Home - Komunitas - Panduan - Kontak
Indonesian Gadgeteers
Forum Diskusi:
Main Index | Search | Panduan | Aturan | Kontak  ·  Tanpa registrasi: cukup isi nama
>> Forumponsel
Halaman dalam topik ini: 1 | 2 | 3 | (tampilkan semua)
willem_gomes
(Penasihat)
26/09/08 07:27
🙂 Ask: Wimax vs 3G
Nubie mau numpang tanya kepada para suhu...

denger2 Wimax sedang diuji coba di Bandung. Adakah FP-ers yang telah beruntung mencoba teknologi yang baru ini? Dapatkah diberikan review (baik mendalam maupun singkat) tentang implementasinya? Apakah dapat dikatakan bahwa Wimax is 3G killer?

Terima kasih atas bantuannya kepada para suhu FP... Thnx...

willem_gomes
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
03/08/09 08:38
😐 Re: Ask: Wimax vs 3G
'Lonjakan Internet hidupkan WiMax'
Penggelaran jaringan dimulai kuartal IV

JAKARTA: Penyelenggara WiMax optimistis dapat mencapai skala ekonomi, menyusul kepastian pertumbuhan pengguna Internet yang berlipat ganda.

Wendra Halingkari, Vice President PT Berca Hardayaperkasa, mengatakan skala ekonomi dapat tercapai selama jumlah pemakai Internet dapat ditingkatkan.

“Tujuan kami dan pemerintah sama yaitu untuk menyebarluaskan akses Internet dalam rangka proyek nasional,” ujarnya Jumat pekan lalu.

Dia berbicara seusai penyerahan ketetapan pemenang lelang tender seleksi jaringan tetap lokal berbasis packet switched di pita frekuensi 2,3 GHz. Berca merupakan salah satu pemain baru sekaligus penyelenggara terbesar dengan menguasai enam zona penggelaran WiMax pada tender pertama ini.

Menurut Wendra, jika mengacu pada proyeksi, analisis dan strategi pemakaian Internet yang telah diperhitungkan, pengguna Internet dapat ditingkatkan.

“Kami punya optimisme, peningkatan ini berlipat ganda, penggunaan Internet semakin memasyarakat dan semua pihak diuntungkan,” tegasnya.

Dicky Mochtar, Direktur PT First Media Tbk menuturkan kendati harga frekuensi yang dibayar operator sangat tinggi tidak lantas harga ke konsumen akhir menjadi mahal.

“Kalau dihitung dengan nilai sekarang, mungkin sepertinya tidak mungkin murah, tetapi jika melihat peningkatan akses Internet yang eksponensial dan dari sisi perangkat akan sangat murah, maka perhitungan akan tercapai,” ujarnya.

Optimisme senada disampaikan perwakilan manajemen PT Internux yang menguasai zona Banten dan Jabotabek. “Harga Internet akan murah meskipun kemarin tinggi, kami sudah berhitung sebelum menawar karena kami tidak mau tawaran kami menjadi bumerang,” tutur eksekutif Internux tersebut.

Indar Atmanto, Presdir PT Indosat Mega Media (IM2), mengatakan dengan pengalaman yang sudah ada, pihaknya sudah memperhitungkan tingkat kebutuhan pengguna Internet.

“Kami yakin dengan kecepatan yang lebih tinggi, perangkat dan kapasitas semakin besar serta pengguna yang semakin banyak maka harga akan turun dan mencapai skala ekonomi,” ujarnya.

Mulai kuartal IV

Seluruh operator WiMax rata-rata sudah menjajaki dan menguji perangkat base transceiver stations (BTS) yang dikembangkan manufaktur lokal bersama manufaktur asing.

Wendra mengatakan dalam menggelar infrastruktur WiMax, nantinya Berca tidak akan berjalan sendiri. “Pasti dibutuhkan kerja sama dengan pemain lain dan ini harus!. Bahkan bisa saja nantinya kerja sama dijalin antaroperator yang beda zona.”

Dicky mengatakan First Media merencanakan penggelaran jaringan BTS di Sumatra, Banten dan Jabotabek pada kuartal IV tahun ini. “Kami jajaki semua vendor yang ada, mulai dari tahapan desain, pengadaan, penggelaran. Kami berharap dapat menggelar secepatnya, karena kuartal IV sudah harus jalan,” tegas Dicky.

Menkominfo Mohammad Nuh mengatakan kepada industri lokal pemerintah telah memberikan dukungan dalam menciptakan ketersediaan pasar.

“Tantangan paling berat bagi bisnis itu ada di ketersediaan pasar, porsinya 60%-70% itu market, kalau membuat barang mungkin lebih mudah.”

Nuh mengingatkan agar ketersediaan akses WiMax dapat diikuti pertumbuhan industri derivatif di antaranya industri konten. (roni.yunianto@[tautan dihapus])

Oleh Roni Yunianto
Bisnis Indonesia
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
03/08/09 14:40
😐 Re: Ask: Wimax vs 3G
Pemenang BWA Jamin Internet Murah
03/08/2009 11:11:08 WIB
Oleh Encep Saepudin
JAKARTA, INVESTOR DAILY

Pemenang lisensi Broadband Wireless Access (BWA) menjanjikan tarif internet murah ke masyarakat meskipun dalam pembelian frekuensi harus mengeluarkan dana yang cukup besar.

Optimisme ini didukung pertumbuhan jumlah pengguna internet yang terus bertambah sehingga membuat harga yang ditawarkan ketika teknologi Wimax dikomersialkan lebih murah ketimbang sekarang.

Demikian rangkuman pendapat yang disampaikan dan Menkominfo, M.Nuh, Presiden Direktur IM2 Indar Atmanto, Vice President Director Berca Hardayaperkasa Wendra Halingkar, Direktur Utama First Media Dicky Moechtar, dan Dirut Internux, Irosi Arifudin usai acara penyerahan keputusan penetapan pemenang seleksi BWA 2,3 GHz, Jakarta, Jumat (31/7).

Seperti diketahui, Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkomifo) telah menetapkan delapan perusahaan sebagai pemenang tender layanan pita lebar nirkabel (BWA) sebagai penyedia jaringan tetap lokal berbasis packed switched yang menggunakan pita frekuensi radio 2.3 GHz.

Hal itu berdasarkan keputusan Menteri Kominfo Nomor 237/KEP/M.KOMINFO/7/2009, yang sudah ditandatangani pada 27 Juli 2009 dan diserahkan pada 31 Juli 2009, agar Menteri Kominfo bisa menyampaikan paparan tentang esensi dari layanan BWA, sehingga akan mudah dimaknai secara lengkap.

Delapan perusahaan yang telah mendapat penetapan itu adalah, PT Telkom, PT Indosat Mega Media, PT Internux, PT First Media, PT Jasnita Telekomindo, PT Berca Hardayaperkasa, PT Rahajasa Media Internet, dan Konsorsium PT Comtronics System dan PT Adiwarta Perdania.

Menkominfo Muhammad Nuh mengatakan, pengelolaan BWA mempunyai makna khusus. Proses seleksi tender pada pengeloaan BWA juga khusus, sehingga transparansi bisa dijaga.

"Frekuensi 2.3 GHz juga sebuah kebijakan yang sistematis dari infrastruktur sampai supporting. Itu juga sesuatu yang khusus," jelasnya.

Penyerahan SK layanan BWA ini, sambung M Nuh, merupakan bagian keberpihakan industri dalam negeri tanpa mengesampingkan investor asing, sehingga implikasi ini bisa dipakai di industri domestik. "Sangat terbuka untuk alokasi pita frekuensi BWA," ujarnya.

Sementara itu, Presiden Direktur Indosat Mega Media (IM2) Indar Atmanto mengatakan, saat ini jumlah pelanggan IM2 sekitar 330 ribu pelanggan. Dengan jumlah pelanggan yang dimiliki ditambah pelanggan baru dari BWA, Indar yakin tarif internet yang terjangkau bisa dicapai.

