SERVICEPRO.ID ADALAH SOFTWARE UNTUK PARA TEKNISI DAN BISNIS JASA SERVIS

 

Search di seluruh kategori All Tags Lihat seluruh tags Lihat popular tags di bawah halaman

 

Perang Tarif Operator = Perang Singapura vs Malaysia di Indonesia ????
rss You are here: All : Questions : Perang Tarif Operator = Perang Singapura vs Malaysia di Indonesia ????
vote up
3
vote down

 

Sebelum mulai nulis, gue cuma mo bilang kalo apa yang gue tulis ini murni interpretasi gue pribadi. Gue ga kerja di operator telko manapun, tidak terkait dgn telko manapun dan tidak berkepentingan di telko manapun. Pure user dan pengguna seluler aja.

Mencermati perang tarif operator seluler khususnya GSM akhir2 ini di satu sisi bikin gue sebagai pelanggan seneng karena akhirnya gue punya kebebasan buat milih operator mana yang mau gue pake dengan dasar pertimbangan tarif yang murah. Perkara signal jadi drop mah gue yakin hampir semua org maklum karena memang itu adalah hal yang lumrah terjadi. Namun disisi lain gue melihat ada hal lain dibalik fenomena perang tarif ini.

Seperti kita ketahui Telkomsel dan Indosat mayoritas sahamnya dikuasai oleh TEMASEK (BUMN milik pemerintah Singapura) sedangkan XL mayoritas sahamnya dikuasai oleh Telekom Malaysia (TM) yang notabene milik pemerintah Malaysia. Buat gue secara tidak langsung perang tarif itu mencerminkan persaingan antar kedua negara dalam usaha menancapkan pengaruhnya dalam dunia telekomunikasi di negara kita. Sungguh miris kalo mengingat bahwa 2 negara tersebut justru melakukan perang di negara kita secara tidak langsung. Lebih miris lagi kalo mengingat bahwa sebetulnya 2 negara tersebut kalau mau dilihat lebih jujur sebetulnya tidak punya kelebihan apapun dibanding negara kita kecuali fakta bahwa pemerintahan mereka lebih pandai dalam mengelola negara.

Soal kekayaan alam, apa yang bisa dibanggakan oleh Singapura yang ukurannya tidak lebih besar dari Jakarta ??? Begitu juga Malaysia, berapa banyak seh kekayaan alam mereka dibandingkan negara kita ??? Jumlah penduduk ??? Ga ada apa2nya lah kedua negara tetangga dibandingkan Indonesia. Tapi sekali lagi seperti udah gue sebut diatas, kelebihan mereka adalah bahwa pemerintahannya lebih cakap mengelola negara sehingga mereka yang notabene tidak punya modal lebih baik malah bisa lebih maju dari negara kita.

Yang lebih bikin gue sedih lagi, justru adalah fakta bahwa sektor telekomunikasi Indonesia yang merupakan hal yang vital bagi sebuah negara justru dikuasai oleh negara asing. Ini yang menyebabkan kedua negara tetangga bisa melakukan persaingan untuk menguasai sektor telekomunikasi di negara kita. Buat gue, hal ini sama aja artinya kedaulatan negara ini diinjak2 karena mereka melakukan perang tarif di negara ini. Posisi kita ini sekarang seperti kata pepatah "Gajah sama gajah bertarung, pelanduk mati di tengah-tengah".

Apakah kita sebagai suatu bangsa sungguh2 tidak berdaya melihat 2 negara lain yang menguasai sektor telekomunikasi melakukan perang tarif di negara ini ??? Tidakkah bro n sis sekalian pingin melihat hal yang sebaliknya ??? Kenapa tidak sebaliknya kita sebagai bangsa yang besar mampu mempunyai industri telekomunikasi yang maju. Bahkan kalau perlu ekspasi ke negara tetangga dan bahkan menguasai sektor telekomunikasi di negara tetangga ???

