| kiryuu (Penasihat) 03/11/11 22:22 | 🙂 Android murah, beban untuk operator Kerugian di sini bukan kerugian langsung dari iuran pelanggan, jumlah pelanggan, ataupun keuntungan dari jualan handphone. Beban biayanya ada pada customer support dan berusaha manuver PR buat meredakan masalah public image operator yang terjadi karena keluhan dari pengguna yang menemui masalah dengan smartphone yang mereka punya. Ini sih cerita yang gak bakalan kedengaran dengan pola penggunaan elektronik di Indonesia ya. Karena di sini lebih kuat pikirannya bahwa beli handphone itu beli merek alatnya daripada merek operatornya, kalau ada masalah paling bawanya ke toko atau langsung ke service centre pembuat. Beda sama di sana yang dibawa ke operator tempat mereka beli. Tapi gak tau deh kalau yang BB. [tautan dihapus] They found 12.6% of Android support calls ended up with a hardware fault being diagnosed, costing carriers approximately $2 billion a year. In large part they chalk this up to failure by carriers to adequately test phones before choosing to offer them to customers. More than 25% of smartphones, they say, are manufactured by relatively unknown manufacturers, and most of them run Android. By comparison, support calls for BlackBerry phones had a 5.5% rate of hardware faults, iPhones 8%, and Windows Phone 7 came in at 11%. They suggest the difference between Android and Windows Phone likely stems from the tighter hardware control exercised by Microsoft. Tentu saja, kemungkinan angka ini terpengaruh pangsa pasar juga besar. Makin besar sampelnya, kemungkinan jumlah yang ngaco juga makin besar. Selain itu seperti yang ketulis di kutipan, nggak semuanya salah Android OS itu sendiri, tapi di operator dan hardware. Post Extras: 🖨️ Cetak |
Kami memakai cookie Google Analytics untuk memahami cara situs ini dipakai. Anda boleh menerima atau menolak. Kebijakan privasi