombak direksinya. Situasi seperti itu tak pelak mendorong orang mengaitkan 'konsolidasi' atau 'sinergi' Flexi dan Esia-istilah kabur yang dipilih Telkom sebagai ganti 'merger' atau 'akuisisi'-dengan pengaruh politik bos Partai Golkar cum pengendali Bakrie Telecom, Aburizal Bakrie. Kita memahami, menyatunya kekuatan politik dan bisnis, meski berbahaya, bukanlah suatu dosa. Namun, kita juga acap mendengar kabar tak sedap dari penyatuan itu, lalu muncul syak dan curiga: jangan-jangan politik jadi alat untuk mencapai tujuan pragmatis bisnis. Karena itu, sampai titik tertentu kita mungkin mengendus aroma politik di balik 'konsolidasi' dua unit layanan telepon tetap CDMA (code division multiple access) itu. Namun, tak berarti kita lalu abai pada detail penting yang memberi pemahaman dan perspektif lebih nyata. Dalam persoalan ini, paling tidak ada tiga detail yang perlu dicermati. Pertama, 'konsolidasi' itu adalah rencana lama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) yang dirumuskan 2 tahun silam, tak lama setelah Flexi memindah jalur frekuensinya dari 1.900 MHz ke 800 MHz. Untuk kepentingan tersebut, jauh sebelum menunjuk PT Bahana Securities, saat itu Telkom telah menetapkan UBS sebagai konsultan dan penasihat keuangannya. Atas mandat itu, UBS membuat riset berikut opsi-opsi dengan sederet analisis. Ada beberapa unit layanan CDMA yang dibedah dalam riset itu, antara lain Fren dari PT Mobile-8 Telecom Tbk, Smart dari PT Sinarmas Telecom, dan Esia dari PT Bakrie Telecom Tbk. Belakangan, persisnya 2 bulan lalu, Fren dan Smart bergabung. Persiapan 'konsolidasi' itu juga terefleksikan dalam tahapan 'kemandirian'-istilah kabur lagi dari Telkom untuk menggantikan 'pemisahan' atau spin off' Flexi yang dimulai 1 April 2009. Sejak itulah Telkom menasbihkan Flexi sebagai divisi independen. Detail kedua, kondisi keuangan Bakrie Telecom masih bagus. Sebagian kalangan mungkin melihat utang Bakrie Telecom sudah terlalu besar, sehingga mengakuisisinya berarti menalangi utang itu. Mengakuisisinya akan membayar terlalu mahal untuk rugi. Memang benar utang Bakrie Telecom terlalu besar jika dibandingkan dengan laba bersihnya. Per kuartal I/2010, utang jangka pendeknya Rp410,17 miliar, jangka panjang Rp1,21 triliun plus obligasi Rp650 miliar dan US$250 juta, sedangkan laba bersihnya Rp163 miliar. Akan tetapi, perbandingan itu bisa menyesatkan karena meski terdengar seksi, utang hanyalah salah satu subsistem dari keseluruhan kondisi keuangan dan prestasi perusahaan. Untuk melihat secara lebih utuh, tidak bisa tidak harus dilakukan analisis rasio keuangan. Fred Weston dan Thomas E. Copeland dalam Sawir (2001) menyebutkan analisis rasio keuangan mencakup paling tidak lima aspek, yakni (1) analisis likuiditas yang diukur dengan rasio lancar; dan (2) struktur keuangan yang diukur dengan rasio utang terhadap ekuitas. Lalu (3), aktivitas perusahaan yang diukur dengan rasio perputaran persediaan dan total aktiva; (4) profitabilitas yang diukur dengan margin laba, pengembalian total aktiva, dan ekuitas; serta (5) penilaian pasar yang diukur dengan rasio harga terhadap laba per saham. Dari sisi struktur keuangan, Bakrie Telecom masih meyakinkan karena rasio utang terhadap ekuitasnya terjaga di level 1,29 kali. Memang masih di bawah Telkom yang 1,02 kali, tapi lebih baik dari XL-Axiata (1,60), Indosat (1,94), atau Mobile-8 (17,2). Dari sisi penilaian pasar, yang sering dianggap mewakili variabel seperti persepsi yang sukar dikuantifikasi, rasio harga terhadap laba per saham Bakrie Telecom juga masih terlihat oke, 48,42 kali. Bandingkan saja dengan Telkom (13,53) XL-Axiata (11,45) atau Indosat (16,40). Dengan melihat struktur keuangan yang terjaga itu, kecil kemungkinan Bakrie Telecom memanfaatkan uang suntikan Telkom, katakanlah saat akuisisi kelak terjadi, untuk membayar utang. Pilihan menambah belanja modal atau menggenjot promosi jelas lebih realistis. Perlu segera ditambahkan, kenapa hampir semua perusahaan 'halo-halo' punya banyak utang, bahkan berkali-kali gagal bayar seperti Mobile-8, tak lain karena aplikasi