“Yang penting, tarif disesuaikan dengan mekanisme pasar dan tetap menjamin harga yang terjangkau,” kata Indar. Kendati demikian, dia menolak menyebutkan nilai investasi yang sudah dikeluarkan, serta tarif yang akan dibebankan pada pelanggannya.

Terkait pengoperasian frekuensi BWA, Indra menyatakan, pihaknya merencanakan untuk memulainya tahun ini dengan menggunakan infrastruktur yang dimilikinya serta Indosat sebagai group perusahaan.

Pendapat senada diutarakan, Vice President Director Berca Hardayaperkasa Wendra Halingkar, dia menyatakan, Berca siap menyediakan layanan internet yang terjangkau untuk pelanggannya.

“Pastilah akan kami sediakan tarif internet murah. Kalau jumlah pelanggannya banyak, tarifnya pun pasti menjadi murah,” kata dia.

Untuk merealisasikan akses internet melalui BWA, lanjut dia, perusahaan ini akan bermitra dengan sejumlah vendor. Namun demikian, hingga kini, belum diputuskan vendor yang bakal bergabung dengannya.

“Nanti kami putuskan , vendor lokal maupun asing mempunyai kesempatan sama yang penting sesuai dengan regulasi yang berlaku” kata dia.

Dia mengakui, Berca belum banyak memiliki pengalaman dibidang penyediaan jasa internet. Kendati begitu, dia menolak anggapan kemenangannya dalam tender BWA karena faktor kedekatan dengan pemerintahan.

“Berca tidak “buta” buta sama sekali dalam bisnis ini. Soalnya, Berca memiliki unit bisnis TMI-JASATEl, yang khusus diperuntukkan pada jasa solusi komunikasi,” tegasnya.

Senada dengan yang lainnya, Direktur PT First Media Dicky Muchtar menjelaskan, harga frekuensi yang ditawarkan tinggi akan membuat harga ke konsumen lebih murah. "Kalau dihitung dari harga sekarang tidak mungkin, tapi dari permintaan bisa. Dari sisi perangkat kita percaya dengan industri telekomunikasi," paparnya.

Dicky menambahkan, dalam layanan internet yang diterapkan adalah keterjangkauan dan kecepatan sehingga bisa menggandakan pengguna. "Lebih banyak perangkatnya, sehingga lebih praktis," jelasnya.

Sementara itu, Internux yakin tarif internet murah melalui BWA bisa segera dinikmati pengguna internet. Tahun pertama, perusahaan menargetkan sekitar 100 ribu pelanggan.

“Kalau pelanggannya tambah terus, otomatis tarif pun turun juga,” kata Arifudin . Untuk jaringan, Internux juga melibatkan sejumlah vendor. Saat ini, kata dia, sudah banyak vendor lokal dan asing yang mempunyai teknologi ini. Dan, pasti perusahaan tidak pusing mencari mitra kerjanya. ***
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
05/08/09 11:56
😐 Re: Ask: Wimax vs 3G
Coba di Indonesia, ada yang kayak gini?
-----------------
Hebat, 3G Vodafone 21.1MBit/s

[tautan dihapus], Jakarta - Vodafone New Zealand mendemonstrasikan jaringan 3G dengan kecepatan unduh sangat kencang hingga 21.1Mbit/s. Operator itu merupakan pertama di dunia yang mengimplementasikan HSPA Plus.

Vodafone merupakan perusahaan telekomunikasi pertama di New Zealand yang meluncurkan jaringan 3G pada 2005. Vodafone kembali menaikan standar baru mengimplementasikan HSPA Plus dengan menggandeng Nokia Siemens Networks.

Jaringan Vodafone saat ini tengah diupgrade ke kecepatan 7.2Mbit/s. Tapi Vodafone juga menguji coba teknologi HSPA Plus 21.1MBit/s.

GM of Networks Vodafone Mike Davies mengatakan demostrasi tersebut sebagai bagian dari rencana jaringan Vodafone.

“Meskipun ini hanya sebuah uji coba alfa HSPA Plus, demonstrasi ini menunjukkan kami siap mengimplementasikan teknologi tersebut,” katanya.

Langkah selanjutnya pelanggan Vodafone terpilih akan berkesempatan mengujicoba jaringan HSPA Plus pada akhir tahun ini.
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
10/08/09 11:11
😐 Re: Ask: Wimax vs 3G
'Blue print telekomunikasi jangan wacana'
Lisensi baru jangan hancurkan industri

Sudah menjadi lagu lama apabila regulasi ternyata tidak bisa mengimbangi kecepatan perkembangan teknologi informasi telekomunikasi.

Akibatnya, terkadang terjadi tumpang tindih aturan, bahkan tidak jarang regulasi yang sudah disusun diubah kembali secara tiba-tiba, sehingga industri juga terpaksa dengan cepat menyesuaikan diri.

Persoalan harga 3G, misalnya, sejak 2006 sudah diungkapkan bahwa pemerintah akan memberikan kepada kelima operator 3G masing-masing sebesar satu blok (5 MHz) dan pengalokasiannya dilakukan melalui proses evaluasi pada Januari 2008.

Besaran tarif izin penggunaan pita 3G pada 2008 ditetapkan berdasarkan tingkat pengembangan 3G dan keadaan pasar telekomunikasi pada saat itu, dengan ketentuan nilai tarif tersebut maksimum sama dengan nilai terendah hasil lelang 3G.

Hal tersebut bahkan tertuang dalam Peraturan Menkominfo No. 29/2006 mengenai Penyelenggaraan 3G.

Kenyataannya, harga pita 3G tambahan baru ?ditawarkan? awal 2009 dan harganya tidak pernah ada sedikit pun wacana turun, padahal seharusnya harga teknologi justru makin murah seiring dengan teledensitas dan penetrasi telekomunikasi yang makin meningkat.

Kebijakan di sektor sambungan langsung internasional (SLI) juga hampir selalu berubah-ubah.

SLI sebenarnya sudah turun pamor, dan sudah tidak lagi menjadi kue yang menarik, apalagi di tengah konvergensi multimedia yang mengarah kepada IP based. Dengan adanya tiga pemain di sektor layanan tersebut, maka sebenarnya sudah ada persaingan meski masih terlalu pagi untuk melihat hasil dari kompetisi itu.

Anggota DPR terpilih Roy Suryo mengatakan kue SLI tidak semengilap tahun sebelumnya, jadi apabila ditambah lagi pemainnya, industri bisa hancur.

?Kompetisi pada layanan SLI, bila hanya disediakan dua operator saja akan kurang sehat, sehingga perlu adanya pemain baru untuk merangsang seluruh operator membangun jaringannya,? tegasnya. Dia mengatakan kompetisi juga menjadi kurang sehat apabila operator SLI terlalu berlebihan.

Sekjen Indonesia Telecomunication User Group Mohammad Jumadi mengungkapkan pemerintah sebaiknya melihat dahulu persaingan di sektor SLI dengan tambahan satu pemain karena untuk mencapai persaingan yang kompetitif, bisnis SLI perlu dibangun secara jangka panjang, tidak hanya 4 tahun-5 tahun.

Bakrie Telecom dipastikan memenangi tender SLI pada 2007.

Pada saat itu (2007), Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar mengungkapkan pemerintah hanya akan memberikan satu lisensi lagi untuk SLI, mengacu pada negara lainnya yang umumnya memiliki tiga operator SLI.

Blue print telekomunikasi

Perubahan yang mendadak dan tiba-tiba di sektor regulasi telekomunikasi membuktikan pemerintah belum memiliki blue print yang tegas mengenai kebijakan telekomunikasi.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia juga terus mendorong agar pemerintah memiliki blue print telekomunikasi, setidaknya dalam 5 tahun sampai dengan 10 tahun ke depan.

