Home - Komunitas - Panduan - Kontak
Indonesian Gadgeteers
Forum Diskusi:
Main Index | Search | Panduan | Aturan | Kontak  ·  Tanpa registrasi: cukup isi nama
>> Forumponsel
erwin101010
(Penasihat)
16/04/09 01:41
πŸ™‚ SLI Hemat 009 dari Esia
Pertama di Indonesia, Sambungan Langsung Internasional tanpa kompromi! Kualitas suara premium dengan tarif minimum.

SLI Hemat 009 adalah satu-satunya SLI yang memberikan dua kelebihan sekaligus: suara bening dan harga banting! Anda tidak perlu lagi mengurangi komunikasi dengan orang-orang yang Anda kasihi, sahabat, rekan bisnis atau siapa saja yang berada di luar negeri hanya karena tarif SLI yang menjerat leher. Atau terpaksa menelpon lewat sambungan internet (VoIP) yang murah namun kualitas suara parah.

Dengan SLI Hemat 009, Anda bebas menelpon ke luar negeri selama mungkin dengan kualitas suara bening tanpa harus bayar mahal.

caranya :
009 + kode negara + no tujuan

utk tarif dan keterangan lbh lanjut :
Code:[tautan dihapus]
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
16/04/09 01:45
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
Setelah gw liat2 tarifnya, gile mahalnyaa ... Gw klo telp ke luar negeri msh lebih suka pake three, jauh lbh murah
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
flippy
(Penasihat)
16/04/09 02:32
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
Liat artikel ini gw langsung buka link yg dikasih TS & kesimpulannya..... NIPU!!!
Esia, CDMA MAHAL belagak murah!!! Gilaaa tarifnya untuk ke Singapore... masak tarif Axis 1 menitnya masih lebih murah daripada tarif Esia selama 2 (dua) detik!!!! Dari dulu gw juga gak bakalan tergoda ama Gimmick2 Esia walau handset-nya bisa didapetin dengan harga yang paling murah di banding operator CDMA lain. Tapi toh, qta pake hape butuh pulsa yang continue.... Sedangkan sejak dulu hingga sekarang, ESIA adalah operator CDMA TERMAHAL dibanding operator CDMA yang lain!!! Loe bisa cek sendiri dengan seksama....

Esia, CDMA MAHAL belagak murah!!! Huahahahahaha......
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
z0mbi3
(Penasihat)
16/04/09 07:51
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
wakakkakkaakk kayaknya pada salah kaprah nih...

009 itu diadunya dengan 001, 008, 007... ---> SLI Premium
jangan diadu dengan 010XX misalnya 01016, 01033, 01017, 01010 ---> SLI VoIP

kualitas harusnya ya bagaikan bumi dan langit
kecuali kalo operatornya nakalan, misal yg harusnya Premium dilewatin trunk atau line VoIP, alhasil ya jelek kualitas suaranya

tp salut lah, at least kagak duopoli lagi soal SLI kan... good competition jadinya, tinggal bagaimana memasarkan 009 supaya setenar 001
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
16/04/09 08:45
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
Baru launching, sudah ada calon kompetitor lainnya...
-------------
Pemerintah akan tambah 1 operator SLI
Excelcomindo berminat ikut tender SLI

JAKARTA: Pemerintah akan menambah satu lagi operator sambungan langsung internasional (SLI) melalui tender penyelenggaraannya yang akan digelar dalam waktu dekat.

Dirjen Pos dan Telekomunikasi Basuki Yusuf Iskandar mengatakan pemerintah selalu menekankan kompetisi. Menurut dia, makin banyak pemain, pemerintah akan memiliki banyak pilihan.

"Berbeda dengan penyelenggaraan layanan tetap lokal dan sambungan langsung jarak jauh , dalam SLI tidak dikenal adanya pembatasan kepemilikan asing," ujarnya, kemarin.

Ditjen Postel mengungkapkan PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) telah mengajukan secara resmi untuk menjadi operator SLI baru.

Basuki mengungkapkan apabila pemerintah memberikan lisensi begitu saja ke XL, akan tidak adil bagi Bakrie Telecom yang mendapatkan SLI setelah melalui tender.

Untuk itu, pemerintah akan menggelar tender kembali untuk memilih satu operator sambungan langsung internasional baru, tahun ini.

Presdir XL Hasnul Suhaimi menuturkan pihaknya berminat dan siap mengikuti tender jika pemerintah membukanya. "Kami sudah siap dengan jaringan kabel optik laut sejak tahun lalu," ujarnya belum lama ini.

Bakrie Telecom memenangi tender SLI pada September 2007. Anak perusahaan Grup Bakrie itu menyisihkan dua peserta seleksi, yaitu PT Excelcomindo Pratama Tbk dan PT Natrindo Telepon Seluler. Penetapan pemenang itu tertuang dalam Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika No. 415/KEP/M.Kominfo/9/2007.

Sebagai pemenang seleksi, Bakrie Telecom harus memenuhi komitmen pembangunan dalam 5 tahun pertama. Pembangunan itu meliputi lima sentral gerbang internasional (SGI), satu landing point di Batam, dan jaringan keterhubungan dengan Indonesia Internet Exchange (IIX) melalui jaringan serat optik.

Bisnis layanan SLI telah mengalami perombakan sangat fundamental ketika pada 13 Mei 2004 Menteri Perhubungan mengeluarkan Keputusan Menhub No. 162/2004 tentang Lisensi layanan SLI dengan kode akses 007 kepada PT Telkom.

Sejak saat itu, bisnis layanan SLI memasuki era duopoli setelah sebelumnya PT Indosat terlebih dahulu memegang lisensi SLI untuk kode akses 001, serta kode akses 008 milik eks anak perusahaanya, yaitu PT Satelindo. PT Indosat akhirnya melebur kedua layanan SLI itu ke dalam satu wadah tunggal, yaitu SLI 001.

Kehadiran PT Bakrie Telecom Tbk telah mengubah peta bisnis layananan SLI, sekaligus mengakhiri era duopoli layanan sambungan langsung internasional.

Interkoneksi

Layanan SLI komersial Bakrie Telecom secara resmi dirilis kemarin, tanpa pembukaan interkoneksi dari Indosat. Operator itu mematok target pendapatan dari SLI sebesar Rp50 miliar dan waktu bicara sebanyak 3 miliar menit untuk tahun pertama.

Bakrie Telecom diketahui telah mengalokasikan dana belanja infrastruktur untuk mengembangkan SLI mulai 2008 hingga 2012 sebesar US$25 juta.

Presdir PT Bakrie Telecom Tbk Anindya N. Bakrie mengatakan pihaknya telah menyediakan layanan SLI dengan tarif lebih rendah sekitar 77% dari layanan serupa milik operator lainnya.

"Kami telah menggelar sentral gerbang internasional di Batam dan telah menarik kabel optik ke Singapura. Dalam waktu tidak lama lagi, kami akan membangun SGI di Makassar, Surabaya, dan Medan," ungkapnya pada peluncuran layanan komersial SLI 009 Bakrie Telecom, kemarin.

Untuk memberikan layanan internasional itu, operator Esia tersebut menyiapkan bandwidth sebesar 2,5 Gb atau setara dengan 3 miliar menit percakapan.

Basuki mengungkapkan pemerintah sudah membuka duopoli sambungan langsung jarak jauh melalui kemenangan Bakrie Telecom dalam tender, dan saat ini duopoli layanan SLI pun sudah diakhiri.

VP Intercarier PT Bakrie Telecom Tbk Hery Nugroho mengungkapkan hingga saat ini baru PT Telkom Tbk yang bersedia membuka interkoneksinya, sementara Indosat belum.

"Namun, kami masih tetap berusaha mendapatkan pembukaan interkoneksi tersebut. Pada dasarnya, layanan SLI yang kami berikan, bukan hanya untuk pelanggan Bakrie Telecom, melainkan dapat dipakai oleh seluruh masyarakat Indonesia," tuturnya.