pada sektor industri telekomunikasi yang selain padat modal dan teknologi, butuh banyak iklan dan promosi. Dua ancaman Detail ketiga, Esia telah menjadi ancaman bagi Flexi. Dalam 3 tahun terakhir sejak regulator memaksa Flexi memindahkan jalur frekuensinya hingga Flexi kehilangan banyak pelanggan, jumlah pelanggan Esia sudah melompat 179%, sedangkan Fleksi 148%. Sepanjang kuartal I/2010, pelanggan Esia tumbuh 37% dan Flexi 19%. Meski dari sisi jumlah pelanggan, Esia hanya menggaet 10,6 juta dan Fleksi 15,6 juta, lompatan fenomenal Esia itu dengan sendirinya menebar ancaman bagi Telkom pada dua sisi sekaligus, bisnis dan politik. Dari sisi bisnis, strategi Esia mendiversifikasi pertumbuhan melalui perluasan jaringan yang disertai integrasi horizontal dengan bank, portal berita, produsen ponsel, ditambah gimmick pemasaran yang kreatif dan seterusnya, jelas sangat potensial menggerogoti pangsa Flexi. Dari aspek politik, manajemen Telkom yang mungkin menyadari sudah tak lagi kreatif karena terlalu banyak duduk, lantas takut mempertanggungjawabkan kegagalannya mempertahankan dominasi Flexi, mengakuisisi Esia adalah pilihan pragmatis yang realistis. Bayangkan kalau Telkom tidak mencaplok Bakrie Telecom lalu sekonyong-konyong datang investor baru yang menyuntik modal ke Esia. Telkom akan kehilangan kesempatan meraih sumber pertumbuhan anorganik baru sekaligus meraup kredit politik bagi kinerjanya. Dari situ pula datang penjelasan kenapa Telkom menginginkan saham mayoritas di Bakrie Telecom. Dengan kepemilikan mayoritas itu, unit hasil 'konsolidasi' Flexi dan Esia kelak memiliki kapasitas menjaring dana lebih besar seperti Telkom, bukan Bakrie Telecom. Lalu, apakah dengan memahami tiga detail itu kemungkinan masuknya intervensi politik di balik 'konsolidasi' tersebut otomatis tertutup? Tentu saja tidak. Dalam sistem dan perangai politik yang menjadi wacana dominan saat ini, kemungkinan itu niscaya tetap terbuka. Tekanan politik masih mungkin masuk, misalnya jika Telkom dipaksa membeli saham baru rights issue Bakrie Telecom pada harga yang terlalu premium-seperti dikalkulasi sumber anonim yang dikutip The Wall Street Journal-hingga Rp8 triliun. Kompensasinya berupa, taruhlah, restu Aburizal Bakrie atas perpanjangan jabatan Rinaldi Firmansyah sebagai dirut Telkom. Sudah tentu segala kemungkinan itu buru-buru ditepis. "Intervensi itu tidak benar. Tidak pernah ada pembahasan itu. Kami di partai juga tak pernah membahasnya," kata Lalu Mara Satriawangsa, juru bicara Aburizal Bakrie, yang juga Wakil Sekjen Partai Golkar. Rinaldi sendiri enggan mengomentari spekulasi tersebut. "No coment," ujarnya seusai RUPS Telkom, Jumat pekan lalu. Kita berharap intervensi itu, apapun bentuknya, berhenti sebatas spekulasi. Meski menyadari, matematika politiknya bisa diterima nalar-seperti halnya racikan politik penyelesaian bailout Bank Century, atau kekalahan kontroversial pemerintah dalam kasus pajak Bumi. Kita juga boleh tidak suka dengan fakta bersatunya kekuatan bisnis dan politik dalam diri Aburizal Bakrie, mungkin seraya mengingat luapan lumpur Sidoarjo, perginya Sri Mulyani, atau peran barunya sebagai Ketua Harian Setgab Koalisi yang oleh sejumlah pengamat disebut 'perdana menteri'. Namun, tidak berarti kemudian kita boleh abai pada detail penting dibalik 'konsolidasi' Flexi-Telkom dan Esia-Bakrie Telecom itu sendiri. (bastanul.siregar@[tautan dihapus]) Oleh Bastanul Siregar Wartawan Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 15/06/10 18:25 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih Selasa, 15/06/2010 13:12 WIB Bakrie Telecom Akui Jajaki Kerjasama dengan Telkom Angga Aliya - detikinet Jakarta - PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mengakui saat ini pihaknya tengah melakukan penjajakan untuk melakukan kerjasama dengan PT Telkom (Persero) Tbk (TLKM). Namun hingga kini belum ada kesepakatan antara kedua belah pihak. "Bakrie Telecom melakukan pembicaraan dengan Telkom dalam rangka menjajaki kemungkinan kerja sama," kata Sekretaris Perusahaan BTEL Harry Prabowo