| Elnino899 (Penasihat) 23/03/10 10:52 | 🙂 Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih ini katanya Esia juga nanti akan terjun ke Broadband ..kira-kira dia pakai technology apa ya apakah pakai EVDO-REV A mudahan mudahan harganya kompetitif dan berkualitas... jangan seperti Wimode internet paling mahal.. ini ambil dari Detik BTel Siapkan Jurus Baru di Kompetisi Mobile Broadband Andrian Fauzi - detikinet Ilustrasi (Ist.) Bandung - Bakrie Telecom (BTel) saat ini tengah menyiapkan produk baru untuk layanan mobile broadband. Ibarat dalam sebuah pertarungan, perusahaan milik Bakrie Grup ini tengah menyiapkan jurus baru. Tren industri telekomunikasi ke depannya memang banyak diprediksi akan beralih ke data. Saat ini tanda-tandanya juga sudah terlihat jelas. Semua operator saat ini trafik datanya meningkat tajam. BTel sebagai salah satu operator berbasis CDMA pada dasarnya telah memiliki layanan broadband sejak dulu. Layanan yang diberi nama Wimode saat itu muncul sebagai alternatif bagi layanan broadband yang saat itu dikuasai oleh operator GSM. Namun sayangnya perkembangan Wimode seakan jalan di tempat. Alhasil keberadaan Wimode sendiri mulai dilupakan oleh masyarakat. Dalam sesi perbincangan santai dengan detikINET, EVP Sales Bakrie Telecom, Irfandi Firmansyah mengatakan bahwa masa depan industri telekomunikasi adalah data. "Jelas komunikasi data adalah masa depan industri ini," tegasnya, Jumat (19/3/2010) petang. Ditanya apakah pihaknya tidak terlambat menyambut pasar yang sudah haus akan layanan broadband, Irfandi menegaskan bahwa pihaknya tidak terlambat. "Tidak telat. Karena sekali ketinggalan, 2-3 langkah bisa lewat. Ini kuda-kuda untuk menyambut kompetisi yang berat lain nantinya," katanya. Lalu apakah layanan tersebut adalah penyempurnaan dari Wimode ataukah produk baru, Irfandi dengan diplomatis menjawab "Pokoknya dalam waktu dekat lah. Tahun ini yang jelas. Tunggu saja kejutan dari kami," katanya. ( afz / ash ) Tetap update informasi di manapun dengan [tautan dihapus] Post Extras: 🖨️ Cetak |
| djuned89 (Penasihat) 09/05/10 16:33 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih di tungguuuuuu..... Post Extras: 🖨️ Cetak |
| Hoekz (Penasihat) 10/05/10 12:54 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih semoga ga kaya telpon nya dah neh.. menunggu juga... Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 11/05/10 20:11 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih FYI.. -------------------------------------------- Selasa, 11/05/2010 16:36 WIB Dirikan Bakrie Connectivity, BTEL Investasi US$ 100 Juta Indro Bagus - detikFinance Jakarta - PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) menyiapkan investasi US$ 100 juta untuk mengembangkan PT Bakrie Connectivity, anak usaha yang baru didirikan Maret 2010. "Investasi untuk Bakrie Connectivity sebesar US$ 100 juta tahun ini," ujar Direktur Keuangan BTEL, Jastiro Abi di kantornya, Jakarta, Selasa (11/5/2010). Bakrie Connectivity alias BCON merupakan anak usaha BTEL yang baru saja didirikan 11 Maret 2010. BCON bergerak di bidang perdagangan produk dan jasa berbasis internet provider dan multimedia. Modal disetor BCON sebesar Rp 500 juta. Nilainya tidak besar. Sebab, perusahaan ini hanya berfungsi menjalankan operasional saja. "Dana investasi sebesar US$ 100 juta telah diperoleh dari hasil penerbitan obligasi US$ 250 juta," jelas Abi. BTEL baru saja menyelesaikan penerbitan obligasi senilai US$ 250 juta. Dananya akan