Namun, hal tersebut langsung dibantah oleh Dirut Indosat Johnny Swandi Sjam yang mengatakan pihaknya sudah membuka interkoneksi SLI Bakrie Telecom. (fita.indah @[tautan dihapus]

Oleh Fita Indah Maulani & Roni Yunianto
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
16/04/09 10:48
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
Rabu, 15/04/2009 18:54 WIB
SLI Btel Masih Numpang Angkutan SLJJ Telkom
Achmad Rouzni Noor II - detikinet

Jakarta - Bakrie Telecom (Btel) belum optimal menggarap potensi pendapatan Sambungan Langsung Internasional (SLI) mengingat untuk membawa trafik di jaringan lokal masih mengandalkan infrastruktur Telkom. Ini karena BTEL belum menggelar jasa Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ) milik sendiri.

"Kami sudah memenangkan lisensi SLJJ pada akhir 2008 lalu. Tapi tak lama lagi kami akan membangun infrastruktur SLJJ. Jika sudah memiliki kode akses SLJJ, maka trafik lokal akan sepenuhnya dikelola oleh kami," kata Dirut Btel Anindya Bakrie usai peluncuran SLI 009 di Rasuna Epicentrum, Jakarta, Rabu (15/4/2009).

Btel sendiri menargetkan bisa meraih 20-30 persen pangsa pasar bisnis SLI yang mencapai Rp 3 triliun dalam 3-5 tahun ke depan sejak peluncuran clear channel sambungan internasional tersebut.

Target pendapatan yang bisa mencapai Rp 900 miliar itu diharapkan Anindya bisa memberi kontribusi 5-7 persen dari total pendapatan perseroan.

Sementara, Wakil Dirut Btel Bidang Pemasaran Erik Meijer mengungkapkan, untuk tahap awal interkoneksi dari jasa SLI milik Btel dibuka secara bertahap oleh dua penyelenggara SLI lainnya yakni Telkom dan Indosat.

"Telkom telah membuka interkoneksi di empat kota di antaranya Jakarta dan Surabaya. Sedangkan Indosat akan mulai membukanya pada minggu depan," katanya.

Menurut Erik, Telkom akan membuka secara bertahap mengingat operator tersebut memiliki banyak sentra gerbang internasional (SGI). Sedangkan Indosat masih harus menyesuaikan dulu dengan sistem penagihan tarif yang ditawarkan Btel.

"Ini karena Btel menawarkan jauh lebih murah dibanding yang tarif SLI operator lain.Kami membanting harga hingga 77 persen dibanding yang ditawarkan kompetitor," tandasnya.

(rou/wsh)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
lando11
(Penasihat)
16/04/09 18:40
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
gw pikir2, ada ga sih sebenarnya yg pake SLI, mengingat VoIP sekarang uda menjamur dan harganya jauh lebih murah?
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
tslim
(Penasihat)
16/04/09 21:36
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
Quote:
LaNDo said:
gw pikir2, ada ga sih sebenarnya yg pake SLI, mengingat VoIP sekarang uda menjamur dan harganya jauh lebih murah?

Gue nelpon ke Amrik pake VOIP-nya Fren puas kok. Cuma Rp 360 / menit. Kualitas suara OK.

Zaman nelpon pake SLI non-VOIP udah lewat.
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
djuned89
(Penasihat)
17/04/09 06:20
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
Quote:
LaNDo said:
gw pikir2, ada ga sih sebenarnya yg pake SLI, mengingat VoIP sekarang uda menjamur dan harganya jauh lebih murah?

Iya siH bener juga...
Mending koNsen di lisensi SLJJ..
Toh juga kualitas VOIP gk jelek2 amad...gw lancar2 aja tUh pake VOIP ny indosat..

-- Posted from my Mobile phone
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
17/04/09 08:26
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
Kamis, 16/04/2009 18:18 WIB
Operator SLI Masih akan Ditambah Lagi
Achmad Rouzni Noor II - detikinet

Jakarta - Indonesia sudah punya tiga penyelenggara sambungan langsung internasional (SLI). Namun nantinya tak hanya Telkom, Indosat, dan Bakrie Telecom, karena pemerintah akan menambah satu lagi.

Pemerintah akan membuka kembali tender SLI melalui beauty contest dalam waktu dekat. Operator yang sudah mengajukan proposal, Excelcomindo Pratama (XL).

"Kami akan buka lagi lewat beauty contest. Syaratnya harus bisa membangun infrastruktur seperti yang dimiliki Bakrie Telecom. Tujuannya agar internet semakin murah," kata Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar di sela BRTI Gathering, Kamis (16/4/2009).

Bakrie Telecom dalam meluncurkan layanan SLI 009, harus membangun 5 sentra gerbang internasional (SGI). Hal ini disanggupi XL.

"Jika diberi kesempatan, kami siap memenuhi. Kami sudah diskusi dan sekarang dalam proses," kata Direktur Commerce XL, Joy Wahyudi.

Menurutnya, XL telah siap untuk menggelar layanan SLI karena telah memiliki dua gerbang internasional, satu di Singapura, satu di Johor, Malaysia. "Kami akan memiliki satu lagi di Malaysia," katanya.

Joy mengatakan, jika pemerintah memberikan kesempatan kepada XL untuk layanan SLI, operator seluler ini akan menyiapkan dana dari luar anggaran belanja (capex) untuk pengembangan infrastruktur SLI dan kesiapan lainnya.

"Bisnis SLI di masa mendatang masih cukup terbuka luas. Memang sudah mendekati titik jenuh jika hanya berdiri sendiri, tapi jika didukung dengan layanan lain SLI akan menjadi layanan tambahan yang cukup menjanjikan," jelasnya.

Trafik sambungan internasional XL, saat ini mencapai 600 juta panggilan per hari dengan komposisi terbanyak berasal dari luar negeri.

(rou/ash)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
19/04/09 20:33
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
Minggu, 19/04/2009 12:01 WIB
Telkom Tak Khawatir 'Kue' SLI Menciut
Ardhi Suryadhi - detikinet

Jakarta - PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menyambut baik kehadiran operator baru sambungan langsung internasional (SLI) di Indonesia. Mereka pun siap bekerjasama dengan operator SLI mana pun melalui pembukaan interkoneksi.

Demikian dikatakan Vice President Public & Marketing Communication Telkom, Eddy Kurnia. Menurutnya, kehadiran operator baru SLI adalah sesuatu yang positif. "Telkom tentu punya potensi mendapat revenue dari interkoneksi," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima detikINET, Minggu (19/4/2009).

Prinsipnya, lanjut Eddy, Telkom siap membuka interkoneksi dengan operator mana pun sepanjang telah memenuhi aspek teknis, bisnis dan legal.

Menurutnya, Telkom menyelenggarakan interkoneksi dengan mengacu pada langkah-langkah yang sudah standar, dalam arti ada rujukan regulasinya seperti UU No.36/1999, KM atau Permen, PKS antaroperator, ada ujicoba layak operasi (ULO), penyamaan parameter dan sebagainya.

Bagi Telkom, interkoneksi sesungguhnya merupakan bisnis yang potensial. Ditekankan Eddy, Telkom sama sekali tidak merasa khawatir 'kue' layanan SLI akan semakin menciut dengan hadirnya operator baru SLI.

Sebagai operator incumbent, saat ini Telkom memiliki 8,7 juta pelanggan fixed line, 13,5 juta pelanggan fixed wireless, dan sekitar 68 juta pelanggan selular.

Dalam pandangan Eddy, interkoneksi merupakan simbol kemitraan sekaligus kompetisi. Kehadiran operator baru SLI disebutnya akan memicu persaingan yang sehat dan akan menguntungkan masyarakat. Seperti diketahui, selama ini Telkom telah memiliki layanan SLI dengan brand SLI 007.

Layanan tersebut diluncurkan 7 Juni 2004, dan telah menguasai pangsa pasar sekitar 53 persen serta telah bekerjasama dengan 45 operator mancanegara.

Total Minute of Use (MoU) tahun 2008 (Outgoing dan Incoming) mencapai hampir 2,5 miliar menit. Ini berarti tumbuh 19% dibanding MoU tahun 2007 yang mencapai sekitar 1,26 miliar. Pada tahun pertama diluncurkan, total MoU Telkom SLI 007 baru mencapai 208 juta menit.

Seperti diketahui, Bakrie Telecom baru saja menjadi pemain baru di industri SLI. Dengan demikian, hal ini sekaligus memutus mata rantai duopoli SLI yang sebelumnya hanya diisi oleh Telkom dan Indosat.

(ash/ash)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
20/04/09 09:07
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
Telkom dominasi pasar saluran internasional

JAKARTA: PT Telkom Tbk menguasai 53% pasar sambungan langsung internasional (SLI) Indonesia dan siap membuka kerja sama interkoneksi dengan operator SLI baru.

