SERVICEPRO.ID ADALAH SOFTWARE UNTUK PARA TEKNISI DAN BISNIS JASA SERVIS

 

Search di seluruh kategori All Tags Lihat seluruh tags Lihat popular tags di bawah halaman

 

Tahun 2009 Akan dimulai Perang Kualitas??
rss You are here: All : Questions : Tahun 2009 Akan dimulai Perang Kualitas??
vote up
0
vote down

 

Pertumbuhan pelanggan seluler melambat melansir berita dibawah dari okezone, akankah perang tarif mereda dan kualitas makin baik??

Quote:

2009, Pertumbuhan Pelanggan Seluler Akan Melambat

JAKARTA - Pertumbuhan pelanggan layanan telepon tetap nirkabel (FWA) dan GSM pada tahun 2009 diprediksi melambat, dibandingkan dengan tahun 2008. Perpindahan pelanggan sesama CDMA FWA juga diperkirakan akan terjadi pada tahun mendatang, karena pelanggan lebih kritis memilih layanan yang lebih baik.

Demikian diungkapkan Direktur Bakrie Telecom Rakhmat Junaidi pada seminar nasional Peluang dan Tantangan Industri Seluler 2009, di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (26/11/2009).

Menurut Rakhmat, setiap operator FWA perlu lebih bijak dan berhati-hati dalam membelanjakan modalnya, terutama dalam hal promosi karena pertumbuhan yang terjadi sangat lambat. "Promosi yang berlebihan cenderung akan membingungkan pelanggan," ujar Rakhmat.

Rakhmat mengatakan, di tahun 2009 proses merger atau unified antar operator CDMA dimungkinkan akan terjadi. "Tapi kemungkinan hanya sebatas pada level kesepahaman," ujar Rakhmat.

Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia (ATSI) Merza Fachys mengatakan, tantangan bisnis di industri seluler tak hanya ditandai dengan pertumbuhan pelanggan yang lambat, tapi juga banyak tantangan lain yang harus dihadapi.

Merza mengatakan, tantangan bisnis seluler lainnya adalah semakin sulitnya sumber pendanaan dan menurunnya Average Revenue Per User (ARPU). Selain itu, pertumbuhan bisnis juga akan mengarah ke model bisnis outsourcing.

Pertumbuhan pelanggan seluler dan CDMA hingga kuartal ketiga mencapai 147 juta pelanggan, di mana 86 persen dikuasai pasar GSM, sedangkan sisanya, 14 persen dikuasai CDMA.

Fachys mengatakan peluang untuk industri telekomunikasi seluler agar tetap bertahan dan bersaing terletak pada konvergensi layanan. Sistem pengaturan yang jelas juga diperlukan untuk mengantisipasi persaingan yang lebih kondusif.

"Perlu antisipasi pengaturan yang lebih kondusif tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian di industri terkait," ujar Merza.(ugo) (jri)


 

adit38
adit38 RSS
   Reg: 1 decade ago
   Veteran 642 reps My Blog
General How-to CDMA GSM Operator Business

Asked 1 decade ago

 

 

Komentar untuk pertanyaan Post a comment

 

 answer Click disini jika punya solusinya
Solusi terbaru/terbaik berada paling atas.


1 decade ago
vote up
0
vote answer down

emm..... gimana yaa???

DrJones
DrJones
   Reg: 1 decade ago
   Journeyman 69 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

KUALITAS MEMBAIK ????????????????
katanya.....sekali lagi katanya...........na na na

darma78
darma78
   Reg: 1 decade ago
   Journeyman 67 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

Perang tarif antaroperator yang memanas pada tahun 2008 diperkirakan akan mereda pada tahun 2009 mendatang. Operator dinilai akan mengukur sejauh mana kemampuan perusahaannya untuk menurunkan tarif.



"Equilibrum tiap operator berbeda. Operator harus jeli dalam perang tarif jika ingin tetap bertahan," ujar Direktur Bakrie Telecom Rahmat Djunaidi .