digunakan untuk melunasi utang bank sebesar US$ 175 juta, kemudian untuk pendanaan interest reserve account sebesar US$ 14,4 juta. Abi mengatakan, pelunasan utang bank US$ 175 juta itu termasuk pelunasan pinjaman jangka pendek (bridge loan) sebesar US$ 45 juta dari Credit Suisse, Morgan Stanley, dan Bank of America Merril Lynch. Pinjaman sebesar US$ 45 juta tersebut digunakan untuk investasi di BCON, sehingga untuk memenuhi investasi US$ 100 juta di BCON, masih dibutuhkan dana sebesar US$ 55 juta. "Total pelunasan utang bank ditambah pendanaan interest reserve account sekitar US$ 189,4 juta. Jadi masih ada sisa dana obligasi US$ 60,6 juta. Dana ini untuk investasi ke BCON," ujarnya. Selain itu, BTEL juga baru saja mendirikan anak usaha baru bernama PT Bakrie Network atau BNET pada 11 Maret 2010. BNET bergerak di bidang pembangunan infrastruktur jasa telekomunikasi. "Jadi nanti BNET akan membangun berbagai infrastruktur telekomunikasi seperti jaringan fiber optik," jelas Abi. Sayangnya, Abi belum dapat membeberkan investasi yang disiapkan perseroan untuk BNET. "Investasinya bisa lebih besar dari BCON. Tapi dia baru tahun depan, tidak tahun ini. Nilainya nanti deh," jelasnya. (dro/dnl) Post Extras: 🖨️ Cetak |
| Hoekz (Penasihat) 12/05/10 11:37 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih menunggu deh neh... hohoho Post Extras: 🖨️ Cetak |
| djuned89 (Penasihat) 12/05/10 19:10 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih Jangan kecewakan penonton ya BTEL... Post Extras: 🖨️ Cetak |
| Gliders (Penasihat) 19/05/10 23:47 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih mana nih..?? alus bgt beritanya, Nyaris Tak TERDENGARRRRR...!! Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 04/06/10 12:53 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih Laba Bakrie Telecom Melonjak 407 Persen Perkembangan positif laju pertumbuhan pelanggan mendorong pencapaian kinerja keuangan. Selasa, 1 Juni 2010, 19:32 WIB Arinto Tri Wibowo VIVAnews - PT Bakrie Telecom Tbk membukukan laba bersih selama kuartal I-2010 sebesar Rp 29 miliar. Perolehan laba itu tumbuh 407 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya Rp 6 miliar. "Perkembangan positif pada laju pertumbuhan pelanggan mendorong pencapaian kinerja keuangan perusahaan pada kuartal I-2010," kata Direktur Keuangan Bakrie Telecom, Jastiro Abi, dalam siaran pers yang diterima VIVAnews di Jakarta, Selasa 1 Juni 2010. Berdasarkan laporan keuangan yang telah di-review secara terbatas, Bakrie Telecom mencetak pendapatan usaha Rp 894 miliar pada kuartal I-2010 atau naik 9,5 persen dibanding pencapaian periode sama 2009 sebesar Rp 816 miliar. Sementara itu, pendapatan bersih (net revenue) mencapai Rp 708 miliar, atau meningkat 7,6 persen dari Rp 658 miliar pada kuartal I-2009. Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) juga melonjak sebesar 57,3 persen dari Rp 236 miliar pada kuartal I-2009 menjadi Rp 371 miliar pada periode sama 2010. "Perseroan akan terus menjaga langkah efisiensi, sehingga mampu mempertahankan catatan positif kinerja keuangan," ujar Jastiro. Apalagi, ke depan, dia melanjutkan, perusahaan juga akan semakin berkembang dengan memperluas layanan dengan menyediakan layanan data melalui anak usahanya, Bakrie Connectivity. "Di satu sisi kami akan tetap fokus pada pertumbuhan organik perusahaan melalui Bakrie Telecom," tuturnya. Bakrie Telecom juga telah mendapatkan kepercayaan investor internasional melalui dukungan penyediaan dana US$ 250 juta dari hasil penerbitan global bond. Dana itu akan dimanfaatkan untuk pembiayaan kembali (refinancing) maupun pengembangan usaha di layanan data broadband. "Tentunya kami ingin memanfaatkan dan sekaligus menjaga kepercayaan ini. Kami akan bekerja keras agar pertumbuhan Bakrie Telecom semakin baik," ujarnya. (umi) Post Extras: 🖨️ Cetak |