Blue print yang jelas dan tegas juga akan meminimalkan pemborosan pemakaian sumber daya alam yang terbatas seperti frekuensi. (arif.pitoyo@[tautan dihapus])

Oleh Arif Pitoyo
Wartawan Bisnis Indonesia
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
06/02/10 00:31
😐 Re: Ask: Wimax vs 3G
Comtronics dan APJII Belum Bayar Lisensi BWA
Oleh Encep Saepudin
JAKARTA, INVESTOR DAILY

Kemenkominfo memerintahkan PT Comtronics Systems dan PT Wireless Telecom Universal segera melunasi kewajiban atas lisensi broadband wireless access (BWA). Kedua konsorsium yang memenangi lisensi BWA itu seharusnya telah melunasinya sebelum 26 Januari 2010.

PT Comtronics Systems merupakan konsorsium dari PT Comtronics Systems dan PT Adiwarta Perdania. Sedangkan PT Wireless Telecom Universal (WTU) merupakan gabungan dari sejumlah anggota Asosiasi Perusahaan Jasa Internet Indonesia (Apjii), yang maju tender dengan memakai bendera PT Rahajasa Media Internet.

Sesuai aturan, konsorsium yang memenangi lisensi BWA diberi kelonggaran untuk membayar up front fee dan biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi pada 26 Januari 2010. Tenggat itu lebih longgar dibandingkan pemenang tender BWA yang non-konsorsium, yakni pada 17 November 2009. Meski dalam praktiknya, pemenang BWA yang non-konsorsium juga diberi kelonggaran waktu hingga 20 Februari 2010, seperti yang terjadi pada PT Internux.

Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemenkominfo Gatot S Dewa Broto mengatakan, waktu pembayaran itu telah dituangkan dalam Keputusan Menteri Kominfo No 264/KEP/M.KOMINFO/8/2009 tentang Penetapan Blok Pita Frekuensi Radio dan Mekanisme Pembayaran BHP Spektrum Frekuensi Radio Kepada Pemenang Seleksi Penyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal Berbasis Packet Switched yang Menggunakan Pita Frekuensi Radio 2.3 GHz untuk Keperluan Layanan Pita Lebar Nirkabel (Wireless Broadband).

Perbedaan batas waktu pembayaran antara pemenang tender BWA yang konsorsium dan non-konsorsium, menurut Gatot, bukan diskriminasi, melainkan untuk memberi kesempatan bagi kedua konsorsium tersebut membentuk badan hukum yang harus disahkan Kementerian Hukum dan HAM.

“Karena itu, seharusnya mereka segera melakukan kewajiban pembayaran mengingat batas waktu yang diberikan Kemenkominfo sudah terlampaui,” kata Gatot S Dewa Broto dalam penjelasan resminya di Jakarta, Kamis (4/2).

Sampai 19 Januari 2010, Kemenkominfo telah menerima pembayaran dari PT Telkomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), PT Indosat Mega Media (IM2) dan PT First Media, PT Berca Hardayaperkasa dan PT Jasnita Telekomindo. Khusus untuk PT Berca Hardayaperkasa, Kemenkominfo hanya memenuhi kewajiban pembayaran BHP frekuensi radio, namun belum membayar kewajiban denda.

“PT Internux (yang memenangi zona Jadebotabek dan Banten, red) sampai Rabu (3/2/2010) belum membayar kewajiban maupun dendanya,” kata Gatot.

Ketika dihubungi terpisah, Direktur Utama PT WTU Roy Rahajasa Yamin menolak berkomentar atas peringatan dari Kemenkominfo itu. Kewajiban pembayaran ini harus dibicarakan dulu dengan para pemegang saham perusahaan, yang merupakan anggota APJII. Saya harus bicara dengan teman-teman dulu, ya. Nanti baru kami jelaskan,” kata dia singkat.

Sementara itu, ujar Gatot, terkait dengan kewajiban para pemilik izin prinsip penyelenggaraan untuk menyampaikan laporan progress report persiapan penggelaran jaringannya, Kemenkominfo menerima laporannya beragam.

Beberapa penyelenggara telekomunikasi telah, sedang, dan akan terus melakukan sejumlah persiapan secara intensif. Ada juga yang sedang mempersiapkan pelaksanaan tender bagi pengadaan peralatan untuk jaringannya.

“Tendernya (yang digelar pemenang lisensi BWA untuk pengadaan peralatan jaringan Wimax) ditargetkan selesai pada Maret 2010, sehingga pelaksanaan uji laik operasi (ULO) dapat dilakukan pada Juli 2010,” ujar Gatot.

Seandainya pemegang lisensi BWA sudah dinyatakan lulus ULO, lanjut dia, tidak terlalu lama lagi operator BWA itu memperoleh izin penyelenggaraan Wimax. Izin ini membuat mereka bisa bisa me- launching layanan internet murah. ***
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
06/02/10 00:33
😐 Re: Ask: Wimax vs 3G
Operator WiMax siap gelar 16d
Vendor lokal membuka diri masuknya asing

JAKARTA: Penyelenggara WiMax meningkatkan kerja sama dan edukasi dengan vendor perangkat lokal menyusul rencana penggelaran teknologi akses berstandar tetap nomadic 16d.

Yudi Rulanto, Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT Aplikanusa Lintasarta, menuturkan pihaknya melakukan pengujian perangkat WiMax dari empat vendor lokal.

"Dari semuanya, yang lolos dan comply baru satu [vendor] dan tiga lainnya masih membutuhkan perbaikan," ujarnya Kamis.

Menurut Yudi, Lintasarta bersikap proaktif membantu vendor lokal mengembangkan teknologi perangkat dalam rangka pengembangan. "Sebelum perangkat kami beli, perangkat ini sudah melewati uji lab lengkap dengan berbagai parameternya, termasuk ketentuan pemerintah terkait 30%-40% komponen lokal," ujarnya.

Samsriyono Nugroho, Direktur Usaha PT Aplikanusa Lintasarta mengatakan perangkat tersebut akan memperkuat jaringan akses di samping jaringan akses metro-ethernet, frame relay, virtual private network, dan lainnya.

Vendor lokal WiMax yang sudah tersertifikasi TKDN
Vendor Mitra kerja sama
Hariff Daya Tunggal Trenzeo (Kanada), Harris Telsima*)
TRG Trenzeo Wireless (Kanada)
LEN Airspan Network (AS)
Abhimata Alvarion (Israel)**)
Sumber: Ditjen Postel
Ket.: *) Belum tersertifikasi TKDN
**) akan diganti

"Namun, penggelaran WiMax perlu perencanaan jaringan yang tepat mengingat kebutuhan pesatnya kebutuhan bandwidth besar pada 2010-2011," ujarnya.

Menurut Samsriyono, dengan spektrum yang dinilai terbatas di fixed WiMax maka dibutuhkan perencanaan dengan menambah infrastruktur kabel optik terutama untuk memenuhi kebutuhan bandwidth pelanggan yang berada di tengah kota. "Pada saatnya kabel optik hadir maka ini akan saling melengkapi," paparnya.

PT Hariff Daya Tunggal Engineering yang sudah bekerja sama dengan Trenzeo Wireless Technology asal Kanada disebut-sebut juga menjalin kerja sama dengan Harris Telsima.

Budi Permana, Presiden Direktur PT Hariff Daya Tunggal Engineering, menuturkan pihaknya membuka diri untuk menjalin kerja sama dengan vendor luar negeri untuk uji coba perangkat di frekuensi 2,3 GHz untuk memenuhi kebutuhan spesifikasi pengguna.

"Dengan siapa pun, komitmen kami tetap sama, tingkat komponen dalam negeri harus kami pegang," ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Gatot Tetuko, Direktur PT Teknologi Riset Global-salah satu produsen perangkat WiMax lokal-, mengatakan pihaknya tengah melakukan kerja sama pengembangan (joint development) dengan Trenzeo.

Kesiapan lokal

Dia mengatakan kesiapan vendor lokal menyediakan perangkat yang sesuai kebutuhan tinggal tunggu waktu. "Tidak lama lagi kami optimistis perbaikan-perbaikan dapat diterima [perusahaan pemenang tender WiMax]," ujarnya.

