| AdiaCO (Pendatang Baru) 25/01/05 00:16 | 🙂 Anehnya Starone (padahal INDOSAT) ??? Saya pakai moto V120 E, inject pleki (1900) & esia (800) bisa tdk ada kesulitan apapun. tp kenapa starone tidak bisa ??? betul gak sih esia gak bisa call ke starone begitu juga sebaliknya ? thanxx Post Extras: 🖨️ Cetak |
| gatotkaca (Newbie) 01/02/05 16:16 | 😐 Re: Anehnya Starone (padahal INDOSAT) ??? @adiaco Boleh minta setingan buat esianya gak? Post Extras: 🖨️ Cetak |
| kurnias (Penasihat) 01/02/05 16:37 | 😐 Re: Anehnya Starone (padahal INDOSAT) ??? Benar, saya pakai SC7090 Sanex juga begitu kok, sepertinya masih ada masalah bisnis antara keduanya./ Post Extras: 🖨️ Cetak |
| ralliant (Penasihat) 02/02/05 05:27 | 😐 Re: Anehnya Starone (padahal INDOSAT) ??? krn indosat makanya gitu Post Extras: 🖨️ Cetak |
| beLLboy (Anggota) 02/02/05 20:05 | 😐 Re: Anehnya Starone (padahal INDOSAT) ??? katanya motorola v120 gak bisa pake esia? Post Extras: 🖨️ Cetak |
| Chuckie (Newbie) 02/02/05 21:32 | 😐 Re: Anehnya Starone (padahal INDOSAT) ??? g juga beli v120e ini, trus g bawa ke esia roxy. awalnya TS nya bilang gak bisa (padahal krn dia gak bisa buka bajunya). setelah baju (menu) terbuka, tanpa byk omong lg & penuh semangat (gak kuat kale sama sexynya v120e ini) dia msk kamar (g gak blh ngintip) 20 menitan (kuat juga dia) akhirnya dia keluar (keringetan pdhal ac nya dingin) berhasil nyuntik v120e ini smp lahirlah sebuah nomer esia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| epe1419 (Penasihat) 03/02/05 15:37 | 😐 Re: Anehnya Starone (padahal INDOSAT) ??? Gw coba ni sabtu, ke roxi. Inget ga nama TS nya? Post Extras: 🖨️ Cetak |
| sijempol (Anggota) 04/02/05 09:36 | 😐 Re: Anehnya Starone (padahal INDOSAT) ??? Diambil dari kompas online : [tautan dihapus] Esia Memang "Gile Beneer" ESIA, produk telepon tetap nirkabel atau fixed wireless PT Bakrie Telecom, bukanlah seperti kerakap yang hidup segan mati tak mau walau ia tak punya pilihan selain memeras modal sebanyak darah yang mengalir di tubuhnya di samping inovasi tiada henti. Padahal, Esia bekerja pada pita frekuensi 800 MHz yang merupakan frekuensi terbaik untuk teknologi CDMA 2000-1X. ESIA bagai anak yatim tanpa orangtua yang begitu lahir harus berjuang untuk dapat hidup dalam persaingan yang amat sangat tajam dan ketat. Beda dengan operator jenis layanan yang sama, semisal Flexi, yang merupakan anak kandung PT Telkom, atau StarOne yang punya orangtua bergengsi, tetapi ia tidak dikembangkan dengan serius. PT Telkom melindungi anaknya dengan ketat, memberinya kemudahan dan modal yang nyaris tidak terbatas dengan alasan untuk menembus pasar yang sudah matured. Telkom yang tidak punya pilihan kecuali mengembangkan Flexi yang fixed wireless karena mereka tidak mampu mengembangkan jaringan kabel yang cepat dan merata di Tanah Air. Flexi lalu menjadi andalan baru, menjadi harapan untuk memenuhi target penetrasi yang disebandingkan dengan tuntutan masyarakat calon pelanggan. Itu sebabnya Flexi lalu mendapat privilese-privilese tertentu, apalagi pada masa direksi sebelum board of directors (BOD) yang sekarang. Dibanding dengan Flexi, StarOne lalu bukan apa-apa, sebab fokus dari induknya pun, PT Indosat, pada seluler bergerak dalam bentuk produk Matrix, Mentari, dan IM3. Tidak pada telepon tetap nirkabel yang menurut pertimbangan mereka merupakan bisnis yang masih jauh dari jangkauan. Apalagi karena PT Telkom dengan Flexinya sudah dianggap pesaing berat yang kalau dilawan akan menghabiskan tenaga