| Hoekz (Penasihat) 04/06/10 22:45 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih ditunggu kualitas yg mantap deh neh... Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 07/06/10 21:27 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih Semakin mendekati kenyataan... ----------------------------------------- Senin, 07/06/2010 17:06 WIB Merger Telkom Flexi dan Bakrie Telecom Rampung Akhir 2010 Nurseffi Dwi Wahyuni,Whery Enggo Prayogi - detikFinance Jakarta - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) memastikan rencana menggabungkan (merger) unit usahanya Telkom Flexi dengan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Telkom Flexi akan dijadikan perusahaan (PT) terlebih dahulu. "Saya baru terima surat tadi pagi dari Telkom. Isinya usulan merger Flexi dengan Esia. Sekarang sedang tahap negosiasi," ungkap Menteri BUMN, Mustafa Abubakar di gedung DPR RI, Jakarta, Senin (7/6/2010). Mustafa mengatakan, pemerintah melalui Kementerian BUMN sangat mendukung rencana tersebut. Sebab, lanjut Mustafa, merger dua operator selular berbasis Code Division Multiple Access (CDMA) akan menghasilkan satu operator yang sangat kuat. "Tentu saja kita melihat positif, kita dukung, betul-betul win-win solution. Tentu saja kita berharap secepatnya. Selesai tahun ini," jelas Mustafa. Saat ini, Telkom Flexi menguasai 15 juta pelanggan, sedangkan Esia menguasai 10 juta pelanggan. Sebagaimana dikatakan Mustafa, hasil merger 2 perusahaan ini akan menengahi persaingan yang selama ini terjadi (win-win solution). Sehubunga dengan itu, Direktur Utama TLKM Rinaldi Firmansyah juga mengatakan tengah mempersiapkan langkah-langkah merger yang dimaksud. Ia mengatakan, perseroan tengah mempersiapkan pelepasan (spin off) Telkom Flexi untuk dijadikan sebuah perusahaan atau perseroan terbatas (PT). Saat ini, Telkom Flexi masih berupa unit usaha TLKM. "Kalau masih menjadi divisi bisnis, spin off Flexi tidak bisa dilaksanakan. Prosesnya kan masih berlangsung, 2-3 bulan internal. Di Kehakiman 2-3 bulan juga. Ya sekitar 4 bulan selesai," ujar Rinaldi. Rinaldi memperkirakan, proses merger Telkom Flexi dengan BTEL akan rampung antara akhir tahun 2010 atau awal tahun 2011. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 07/06/10 21:29 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih 07/06/2010 - 16:29 Menteri BUMN Dukung Merger Flexi-Esia Makarius Paru [tautan dihapus], Jakarta - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendukung upaya Telkom dalam proses merger antara Flexi dengan Esia. “Soal usulan dari Telkom soal rencana merger Flexi dengan Esia sekarang masih dalam tahap negoisasi. Ini adalah langkah korporasi. Kalau kami dari Kementerian BUMN menyambut positif rencana merger tersebut,” kata Menteri BUMN Mustafa Abubakar di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (7/6). Ia melanjutkan sepanjanga proses merger dalam skema win-win solution. Misalnya Telkom punya 15% dan Esia punya 10% dan nanti jumlah saham proporsional dengan itu. Nanti dalam bentuk joint operation apapun namanya yang penting win-win solusionnya ada. “Intinya