Gatot memberikan contoh pengujian dilakukan PT Telkom yang menunjuk Divisi Riset Teknologi Informasi (RisTI) untuk memastikan quality assurance, Indosat Mega Media (IM2) dan Lintasarta memiliki proof of concept atas hasil pengujian perangkat yang menyerap TKDN 30%-40% itu. (roni.yunianto@[tautan dihapus])

Oleh Roni Yunianto
Bisnis Indonesia
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
25/02/10 06:02
😐 Re: Ask: Wimax vs 3G
Tasikmalaya, Pertama Nikmati WiMAX

[tautan dihapus], Tasikmalaya - Pemerintah dan perusahaan penyelenggara telekomunikasi menargetkan bahwa pada 2010 seluruh daerah, baik desa atau kota sudah terhubung dengan jaringan Internet.

"Direncanakan bahwa tahun 2010 ini seluruh Desa di Indonesia sudah bisa terhubung dengan dunia Internet," kata Direktur Standarisasi dan Audit Aplikasi Telematika Kementerian Komunikasi dan Informatika Ir Woro Indah Widiastuti di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (24/2).

Woro yang memawakili Menkominfo di acara peluncuran WiMAX di hotel Mandalawangi Tasikmalaya mengatakan, program tersebut akan membawa manfaat kemajuan teknologi Indonesia.

Menurut dia, Kota Tasikmalaya merupakan kota pertama di Indonesia yang dibangun teknologi wireless, sehingga diharapkan kota Tasikmalaya bisa memanfaatkannya untuk e-goverment menuju good governance.

"Nantinya dengan WiMAX ini di mana ada sinyal, kapan pun, di mana pun, dan siapa pun bisa menggunakan Internet dan di Tasik adalah kota pertama di Indonesia yang diadakan program WiMAX ini," katanya.

Sementara itu Direktur Starcom Solusindo, Budi Permana mengatakan, WiMAX sesuai dengan harapan Wali kota Tasikmalaya Syarif Hidayat untuk menjadikan Kota Tasikmalaya sebagai cyber city.

Ia menambahkan, di Indonesia Star Solusindo mengivestasikan Rp6 triliun untuk pengembangan WiMAX dengan tujuan memberikan kemudahan mengakses Internet.

"Kami punya mimpi untuk kemajuan negeri dengan memberikan keluasan wawasan dunia dengan akses internetan yang lebih mudah" kata Budi.
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
14/06/10 17:42
😐 Re: Ask: Wimax vs 3G
Silakan check link berikut: [tautan dihapus] dari salah satu operator Wimax yang akan launching tahun ini...

ternyata itu dari First Media... nama productnya Sitra Wimax..
Post Extras: 🖨️ Cetak
ridzkyhassan
(Penasihat)
21/06/10 15:16
😐 Re: Ask: Wimax vs 3G
Wah lumayan juga yah.. Saatnya beralih dari 3G nih. Masa pake Tri dan Smart cuma 200kbps, katanya 3G. [tautan dihapus]
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
22/06/10 08:57
😐 Re: Ask: Wimax vs 3G
WiMax terancam...
----------------------------------
Pemerintah pilih teknologi LTE
Mastel keberatan dengan penghapusan Wimax

JAKARTA: Pemerintah mengisyaratkan bakal memilih long term evolution (LTE) dari pada Wimax 16e (mobile Wi­max) sebagai peta jalan pengembangan teknologi pita lebar nirkabel di Tanah Air.

Namun, regulator juga tidak ingin terlalu terburu-bu­ru dalam mendorong LTE. Me­nurut Men­teri Ko­munikasi dan Informatika T­i­fa­tul Sem­bi­ring, dibutuhkan wak­­tu sekitar 2 ta­hun untuk sam­pai pada implementasi ko­mer­sial.

Untuk itu, tutur Tifatul, pe­me­rintah akan tetap mempertahan­kan pengembangan Wimax standar 16.d sebagai teknologi akses pita lebar nomadic (tetap) dan stan­­dar LTE sebagai standar pita ­lebar nirkabel.

" Wimax 16.e itu disarankan ke LTE karena l­e­bih baik LTE daripada Wimax 16.e. Wimax 16.e itu mobilitasnya tanggung, di LTE nantinya ki­ta tinggal memperluas spek­trum," ujarnya seusai me­­res­mi­kan riset dan pengembangan tek­nologi LTE milik Te­l­komsel, ke­marin.

LTE adalah bagian dari tek­no­logi GSM hasil dari evolusi tek­no­logi 3G. Adapun Wimax me­ru­pa­­kan teknologi nirkabel pita lebar yang dikembang­kan oleh Wimax Fo­rum, suatu or­ga­nisasi yang la­hir dari komunitas Internet.

Keduanya adalah teknologi te­le­komunikasi ge­nerasi keempat (4G) dan m­e­na­warkan akses k­o­mu­nikasi berkecepatan tinggi.

Saat disinggung mengenai ke­siapan sejumlah vendor lokal da­lam memproduksi perangkat Wimax 16.e, Tifatul menegaskan pemerintah tidak pernah meng­ge­lar tender teknologi itu. "Yang ada [tender] Wimax 16.d sebagai teknologi broadband stasioner."

Dalam 2 tahun ke depan, Ti­fatul memastikan akan ada be­be­rapa kali uji coba termasuk peng­kajian tingkat komponen dalam ne­geri, dan persiapan tender fre­kuensi LTE, meskipun implementasi baru dapat dilakukan pada akhir 2012. Persiapan tender mem­­butuhkan waktu 8 bulan.

Vendor lokal

Dengan wacana tersebut, ke­mungkinan besar pemerintah ti­dak akan mengalokasikan fr­e­kuen­si untuk Wimax 16.e.

Pa­da­hal saat ini, me­nurut Ke­tua Bidang In­fra­struk­tur, Jasa dan Aplikasi Masyarakat Te­le­ma­tika Indonesia (Mastel) Sumitro Roes­tam, delapan vendor lokal telah siap mem­­produksi pe­rang­kat Wi­max ber­standar 16.e.

"Kami tidak setuju dengan opsi penghapusan Wimax 16.e," ujar­nya ke­pada Bisnis.

Sumitro menambahkan opsi LTE itu tidak menguntungkan meng­ingat tidak ada satu pun ven­­dor lokal yang siap.

Namun, anggota Badan Re­gu­lasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono menga­ta­kan Wimax merupakan produk yang sama sekali baru, tidak me­miliki rekam jejak, sementara LTE adalah evolusi dari 3G GSM, ber­awal di Eropa yang sudah ter­uji 30 tahun di industri seluler.

"Secara alamiah para operator akan merasa lebih aman dengan memilih LTE sebagai 4G wireless access," ujarnya.

Telkomsel kemarin menjadi operator seluler pertama yang me­mulai riset dan pengembang­an evolusi teknologi mobile broad­­band LTE atau 3,9G yang melibatkan vendor dan perguruan tinggi di I­n­don­esia.

Menurut Direktur Utama PT Tel­komsel Sarwoto Atmosutarno, riset dan pengembangan akan memperkuat komitmen operator ter­besar itu dalam menanam mo­dal sekaligus memandu perkembangan seluler dalam memasuki e­ra layanan pita lebar bergerak.

Dalam riset itu, vendor yang dilibatkan Ericsson, Nokia Sie­mens Network, Huawei dan ZTE.

Dua operator seluler lain, yaitu PT Indosat Tbk dan PT XL Axiata Tbk juga telah mengajukan permohonan uji coba layanan LTE.

Anggota BRTI Iwan Krisnadi mengatakan regulator dan pe­me­rintah masih akan mengkaji di fre­kuensi mana sebaiknya LTE di­alo­kasikan mengingat keterba­tas­an sumber daya frekuensi.

Sejumlah kalangan mempre­dik­si regulator akan memberikan alokasi spektrum pita 2,5GHz un­tuk LTE. Pita tersebut selama ini diperebutkan antara pelaku in­dus­tri Wimax dan operator sa­telit PT Media Citra Indostar.

Ketua Forum Komunikasi Broad­band Wireless Indonesia Barata Wisnu War­dha­na menilai rencana regulator me­­nyiapkan pita 2,5GHz bagi tek­­no­logi LTE, yang semula akan digunakan untuk teknologi pita lebar Wi­max mobile dianggap tidak ber­pihak pada peng­usaha lokal.

