Home - Komunitas - Panduan - Kontak
Indonesian Gadgeteers
Forum Diskusi:
Main Index | Search | Panduan | Aturan | Kontak  ·  Tanpa registrasi: cukup isi nama
>> Samsung
ILCapitano
(Penasihat)
21/09/11 11:43
🙂 Samsung W139 Dual On GSM-CDMA : Merek Terkenal Bukan Jaminan
Penantian panjang pengidam ponsel dual on GSM-CDMA bermerek global seolah berakhir ketika Samsung SCH-W139 mulai memasuki pasar Indonesia. Namun, setelah menguji pakainya, menurut penulis, ponsel itu berpotensi gagal memuaskan dahaga. Sisi minus ponsel itu lebih dominan daripada sisi positifnya.

Kali pertama melihat bentuk nyata ponsel itu, penulis spontan terpana. Tampilan fisiknya lebih cenderung ala ponsel merek lokal buatan Tiongkok. Meski tidak persis sama, W139 mengingatkan penulis dengan, misalnya, Maxtron MG-298 dan HT Mobile A25.

Umpama penulis belum pernah melihat W139 dan tulisan Samsung di sisi muka ditutup, lalu penulis diminta menebak mereknya, pasti penulis takkan menyebutkan Samsung. Penulis amat mungkin bakal mengucapkan kata Nexian, Nexcom, Nexgen, HT Mobile, CSL, Extreme, DGtel, atau sederet ponsel merek lokal lain.

Layar W139 memanfaatkan LCD TFT dua inci beresolusi 128 x 160 piksel. Tampilan layar terlihat kurang halus. Keypad ponsel yang diproduksi di Tiongkok itu secara umum pantas disebut empuk dan nyaman. Bahkan, bagi pengguna berjari tangan besar seperti penulis.

Sayang, desain tombol navigasi lima arah W139 kurang optimal. Ketika hendak mengarahkan kursor ke kiri-kanan atau atas-bawah, berkali-kali jari penulis terpeleset dan dianggap memberikan instruksi enter. Tombol right soft key yang berada ujung kanan atas juga terlalu sensitif. Sangat sering terjadi, penulis yang berniat menekan satu kali saja dianggap telah memencet tombol itu dua kali.

Ada satu hal unik yang penulis alami. Ketika kartu RUIM Mobile-8 (sekarang Smartfren) penulis selipkan ke W139, ponsel itu mengenalinya sebagai Komselindo. Padahal, Komselindo telah bertahun-tahun tidak eksis. Operator seluler berbasis AMPS lalu CDMA itu telah diakusisi Mobile-8 pada Februari 2003.

Di sisi kanan bodi W139, terdapat konektor charger sekaligus handsfree berkabel. Entah mengapa, Samsung masih membenamkan konektor proprietary. Padahal, kini para produsen ponsel, termasuk Samsung, biasanya cenderung mengadopsi konektor charger yang lebih universal. Misalnya, berwujud micro USB dan mini USB.

Pemakaian konektor proprietary di W139 sungguh pantas disayangkan. Sebab, pengguna bakal kesulitan bertukar charger maupun aksesori lain dengan aneka gadget yang mereka miliki.

Tanpa kamera dan tak dapat dipakai untuk ber-mobile banking karena tidak mendukung SIM tool kit merupakan sisi minus lain W139. Untuk nada SMS, hanya tersedia empat pilihan nada. Pengguna mustahil menambahkan nada baru.

Ponsel berdimensi fisik 114,9 x 47,8 x 14,1 mm dan berat 86,7 gram itu dibekali bluetooth. Namun, koneksi “gigi biru” itu hanya bisa digunakan untuk melakukan transfer data. Pengguna dijamin gagal kala hendak memadukannya dengan handsfree bluetooth. Keterbatasan bluetooth seperti itu sebelumnya pernah penulis jumpai pada Nokia 7650 yang beredar sembilan tahun silam.

Buku telepon seribu nama multiple entry, penyaring panggilan telepon dan SMS masuk, fake call, serta perekam suara merupakan sebagian spesifikasi lain W139. Ada pula fitur untuk mengingatkan pengguna dengan jadwal beribadah.

Memori internal yang dapat dioptimalkan pengguna berkapasitas 7,41 MB. Kurang besar? Selipkan kartu microSD berdaya tampung sampai 4 GB ke slot yang tersedia. Sedikit sisi menarik ponsel itu, pengguna bisa merekam siaran radio FM yang sedang didengarkan.

Kemarin gerai-gerai ponsel menawarkan W139 di rentang harga Rp 600 ribu hingga Rp 625 ribu. Paket penjualan termasuk charger dan handsfree berkabel. Andaikan harus memilih, ketimbang membeli W139, penulis lebih cenderung membawa pulang satu unit HT Mobile GC30 yang dijual Rp 440 ribu atau CSL Blueberry i8200 yang dibanderol Rp 499 ribu. Selain lebih murah dan justru lebih andal, dua ponsel itu lebih fleksibel. Bisa difungsikan sebagai ponsel dual on GSM-GSM maupun GSM-CDMA, bergantung kartu yang diselipkan.

Betapa pun, dengan segala kekurangannya, W139 patut mendapatkan apresiasi. Minimal ia pantas menjadi “duta edukasi” untuk menyadarkan pencinta ponsel bahwa merek terkenal tak selalu menjadi jaminan layak beli.

Sumber : [tautan dihapus]
Post Extras: 🖨️ Cetak
🔒 Topik lama, hanya bisa dibaca. Isinya diambil dari forum Forum Ponsel yang dulu: tautan, nomor telepon, dan alamat email sudah disembunyikan. Ingin kiriman ini dihapus atau dikoreksi? Hubungi kami dan sebutkan alamat halaman ini. Ingin membahas topik serupa? Buat topik baru di Samsung.
Isi forum adalah pendapat pengirimnya. Kiriman diperiksa sebelum tampil. © Forum Ponsel · Privasi · Syarat · Aturan forum