dan "berdarah-darah" yang akan mengurangi porsi investasi selulernya. Padahal, seluler sudah membuktikan diri sebagai penyumbang pendapatan Indosat terbesar, lebih dari 70 persen, sehingga mengabaikan seluler sama dengan bunuh diri. Posisi "tanpa orangtua" ini yang membuat Esia menjadi penantang para raksasa, tidak hanya raksasa telepon tetap PT Telkom, tetapi juga raksasa berupa operator seluler. Kalau saja pemerintah memberi kemudahan bagi Esia, seperti yang mereka berikan untuk TelkomFlexi, pasti Esia akan tumbuh besar, mampu bersaing dengan Telkom dan GSM seluler. Demikian pula BRTI yang harusnya mampu bertindak sebagai wasit yang adil. PT Telkomsel, PT Indosat, dan PT Excelcomindo Pratama memang tidak bekerja pada layanan yang persis sama dengan Esia, tetapi sasaran dan lahannya nyaris sama. Padahal, mereka sudah tumbuh pesat tidak terbendung. Ketiga operator GSM itu sudah menguasai lebih dari 30 juta pelanggan, yang bahkan sudah melampaui jumlah pelanggan PT Telkom yang baru sekitar 9 juta-an. Ironis, karena layanan telepon tetap sudah dimulai tahun 1880-an, sementara seluler baru muncul awal tahun 1990-an dan berkembang sejak tahun 1995. Karenanya, Esia, yang tidak dipandang sebelah mata oleh para pesaingnya karena kawasan kerjanya hanya sebatas Jakarta, Jabar, dan Banten, tidak mudah berkembang sebab baru berusia 16 bulan. Esia memang baru lahir akhir September 2003 dan langsung-tanpa harus menyusui karena tak punya "orangtua" tadi-bersaing dengan raksasa-raksasa tanpa melewati masa kanak-kanak yang biasanya dibantu mereka yang lebih dewasa. Tekad manajemen PT Bakrie Telecom yang tidak peduli dan tidak takut "kualat" kepada pendahulu dan yang lebih besar, bagai Daud yang mungil melawan raksasa Goliath. Kuncinya, efisiensi dan inovasi. Tekanan bagi perusahaan yang tergabung dalam kelompok Bakrie & Brothers itu tidak ringan, bahkan cenderung mematikan. Pesaing yang tadinya menganggap Bakrie Telecom ketika masih berbentuk Ratelindo sebagai peanut, kini berubah total. Apa yang bisa dipasang sebagai penghalang akan dipasang untuk mencegah lajunya Esia. DALAM bisnis telekomunikasi di Indonesia saat ini, para operator makin lama makin terengah-engah. Mereka makin kehabisan napas ketika harus mengikuti arus persaingan yang ketat dan makin membara. Jorjoran dalam kemudahan dan tarif membuat margin keuntungan makin kecil, kesia-siaan makin tinggi karena tingginya churn, pelanggan berpindah ke operator lain. Atau karena pelanggan membuang begitu saja nomor perdana yang sudah habis pulsanya walau masa lakunya belum terlewati akibat murahnya perdana. Justru di saat demikian ini Bakrie Telecom muncul dengan produk Esia-nya walau bukan berarti baru karena sebelumnya produk mereka bernama Ratelindo. Jenis layanan hampir sama namun keluwesan dan kemungkinan inovasinya sangatlah berbeda. Kini Esia sangat diperhitungkan oleh para pesaingnya, bukan karena mereka muncul dengan gebyar seperti halnya Flexi-yang kadang untuk satu upacara peluncuran di satu kota saja butuh biaya sampai ratusan juta-tetapi karena inovasinya. Esia yang sadar akan "kekecilannya" masuk ke komunitas tidak lewat bintang-bintang selebriti yang gemerlap, tetapi langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Esia memang sempat mandek, mungkin akibat kesulitan dana untuk investasi atau belanja modal (capital expenditure/capex) yang tidak murah. Maklum, untuk masuk ke rimba raya telekomunikasi yang sudah matang ini, kalau modalnya hanya seratus dua