Menurut dia, jika opsi tersebut diputuskan, pemerintah terbukti hanya membesarkan operator seluler.

Barata meminta regulator tidak hanya mengikuti pasar global, tetapi kepentingan nasional juga harus mendapat porsi lebih.

Menurut dia, sebaiknya slot pa­da pita 2,5GHZ dialokasikan un­tuk kedua teknologi tersebut. (k2) (fita­[email disembunyikan]­.id­/­roni.­yunianto ­@­[tautan dihapus]

Oleh Fita Indah Maulani, Roni Yunianto & Tri D. Pamenan
Bisnis Indonesia
Post Extras: 🖨️ Cetak
tonosaur
(Penasihat)
22/06/10 10:45
😐 Re: Ask: Wimax vs 3G
hmm wimax indonesia bakalan pake 2.5 ya..
tapi ini ntar prekuensinya license gatau free sih..??
kaya wifi itu..??
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
23/06/10 05:51
😐 Re: Ask: Wimax vs 3G
Opsi selain teknologi LTE dikaji
Regulator evaluasi implementasi WiMax 16d

JAKARTA: Pusat Riset dan Pengembangan PT Telkom akan mengkaji kemungkinan pemanfaatan teknologi lain di luar long term evolution (LTE) sebagai peta jalan evolusi teknologi mobile broadband.

Ketua Telkom R&D Center Mustafa Wangsaatmaja mengatakan pihaknya membuka kemungkinan pendekatan lain yaitu rekayasa teknologi high speed packet access plus (HSPA+) sebagai alternatif menghadirkan layanan setara LTE.

"Kami akan mengevaluasi keduanya melalui HSPA+ maupun LTE [yang menuntut penggunaan frekuensi] dan riset nantinya bukan hanya di teknologinya saja tetapi juga mencakup lingkungannya," ujarnya di sela-sela demo LTE Telkomsel, awal pekan ini.

Dia menambahkan kelebihan HSPA+ dan LTE sama-sama akan dikaji termasuk juga aplikasi-aplikasi dan ekosistem pendukung untuk mendukung bisnis telekomunikasi tersebut.

Secara rinci, Mustafa menegaskan kajian itu diharapkan akan menghasilkan laporan gambaran dari respons pasar ke depan yang tentu membutuhkan waktu. Sebagai contoh, riset WiMax, yang pengkajiannya dilakukan dalam 2 tahun pun dinilai masih kurang. "WiMax 16.d belum jalan, sudah datang WiMax 16.e. Untuk WiMax 16.d saya kira ada ceruk pasarnya," ujarnya.

Siswanto Dasijo, Vice President Technology Master Plan PT Telkomsel mengatakan pihaknya tidak akan terburu-buru karena evolusi teknologi bukan merupakan revolusi.

Strategi fondasi yang dipilih Telkomsel, tuturnya, adalah multimode radio yang artinya tidak akan mengubah platform kecuali melakukan konfigurasi berbasis software saja,

LTE, tambah Siswanto, memberikan sejumlah manfaat di antaranya efisiensi frekuensi yang menghasilkan biaya per megabit dapat menjadi lebih optimal. "Efisiensi footprint [penggelaran jaringan BTS] dapat mencapai 70% dan total biaya kepemilikan yang murah akan memberi dampak positif bagi pelanggan karena memungkinkan kami menyediakan layanan yang lebih kompetitif," tuturnya.

Sekjen Indonesia Mobile and Online Content Provider Association Sapto Anggoro mengatakan evolusi ke LTE memberi peluang besar bagi industri konten nasional. "Konten apa pun nantinya menjadi mudah diserap dan kami dapat mengembangkan model bisnis baru yang sesuai dengan perkembangan teknologi baru itu yang juga dapat ditawarkan ke operator," ujarnya kepada Bisnis.

Evaluasi WiMax

Di sisi lain, regulator juga akan mengevaluasi implementasi penggunaan teknologi worldwide interoperability for microwave access (WiMax) 16d untuk layanan data pita lebar di Indonesia pekan depan sebelum memberikan peluang bagi masuknya WiMax 16e.

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengatakan pihaknya pekan lalu telah berkeliling ke vendor WiMax untuk pita 2,3 GHz versi d, yaitu TRG, Hariff, Xirca, dan LEN.

"Kami juga melihat kendala apa saja yang menyebabkan sampai saat ini belum ada perangkat maupun layanan komersial menggunakan perangkat teknologi 16d," ujarnya kemarin.

Dia mengatakan pihaknya juga melakukan pembicaraan dengan para pemenang lelang serta vendor untuk melihat laporan kemajuan implementasi tender broadband wireless access (BWA) 2,3 GHz yang diselenggarakan tahun lalu.

Pemerintah disinyalir lebih memilih mengembangkan teknologi LTE merupakan evolusi dari teknologi yang ada saat ini sesuai roadmap GSMA, asosiasi industri GSM dan operator seluler internasional dibandingkan dengan memilih WiMax 16e.

Teknologi WiMax 16e tidak akan menjadi pilihan pemerintah selama teknologi 16d belum diimplementasikan dengan baik meskipun para pemenang tender dan beberapa vendor terus mendesak perangkat 16d diganti dengan 16e.

"Tender BWA di pita 2,3 GHz kan sejak awal dikatakan untuk perangkat 16d, bukan 16e," ujar Menkominfo Tifatul Sembiring.

Nonot Harsono, anggota BRTI menambahkan WiMax akan menjadi pelangkap untuk layanan Internet, hal ini akan mengalir secara alamiah selama aturan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) terpenuhi. (fita.indah@[tautan dihapus]

Oleh Fita Indah Maulani & Roni Yunianto
Bisnis Indonesia
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
23/06/10 16:20
😐 Re: Ask: Wimax vs 3G
Pekan Depan, Wimax 4G Mulai Beraksi di Indonesia
Achmad Rouzni Noor II - detikinet

Jakarta - Pekan depan, akhir Juni 2010, First Media akan memperkenalkan layanan internet 4G Wimax pertama di Indonesia. Hal itu akan dilakukan jika berhasil mengantungi sertifikat uji laik operasi (ULO) dari Direktorat Standardisasi Ditjen Postel Kementerian Kominfo.

Dalam undangan yang diterima detikINET, Rabu (23/6/2010), peluncuran perdana dalam bentuk soft launch itu akan digelar First Media pada hari Senin, 28 Juni 2010, di Lippo Karawaci, Tangerang, Banten.

"Setelah lama dinantikan, teknologi 4G Wimax Broadband Internet telah hadir di Indonesia. Jadilah yang pertama membuktikan kehebatannya," tulis prolog dalam undangan soft launch Sitra Wimax.

Sitra Wimax merupakan merek dagang First Media untuk layanan broadband wireless access (BWA) Nomadic 802.16d yang dimenangkannya dalam tender lisensi frekuensi di pita 2,3 GHz. Anak perusahaan Lippo itu memenangkan zona 1 (Sumatera Bagian Utara) dengan nilai tender Rp 7.201.000.000 dan zona 4 (Banten dan Jabodetabek) senilai Rp 121.201.000.000.

