| willem_gomes (Penasihat) 26/09/08 07:27 | 🙂 Ask: Wimax vs 3G Nubie mau numpang tanya kepada para suhu... denger2 Wimax sedang diuji coba di Bandung. Adakah FP-ers yang telah beruntung mencoba teknologi yang baru ini? Dapatkah diberikan review (baik mendalam maupun singkat) tentang implementasinya? Apakah dapat dikatakan bahwa Wimax is 3G killer? Terima kasih atas bantuannya kepada para suhu FP... Thnx... willem_gomes Post Extras: 🖨️ Cetak |
| tb146 (Penasihat) 27/03/09 17:23 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Bro, Wimax itu udah merupakan technology wireless paling maju sekarang ini, dengan menggunakan standar 802.16. Wimax bisa digunakan untuk transmisi data sampai dengan 75Mbps sampai dengan jarak 15km. Otomatis jika dilihat dari kemampuannya, Wimax bisa jadi 3G / HSDPA killer dimana untuk sisi operator WImax akan lebih murah investasinya dibanding 3G dan untuk sisi pelanggan, akses akan lebih cepat. Masalahnya, 3G/HSDPA bisa diakses via telepon selular , nah untuk wimax, sampai saat ini belum ada hp selular yg mendukung WImax mengingat wimax memiliki range frekuensi operasi yang berbeda dengan GSM/UMTS yaitu di 2.3 , 3.3 , 3.5 Ghz ke atas. So engga ada hp yg menggunakan frekuensi tsb. Semoga membantu Post Extras: 🖨️ Cetak |
| ary_irawan (Penasihat) 10/04/09 13:51 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G tinggal nunggu di jakarta kapan yach?..... Post Extras: 🖨️ Cetak |
| steven201 (Pendatang Baru) 17/04/09 01:39 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G koreksi jarak wimax maksimum 50km, kalo buka di jakarta mah warnet tutup smua Post Extras: 🖨️ Cetak |
| willem_gomes (Penasihat) 05/06/09 18:04 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G baru baca dari detik.... di Tim-Tim (yang dulunya dianaktirikan dalam pembangunan).... setengahnya sudah ter-cover Wimax....... jadi malu ama mereka.... tinggal di JKT (yg notabene ibukota negara RI/ etalase RI bagi dunia), masih jauh panggang dari api dalam hal penerapan Wimax..... Post Extras: 🖨️ Cetak |
| editopan (Penasihat) 19/06/09 23:02 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G tapi kalo penerapan wimax dah banyak, otomatis gadget2 support wimax pasti bermunculan.. HTC Max4 samsung P9000 Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 22/06/09 08:28 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Mastel: WiMax tak jamin Internet murah 23 Perusahaan ajukan ikut tender JAKARTA: Kehadiran jaringan WiMax (worldwide interoperability for microwave access) diperkirakan belum mendorong Internet murah, karena operator harus memperhitungkan mahalnya lisensi yang mereka bayar. Mas Wigrantoro Roes Setiadi, Ketua Masyarakat Telematika Indonesia ( Mastel), mengingatkan perolehan lisensi WiMax dengan biaya yang mahal tidak akan membuat Internet menjadi murah. Penyelenggara jasa Internet (PJI) yang bermodal terbatas, katanya, mau tidak mau harus menyewa jaringan WiMax ke pemilik lisensi jika ini menggunakan jaringan WiMax untuk askes Internet. "Tentunya, pemilik jaringan WiMax akan menetapkan biaya sewa yang mahal untuk menutup biaya lisensi tersebut," ujarnya kepada Bisnis pekan lalu. Dia menilai peluang para PJI bermodal kecil untuk mengikuti lelang WiMax sangat berat, karena mereka dituntut memiliki struktur permodalan yang kuat. "Ini memang keinginan pemerintah yang meminta agar PJI yang sumber dayanya terbatas mengalah dulu dan bisa bekerja sama memakai jaringan pemenang tender," tuturnya. Wigrantoro menilai kinerja pemegang lisensi WiMax kurang optimal bila pemerintah tidak memberikan alokasi nomor yang memungkinkan panggilan untuk pelanggan. "Jika pemerintah mengubah regulasi penomoran, peta telekomunikasi akan berubah dan ini positif bagi operator WiMax," jelasnya. Menurut dia, siapa pun pemenang lisensi dari 23 peserta yang maju prakualifikasi tender WiMax 2,3 GHz, mereka harus serius menggarap jaringan dan layanan. Sebelumnya, praktisi broadband wireless access (BWA) IM2 Hermanudin berpendapat harga dasar tender yang sangat tinggi dan bisa berkali lipat apabila lelang sudah digelar menyebabkan penyelenggara WiMax juga harus membangun backbone antarkota, backhaul dalam kota, dan menara yang investasinya cukup besar. "Penyelenggara WiMax juga wajib memenuhi komitmen pembangunan jaringan hingga ke ibu kota kecamatan di wilayah zona yang dimenanginya," ujarnya. Menurut dia, jika permodalan peserta kecil, Internet murah akan sulit direalisasikan bahkan dikhawatirkan pemain malah menjadi broker frekuensi. 23 Peserta tender Sebanyak 23 perusahaan termasuk konsorsium mengajukan penawaran harga pada lelang pita spektrum frekuensi radio 2,3 GHz untuk keperluan layanan pita lebar nirkabel WiMax. Gatot S. Dewa Broto, Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo, menuturkan penurunan calon peserta tersebut lazim seperti pada proses seleksi tender telekomunikasi lainnya. "Sejauh ini, kami memang tidak menentukan target dan kami kira tender ini cukup ketat," ujarnya kepada Bisnis. Menurut Gatot, 3G, berkurangnya peserta karena di antara calon peserta saling mengikatkan entitas keikutsertaannya dalam bentuk konsorsium seperti ditegaskan dalam penjelasan tender. Setiap anggota konsorsium WiMax harus merupakan penyelenggara jaringan telekomunikasi dan atau penyelenggara jasa telekomunikasi yang sudah mendapatkan izin penyelenggaraan yang dimungkinkan sesuai dengan Keputusan Menkominfo No.114/2009. Iwan Krisnadi, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonedia (BRTI), berpendapat jumlah peserta menyusut, karena banyak perusahaan yang bergabung menjadi konsorsium. Ada tiga konsorsium yang mengembalikan dokumen seleksi. "Besaran bid bond yang diajukan para calon peserta sendiri belum diketahui karena dokumen baru di buka Senin [hari ini]," ujarnya kepada Bisnis, pekan lalu. Sampai Jumat pekan lalu, ke-23 calon yang terdiri dari 5 konsorsium dan 18 perusahaan lainnya telah menyerahkan kelengkapan dokumen persyaratan yang akan dibuka pada 22 Juni 2009 di Ditjen Postel. Sebelumnya pemerintah menetapkan harga dasar penawaran (reserved price) pita spektrum frekuensi radio 2,3 GHz untuk lebar pita 15 MHz WiMax bervariasi sesuai dengan zona yang menjadi objek seleksi. Total harga dasar penawaran WiMax untuk 15 zona mencapai Rp52,35 miliar atau hanya sepertiga dari harga dasar penawaran tambahan frekuensi 3G. (fita.indah@[tautan dihapus] Oleh Fita Indah Maulani & Roni Yunianto Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 22/06/09 11:05 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G 100 Juta Euro untuk WiMAX di Irlandia Investasi dilakukan untuk meningkatkan jaringan nirkabel kecepatan tinggi di Irlandia Senin, 22 Juni 2009, 09:15 WIB Muhammad Firman VIVAnews - Intel, produsen mikrochip terbesar di dunia dan sebuah penyedia layanan broadband di Irlandia berinvestasi sebesar 100 juta euro untuk membangun jaringan nirkabel kecepatan tinggi. Jaringan baru tersebut, menggunakan teknologi dengan nama WiMax akan mendapat dukungan dari lima perusahaan lokal dan multinasional, serta akan tersedia dalam beberapa bulan ke depan. Konsorsium tersebut menyatakan bahwa jaringan itu nantinya akan dapat menghadirkan kecepatan koneksi 30 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang saat ini dapat dinikmati pelanggan di Irlandia. Dana sebesar 100 juta euro itu akan digunakan untuk membiayai jaringan infrastruktur telekomunikasi skala nasional. Saat ini, seperti VIVAnews kutip dari Sunday Business Post, 22 Juni 2009, konstruksi jaringan sudah dimulai di Dublin dan Kildare. Layanan sendiri masih dalam tahap uji coba. Langkah tersebut akan memunculkan keraguan atas program National Broadband Scheme (NBS) yang digerakkan pemerintah yang menyedot dana masyarakat sebesar 200 juta euro. NBS merupakan jaringan broadband untuk kawasan terpencil yang tidak terlayani oleh operator broadband. Meski begitu, skema tersebut hanya menawarkan akses internet pada kecepatan yang lebih rendah dibading klaim yang bisa ditawarkan WiMax. Di Amerika Serikat, operator Sprint-Nextel telah meluncurkan program investasi sebesar 3,5 miliar euro untuk menghadirkan jaringan telekomunikasi generasi berikutnya. Intel sendiri telah menanam lebih dari 1 miliar euro di seluruh dunia untuk teknologi WiMax, di mana Google, raksasa mesin pencari, juga bertindak sebagai investor. Sistem serupa juga sedang dikembangkan oleh Telefonica di Spanyol dan Telecom Italia di Italia. Langkah WiMax di Irlandia di atas semakin mulus setelah European Commission menyetujui proposal yang diajukan oleh Commission for Communications Regulation untuk menurunkan harga yang ditetapkan oleh Eircom, salah satu operator telekomunikasi di Irlandia terhadap kompetitor agar dapat mengakses jaringan miliknya. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 22/06/09 16:47 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G PESERTA LELANG BWA TINGGAL 23, Harga Frekuensi BWA Rp 45 Juta - Rp 15 M 22/06/2009 13:52:53 WIB Oleh Rizagana JAKARTA, INVESTOR DAILY Lelang lisensi penyelenggara internet nirkabel berkecepatan tinggi (BWA) menyisakan 23 peserta dari semula 73 peserta. Ke-23 peserta itu telah menyerahkan kelengkapan dokumen persyaratan (termasuk bid bond). Hari ini, dokumen penawaran itu akan dibuka. Demikian dikatakan Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo Gatot S Dewa Broto dalam siaran pers, Minggu (21/6). “Jadwal berikutnya adalah pembukaan dokumen prakualifikasi yang akan dilakukan pada Senin, 22 Juni 2009 di Ditjen Postel Depkominfo,” kata Gatot. Gatot menjelaskan, pada 19 Juni 2009, Tim Pelaksana Seleksi Lelang BWA telah menutup penyerahan kelengkapan persyaratan (untuk pra kualifikasi), termasuk bid bond. Proses lelang lisensi BWA telah dibuka April lalu. Proses pengambilan dokumen berlangsung pada 29 April hingga 5 Mei 2009. Sebanyak 73 peserta mengambil dokumen lelang, tetapi yang mengembalikannya hanya 23 peserta. Fenomena penurunan jumlah peserta yang mengembalikan dokumen ini, menurut Gatot, lazim. Hal tersebut juga terjadi saat proses seleksi lisensi 3G, tender pembangunan telepon perdesaan (USO) pada 2007, dan tender sambungan langsung internasional (SLI) serta tender sambungan langsung jarak jauh (SLJJ). “Pada seleksi (lisensi BWA) ini berkurangnya jumlah peserta yang menyerahkan dokumen juga di antaranya dipengaruhi oleh peluang di antara calon peserta yang saling mengikatkan entitas keikut-sertaannya dalam bentuk konsorsium. Sehingga penurunan jumlah calon peserta ini tidak perlu dipersoalkan,” kata Gatot. Ke-23 perusahaan calon peserta kualifikasi ini telah menyerahkan kelengkapan dokumen, setelah sebelumnya memperoleh harga dasar penawaran (reserved price) pita frekuensi 2,3 GHz. Frekuensi itu untuk layanan internet nirkabel kecepatan tinggi (wireless broadband). Setiap peserta, bila menang, berhak mendapat pita frekuensi sebanyak 15 MHz pada satu zona dari 15 zona yang disediakan. Sedangkan mengenai harga dasar penawaran (reserved price) telah diatur dalam Kepmen No 175/2009 tentang Harga Dasar Penawaran (Reserved Price) Pita Spektrum Frekuensi Radio 2.3 GHz Untuk Keperluan Layanan Pita Lebar Nirkabel (Wireless Broadband). Harga dasar penawaran ini penting karena Bid Bond yang harus diserahkan oleh ke-23 calon peserta tersebut adalah sebesar fixed 10% dari harga reserved price yang dimasukkan pada 19 Juni 2009. Harga yang telah dimasukkan itu tidak dapat ditambah atau dikurangi pada setiap putaran lelang. Sebelumnya, juru bicara konsorsium yang dibentuk Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) Heru Nugroho mengatakan, APJII telah membentuk Konsorsium Wimax Indonesia (KWI) untuk mengikuti lelang BWA itu. “Kami sudah putuskan untuk tetap maju pada seluruh zona. Sebanyak 30 ISP maju dengan baju konsorsium,” kata dia. Heru yakin, KWI bisa bersaing dengan sejumlah operator telekomunikasi besar yang ikut lelang BWA, seperti PT Telekomunikasi Indonesia Tbk dan PT Indosat Tbk. Terbuka peluang APJII bersama operator mengelola dalam satu zona yang ditunjuk pemerintah. (*) Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 22/06/09 16:48 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Senin, 22/06/2009 16:35 WIB Industri Minta Insentif Broadband Dicairkan Achmad Rouzni Noor II - detikinet Jakarta - Kamar Dagang Industri Indonesia (Kadin) beserta sejumlah asosiasi terkait teknologi informasi komunikasi (TIK) mendesak pemerintah agar memberikan insentif finansial untuk mendukung pembangunan infrastruktur