Gue rasa sekian unek2 gue, kalau ada yang mo menyampaikan opini terkait pendapat gue silakan aja. Tapi tolong dipahami sekali lagi ini semua pure pendapat gue pribadi lho. Ga ada unsur2 apapun di dalamnya

 

leo5354
leo5354 RSS
   Reg: 1 decade ago
   Full Member 217 reps My Blog
General How-to GSM Operator

Asked 1 decade ago

 

 

Komentar untuk pertanyaan Post a comment

 

 answer Click disini jika punya solusinya
Solusi terbaru/terbaik berada paling atas.


1 decade ago
vote up
0
vote answer down

@ atas : Gue pernah denger soal program yang dipake FBI sama CIA buat monitoring semua email yang beredar di Google, Yahoo atau email gratisan lainnya. Kalo gue ga salah ada warga AS sendiri yang menuntut atas penyadapan email2 tersebut. Tapi gue ta tau pasti hasil akhir dari tuntutan itu. Yang gue mau nunjukkin adalah fakta bahwa penyadapan atas informasi itu bisa dilakukan dengan semua cara dan tidak harus dilakukan oleh level pekerjaan tertentu. Setiap manajemen punya policy2 tersendiri. Dan mungkin aja tanpa kita ketahui policy itu yang dijadikan alat untuk melakukan penyadapan. Tapi biar ga OOT gue ga mo memperpanjang soal penyadapan data rahasia. Gue lebih ngeliat ke fakta bahwa sektor telekomunikasi yang sebetulnya vital buat suatu negara kenapa bisa dikuasai mayoritasnya oleh negara asing.

Perkara ada perusahaan sini yang menguasai pelabuhan di RRC kita musti melihat fakta bahwa biarpun perusahaan itu dimiliki oleh org sini tapi pastinya disana bergerak dengan melalui perusahaan lokal jg. Dan itupun gue yakin pelabuhan yang dikuasai bukanlah pelabuhan yang vital macam Shanghai. Pointnya adalah boleh aja pihak asing menguasai sektor tertentu tapi jgnlah sampai menguasai mayoritas atau menguasai hal yang sangat penting.

Itu aja seh sebetulnya concern gue. Trus soal kenapa gue ngeliat ada persaingan antar kedua negara mungkin adalah faktor kebetulan bahwa sektor telekomunikasi kita saat ini dikuasai oleh perusahaan milik kedua negara tersebut. Dan tanpa melupakan fakta kadangkala antar kedua negara jg sepertinya bersaing makanya gue ngerasa mungkin aja ada kaitannya.

But as i said, apa yang gue kemukakan adalah pure pendapat gue pribadi, yang bisa jadi benar atau bisa juga salah.

leo5354
leo5354
   Reg: 1 decade ago
   Full Member 217 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down



My previous posting

Soal informasi bisa disadap negera lain sudah sering dibahas deh. Diatas adalah link ke salah satu pendapat saya tentang ini.

Menurut aku sih yang bikin isu ancaman keamanan itu biasanya politikus. Apa aja bisa dipermasalahkan. Walaupun secara teknis sanggat sulit. Memangnya direksi dari pihak Singapore atau Malaysia tau bit and bytenya system yang dipake...? Yang bisa monitor percakapan pasti level teknisi. Nah kalo teknisinya berkhianat baru tuh percakapan bisa direkam sama pihak luar. Nggak perlu negara pemegang saham, China, Amerika, Rusia juga bisa kalo mau main kaya spion-2 an gitu.

Kenapa kita nggak takut sama Microsoft...? Dia yang paling gampang ambil data disemua komputer yang terhubung ke internet. Jauh lebih berbahaya dari direkamnya pembicaraan lewat seluler. Atau Ericsson yang bikin software...?

Menurut aku sih investasi negara asing disemua sektor industri adalah murni hitung-2an bisnis. Pengusaha kita juga banyak koq yang investasi di luar negeri. Terakhir ada group Aneka Kimia Raya yang ambil alih beberapa pelabuhan di China. Orang Chinanya nggak ada yang ribut kaya karyawan Pelindo yang kebakaran jengot sampe demo segala (soalnya kalo dimiliki orang asing khan susah korupsi he he he...).

stickerlifter
   Reg: 1 decade ago
   Senior Member 270 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

pemenangnya bukanlah TM,maxis, atau temasek.
pemenang sebenarnya adalah Nokia, Ericsson, Siemens.