Wimax yang disingkat dari kata Worldwide Interoperability for Microwave Access, merupakan teknologi akses nirkabel pita lebar (broadband wireless access/BWA) yang memiliki kecepatan akses yang tinggi dengan jangkauan yang luas. Dengan kecepatan data teoritis sampai 70 MBps, Wimax dapat diaplikasikan untuk koneksi broadband last mile, backhaul, dan high speed enterprise.
Post Extras: 🖨️ Cetak
sagemode
(Pendatang Baru)
23/06/10 17:23
😐 Re: Ask: Wimax vs 3G
direktur im2 bilang broadband harganya 500-sejuta itu juga speed 256kbps.trs dengan bangga im2 mau bkin yg under 500rebu.
sementara sitra bilang mo bkin 100rebuan diawal dan yakin seiring makin bnyk pelanggan harga pasti turun.
jadi mulai keliatan kan penyedia jasa mana yg cuma sekadar mau meraup untung dan yg mau simbiosis mutualisme.
denger2 yg unlimited nya jg mo dipangkas dibalikin pake sistem quota plus timebase.kata dia org indonesia belum butuh internet unlimited.
lah gimana klo kyk saya pak Hermanudin yg jarang matiin komp sama koneksi internet??
mangknya jgn ngiklan molo di tv bkn bwt bkin jaringan murah trjangkau tapi cepat malah bwt ngisi iklan molo.konsumen ga btuh iklan tapi pelayanan yg baik,2x loh pake pelayanan pak hermanudin dan dua2nya gw biarin angus krn stress,kok layanan internet kyk layanan metromini,jalan lambat bnyk ngetem pulak udah gitu bangga dan malah mo dimahalin pulak.kerennnnn.......bye bye 3G
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
28/06/10 11:34
😐 Re: Ask: Wimax vs 3G
Layanan WiMax mulai digelar
Persaingan di industri seluler makin ketat

JAKARTA: PT First Media Tbk menjadi operator pertama yang menggelar layanan nomadic WiMax berstandar 16.d di Indonesia, menyusul uji laik operasi yang telah digelar pada Jumat pekan lalu.

Direktur Standardisasi Ditjen Postel Kemkominfo Azhar Hasyim mengatakan satu operator WiMax (worldwide interoperability for microwave access) telah melaksanakan uji laik operasi.

"Sejauh ini baru satu pemenang tender WiMax yang maju ke uji laik operasi," ujarnya kepada Bisnis, pekan lalu.

Azhar mengatakan penggelaran WiMax 16.d diperkirakan akan terbangun secara bertahap dan tumbuh sesuai dengan pertumbuhan pelanggan.

Dia menambahkan WiMax dan LTE (long term evolution) akan menjadi pilihan teknologi akses untuk digelar di Indonesia. Artinya, salah satu atau kedua-duanya memiliki ruang untuk dikembangkan sebagai pilihan akses broadband.

Sebelumnya, Bisnis mendapatkan informasi dari kalangan vendor bahwa PT Telkom dan PT Indosat Mega Media akan siap mengajukan uji laik operasi. Namun, ternyata kedua perusahaan belum siap dan masih menguji perangkat.

Indar Atmanto, Direktur Utama PT Indosat Mega Media (IM2), mengatakan pihaknya masih menguji banyak produk perangkat untuk nomadic WiMax 16.d.

Meski tidak menegaskan kapan IM2 mengajukan ULO, dirinya berpendapat dalam jangka panjang ketersediaan WiMax juga akan bergantung pada besaran pita spektrum yang selalu menjadi sumber daya terbatas. "Semakin besar spektrum maka WiMax akan semakin baik," ujarnya belum lama ini.

Selain FirstMedia, setidaknya ada dua pemenang tender WiMax lainnya yang belum mengajukan ULO yaitu PT Berca Hardayaperkasa dan PT Jasnita Telekomindo.

First Media yang akan meluncurkan layanan pada September 2010 itu, mulai mencoba memperkenalkan layanan Internet 4G WiMax pertama di Indonesia itu hari ini sambil menunggu sertifikat uji laik operasi (ULO) dari Postel.

Siaran pers yang diterima Bisnis dari manajemen PT First Media Tbk menyebutkan perusahaan itu membentuk unit bisnis khusus WiMax di bawah merek Sitra WiMax, yang akan melayani zona Aceh dan Sumatra bagian utara dan zona Jabodetabek dan Banten yang akan diawali di kawasan Karawaci dan sekitarnya yang secara administratif dan yang merupakan bagian dari Kota Tangerang.

Dalam tender tahun lalu, PT First Media telah membayar Rp7,2 miliar untuk zona Sumatra Utara dan Aceh serta Rp121, 20 miliar untuk zona Jabodetabek dan Banten. Zona Jabodetabek dan Banten diklaim sebagai zona dengan harga termahal dibandingkan dengan zona lainnya mengingat area tersebut memiliki angka pengguna Internet tertinggi dibandingkan dengan pada zona-zona lain.

Berbasis pita

Dalam perkembangan lain, persaingan antara layanan seluler dan fixed wireless access (FWA) diprediksi semakin sengit pascapemberlakuan aturan biaya hak penyelenggaraan (BHP) frekuensi berbasis pita, menggantikan perhitungan BHP frekuensi berbasis izin stasiun radio (ISR).

Regulator akan membebaskan operator telekomunikasi untuk mengembangkan bisnis yang menggunakan lisensi telepon tetap dengan mobilitas terbatas (FWA) menjadi layanan seluler melalui pemberlakuan biaya hak penyelenggaraan (BHP) frekuensi berbasis pita.

Teguh Prasetya, Group Head VAS Marketing PT Indosat Tbk, mengatakan pihaknya mendukung keputusan pemerintah untuk menerapkan aturan BHP berbasis pita.

"Jika aturan itu sudah resmi dikeluarkan, kami tentunya memilih mengembangkan StarOne ke arah seluler agar interkoneksi tidak ribet seperti saat ini," ujarnya.

Perkembangan StarOne diharapkan bisa menjadi lebih cepat dibandingkan dengan saat ini karena memiliki kemudahan layanan layaknya jaringan seluler yang tidak mengenal interkoneksi. Pengguna tidak perlu mengaktifkan interkoneksi ketika berpergian ke luar kota.

Direktur Corporate Services PT Bakrie Telecom Rahmat Junaidi mengatakan pihaknya setuju pemberlakuan BHP berbasis pita, tetapi jangan sampai ada penghapusan lisensi FWA karena masyarakat masih memerlukannya.

"BHP yang harus dibayarkan oleh operator kepada regulator kurang lebih sama penghitungan dengan pita maupun ISR," ujarnya.

Dengan pemberlakuan BPH pita, maka operator telekomunikasi seluler dan FWA akan dikenakan kewajiban membayar BHP sesuai dengan lebar pita yang dialokasikan, berbeda dengan sekarang yang perhitungan BHP berbasis ISR dimana antara FWA dan seluler formula penghitungannya berbeda.

Otomatis, ketika perhitungan BHP keduanya disamakan, maka layanan yang sekarang mobilitasnya terbatas (FWA) juga bisa memberikan layanan penuh (full mobility) seperti seluler. Hal itu yang disebut unified access licensing. (fita.indah@[tautan dihapus]

Oleh Roni Yunianto & Fita Indah Maulani
Bisnis Indonesia
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
28/06/10 17:22
😐 Re: Ask: Wimax vs 3G
Senin, 28/06/2010 12:15 WIB
First Media Resmi Kenalkan 4G Wimax
Ardhi Suryadhi - detikinet

Jakarta - PT First Media Tbk memperkenalkan jaringan akses nirkabel pita lebar generasi keempat (4G) Wimax setelah berhasil melewati tahapan uji laik operasi (ULO) untuk broadband wireless access (BWA) di pita frekuensi 2,3 GHz.

Jaringan layanan dengan nama produk Sitra Wimax ini mulai dioperasikan secara terbatas di area Karawaci, Tangerang, dalam soft launch yang digelar di Hotel Imperial Aryaduta, Tangerang, Senin (28/6/2010).

First Media sendiri mendapatkan hak penyelenggaraan jaringan tetap lokal di zona 1 yakni Aceh dan Sumatera bagian utara, serta zona 4 yang mencakup daerah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan propinsi Banten.

Penyelenggaraan teknologi Wimax Sitra ini akan dilakukan secara bertahap dimulai dari kawasan barat Jakarta dan sekitarnya.

Hengkie Liwanto, Presiden Direktur First Media mengatakan, setelah mendapatkan lisensi Wimax pada Juli 2009 lalu, pihaknya langsung mendatangkan sejumlah tenaga ahli dari dalam dan luar negeri.