serat optik jaringan akses pita lebar (broadband). "Insentif keuangan itu bisa diambil dari dana USO (universal service obligation) yang sejatinya merupakan titipan operator," kata Anindya Bakrie, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Telematika, di acara seminar TIK Kadin di Hotel Ritz Charlton, Jakarta, Senin (22/6/2009). Alasan Kadin dkk mendesak pencairan stimulus tak lain karena mandeknya sejumlah proyek pembangunan broadband, misalnya saja Palapa Ring yang terkendala krisis ekonomi. "Padahal, broadband sangat penting jika industri TIK diharapkan tumbuh 10% tahun ini. Broadband itu penting sebagai tulang punggung TIK, namun sayang ketersediannya tak sampai 10%" lanjut Anindya. Upaya menarik perhatian pemerintah untuk mendapatkan stimulus broadband juga didukung Intel Indonesia Corporation. Menurut produsen chipset komputer ini, stimulus ini penting jika Indonesia ingin bersaing dengan negara lain dalam hal ketersediaan akses informasi sampai ke pelosok desa. "Oleh karena itu, sangatlah penting bagi pemerintah untuk memprioritaskan akses terhadap teknologi bagi masyarakat, khususnya dunia pendidikan. Dari 1,3 miliar anak sekolah di dunia, hanya 5% yang memiliki akses terhadap komputer dan internet," tandas Budi Wahyu Jati, Country Manager Intel Indonesia. (rou/faw) Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 24/06/09 08:16 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Vendor WiMax dikhawatirkan belum siap Pemenang tender BWA diminta diberi nomor JAKARTA: Peserta tender broadband wireless access (BWA) atau WiMax (worldwide interoperability for microwave access) mengkhawatirkan ketidaksiapan penyedia perangkat lokal, yang dinilai bisa menghambat penggelaran jaringan. Ismail Hirawan, Direktur Utama PT Centrin Online Tbk, mengatakan ketika sebuah perusahaan memenangi tender, pembangunan perangkat terhambat akibat tidak siapnya perusahaan lokal menyediakan peranti sementara biaya izin pita spektrum frekuensi radio (IPSFR) sudah dibayarkan. "Siapa pun pemenang tender akan merasa berat karena sudah membayar IPSFR tahun pertama yang besarnya dua kali harga hasil lelang per blok per zona sementara bisnisnya belum bisa berjalan akibat kendala perangkat," ujarnya kepada Bisnis, kemarin. Centrin menilai ketentuan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) dalam peranti yang akan digunakan masih diragukan keberhasilannya karena perusahaan penyedia peranti lokal masih belum bisa meningkatkan produksinya. Ismail mendesak pemerintah lebih fleksibel dalam menetapkan ketentuan TKDN peranti WiMax untuk 40% base station (BS) dan 30% subscriber station (SS). Setelah ditetapkan menjadi pemenang, peserta tender harus membayar up front fee sebesar satu kali harga hasil lelang ditambah dengan biaya hak penyelengaraan (BHP) frekuensi dengan besaran yang sama. Pemenang yang telah memiliki izin penyelenggaraan jaringan tetap lokal berbasis packet switched, pembayaran dilakukan setelah izin penyelenggaraan disesuaikan. Heru Nugroho, juru bicara Konsorsium WiMax Indonesia (KWI) mengatakan pihaknya berharap pemerintah mau bernegosiasi soal TKDN dalam peranti WiMax dengan teknologi 16d yang proses tendernya sedang berjalan. "Pemerintah harus realistis, jangan kaku, hal ini bisa didiskusikan. Kalau kaku pemenang tender bisa tuntut, sudah bayar tetapi terganggu bisnisnya karena tersandung TKDN pemerintah." Adapun GM Business Planning Development Indosat M2 Hermanudin menilai pembayaran up front fee dan BHP WiMax sebaiknya dilakukan setelah vendor lokal siap. Kasus Corbec Di sisi lain, Sekjen Mastel Mas Wigrantoro Roes Setiadi meminta pemerintah memberikan lisensi WiMax sekaligus penomorannya kepada pemenang tender broadband wireless access (BWA) agar tidak terjadi lagi gugatan seperti yang dilakukan PT Corbec Communication terhadap Menkominfo karena persoalan alokasi nomor. "Jika gugatan tersebut dimenangkan Corbec, ini preseden positif bagi operator BWA. Peta telekomunikasi Indonesia akan berubah drastis dan ini bagus sekali," ungkapnya. Namun, lanjutnya, aturan main yang ada belum memungkinkan ke arah sana, sehingga pemerintah sebaiknya segera mengubah regulasi penomoran. (Arif Pitoyo) (fita.indah@[tautan dihapus]) Oleh Fita Indah Maulani Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 25/06/09 09:44 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Depkominfo ngotot gelar BWA BANDUNG: Departemen Komunikasi dan Informatika tetap menggelar tender BWA (broadband wireless access) atau WiMax (worldwide interoperability for microwave access) meskipun publik masih meragukan kemampuan vendor lokal. Suhono Harso Supangkat, Staf Khusus Menkominfo, mengungkapkan pihaknya tetap akan menggelar tender WiMax karena sudah molor dari jadwal semula akibat ketidaksiapan vendor lokal. "Kalau terus ditunggu [kesiapan vendor lokal], kapan jalannya? Tender sudah ditunda hampir 2 tahun, jadi tidak ada alasan lagi . Perkara kesiapan vendor, menurut saya pribadi, itu bisa sambil jalan karena prinsipnya mereka sudah siap," katanya kepada Bisnis di sela-sela E-Indonesia Initiative 2009 di Bandung, kemarin. Sebelumnya, banyak kalangan termasuk peserta tender yang tergabung dalam konsorsium APJII, mengkhawatirkan ketidaksiapan penyedia perangkat lokal yang nantinya bisa menghambat penggelaran jaringan. Hal ini terkait hasil ujicoba perangkat WiMax lokal di Puspiptek Serpong beberapa waktu lalu, di mana tingkat cakupan pengguna layanan sangat jauh dari yang ditetapkan WiMax Forum maupun proyeksi bisnis ideal. Padahal, peserta tender harus membayar izin pita spektrum frekuensi radio (IPSFR) tahun pertama yang besarnya dua kali harga hasil lelang per blok per zona, sementara bisnisnya tidak bisa berjalan baik akibat kendala perangkat tadi. Tak ada toleransi Suhono melanjutkan pihaknya optimistis dengan kesiapan vendor lokal, sehingga ketentuan adopsi kandungan lokal WiMax 40% base station (BS) dan 30% subscriber station (SS) bisa terpenuhi. "Kami harus optimistis dengan kemampuan anak bangsa, apalagi mereka riset sejak lama. Harus dilihat pengalaman di negara lain, industri mereka maju karena diberi kesempatan oleh negara." Atas alasan itu, Depkominfo mengaku tidak mau terlibat polemik ataupun memberi kebijaksanaan baru yang bersifat memberi toleransi kepada operator pemenang tender dalam penyerapan kandungan lokal. "Kalau belum apa-apa kami sudah memberi kelonggaran bagi perusahaan-perusahaan, apalagi bicara sanksi, itu sayang. Saya belum berangkat ke Jakarta misalnya, tapi sudah diwanti-wanti macam-macam." Menurut dia, kebijakan pemerintah selalu mengutamakan kepentingan bersama dengan kerangka kepentingan jangka panjang. Bukan sekadar memenuhi kepentingan segelintir kelompok, tetapi bersifat reaktif. Oleh karena itu, lanjut dia, tender WiMax diharapkan bisa segera dilakukan Depkominfo demi mengejar target pemberian layanan Internet cepat yang terjangkau kepada masyarakat pada tahun ini juga. Oleh Muhammad Sufyan Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 26/06/09 08:16 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G 5 Perusahaan bidik WiMax nasional Smart fokus ke layanan CDMA EV-DO JAKARTA: Lima perusahaan serius mengikuti tender WiMax pita 2,3 GHz di semua zona yang terlihat dari pembayaran bid bond lebih dari nilai minimal, yaitu Rp5,2 miliar. Iwan Krisnadi, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), mengungkapkan terdapat peserta tender yang membayar bid bond melebihi dari ketentuan, yaitu sampai Rp10 miliar. "Peserta yang membayar Rp10 miliar tersebut datang dari konsorsium yang terdiri dari dua perusahaan," ungkapnya kepada Bisnis, kemarin. Ketentuan awal menyebutkan jumlah maksimal bid bond adalah 10% dari nilai reserved price, yaitu sebesar Rp5,2 miliar. Di luar perusahaan yang bayar bid bond Rp10 miliar tadi, terdapat empat perusahaan peserta lainnya yang memasukkan bid bond lebih dari Rp5 miliar. Menurut dia, hal tersebut merupakan bukti terdapat sejumlah peserta tender, yaitu lima perusahaan, yang sangat serius untuk mengikuti tender di semua zona yang digelar. Panitia tender akan mengumumkan perusahaan yang lolos prakualifikasi Senin pekan depan. Calon peserta tender harus memenuhi tiga persyaratan utama, yaitu menyerahkan bid bond, memenuhi aturan kepemilikan saham terkait dengan aturan perusahaan lokal, dan asing, serta memegang izin penyelenggaraan telekomunikasi. Perusahaan dengan kepemilikan asing lebih dari 49% sampai tiga tingkatan tidak bisa mengikuti tender ini kecuali dia perusahaan terbuka. Sesuai dengan UU Pasar Modal, perusahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dianggap sebagai perusahaan lokal. Regulator tidak akan memberikan alokasi nomor kepada pemenang tender jaringan WiMax (worldwide interoperability for microwave access) di pita 2,3 GHz. "Jika kami memberikan alokasi nomor, jumlah operator telekomunikasi akan bertambah dan pada akhirnya memberikan dampak yang besar bagi industri," ujar Heru Sutadi, anggota BRTI. Smart batal ikut Sementara itu, operator seluler berbasis code division multiple access (CDMA) Smart Telecom, menurut Iwan, tidak mengembalikan dokumen tender sehingga dipastikan tidak ikut dalam proses selanjutnya. Ketika dikonfirmasi, Direktur Layanan Korporasi Smart Ubaidilah Fatah mengungkapkan pihaknya memang tidak akan mengikuti tender BWA untuk teknologi fixed atau 16d dan hanya akan fokus pada CDMA Ev-Do rev A dan B. Smart merupakan perusahaan yang terbentuk melalui Kepmenkominfo No. 88/2006 tentang Aliansi Usaha dan Alokasi Pita antara PT Wireless Indonesia (WIN) dengan Primasel. WIN merupakan pemegang lisensi jaringan tetap lokal berbasis packet switch tetapi dikembalikan pada 2006 setelah masuknya Grup Sinar Mas. Komposisi saham perusahaan tersebut 100% merupakan pemodal lokal dan memenuhi persyaratan ikut tender WiMax, yaitu meliputi PT Bali Media Telkom (35%), PT Global Nusa Data (29%), PT Indonesia Mobilindo (2%), PT Inti (0,2%), dan PT Wahana Inti Nusantara (33%). Dirut Smart Telecom Sutikno Widjaya tidak memberikan tanggapan mengenai tidak adanya saham WIN dan Primasel di entitas baru tersebut. (Arif Pitoyo) (fita.indah@[tautan dihapus]) Oleh Fita Indah Maulani Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 01/07/09 17:41 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Tender BWA Diganggu Oknum dan Hacker 01/07/2009 15:32:39 WIB Oleh Rizagana dan Encep Saepudin JAKARTA, INVESTOR DAILY Proses tender lisensi untuk penyelenggaraan akses internet berkecepatan tinggi nirkabel (BWA) diganggu pihak tertentu yang mengharapkan imbalan uang. Ada yang mengatasnamakan pejabat Ditjen Postel Depkominfo, bahkan ada kekhawatiran lain berupa ancaman dari hacker atau penjahat cyber. Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo Gatot S Dewa Broto mengatakan, beberapa hari terakhir ini, ketika proses tender BWA masih berlangsung, tim pelaksana tender BWA dikejutkan dengan informasi bahwa ada oknum yang mengatasnamakan pejabat Ditjen Postel dan Tim Seleksi Tender BWA yang bisa membantu peserta tender untuk memenangi tender. Informasi itu justru datang dari penyelenggara telekomunikasi tertentu. “Seperti pola lama, modus operandinya menggunakan pola lama dengan memanfaatkan tender USO periode 2007. Pihak-pihak tertentu tersebut ternyata diindikasikan minta imbalan finansial dalam jumlah tertentu. Tindakan tersebut merupakan upaya penipuan,” kata Gatot di Jakarta, Selasa (30/6). Gatot mengaku, informasi itu diperoleh dari penyelenggaran telekomunikasi. Oleh karena itu, Depkominfo akan memproses informasi itu lebih lanjut untuk mencari tahu pelakunya. Yakni, dengan cara menelusuri informasi awal itu dari operator dan nama pejabat Ditjen Postel dan Tim Panitia Tender yang disebut-sebut. “Informasi awal itu tentu akan kami proses secara hukum. Tapi maaf, saya tidak bisa menyebutkan, informasi itu datang dari operator mana,” kata Gatot. Ancaman Hacker Sementara itu, juru bicara Konsorsium Wimax Indonesia (KWI) Heru Nugroho juga mengkhawatirkan tentang ancaman hacker yang bakal membobol komputer Panitia Lelang BWA Ditjen Postel Depkominfo. “Terus terang kami masih ragu dengan kesiapan tim TI pemerintah. Apakah mereka bisa mencegah kemungkinan ancaman hacker yang mengganggu saat lelang berlangsung,” kata Heru Nugroho. Berdasarkan pengalaman, jaringan pemerintah selalu dibobol oleh para dedemit dunia maya. Akan tetapi, Heru tidak menyebutkan tragedi mana yang membuat hacker disebut sukses membobol komputer instansi pemerintah. Dia mengingatkan, kecemasan para peserta lelang masih sebatas wajar. Pertama, baru pertama kali pemerintah menggelar lelang frekuensi secara online sehingga belum tahu kesiapan Depkominfo menghadang aksi dedemit maya itu. Kedua, kemungkinan para hacker berhasil membobol jaringan sehingga mengganggu jalannya transaksi lelang atau malah membocorkan informasi penting seputar tender BWA itu. Ketiga, kemungkinan perubahan angka penawaran sehingga bisa merugikan pemerintah dan peserta. Keraguan juga menyelimuti benak Direktur Corporate Services PT Bakrie Telecom Tbk Rakhmat Djunaidi. Apalagi, kata dia, belum ada indikator keberhasilan maupun kegagalan yang bisa dijadikan pelajaran oleh pemerintah untuk mengatasi suatu insiden. “Ini (lelang secara online) kan yang pertama buat pemerintah. Dan, kita belum tahu bagaimana nanti antisipasinya,” kata dia. Pada prinsipnya, Bakrie Telecom siap mengikuti proses tender dalam model apa pun yang dilaksanakan pemerintah. Namun begitu, pemerintah juga perlu menjelaskan pada peserta agar peserta tidak dilanda kecemasan yang berlebihan. Sementara itu, Vice President Public and Marketing Communication PT Telkom Eddy Kurnia menyerahkan sepenuhnya pelaksanaan tender pada pemerintah. Telkom siap mengikuti prosedur sesuai yang diterangkan pemerintah. Menanggapi kekhawatiran para peserta tender terhadap ancaman dedemit maya itu, Gatot mengatakan, pihaknya sudah mengantisipasi segala kemungkinan, termasuk peluang dedemit maya membobol komputer Tim Panitia Lelang BWA. “Sebelum kami luncurkan proses lelang ini, kami sudah lakukan simulasi. Mudah-mudahan, proses lelang ini berjalan lancar dan aman,” kata Gatot. Pihak internal Departemen Kominfo, baik pejabat Ditjen Postel dan Tim Pelaksana Seleksi BWA, sejak awal melakukan pengawasan secara berlapis dan intensif agar prosedur tender BWA ini berlangsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Proses tender BWA ini diharapkan rampung pada akhir Juli 2009. Staf Ahli Menkominfo Harso Supono Supangat menjamin lelang melalui online bebas dari insiden. Pemerintah telah menyiapkan segalanya untuk antisipasi yang terburuk sekalipun. “Lho, ini masa kami putuskan begitu saja. Lelang ini tentu sudah kami persiapkan dengan matang,” kata dia. Sejumlah ahli keamanan teknologi informasi (TI) dilibatkan untuk mencegah aksi dedemit dunia maya. Begitu pula jaringan telekomunikasi sudah dipersiapkan agar tender tidak terganggu dengan kelambatan akses atau insiden lainnya. *** Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 14/07/09 08:42 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Telkom-Indosat bakal kuasai WiMax Harga lelang yang tinggi akan beratkan pelanggan JAKARTA: PT Telkom Tbk diprediksi bersaing dengan PT Indosat Tbk dalam tender BWA (broadband wireless access) atau WiMax (worldwide interoperability for microwave access) cakupan nasional. Ketua Forum Komunikasi Broadband Wireless Indonesia (FKBWI) Barata Wisnuwardhana mengungkapkan kedua operator besar itu memiliki sumber pendanaan yang tidak terbatas dan memiliki kemampuan jaringan yang luas. “Indosat, baik melalui induk maupun anak perusahaannya, dapat dipastikan akan mengincar lisensi di kota-kota besar karena kapasitasnya di wilayah itu memang sudah sangat padat,” ungkapnya kemarin. Berdasarkan data Indosat, pada Februari saja, tingkat akses komunikasi data broadband melalui Indosat M2 mencapai 101 terabytes per minggunya dengan kapasitas terpakai di kota-kota besar sudah melebihi 80% sehingga akses di sejumlah titik pada saat itu sedikit terganggu. Telkom juga sangat membutuhkan lisensi WiMax tersebut meski Telkomsel, anak usahanya, sudah mendapatkannya secara gratis di wilayah USO (universal service obligation) di lima paket pekerjaan sebesar satu blok. Barata mengungkapkan paling tidak satu blok nasional akan dikuasai oleh dua operator incumbent tersebut. Para peserta tender penyelenggaraan jaringan tetap lokal berbasis packet switched dengan teknologi BWA atau WiMax saling mengintip alokasi dana bid sebelum dimulainya lelang ronde pertama hari ini. Adita Irawati, Division Head Public Relations Indosat, mengatakan pihaknya sudah bersiap maju dalam tender bersama dengan anak perusahaannya PT Indosat Mega Media (IM2). “Berapa besar bid yang dipersiapkan, angkanya lihat saja besok [hari ini]. Indosat dan IM2 dipastikan maju sendiri-sendiri. IM2 saat ini memiliki rencana strategis sendiri untuk memenangi zona yang mereka minati, sementara Indosat memasukkan bid bond untuk menawar di seluruh zona. “Strategi perusahaan kami, seperti zona yang dincar dan harga penawaran saat ini masih dalam proses di tingkat Indosat dan akan langsung disampaikan pada saat lelang,” ujar Indar Atmanto, Dirut IM2. Pemerintah juga telah menetapkan harga dasar penawaran (reserved price) berbeda untuk setiap zona, tergantung dari biaya investasi dan situasi pasar yang ada di setiap daerah. Semakin besar potensinya, semakin tinggi harga dasar penawaran. Harga penawaran terendah dipatok untuk zona 10 yang mencakup wilayah Maluku dan Maluku Utara sebesar Rp45 juta serta zona 9 (Papua) sebesar Rp96 juta. Kedua zona tersebut mencakup wilayah yang baru saja ditenderkan dalam lelang proyek universal service obligation (USO). Banyak pihak memprediksikan kedua zona tersebut sepi penawaran, karena dalam lelang proyek USO saja hampir tidak ada peminat. Mengincar Jawa Heru Nugroho, juru bicara Konsorsium WiMax Indonesia, salah satu konsorsium peserta tender menegaskan pihaknya lebih memilih mengundurkan diri jika hanya kawasan timur Indonesia saja yang bisa dimenangkan. “Harus ada keseimbangan, pemenang zona di kawasan maju juga harus menggarap daerah yang masih harus dirintis. Kawasan timur Indonesia masih kecil permintaannya kecuali Makassar dan Manado. Konsorsium WiMax Indonesia berencana menawar di semua zona dengan target menang di satu zona yang wilayahnya di Pulau Jawa. Heru menambahkan pihaknya juga berharap harga akhir penawaran tidak mencapai dua kali lipat dari reserved price. “Kalau sampai dua kali lipat itu sudah terlalu mahal dan akan membebani biaya langganan. Apalagi nilai itu harus dibayarkan setiap tahun sebagai biaya hak penyelenggaraan ,” ujarnya. Iwan Krisnadi, juru bicara panitia lelang BWA, mengatakan lelang akan berlangsung lebih kompetitif karena dilakukan dalam tiga putaran. Panitia mengharapkan 21 peserta bisa memberikan harga yang rasional, tentu saja di atas reserved price. Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) itu membantah panitia tender sudah mengantongi calon pemenang tender karena semua peserta memiliki peluang yang sama. Kabar yang beredar di lingkungan Ditjen Postel, Telkom dan Indosat sudah dipastikan menjadi pemenang tender WiMax. (fita.indah@[tautan dihapus] Oleh Fita Indah Maulani & Arif Pitoyo Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 16/07/09 20:48 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Kamis, 16/07/2009 18:26 WIB Kalah Tender, Telkom Tetap Gelar Wimax di Jabodetabek Achmad Rouzni Noor II - detikinet Jakarta - Telkom yang sejatinya mengincar zona Banten dan Jabodetabek, cuma berhasil memenangkan lisensi broadband wireless access (BWA) di zona Jawa Tengah, Papua, Maluku dan Maluku Utara, serta Sulawesi Bagian Utara. Tak mau kentara kecewa, perusahaan BUMN telekomunikasi ini coba membesarkan hati dengan kekalahan yang diterimanya dalam perebutan pita 2,3 GHz di zona 6 tersebut melawan First Media. "Kami tak masalah karena kami juga tetap bisa gelar Wimax dengan lisensi BWA yang kami miliki di 3,3 GHz untuk Jabodetabek dan sekitarnya," sergah Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah di Grha Cipta Caraka Telkom, Jakarta, Kamis (16/7/2009). "Tak hanya itu, kami juga punya Speedy dan Telkomsel Flash. Jadi, kalau kalah, sebenarnya nggak terlalu masalah. Harga yang kami tawarkan sudah yang paling rasional," lanjut Rinaldi tanpa mau menyebut nominal harga penawaran sebenarnya.. Chief Information Officer Telkom, Indra Utoyo menuturkan, pihaknya memiliki lebar pita 15 MHz di 3,3 GHz. Dengan pita selebar itu, Telkom mengklaim masih bisa bersaing dengan First Media untuk menawarkan tarif Wimax yang tak kalah bagus kualitasnya dengan tarif yang lebih murah. "Saat ini kami sedang menggelar tender perangkat jaringannya sesuai TKDN (tingkat kandungan konten dalam negeri). Mudah-mudah akhir tahun sudah bisa roll out. Kalau yang diminta pemerintah, Agustus sudah selesai," pungkas Indra pada detikINET.(rou/ash) Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 17/07/09 10:15 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Berca masuki telekomunikasi Harga pita BWA Rp877,28 miliar JAKARTA: PT Berca Hardayaperkasa menjadi pemenang tunggal WiMax atau Internet pita lebar di 14 blok pita 2,3 Ghz yang menandai perusahaan tersebut memasuki bisnis telekomunikasi. Perusahaan itu menguasai zona 2 Sumatra bagian tengah, zona 3 Sumatra bagian selatan, zona 8 Bali dan Nusa Tenggara, zona 11 Sulawesi bagian selatan, zona 13 Kalimantan bagian barat, dan zona 14 Kalimantan bagian timur. Departemen Komunikasi dan Informatika tahun ini akan menerima dana sebesar Rp877,28 miliar dari hasil lelang broadband wireless access (BWA) atau WiMax di 15 zona yang baru berakhir kemarin. Perusahaan pemenang tender akan menyetorkan up front fee sebesar Rp438,64 miliar dan biaya hak penyelenggaraan (BHP) tahun pertama sebesar Rp438,64 miliar. Dana BHP tersebut akan dibayarkan setiap tahun kepada pemerintah. Setoran terbesar akan diberikan oleh PT Berca sebesar Rp145,4 miliar yang menguasai enam zona dengan potensi pasar besar dari 15 zona yang ditawarkan dan memenangi masing-masing satu blok di dua zona lainnya. Pada zona 1 Sumatra bagian utara Berca menang dengan harga penawaran Rp6,6 miliar dan di zona 15 Kepulauan Riau dengan harga penawaran Rp4 miliar. Setoran terbesar kedua berasal dari PT First Media yang berhasil memenangi zona 4, wilayah Banten, Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi dengan penawaran Rp101,21 miliar untuk satu blok, ditambah satu blok di zona 1 dengan penawaran sebesar Rp7,2 miliar. Menkominfo Muhammad Nuh menyambut gembira atas kesuksesan penyelenggaraan lelang secara elektronik tersebut. Harga penawaran atau harga akhir lelang mencapai sembilan kali lipat dari harga dasar di setiap zona yang hanya sebesar Rp52,3 miliar, tuturnya. Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah tidak terlalu kecewa dengan hasil tender WiMax yang menjadikan Telkom tidak dominan. Itu memang bagian dari strategi kami. Kami sudah memiliki BWA di 3,3 GHz, dan 2,3 GHz di wilayah USO melalui Telkomsel. (Arif Pitoyo) (fita.indah@[tautan dihapus] Oleh Fita Indah Maulani & Roni Yunianto Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 24/07/09 12:56 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Operator besar nilai harga WiMax terlalu tinggi JAKARTA: Operator telekomunikasi besar menilai harga lelang pita broadband wireless access (BWA) atau WiMax di frekuensi 2,3 GHz terlalu tinggi dan cenderung tidak masuk akal. Rakhmat Junaidi, Direktur Corporate Services PT Bakrie Telecom, mengatakan pihaknya bukan tidak berminat terhadap tender BWA di frekuensi 2,3 GHz yang baru selesai pekan lalu, tetapi harga penawaran peserta lain terlalu tinggi. “Jujur kami cukup terkejut dengan harga penawaran tertinggi yang ditetapkan menjadi pemenang, bukannya tidak berminat, tetapi harga segitu jauh dari rencana bisnis perusahaan,” ujarnya kemarin. Sebagai contoh di zona 4 yang mencakup Jakarta, Banten, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Pada penawaran ronde ketiga harga dasar masih di kisaran Rp30 miliar, Btel melakukan penawaran tidak jauh dari itu, ternyata pemenangnya menawar Rp101 miliar dan Rp110 miliar. Mayoritas harga penawaran yang menjadi pemenang di tender lalu tergolong tinggi, apalagi bagi layanan dengan teknologi 16d (nomadic) sehingga menyulitkan operator yang sudah berpengalaman menggelar layanan data menetapkan harga jual sesuai dengan rencana bisnis. Btel mengungkapkan dalam rencana bisnis sudah dipertimbangkan berapa harga jual yang akan ditawarkan kepada konsumen, daerah mana saja yang dibidik, dan harga lisensi yang masuk akal. “Kami tidak bisa memberitahukan berapa harga masuk akal menurut Bakrie Telecom, tetapi perlu dicatat juga untuk melayani pelanggan, perusahaan pemenang perlu membangun backbone yang memerlukan investasi juga,” ujarnya. Bakrie Telecom semula mengincar zona BWA di Pulau Jawa untuk