kita dukung, sepanjang win-win solution dan kita sedang mengkaji, Dan muda-mudahan dalam bulan ini atau dua bulan ke depan kajiannya sudah selesai,” katanya. Ia mengakui kalau Telkom pernah mengajukan surat ke Kementerian BUMN, isinya minta persetujuan Kementerian BUMN untuk mensinergikan itu (Flexi dengan Esia). Kalau masing-masing berjalan sendiri kelihatannya kekuatan untuk mempengaruhi pasar kurang. "Kalau kita kurang apalagi dengan mereka, makanya ini kita sinergikan menjadi kekuataan riil bisa menumbuhkan perusahaan," jelasnya. Ketika ditanya apakah rencana merger Flexi dengan Esia oleh Telkom akan dibahas dalam RUPS, Mustafa mengatakan kalau utusan tersebut adalah aksi korporasi. “Secara prinsip Kementerian BUMN setuju rencana merger tetapi belum kita berikan surat yang penting Telkomnya sudah memiliki image yang bagus. Apakah nanti joint operation itu go public atau tidak bukan masalah yang penting Telkom kan sudah Tbk,” jelasnya. [hid] Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 07/06/10 21:35 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih hasil speedtest-nya... Post Extras: 🖨️ Cetak |
| djuned89 (Penasihat) 07/06/10 22:25 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih ^ Wahh esia udah launch evdo ya...? Post Extras: 🖨️ Cetak |
| erwin101010 (Penasihat) 08/06/10 00:18 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih Flexi + Esia, yg laen bs langsung keok, haha Post Extras: 🖨️ Cetak |
| siryosaeba (Penasihat) 08/06/10 06:43 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih Quote: rusco said: hasil speedtest-nya... bro....kalo masih cari beta tester utk evdo, saya posisi di bsd city, kartunya dikirimin aja ke rumah... modem ane udah punya yg haier ce100, ntar ane bantu cek. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 08/06/10 09:17 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih Telkom siap caplok Bakrie Flexi & Esia berpotensi memonopoli pasar telepon tetap CDMA JAKARTA: PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) siap mencaplok PT Bakrie Telecom Tbk untuk mengonsolidasi bisnis layanan telepon tetap berbasis code division multiple access (CDMA) di Indonesia. Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah menyatakan akuisisi Bakrie Telecom yang memiliki unit CDMA bermerek Esia itu menjadi salah satu opsi selain merger, untuk kemudian digabungkan dengan Flexi, unit usaha CDMA Telkom. "Jika merger yang ditempuh, perseroan tidak harus mengeluarkan dana. Namun jika akuisisi, kami harus mengeluarkan dana. Kami pun sudah menyiapkan dana yang dibutuhkan jika opsi itu dinilai yang paling menguntungkan," ujarnya di Jakarta, kemarin. Sejalan dengan persiapan aksi korporasi itu, Telkom secara resmi kemarin mengajukan izin konsolidasi Flexi dengan Esia kepada Kementerian BUMN, selaku pemegang 59% saham Telkom yang mewakili pemerintah. Pernyataan Rinaldi itu sekaligus mengonfirmasi pemberitaan Bisnis sebelumnya mengenai sinergi Flexi dan Esia. Namun, Rinaldi menegaskan, sampai saat ini perseroan belum sampai pada keputusan final opsi mana yang akan dipilih. Semua opsi masih dalam pengkajian, dan kajian itu diharapkan rampung dalam 2 bulan ke depan. Oleh karena statusnya masih opsi, tegasnya, tidak berarti Telkom akan menjadi pembeli siaga rencana rights issue 40% saham Bakrie Telecom. "Saya sendiri baru dengar rencana rights issue Bakrie Telecom itu," katanya. Rumor mengenai rights issue Bakrie Telecom merebak kemarin nyaris bersamaan