"Dan sekarang hari istimewa itu datang, bukan karena kami yang pertama menyediakan layanan Wimax, atau lantaran karena kami sudah menghabiskan dana ratusan miliar. Tapi karena kami punya komitmen untuk menyediakan akses internet berkecepatan tinggi," tuturnya. ( ash / wsh )
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
28/06/10 17:23
😐 Re: Ask: Wimax vs 3G
First Media Sudah Habis US$ 50 Juta untuk 4G Wimax
Ardhi Suryadhi - detikinet

Jakarta - Presiden Direktur PT First Media Hengkie Liwanto mengaku bahwa perusahaannya sudah habis banyak dana untuk menyediakan layanan 4G Wimax di Indonesia.

"Hingga saat ini sudah habis menghabiskan sekitar US$ 50 juta," ujarnya dalam soft launch 4G Sitra Wimax di Hotel Imperial Aryaduta, Tangerang, Senin (28/6/2010).

Hengkie memaparkan, pada awalnya First Media telah mengeluarkan investasi US$ 25 juta untuk merealisasikan penyelenggaraan Wimax. Dana itu di antaranya untuk biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi tahun pertama Rp 110 miliar, dan untuk infrastruktur lebih dari Rp 500 miliar.

"Sementara dalam 10 tahun ke depan kira-kira investasinya bisa lebih dari US$ 350 juta," lanjut Hengkie.

Untuk infrastruktur, Sitra Wimax telah memiliki jaringan serat optik sepanjang 5000 kilometer yang terhubung ke lebih dari 600 titik last mile sebagai point of presence (PoP).

Dari titik last mile serat optik itu, jaringan Wimax kemudian akan dikoneksikan melalui base station Wimax 16d yang ditempatkan di menara pemancar.

Sitra menggunakan infrastruktur eksisting, makanya bisa hadir lebih cepat. Tinggal bangun BTS-nya saja. Menaranya disewa dari Protelindo, XL, Indosat, dan Indonesia Tower.

Menurut Direktur Keuangan First Media, Indra Djaja, dana yang diperlukan setidaknya mencapai Rp 1 triliun. "Dananya akan kita dapatkan dari kas internal dan dari eksternal seperti pinjaman perbankan. Bisa juga dari pasar modal, semua opsi akan kita jajaki dan cari yang terbaik," kata dia.
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
29/06/10 09:20
😐 Re: Ask: Wimax vs 3G
Pemerintah janji percepat uji WiMax
Sitra gandeng tujuh penyedia menara gelar 1.500 BTS

TANGERANG: Direktorat Jenderal Postel Kemkominfo menjanjikan akan mempercepat perizinan untuk uji laik operasi WiMax dan menyiapkan tim untuk riset dan pengembangan mobile broadband wireless access (m-BWA).

Dirjen Pos dan Telekomunikasi Depkominfo Budi Setiawan mengungkapkan instansinya siap memberikan dukungan penuh kepada pemenang tender WiMax untuk segera memproses uji laik operasi.

"Kami akan back up administrasi uji laik operasi, selama memenuhi persyaratan tingkat komponen dalam negeri [TKDN] yang ditentukan," ujarnya di sela-sela penyerahan sertifikat ULO zona 4 kepada PT First Media Tbk kemarin.

Penegasan Budi tersebut seakan ingin mengingatkan pemenang tender WiMax lainnya di antaranya PT Telkom Tbk, PT Indosat Mega Media (IM2), PT Berca Hardayaperkasa dan PT Jasnita Telekomindo untuk segera mengajukan ULO. Budi juga meminta First Media untuk mengejar ULO di zona 1 yaitu Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatra Utara.

Budi berharap peluncuran Sitra WiMax 4G akan turut 'menggoda' sekaligus memicu pasar dan memberi pilihan kepada masyarakat hingga pada saatnya terjadi kompetisi yang sehat dengan layanan lainnya.

Direktur Standardisasi Ditjen Postel Kemkominfo Azhar Hasyim mengatakan sesuai persyaratan yang ada, setelah selesainya proses lelang (tender) maka tahap berikutnya adalah pemenang WiMax membangun di ibu kota kecamatan.

Azhar menambahkan pihaknya telah membentuk kelompok pengkaji mobile broadband wireless access (m-BWA). "Dana untuk riset kami alokasikan, alat ukur pun kalau perlu kami belikan," tuturnya kepada Bisnis.

Meski belum bersedia mengungkapkan dana yang dialokasikan, Azhar mengatakan setidaknya sudah ada 300 orang terbagi dalam 10 kelompok yang terlibat mengkaji m-BWA tersebut.

Sitra WiMax

Dalam upaya mendukung penggelaran layanan Sitra WiMax, PT First Media menjalin kerja sama dengan tujuh penyedia menara untuk penggelaran base transceiver station (BTS) WiMax.

Kumaran Singaram, Presdir Sitra WiMax, mengatakan Sitra menyewa menara dari tujuh penyedia menara diantaranya Protelindo, Indonesia Tower, Tower Bersama, Indosat dan XL Axiata. Adapun belanja modal penggelaran infrastruktur sampai sekitar 1.500 BTS WiMax mencapai sekitar US$100 juta.

Presiden Direktur PT First Media Hengkie Liwanto mengatakan pihaknya akan menyiapkan US$350 juta dalam 10 tahun ke depan khusus untuk pengembanagn WiMax. Sejauh ini perusahaan itu telah mengeluarkan dana US$50 juta dan menargetkan dapat meraih lebih dari 100.000-150.000 pelanggan dalam 1 tahun ke depan.

Sitra menggunakan tingkat komponen dalam negeri melalui perangkat antena sektoral 2,3 GHz yang diproduksi PT Harrif Daya Tunggal Engineering dan perangkat base station serta subscriber station yang didukung vendor PT Teknologi Riset Global (TRG) sesuai ketentuan TKDN yaitu di atas 30% untuk perangkat customer premise equipment dan di atas 40% untuk base station.

Menurut Kumaran, pada saatnya total pengguna WiMax akan menyamai total pengguna Internet broadband kabel FastNet dalam 18 bulan ke depan. Adapun saat ini First Media memiliki total 300.000 pengguna Internet FastNet dan televisi kabel.

Dia menegaskan WiMax menjanjikan pertumbuhan yang pesat karena fleksibilitasnya menjangkau lebih banyak pengguna Internet berdasarkan pertimbangan keterbatasan ketersediaan layanan kabel serat optik, atau kualitas layanan dari Internet broadband lainnya.

First Media siap menawarkan program promo Sitra WiMax dalam tiga paket layanan dengan kecepatan akses masing-masing 1 Mbps, 2 Mbps, dan 4 Mbps. Meski belum mau mengungkapkan tarifnya, perusahaan itu menyatakan tarifnya tidak akan lebih mahal dibandingkan dengan tarif Internet broadband kabel FastNet. (roni.yunianto@[tautan dihapus])

Oleh Roni Yunianto
Bisnis Indonesia
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
02/07/10 05:54
😐 Re: Ask: Wimax vs 3G
Regulator terus dorong vendor lokal
WiMax & LTE sama-sama dibutuhkan

JAKARTA: Regulator akan terus mendorong produksi perangkat WiMax 16d untuk pita 2,3GHz yang memenuhi standar tingkat kandungan dalam negeri (TKDN).

Sampai sejauh ini dari hasil evaluasi baru satu vendor yang memenuhi ketetapan tersebut.

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono mengatakan sebagai regulator pihaknya terus mendorong vendor untuk meningkatkan persentase kandungan lokal agar memenuhi ketetapan pemerintah.

"Saat ini memang baru TRG yang memenuhi ketetapan 30% TKDN untuk perangkat subscribed services atau perangkat terminal pelanggan, dan 40% untuk base transciever station , tetapi vendor lain juga menuju ke sana," ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Regulator berharap vendor perangkat lainnya tidak kendur semangat untuk meningkatkan TKDN pada perangkat WiMax 16 untuk pita 2,3 GHz.

Selain TRG, saat ini Xirca menjadi vendor yang diprediksi segera masuk dalam persaingan penyedia perangkat.