Lihatlah bagaimana mereka kelabakan ketika kue mereka direbut oleh huawei dan ZTE di CDMA.

prameswara
   Reg: 1 decade ago
   Newbie 0 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

pendapatan per kapita indonesia malaysia dan singapura berapa ya?

ILCapitano
   Reg: 1 decade ago
   Specialist 7049 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

TM tidak mungkin masuk ke pasar singapura, selain karena pasar disana sudah settle, dimana penetrasi telepon selular hampir mencapai titik jenuh, begitu pulsa sebaliknya, SingTel tidak masuk ke Malaysia karena penetrasi disana sudah mencapai 70%, Indonesia? 40% saja belum sampe kan, jadi secara statistik, market disini masih sangat besar.

Pemerintah kita, memang saya setuju utk mengatakan bahwa seharusnya mereka tidak melepas Indosat, tapi, tujuan perusahaan asing tersebut adalah mencari devisa bagi negara, SingTel notabene dimiliki oleh perusahaan investasi plat emrah singapura, Temasek, mungkin TM juga adalah perusahaan milik Khazanah Nasional, tujuannya adalah supaya mencari pendapatan dari luar negeri untuk masuk ke kas negara, kalau persaingan negara yg kita bicarakan, bicarakanlah misalkan pertumbuhan GDP mereka, atau Human Right Index, atau peringkat ekonomi mereka.

Trust_No1
r3ndhy
   Reg: 1 decade ago
   Full Member 155 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

hello,

dengan dikuasi telco kita oleh negara2 lain. informasi rahasia di negara kita bisa dengan mudah disadap oleh negara lain. telekomunikasi merupakan salah satu infrastruktur penting dalam 1 negara. jika komunikasi kita sudah dikuasai oleh negara lain bisa dengan mudah hal diatas dilakukan. saat ini apa negara2 tersebut melakukan hal itu? kita tidak akan pernah tau. hanya direksi2 diatas yang tahu.

ILCapitano
   Reg: 1 decade ago
   Specialist 7049 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

Quote:

Trust_No1 said:
ah, menurut saya berlebihan kalu kita kemudian memaksakan untuk menyambungan persailngan operator dengan persaingan antara malaysia dan singapura, ini adalah industri bisnis, bukan institusi bernama negara, murni yg terjadi adalah usaha untuk memperebutkan market share, bukan merefleksikan persaingan antar negara




Anda yakin ??? Kalau memang tujuannya memperebutkan market share kenapa TM ga masuk ke Singapura dan membeli perusahaan Telco disana buat bersaing ??? Begitu pula sebaliknya ???

Justru dengan pendapat anda itu makin membenarkan asumsi gue kalo karena KEBODOHAN pemerintah kita lah makanya kedua negara itu dengan kedok investasi membeli perusahaan disini lantas perang harga disini karena kedua negara tersebut tidak bisa saling bersaing secara langsung di negara mereka masing2 kan ???

leo5354
leo5354
   Reg: 1 decade ago
   Full Member 217 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

klo menurutku adanya provider2 itu justru berdampak baik juga bagi kita, bayangin aja klo g ada mereka kita g bisa dapet pendapatan dari mereka dan menikmati teknologi GSM seperti sekarang. permasalahnya pemerintah yang telat bertindak sehingga provider2 dari luar masuk dari dulu dan saat CDMA masuk dengan Flexi,esia,ceria,dll mereka terhitung pemain baru jelas aja kalah dari awalnya aja udah kalah start. masyarakat terlanjur udah pake GSM dari dulu dan untuk merubah ke CDMA bukan perkara gampang. klo dilihat2 lagi Provider lokal itu ada karena perusahaan lokal yang cukup kaya di indo yang kemudian tertarik untuk bisnis di dunia telco kesusksesan mereka juga g lepas dari peran investor asing.

di dunia globalisasi sekarang g bisa kita liat asal negara dari sebuah perusahaan karena dengan globalisasi sebuah perusahaan g harus punya tempat di suatu negara atau identik dengan negara asal. Semua sudah bergerak hampir skala global sehingga ketika sebuah perushaan main di industri perdangan internasional yang terjadi y bisnis dan g ada hubungan dengan negara asal. masalah mereka berperang di negri kita sah2 aja menurutq dan kita juga yang di untungkan belum tentu loh klo pemerintah yang megang tarif bisa semurah sekarang.