di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (15/6/2010). Namun menurutnya, hingga kini pembicaraan antara kedua perusahaan masih berlangsung dan belum ada kesepakatan yang dapat dilaporkan sesuai dengan ketentuan Bapepam-LK dan BEI mengenai keterbukaan informasi. "Kami senantiasa akan mentaati kewajiban keterbukaan kepada publik dan akan melakukannya segera setelah ada suatu peristiwa yang material," katanya. Sebelumnya, Telkom memastikan rencana penggabungan (merger) unit usahanya Telkom Flexi akan dijadikan perusahaan (PT) terlebih dahulu sebelum merger dengan BTEL. "Saya baru terima surat tadi pagi dari Telkom. Isinya usulan merger Flexi dengan Esia. Sekarang sedang tahap negosiasi," ungkap Menteri BUMN Mustafa Abubakar beberapa waktu yang lalu. Mustafa mengatakan, pemerintah melalui Kementerian BUMN sangat mendukung rencana tersebut. Sebab, lanjut Mustafa, merger dua operator selular berbasis Code Division Multiple Access (CDMA) akan menghasilkan satu operator yang sangat kuat. Saat ini, Telkom Flexi menguasai 15 juta pelanggan, sedangkan Esia menguasai 10 juta pelanggan. Sehubungan dengan itu, Direktur Utama TLKM Rinaldi Firmansyah mengatakan tengah mempersiapkan langkah-langkah merger yang dimaksud. Rinaldi memperkirakan, proses merger Telkom Flexi dengan BTEL akan rampung antara akhir tahun 2010 atau awal tahun 2011. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 18/06/10 21:53 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih hasil test speed malam ini, lokasi Jogya... Post Extras: 🖨️ Cetak |
| djuned89 (Penasihat) 19/06/10 16:52 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih Huaaa....mantappp dah..keknya mungkin launch nya langsung di beberapa kota ya.... Post Extras: 🖨️ Cetak |
| Hoekz (Penasihat) 20/06/10 11:56 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih wah untuk awal2 neh bagus neh coba mantau dulu ahh untuk beberapa waktu kedepan... Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 23/06/10 05:59 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih test speed pagi ini, lokasi ibukota... Post Extras: 🖨️ Cetak |
| DiGITaL_BrAiN (Penasihat) 23/06/10 13:32 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih wahh..kapan nih?? kyknya masih ok speednya hehehe Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 23/06/10 19:20 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih Bakrie Telecom Dirikan Bakrie Connectivity Kehadiran Bakrie Connectivity akan memenuhi keinginan para pengguna internet broadband. Rabu, 23 Juni 2010, 18:11 WIB Arinto Tri Wibowo VIVAnews - PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) hari ini resmi mengumumkan kehadiran unit anak usaha barunya, PT Bakrie Connectivity (BCONNECT). Anak usaha tersebut merupakan perpanjangan tangan usaha Bakrie Telecom untuk memasarkan layanan internet broadband wireless access (BWA) berkecepatan tinggi berbasis CDMA teknologi EVDO. "Kehadiran Bakrie Connectivity akan menjawab sekaligus memenuhi keinginan para pengguna internet broadband di Indonesia. Hal ini disebabkan karena potensi internet broadband sangat luar biasa di Indonesia," kata Direktur Utama Bakrie Telecom, Anindya N Bakrie dalam siaran pers yang diterima VIVAnews di Jakarta, Rabu 23 Juni 2010. Sebagai dasar, Anindya merujuk pada Data ITU (International Telecommunication Union) yang menunjukkan bahwa pada 2009 ada 30 juta pengguna internet di Indonesia atau penetrasinya baru mencapai 12,5 persen. Sementara itu, data sebuah lembaga konsultan dan riset bisnis internasional menyatakan akan ada 234 juta pelanggan selular di Indonesia atau 90 persen dari populasi penduduk pada 2014. Dari jumlah tersebut, 20 persen diproyeksikan menjadi pelanggan 3G. Sedangkan kontribusi pendapatan mobile data akan tumbuh 40 persen. Demikian pula pertumbuhan distribusi komputer yang tumbuh antara 25-30 persen setiap tahunnya. Data IDC memperlihatkan pada 2009 distribusi komputer terdapat 2,5 juta dan diperkirakan naik menjadi 3,5 juta pada 2010. Pertumbuhan distribusi komputer tersebut turut mendukung perkembangan penggunaan internet di