Eddy Kurnia, Vice President Public & Marketing Communication PT Telkom, mengatakan layanan Telkom SLI 007 telah menguasai pangsa pasar sekitar 53%.

"Kami siap membuka interkoneksi dengan operator mana pun dan tidak khawatir pangsa layanan SLI akan menyusut, karena mendapatkan revenue dari interkoneksi," katanya.

Telkom telah meluncurkan layanan SLI sejak 7 Juni 2004 dan telah bekerja sama dengan 45 operator di mancanegara.

"Hadirnya operator baru SLI positif karena akan memicu persaingan sehat dan menguntungkan masyarakat," tegasnya.

Menurut dia, interkoneksi menjadi simbol kemitraan, tetapi sekaligus kompetisi.

Eddy menyatakan pembukaan interkoneksi dengan operator mana pun dimungkinkan sepanjang kerja sama tersebut telah memenuhi aspek teknis, bisnis dan legal. Penyelenggaraan interkoneksi, tuturnya, akan mengacu pada langkah-langkah yang sudah standar di antaranya merujuk pada regulasi seperti UU Telekomunikasi No. 36/1999, Keputusan Menteri atau Peraturan Menteri, Perjanjian Kerja Sama antaroperator, uji coba layak operasi (ULO), penyamaan parameter dan sebagainya.

"Bagi kami, interkoneksi sesungguhnya merupakan bisnis yang potensial," tegas Eddy.

Sebagai operator pelopor, badan usaha milik negara itu telah menjaring 8,7 juta pelanggan telepon tetap, 13,5 juta pelanggan tetap nirkabel, dan sekitar 68 juta pelanggan seluler.

Dari total pengguna itu, layanan SLI yang menjadi pilihan adalah SLI 007, karena operator tersebut memberikan perlakuan yang lebih khusus bagi pelanggan tetapnya.

Menurut Eddy, dari sisi kinerja layanan, SLI 007 telah mencatat total penggunaan menit atau minute of usage (MoU) tahun 2008 untuk sambungan keluar (outgoing) dan panggilan masuk (incoming) mencapai hampir 2,5 miliar menit.

"Ini berarti terjadi pertumbuhan 19% dibandingkan dengan penggunaan menit 2007 sebesar 1,26 miliar. Padahal pada tahun pertama diluncurkan, total penggunaan menit SLI007 baru mencapai 208 juta menit," paparnya.

Tantangan terhadap bisnis layanan SLI Telkom semakin berat, karena era duopoli layanan SLI, yang selama ini dikuasai Telkom dan Indosat, telah berakhir dengan kehadiran layanan SLI dari PT Bakrie Telecom dengan alokasi nomor SLI 009.

Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Ditjen Postel) Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) bahkan sudah berancang-ancang untuk membuka lelang baru layanan SLI.

PT Excelcomindo Pratama (XL) disebut-sebut berminat dengan layanan SLI.

Jika akhirnya XL mendapat lisensi SLI, layanan sambungan internasional akan dilayanai oleh empat operator.

Oleh Roni Yunianto
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
22/04/09 17:46
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
ada yang uda pake ?
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
igncahyo
(Penasihat)
23/04/09 19:48
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
saya udah coba pake telp ke malaysia... tapi bukan dari CDMA... dari XL (kalo pake XL tarifnya per detik)

hasilnya... mak nyuss.. beda banget ma VOIP.. suara clear tanpa delay... ya iyalah.. secara tarifnya berlipat kali lebih mahal...

tapi ngomong soal murah.. gak juga seh.. kalo pake 007 tarifnya hampir sama...
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
flippy
(Penasihat)
25/04/09 01:04
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
gw pernah bandingin kualitas VOIP-nya Three ama Axis & hasilnya Three ada delay 2 detik gak seperti Axis yg lebih murah juga lebih lancar. Dulu kalo gw mo tlp ke Singapore selalu pake StarOne, gak berani lewat nomor GSM gw. skrg, sejak gw pake Axis, gw dah gak pernah lagi tlp ke luar negri pake StarOne. Good decision then...

-- Posted from my SonyEricsson
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
01/05/09 08:36
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
Kompetisi sudah mulai terlihat di SLI

Selama periode 2004-2007, hanya terdapat dua operator yang menyelenggarakan layanan SLI, yaitu Indosat dan Telkom. Telkom secara resmi mendapatkan lisensi komersial SLI pada 13 Mei 2004 dengan kode akses 007 dan tertuang dalam Kepmenhub No. 162/2004.

Dengan adanya Kepmenhub tersebut, hak monopoli SLI yang dipegang Indosat sebelumnya melalui kode akses 001 dan 008 berakhir.

Bisnis telepon internasional, meski pasarnya terus digerogoti oleh layanan voice over Internet protocol (VoIP) dan berbagai layanan percakapan instant messaging, nyatanya masih diminati oleh operator telekomunikasi karena volume trafik yang tercatat oleh Telkom dan Indosat masih cukup signifikan.

Indosat bahkan sangat mengandalkan pemasukan dari layanan SLI untuk segmen telepon tetap, meski pangsa pasarnya terus turun karena infrastruktur Telkom yang lebih luas.

Layanan SLI ternyata memang masih menjadi potensi pundi cukup menggiurkan. Hal ini tampak dari trafik atau lalu lintas telepon SLI yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

Pada 2008, misalnya, trafik SLI mendekati 3 miliar menit, sedangkan pada 2006 tercatat 2 miliar menit, dan pada 2005 sebesar 1,87 miliar menit.

Sebaliknya, Sekjen Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Mas Wigrantoro Roes Setiadi mengatakan bisnis SLI saat ini sudah mandek. Menurut dia, penurunan bisnis layanan telekomunikasi internasional sudah mencapai 30%.

Penurunan tersebut diakibatkan makin banyaknya pemain VoIP sehingga bisa menjadi SLI killer.

Otomatis, persaingan di segmen SLI dalam 3 tahun terakhir hanya dimiliki oleh dua operator itu saja.

Kompetisi pada layanan SLI, bila hanya disediakan dua operator saja akan kurang sehat, sehingga perlu adanya pemain baru untuk merangsang seluruh operator membangun jaringannya.

Kehadiran PT Bakrie Telecom Tbk sedikit banyak memberikan nuansa yang sangat signifikan pada peta persaingan bisnis SLI. Btel dipastikan memenangkan tender SLI pada 2007.

Pada saat itu (2007), Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar mengungkapkan pemerintah hanya akan memberikan satu lisensi lagi untuk SLI, mengacu pada negara lainnya yang umumnya memiliki tiga operator SLI.

Tender SLI

Anak perusahaan Grup Bakrie itu menyisihkan dua peserta seleksi, yaitu PT Excelcomindo Pratama Tbk dan PT Natrindo Telepon Seluler. Penetapan pemenang itu tertuang dalam Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika No. 415/KEP/M.Kominfo/9/2007.

Namun, belum juga Bakrie Telecom memberikan layanannya kepada masyarakat, pemerintah sudah mencanangkan tender kembali untuk memilih satu operator SLI baru.

Penurunan bisnis layanan telepon internasional yang menurut Wigrantoro sudah mencapai 30% diprediksi makin turun pascaperolehan lisensi SLI Bakrie Telecom, apalagi jika pemerintah berniat menambah lagi satu atau lebih operator SLI baru.

Wigrantoro menilai tender untuk memilih 1 operator lagi tidak lebih sebagai legitimasi pemberian lisensi kepada pemohon yang hanya satu operator.

Sementara itu, Ketua Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi Kamilov Sagala mengatakan jumlah operator yang ideal memang sangat bergantung kepada pemenuhan kebutuhan masyarakat terkait dengan kualitas layanan dan tarif murah.

Untuk kedua hal tersebut, tiga operator itu belum membuktikannya karena kompetisi baru saja dimulai sejak Btel merilis layanan SLI komersial 15 April.