diktus_keren
   Reg: 1 decade ago
   Full Member 155 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

ah, menurut saya berlebihan kalu kita kemudian memaksakan untuk menyambungan persailngan operator dengan persaingan antara malaysia dan singapura, ini adalah industri bisnis, bukan institusi bernama negara, murni yg terjadi adalah usaha untuk memperebutkan market share, bukan merefleksikan persaingan antar negara

Trust_No1
r3ndhy
   Reg: 1 decade ago
   Full Member 155 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

Kalo menurut saya bukan itu saja bro, tapi perang antara Telkom Malaysia (TM - XL) dengan Maxis (Axis) dimana di negara asal mereka saling bersaing, yang saya dengar TM menang dari segi aktivasi nya sedangkan dari pendapatan (laba) dimenangkan oleh AXIS. Lalu bersaing di Indonesia. CMIIW

GSM_EXPERT
   Reg: 1 decade ago
   Journeyman 53 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

Tul.. kan pemerintah masih megang 65%

tapi pemerintah lah yang [beep], sehingga yang 35% bisa mengendalikan yang 65%...

EvoTech
evotech
   Reg: 1 decade ago
   Full Member 145 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

telkomsel mayoritas saham masi dipegang telkom kan

artea
malv16
   Reg: 1 decade ago
   Newbie 0 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

esia, ceria, smart, flexi... masih dalam negeri

fren gw gak tau persis, mereka milik MNC sih... jd bisa dibilang Indo juga?

semua CDMA ya hehehehe padahal ini forum GSM

Z0MBI3
z0mbi3
   Reg: 1 decade ago
   Journeyman 80 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

Quote:


Keadaan negara kita saat ini adalah sangat-sangat menyedihkan, sakit parah dan mengalami banyak komplikasi. Kalau cuma menyalah-nyalahkan atau mencari kambing hitam di luar negeri, ga banyak gunanya.
Bagi yang masih merasa cinta kepada negeri ini, belajar dan bekerja sebaik-baiknya, mengembangkan diri dan membuka jaringan seluas-luasnya sehingga kelak bila mendapat kesempatan memimpin negeri ini, bisa menghindari kesalahan2 yang masih dibuat oleh pemimpin kita saat ini.





saya pribadi sependapat dengan om cybershot. namun keadaan parah dan menyedihkan ini masih bisa di benahi, rhenald kasali pun dalam bukunya "CHANGE" sejauh apa anda melangkah tidak masalah asal anda menyadari itu salah maka "CHANGE" (CMIIW)

nah saat ini para pebisnis dan pemerintah apakah telah menyadari kesalahan ini, mungkin karena mereka belum menyadari-nya sehingga masih terjadi,

mungkin karena belum menyadari definisi demokrasi kantor PKS di bandung dilempar molotov, mungkin karena kurang menyadari tujuan demokrasi pemilihan gubernur sul sel berlarut-larut penyelesaiannya, mungkin mereka belum menyadari kalo dijadikan kambing hitam KPK.

now make a "Change"...

titik

Jouledoc
jouledoc
   Reg: 1 decade ago
   Newbie 22 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

Kapitalisme seperti saudara kembarnya komunisme, tidak mengenal konsep negara dan bangsa. Kapitalisme cuma mengenal modal, kesempatan dan untung. Kalau ada kesempatan terbuka mereguk untung di negeri kita tentu saja mereka masuk. Bahwa perusahaan2 kita diambil alih oleh mereka, itu sudah hukum rimba yang dibuat si kapitalis. Yang besar memakan yang kecil. Dalam jangka pendek, sebagai pemakai kita untung, biaya jadi lebih murah, sesama kapitalis saling bersaing. Dalam jangka panjang, artinya segala profit perusahaan2 ini pada akhirnya mengalir ke si kapitalis luar tersebut, secara gak langsung, ikut bikin makmur negara asal si kapitalis, sementara kita cukup jadi konsumen. Nah ini yang disayangkan, kalau pada akhirnya kita cuma jadi jongos penjajahan modern, buat apa kakek2 kita dulu mati-matian mengorbankan jiwa dan raga untuk kemerdekaan kita?
Keadaan negara kita saat ini adalah sangat-sangat menyedihkan, sakit parah dan mengalami banyak komplikasi. Kalau cuma menyalah-nyalahkan atau mencari kambing hitam di luar negeri, ga banyak gunanya.
Bagi yang masih merasa cinta kepada negeri ini, belajar dan bekerja sebaik-baiknya, mengembangkan diri dan membuka jaringan seluas-luasnya sehingga kelak bila mendapat kesempatan memimpin negeri ini, bisa menghindari kesalahan2 yang masih dibuat oleh pemimpin kita saat ini.