meningkatkan kualitas layanan datanya. Kontribusi layanan data operator telekomunikasi ini masih di bawah 5% dari total pendapatan perusahaan. Hal senada diungkapkan seorang eksekutif operator incumbent bahwa harga lelang BWA sangat tinggi dan tidak ekonomis sehingga sulit memberikan harga ritel kepada pelanggan. Hermanudin, General Manager Business Planning & Development IM2, mengatakan pihaknya cukup senang telah berhasil memenangi zona 5 yang meliputi Jawa Barat kecuali Depok, Bogor, dan Bekasi. “Kami akan menawarkan produk dengan nilai produk yang lebih tinggi tetapi harga lebih rendah dibandingkan dengan layanan serupa yang sudah ada selama ini. Harga ritel dipastikan di bawah harga saat ini,” ujarnya. Harga terendah layanan data broadband saat ini sekitar Rp500.000 hingga Rp1 juta untuk kecepatan minimum 256 Kbps. IM2 berencana menawarkan di bawah Rp500.000 dengan kemampuan sama. Indosat M2 sejauh ini belum berani menjanjikan banyak hal bagi para konsumen di Jawa Barat karena masih ada beberapa hal yang belum pasti, seperti harga perangkat dan ketersediaannya. Oleh Fita Indah Maulani Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 25/07/09 00:11 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Menkominfo: Tarif Internet Dipastikan Turun Makin banyaknya konsumen dan penyedia jasa internet, membuat tarif bakal turun Indra Darmawan, Muhammad Chandrataruna VIVAnews - Lelang elektronik (e-Auction) Broadband Wireless Access atau dikenal dengan WiMAX baru saja usai dan kini tengah memasuki masa sanggah. Semakin dekatnya rencana pengerjaan proyek WiMAX, membuat pemerintah haqul-yakin bahwa tarif internet bakal segera turun. Menteri Komunikasi dan Informatika Mohammad Nuh menegaskan hal itu, usai Konferensi Pers INAICTA 2009 di kantornya, Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat 24 Juli 2009. "Saya tak bisa memastikan turunnya berapa persen. Tapi saya yakin tarif internet bergerak turun," kata Nuh optimistis. Keyakinan Menkominfo bahwa tarif internet turun dalam beberapa waktu mendatang, didasari dengan volume pengguna yang akan semakin massif. "Saya mengandalkan rasionalitas. Jumlah pengguna Internet lah yang paling sederhana. Itu menjadi faktor yang paling mendasar," ujarnya. Pesatnya pertumbuhan pengguna Internet, menurut Nuh, tentu saja merangsang para penyelenggara jasa Internet berlomba-lomba untuk mengakuisisi pelanggan baru. Caranya, dengan menawarkan tarif yang terjangkau. "Bila diperhatikan, dewasa ini, semakin banyak bermunculan pemain-pemain baru penyelenggara jasa Internet di Tanah Air. Ini mengindikasikan kompetisi semakin baik dan sehat," ujarnya. Menurut Nuh, selain teknologi WiMAX, 3G juga bakal menjadi faktor penting yang mendorong turunnya tarif. "Kalau sudah ada 3G dan WiMax, pengguna Internet, terutama ritel, akan menjadi lebih banyak pilihan. Ada 'bis kota', ada 'sepur' (kereta api - red), silahkan pilih mana yang disuka, mana yang bisa dijangkau," kata Nuh. "Intinya, di sisi penyelenggara, menurunkan tarif Internet didorong biaya operasional dan manajemen yang cukup rendah. Investasinya memang besar di awal, tapi management cost-nya saya kira tak akan sebesar kocek investasi," Nuh menjelaskan. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 28/07/09 08:58 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G BWA bakal tumpang-tindih dengan USO APJII: Jaringan Palapa Ring belum diperlukan JAKARTA: Akses broadband wireless access (BWA) atau WiMax berpotensi bersinggungan dengan layanan universal service obligation (USO) karena menggunakan frekuensi yang sama. Praktisi BWA dari PT Indosat Mega Media (IM2) Hermanudin mengatakan dalam dokumen tender yang baru selesai pertengahan bulan lalu memang disebutkan pemenang diwajibkan membangun ibu kota kecamatan. “Ada kemungkinan terjadi overlap atau bertabrakan dengan USO,” ujarnya kepada Bisnis kemarin. Data dokumen seleksi BWA yang baru selesai digelar 16 Juli lalu memang sangat memungkinkan bagi pemenang tender untuk membangun hingga ibu kota kecamatan. Layanan hingga ibu kota kecamatan ini dikhawatirkan tabrakan dengan USO karena mulai Agustus mendatang pemerintah menggelar tender Internet di 4.300 ibu kota kecamatan se-Indonesia. Gatot S. Dewa Broto, Kepala Pusat Informasi dan Humas Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) membantah adanya singgungan antara USO dan BWA, keduanya bersifat saling melengkapi. “Kami sebagai pemerintah hanya menyediakan infrastruktur, banyaknya pilihan di lapangan akan membuat masyarakat diuntungkan karena bisa mencari yang sesuai dengan kebutuhannya,” ujarnya. Pemenang tender BWA tidak terlepas dari kewajiban membayar USO sama dengan penyedia layanan telekomunikasi lainnya. Sarwoto Atmosutarno, Dirut Telkomsel -pemenang lima paket USO-, meminta regulator untuk memfasilitasi penyelesaian persinggungan layanan di pita 2,3 GHz dengan operator BWA Palapa Ring Terkait dengan Palapa Ring, juru bicara Konsorsium Palapa Ring Rakhmat Junaidi mengatakan layanan serat optik tersebut nantinya tidak akan bersinggungan dengan BWA ataupun USO. “Yang mungkin bersinggungan adalah antara BWA dan USO. Kami di Palapa Ring hanya membangun backbone,” ujarnya. Ketua Bidang Organisasi Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia Yadi Heryadi mengungkapkan Palapa Ring bukanlah satu-satunya jawaban ketersediaan infrastruktur di Indonesia. “Backbone bukan masalah utama yang harus diselesaikan saat ini karena kenyataannya backbone tumbuh seiring dengan tumbuhnya jaringan akses.” ujarnya. Menurut dia, solusinya adalah memberikan proteksi dan stimulus dengan memberikan 30 Mbps BWA yang bersifat open network kepada PJI. Bandwidth tersebut perlu dikelola oleh suatu perkumpulan berbadan hukum yang nirlaba dan APJII bisa diberi mandat untuk mengelolanya. Sampai terakhir proyek USO, penyelenggara jasa Internet hanya dianggap anak bawang, padahal menurut Yadi, penguasaan teknologi IP semuanya selama ini dilakukan dan ada di ISP, adapun kenyataan dunia sudah menuju all IP network, 4G, dan next generation network (NGN). Terkait dengan tender BWA, APJII menilai pemerintah belum berhasil mewujudkan Internet pita lebar nirkabel bermanfaat dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Menurut asosiasi itu, kebutuhan bandwidth di setiap kecamatan maksimal 300 Mbps-100 Mbps dan masih bisa menggunakan BWA, tidak perlu Palapa Ring. (fita.indah@[tautan dihapus] Oleh Fita Indah Maulani & Arif Pitoyo Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 31/07/09 23:32 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Jumat, 31/07/2009 19:04 WIB First Media Siap Pasarkan Wimax Rp 100 Ribu Achmad Rouzni Noor II - detikinet Jakarta - First Media sebagai salah satu pemenang tender broadband wireless access (BWA) di zona termahal (Jabotabek dan Banten) mengaku siap untuk memasarkan akses jaringan layanan Wimax dengan tarif langganan Rp 100 ribu. Menurut Direktur First Media, Dicky Mochtar, harga itu sudah melakukan kajian analisis komprehensif agar akses layanan bisa cepat dinikmati masyarakat. Dengan demikian, investasi mahal yang telah dikeluarkan perusahaan milik grup Lippo itu bisa kembali sesuai dengan rencana bisnis. "Di tahun pertama kami harap bisa meraih 150 sampai 300 ribu pelanggan Wimax di Jabotabek dan Banten dengan biaya akses berlangganan Rp 100 ribu," ujarnya seusai peresmian pemenang BWA di gedung Depkominfo, Jakarta, Jumat (31/7/2009). First Media sendiri menawar frekuensi di zona tersebut senilai Rp 15,16 miliar untuk satu blok 15 MHz. Nilai itu cuma up front fee untuk biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi dengan total setiap tahunnya Rp 121,201 miliar dalam setahun. Frekuensi tersebut menjadi hak guna First Media selama 10 tahun dengan nilai total BHP yang harus disetor ke negara sejumlah Rp 1,23 triliun. Dengan harga frekuensi yang sedemikian tinggi, Dicky mengakui, awalnya akan sulit untuk memasarkan akses internet dengan harga murah jika mengacu pada jumlah pelanggan saat ini. Namun ia percaya harga akan terus turun seiring meningkatnya akses dan jumlah pelanggan. "Dengan demand yang tinggi dan berkaca pada pertumbuhan pengguna internet lima tahun terakhir, kami yakin harga yang dianggap mahal akan jadi murah jika penggunanya berlipat ganda," pungkasnya. First Media sendiri masih dalam tahap mempersiapkan jaringan dan perangkat terminal pelanggannya. Perusahaan yang punya afiliasi dengan Direct Vision (penyedia siaran berbayar Astro) ini akan menggandeng sejumlah perusahaan yang mampu memenuhi tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) minimal 40% untuk base station dan 30% untuk modem pelanggan. "Mudah-mudahan kuartal keempat tahun ini sudah bisa mulai jalan," tandas Dicky.(rou/wsh) Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 03/08/09 08:38 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G 'Lonjakan Internet hidupkan WiMax' Penggelaran jaringan dimulai kuartal IV JAKARTA: Penyelenggara WiMax optimistis dapat mencapai skala ekonomi, menyusul kepastian pertumbuhan pengguna Internet yang berlipat ganda. Wendra Halingkari, Vice President PT Berca Hardayaperkasa, mengatakan skala ekonomi dapat tercapai selama jumlah pemakai Internet dapat ditingkatkan. “Tujuan kami dan pemerintah sama yaitu untuk menyebarluaskan akses Internet dalam rangka proyek nasional,” ujarnya Jumat pekan lalu. Dia berbicara seusai penyerahan ketetapan pemenang lelang tender seleksi jaringan tetap lokal berbasis packet switched di pita frekuensi 2,3 GHz. Berca merupakan salah satu pemain baru sekaligus penyelenggara terbesar dengan menguasai enam zona penggelaran WiMax pada tender pertama ini. Menurut Wendra, jika mengacu pada proyeksi, analisis dan strategi pemakaian Internet yang telah diperhitungkan, pengguna Internet dapat ditingkatkan. “Kami punya optimisme, peningkatan ini berlipat ganda, penggunaan Internet semakin memasyarakat dan semua pihak diuntungkan,” tegasnya. Dicky Mochtar, Direktur PT First Media Tbk menuturkan kendati harga frekuensi yang dibayar operator sangat tinggi tidak lantas harga ke konsumen akhir menjadi mahal. “Kalau dihitung dengan nilai sekarang, mungkin sepertinya tidak mungkin murah, tetapi jika melihat peningkatan akses Internet yang eksponensial dan dari sisi perangkat akan sangat murah, maka perhitungan akan tercapai,” ujarnya. Optimisme senada disampaikan perwakilan manajemen PT Internux yang menguasai zona Banten dan Jabotabek. “Harga Internet akan murah meskipun kemarin tinggi, kami sudah berhitung sebelum menawar karena kami tidak mau tawaran kami menjadi bumerang,” tutur eksekutif Internux tersebut. Indar Atmanto, Presdir PT Indosat Mega Media (IM2), mengatakan dengan pengalaman yang sudah ada, pihaknya sudah memperhitungkan tingkat kebutuhan pengguna Internet. “Kami yakin dengan kecepatan yang lebih tinggi, perangkat dan kapasitas semakin besar serta pengguna yang semakin banyak maka harga akan turun dan mencapai skala ekonomi,” ujarnya. Mulai kuartal IV Seluruh operator WiMax rata-rata sudah menjajaki dan menguji perangkat base transceiver stations (BTS) yang dikembangkan manufaktur lokal bersama manufaktur asing. Wendra mengatakan dalam menggelar infrastruktur WiMax, nantinya Berca tidak akan berjalan sendiri. “Pasti dibutuhkan kerja sama dengan pemain lain dan ini harus!. Bahkan bisa saja nantinya kerja sama dijalin antaroperator yang beda zona.” Dicky mengatakan First Media merencanakan penggelaran jaringan BTS di Sumatra, Banten dan Jabotabek pada kuartal IV tahun ini. “Kami jajaki semua vendor yang ada, mulai dari tahapan desain, pengadaan, penggelaran. Kami berharap dapat menggelar secepatnya, karena kuartal IV sudah harus jalan,” tegas Dicky. Menkominfo Mohammad Nuh mengatakan kepada industri lokal pemerintah telah memberikan dukungan dalam menciptakan ketersediaan pasar. “Tantangan paling berat bagi bisnis itu ada di ketersediaan pasar, porsinya 60%-70% itu market, kalau membuat barang mungkin lebih mudah.” Nuh mengingatkan agar ketersediaan akses WiMax dapat diikuti pertumbuhan industri derivatif di antaranya industri konten. (roni.yunianto@[tautan dihapus]) Oleh Roni Yunianto Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 03/08/09 14:40 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Pemenang BWA Jamin Internet Murah 03/08/2009 11:11:08 WIB Oleh Encep Saepudin JAKARTA, INVESTOR DAILY Pemenang lisensi Broadband Wireless Access (BWA) menjanjikan tarif internet murah ke masyarakat meskipun dalam pembelian frekuensi