Menurut Rahmat, di tahun 2008 perang tarif memang dirasakan pelanggan, tapi sebenarnya tarif belum murah. Hal itu akan membuat seluruh operator akan mengukur kembali seluruh cost untuk melakukan penurunan tarif pada 2009.



Selain itu, situasi krisis global yang dihadapi masyarakat menuntut semua industri untuk melakukan efisiensi. "Bila perang tarif terus dilakukan maka yang akan dirugikan adalah masyarakat," katanya.



Pada 2009 mendatang, operator harus lebih jeli lagi melihat perang tarif seluler untuk dapat bertahan di industri ini.



Pengamat seluler M Hendrowiyono mengatakan, dalam satu dua tahun ke depan diperkirakan akan ada operator yang berguguran jika kondisi persaingan terus memanas. persaingan tersebut juga tidak didukung dengan tingkat ARPU yang terus menurun.



"Di akhir dekade lalu, Indosat boleh berbangga bahwa ARPU dari pelanggan di atas Rp115.000, Telkomsel Rp125.000. Kini tidak hanya Indosat atau Telkomsel, ARPU rata-rata hanya sekira Rp40 ribu, bahkan lebih kecil lagi untuk operator baru," kata Hendrowijono.



-OkeZone-

R_w1n
   Reg: 1 decade ago
   Addicted 1845 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

Senin, 01/12/2008 11:35 WIB
Kolom Telematika
Mendewasakan Industri Telekomunikasi
Penulis: Ventura Elisawati - detikinet

Jakarta - Bersaing, bagi pelaku industri adalah hal yang wajar. Karena sejatinya semua pelaku industri butuh pesaing (lawan) yang bisa dijadikan pendorong untuk memberikan yang terbaik bagi konsumennya. Itu semua akan terjadi bila pelaku industri telah dewasa, sehingga persaingan yang muncul pun persaingan yang sehat.

Tapi rupanya persaingan yang sehat belum nampak di industri telekomunikasi seluler. Mau bukti? Baca saja ini. Perselisihan 2 operator selular besar (Telkomsel dan XL ) minggu lalu – yang dipicu oleh pembakaran materi promosi Telkomsel di daerah Sumatera Utara -- seakan menyadarkan semua pihak bahwa kompetisi di industri telekomunikasi sudah tidak sehat. Bahkan Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar pun langsung bereaksi dan mengundang pimpinan kedua operator tersebut, untuk menjernihkan masalah yang cukup mencoreng citra industri ini.


Mencuatnya praktek liar yang dilakukan provider telekomunikasi juga menggambarkan betapa ketatnya persaingan di industri ini. Perilaku tak elok, tak cuma nampak dari area above the line atau perang iklan yang kerap bernuansa “saling menyudutkan” layanan pesaingnya. “Adu otot” sesungguhnya jauh lebih seru di level below the line melalui pencopotan atribut promosi pesaing, dan sebagainya.

Di industri telekomunikasi, praktek-praktek “liar” semacam itu sebenarnya bukanlah hal baru, bahkan sudah terjadi sejak awal 2000-an. Semisal, saat sebuah operator akan meluncurkan layanannya di suatu daerah baru, ia harus bersiap dan waspada menjaga materi promosinya agar tidak dilucuti oleh operator yang sudah terlbiha dulu eksis di wilayah tersebut. Perselisihan pun makin seru di level distributor dan agen penjualan di lapangan.

Aksi jegal menjegal seperti itu, sebetulnya juga terjadi di sejumlah industri lain. Di industri pers, misalnya, ketika booming di bisnis penerbitan yang didukung konglomerasi pun tak kalah hebohnya. Agen koran bisa saja di”bayar” agar tidak mengedarkan koran pesaing. Atau ada pihak yang sengaja memborong koran milik pesaing, agar tidak sampai ke tangan pembaca, dan masih banyak lagi praktek-praktek liar di lapangan yang terjadi.