dengan pernyataan Rinaldi. Rumor itu menyebut saham Bakrie Telecom akan dilepas 40% dalam waktu dekat. Manajemen Bakrie Telecom membantah rumor ini. Namun, apabila mengacu pada angka 40% itu, jumlah saham baru pada rights issue Bakrie Telecom akan mencapai 11,39 miliar. Dengan harga penutupan emiten berkode BTEL itu kemarin di level Rp162 per saham, Bakrie Telecom akan meraup Rp1,84 triliun. Dana sebesar ini pula yang harus disediakan Telkom jika mau membeli saham rights issue Bakrie Telecom-yang apabila mendasarkan pada laporan keuangan kuartal I/2010, Telkom mampu membelinya karena jumlah kas dan setara kasnya mencapai Rp6,75 triliun. Merespons situasi ini, harga saham Bakrie Telecom kemarin naik 1,88% ke 162 per lembar. Sejak awal Juni, saat isu sinergi Flexi-Esia kian meruncing, harga saham berkode BTEL itu sudah naik 14,89%. Sebaliknya, harga saham Telkom kemarin kembali tergerus 1,89% ke Rp7.750 per lembar bersamaan datangnya sentimen negatif dari bursa global. Sepanjang tahun berjalan, harga saham berkode TLKM itu sudah tergerus 16,67%. Yang pasti, Rinaldi menyatakan, perseroan berharap penggabungan Flexi dan Esia itu bisa terealisasi akhir tahun ini. Sebab, penggabungan itu bagian dari transformasi bisnis Telkom menjadi perusahaan unggul di layanan telekomunikasi, informasi, media dan edutainment. Dia menjelaskan apabila opsi merger yang diambil, Telkom akan memisah (spin off) Flexi dengan membentuk perseroan terbatas sendiri. Untuk itu dibutuhkan waktu minimal 4 bulan. Perinciannya, 2 bulan di internal, dan sisanya di Kementerian Hukum dan HAM. Namun, apabila opsi akuisisi Bakrie Telecom yang diambil, dengan sendirnya Telkom akan mengendalikan seluruh divisi usaha berikut anak usaha Bakrie Telecom dengan porsi saham setara dengan yang dimiliki Bakrie Telecom saat ini. Mengomentari ini, Chief Executive Officer PT Bakrie & Brothers Tbk Bobby Gafur Sulistyo Umar mengatakan sebagai pemegang saham mayoritas Bakrie Telecom mengatakan saat ini layanan telekomunikasi tetap menjadi bisnis andalan Grup Bakrie. Apalagi, Bakrie Telecom memberi kontribusi pendapatan yang signifikan bagi Bakrie. "Terus terang belum ada rencana melepas Bakrie Telecom. Tapi kami tunggu apa tawaran Telkom. Kalau mereka serius dan tawarannya menarik, ya kami pelajari," katanya. Di tempat terpisah, Menteri BUMN Mustafa Abubakar mengatakan pemerintah menyambut positif dan menyetujui konsolidasi Telkom dengan Bakrie Telecom, termasuk jika dilakukan melalui akuisisi. Alasannya, hal itu akan memberikan nilai tambah terutama bagi Telkom. Pergeseran pasar Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono memperkirakan pasar telekomunikasi seluler di Indonesia akan ramai seiring dengan rencana penggabungan layanan Telkom Flexi dan Esia. "Bisa menjadi big four [empat besar], setelah Telkomsel, XL Axiata, dan Indosat." Dia mengungkapkan kalau hasil merger menimbulkan perusahaan baru, harus mengurus izin dan lisensi baru yang prosesnya bisa 1 tahun, mulai dari mendapatkan lisensi telekomunikasi baru, uji laik operasional, izin prinsip sampai penataan kembali lisensi seluler. "Kalau sekadar konsolidasi dengan nama lama atau merger atau akuisisi de-ngan menggunakan nama lama, belum ada aturannya. Misalnya, Esia dijual ke Telkom atau sebaliknya, itu cuma akuisisi," ujarnya. Mengenai potensi pelanggaran UU No. 5/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli, Nonot berpendapat apabila dipandang sebagai operator seluler tidak