Home - Komunitas - Panduan - Kontak
Indonesian Gadgeteers
Forum Diskusi:
Main Index | Search | Panduan | Aturan | Kontak  ·  Tanpa registrasi: cukup isi nama
>> Forum Innovative
rainy_diary
(Newbie)
02/09/08 21:21
🙂 Telkomsel 100% No.1
Sebenarnya apa yang harus dipikirkan Telkomsel saat ini adalah bagaimana menduduki posisi kedua. Selain jadi Market leader juga memikirkan bagaimana menjadi No 2. Apa ini memungkinkan ? Jawabannya pasti bisa. Tapi jika ini sampai terjadi kemungkinan nantinya ada operator selular lainnya yang akan mengalami kebangkrutan dan itulah moment yang paling dinanti-nanti. Hanya yang terbaik yang bisa selamat. Kompetitor semakin berkurang semakin baik. Ibarat musuh semakin berkurang hati pun tenang.

Tapi sayangnya saat ini Telkomsel seperti tak terlalu agresif untuk dalam bersaing dengan kompetitor. Ini dapat dilihat semakin bertambahnya operator baru dan ini akan menjadi ancaman yang tak bisa dianggap sepele. Tetapi Kata-kata " ancaman yang tak bisa dianggap sepele " sebenarnya tak " begitu pengaruh bagi Telkomsel karena sebagai market leader dalam waktu yang cukup lama bisa dibilang posisinya masih tetap kokoh jadi kata-kata tersebut lebih tepat diberikan pada operator selular lainnya. Operator selular tersebut sebaiknya memikirkan bagaimana menjadi No 2 dengan menduduki posisi kedua selagi masih ada kesempatan maka operator tersebut akan selamat dan yang dibawahnya akan hancur.

Jadi intinya jika mau selamat jangan sampai Telkomsel menduduki posisi kedua, ini akan memberbesar market share mereka dan bencana bagi kompetitor. Kalau ini sampai terjadi maka yang lainnya siap-siap saja gulung tikar.

Tetapi karena saya pengguna setiap Telkomsel saya sangat mengharapkan Telkomsel bisa lebih bersikap agresif dalam berlompetisi dengan begitu nantinya bukan hanya bisa mempertahankan dan memperbesar market share nya tapi juga membuat posisi kompetitor semakin terjepit. Lalu bagaimana caranya ? Disini saya berikan contoh, katakanlah market share Telkomsel saat ini 60% dan yang 40% sisanya itu dikuasai kompetitor ( dari berbagai macam operator ). Coba kita beransumsi 60% itu merupakan pelanggan tetap yang mana no HP nya sudah digunakan dalam waktu yang cukup lama jadi sulit jika mau minta mereka mengganti ke no yang baru dan para pelanggan tersebut masing-masing menggunakan satu no HP saja. Demikian juga sisa 40% yang dimiliki kompetitor yang mana mereka juga penguna setiap dari masing-masing operator.

Jadi yang harus ditargetkan Telkomsel adalah para calon pelanggan baru dan pengguna tetap Telkomsel & kompetitor. Dengan harapan pelanggan baru mau menggunakan no dari kartu pascabayar / prabayar Telkomsel dan juga mengharapkan pelanggan setia Telkomsel & kompetitor mau menggunakan kartu kedua menggunakan no Telkomsel. Semua ini bisa diwujudkan dengan startegi marketing yang jitu dan out of box. Jika berhasil maka ini akan menjadi sukses besar bagi Telkomsel. Dengan perkiraan 60% pelanggan juga menggunakan no kedua ( prabayar ) Telkomsel selain no utama dan 40% pelanggan kompetitor juga menggunakan no kedua dari kartu prabayar Telkomsel. Jumlahnya akan semakin besar apalagi bila ditambahkan jumlah pelanggan baru. Jadi intinya pelanggan baru sebagian besar tertarik menggunakan no Telkomsel dan pelanggan yang mau beli no HP kedua juga pilih Telkomsel.