Indonesia. "Kami yakin kehadiran anak usaha baru ini akan dapat menjawab keinginan pengguna internet broadband untuk tetap up to date dan exist di media-media pertemanan sosial seperti Facebook, Twitter, Myspace, dan lainnya," ujar dia. Bakrie Connectivity, menurut dia, ada untuk masyarakat yang bermobilitas tinggi, di mana kebutuhan untuk dapat mengakses internet broadband menjadi gaya hidup. Anindya juga kembali menegaskan komitmennya untuk tetap memberikan layanan yang terjangkau pada akses internet serta keinginan yang besar untuk memberikan kontribusi terhadap kemajuan telekomunikasi nasional. Menurut dia, Bakrie Connectivity tidak hanya akan mendorong tumbuhnya akses internet, tapi juga menciptakan positive consumer experience melalui semua fasilitas dari produk-produknya. Karena itu, dia menjelaskan, pengembangan bisnis Bakrie Connectivity adalah berorientasi pada kemudahan pemakaian produk. Selain itu, pengembangan bisnis itu berorientasi pada pemberian layanan, dan konten yang menarik serta pengenaan tarif yang bukan hanya terjangkau, tapi juga bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing konsumen. Orientasi inilah diyakini oleh perusahaan akan memberi dampak positif kepada masyarakat pengguna jaringan internet. "Berkelana di jalur maya adalah suatu pengalaman yang menyenangkan. Menjadi jendela untuk memperluas wawasan pengetahuan," ujar dia. Karena itu, Bakrie Connectivity berupaya untuk menjauhkan kesan rumit ketika pengguna mulai mengakses internet. "Mulai dari koneksi pertama hingga surfing ke berbagai website akan kami permudah. Tinggal pasang alatnya," tutur Anindya. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 23/06/10 19:24 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih Investasi Bakrie Connectivity US$100 Juta Nilai investasi itu diperhitungkan untuk memperbesar penetrasi pasar bisnis layanan data. Rabu, 23 Juni 2010, 18:19 WIB Arinto Tri Wibowo VIVAnews - PT Bakrie Telecom Tbk merencanakan investasi senilai US$100 juta tahun ini untuk mengembangkan PT Bakrie Connectivity (BCONNECT). Nilai investasi itu diperhitungkan sebagai upaya membesarkan penetrasi pasar dalam bisnis layanan data yang baru berkisar 10 persen. Penetrasi tersebut relatif kecil di tengah pertumbuhan teknologi digital yang pesat di seluruh dunia. Sebagai perbandingan, di Amerika dan Eropa penetrasi pasar bisnis serupa sudah lebih dari 40 persen. Asumsi pertumbuhan presentase itu akan berkelanjutan dan menghadirkan juga paradigma baru tentang ketergantungan personal maupun sosial terhadap internet. Demikian juga di Indonesia. "Itu sebabnya terbuka peluang bagi BCONNECT untuk memperbesar raihan penetrasi pasar (market share) di dalam negeri. Apa dan bagaimana strategi produk, pemasaran dan jenis layanan BCONNECT akan disampaikan dalam peluncuran produk BCONNECT yang rencananya akan kami gelar dalam satu dua hari ke depan," kata Direktur Utama PT Bakrie Connectivity, Erik Meijer, dalam siaran pers yang diterima VIVAnews di Jakarta, Rabu 23 Juni 2010. Selain itu, Bakrie Connectivity, menurut dia mampu menggandeng sebuah perusahaan berkelas internasional. Kerja sama ini akan memberikan pengalaman baru untuk para pengguna internet di Indonesia. Sayangnya, Erik masih enggan menjelaskan siapa mitra internasionalnya tersebut. "Tunggu satu hari lagi ketika kami perkenalkan produk baru Bakrie Connectivity. Yang pasti pelanggan akan mengalami sensasi yang jauh berbeda dibanding pengalaman berinternet selama ini," tuturnya. "Ini ciri khas Bakrie Connectivity dan akan kami pertahankan sebagai nilai lebih kepada pelanggan," ujar Erik. Dia menambahkan, kehadiran Bakrie Connectivity akan semakin memperkuat komitmen Bakrie Telecom dalam membuka akses telekomunikasi yang andal dan terjangkau. "Keyakinan kami tetap tak berubah bahwa komunikasi adalah hak dasar setiap manusia Indonesia. Tugas kami memfasilitasinya dan untuk itulah kami hadir," katanya. Post Extras: 🖨️ Cetak |
Kami memakai cookie Google Analytics untuk memahami cara situs ini dipakai. Anda boleh menerima atau menolak. Kebijakan privasi