ratus juta dollar AS, seolah hanya mengasinkan air laut. Hal sama dialami Mobile-8 dengan produk Fren yang pengucuran modalnya tanggung-tanggung sehingga juga sempat mandek. Subsidi yang mereka berikan kepada pelanggan ikut mendongkrak penampilan. Sebab, kalau main dari tarif, sebagai operator seluler mereka tak dapat berbuat banyak. Layanan telepon tetap nirkabel kini bahkan dirasa sebagai pesaing kuat dari seluler. Sebab, teknologi yang mendukungnya sama, nirkabel, sementara tarif berbeda karena Flexi atau Esia murah. Walaupun seluler masih punya kelebihan, dapat dibawa ke mana-mana sampai ke luar provinsi, bahkan ke luar negeri, kecuali CDMA. Layanan nirkabel meski dapat dibawa bergerak, tetapi cakupannya terbatas, biasanya berada pada satu kode area. Hanya pelanggan Flexi kawasan Jakarta saja yang dapat menyeberang sampai ke Bogor yang kode areanya berbeda. Mengembangkan diri sehingga layanannya menjadi andalan masyarakat, tidak ada jalan lain bagi Esia kecuali melakukan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Bahkan, inovasi yang masyarakat sendiri tidak menyangka akan ada kemudahan seperti itu, yang tidak jarang mencengangkan operator lainnya. Ini pula yang membuat pelanggan Esia jauh lebih setia dibandingkan dengan pelanggan operator lain dan churn mereka sangat rendah, kurang dari 2 persen. Seperti diungkapkan Dino M Purwana, Vice President Customer Relationship Management (CRM) PT Bakrie Telecom yang mantan pejabat PT Indosat (Satelindo) itu. Katanya, 98 persen pelanggan prabayar Esia tidak membuang kartu perdananya setelah jumlah pulsa mereka habis. Bahkan, 85 persen di antaranya mengisi ulang pulsa secara kontinu, sisanya mengisi pulsa ketika memasuki masa tenggang. Catatan menyebutkan, jumlah pelanggan baru yang diraih satu operator empat bulan lalu sama dengan jumlah mereka yang kemudian churn, pindah ke operator lain atau membuang kartunya. Kalau Agustus 2004 satu operator dapat menjual 100.000 nomor baru, pada Desember kartu yang hangus sekitar 100.000 pula, sehingga penambahan pelanggan yang dipublikasikan para operator tampaknya masih semu. Inovasi-inovasi yang dilakukan Esia sebagian memang tidak lazim di industri telekomunikasi sehingga malah menimbulkan rasa iri masyarakat yang tinggal di luar Jakarta, Jabar, dan Banten. Mereka berharap layanan Esia juga akan masuk ke lingkungan mereka dan sebenarnya merupakan hal kecil bagi Bakrie Telecom, sepanjang pemerintah memberi izin. Saat ini, selain Jakarta, Esia ada di Bandung yang dibangun Bakrie dengan penanaman modal sampai 8 juta dollar AS. Peningkatakan kapasitas yang dilakukan akan membuat pelanggan Esia di Bandung dapat berbicara mulai dari Padalarang sampai Jatinangor tanpa putus. Paket "Gile Beneer" atau "Hujan Duit" memang benar-benar gila, tetapi kegilaan yang disambut hangat masyarakat walau untuk itu manajemen Bakrie Telecom harus makin mengencangkan ikat pinggang. Hanya dengan efisiensi, program-program dan inovasi "gile" seperti ini tidak akan membuat Esia jadi timpang atau bahkan ambruk dengan sendirinya. Dapat dipahami, karena dengan inovasi tadi margin keuntungan yang sudah sangat tipis menjadi lebih tipis lagi kalau tidak bisa dikatakan malah menjadi minus. Namun, kalaupun minus, pertambahan jumlah pelanggan di samping rata-rata selisih pendapatan dengan biaya (average margin per user/AMPU) yang positif tetap akan membuat Esia eksis. Kini operator seluler memang tidak menghitung lagi rata-rata pendapatan dari tiap pelanggan (average revenue per user/ARPU), tetapi AMPU. ARPU-nya kecil kalau biaya operasi jauh lebih kecil sehingga marginnya besar, perusahaan akan tetap dapat beroperasi dengan baik. Pada persaingan ketat seperti sekarang, ARPU para operator menurun drastis dan rata-rata di bawah Rp 90.000. Operator harus siap jika dua- tiga tahun lagi ARPU mereka hanya Rp 30.000 dan mereka harus menekan biaya modal dan biaya operasi. Tidak jadi masalah sebab ke depan biaya modal makin lama akan makin murah. INOVASI-inovasi Esia yang tak terpikirkan sebelumnya di dunia telekomunikasi memang berhasil mendongkrak jumlah pelanggan mereka. Manajemen Bakrie Telecom memang menargetkan atau menyiapkan jaringan untuk 400.000 pelanggan hingga akhir 2004. Tetapi, tampaknya jumlah pelanggan mereka baru mencapai 250.000, sudah jauh lebih lumayan jika dibandingkan dengan hingga 10 bulan pertama pelanggan mereka tak beranjak dari 50.000. Paket Esia memang bukan contekan paket pemikat calon pelanggan seperti yang dilakukan operator lain. Misalnya saja pada Paket Ngrumpi Abiss, di mana Esia menjual perdana dengan harga Rp 20.000, berisi pulsa dan bonus yang Rp 20.000. Menariknya, pemakai paket ini bisa gratis menelepon sampai capai pada hari Sabtu dan mengirim SMS gratis pada hari Minggunya. Syaratnya hanya satu, telepon dan SMS yang digratiskan itu kalau ditujukan ke sesama nomor Esia. Paket ini membentuk kesetiaan pelanggan, apalagi mereka akan berupaya lingkungannya juga menggunakan Esia. Bahkan, dengan program member get member, pelanggan pascabayar Esia akan mendapat bonus Rp 50.000 setiap berhasil mengajak satu pelanggan pascabayar baru, yang nilainya akan dimasukkan dalam tagihan bulan berikut. Satu paket yang merupakan inovasi murni adalah Hujan Duit, pelanggan Esia bahkan mendapat bonus pulsa senilai Rp 50 setiap ada panggilan masuk dari telepon operator lain. Bonus ini dapat digunakan untuk memanggil, dengan tarif Rp 50 per menit, tarif yang tak akan dimasyarakatkan operator telepon yang lain. Hal-hal tadi membuat pelanggan bertumbuh, bukan hanya karena iming-iming yang diberikan operator lewat iklan dan berita media massa, tetapi ada upaya di kalangan pelanggannya. Mereka yang melihat peluang dan selalu memperhitungkan biaya akan mengajak komunitasnya menggunakan kartu Esia agar biaya komunikasi dapat ditekan serendah- rendahnya. Itu sebabnya Esia di pandangan para pengamat dan lembaga keuangan sebagai operator yang punya masa depan. Buktinya, ada kesediaan pemberi pinjaman untuk investasi, misalnya dari Konsorsium Credit Suisse First Boston (CSFB) lewat Capital Manages Asia. Mereka menyediakan pinjaman sampai 28 juta dollar AS atau sekitar Rp 250 miliar untuk pengembangan layanan Esia. Esia bukan lagi sekadar peanut, kacangan, tetapi memang punya potensi. Dan, masyarakat percaya Bakrie tetap berpotensi tinggi jika pemerintah memberi mereka lisensi nasional. Pada kenyataannya kita butuh peningkatan kepadatan telepon dari saat ini yang masih sangat rendah, hanya 4 persen atau sekitar 9 juta satuan sambungan telepon (SST). Dan, potensi dan komitmen Bakrie Telecom dapat diandalkan untuk meningkatkan kepadatan telepon nasional yang selama ini gagal dipenuhi PT Telkom. Dengan kepadatan yang makin tinggi, kesempatan anggota masyarakat untuk mendapat layanan telekomunikasi akan makin terbuka. (HW) Post Extras: 🖨️ Cetak |
Kami memakai cookie Google Analytics untuk memahami cara situs ini dipakai. Anda boleh menerima atau menolak. Kebijakan privasi