| auliafathya (Anggota) 29/09/09 15:50 | 🙂 Akhirnya Fren di beli SMART Saya dengar dari teman2 yang kerja di smart nopember tahun ini smart bakal akuisisi Fren dan keputusan ini hampir final 80% dan mereka juga sudah mendesign kajian tekniknya, misalnya saja untuk frekwensi yang di pakai SMART sekarang yaitu Frek. 1900 akan murni dipakai untuk broadband data (internet) sedang untuk Voice semua akan di alihkan di Frek 800 milik Fren( mobile-8) sehingga persis Operator GSM yaitu untuk 2G di Frekwensi 900 dan 3G di Frekwensi 1900 dan bakal ada pembangunan besar2 an karena di semua site atau tower smart akan di pasang BTS frek 800 milik Fren, maka bisa dipastikan signal Fren akan semakin bagus...... Ujung2 nya ya kita semakin uenak.... karena telphone semakin murah meriah Post Extras: 🖨️ Cetak |
| Razorlight (Penasihat) 08/03/10 07:34 | 😐 Re: Akhirnya Fren di beli SMART Alcatel buatan China juga, kan divisi mobile phone-nya diambil TCL China Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 08/03/10 09:33 | 😐 Re: Akhirnya Fren di beli SMART Itu barangnya sama dengan yang diproduksi Nexian untuk Esia juga (Gayaku FM-Rp 99,000), yang bikin heboh di EX november kemarin... Post Extras: 🖨️ Cetak |
| urbansoul (Penasihat) 08/03/10 23:45 | 😐 Re: Akhirnya Fren di beli SMART Buat yang belum tau, Per tanggal 1 Maret 2010, Mobile-8 Center Annex di Jl. Kebon Sirih resmi pindah ke Gedung Smart di Jl. H. Agus Salim No.45 Sabang. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| Hoekz (Penasihat) 09/03/10 13:59 | 😐 Re: Akhirnya Fren di beli SMART Nice info ya bro.... Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 17/03/10 09:07 | 😐 Re: Akhirnya Fren di beli SMART Bond Mobile-8 default Global Mediacom beli saham MNC Rp4,90 miliar JAKARTA: PT Mobile-8 Telecom Tbk, operator seluler berbasis CDMA, kembali gagal membayar (default) bunga dan denda obligasinya. Bunga obligasi yang gagal dibayar adalah bunga obligasi ke-12 dari obligasi tahap I/2007, sedangkan denda yang belum dilunasi perseroan sampai jatuh tempo pembayaran 15 Maret 2010 adalah denda ke-9 tahap kedua obligasi I/2007. Akibat kegagalan itu, otoritas bursa Senin pekan ini membekukan perdagangan obligasi ke-12 tahap I/2007 itu sekaligus menghentikan sementara transaksi saham perseroan berkode FREN tersebut. Pelaksana harian Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Surat Utang PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Latifah Hanum mengatakan suspensi perdagangan obligasi emiten itu berlaku di sistem perdagangan obligasi dan fixed income trading system (FITS). "Suspensi perdagangan obligasi Mobile-8 kami lakukan sejak awal perdagangan 15 Maret 2010 hingga adanya penjelasan emiten menyangkut pembayaran bunga obligasi perseroan," ujarnya di Jakarta, Senin. Latifah menambahkan pembekuan transaksi itu dilakukan menyusul adanya laporan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia yang menunjukkan emiten obligasi dan saham itu belum melunasi kupon obligasi. Catatan BEI menunjukkan perseroan memiliki obligasi yang didaftarkan senilai Rp606,5 miliar dan akan jatuh tempo pada Juni 2017. Obligasi yang diterbitkan pada Juni 2007 itu sebelumnya telah diperpanjang jatuh temponya selama 5 tahun dari sebelumnya 2012. Bunga kupon obligasi ikut diubah menjadi 12,375% untuk 9 kuartal dimulai pada 15 Juni 2007, lalu 5% untuk delapan kuartal dimulai pada 15 September 2009, 8% untuk 12 kuartal dimulai pada 15 September 2011, dan 18% untuk 12 kuartal dimulai pada 15 September 2014. Direktur Mobile-8 Telecom Anthony C. Kartawiria dalam keterbukaan informasinya kepada BEI berjanji perseroan akan melakukan upaya guna memenuhi kewajiban pembayaran bunga dan denda obligasi pada kesempatan pertama dalam tenggang waktu perbaikan yang tersedia. Saat disuspensi, harga