melanggar. Sebaliknya, apabila dipandang sebagai operator fixed wireless acces (FWA), berarti monopoli karena menguasai lebih dari 50% pasar. Heru Sutadi, anggota BRTI, meminta dilakukannya konsultasi terlebih dahulu dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) karena Telkom dan Bakrie Telecom merupakan pemain dominan di segmen telepon tetap nirkabel. Ketua KPPU Benny Pasaribu meminta pihak terkait melaporkan rencana merger akuisisi tersebut untuk dievaluasi dampaknya terhadap peta persaingan di industri telekomunikasi. "Memang tidak ada kewajiban untuk melaporkan kepada kami, namun sebaiknya rencana ini juga beritahukan," ujarnya. (arif pito yo/Bastasnul Siregar/Abraham Runga Mali) (bambang.jatmiko@bisnis. [tautan dihapus] Oleh Bambang P. Jatmiko & Fita Indah Maulani Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| muthex (Penasihat) 08/06/10 18:46 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih ada tester gratis nih?... ane di bandung cibiru....boleh dong samplenya Post Extras: 🖨️ Cetak |
| Hoekz (Penasihat) 09/06/10 00:23 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih kalo ada ane juga mau donk bro.. heheh Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 09/06/10 05:51 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih Bakrie pilih opsi merger Monopoli belum tentu langgar UU Persaingan Usaha JAKARTA: PT Bakrie & Brothers Tbk lebih memilih opsi merger daripada akuisisi yang ditimbang PT Telekomunikasi Indonesia Tbk untuk menyinergikan Flexi dan Esia. Chief Executive Officer Bakrie & Brothers Bobby Ghafur Umar menyatakan penggabungan dua unit bisnis tersebut lebih menguntungkan daripada perseroan melepas sebagian dari 49% sahamnya di Bakrie Telecom ke Telkom. "Sejauh ini kami memang belum memutuskan bentuk sinerginya seperti apa. Tetapi kalau mengambil sinerginya, mungkin kami akan melihat gabungan dua unit bisnis itu [Flexi dan Esia] lebih bagus," ujarnya di Jakarta kemarin. Seperti diberitakan, Telkom siap mengakuisisi Bakrie Telecom untuk mengonsolidasi bisnis layanan telepon tetap berbasis code division multiple access (CDMA) di Indonesia. Bobby berpendapat sinergi tersebut akan menaikkan nilai tambah kedua perusahaan. Namun, pembicaraan antara pihaknya dan Telkom belum sampai pada detail operasional pelaksanaan sinergi itu. Apalagi, selain merger dan akuisisi, masih ada berbagai opsi lain yang bisa dijalankan dalam sinergi tersebut. "Kami dan Telkom bisa saja melakukan kerja sama investasi. Tapi, kami perkirakan hasil pembicaraan sinergi itu sudah bisa diketahui dalam 2-3 bulan ke depan, karena hingga saat ini manajemen Bakrie Telecom juga belum melaporkan rencana sinergi itu ke kami," katanya. Bakrie Telecom sebelumnya pernah menjalin kerja sama dengan operator CDMA lain, yaitu Star One. Namun kerja sama tersebut tidak bisa berjalan optimal. Bobby berharap sinergi Flexi dan Esia kali ini bisa lebih efektif dan meningkatkan efisiensi. Suryadi Chandra Kasih, analis dan Head of Online Division PT Amcapital Securities, mengatakan rencana Telkom dan Bakrie Telecom mengonsolidasikan usaha keduanya akan menguntungkan secara finansial. Menurut dia, Telkom akan terbebas dari biaya operasional dan pemeliharaan besar di Flexi, sedangkan Bakrie Telecom mendapatkan dukungan pendanaan. Namun, sambungnya, pihak yang lebih diuntungkan dalam transaksi tersebut adalah Bakrie Telecom yang tengah menghadapi kendala pendanaan dari grup, terlihat dari nilai kewajiban yang ditanggung