Pemerintah perlu melihat terlebih dahulu kompetisi yang akan terjadi setelah diberikannya izin operasional kepada Bakrie Telecom dan tidak hanya mengobral lisensi saja, seperti yang dilakukan di segmen seluler dan telepon jaringan tetap lokal. (arif.pitoyo@[tautan dihapus])

Oleh Arif Pitoyo
Wartawan Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
04/05/09 09:01
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
Lisensi akan disederhanakan
Indonesia dapat jatah sembilan kode akses SLI

JAKARTA: Regulator akan menyederhanakan lisensi telekomunikasi seiring dengan perkembangan industri telekomunikasi ke arah konsolidasi dan konvergensi.

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia Nonot Harsono menegaskan penyederhanaan lisensi adalah tuntutan zaman.

"Kami di BRTI sedang mempercepat terbitnya regulasi yang lebih sederhana dan menyehatkan," ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Sejumlah operator meminta regulator menyederhanakan lisensi dan teknologi komunikasi bergerak dalam menghadapi konsolidasi industri telekomunikasi yang diprediksi dimulai tahun ini.

Dirut Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengungkapkan lisensi yang paling efisien dalam rangka menghadapi konsolidasi dan konvergensi di sektor telekomunikasi adalah seluler.

"Selama ini saya menilai lisensi fixed wireless access [FWA] adalah banci karena secara teknologi sebenarnya sama dengan seluler," ujarnya akhir pekan.

Dalam rangka menghadapi konvergensi dan konsolidasi, lanjutnya, regulator sebaiknya menyederhanakan lisensi telekomunikasi bergerak menjadi hanya seluler dan membebaskan operator untuk memberikan layanan kepada masyarakat dengan cakupan nasional, tidak terkotak-kotak berdasarkan kode area.

Berdasarkan catatan Bisnis, sejarah lahirnya lisensi FWA berawal dari permintaan penurunan tarif fixed line oleh Telkom sejak 2002 melalui rebalancing. Namun, permintaan tersebut tidak disetujui oleh pemerintah dan DPR saat itu.

Akhirnya, BUMN telekomunikasi itu memutuskan untuk mengganti teknologi dari kabel menjadi nirkabel dengan tarif yang lebih murah dari seluler. Pemerintah pun memberikan lisensi FWA kepada Telkom Flexi pada 2003.

Pita frekuensi yang digunakan oleh FWA dan seluler juga sebenarnya sangat berdekatan, yaitu di pita 800 MHz dan 900 MHz.

Dirut Indosat Johnny Swandy Sjam juga mengungkapkan kompetisi yang semakin ketat akibat penurunan tarif sejak April 2008 memicu munculnya lanskap industri baru, yaitu bercampurnya lisensi seluler dan FWA.

BRTI sendiri sudah menyiapkan kajian yang akan mengakomodasi merger dan akuisisi untuk menjaga kompetisi dan kepentingan nasional.

Selain persoalan lisensi, regulator juga didesak untuk menggabungkan lisensi VoIP (voice over Internet protocol) dengan suara (clear channel).

"Saat ini, antara komunikasi suara dengan VoIP sudah tidak ada bedanya," tutur Sarwoto.

Menurut dia, komunikasi suara yang menggunakan jaringan 3G dan sambungan langsung internasional (SLI) juga tanpa sadar sudah menggunakan VoIP karena melalui jaringan data.

Jatah SLI

Terkait dengan SLI, Indonesia mendapat jatah dari International Telecommunication Union sebanyak sembilan kode akses SLI.

Sampai saat ini, sudah ada tiga operator SLI di Indonesia yang menggunakan empat kode akses, yaitu 001 dan 008 (Indosat), 007 (Telkom), dan 009 (Bakrie Telecom).

Anggota BRTI Heru Sutadi mengatakan regulator mendorong terciptanya persaingan di segmen sambungan langsung internasional dan bertambahnya jaringan ke internasional khususnya Tier-1.

"Alokasi kode internasional 00x ada sekitar sembilan di mana saat ini sudah dipakai empat akses sehingga masih tersisa lima kode lagi yang dapat dipakai," tuturnya kepada Bisnis belum lama ini.

Menurut dia, regulator juga berharap dengan bertambahnya operator SLI makin meningkatkan gateway internasional di kawasan timur Indonesia.

"Dengan adanya tiga operator SLI seperti saat ini, kompetisi sebenarnya sudah berjalan dengan baik, asalkan tidak ada kartel," tuturnya. (Roni Yunianto) (arif. pitoyo@[tautan dihapus])

Oleh Arif Pitoyo
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
26/05/09 15:17
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
Selasa, 26/05/2009 14:08 WIB
Soal SLI, BTel Ancam Laporkan Indosat ke BRTI
Ardhi Suryadhi - detikinet

Jakarta - Layanan Sambungan Langsung Internasional milik Bakrie Telecom menemui hadangan di awal kelahirannya. Salah satu yang dianggap cukup mengganggu adalah belum dibukanya intekoneksi oleh Indosat.

Sebagai pemain baru di lahan ini, untuk beberapa saat BTel mungkin masih bersabar dengan keadaan tersebut. Namun dikatakan Rakhmat Junaidi, Director of Corporate Service Bakrie Telecom, jika sampai akhir Juni persoalan ini belum rampung juga, BTel tak sungkan untuk mengadu ke Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).

"Iya, kita bisa lapor ke BRTI untuk minta bantuan proses mediasi, tapi lihat sampai akhir Juni," ujarnya kepada sejumlah wartawan di sela peluncuran program baru Esia yang berlangsung di Wisma Bakrie, Jakarta, Selasa (26/5/2009).

Diakui Rakhmat, memang sampai saat ini belum semua operator merampungkan pembukaan interkoneksi untuk layanan SLI BTel. Diharapkan, yang segera menyusul adalah Telkomsel pada minggu pertama Juni dan disusul Indosat di minggu kedua bulan yang sama.

Erik Meijer, Wakil Direktur Utama BTel menambahkan, pihaknya tak terlalu memahami lambatnya pembukaan interkoneksi tersebut. Padahal pada awalnya, mereka berharap, masalah interkoneksi rampung setelah BTel meluncurkan layanan SLI mereka di pertengahan April lalu.

"Mereka bilang masih dalam proses. Tapi waktu itu dikasih tenggat selesainya di akhir bulan ini (Mei-red.), tapi ini saja sudah mau habis," keluhnya.

Sebelumnya, Indosat dituding memberikan syarat yang terlampau berat untuk pembukaan interkoneksi. Alhasil, pengembangan jasa layanan SLI BTel pun seakan terhadang.

Syarat yang diminta tersebut seperti menyediakan dana sebesar Rp 120 juta untuk set up billing sistem dan melarang BTel menerapkan biaya promosi selama tiga bulan pertama setelah pembukaan interkoneksi untuk tarif SLI 009.

Eric pun tak mau berkomentar banyak mengenai kabar tersebut. Ia dan timnya kini hanya bisa menunggu tindak lanjut dari Indosat. "Saya tidak tahu, tapi operator lain saja tidak ada masalah," pungkasnya. (ash/wsh)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
reinna
(Newbie)
27/05/09 10:32
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
To. flippy80

Bukannya setiap perusahaan Telco itu punya standart kebijakan sendiri-sendiri??
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
27/05/09 17:57
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
Bakrie Telecom Minta Indosat Buka Interkoneksi SLI 009
27/05/2009 16:14:04 WIB
JAKARTA, INVESTOR DAILY

PT Bakrie Telekom Tbk berharap PT Indosat Tbk segera membuka interkoneksi untuk sambungan langsung internasional (SLI). Dengan demikian, layanan SLI 009 milik Bakrie Telecom bisa digunakan pelanggan Indosat pada Juni ini.

β€œMudah-mudahan minggu kedua Juni ini, interkoneksi sudah dibuka Indosat. Jadi layanan SLI 009 sudah bisa dinikmati pelanggan,” kata Direktur Corporate Services Bakrie Telecom Rakhmat Junaidi di sela peluncuran program promo Gosok Pasti Untung Esia di Jakarta, Selasa (26/5).

Rakhmat mengakui, saat ini belum semua operator merampungkan pembukaan interkoneksi untuk layanan SLI 009 milik operator Esia itu. Selain Indosat, Rakhmat juga berharap, operator lain juga bisa membuka interkoneksi, seperti Telkomsel.

β€œHukumnya wajib bagi operator telekomunikasi untuk membuka interkoneksi dengan operator lain, termasuk SLI,” ujarnya.