cybershot
cybershot
   Reg: 1 decade ago
   Journeyman 69 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

Quote:


TKI kita tetap aja cuma jadi pekerja. sementara di sektor telekom ini, mereka yang jadi "bos" nya





Think like a hero...

Jouledoc
jouledoc
   Reg: 1 decade ago
   Newbie 22 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

Quote:


jadi 2 operator vs 2 operator neh bro.

XL dan AXIS dari Malaysia

vs

Telkomsel dan Indosat dari Singapura





Pertama, ini semata-mata bukan perang dalam kata lain negara, seperti subject diatas.

namun, ini merupakan model yang terjadi karena, banyak faktor lainnya.

salah satunya adalah penetrasi CDMA yang sangat cepat, ditambah faktor adv operator CDMA seperti esia.

setelah itu baru banyak operator GSM mulai menurunkan tarif mereka sedikit demi sedikit.

jadi sebenarnya tarif saat ini merupakan akumulasi keadaan yang lalu.

perkara model iklan yang seperti ini

http://www.jouledoc.com/hobby/artikel/akibat-iklan-manusia-dan-hewan.dot

juga merupakan impact dari para operator ini mengambil hati customer.

mungkin jika kita menganalisa sampai ke lintas region juga tidak ada salahnya, namun juga bukan itu faktornya.

in fact masing2x operator baik Maxis, Saudi Telecom, Sing Tel mereka memiliki basis kuat dimasing2x negara mereka.

yang jadi masalah saat ini adalah, kebijakan pemerintah yang belum bisa mengatur secara ketat baik di tarif penggunaan jalur radio, dan banyak faktor lainnya.

kembali ke subject, saya sendiri prefer investor masuk ke sini, karena jika tidak ada investor maka persaingan usaha menjadi kurang kuat, lihat telkomsel yang saat ini masuk ke top 50 good company in asia versi forbes setelah masuk-nya sing-tel.

dengan masuknya investor asing kedalam badan perusahaan lokal, secara tidak langsung mereka juga akan membawa policy corporate mereka.

jika anda mengikuti berita dan seminar mark plus n co, memang tahun ini permainan tarif khususnya operator selular masih terus berlanjut karena mereka saling merebut "niche" market (CMIIW)

so, untuk kedepan diharapkan dari pihak operator sendiri tidak hanya menurunkan tarif namun juga jangan menurunkan kualitas selular anda. tapi anda menaikan standar QC & QA anda.

Joule,

Jouledoc
jouledoc
   Reg: 1 decade ago
   Newbie 22 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

TKI kita tetap aja cuma jadi pekerja. sementara di sektor telekom ini, mereka yang jadi "bos" nya

Lando
lando11
   Reg: 1 decade ago
   Full Member 176 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

Dari sektor telekomunikasi kita memang dijajah, tapi jangan lupa di sektor tenaga kerja, negara mana yg tidak kenal TKI kita?

Syahmaratungga
   Reg: 1 decade ago
   Newbie 15 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

daripada buat bakrie, mending gw pake op luar negri deh

Lando
lando11
   Reg: 1 decade ago
   Full Member 176 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

Quote:

mushu said:
@ Vnee..

Pake opeartor yg pure punya dalem negri bos.. kayanya tinggal telkomflexi doang deh kalo buat saat ini..




emangnya ESianya Bakrie Group ga pure dalam negeri?

ILCapitano
   Reg: 1 decade ago
   Specialist 7049 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

yg punya dalam negri siapa? smart??