perusahaan. KPPU pantau Mendengar rencana akuisisi atau merger yang akan dilakukan Telkom dan Bakrie Telecom itu, KPPU pun berniat membahas hal itu untuk mengetahui apakah aksi korporasi itu melanggar hukum persaingan atau tidak. Wakil Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Tri Anggraini mengatakan bahwa sikap komisi itu akan ditentukan setelah dilakukan rapat internal bersama komisioner. Namun Bobby memilih tidak memberikan tanggapan ketika diminta tanggapannya atas sikap KPPU. "Kalau bagus dan menguntungkan, kami harus mendukung langkah sinergi itu," katanya. Menurut Tri, rencana Telkom dan Bakrie Telecom itu memiliki kecenderungan terjadinya monopoli. Namun monopoli belum tentu berakibat pada pelanggaran terhadap UU No. 5/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. "Apabila praktik monopoli itu berakibat menghambat pelaku usaha lain untuk bersaing secara sehat itu baru dapat dikatakan melanggar UU Persaingan Usaha," katanya. Untuk menilai praktik monopoli tersebut melanggar UU atau tidak, KPPU harus memeriksa dan melakukan analisis ekonomi terkait konsentrasi pasar setelah terjadinya merger atau akuisisi. Dia menyarankan kepada dua perusahaan itu melakukan konsultasi dengan KPPU atau melakukan notifikasi terkait dengan rencana tersebut supaya perusahaan lebih aman dalam mengembangkan usahanya. Notifikasi itu bertujuan untuk memeriksa nilai aset dan nilai penjualan apakah telah memenuhi batasan nilai sebagaimana diatur dalam Peraturan Komisi (Perkom) No. 1/2009 Tentang Pra-Notifikasi Penggabungan, Peleburan, dan Pengambilalihan. Satu perusahaan bukan bank telah memenuhi kualifikasi notifikasi apabila asetnya melebihi Rp 2,5 triliun dan omzet lebih dari Rp 5 triliun. Dedie S. Martadisastra, salah satu komisioner KPPU, yang selama ini sering menangani perkara yang berkaitan dengan bidang telekomunikasi, mengatakan pranotifikasi kepada lembaga persaingan usaha ini memang sebaiknya dilakukan oleh para pelaku usaha yang ingin melakukan ekspansi bisnis seperti merger atau akuisisi. Menurut dia, penguasaan pasar yang sangat besar, lebih dari 50%, sebagai hasil akuisisi atau merger akan memicu pengaturan harga. Hal itu terjadi di mana saja di dunia. "Untuk itu sebaiknya Telkom dan Bakrie Telecom mengajukan pranotifikasi terhadap rencana merger atau akuisisi di antara mereka agar tidak ada persoalan di kemudian hari," tuturnya. Mengakomodasi merger? Saat ini total jumlah pelanggan telepon tetap nirkabel (fixed wireless access/FWA) adalah sekitar 28 juta pelanggan (menurut riset internal Telkom). Dari jumlah tersebut, layanan Flexi dan Esia menguasai sekitar 26,9 juta pelanggan atau sekitar 96% pasar. Namun, apabila kedua produk tersebut dipandang sebagai layanan seluler, maka penguasaan pasar kedua layanan itu hanya sekitar 13,5% dari total jumlah pelanggan seluler 180 juta orang. Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono mengungkapkan kedua produk tersebut bisa dianggap sebagai seluler apabila pembahasan mengenai perhitungan biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi berbasis pita (bandwidth) selesai. "Kami perkirakan selesai sebelum akhir tahun ini. Penerapan perhitungan BHP berbasis pita secara otomatis menghilangkan layanan FWA karena pada saat itulah berlaku unified access licensing," ujarnya. Unified access licensing atau lisensi akses gabungan adalah lisensi modern yang diberikan kepada setiap operator atas penggunaan pita frekuensi. Pemanfaatan pita