Yang juga tak kalah maraknya adalah perang promosi partai. Misalnya, pagi hari, atribut partai A dicopot, siangnya spanduk partai B dilucuti, malamnya poster partai C yang jadi korban. Begitulah pemandangan yang jamak terjadi. Mungkin saja itu memang ada “arahan” dari partai yang bersangkutan, tapi yang lebih sering itu terjadi karena semangat anggota maupun simpatisan partai tersebut. Apalagi, kini dengan 34 partai yang berebut pemilih, sangat memungkinkan terjadinya gesekan di level lapangan seperti yang sudah kerap terjadi selama ini.

Perlu kedewasaan semua pihak

Saat ini industri telekomunikasi selular di Indonesia telah memasuki dekade ke 2. Dari sisi sosial ekonomi, efek pembiakan (multiplier effect) yang ditimbulkan oleh industri ini, sangatlah luar biasa. Kehadiran bisnis telekomunikasi bergerak ini telah menghadirkan lini usaha baru di sektor konten. Belum lagi usaha kecil yang bisa menggerakkan perekonomian rakyat, seperti agen penjual pulsa, ring tone, asesori hape, sampai hape bekas yang tersebar sampai pelosok.

Dari besaran, industri ini telah mampu meraih sekitar 120 juta pelanggan, sementara dari sisi omzet hingga akhir 2008 ini total diperkirakan akan mencapai Rp 70 triliun. Industri ini telah tumbuh secara pesat, berada di jajaran industri papan atas di Indonesia, dan menjadi salah satu industri strategis negara. Geliatnya, tak cuma menarik bagi investor asing untuk masuk, tapi juga pelbagai pihak untuk sekedar mengais peluang bisnis dari sini. Katakanlah, para ibu-ibu rumah tangga yang terpikat untuk jualan pulsa isi ulang untuk sekedar menambah pendapatan rumah tangganya.

Melihat ke dua sisi di atas, rasanya sangat disayangkan jika ke depan, perkembangan (juga persaingannya) di kancah ini diwarnai dengan hal-hal yang kekanak-kanakan seperti yang sudah terjadi. “Kok niru artis-artis saja yang kerap bertikai melalui media.” begitu komentar sejumlah pihak.

Yang juga perlu disadari adalah bahwa industri ini cukup istimewa, dimana unsur kolaboratifnya sangat besar. Sudah tidak ada monopoli, yang terjadi justru kolaborasi, yang mestinya bisa saling menguntungkan. Contohnya, ketika pelanggan operator X menghubungi pelanggan operator Y, keduanya mendapatkan manfaat bisnis.

Dengan pola bisnis semacam ini, sebenarnya banyak persoalan yang bisa disikapi secara dewasa oleh para pelakunya. Karena selama ini mereka juga kerap berkolaborasi dalam perumusan pelbagai kebijakan di industri telekomunikasi. Ada pula organisasi pemersatu seperti ATSI – Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia, yang semestinya bisa menjadi forum untuk menyelesaikan masalah-masalah tehnis - operasional seperti yang selama ini sudah terjadi, termasuk soal-soal marketing dan sales.

Pertanyaannya, sejauh mana para pelaku di industri ini mau dan mampu menyikapi pertumbuhannya secara lebih dewasa. Baik ketika melahirkan program baru, dan mengkomunikasikannya. Juga saat harus “mendidik” para pelaku bisnis terkait (seperti Content Provider, distributor, agen penjualan, bahkan para vendor pembangunan jaringan), untuk mulai berinteraksi secara dewasa dengan stakeholder-nya.

Nampaknya kunci pendewasaan industri ini tak cukup jika yang memegang cuma para pelaku. Dibutuhkan juru kunci lain yaitu regulator yang mampu melihat arah industri ini ke depan, sehingga bisa melahirkan kebijakan-kebijakan yang antisipasif, yang tak sekedar reaktif..

*) Penulis, Ventura Elisawati, adalah blogger sekaligus pemerhati telematika di Indonesia. Dapat dihubungi melalui e-mail akoe[at]vlisa.com atau melalui blog-nya di http://www.vlisa.com. ( wsh / wsh )

rusco
rusco
   Reg: 1 decade ago
   Veteran 628 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

Quote:

sapibobo said:
Yang mana sih? Mobile-8?