Pihaknya, lanjut Rakhmat, saat ini belum mengambil sikap apapun, karena masih percaya bahwa Indosat akan membuka interkoneksi SLI pada Juni mendatang. Jika Indosat tidak juga membuka interkoneksi SLI, Rakhmat menegaskan, tidak tertutup kemungkinan untuk melaporkannya ke Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).

β€œKita tunggu saja sampai akhir Juni ini,” tambahnya. Di tempat yang sama, Wakil Direktur Utama Bakrie Telecom Erik Meijer tidak mau berkomentar banyak soal kelambanan Indosat membuka interkoneksi SLI itu. β€œSaya tidak bisa menjawab atas nama Indosat. Itu harusnya ditanyakan ke mereka. Kami hanya berharap bisa secepatnya dibuka,” ujarnya.

Dia menilai, dibukanya interkoneksi SLI 009 akan menguntungkan Indosat, karena pelanggannya bisa menikmati banyak pilihan untuk layanan SLI. β€œKita tunggu saja keputusan mereka. Katanya sih bulan ini akan dikabarkan. Tapi, kita lihat saja,” kata Erik.

Gosok Pasti Untung

Pada kesempatan itu, operator Esia itu kembali meluncurkan terobosan dengan menawarkan program terbaru, Gosok Pasti Untung. Dengan program ini, Bakrie Telecom memberikan bonus tambahan talktime bagi setiap pelanggannya yang membeli kartu isi ulang khusus Gosok Pasti Untung senilai Rp 25 ribu.

Selain itu, pelanggan juga berpeluang mendapatkan berbagai hadiah hingga hadiah utama sepeda motor. Total hadiah yang dibagikan kepada pelanggan Esia mencapai milyaran rupiah. (mam)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
29/05/09 13:03
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
Jumat, 29/05/2009 11:29 WIB
Pembukaan Interkoneksi
BRTI Serahkan Kesepakatan Secara B2B
Ardhi Suryadhi - detikinet

Jakarta - Regulator tak mau terlalu ikut campur soal lambatnya pembukaan interkoneksi Sambungan Langsung Internasional antara Bakrie Telecom dari Indosat. Hasilnya diserahkan seluruhnya kepada kesepakatan business to business (B2B).

Demikian dikatakan anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi ketika diwawancarai detikINET, Jumat (28/5/2009).

Menurutnya, pembukaan interkoneksi tersebut ada tahap-tahapnya, mulai dari pengajuan secara resmi dari si pencari akses kepada penyedia akses sampai penyesuaian sistem. "Tahap-tahap itu perlu waktu 90-100 hari dari sejak si pencari akses mengajukan permintaan ke penyedia akses," jelasnya.

Namun, lanjut Heru, jika di antara para operator tersebut tak terjadi titik temu, pihak regulator pun siap membuka pintunya sebagai mediator.

"Penanganan perselisihan ini bisa melalui mediasi atau arbitrase. Tapi kalau laporannya belum masuk ke kita (regulator), ya kita serahkan ke mereka secara B2B," tukasnya.

Keengganan regulator untuk terlalu ikut campur ini bukan tanpa alasan, sebab mereka juga tak mau dibilang terlalu ketat dan terlalu mencampuri urusan bisnis. "Yang penting sesuai dengan aturan interkoneksi tahun 2006," pungkas Heru.

Sebelumnya, layanan SLI milik Bakrie Telecom menemui hadangan di awal kelahirannya. Salah satu yang dianggap cukup mengganggu adalah belum dibukanya interkoneksi oleh Indosat.

Lambatnya pembukaan interkoneksi tersebut dituding lantaran Indosat memberikan syarat yang terlampau berat. Seperti menyediakan dana sebesar Rp 120 juta untuk set up billing sistem dan melarang BTel menerapkan biaya promosi selama tiga bulan pertama setelah pembukaan interkoneksi untuk tarif SLI 009.

Indosat sendiri menampik jika dikatakan menghalang-halangi BTel untuk menggelar layanan SLI 009-nya. Mereka berdalih bahwa hal itu masih belum menemui titik temu secara bisnis yang menguntungkan kedua operator tersebut. ( ash / faw )
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
03/06/09 10:00
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
Interkoneksi SLI 009 belum jelas
KPPU minta Indosat permudah persyaratan

JAKARTA: PT Indosat Tbk berjanji akan membuka interkoneksi sambungan langsung internasional (SLI) dengan PT Bakrie Telecom Tbk apabila pembicaraan soal teknis sudah selesai.

Johnny Swandi Sjam, Direktur Utama Indosat, menilai belum dibukanya masalah interkoneksi layanan SLI 009 hanya masalah waktu saja karena diskusi masih terus berjalan.

"Pembukaan interkoneksi SLI hanya tinggal masalah teknis, menunggu kesepakatan mengenai set up billing yang sekarang masih dalam pembicaraan B to B," ujarnya kemarin.

Kalau masalah teknis sudah selesai, tambahnya, waktu pembukaan interkoneksi bisa cepat, tidak harus menunggu akhir bulan ini.

Indosat saat ini memiliki tiga set up billing yang bisa bersaing di seluruh segmen, 001 untuk kelas premium, 008 pasar menengah, dan 01016 bagi kelas low end.

Johnny tidak bersedia dikonfirmasi mengenai pernyataan mahalnya set up billing yang ditetapkan Indosat kepada Bakrie Telecom sebesar Rp40 juta per set up billing atau total Rp120 juta.

Jumlah tersebut kabarnya lebih mahal dibandingkan dengan hasil kesepakatan Bakrie Telecom dengan PT Telekomunikasi Indonesia sebesar Rp21 juta per set up billing.

Dia menegaskan pihaknya selalu terbuka untuk interkoneksi dengan operator lain, termasuk dengan Bakrie Telecom dengan semangat win-win solution. Hasil koordinasi, tambahnya, diharapkan keluar dalam waktu dekat.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengimbau Indosat untuk merujuk ke Undang-undang No 5/99 tentang Anti Monopoli dalam membuat perjanjian pembukaan interkoneksi SLI dengan Bakrie Telecom.

"Pelaku usaha sebaiknya merujuk ke pasal-pasal yang ada dalam UU tersebut. Jika tidak mengindahkan, bisa berurusan dengan KPPU nantinya," ujar Direktur Komunikasi KPPU A.Junaidi, akhir pekan lalu.

Junaidi meminta Indosat sebagai salah satu incumbent dalam menyelenggarakan jasa SLI untuk tidak menyalahgunakan posisinya sebagai pelaku usaha dominan dalam membuka interkoneksi dengan menetapkan syarat yang merugikan pemain lainnya.

"Jika benar Indosat menetapkan pelarangan tarif promosi bagi Btel, itu melanggar pasal 25 dari UU No5/99. Sebaiknya operator tersebut merevisi syarat itu," katanya.

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono mengatakan pembukaan interkoneksi merupakan satu kewajiban dan dijamin dalam Permenkominfo No 8/2006 tentang Interkoneksi dan peraturan mengenai sanksi denda.

"Persaingan itu wajar, setiap operator harus berani berkompetisi, termasuk Indosat," tegasnya kepada Bisnis, kemarin.

Adita Irawati, Division Head Public Relations Indosat, mengatakan pihaknya sudah berkompetisi di SLI sejak 1995 ketika dimulainya duopoli layanan SLI oleh Telkom dan Indosat.

Tarif SLI

Indosat juga membantah tudingan mengenai Indosat yang takut bersaing dengan tarif murah SLI 009 Bakrie Telecom.

"Kami memiliki tarif yang lebih murah dengam kualitas yang sama melalui 01016. Ini namanya segmentasi produk. Pengguna harus berhati-hati dengan promosi tarif murah karena hanya untuk negara-negara tertentu saja," tegas Direktur Marketing Indosat Guntur S. Siboro.

Menanggapi hal itu, Wakil Presdir PT Bakrie Telecom Erik Meijer, mengungkapkan pihaknya memberikan tarif hemat 70% ke negara China, sementara beberapa negara lainnya 50%.

Seorang eksekutif operator SLI juga mengungkapkan regulator perlu melakukan audit jaringan semua operator sambungan langsung internasional agar tidak melanggar ketentuan lisensi yang ada dengan menggunakan saluran protokol Internet (voice over Internet protocol/VoIP).