Nonot mengakui perangkat memang menjadi salah satu hal yang dipermasalahkan oleh para operator pemenang vendor, tetapi bukan berarti Indonesia tidak mampu menyediakan perangkat yang sesuai standar TKDN dengan harga terjangkau dan mudah diperoleh.

Para operator pemenang tender yang tidak bermasalah dengan pembayaran kewajiban biaya hak penyelenggaraan (BHP) tahun pertama dan up front fee adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT First Media Tbk, PT Indosat Mega Media, dan PT Jasnita Telekomindo.

Dari keempat perusahaan tersebut, baru First Media yang melakukan uji lain operasi (ULO) untuk zona Jabodetabek yang dimenangkannya pada awal pekan ini.

Pemenang lainnya diketahui baru melakukan serangkaian trial, hingga belum memesan perangkat untuk membangun jaringan infrastruktur.

Adrian Prasanto, Head of Corporate Communication PT Indosat Mega Media (IM2) mengatakan pihaknya saat ini masih melakukan serangkaian uji coba perangkat dan belum memutuskan menggunakan perangkat dari vendor mana pun.

"Kami mencari yang terbaik agar pelanggan juga memperoleh layanan kualitas terbaik dengan harga yang terjangkau dan kompetitif. Masa pembangunan jaringan dan penggelaran layanan diberikan masa hingga akhir tahun ini oleh regulator, akan kami manfaatkan semaksimal mungkin," ujarnya.

Sumber Bisnis mengatakan masih ada operator yang khawatir dengan kualitas perangkat yang diklaim regulator dan vendor telah memenuhi persyaratan TKDN.

Hal ini membuat operator terus melakukan kalkulasi.

"Sebetulnya semakin lama mereka [operator] menunda peluncuran layanan, kerugiannya setara dengan harga satu unit mobil Toyota Kijang baru per harinya," ujarnya.

Jalan bersama

Sementara itu, Ali Soebroto Oentaryo, managing director PT Panggung Electric Citrabuana - salah satu vendor lokal perangkat WiMax 16e, mengatakan negara seperti Indonesia sebetulnya sangat membutuhkan jaringan Internet pita lebar untuk menggerakkan perekonomian dalam negeri.

"Teknologi LTE [long term evolution] boleh saja dikembangkan oleh operator seluler, tetapi mobile WiMax seharusnya juga tetap diimplementasikan," ujarnya kepada Bisnis belum lama ini.

Menurut dia, idealnya di Indonesia memang dibutuhkan akses Internet pita lebar melalui jaringan kabel optik. Namun, infrastruktur tersebut membutuhkan biaya yang sangat mahal.

Oentaryo mengatakan untuk dapat menggerakkan perekonomian masyarakat, terutama di sektor UMKM, teknologi mobile WiMax seharusnya merupakan opsi yang paling dapat diandalkan.

Dengan kondisi itu, dia menilai mobile WiMax dan LTE dapat sama-sama diadopsi di Indonesia karena penggunanya berbeda.

Berbeda dengan Ali, menurut John Stefanac, Presiden Qualcomm untuk wilayah Asia Pasifik-perusahaan penyedia teknologi chipset untuk teknologi seluler, secara mayoritas teknologi LTE belakangan lebih dipilih operator dibandingkan dengan WiMax.

Karena itu, lanjutnya, penyelenggara layanan telekomunikasi di Indonesia akan lebih mudah mendapatkan dukungan pelayanan jika memilih teknologi yang menjadi mainstream.

Hingga saat ini pemerintah masih belum memutuskan apakah akan mengadopsi teknologi mobile WiMax atau LTE sebagai roadmap pengembangan teknologi telekomunikasi generasi keempat. (Tri D. Pamenan) (fita.indah@[tautan dihapus])

Oleh Fita Indah Maulani
Bisnis Indonesia
Post Extras: 🖨️ Cetak
Buddy
(Pendatang Baru)
27/06/11 12:38
😐 Re: Ask: Wimax vs 3G
Mas Willem,

Sebenarnya Wimax dan 3G bisa hidup berdampingan, karena 3G banyak digunakan untuk smartphone, sedangkan Wimax akan lebih untuk laptop maupun desktop, yang butuh kapasitas kecepatan maupun volume layanan data yang lebih besar.

Ketika penyelenggara layanan voice seperti operator seluler GSM ingin menambahkan layanan data berkecepatan tinggi, teknologi 3G adalah opsi yang paling efisien, karena 3G adalah memang bagian dari roadmap GSM, seperti teknologi layanan data pendahulunya yaitu GPRS dan EDGE.

Namun teknologi layanan data dikembangkan terus dengan cepatnya, sehingga muncul teknologi baru seperti Wimax, yang bukan merupakan roadmap dari GSM, dengan kecepatan akses yang jauh lebih tinggi dari 3G.
Kalau kecepatan maksimum (download) dari 3G adalah 2 Mbps, maka dengan Wimax bisa mencapai 70 Mbps.
Bahkan kecepatan Wimax masih lebih tinggi dari teknologi kelanjutan dari 3G yaitu HSDPA, yang juga dijuluki teknologi 3.5G, dimana kecepatan maksimumnya hanya 14.4 Mbps.
Itulah sebabnya banyak pihak yang secara marketing menjuluki Wimax sebagai teknologi 4G.

Bahkan teknologi Wimax sejak awal memang dirancang data sentries, berbasis IP, sehingga sangat optimal dan efisien untuk komunikasi data (internet) dan cocok bagi pihak-pihak (ISP) yang ingin menyelenggarakan layanan data berkecepatan tinggi namun secara tradisional tidak memiliki background sebagai penyelenggara layanan suara (operator seluler).

Yang disebut-sebut sebagai keunggulan teknologi Wimax dibandingkan teknologi lain yang ada saat ini adalah karena digunakannya teknik modulasi multi carrier yang paling advanced, yang dinamakan OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing), yang paling efisien dalam penggunaan bandwidth, dimana untuk bandwidth (MHz) yang sama dapat menghasilkan data rate (Mbps) yang lebih tinggi, atau untuk data rate (Mbps) yang sama, bandwidth (MHz) yang digunakan lebih sedikit/hemat, dibandingkan teknik modulasi yang lain, padahal bandwidth (frekwensi) adalah resources yang terbatas dan sangat berharga.

Disamping itu dibandingkan teknologi lainnya, teknologi Wimax juga lebih tahan terhadap efek Multipath Delay Spread, yaitu gangguan yang disebabkan oleh pantulan gelombang radio oleh gedung-gedung besar/tinggi, karena disisipkannya guard interval antar symbol dalam transmisi sinyal Wimax, dimana gelombang pantul yang diterima didalam range guard interval tsb akan diabaikan.

Memang teknologi HSDPA pun juga dikembangkan terus, sebagai evolusi/roadmap dari 3G dan 3.5G (misalnya HSPA+, lalu LTE, yang muncul lebih belakangan dari Wimax dan kinerjanya kurang lebih sama dengan Wimax), namun biaya yang harus dikeluarkan operator untuk migrasi ke teknologi yang lebih baru ini juga semakin meroket (tidak lagi seefisien ketika migrasi ke 3G), karena semakin banyak yang harus diganti, sehingga migrasi ke LTE misalnya, praktis dapat dikatakan sebagai forklift upgrade (upgrade besar-besaran), tidak lebih murah dari pada kalau menggunakan teknologi Wimax untuk layanan datanya.

Budi T
Post Extras: 🖨️ Cetak
Halaman dalam topik ini: 1 | 2 | 3 | (tampilkan semua)
🔒 Topik lama, hanya bisa dibaca. Isinya diambil dari forum Forum Ponsel yang dulu: tautan, nomor telepon, dan alamat email sudah disembunyikan. Ingin kiriman ini dihapus atau dikoreksi? Hubungi kami dan sebutkan alamat halaman ini. Ingin membahas topik serupa? Buat topik baru di Forumponsel.
Isi forum adalah pendapat pengirimnya. Kiriman diperiksa sebelum tampil. © Forum Ponsel · Privasi · Syarat · Aturan forum