harus mengeluarkan dana yang cukup besar. Optimisme ini didukung pertumbuhan jumlah pengguna internet yang terus bertambah sehingga membuat harga yang ditawarkan ketika teknologi Wimax dikomersialkan lebih murah ketimbang sekarang. Demikian rangkuman pendapat yang disampaikan dan Menkominfo, M.Nuh, Presiden Direktur IM2 Indar Atmanto, Vice President Director Berca Hardayaperkasa Wendra Halingkar, Direktur Utama First Media Dicky Moechtar, dan Dirut Internux, Irosi Arifudin usai acara penyerahan keputusan penetapan pemenang seleksi BWA 2,3 GHz, Jakarta, Jumat (31/7). Seperti diketahui, Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkomifo) telah menetapkan delapan perusahaan sebagai pemenang tender layanan pita lebar nirkabel (BWA) sebagai penyedia jaringan tetap lokal berbasis packed switched yang menggunakan pita frekuensi radio 2.3 GHz. Hal itu berdasarkan keputusan Menteri Kominfo Nomor 237/KEP/M.KOMINFO/7/2009, yang sudah ditandatangani pada 27 Juli 2009 dan diserahkan pada 31 Juli 2009, agar Menteri Kominfo bisa menyampaikan paparan tentang esensi dari layanan BWA, sehingga akan mudah dimaknai secara lengkap. Delapan perusahaan yang telah mendapat penetapan itu adalah, PT Telkom, PT Indosat Mega Media, PT Internux, PT First Media, PT Jasnita Telekomindo, PT Berca Hardayaperkasa, PT Rahajasa Media Internet, dan Konsorsium PT Comtronics System dan PT Adiwarta Perdania. Menkominfo Muhammad Nuh mengatakan, pengelolaan BWA mempunyai makna khusus. Proses seleksi tender pada pengeloaan BWA juga khusus, sehingga transparansi bisa dijaga. "Frekuensi 2.3 GHz juga sebuah kebijakan yang sistematis dari infrastruktur sampai supporting. Itu juga sesuatu yang khusus," jelasnya. Penyerahan SK layanan BWA ini, sambung M Nuh, merupakan bagian keberpihakan industri dalam negeri tanpa mengesampingkan investor asing, sehingga implikasi ini bisa dipakai di industri domestik. "Sangat terbuka untuk alokasi pita frekuensi BWA," ujarnya. Sementara itu, Presiden Direktur Indosat Mega Media (IM2) Indar Atmanto mengatakan, saat ini jumlah pelanggan IM2 sekitar 330 ribu pelanggan. Dengan jumlah pelanggan yang dimiliki ditambah pelanggan baru dari BWA, Indar yakin tarif internet yang terjangkau bisa dicapai. “Yang penting, tarif disesuaikan dengan mekanisme pasar dan tetap menjamin harga yang terjangkau,” kata Indar. Kendati demikian, dia menolak menyebutkan nilai investasi yang sudah dikeluarkan, serta tarif yang akan dibebankan pada pelanggannya. Terkait pengoperasian frekuensi BWA, Indra menyatakan, pihaknya merencanakan untuk memulainya tahun ini dengan menggunakan infrastruktur yang dimilikinya serta Indosat sebagai group perusahaan. Pendapat senada diutarakan, Vice President Director Berca Hardayaperkasa Wendra Halingkar, dia menyatakan, Berca siap menyediakan layanan internet yang terjangkau untuk pelanggannya. “Pastilah akan kami sediakan tarif internet murah. Kalau jumlah pelanggannya banyak, tarifnya pun pasti menjadi murah,” kata dia. Untuk merealisasikan akses internet melalui BWA, lanjut dia, perusahaan ini akan bermitra dengan sejumlah vendor. Namun demikian, hingga kini, belum diputuskan vendor yang bakal bergabung dengannya. “Nanti kami putuskan , vendor lokal maupun asing mempunyai kesempatan sama yang penting sesuai dengan regulasi yang berlaku” kata dia. Dia mengakui, Berca belum banyak memiliki pengalaman dibidang penyediaan jasa internet. Kendati begitu, dia menolak anggapan kemenangannya dalam tender BWA karena faktor kedekatan dengan pemerintahan. “Berca tidak “buta” buta sama sekali dalam bisnis ini. Soalnya, Berca memiliki unit bisnis TMI-JASATEl, yang khusus diperuntukkan pada jasa solusi komunikasi,” tegasnya. Senada dengan yang lainnya, Direktur PT First Media Dicky Muchtar menjelaskan, harga frekuensi yang ditawarkan tinggi akan membuat harga ke konsumen lebih murah. "Kalau dihitung dari harga sekarang tidak mungkin, tapi dari permintaan bisa. Dari sisi perangkat kita percaya dengan industri telekomunikasi," paparnya. Dicky menambahkan, dalam layanan internet yang diterapkan adalah keterjangkauan dan kecepatan sehingga bisa menggandakan pengguna. "Lebih banyak perangkatnya, sehingga lebih praktis," jelasnya. Sementara itu, Internux yakin tarif internet murah melalui BWA bisa segera dinikmati pengguna internet. Tahun pertama, perusahaan menargetkan sekitar 100 ribu pelanggan. “Kalau pelanggannya tambah terus, otomatis tarif pun turun juga,” kata Arifudin . Untuk jaringan, Internux juga melibatkan sejumlah vendor. Saat ini, kata dia, sudah banyak vendor lokal dan asing yang mempunyai teknologi ini. Dan, pasti perusahaan tidak pusing mencari mitra kerjanya. *** Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 05/08/09 11:56 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Coba di Indonesia, ada yang kayak gini? ----------------- Hebat, 3G Vodafone 21.1MBit/s [tautan dihapus], Jakarta - Vodafone New Zealand mendemonstrasikan jaringan 3G dengan kecepatan unduh sangat kencang hingga 21.1Mbit/s. Operator itu merupakan pertama di dunia yang mengimplementasikan HSPA Plus. Vodafone merupakan perusahaan telekomunikasi pertama di New Zealand yang meluncurkan jaringan 3G pada 2005. Vodafone kembali menaikan standar baru mengimplementasikan HSPA Plus dengan menggandeng Nokia Siemens Networks. Jaringan Vodafone saat ini tengah diupgrade ke kecepatan 7.2Mbit/s. Tapi Vodafone juga menguji coba teknologi HSPA Plus 21.1MBit/s. GM of Networks Vodafone Mike Davies mengatakan demostrasi tersebut sebagai bagian dari rencana jaringan Vodafone. “Meskipun ini hanya sebuah uji coba alfa HSPA Plus, demonstrasi ini menunjukkan kami siap mengimplementasikan teknologi tersebut,” katanya. Langkah selanjutnya pelanggan Vodafone terpilih akan berkesempatan mengujicoba jaringan HSPA Plus pada akhir tahun ini. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 10/08/09 11:11 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G 'Blue print telekomunikasi jangan wacana' Lisensi baru jangan hancurkan industri Sudah menjadi lagu lama apabila regulasi ternyata tidak bisa mengimbangi kecepatan perkembangan teknologi informasi telekomunikasi. Akibatnya, terkadang terjadi tumpang tindih aturan, bahkan tidak jarang regulasi yang sudah disusun diubah kembali secara tiba-tiba, sehingga industri juga terpaksa dengan cepat menyesuaikan diri. Persoalan harga 3G, misalnya, sejak 2006 sudah diungkapkan bahwa pemerintah akan memberikan kepada kelima operator 3G masing-masing sebesar satu blok (5 MHz) dan pengalokasiannya dilakukan melalui proses evaluasi pada Januari 2008. Besaran tarif izin penggunaan pita 3G pada 2008 ditetapkan berdasarkan tingkat pengembangan 3G dan keadaan pasar telekomunikasi pada saat itu, dengan ketentuan nilai tarif tersebut maksimum sama dengan nilai terendah hasil lelang 3G. Hal tersebut bahkan tertuang dalam Peraturan Menkominfo No. 29/2006 mengenai Penyelenggaraan 3G. Kenyataannya, harga pita 3G tambahan baru ?ditawarkan? awal 2009 dan harganya tidak pernah ada sedikit pun wacana turun, padahal seharusnya harga teknologi justru makin murah seiring dengan teledensitas dan penetrasi telekomunikasi yang makin meningkat. Kebijakan di sektor sambungan langsung internasional (SLI) juga hampir selalu berubah-ubah. SLI sebenarnya sudah turun pamor, dan sudah tidak lagi menjadi kue yang menarik, apalagi di tengah konvergensi multimedia yang mengarah kepada IP based. Dengan adanya tiga pemain di sektor layanan tersebut, maka sebenarnya sudah ada persaingan meski masih terlalu pagi untuk melihat hasil dari kompetisi itu. Anggota DPR terpilih Roy Suryo mengatakan kue SLI tidak semengilap tahun sebelumnya, jadi apabila ditambah lagi pemainnya, industri bisa hancur. ?Kompetisi pada layanan SLI, bila hanya disediakan dua operator saja akan kurang sehat, sehingga perlu adanya pemain baru untuk merangsang seluruh operator membangun jaringannya,? tegasnya. Dia mengatakan kompetisi juga menjadi kurang sehat apabila operator SLI terlalu berlebihan. Sekjen Indonesia Telecomunication User Group Mohammad Jumadi mengungkapkan pemerintah sebaiknya melihat dahulu persaingan di sektor SLI dengan tambahan satu pemain karena untuk mencapai persaingan yang kompetitif, bisnis SLI perlu dibangun secara jangka panjang, tidak hanya 4 tahun-5 tahun. Bakrie Telecom dipastikan memenangi tender SLI pada 2007. Pada saat itu (2007), Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar mengungkapkan pemerintah hanya akan memberikan satu lisensi lagi untuk SLI, mengacu pada negara lainnya yang umumnya memiliki tiga operator SLI. Blue print telekomunikasi Perubahan yang mendadak dan tiba-tiba di sektor regulasi telekomunikasi membuktikan pemerintah belum memiliki blue print yang tegas mengenai kebijakan telekomunikasi. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia juga terus mendorong agar pemerintah memiliki blue print telekomunikasi, setidaknya dalam 5 tahun sampai dengan 10 tahun ke depan. Blue print yang jelas dan tegas juga akan meminimalkan pemborosan pemakaian sumber daya alam yang terbatas seperti frekuensi. (arif.pitoyo@[tautan dihapus]) Oleh Arif Pitoyo Wartawan Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 06/02/10 00:31 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Comtronics dan APJII Belum Bayar Lisensi BWA Oleh Encep Saepudin JAKARTA, INVESTOR DAILY Kemenkominfo memerintahkan PT Comtronics Systems dan PT Wireless Telecom Universal segera melunasi kewajiban atas lisensi broadband wireless access (BWA). Kedua konsorsium yang memenangi lisensi BWA itu seharusnya telah melunasinya sebelum 26 Januari 2010. PT Comtronics Systems merupakan konsorsium dari PT Comtronics Systems dan PT Adiwarta Perdania. Sedangkan PT Wireless Telecom Universal (WTU) merupakan gabungan dari sejumlah anggota Asosiasi Perusahaan Jasa Internet Indonesia (Apjii), yang maju tender dengan memakai bendera PT Rahajasa Media Internet. Sesuai aturan, konsorsium yang memenangi lisensi BWA diberi kelonggaran untuk membayar up front fee dan biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi pada 26 Januari 2010. Tenggat itu lebih longgar dibandingkan pemenang tender BWA yang non-konsorsium, yakni pada 17 November 2009. Meski dalam praktiknya, pemenang BWA yang non-konsorsium juga diberi kelonggaran waktu hingga 20 Februari 2010, seperti yang terjadi pada PT Internux. Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemenkominfo Gatot S Dewa Broto mengatakan, waktu pembayaran itu telah dituangkan dalam Keputusan Menteri Kominfo No 264/KEP/M.KOMINFO/8/2009 tentang Penetapan Blok Pita Frekuensi Radio dan Mekanisme Pembayaran BHP Spektrum Frekuensi Radio Kepada Pemenang Seleksi Penyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal Berbasis Packet Switched yang Menggunakan Pita Frekuensi Radio 2.3 GHz untuk Keperluan Layanan Pita Lebar Nirkabel (Wireless Broadband). Perbedaan batas waktu pembayaran antara pemenang tender BWA yang konsorsium dan non-konsorsium, menurut Gatot, bukan diskriminasi, melainkan untuk memberi kesempatan bagi kedua konsorsium tersebut membentuk badan hukum yang harus disahkan Kementerian Hukum dan HAM. “Karena itu, seharusnya mereka segera melakukan kewajiban pembayaran mengingat batas waktu yang diberikan Kemenkominfo sudah terlampaui,” kata Gatot S Dewa Broto dalam penjelasan resminya di Jakarta, Kamis (4/2). Sampai 19 Januari 2010, Kemenkominfo telah menerima pembayaran dari PT Telkomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), PT Indosat Mega Media (IM2) dan PT First Media, PT Berca Hardayaperkasa dan PT Jasnita Telekomindo. Khusus untuk PT Berca Hardayaperkasa, Kemenkominfo hanya memenuhi kewajiban pembayaran BHP frekuensi radio, namun belum membayar kewajiban denda. “PT Internux (yang memenangi zona Jadebotabek dan Banten, red) sampai Rabu (3/2/2010) belum membayar kewajiban maupun dendanya,” kata Gatot. Ketika dihubungi terpisah, Direktur Utama PT WTU Roy Rahajasa Yamin menolak berkomentar atas peringatan dari Kemenkominfo itu. Kewajiban pembayaran ini harus dibicarakan dulu dengan para pemegang saham perusahaan, yang merupakan anggota APJII. Saya harus bicara dengan teman-teman dulu, ya. Nanti baru kami jelaskan,” kata dia singkat. Sementara itu, ujar Gatot, terkait dengan kewajiban para pemilik izin prinsip penyelenggaraan untuk menyampaikan laporan progress report persiapan penggelaran jaringannya, Kemenkominfo menerima laporannya beragam. Beberapa penyelenggara telekomunikasi telah, sedang, dan