VP Intercarrier Bakrie Telecom Hery Nugroho memastikan pihaknya telah sesuai dengan regulasi yang ada, dengan menggunakan clear channel. (Arif Pitoyo) (fita.indah @[tautan dihapus])

Oleh Fita Indah Maulani
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
03/06/09 16:34
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
Juni, Indosat-Btel Janji Sepakati SLI
Rabu, 3 Juni 2009 - 15:31 wib
Stefanus Yugo Hindarto - Okezone

JAKARTA - Pihak Indosat mengatakan telah mencapai kesepakatan dengan Bakrie Telecom terkait pembukaan interkoneksi layanan sambungan langsung internasional (SLI).

"Kesepakatan ini merupakan murni hasil negosiasi dengan mengacu kepada ketentuan interkoneksi yang ada, sementara mekanisme promosi dijaringan kedua belah pihak merupakan hasil negosiasi secara B to B antara Indosat dan Btel tanpa intervensi pihak manapun baik regulator maupun pemerintah. Tercapainya kesepakatan ini juga merupakan wujud komitmen kami dalam mendukung kompetisi yang sehat," ujar Direktur Jabotabek & Corporate Sales Indosat Fadzri Sentosa, melalui keterangan resminya, Rabu (3/6/2009).

Kesepakatan ini, lanjut Fadzri, diputuskan setelah melalui proses koordinasi secara intensif dengan mengacu kepada ketentuan interkoneksi yang ada. Sementara untuk mekanisme promosi dijaringan kedua belah pihak dibahas secara B to B, yang dilakukan oleh Indosat dengan Btel.

"Setelah itu, dicapai kesepakatan dengan Btel untuk beberapa agenda pembahasan, termasuk di dalamnya mengenai paket promosi yang akan dilaksanakan oleh Btel," papar Fadzri.

Dengan tercapainya kesepakatan ini, akan segera dilakukan tindak lanjut berupa penandatanganan PKS yang akan diselenggarakan di bulan Juni 2009.

"Tercapainya kesepakatan ini juga merupakan wujud dari komitmen Indosat untuk selalu menyambut baik kehadiran operator Sambungan Langsung Internasional (SLI) baru serta selalu mendukung setiap operator yang ingin membuka interkoneksi, termasuk untuk layanan internasional, dengan semangat untuk memberikan manfaat kepada semua, termasuk pelanggan," ujarnya.

Saat dikonfirmasi oleh okezone di hari yang sama, pihak Bakrie Telecom menargetkan penandatanganan kesepakatan akan dilakukan pada pekan ke-2 bulan Juni.

"Kecuali masalah teknis, sebenarnya semua sudah siap. Hanya saja ada beberapa masalah yang belum ada kesepakatannya, salah satunya adalah masalah biaya set up billing. Mudah-mudahan pada pekan ke-2 bulan Juni sudah ada kesepakatan," ujar VP Intercarrier Bakrie Telecom Hery Nugroho. (srn)
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
04/06/09 16:49
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
Persoalan interkoneksi SLI 009 diklaim selesai

JAKARTA: Indosat mengklaim pembicaraan soal pembukaan interkoneksi layanan sambungan langsung internasional (SLI) dengan PT Bakrie Telecom Tbk (Btel) sudah mencapai kesepakatan kedua belah pihak. Fadzri Sentosa, Direktur Jabotabek & Corporate Sales PT Indosat Tbk, mengatakan pembukaan interkoneksi untuk layanan telepon internasional milik Bakrie Telecom telah mencapai kesepakatan, termasuk mengenai paket promosi yang akan dilaksanakan oleh operator SLI baru.

"Kami segera melakukan tindak lanjut berupa penandatanganan perjanjian kerja sama yang akan diselenggarakan bulan ini," ujarnya, kemarin.

Dia menjelaskan kesepakatan merupakan wujud dari komitmen Indosat untuk menyambut baik kehadiran setiap operator SLI baru.

Kesepakatan ini, tambah Fadzri, merupakan hasil negosiasi dengan mengacu kepada ketentuan interkoneksi yang ada, sementara mekanisme promosi di jaringan kedua belah pihak merupakan hasil negosiasi secara B to B antara Indosat dan Btel tanpa intervensi pihak mana pun baik regulator maupun pemerintah.

Sementara mekanisme promosi di jaringan kedua belah pihak merupakan hasil negosiasi secara B to B antara Indosat dan Btel tanpa intervensi pihak mana pun baik regulator maupun pemerintah.

"Tercapainya kesepakatan ini juga merupakan wujud komitmen kami dalam mendukung kompetisi yang sehat," ujar Fadzri.

Indosat mengaku masalah SLI sudah tidak ada masalah baik secara bisnis maupun teknis dan administrasi.

Menurut Fadzri, tertundanya kerja sama interkoneksi hanya dipicu oleh masih dibutuhkannya waktu untuk transisi.

"Prinsipnya kami perlu berkompetisi dan kalau membuka interkoneksi ada tahapan-tahapannya misalnya, pengujian pada sistem penagihan , kapasitas hingga kesepakatan harga sampai dengan di mana saja titik-titik interkoneksi disepakati," paparnya.

Tercapainya kesepakatan ini juga merupakan wujud dari komitmen Indosat untuk selalu menyambut baik kehadiran operator sambungan langsung internasional (SLI) baru serta selalu mendukung setiap operator yang ingin membuka interkoneksi, termasuk untuk layanan internasional, dengan semangat untuk memberikan manfaat kepada semua, termasuk pelanggan.

Separuh harga

Sementara itu, masalah set up billing juga sudah mencapai kesepakatan, Selasa. Division Head Public Relation Indosat Adita Irawati mengatakan masalah ini sudah mencapai kata sepakat, tetapi berapa besarannya masih belum bisa dipublikasikan.

Namun, seorang eksekutif PT Bakrie Telecom Tbk mengatakan persoalan set up billing tersebut masih belum menyepakati soal harga."Kami menawar harga separuh dari harga yang disampaikan Indosat sebesar Rp40 juta per set up billing menjadi Rp20 juta," tegasnya.

Indosat saat ini memiliki tiga set up billing yang bisa bersaing di seluruh segmen, 001 untuk kelas premium, 008 pasar menengah, dan 01016 bagi kelas low end.

Harga set up billing yang ditetapkan Indosat kepada Bakrie Telecom sebesar Rp40 juta per set up billing atau total Rp120 juta.

Jumlah tersebut kabarnya lebih mahal dibandingkan dengan hasil kesepakatan Bakrie Telecom dengan PT Telekomunikasi Indonesia sebesar Rp21 juta per set up billing.

Oleh Fita Indah Maulani & Roni Yunianto
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
13/08/09 09:00
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
Pemerintah siapkan tender baru SLI
Layanan difokuskan ke pelanggan internal

JAKARTA: Pemerintah sedang menyiapkan rencana tender lisensi sambungan langsung internasional (SLI) seiring dengan permintaan dua operator seluler untuk mendapatkan lisensi layanan SLI.

Kedua operator seluler itu bergerak di jaringan GSM (global system for mobile communications), yaitu PT Exelcomindo Pratama Tbk (XL) dan PT Natrindo Telepon Seluler (Axis).

Basuki Yusuf Iskandar, Dirjen Pos dan Telekomunikasi Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo), mengatakan pihaknya sedang merundingkan rencana membuka kembali tender lisensi SLI, diharapkan ada keputusan dalam waktu dekat.

β€œKami tentu saja harus adil dengan pemenang terdahulu. Pemegang lisensi SLI nantinya harus membangun infrastruktur minimal sama dengan pemenang tender terakhir, Bakrie Telecom,” ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Dia menegaskan siapa pun peminat lisensi SLI, mereka harus berkomitmen membangun infrastruktur, jangan hanya menjadi penyedia layanan saja.

PT Bakrie Telecom Tbk pada 2007 berhasil memenangi tender lisensi SLI mengalahkan XL dan Axis.

Pemenang tender berkewajiban membangun dua sentral gerbang internasional (SGI) di barat dan timur Indonesia. Dua SGI tersebut nantinya harus dihubungkan hingga ke titik utama jaringan tulang punggung internasional, misalkan Amerika Serikat atau Inggris.

Bakrie Telecom saat itu berkomitmen melakukan pembangunan lima SGI dalam kurun waktu 5 tahun pertama di Jakarta, Surabaya, Batam, Makassar, dan Medan.