Let we see aja....

deyerick
deyerick
   Reg: 1 decade ago
   Senior Member 357 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

Quote:

leo5354 said:
Prediksi gue taun depan akan ada operator yang kolaps. Siapa dia, kita tunggu saja tanggal mainnya nanti kalau terbukti




Yang mana sih? Mobile-8?

sapibobo
sapibobo
   Reg: 1 decade ago
   Journeyman 60 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

Operator di Indonesia mayoritas dipegang sama orang asing

R_w1n
   Reg: 1 decade ago
   Addicted 1845 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

ho oh, Tsel juga bapuk nih sekarang (saya pelanggan Kartu Halo, nomer utama lagi)

yg bangkrut... wah Mobile-8 lagi empot2an skrg karena pemegang sahamnya lebih tertarik ama bisnis media (menurut koran). Kalo Bakrie Telecom itu induknya juga empot2an. Yg lain2... sahamnya punya orang luar semua. Hehe.. operator mana di Indonesia yg sahamnya masih mayoritas punya orang Indonesia ya?

liat2aja
liat2aja
   Reg: 1 decade ago
   Senior Member 294 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

setuju ma om leo kayanya bakal ada yg kolaps ne taun dpn mngkn jg bisa ada yg merger....

joinx
joinx
   Reg: 1 decade ago
   Full Member 105 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

Murah & layanan makin baik.. Amien

silas
   Reg: 1 decade ago
   Senior Member 441 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

semoga hal ini bisa terjadi ... terutama service data biar lebih mantap lagi

Bahendra
HajiGaul
   Reg: 1 decade ago
   Journeyman 82 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

om leo dapet inpo dr mana neh? mama laurent yah?

dollpin
dollpin
   Reg: 1 decade ago
   Explorer 36 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

ah, service tsel belakangan juga bapuk... hehe.

Lando
lando11
   Reg: 1 decade ago
   Full Member 176 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down


Ngomongin Quality of Service, ya pastilah Telkomsel yang masih jadi leader nya.

Heats
Heats
   Reg: 1 decade ago
   Explorer 29 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

serem banget om leo...

rendans
rendans
   Reg: 1 decade ago
   Newbie 10 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

Prediksi gue taun depan akan ada operator yang kolaps. Siapa dia, kita tunggu saja tanggal mainnya nanti kalau terbukti

leo5354
leo5354
   Reg: 1 decade ago
   Full Member 217 reps

 

 

 




Get daily update for this topic:

 

Hanya JAWABAN yang di postkan di form ini. KOMENTAR gunakan menu "Post a comment"
Logged in as Guest

18 + 1 =
Untuk melihat Preview, click: diatas form.

Selamat datang di Forumponsel. Indonesia's gadget talk. Dapatkan fitur lengkap dengan login.


Pertanyaan terkait
Alarmy -- Aplikasi Alarm dari Neraka
[ask] tablet Android 10 inch,quadcore,upgradeable,
error hp blackbeery
Beda garansi distributor dan operator?
handphone tidak berkamera
BAGAIMANA SIH CARA INSTAL ULANG SISTEM HTC HD2..
Beli gadget online dimana ya?
Apakah ada ponsel cina yang mendukung backup/restore phonebook menggunakan syncML?
XL Blacberry One ko ga bisa unregister ya?
BB CURVE 3G
Ada huruf r di hp cdma samsung sch-e189
cdma qwerty
LG ID90c
review HP SmartFren XStream EVDO
Di mana tempat inject samsung galaxy tab cdma verizon ke operator lokal
Aplikasi Gratis Android Yang Wajib Dimiliki Tenaga Kesehatan
rampok.... rampok.... apakah masih ada?
kok sepi
[ASK] Apakah HP GSM Indo bisa dipakai di Jerman? (ex: Nokia C5-00)
tentanga axis
harga samsung
Region Lock
sms masuk terus menerus di nomer yang sama
Nomor GSM tidak dapat dihubungi sepulang dari US
Ada huruf r di hp cdma samsung sch-e189


Search database:
Min. 4 characters


Daftar/Login dengan
Facebook Twitter Yahoo
Google Wordpress Blogger


Username
Password