akan terus melakukan sejumlah persiapan secara intensif. Ada juga yang sedang mempersiapkan pelaksanaan tender bagi pengadaan peralatan untuk jaringannya. “Tendernya (yang digelar pemenang lisensi BWA untuk pengadaan peralatan jaringan Wimax) ditargetkan selesai pada Maret 2010, sehingga pelaksanaan uji laik operasi (ULO) dapat dilakukan pada Juli 2010,” ujar Gatot. Seandainya pemegang lisensi BWA sudah dinyatakan lulus ULO, lanjut dia, tidak terlalu lama lagi operator BWA itu memperoleh izin penyelenggaraan Wimax. Izin ini membuat mereka bisa bisa me- launching layanan internet murah. *** Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 06/02/10 00:33 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Operator WiMax siap gelar 16d Vendor lokal membuka diri masuknya asing JAKARTA: Penyelenggara WiMax meningkatkan kerja sama dan edukasi dengan vendor perangkat lokal menyusul rencana penggelaran teknologi akses berstandar tetap nomadic 16d. Yudi Rulanto, Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT Aplikanusa Lintasarta, menuturkan pihaknya melakukan pengujian perangkat WiMax dari empat vendor lokal. "Dari semuanya, yang lolos dan comply baru satu [vendor] dan tiga lainnya masih membutuhkan perbaikan," ujarnya Kamis. Menurut Yudi, Lintasarta bersikap proaktif membantu vendor lokal mengembangkan teknologi perangkat dalam rangka pengembangan. "Sebelum perangkat kami beli, perangkat ini sudah melewati uji lab lengkap dengan berbagai parameternya, termasuk ketentuan pemerintah terkait 30%-40% komponen lokal," ujarnya. Samsriyono Nugroho, Direktur Usaha PT Aplikanusa Lintasarta mengatakan perangkat tersebut akan memperkuat jaringan akses di samping jaringan akses metro-ethernet, frame relay, virtual private network, dan lainnya. Vendor lokal WiMax yang sudah tersertifikasi TKDN Vendor Mitra kerja sama Hariff Daya Tunggal Trenzeo (Kanada), Harris Telsima*) TRG Trenzeo Wireless (Kanada) LEN Airspan Network (AS) Abhimata Alvarion (Israel)**) Sumber: Ditjen Postel Ket.: *) Belum tersertifikasi TKDN **) akan diganti "Namun, penggelaran WiMax perlu perencanaan jaringan yang tepat mengingat kebutuhan pesatnya kebutuhan bandwidth besar pada 2010-2011," ujarnya. Menurut Samsriyono, dengan spektrum yang dinilai terbatas di fixed WiMax maka dibutuhkan perencanaan dengan menambah infrastruktur kabel optik terutama untuk memenuhi kebutuhan bandwidth pelanggan yang berada di tengah kota. "Pada saatnya kabel optik hadir maka ini akan saling melengkapi," paparnya. PT Hariff Daya Tunggal Engineering yang sudah bekerja sama dengan Trenzeo Wireless Technology asal Kanada disebut-sebut juga menjalin kerja sama dengan Harris Telsima. Budi Permana, Presiden Direktur PT Hariff Daya Tunggal Engineering, menuturkan pihaknya membuka diri untuk menjalin kerja sama dengan vendor luar negeri untuk uji coba perangkat di frekuensi 2,3 GHz untuk memenuhi kebutuhan spesifikasi pengguna. "Dengan siapa pun, komitmen kami tetap sama, tingkat komponen dalam negeri harus kami pegang," ujarnya kepada Bisnis kemarin. Gatot Tetuko, Direktur PT Teknologi Riset Global-salah satu produsen perangkat WiMax lokal-, mengatakan pihaknya tengah melakukan kerja sama pengembangan (joint development) dengan Trenzeo. Kesiapan lokal Dia mengatakan kesiapan vendor lokal menyediakan perangkat yang sesuai kebutuhan tinggal tunggu waktu. "Tidak lama lagi kami optimistis perbaikan-perbaikan dapat diterima [perusahaan pemenang tender WiMax]," ujarnya. Gatot memberikan contoh pengujian dilakukan PT Telkom yang menunjuk Divisi Riset Teknologi Informasi (RisTI) untuk memastikan quality assurance, Indosat Mega Media (IM2) dan Lintasarta memiliki proof of concept atas hasil pengujian perangkat yang menyerap TKDN 30%-40% itu. (roni.yunianto@[tautan dihapus]) Oleh Roni Yunianto Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 25/02/10 06:02 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Tasikmalaya, Pertama Nikmati WiMAX [tautan dihapus], Tasikmalaya - Pemerintah dan perusahaan penyelenggara telekomunikasi menargetkan bahwa pada 2010 seluruh daerah, baik desa atau kota sudah terhubung dengan jaringan Internet. "Direncanakan bahwa tahun 2010 ini seluruh Desa di Indonesia sudah bisa terhubung dengan dunia Internet," kata Direktur Standarisasi dan Audit Aplikasi Telematika Kementerian Komunikasi dan Informatika Ir Woro Indah Widiastuti di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (24/2). Woro yang memawakili Menkominfo di acara peluncuran WiMAX di hotel Mandalawangi Tasikmalaya mengatakan, program tersebut akan membawa manfaat kemajuan teknologi Indonesia. Menurut dia, Kota Tasikmalaya merupakan kota pertama di Indonesia yang dibangun teknologi wireless, sehingga diharapkan kota Tasikmalaya bisa memanfaatkannya untuk e-goverment menuju good governance. "Nantinya dengan WiMAX ini di mana ada sinyal, kapan pun, di mana pun, dan siapa pun bisa menggunakan Internet dan di Tasik adalah kota pertama di Indonesia yang diadakan program WiMAX ini," katanya. Sementara itu Direktur Starcom Solusindo, Budi Permana mengatakan, WiMAX sesuai dengan harapan Wali kota Tasikmalaya Syarif Hidayat untuk menjadikan Kota Tasikmalaya sebagai cyber city. Ia menambahkan, di Indonesia Star Solusindo mengivestasikan Rp6 triliun untuk pengembangan WiMAX dengan tujuan memberikan kemudahan mengakses Internet. "Kami punya mimpi untuk kemajuan negeri dengan memberikan keluasan wawasan dunia dengan akses internetan yang lebih mudah" kata Budi. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 14/06/10 17:42 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Silakan check link berikut: [tautan dihapus] dari salah satu operator Wimax yang akan launching tahun ini... ternyata itu dari First Media... nama productnya Sitra Wimax.. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| ridzkyhassan (Penasihat) 21/06/10 15:16 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Wah lumayan juga yah.. Saatnya beralih dari 3G nih. Masa pake Tri dan Smart cuma 200kbps, katanya 3G. [tautan dihapus] Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 22/06/10 08:57 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G WiMax terancam... ---------------------------------- Pemerintah pilih teknologi LTE Mastel keberatan dengan penghapusan Wimax JAKARTA: Pemerintah mengisyaratkan bakal memilih long term evolution (LTE) dari pada Wimax 16e (mobile Wimax) sebagai peta jalan pengembangan teknologi pita lebar nirkabel di Tanah Air. Namun, regulator juga tidak ingin terlalu terburu-buru dalam mendorong LTE. Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring, dibutuhkan waktu sekitar 2 tahun untuk sampai pada implementasi komersial. Untuk itu, tutur Tifatul, pemerintah akan tetap mempertahankan pengembangan Wimax standar 16.d sebagai teknologi akses pita lebar nomadic (tetap) dan standar LTE sebagai standar pita lebar nirkabel. " Wimax 16.e itu disarankan ke LTE karena lebih baik LTE daripada Wimax 16.e. Wimax 16.e itu mobilitasnya tanggung, di LTE nantinya kita tinggal memperluas spektrum," ujarnya seusai meresmikan riset dan pengembangan teknologi LTE milik Telkomsel, kemarin. LTE adalah bagian dari teknologi GSM hasil dari evolusi teknologi 3G. Adapun Wimax merupakan teknologi nirkabel pita lebar yang dikembangkan oleh Wimax Forum, suatu organisasi yang lahir dari komunitas Internet. Keduanya adalah teknologi telekomunikasi generasi keempat (4G) dan menawarkan akses komunikasi berkecepatan tinggi. Saat disinggung mengenai kesiapan sejumlah vendor lokal dalam memproduksi perangkat Wimax 16.e, Tifatul menegaskan pemerintah tidak pernah menggelar tender teknologi itu. "Yang ada [tender] Wimax 16.d sebagai teknologi broadband stasioner." Dalam 2 tahun ke depan, Tifatul memastikan akan ada beberapa kali uji coba termasuk pengkajian tingkat komponen dalam negeri, dan persiapan tender frekuensi LTE, meskipun implementasi baru dapat dilakukan pada akhir 2012. Persiapan tender membutuhkan waktu 8 bulan. Vendor lokal Dengan wacana tersebut, kemungkinan besar pemerintah tidak akan mengalokasikan frekuensi untuk Wimax 16.e. Padahal saat ini, menurut Ketua Bidang Infrastruktur, Jasa dan Aplikasi Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Sumitro Roestam, delapan vendor lokal telah siap memproduksi perangkat Wimax berstandar 16.e. "Kami tidak setuju dengan opsi penghapusan Wimax 16.e," ujarnya kepada Bisnis. Sumitro menambahkan opsi LTE itu tidak menguntungkan mengingat tidak ada satu pun vendor lokal yang siap. Namun, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono mengatakan Wimax merupakan produk yang sama sekali baru, tidak memiliki rekam jejak, sementara LTE adalah evolusi dari 3G GSM, berawal di Eropa yang sudah teruji 30 tahun di industri seluler. "Secara alamiah para operator akan merasa lebih aman dengan memilih LTE sebagai 4G wireless access," ujarnya. Telkomsel kemarin menjadi operator seluler pertama yang memulai riset dan pengembangan evolusi teknologi mobile broadband LTE atau 3,9G yang melibatkan vendor dan perguruan tinggi di Indonesia. Menurut Direktur Utama PT Telkomsel Sarwoto Atmosutarno, riset dan pengembangan akan memperkuat komitmen operator terbesar itu dalam menanam modal sekaligus memandu perkembangan seluler dalam memasuki era layanan pita lebar bergerak. Dalam riset itu, vendor yang dilibatkan Ericsson, Nokia Siemens Network, Huawei dan ZTE. Dua operator seluler lain, yaitu PT Indosat Tbk dan PT XL Axiata Tbk juga telah mengajukan permohonan uji coba layanan LTE. Anggota BRTI Iwan Krisnadi mengatakan regulator dan pemerintah masih akan mengkaji di frekuensi mana sebaiknya LTE dialokasikan mengingat keterbatasan sumber daya frekuensi. Sejumlah kalangan memprediksi regulator akan memberikan alokasi spektrum pita 2,5GHz untuk LTE. Pita tersebut selama ini diperebutkan antara pelaku industri Wimax dan operator satelit PT Media Citra Indostar. Ketua Forum Komunikasi Broadband Wireless Indonesia Barata Wisnu Wardhana menilai rencana regulator menyiapkan pita 2,5GHz bagi teknologi LTE, yang semula akan digunakan untuk teknologi pita lebar Wimax mobile dianggap tidak berpihak pada pengusaha lokal. Menurut dia, jika opsi tersebut diputuskan, pemerintah terbukti hanya membesarkan operator seluler. Barata meminta regulator tidak hanya mengikuti pasar global, tetapi kepentingan nasional juga harus mendapat porsi lebih. Menurut dia, sebaiknya slot pada pita 2,5GHZ dialokasikan untuk kedua teknologi tersebut. (k2) (fita[email disembunyikan].id/roni.yunianto @[tautan dihapus] Oleh Fita Indah Maulani, Roni Yunianto & Tri D. Pamenan Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| tonosaur (Penasihat) 22/06/10 10:45 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G hmm wimax indonesia bakalan pake 2.5 ya.. tapi ini ntar prekuensinya license gatau free sih..?? kaya wifi itu..?? Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 23/06/10 05:51 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Opsi selain teknologi LTE dikaji Regulator evaluasi implementasi WiMax 16d JAKARTA: Pusat Riset dan Pengembangan PT Telkom akan mengkaji kemungkinan pemanfaatan teknologi lain di luar long term evolution (LTE) sebagai peta jalan evolusi teknologi mobile broadband. Ketua Telkom R&D Center Mustafa Wangsaatmaja mengatakan pihaknya membuka kemungkinan pendekatan lain yaitu rekayasa teknologi high speed packet access plus (HSPA+) sebagai alternatif menghadirkan layanan setara LTE. "Kami akan mengevaluasi keduanya melalui HSPA+ maupun LTE [yang menuntut penggunaan frekuensi] dan riset nantinya bukan hanya di teknologinya saja tetapi juga mencakup lingkungannya," ujarnya di sela-sela demo LTE Telkomsel, awal pekan ini. Dia menambahkan kelebihan HSPA+ dan LTE sama-sama akan dikaji termasuk juga aplikasi-aplikasi dan ekosistem pendukung untuk mendukung bisnis telekomunikasi tersebut. Secara rinci, Mustafa menegaskan kajian itu diharapkan akan menghasilkan laporan gambaran dari respons pasar ke depan yang tentu membutuhkan waktu. Sebagai contoh, riset WiMax, yang pengkajiannya dilakukan dalam 2 tahun pun dinilai masih kurang. "WiMax 16.d belum jalan, sudah datang WiMax 16.e. Untuk WiMax 16.d saya kira ada ceruk pasarnya," ujarnya. Siswanto Dasijo, Vice President Technology Master Plan PT Telkomsel mengatakan pihaknya tidak akan terburu-buru karena evolusi teknologi bukan merupakan revolusi. Strategi fondasi yang dipilih Telkomsel, tuturnya, adalah multimode radio yang artinya tidak akan mengubah platform kecuali melakukan konfigurasi berbasis software saja, LTE, tambah Siswanto, memberikan sejumlah manfaat di antaranya efisiensi frekuensi yang menghasilkan biaya per megabit dapat menjadi lebih optimal. "Efisiensi footprint [penggelaran jaringan BTS] dapat mencapai 70% dan total biaya kepemilikan yang murah akan memberi dampak positif bagi pelanggan karena memungkinkan kami menyediakan layanan yang lebih kompetitif," tuturnya. Sekjen Indonesia Mobile and Online Content Provider Association Sapto Anggoro mengatakan evolusi ke LTE memberi peluang besar bagi industri konten nasional. "Konten apa pun nantinya menjadi mudah diserap dan kami dapat mengembangkan model bisnis baru yang sesuai dengan perkembangan teknologi baru itu yang juga dapat ditawarkan ke operator," ujarnya kepada Bisnis. Evaluasi WiMax Di sisi lain, regulator juga akan mengevaluasi implementasi penggunaan teknologi worldwide interoperability for microwave access (WiMax) 16d untuk layanan data pita lebar di Indonesia pekan depan sebelum memberikan peluang bagi masuknya WiMax 16e. Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengatakan pihaknya pekan lalu telah berkeliling ke vendor WiMax untuk pita 2,3 GHz versi d, yaitu TRG, Hariff, Xirca, dan LEN. "Kami juga melihat kendala apa saja yang menyebabkan sampai saat ini belum ada perangkat maupun layanan komersial menggunakan perangkat teknologi 16d," ujarnya kemarin. Dia mengatakan pihaknya juga melakukan pembicaraan dengan para pemenang lelang serta vendor untuk melihat laporan kemajuan implementasi tender broadband wireless access (BWA) 2,3 GHz yang diselenggarakan tahun lalu. Pemerintah disinyalir lebih memilih mengembangkan teknologi LTE merupakan evolusi dari teknologi yang ada saat ini sesuai roadmap GSMA, asosiasi industri GSM dan operator seluler internasional dibandingkan dengan memilih WiMax 16e. Teknologi WiMax 16e tidak akan menjadi pilihan pemerintah selama teknologi 16d belum diimplementasikan dengan baik meskipun para pemenang tender dan beberapa vendor terus mendesak perangkat 16d diganti dengan 16e. "Tender BWA di pita 2,3 GHz kan sejak awal dikatakan untuk perangkat 16d, bukan 16e," ujar Menkominfo Tifatul Sembiring. Nonot Harsono, anggota BRTI menambahkan WiMax akan menjadi pelangkap untuk layanan Internet, hal ini akan mengalir secara alamiah selama aturan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) terpenuhi. (fita.indah@[tautan dihapus] Oleh Fita Indah Maulani & Roni Yunianto Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 23/06/10 16:20 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Pekan Depan, Wimax 4G Mulai Beraksi di Indonesia Achmad Rouzni Noor II - detikinet Jakarta - Pekan depan, akhir Juni 2010, First Media akan memperkenalkan layanan internet 4G Wimax pertama di Indonesia. Hal itu akan dilakukan jika berhasil mengantungi sertifikat uji laik operasi (ULO) dari Direktorat Standardisasi Ditjen Postel Kementerian Kominfo. Dalam undangan yang diterima detikINET, Rabu (23/6/2010), peluncuran perdana dalam bentuk soft launch itu akan digelar First Media pada hari Senin, 28 Juni 2010, di Lippo Karawaci, Tangerang, Banten. "Setelah lama dinantikan, teknologi 4G Wimax Broadband Internet telah hadir di Indonesia. Jadilah yang pertama membuktikan kehebatannya," tulis prolog dalam undangan soft launch Sitra Wimax. Sitra Wimax merupakan merek dagang First Media untuk layanan broadband wireless access (BWA) Nomadic 802.16d yang dimenangkannya dalam tender lisensi frekuensi di pita 2,3 GHz. Anak perusahaan Lippo itu memenangkan zona 1 (Sumatera Bagian Utara) dengan nilai tender Rp 7.201.000.000 dan zona 4 (Banten dan Jabodetabek) senilai Rp 121.201.000.000. Wimax yang disingkat dari kata Worldwide Interoperability for Microwave Access, merupakan teknologi akses nirkabel pita lebar (broadband wireless access/BWA) yang memiliki kecepatan akses yang tinggi dengan jangkauan yang luas. Dengan kecepatan data teoritis sampai 70 MBps, Wimax dapat diaplikasikan untuk koneksi broadband last mile, backhaul, dan high speed enterprise. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| sagemode (Pendatang Baru) 23/06/10 17:23 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G direktur im2 bilang broadband harganya 500-sejuta itu juga speed 256kbps.trs dengan bangga im2 mau bkin yg under 500rebu. sementara sitra bilang mo bkin 100rebuan diawal dan yakin seiring makin bnyk pelanggan harga pasti turun. jadi mulai keliatan kan penyedia jasa mana yg cuma sekadar mau meraup untung dan yg mau simbiosis mutualisme. denger2 yg unlimited nya jg mo dipangkas dibalikin pake sistem quota plus timebase.kata dia org indonesia belum butuh internet unlimited. lah gimana klo kyk saya pak Hermanudin yg jarang matiin komp sama koneksi internet?? mangknya jgn ngiklan molo di tv bkn bwt bkin jaringan murah trjangkau tapi cepat malah bwt ngisi iklan molo.konsumen ga btuh iklan tapi pelayanan yg baik,2x loh pake pelayanan pak hermanudin dan dua2nya gw biarin angus krn stress,kok layanan internet kyk layanan metromini,jalan lambat bnyk ngetem pulak udah gitu bangga dan malah mo dimahalin pulak.kerennnnn.......bye bye 3G Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 28/06/10 11:34 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Layanan WiMax mulai digelar Persaingan di industri seluler makin ketat JAKARTA: PT First Media Tbk menjadi operator pertama yang menggelar layanan nomadic WiMax berstandar 16.d di Indonesia, menyusul uji laik operasi yang telah digelar pada Jumat pekan lalu. Direktur Standardisasi Ditjen Postel Kemkominfo Azhar Hasyim mengatakan satu operator WiMax (worldwide interoperability for microwave access) telah melaksanakan uji laik operasi. "Sejauh ini baru satu pemenang tender WiMax yang maju ke uji laik operasi," ujarnya kepada Bisnis, pekan lalu. Azhar mengatakan penggelaran WiMax 16.d diperkirakan akan terbangun secara bertahap dan tumbuh sesuai dengan pertumbuhan pelanggan. Dia menambahkan WiMax dan LTE (long term evolution) akan menjadi pilihan teknologi akses untuk digelar di Indonesia. Artinya, salah satu atau kedua-duanya memiliki ruang untuk dikembangkan sebagai pilihan akses broadband. Sebelumnya, Bisnis mendapatkan informasi dari kalangan vendor bahwa PT Telkom dan PT Indosat Mega Media akan siap mengajukan uji laik operasi. Namun, ternyata kedua perusahaan belum siap dan masih menguji perangkat. Indar Atmanto, Direktur Utama PT Indosat Mega Media (IM2), mengatakan pihaknya masih menguji banyak produk perangkat untuk nomadic WiMax 16.d. Meski tidak menegaskan kapan IM2 mengajukan ULO, dirinya berpendapat dalam jangka panjang ketersediaan WiMax juga akan bergantung pada besaran pita spektrum yang selalu menjadi sumber daya terbatas. "Semakin besar spektrum maka WiMax akan semakin baik," ujarnya belum lama ini. Selain FirstMedia, setidaknya ada dua pemenang tender WiMax lainnya yang belum mengajukan ULO yaitu PT Berca Hardayaperkasa dan PT Jasnita Telekomindo. First Media yang akan meluncurkan layanan pada September 2010 itu, mulai mencoba memperkenalkan layanan Internet 4G WiMax pertama di Indonesia itu hari ini sambil menunggu sertifikat uji laik operasi (ULO) dari Postel. Siaran pers yang diterima Bisnis dari manajemen PT First Media Tbk menyebutkan perusahaan itu membentuk unit bisnis khusus WiMax di bawah merek Sitra WiMax, yang akan melayani zona Aceh dan Sumatra bagian utara dan zona Jabodetabek dan Banten yang akan diawali di kawasan Karawaci dan sekitarnya yang secara administratif dan yang merupakan bagian dari Kota Tangerang. Dalam tender tahun lalu, PT First Media telah membayar Rp7,2 miliar untuk zona Sumatra Utara dan Aceh serta Rp121, 20 miliar untuk zona Jabodetabek dan Banten. Zona Jabodetabek dan Banten diklaim sebagai zona dengan harga termahal dibandingkan dengan zona lainnya mengingat area tersebut memiliki angka pengguna Internet tertinggi dibandingkan dengan pada zona-zona lain. Berbasis pita Dalam perkembangan lain, persaingan antara layanan seluler dan fixed wireless access (FWA) diprediksi semakin sengit pascapemberlakuan aturan biaya hak penyelenggaraan (BHP) frekuensi berbasis pita, menggantikan perhitungan BHP frekuensi berbasis izin stasiun radio (ISR). Regulator akan membebaskan operator telekomunikasi untuk mengembangkan bisnis yang menggunakan lisensi telepon tetap dengan mobilitas terbatas (FWA) menjadi layanan seluler melalui pemberlakuan biaya hak penyelenggaraan (BHP) frekuensi berbasis pita. Teguh Prasetya, Group Head VAS Marketing PT Indosat Tbk, mengatakan pihaknya mendukung keputusan pemerintah untuk menerapkan aturan BHP berbasis pita. "Jika aturan itu sudah resmi dikeluarkan, kami tentunya memilih mengembangkan StarOne ke arah seluler agar interkoneksi tidak ribet seperti saat ini," ujarnya. Perkembangan StarOne diharapkan bisa menjadi lebih cepat dibandingkan dengan saat ini karena memiliki kemudahan layanan layaknya jaringan seluler yang tidak mengenal interkoneksi. Pengguna tidak perlu mengaktifkan interkoneksi ketika berpergian ke luar kota. Direktur Corporate Services PT Bakrie Telecom Rahmat Junaidi mengatakan pihaknya setuju pemberlakuan BHP berbasis pita, tetapi jangan sampai ada penghapusan lisensi FWA karena masyarakat masih memerlukannya. "BHP yang harus dibayarkan oleh operator kepada regulator kurang lebih sama penghitungan dengan pita maupun ISR," ujarnya. Dengan pemberlakuan BPH pita, maka operator telekomunikasi seluler dan FWA akan dikenakan kewajiban membayar BHP sesuai dengan lebar pita yang dialokasikan, berbeda dengan sekarang yang perhitungan BHP berbasis ISR dimana antara FWA dan seluler formula penghitungannya berbeda. Otomatis, ketika perhitungan BHP keduanya disamakan, maka layanan yang sekarang mobilitasnya terbatas (FWA) juga bisa memberikan layanan penuh (full mobility) seperti seluler. Hal itu yang disebut unified access licensing. (fita.indah@[tautan dihapus] Oleh Roni Yunianto & Fita Indah Maulani Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 28/06/10 17:22 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Senin, 28/06/2010 12:15 WIB First Media Resmi Kenalkan 4G Wimax Ardhi Suryadhi - detikinet Jakarta - PT First Media Tbk memperkenalkan jaringan akses nirkabel pita lebar generasi keempat (4G) Wimax setelah berhasil melewati tahapan uji laik operasi (ULO) untuk broadband wireless access (BWA) di pita frekuensi 2,3 GHz. Jaringan layanan dengan nama produk Sitra Wimax ini mulai dioperasikan secara terbatas di area Karawaci, Tangerang, dalam soft launch yang digelar di Hotel Imperial Aryaduta, Tangerang, Senin (28/6/2010). First Media sendiri mendapatkan hak penyelenggaraan jaringan tetap lokal di zona 1 yakni Aceh dan Sumatera bagian utara, serta zona 4 yang mencakup daerah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan propinsi Banten. Penyelenggaraan teknologi Wimax Sitra ini akan dilakukan secara bertahap dimulai dari kawasan barat Jakarta dan sekitarnya. Hengkie Liwanto, Presiden Direktur First Media mengatakan, setelah mendapatkan lisensi Wimax pada Juli 2009 lalu, pihaknya langsung mendatangkan sejumlah tenaga ahli dari dalam dan luar negeri. "Dan sekarang hari istimewa itu datang, bukan karena kami yang pertama menyediakan layanan Wimax, atau lantaran karena kami sudah menghabiskan dana ratusan miliar. Tapi karena kami punya komitmen untuk menyediakan akses internet berkecepatan tinggi," tuturnya. ( ash / wsh ) Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 28/06/10 17:23 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G First Media Sudah Habis US$ 50 Juta untuk 4G Wimax Ardhi Suryadhi - detikinet Jakarta - Presiden Direktur PT First Media Hengkie Liwanto mengaku bahwa perusahaannya sudah habis banyak dana untuk menyediakan layanan 4G Wimax di Indonesia. "Hingga saat ini sudah habis menghabiskan sekitar US$ 50 juta," ujarnya dalam soft launch 4G Sitra Wimax di Hotel Imperial Aryaduta, Tangerang, Senin (28/6/2010). Hengkie memaparkan, pada awalnya First Media telah mengeluarkan investasi US$ 25 juta untuk merealisasikan penyelenggaraan Wimax. Dana itu di antaranya untuk biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi tahun pertama Rp 110 miliar, dan untuk infrastruktur lebih dari Rp 500 miliar. "Sementara dalam 10 tahun ke depan kira-kira investasinya bisa lebih dari US$ 350 juta," lanjut Hengkie. Untuk infrastruktur, Sitra Wimax telah memiliki jaringan serat optik sepanjang 5000 kilometer yang terhubung ke lebih dari 600 titik last mile sebagai point of presence (PoP). Dari titik last mile serat optik itu, jaringan Wimax kemudian akan dikoneksikan melalui base station Wimax 16d yang ditempatkan di menara pemancar. Sitra menggunakan infrastruktur eksisting, makanya bisa hadir lebih cepat. Tinggal bangun BTS-nya saja. Menaranya disewa dari Protelindo, XL, Indosat, dan Indonesia Tower. Menurut Direktur Keuangan First Media, Indra Djaja, dana yang diperlukan setidaknya mencapai Rp 1 triliun. "Dananya akan kita dapatkan dari kas internal dan dari eksternal seperti pinjaman perbankan. Bisa juga dari pasar modal, semua opsi akan kita jajaki dan cari yang terbaik," kata dia. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 29/06/10 09:20 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Pemerintah janji percepat uji WiMax Sitra gandeng tujuh penyedia menara gelar 1.500 BTS TANGERANG: Direktorat Jenderal Postel Kemkominfo menjanjikan akan mempercepat perizinan untuk uji laik operasi WiMax dan menyiapkan tim untuk riset dan pengembangan mobile broadband wireless access (m-BWA). Dirjen Pos dan Telekomunikasi Depkominfo Budi Setiawan mengungkapkan instansinya siap memberikan dukungan penuh kepada pemenang tender WiMax untuk segera memproses uji laik operasi. "Kami akan back up administrasi uji laik operasi, selama memenuhi persyaratan tingkat komponen dalam negeri [TKDN] yang ditentukan," ujarnya di sela-sela penyerahan sertifikat ULO zona 4 kepada PT First Media Tbk kemarin. Penegasan Budi tersebut seakan ingin mengingatkan pemenang tender WiMax lainnya di antaranya PT Telkom Tbk, PT Indosat Mega Media (IM2), PT Berca Hardayaperkasa dan PT Jasnita Telekomindo untuk segera mengajukan ULO. Budi juga meminta First Media untuk mengejar ULO di zona 1 yaitu Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatra Utara. Budi berharap peluncuran Sitra WiMax 4G akan turut 'menggoda' sekaligus memicu pasar dan memberi pilihan kepada masyarakat hingga pada saatnya terjadi kompetisi yang sehat dengan layanan lainnya. Direktur Standardisasi Ditjen Postel Kemkominfo Azhar Hasyim mengatakan sesuai persyaratan yang ada, setelah selesainya proses lelang (tender) maka tahap berikutnya adalah pemenang WiMax membangun di ibu kota kecamatan. Azhar menambahkan pihaknya telah membentuk kelompok pengkaji mobile broadband wireless access (m-BWA). "Dana untuk riset kami alokasikan, alat ukur pun kalau perlu kami belikan," tuturnya kepada Bisnis. Meski belum bersedia mengungkapkan dana yang dialokasikan, Azhar mengatakan setidaknya sudah ada 300 orang terbagi dalam 10 kelompok yang terlibat mengkaji m-BWA tersebut. Sitra WiMax Dalam upaya mendukung penggelaran layanan Sitra WiMax, PT First Media menjalin kerja sama dengan tujuh penyedia menara untuk penggelaran base transceiver station (BTS) WiMax. Kumaran Singaram, Presdir Sitra WiMax, mengatakan Sitra menyewa menara dari tujuh penyedia menara diantaranya Protelindo, Indonesia Tower, Tower Bersama, Indosat dan XL Axiata. Adapun belanja modal penggelaran infrastruktur sampai sekitar 1.500 BTS WiMax mencapai sekitar US$100 juta. Presiden Direktur PT First Media Hengkie Liwanto mengatakan pihaknya akan menyiapkan US$350 juta dalam 10 tahun ke depan khusus untuk pengembanagn WiMax. Sejauh ini perusahaan itu telah mengeluarkan dana US$50 juta dan menargetkan dapat meraih lebih dari 100.000-150.000 pelanggan dalam 1 tahun ke depan. Sitra menggunakan tingkat komponen dalam negeri melalui perangkat antena sektoral 2,3 GHz yang diproduksi PT Harrif Daya Tunggal Engineering dan perangkat base station serta subscriber station yang didukung vendor PT Teknologi Riset Global (TRG) sesuai ketentuan TKDN yaitu di atas 30% untuk perangkat customer premise equipment dan di atas 40% untuk base station. Menurut Kumaran, pada saatnya total pengguna WiMax akan menyamai total pengguna Internet broadband kabel FastNet dalam 18 bulan ke depan. Adapun saat ini First Media memiliki total 300.000 pengguna Internet FastNet dan televisi kabel. Dia menegaskan WiMax menjanjikan pertumbuhan yang pesat karena fleksibilitasnya menjangkau lebih banyak pengguna Internet berdasarkan pertimbangan keterbatasan ketersediaan layanan kabel serat optik, atau kualitas layanan dari Internet broadband lainnya. First Media siap menawarkan program promo Sitra WiMax dalam tiga paket layanan dengan kecepatan akses masing-masing 1 Mbps, 2 Mbps, dan 4 Mbps. Meski belum mau mengungkapkan tarifnya, perusahaan itu menyatakan tarifnya tidak akan lebih mahal dibandingkan dengan tarif Internet broadband kabel FastNet. (roni.yunianto@[tautan dihapus]) Oleh Roni Yunianto Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 02/07/10 05:54 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Regulator terus dorong vendor lokal WiMax & LTE sama-sama dibutuhkan JAKARTA: Regulator akan terus mendorong produksi perangkat WiMax 16d untuk pita 2,3GHz yang memenuhi standar tingkat kandungan dalam negeri (TKDN). Sampai sejauh ini dari hasil evaluasi baru satu vendor yang memenuhi ketetapan tersebut. Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono mengatakan sebagai regulator pihaknya terus mendorong vendor untuk meningkatkan persentase kandungan lokal agar memenuhi ketetapan pemerintah. "Saat ini memang baru TRG yang memenuhi ketetapan 30% TKDN untuk perangkat subscribed services atau perangkat terminal pelanggan, dan 40% untuk base transciever station , tetapi vendor lain juga menuju ke sana," ujarnya kepada Bisnis kemarin. Regulator berharap vendor perangkat lainnya tidak kendur semangat untuk meningkatkan TKDN pada perangkat WiMax 16 untuk pita 2,3 GHz. Selain TRG, saat ini Xirca menjadi vendor yang diprediksi segera masuk dalam persaingan penyedia perangkat. Nonot mengakui perangkat memang menjadi salah satu hal yang dipermasalahkan oleh para operator pemenang vendor, tetapi bukan berarti Indonesia tidak mampu menyediakan perangkat yang sesuai standar TKDN dengan harga terjangkau dan mudah diperoleh. Para operator pemenang tender yang tidak bermasalah dengan pembayaran kewajiban biaya hak penyelenggaraan (BHP) tahun pertama dan up front fee adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT First Media Tbk, PT Indosat Mega Media, dan PT Jasnita Telekomindo. Dari keempat perusahaan tersebut, baru First Media yang melakukan uji lain operasi (ULO) untuk zona Jabodetabek yang dimenangkannya pada awal pekan ini. Pemenang lainnya diketahui baru melakukan serangkaian trial, hingga belum memesan perangkat untuk membangun jaringan infrastruktur. Adrian Prasanto, Head of Corporate Communication PT Indosat Mega Media (IM2) mengatakan pihaknya saat ini masih melakukan serangkaian uji coba perangkat dan belum memutuskan menggunakan perangkat dari vendor mana pun. "Kami mencari yang terbaik agar pelanggan juga memperoleh layanan kualitas terbaik dengan harga yang terjangkau dan kompetitif. Masa pembangunan jaringan dan penggelaran layanan diberikan masa hingga akhir tahun ini oleh regulator, akan kami manfaatkan semaksimal mungkin," ujarnya. Sumber Bisnis mengatakan masih ada operator yang khawatir dengan kualitas perangkat yang diklaim regulator dan vendor telah memenuhi persyaratan TKDN. Hal ini membuat operator terus melakukan kalkulasi. "Sebetulnya semakin lama mereka [operator] menunda peluncuran layanan, kerugiannya setara dengan harga satu unit mobil Toyota Kijang baru per harinya," ujarnya. Jalan bersama Sementara itu, Ali Soebroto Oentaryo, managing director PT Panggung Electric Citrabuana - salah satu vendor lokal perangkat WiMax 16e, mengatakan negara seperti Indonesia sebetulnya sangat membutuhkan jaringan Internet pita lebar untuk menggerakkan perekonomian dalam negeri. "Teknologi LTE [long term evolution] boleh saja dikembangkan oleh operator seluler, tetapi mobile WiMax seharusnya juga tetap diimplementasikan," ujarnya kepada Bisnis belum lama ini. Menurut dia, idealnya di Indonesia memang dibutuhkan akses Internet pita lebar melalui jaringan kabel optik. Namun, infrastruktur tersebut membutuhkan biaya yang sangat mahal. Oentaryo mengatakan untuk dapat menggerakkan perekonomian masyarakat, terutama di sektor UMKM, teknologi mobile WiMax seharusnya merupakan opsi yang paling dapat diandalkan. Dengan kondisi itu, dia menilai mobile WiMax dan LTE dapat sama-sama diadopsi di Indonesia karena penggunanya berbeda. Berbeda dengan Ali, menurut John Stefanac, Presiden Qualcomm untuk wilayah Asia Pasifik-perusahaan penyedia teknologi chipset untuk teknologi seluler, secara mayoritas teknologi LTE belakangan lebih dipilih operator dibandingkan dengan WiMax. Karena itu, lanjutnya, penyelenggara layanan telekomunikasi di Indonesia akan lebih mudah mendapatkan dukungan pelayanan jika memilih teknologi yang menjadi mainstream. Hingga saat ini pemerintah masih belum memutuskan apakah akan mengadopsi teknologi mobile WiMax atau LTE sebagai roadmap pengembangan teknologi telekomunikasi generasi keempat. (Tri D. Pamenan) (fita.indah@[tautan dihapus]) Oleh Fita Indah Maulani Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| Buddy (Pendatang Baru) 27/06/11 12:38 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G Mas Willem, Sebenarnya Wimax dan 3G bisa hidup berdampingan, karena 3G banyak digunakan untuk smartphone, sedangkan Wimax akan lebih untuk laptop maupun desktop, yang butuh kapasitas kecepatan maupun volume layanan data yang lebih besar. Ketika penyelenggara layanan voice seperti operator seluler GSM ingin menambahkan layanan data berkecepatan tinggi, teknologi 3G adalah opsi yang paling efisien, karena 3G adalah memang bagian dari roadmap GSM, seperti teknologi layanan data pendahulunya yaitu GPRS dan EDGE. Namun teknologi layanan data dikembangkan terus dengan cepatnya, sehingga muncul teknologi baru seperti Wimax, yang bukan merupakan roadmap dari GSM, dengan kecepatan akses yang jauh lebih tinggi dari 3G. Kalau kecepatan maksimum (download) dari 3G adalah 2 Mbps, maka dengan Wimax bisa mencapai 70 Mbps. Bahkan kecepatan Wimax masih lebih tinggi dari teknologi kelanjutan dari 3G yaitu HSDPA, yang juga dijuluki teknologi 3.5G, dimana kecepatan maksimumnya hanya 14.4 Mbps. Itulah sebabnya banyak pihak yang secara marketing menjuluki Wimax sebagai teknologi 4G. Bahkan teknologi Wimax sejak awal memang dirancang data sentries, berbasis IP, sehingga sangat optimal dan efisien untuk komunikasi data (internet) dan cocok bagi pihak-pihak (ISP) yang ingin menyelenggarakan layanan data berkecepatan tinggi namun secara tradisional tidak memiliki background sebagai penyelenggara layanan suara (operator seluler). Yang disebut-sebut sebagai keunggulan teknologi Wimax dibandingkan teknologi lain yang ada saat ini adalah karena digunakannya teknik modulasi multi carrier yang paling advanced, yang dinamakan OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing), yang paling efisien dalam penggunaan bandwidth, dimana untuk bandwidth (MHz) yang sama dapat menghasilkan data rate (Mbps) yang lebih tinggi, atau untuk data rate (Mbps) yang sama, bandwidth (MHz) yang digunakan lebih sedikit/hemat, dibandingkan teknik modulasi yang lain, padahal bandwidth (frekwensi) adalah resources yang terbatas dan sangat berharga. Disamping itu dibandingkan teknologi lainnya, teknologi Wimax juga lebih tahan terhadap efek Multipath Delay Spread, yaitu gangguan yang disebabkan oleh pantulan gelombang radio oleh gedung-gedung besar/tinggi, karena disisipkannya guard interval antar symbol dalam transmisi sinyal Wimax, dimana gelombang pantul yang diterima didalam range guard interval tsb akan diabaikan. Memang teknologi HSDPA pun juga dikembangkan terus, sebagai evolusi/roadmap dari 3G dan 3.5G (misalnya HSPA+, lalu LTE, yang muncul lebih belakangan dari Wimax dan kinerjanya kurang lebih sama dengan Wimax), namun biaya yang harus dikeluarkan operator untuk migrasi ke teknologi yang lebih baru ini juga semakin meroket (tidak lagi seefisien ketika migrasi ke 3G), karena semakin banyak yang harus diganti, sehingga migrasi ke LTE misalnya, praktis dapat dikatakan sebagai forklift upgrade (upgrade besar-besaran), tidak lebih murah dari pada kalau menggunakan teknologi Wimax untuk layanan datanya. Budi T Post Extras: 🖨️ Cetak |
| qualt (Penasihat) 27/06/11 14:16 | 😐 Re: Ask: Wimax vs 3G sory OOT... 4G : > Gual Geol Gutak Gitek :lol: Post Extras: 🖨️ Cetak |
Kami memakai cookie Google Analytics untuk memahami cara situs ini dipakai. Anda boleh menerima atau menolak. Kebijakan privasi