Selain itu Bakrie juga harus membuat satu landing point di Batam, rute jaringan internasional yang saat ini sudah tersambung ke Singapura, pembangunan jaringan Internet Exchange (IIX) melalui serat optik, serta penyediaan jaringan transmisi antar-SGI.

Pelanggan internal

Heru Sutadi, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), mengatakan XL dan Natrindo telah menyampaikan surat permintaan untuk memperoleh lisensi SLI beberapa waktu lalu.

β€œTentu kami harus melakukan kajian terlebih dahulu,” ujarnya.

Hasnul Suhaimi, Dirut PT Exelcomindo Pratama Tbk (XL), mengakui pihaknya memang mengajukan permintaan tersebut kepada regulator beberapa waktu lalu. Keinginan operator ini melayani SLI memang sudah ada sejak dahulu.

β€œKami tidak muluk-muluk, SLI hanya untuk melayani pelanggan XL yang ada. Jadi tidak masalah jika ke depannya hanya ada empat operator SLI, karena layanan ini hanya untuk pelanggan ,” ujarnya.

Anita Avianty, Senior Manager Corporate Communications PT Natrindo mengaku masih belum menerima konfirmasi internal mengenai pengajuan lisensi SLI beberapa waktu lalu.

Bakrie sebagai pemenang tender dua tahun lalu resmi melayani sejak April tahun ini dengan meluncurkan SLI 009. Operator itu mematok target pendapatan dari SLI sebesar Rp50 miliar dan waktu bicara sebanyak 3 miliar menit untuk tahun pertama.

Bakrie Telecom diketahui telah mengalokasikan belanja infrastruktur untuk mengembangkan SLI mulai 2008 hingga 2012 sebesar US$25 juta. SGI dibangun di Batam dan telah menarik kabel optik ke Singapura. (fita.indah@[tautan dihapus])

Oleh Fita Indah Maulani
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
06/10/09 09:15
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
Mastel: Tidak perlu lisensi SLI baru

JAKARTA: Masyarakat Telematika (Mastel) Indonesia mengingatkan pemerintah untuk tidak menambah lagi operator sambungan langsung internasional (SLI) atau tarifnya malah menjadi naik.

Sekjen Mastel Mas Wigrantoro Roes Setiadi menilai tiga operator saja sudah mencukupi kebutuhan akses internasional masyarakat mengingat selain clear channel sekarang sudah banyak trafik internasional yang disalurkan lewat paket Internet protocol berbiaya murah tetapi memakai tarif SLI.

β€œYang menjadi pertanyaan adalah penambahan lisensi SLI tersebut dimaksudkan untuk kepentingan siapa Yang perlu diingat, sekarang ini hampir semua operator telekomunikasi sahamnya dimiliki asing,” ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Wigrantoro mengingatkan pemerintah perlu mencermati bahwa semakin banyaknya operator SLI maka pasar layanannya akan fragmented atau tidak ada yang dominan.

Implikasinya, menurut dia, apabila operator SLI bernegosiasi tarif dengan operator luar negeri sendiri-sendiri, posisi tawarnya akan lemah karena volumenya sedikit sehingga otomatis tarif SLI assymetric makin lebar.

Mastel menggambarkan tarif SLI assymetric terlihat dari tarif panggilan masuk dari luar negeri yang lebih murah daripada tarif panggilan ke luar negeri.

Kasus seperti ini juga terjadi di industri penerbangan jalur internasional dari dan ke Indonesia.

Ketua Umum Mastel Setyanto P. Santosa mengatakan SLI atau SLJJ (sambungan langsung jarak jauh) hanyalah enabler, jadi sebenarnya tidak perlu ditambah lagi.

β€œHal ini hanya mengada-ada, publik susah untuk mengontrol kebijakan pemerintah karena tidak adanya roadmap telematika Indonesia, mau dibawa ke mana, semuanya serba tidak jelas,” tegasnya.

Belum optimal

Pemerintah dan regulator tetap berencana memberikan lisensi baru sambungan langsung internasional (SLI) kepada satu operator sebelum akhir 2009, atau hanya dalam rentang 2 tahun sejak penggelaran tender sejenis pada 2007.

β€œKami melihat hasil beauty contest pada 2007 lalu yang dimenangkan oleh PT Bakrie Telecom masih belum optimal. Kami masih butuh internasional jaringan ke luar negeri, terutama untuk jalur lain di luar Batam-Singapura,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala mengaku heran karena pemerintah dan regulator akan menggelar tender sambungan langsung internasional.

β€œDulu regulator dan pemerintah mengungkapkan hanya akan menambah satu operator SLI, tetapi hanya dalam waktu 2 tahun sudah berubah,” tutur mantan anggota BRTI yang pernah menjadi panitia tender SLI 2007 tersebut.

Oleh Fita Indah Maulani & Arif Pitoyo
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
03/11/09 08:51
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
Natrindo dan XL berebut lisensi SLI
Regulator inginkan gerbang SLI baru

JAKARTA: PT Natrindo Telepon Seluler (Axis) dan PT Excelcomindo Pratama (XL) bersaing untuk memperoleh lisensi layanan sambungan langsung internasional (SLI) yang ke-4.

Johan Buse, Direktur Marketing PT Natrindo Telepon Seluler, mengatakan pihaknya optimistis dalam persaingan memperebutkan lisensi layanan SLI karena secara infrastuktur global perusahaan ini sangat siap.

"Kami sudah memiliki infrastruktur yang sangat memadai di seluruh dunia sehingga untuk mengoperasikan layanan SLI cukup mengoneksikan dengan jaringan yang ada," ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Axis merupakan anak perusahaan Maxis, operator telekomunikasi asal Malaysia, selain pemegang saham minoritas Saudi Telecom.

Johan menambahkan pihaknya akan menawarkan banyak keuntungan baik bagi masyarakat maupun pemerintah dengan adanya lisensi SLI. Axis pun berani melakukan investasi sesuai dengan persyaratan yang diinginkan pemerintah.

"Kami menawarkan investasi, Saudi Telecom siap berinvestasi dan memberikan keuntungan besar bagi negara ini," ujarnya.

Dia mengatakan jika memperoleh lisensi SLI, pada tahap awal pihaknya akan membangun sentra gerbang internasional (SGI) di Singapura dan tanpa menutup rencana pembangunan koneksi jaringan melalui negara lain.

Hingga saat ini pemerintah telah mengeluarkan tiga lisensi layanan SLI untuk tiga operator, yaitu PT Telkom, PT Indosat, dan PT Bakrie Telecom.

Basuki Yusuf Iskandar, Plt Dirjen Postel Departemen Komunikasi dan Informatika, mengatakan pihaknya akan segera menyelesaikan rencana pemberian lisensi SLI untuk satu operator lagi segera setelah aturan diselesaikan dan memperoleh persetujuan Menkominfo. "Dalam waktu dekat akan diumumkan bagaimana kemajuannya," ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Excelcomindo Pratama Tbk Hasnul Suhaimi menyatakan pihaknya siap membangun sentra gerbang internasional di luar jalur Batam-Singapura yang dinilai pemerintah sudah cukup jenuh.

"Kami siap membangun di jalur lain seperti Surabaya-Hong Kong atau Kupang-Darwin," ujarnya.

Dia menjelaskan apabila pihaknya memenangi lisensi ini, layanan SLI akan dipergunakan untuk pelanggannya sendiri.

Dirut Telkomsel Sarwoto Atmosutarno menilai pihaknya tidak tertarik untuk ikut tender SLI mengingat volume trafiknya cenderung jenuh dan turun.

"Saat ini sudah banyak yang memberikan layanan VoIP, jadi untuk apa lagi lisensi SLI. Kalau untuk menaikkan nilai perusahaan, masyarakat, dan pebisnis pasti sudah mengetahui dan memahami kalau lisensi SLI tidak bisa menaikkan nilai perusahaan," tegasnya.

Gerbang SLI baru

Heru Sutadi, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), mengatakan rencana pemberian satu lisensi SLI sedang dimatangkan karena regulator melihat masih diperlukan pemain baru lagi di bisnis SLI.

"Kami melihat hasil beauty contest pada 2007 lalu yang dimenangkan oleh PT Bakrie Telecom masih belum optimal. Kami masih butuh jaringan gerbang ke luar negeri, terutama untuk jalur lain di luar Batam-Singapura," ujarnya.