Lando
lando11
   Reg: 1 decade ago
   Full Member 176 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

@ Vnee..

Pake opeartor yg pure punya dalem negri bos.. kayanya tinggal telkomflexi doang deh kalo buat saat ini..

mushu
   Reg: 1 decade ago
   Explorer 30 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

kalo mo bela negara sendiri, gimana caranya?

jadi pusing deh....!

Vnee
Vnee
   Reg: 1 decade ago
   Newbie 0 reps

 

 

 

1 decade ago
vote up
0
vote answer down

Telekom Malaysia
From Wikipedia, the free encyclopedia
TM (Telekom Malaysia) Bhd

Type Public
Founded Incorporated 12 October 1984
Headquarters Headquartered in Kuala Lumpur, Malaysia
Key people Dato' Abdul Wahid Omar, Group CEO
Industry Telecommunication
Products Telecommunication Services
Revenue ▲ RM16.40 billion (USD5.08 billion) (2006)
Employees 30,000 Groupwide
Slogan "Merintis Kemungkinan (Opening up Possibilities)"
Website www.tm.com.my

Telekom Malaysia Berhad (TM, MYX: 4863) is the largest telecommunication company in Malaysia and also Southeast Asia's second-largest telecommunication company. It has a monopoly on the fixed line network and has a considerable market share of the mobile communications market after its acquisition of Celcom and merging with its mobile operation arm, TMTouch.
TM has an internet service provider subsidiary (TM Net) offering narrowband and broadband connectivity. Broadband connectivity is through DSL under TM Net's Streamyx brand. Due to its near monopoly of the last mile connections, TM Net is now the sole DSL broadband provider in the country.
Telekom Malaysia officially changed its global brand from Telekom Malaysia to TM in April 2005.
Telekom Malaysia Berhad (TM), is one of the largest listed companies on Bursa Malaysia with an operating revenue of more than RM16 billion[1] and total asset over RM41.8 billion [2] . TM is a government-linked company, reporting government shareholdings of over 36%[3]. Of the remaining shares, less than 4% are held by non-bumiputera Malaysians, the racial distinction being an example of the government's affirmative action policy.

ILCapitano
   Reg: 1 decade ago
   Specialist 7049 reps

 

 

 




Tidak puas? Browse tags berikut
General How-to GSM Operator
Ad new topic Atau postkan pertanyaan sendiri
Get daily update for this topic:

 

Hanya JAWABAN yang di postkan di form ini. KOMENTAR gunakan menu "Post a comment"
Logged in as Guest

18 + 1 =
Untuk melihat Preview, click: diatas form.

Selamat datang di Forumponsel. Indonesia's gadget talk. Dapatkan fitur lengkap dengan login.


Pertanyaan terkait
Alarmy -- Aplikasi Alarm dari Neraka
[ask] tablet Android 10 inch,quadcore,upgradeable,
error hp blackbeery
Beda garansi distributor dan operator?
handphone tidak berkamera
[Ask] Download software PC dari HP
[Ask n Polling] Adakah org yg nyaman ngetik dokumen di HP touchscreen?
BAGAIMANA SIH CARA INSTAL ULANG SISTEM HTC HD2..
Beli gadget online dimana ya?
Apakah ada ponsel cina yang mendukung backup/restore phonebook menggunakan syncML?
XL Blacberry One ko ga bisa unregister ya?
BB CURVE 3G
[ASK] Cara Bongkar Casing 5730?
email setting BB Gemini
Aplikasi Gratis Android Yang Wajib Dimiliki Tenaga Kesehatan
rampok.... rampok.... apakah masih ada?
kok sepi
[ASK] Apakah HP GSM Indo bisa dipakai di Jerman? (ex: Nokia C5-00)
tentanga axis
Review K-Touch H900
ada ga tarif SMS ke luar negeri (singapore) yg murah? < Rp 500
harga samsung
Region Lock
sms masuk terus menerus di nomer yang sama
Nomor GSM tidak dapat dihubungi sepulang dari US
Ada huruf r di hp cdma samsung sch-e189
Operator di Perancis
blackberry hilang


Search database:
Min. 4 characters


Daftar/Login dengan
Facebook Twitter Yahoo
Google Wordpress Blogger


Username
Password