saham Mobile-8 berada pada Rp51 per lembar. Harga saham FREN pada Jumat itu naik Rp1 dari harga perdagangan sebelumnya, Rp50, hingga menjadikannya memiliki kapitalisasi senilai Rp1,68 triliun. Kepemilikan strategis Dalam perkembangan lain, PT Global Mediacom Tbk menyatakan telah membeli 17,50 juta saham PT Media Nusantara Citra Tbk (MNC) senilai Rp280 per saham atau senilai Rp4,90 miliar. Dalam keterbukaan informasinya kepada Bursa Efek Indonesia Senin Global Mediacom disebutkan membeli saham perusahaan berkode MNCN itu pada 23 Februari 2010 dengan tujuan kepemilikan strategis. Laporan keuangan MNC per September 2009 menyebutkan Global Mediacom menguasai 9,78 miliar saham atau 71,14%, Mediacorp Investment Pte Ltd memiliki 942,38 juta saham atau 6,85%, sedangkan publik memiliki 3,03 miliar saham atau 22%. Pada akhir September 2009, laba bersih MNC tumbuh dari Rp296,89 miliar per September 2008 menjadi Rp351,95 miliar. Namun, laba usahanya menurun tipis dari Rp521,99 miliar pada akhir September 2008 menjadi Rp516,66 miliar. Pendapatan usaha induk usaha media penyiaran televisi, sejumlah koran, majalah, tabloid, dan jaringan radio tersebut naik dari Rp2,78 triliun pada akhir September 2008 menjadi Rp2,83 triliun pada akhir September 2009. Dalam perdagangan Senin, harga saham MNC ditutup turun Rp5 menjadi Rp255 per lembar hingga berkapitalisasi Rp3,50 triliun, sedangkan harga saham Global Mediacom ditutup turun Rp15 menjadi Rp320 per lembar hingga berkapitalisasi Rp4,40 triliun. (Bastanul Siregar) (irvin.avriano@ [tautan dihapus] Oleh Irvin Avriano & Wisnu Wijaya Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 17/03/10 09:08 | 😐 Re: Akhirnya Fren di beli SMART Gagal lagi & lagi JAKARTA: Bagi PT Mobile-8 Telecom Tbk, gagal bayar bunga obligasi bukanlah kejadian pertama kali. Pembayaran bunga obligasi perseroan berdenominasi rupiah senilai awal Rp675 miliar-kini jadi Rp606,5 miliar-yang kemarin dinyatakan gagal itu adalah yang ketiga. Kegagalan sebelumnya adalah pada periode 15 Maret 2009 dan 15 Juni 2009, hingga tenor obligasi yang terbit Juni 2007 dengan periode jatuh tempo Maret 2012 akhirnya diperpanjang 5 tahun ke Juni 2017. Sejalan dengan perpanjangan itu, bunganya ikut direstrukturisasi. Belum cukup itu, obligasi dolar AS senilai US$100 juta milik anak usaha emiten ini, yakni Mobile-8 Telecom Finance Company BV, juga dinyatakan gagal bayar pada 16 Desember 2008. Obligasi yang terbit Agustus 2007 dan jatuh tempo Maret 2013 itu gagal bayar karena ada pelanggaran klausul obligasi mengenai pengalihan saham PT Global Mediacom Tbk, induk semula Mobile-8, ke Jerash Investment per September 2008 dari 59% jadi 19%. Mobile-8 memang bukan satu-satunya emiten yang mengalami kasus gagal bayar. Namun, dari intensitasnya, kasusnya-lah yang paling mencolok. (Bastanul Siregar) Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| Hoekz (Penasihat) 17/03/10 16:18 | 😐 Re: Akhirnya Fren di beli SMART nice share yah bro... kasian yah gagal bayar gitu...heheh Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 18/03/10 17:31 | 😐 Re: Akhirnya Fren di beli SMART Kas Mobile-8 tersedot utang JAKARTA: Kas PT Mobile-8 Telecom Tbk, operator seluler berbasis CDMA, tersedot oleh besarnya beban utang yang harus dilunasi, sehingga perseroan tidak memiliki cukup dana untuk membayar kewajiban kupon kepada pemegang obligasi. Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik mengatakan selain itu, kas perseroan juga terpakai untuk membiayai pengembangan bisnis. "Tahun ini kami coba menekan kewajiban perseroan, sehingga ke depan bisa membayar seluruh kewajiban kami," ujarnya kemarin. Mobile-8, operator seluler berbasis CDMA, Senin pekan ini mengumumkan kegagalannya membayar (default) bunga dan denda obligasinya. Bersamaan dengan itu, otoritas bursa membekukan transaksi saham dan obligasinya. Bunga obligasi yang gagal dibayar Mobile-8 adalah bunga obligasi ke-12 dari obligasi tahap I/2007, sedangkan denda yang belum dilunasi perseroan sampai jatuh tempo pembayaran 15 Maret 2010 adalah denda ke-9 tahap kedua obligasi I/2007. Catatan BEI menunjukkan perseroan memiliki obligasi yang didaftarkan senilai Rp606,5 miliar dan akan jatuh tempo pada Juni 2017. Obligasi yang diterbitkan pada Juni 2007 itu sebelumnya telah diperpanjang jatuh temponya selama 5 tahun dari sebelumnya 2012. Akhir tahun lalu, perseroan dengan kode perdagangan saham FREN ini mengumumkan telah mengonversi utang menjadi saham baru senilai Rp700 miliar dari total utang usaha perseroan senilai Rp840,92 miliar. Respons pasar Menanggapi kasus gagal bayar Mobile-8 ini, Direktur Utama PT Pemeringkat Efek Indonesia Kahlil Rowter meyakini pasar utang tidak akan memberi respons negatif atas kasus tersebut. Masalahnya, prospek pembayaran obligasi secara umum masih baik. Pefindo memproyeksikan obligasi korporasi yang jatuh tempo pada tahun ini akan berkisar Rp15 triliun-Rp20 triliun, sedang surat utang baru yang masuk sekitar Rp25 triliun. "Kami yakin pasar masih mampu menyerapnya," Agak berbeda dengan Kahlil, Dewi Fajar Mayang Sari, analis PT Infovesta Utama menilai surat utang Arpeni berpotensi gagal bayar sejalan dengan posisinya yang berada pada level idCCC. Meski, hal tersebut masih tergantung strategi perusahaan. Data PT Bursa Efek Indonesia menunjukkan beberapa obligasi yang sudah berada pada peringkat default yaitu PT Pindo Deli Pulp and Paper Mills, PT Indah Kiat Pulp & Paper Corp Tbk, dan PT Lontar Papyrus Pulp and Paper. Data yang sama juga menunjukkan obligasi PT Infoasia Teknologi Global Tbk senilai total Rp90 miliar berada pada level [tautan dihapus] dan [tautan dihapus]. (Irvin A. Avriano/Bastanul Siregar) Oleh Bambang P. Jatmiko Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| Hoekz (Penasihat) 18/03/10 18:41 | 😐 Re: Akhirnya Fren di beli SMART Kasian banged yah ga kuat bayar obligasi gitu... Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 20/03/10 20:08 | 😐 Re: Akhirnya Fren di beli SMART Bayar Hutang, Mobile-8 Genjot Penjualan Fren Perseroan juga akan meningkatkan intensitas penggunaan produk Fren Duo dan penjualan Mobi. Jum'at, 19 Maret 2010, 17:07 WIB Muhammad Firman, Arinto Tri Wibowo VIVAnews - PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) akan menggenjot penjualan telepon seluler Fren Seru guna memenuhi penyelesaian pembayaran kupon obligasi. Perseroan juga akan meningkatkan intensitas penggunaan produk Fren Duo dan penjualan Mobi untuk pengguna data. "Penyelesaian pembayaran bunga obligasi akan tetap diupayakan untuk dapat dipenuhi pada kesempatan pertama dalam tenggang waktu 14 hari," kata Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Telecom Chris Taufik dalam penjelasan tertulis perseroan yang dipublikasikan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Jumat 19 Maret 2010. Sementara itu, untuk kewajiban lain, perseroan sedang mengupayakan terjadinya restrukturisasi terhadap utang-utang usaha maupun obligasi melalui mekanisme debt to equity conversion. Chris melanjutkan, penyebab belum dilakukannya pembayaran bunga obligasi ke-12 serta bunga dan denda ke-9 tahap kedua obligasi I Mobile-8 Telecom 2007 karena tidak terjadinya arus kas masuk yang semula diharapkan dapat menambah kas internal tepat waktu. Hingga saat ini, otoritas bursa masih menghentikan sementara perdagangan saham Mobile-8 di seluruh pasar. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 22/03/10 08:31 | 😐 Re: Akhirnya Fren di beli SMART Sinarmas kaji ulang ekspansi di Fren Manajemen Mobile-8 diminta selesaikan pembayaran obligasi dan denda JAKARTA: Group Sinarmas mengkaji ulang rencana menaikkan kepemilikan saham menjadi mayoritas di PT Mobile-8 Telecom Tbk, menyusul gagal bayar (default) bunga obligasi operator Fren tersebut. Grup konglomerat Eka Tjipta ini belum meminati langkah strategis tertentu untuk mengatasi persoalan gagal bayar tersebut, seperti melalui restrukturisasi pemegang saham. Managing Director Sinarmas Gandhi Sulistiyanto mengatakan pihaknya tidak berencana melakukan restrukturisasi keuangan untuk menyelesaikan persoalan gagal bayar kupon surat utang tersebut, kendati telah menjadi salah satu pemegang saham. "Gagal bayar surat utang itu masih tanggung jawab pemegang saham sebelumnya, bukan Sinarmas. Ini terkait dengan salah satu proses restrukturisasi keuangan mereka. Soal minat memperbesar kepemilikan Sinarmas, kami akan melihat lagi," tuturnya kepada Bisnis, kemarin. Kelompok usaha Sinarmas melalui PT Gerbangmas Tunggal Sejahtera saat ini memiliki 19% saham Mobile8, setelah mengakuisisi kepemilikan PT Global Mediacom. Pasca pembelian itu, manajemen Sinarmas menyatakan tidak menutup kemungkinan memperbesar kepemilikan menjadi mayoritas di Mobile8. Sejauh ini, lanjutnya, operator seluler Smart yang dikendalikan grup Sinarmas belum melakukan sinergi secara menyeluruh, melainkan baru sebatas kerja sama penjualan (marketing) dengan memanfaatkan jaringan pemasaran kedua belah pihak. Pada 15 Maret 2010, PT Mobile-8 Telecom Tbk gagal memenuhi kewajibannya membayar bunga ke-12 serta bunga, plus denda ke-9 tahap kedua untuk obligasi I/ Mobile-8 yang terbit pada 2007. Dalam keterbukaan informasi ke PT Bursa Efek Indonsia (BEI), Direktur Mobile-8 Telecom Anthony C Kartawiria mengatakan gagal bayar itu disebabkan oleh ketiadaan dana cukup untuk membayar kewajiban. Per 30 September 2009, kewajiban Mobile-8 Telecom mencapai Rp4,94 triliun, dengan pendapatan sebesar Rp278,64 miliar dan rugi bersih Rp439,95 miliar. "Sekarang, kami menghitung ulang dan rencana memperbesar kepemilikan tersebut kini dalam proses pembicaraan lagi. Meski demikian, kami masih tetap memiliki niat bekerja sama," tutur Gandhi. Saat ini, Mobile-8 bersinergi dengan PT Smart Telecom di bidang pemasaran. Hasil sinergi dua operator seluler berbasis CDMA tersebut menargetkan mampu menggaet 10 juta pelanggan sepanjang tahun 2010. Di sisi lain, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) pun akan meminta keterangan manajemen PT Mobile-8 Telecom Tbk terkait dengan gagal bayarnya kupon obligasi ke-12 dan denda ke-9 perseroan. "Kami sudah menyurati mereka, setelah ada pengumuman mereka gagal bayar. Intinya kami menanyakan seputar gagal bayarnya itu, detailnya belum dapat kami sampaikan," ujar Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa Bapepam-LK Noor Rachman, akhir pekan lalu. Tunggu tanggapan Noor Rachman menjelaskan saat ini otoritas pasar modal masih menunggu tanggapan dari emiten seputar gagal bayar kupon dan denda surat utangnya. Peringkat obligasi itu saat ini sudah pada level gagal bayar di posisi idD (default) dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) sejak Maret tahun lalu. BEI menegaskan belum tentu akan mencabut suspensi PT Mobile-8 Telecom Tbk meskipun perseroan telah membayar bunga obligasi dan denda yang belum dilunasi. Direktur Penilaian Perusahaan BEI Eddy Sugito mengatakan otoritas bursa masih akan melihat keadaan keuangan perseroan dan kejelasan arah penyelesaian yang dilakukan oleh Mobile-8. "Pembayaran menjadi salah satu faktor kami mencabut suspensi FREN, tetapi bukan hanya itu, masih ada hal yang lain yang akan diperhatikan. Perseroan harus memberikan kepastian dan arah yang jelas mengenai pembayaran bunga dan denda obligasi," ujarnya. (10) (irvin.avriano@bisnis. [tautan dihapus] Oleh Irvin Avriano A. & Arif Gunawan S. Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| Hoekz (Penasihat) 22/03/10 13:12 | 😐 Re: Akhirnya Fren di beli SMART harus diselesaikan neh biar beres semuanya kan ga enak yah di denger nya...haaha Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 28/04/10 05:36 | 😐 Re: Akhirnya Fren di beli SMART Rencana merger Smart-Fren masih tertunda JAKARTA: Rencana merger antara PT Smart Telecom (Smart) dan PT Mobile-8 Telecom Tbk (Fren) diprediksi belum akan terjadi tahun ini, terganjal masalah kepemilikan lisensi yang masih dalam pembahasan regulator. Mobile-8 memiliki lisensi ganda berupa seluler dan fixed wireless access (FWA), sementara Smart menjadi satu-satunya operator yang bekerja di frekuensi code division multiple access (CDMA) 1.900 MHz sehingga mengalami kesulitan untuk mengakuisisi pelanggan operator lainnya. Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) akhir tahun lalu menegaskan tidak ada lisensi bersama dalam industri telekomunikasi, yang ada adalah sharing resources antar operator tetapi tidak mengurangi kewajiban pembangunan pada modern licensing masing-masing. Kedua operator pun diminta perlu menjabarkan kerja sama penggunaan lisensi tersebut karena lisensi adalah milik individual operator. Sumber Bisnis di kalangan regulator industri telematika mengatakan rencana merger antara Smart dan Mobile-8 ini sudah dibahas dalam rapat pleno Badan Regulasi dan Telekomunikasi Indonesia (BRTI) bulan ini. Merza Fachys, Direktur Utama PT Mobile-8 Telecom Tbk mengaku merger kedua perusahaan belum menjadi kebutuhan mendesak saat ini. Operator tersebut masih melihat apakah skema merger akan menjadi solusi yang terbaik. "Kami mengharapkan pembicaraan yang dilakukan oleh regulator akan menghasilkan aturan yang memudahkan jika ke depannya Smart dan Fren akan melakukan merger," ujarnya kepada Bisnis, kemarin. Kerja sama sekarang dalam hal pemasaran dan operasional sehingga biaya operasional kedua perusahaan bisa turun hingga 50%, cukup signifikan untuk memperbaiki kinerja Mobile-8. Tren positif Dia menjelaskan kerja sama SmartFren yang berjalan sejak awal tahun ini sudah menunjukkan tren positif. Salah satu contohnya, biaya harga beli handset dari vendor untuk produk bundling (dijual dalam satu paket) mengalami penurunan karena pemesanan dalam jumlah unit yang lebih banyak. Penurunan harga handset sebesar 10% dari vendor dinilai cukup bagi operator telekomunikasi untuk bersaing di tengah ketatnya pasar CDMA. Penurunan biaya operasional memang belum bisa mengeluarkan Mobile-8 dari rapor merah, namun kondisinya sekarang lebih baik. Jumlah pelanggan Fren akhir tahun lalu hampir menyentuh angka 3 juta dan diharapkan bisa di atas 5 juta pelanggan pada akhir tahun ini. Sebanyak 6% dari pelanggan akhir tahun lalu merupakan pengguna layanan pascabayar. Merza menambahkan untuk merger antara kedua korporasi perlu dilakukan banyak kajian, mulai dari modal, operasional, hingga yang terkait dengan regulasi seperti lisensi. Dari sisi kinerja, Mobile-8 optimistis tahun ini bisa tumbuh 5% sama dengan pertumbuhan industri nasional. Saat ini Grup Sinar Mas baru memiliki 19% saham Mobile-8 dari transaksi senilai Rp211,46 miliar dan sedang menjajaki penambahan jumlah kepemilikan saham, sementara di Smart Telecom kepemilikan Sinar Mas adalah mayoritas. Beberapa waktu lalu Merza sempat membantah isu yang mengatakan Mobile-8 akan difokuskan menggarap pasar fixed wireless access (FWA), sementara Smart Telecom bermain di seluler. Menurut dia, Fren akan tetap seperti dulu, yaitu mengalokasikan dua kanal, satu kanal (FWA), dan satu kanal untuk teknologi evolution data optimized (EVDO). (03) Oleh Fita Indah Maulani Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
Kami memakai cookie Google Analytics untuk memahami cara situs ini dipakai. Anda boleh menerima atau menolak. Kebijakan privasi