Dia menjelaskan saat ini Bakrie Telecom baru membangun sentra gerbang internasional untuk jalur Batam-Singapura, padahal sudah banyak pihak yang membangun di jalur tersebut.

Pemerintah membutuhkan sentra gerbang internasional melalui jalur lain, adapun rencana Bakrie Telecom membangun jalur Kupang-Darwin diprediksi masih memerlukan waktu cukup lama. (Arif Pitoyo) (fita.indah@[tautan dihapus])

Oleh Fita Indah Maulani
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
30/11/09 10:10
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
Pengguna desak audit jaringan SLI
Penghapusan interkoneksi terjadi alamiah

JAKARTA: Indonesia Telecommunication User Group (Idtug) mendesak Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) untuk mengaudit jaringan sambungan langsung internasional (SLI) karena dikhawatirkan menggunakan jaringan voice over Internet protocol (VoIP).

Ketua Umum Idtug Nurul Budi Yakin mengungkapkan pihaknya menyambut baik persaingan yang sudah terjadi di segmen sambungan langsung internasional (SLI).

"Jumlah pemain layanan telepon internasional yang saat ini berjumlah tiga operator tersebut memungkinkan pelanggan memperoleh kebebasan memilih provider yang memiliki kualitas paling baik dan dengan harga yang terjangkau," ujarnya kemarin.

Saat ini, sudah ada tiga operator SLI di Indonesia, yaitu PT Indosat Tbk (001 dan 008), PT Telkom Tbk (007), dan PT Bakrie Telecom Tbk (009). Di luar itu, ada akses VoIP Telkom (01017), Indosat (01016), XL Jimat 01000, dan Bakrie Telecom (01019).

Nurul menambahkan untuk meningkatkan layanan kepada pelanggan, terutama komunikasi suara yang jernih dan tidak ada delay, Idtug meminta BRTI untuk mengaudit jaringan SLI milik penyelenggara SLI.

Audit itu, lanjutnya, mendesak dilakukan agar layanan SLI yang diberikan operator benar-benar dialirkan melalui clear channel, bukannya voice over Internet protocol (VoIP).

Selain itu, untuk merangsang operator SLI membangun jaringannya, terutama Sentral Gerbang Internasional (SGI) di sejumlah titik, maka organisasi pelanggan itu memandang perlu dihilangkan interkoneksi khusus untuk segmen SLI.

Menurut seorang eksekutif operator SLI, tarif ke luar negeri dipengaruhi oleh tarif interkoneksi dengan pemain luar, bukan interkoneksi lokal.

"Justru pemain SLI yang harus meramu tarifnya dengan komponen [cost jaringan+cost interkoneksi pemain luar+sharing untuk originator]," ujarnya. Tarif SLI operator yang murah, tambahnya, biasanya dipicu oleh pengambilan margin yang sangat tipis.

Layanan premium

Sekjen Idtug Muhammad Jumadi mengatakan layanan SLI dinilai masih merupakan layanan premium yang hanya dinikmati pelanggan tertentu saja.

"Pembangunan infrastruktur yang selama ini didorong pemerintah melalui jaringan akses last mile tidak akan pernah tercapai apabila operator kecil masih menggunakan jaringan operator besar untuk menyalurkan trafik SLI."

Idtug mensinyalir ada operator SLI yang mengiklankan layanan SLI murah tetapi sebenarnya yang diberikan adalah VoIP.

VP Intercarrier PT Bakrie Telecom Tbk Herry Nugroho mengatakan SLI merupakan bisnis global sehingga setiap operator pasti tidak mungkin membangun end to end dan harus ada mitra di luar negeri.

"Yang menjadi hak otoritas untuk audit adalah jaringan di sisi domestik, karena setelah keluar dari SGI trafik akan disalurkan lewat TDM [time division multiplex] atau VoIP tidak bisa dikontrol secara teknis oleh operator domestik," ujarnya. (arif.pitoyo@[tautan dihapus])

Oleh Arif Pitoyo
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
liat2aja
(Penasihat)
30/11/09 14:38
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
Gw pake SLI 009 telp ke Sing dari Fren kok kenanya per menit 8000-an ya, padahal di webnya Rp. 2940 per menit

-- Posted from my Nokia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
rusco
(Penasihat)
05/04/10 09:02
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
Natrindo ajukan lisensi SLI

JAKARTA: PT Natrindo Telepon Seluler telah memproses pengajuan lisensi sambungan langsung internasional (SLI) kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Erick Aas, Presiden Direktur PT Natrindo Telepon Seluler-operator penyelenggara layanan Axis-menuturkan pengajuan lisensi tersebut didasari pertimbangan Indonesia masih membutuhkan kehadiran penyedia layanan SLI.

"Minat kami untuk menggelar layanan SLI tentu mempertimbangkan relevansi dan kelayakan bisnis ini. Kami kira sangat wajar dan penting bagi Indonesia untuk menambah gerbang internasional ," ujarnya kepada Bisnis, baru-baru ini.

Menurut Erick, idealnya Indonesia memiliki antara lima dan enam penyedia layanan SLI agar tercipta layanan dengan harga yang kompetitif dibandingkan dengan saat ini yang termasuk masih mahal dan kapasitasnya masih rendah.

Di Indonesia ada tiga penyedia layanan SLI yaitu PT Telkom Tbk dengan layanan 007, PT Indosat Tbk dengan layanan 001, dan PT Bakrie Telecom Tbk dengan layanan 009. Potensi Natrindo menyelenggarakan layanan SLI besar karena operator tersebut juga memiliki koneksi gerbang internasional ke Saudi Telecom dan jaringan lainnya melalui sambungan dari Indonesia-Malaysia.

Proposal tersebut disampaikan Natrindo pada kuartal I/2010. Sementara itu minat yang sama terhadap lisensi SLI juga disampaikan manajemen PT XL Axiata Tbk.

Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia sendiri masih mempertimbangkan kemungkinan bertambahnya operator SLI.

Menurut anggota BRTI Nonot Harsono, regulator masih perlu mengevaluasi dinamika pasar dan kinerja bisnis layanan berkode akses 009 milik PT Bakrie Telecom serta layanan yang digelar operator SLI lainnya yaitu Telkom dan Indosat. Saat ini kode akses SLI yang berpeluang digunakan adalah 002, 003, 004, 005, atau 006.

Adopsi Oracle

Pada pekan lalu Natrindo juga mengumumkan telah merampingkan proses bisnis dan membangun infrastruktur terpadu untuk pembuatan, pengelolaan dan distribusi dokumen, konten, berkas, dan aset digital berbasis teknologi Oracle.

Menurut Stuart Fenwick, Senior Director Oracle Fusion Middleware Oracle untuk Asia Pasifik, Natrindo telah mengimplementasi software aplikasi Oracle Enterprise Content Management Suite yaitu platform teknologi yang akan membantu operator kartu Axis tersebut dalam mengelola konten.

"Implementasi ini bertujuan merampingkan proses bisnis sekaligus menerapkan inisiatif ramah lingkungan [green initiative], berupa pengurangan penggunaan kertas secara fisik dan beralih menggunakan format elektronik," ujarnya.

Menurut Stuart, penggunaan format elektronik akan memungkinkan efisiensi tetapi juga memungkinkan keamanan informasi digital yang lebih terjamin sehingga akan membantu operator meluangkan waktu lebih untuk melayani pelanggan selulernya dengan cepat dan produktif.

Oleh Roni Yunianto & Tri D Pamenan
Bisnis Indonesia
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
maupromo
(Anggota)
06/04/10 10:32
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
pake esia pasti untung

*ketik: PS kirim ke 766
PUNYA INDOSAT
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
erwin101010
(Penasihat)
06/04/10 13:42
😐 Re: SLI Hemat 009 dari Esia
pake esia telp SLI emang sih mahal tapi suaranya jernih
Post Extras: πŸ–¨οΈ Cetak
πŸ”’ Topik lama, hanya bisa dibaca. Isinya diambil dari forum Forum Ponsel yang dulu: tautan, nomor telepon, dan alamat email sudah disembunyikan. Ingin kiriman ini dihapus atau dikoreksi? Hubungi kami dan sebutkan alamat halaman ini. Ingin membahas topik serupa? Buat topik baru di Forumponsel.
Isi forum adalah pendapat pengirimnya. Kiriman diperiksa sebelum tampil. © Forum Ponsel · Privasi · Syarat · Aturan forum