tersebut diserahkan kepada operator, apakah akan digunakan untuk layanan FWA atau seluler. Pada saat lisensi gabungan tersebut diterapkan, BHP antara layanan seluler dan FWA disamakan sehingga operator akan cenderung menggunakannya untuk seluler yang memiliki jelajah lebih luas. Teknologi FWA atau teknologi mobile dengan akses terbatas hanya dikenal di Indonesia. Lisensi FWA diberikan untuk menjembatani keinginan Telkom dalam memberikan akses. Menurut anggota BRTI Heru Sutadi, saat ini dibahas perubahan regulasi penyelenggaraan layanan telekomunikasi dari semula berbasis radio (ISR) menjadi berbasis pita frekuensi (bandwitdh base). "Masih dibahas di Kementerian Keuangan." Jika usulan itu disetujui, pembedaan penyelenggaraan layanan telekomunikasi antara seluler dan FWA menjadi tidak relevan lagi karena operator membayar fee ke pemerintah berdasarkan pita frekuensi yang digunakan. (bastanul.siregar@[tautan dihapus] [tautan dihapus]) Reportase: 07/Elvani Harifaningsih/Bambang P. Jatmiko/Arif Gunawan S./Fita Indah Maulani/Roni Yunianto/Tri D. Pamenan Oleh Bastanul Siregar & M. Sarwani Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 09/06/10 05:53 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih Merger Flexi - Esia Bakrie Brothers Belum Terima Lamaran Telkom Whery Enggo Prayogi - detikFinance Jakarta - PT Bakrie and Brother Tbk (BNBR) sebagai induk usaha PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) belum menerima "lamaran" resmi dari PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). BNBR juga tidak mempermasalahkan bentuk sinergi yang nantinya disepakati antara BTEL dan anak usaha Telkom, Telkon Flexi, antara merger atau akuisisi. "Yang terpenting adalah sinergi frekuensi dan infrastruktur. Sinergi akan bagus karena ada penggabungan pelanggan Flexi 15 juta dan 11 juta Esia. Tapi saya belum terima penawaran dari Telkom," jelasnya CEO BNBR Boby Gafur saat ditemui di Hotel Mid Plaza Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selasa (8/6/2010). Bentuk sinergi yang memang santer tengah dibicarakan antara Telkom, Bakrie Telecom dan Kementerian BUMN, menurut Boby menjadi langkah yang baik. Pasalnya frekuensi yang tadinya diperebutan beberapa dua pemain besar di pasar CDMA, akan menyatu. "Penggabungan kan frekuansi dan infrastruktur kan ada cost efisiensi. Kalau merger akuisisi belakangan. Nanti akan lihat," jelasnya. "BTEL juga terima penawaran dari Telkom selaku anak usaha Telkom Flexi," paparnya. Skema penggabungan ini masih dalam pembahasan intensif antara kedua belah pihak. Ini ditegaskan Direktur Utama TLKM Rinaldi Firmansyah. Manajemen BTEL pun masih bungkam soal skema yang akan digunakan. Sinergi ini dipastikan Kementerian BUMN, Mustafa Abubakar, bertujuan untuk mengonsolidasikan dua usaha yang memimpin bisnis operator berbasis Code Division Multiple Access (CDMA) yakni Telkom Flexi dan Esia, yang tentunya akan menghasilkan satu perusahaan telekomunikasi yang sangat kuat. Rinaldi menegaskan pula, proses ini akan memakan waktu kurang lebih 4 bulan. Setelah berubah status menjadi PT Telkom Flexi, proses merger dapat dilaksanakan. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| tonosaur (Penasihat) 09/06/10 09:18 | 😐 Re: Esia akan terjun ke bisnis Broadband ..internet nih wah kalo ada gratisan mau juga lahh... *ikut2an* Post Extras: 🖨️ Cetak |
Kami memakai cookie Google Analytics untuk memahami cara situs ini dipakai. Anda boleh menerima atau menolak. Kebijakan privasi