Apabila strategi ini sampai digunakan oleh kompetitor maka akan berlaku sebaliknya contohnya operator X besar market sharenya cuma 15% dari jumlah total 40% hasl gabungan berbagai operator selular. Dengan stategi ini maka mereka bisa mengharapkan 60% pelanggan tetap Telkomsel juga menggunakan no HP kedua dari kartu prabayar mereka dan ini juga akan ditambahkah dengan jumlah pelanggan baru. Sisa market share sebesar 25% juga mereka kuasai.

Untuk lebih jelasnya startegi jitu & out of box ini seperti apa tak saya jelaskan disini lebih detil karena terlalu panjang nantinya. Keunggulan startegi ini yaitu tak bia ditiru kompetitor. Siapa yang pertama menerapkannya dialah pemenang sejati.

Visit my blog :
[tautan dihapus]
Post Extras: 🖨️ Cetak
r3ndhy
(Penasihat)
02/09/08 22:39
😐 Re: Telkomsel 100% No.1
anyway, what's the point?

I appreciate your expression, but i dont share your idea, which i think is still blur.
Post Extras: 🖨️ Cetak
HajiGaul
(Penasihat)
03/09/08 07:21
😐 Re: Telkomsel 100% No.1
gue juga masih bingung maksudnya apa, mungkin orang2 marketing ngerti kali yang dimaksud ...
Post Extras: 🖨️ Cetak
ancehamsah
(Penasihat)
03/09/08 08:00
😐 Re: Telkomsel 100% No.1
Jangan sampe terjadi skenario kayak gini, soalnya akan berakibat terjadinya monopoli jika satu perusahaan saja yang menguasai pasar. Tau sendiri akibatnya apa? Konsumen tidak punya pilihan lain jika terjadi masalah jaringan (bukan hal mustahil Telkomsel akan mengalami hal ini), juga tarif telpon bisa ditentukan seenaknya nantinya dan konsumen hanya bisa pasrah. Dan saya rasa tidak semua orang suka dengan Telkomsel. contohnya saya Hehehehe.
Post Extras: 🖨️ Cetak
stickerlifter
(Penasihat)
03/09/08 08:50
😐 Re: Telkomsel 100% No.1
Gaya hitung-2annya sih berbau MLM. Tau sendiri khan mggak banyak MLM yang prestasinya baik. Malah kebanyakan praktek MLM merugikan bahkan banyak yang melakukan penipuan.

Berhati-hatilah, berhati-hatilah (Pesan bang Napi).
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
03/09/08 09:24
😐 Re: Telkomsel 100% No.1
'Regulasi merger harus komprehensif'

JAKARTA: Praktisi hukum telekomunikasi mengingatkan agar regulator mempertimbangkan keseimbangan antara aspek teknologi, bisnis, dan hukum dalam penyusunan Peraturan Menteri Kominfo yang akan mengatur merger dan akuisisi di sektor telekomunikasi.
Danrivanto Budhijanto, Dosen Hukum Telekomunikasi Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, mengatakan dalam penyusunan peraturan menteri yang mengatur merger dan akuisisi ketiga aspek tersebut harus terakomodasi secara proporsional.

"Untuk menumbuhkan industri, penyusunan ini harus hati-hati. Tiga unsur utama industri telekomunikasi itu harus seimbang. Jangan sampai karena berat di salah satu aspek, membuat industri melakukan pelanggaran," ujarnya kepada Bisnis.

Praktisi hukum yang mengikuti sejarah perkembangan regulasi dan kasus-kasus di sektor telekomunikasi tersebut mengutarakan pendapatnya seusai acara Discussion Forum on Mobile Business Telecommunication, yang digelar Milidetik baru-baru ini.

Regulasi yang tidak seimbang dikhawatirkan berbagai pihak bisa berdampak buruk bagi industri yang paling menjadi tumpuan saat ini.

Dia berpendapat langkah akuisisi oleh perusahaan telekomunikasi yang sudah mapan sebagai hal wajar dan baik.

"Namun, jika ini dilakukan oleh perusahaan yang belum mature, pengambilalihan ini justru akan menjadi tidak sehat. Akhirnya, timbul ketidakjelasan mengenai apa tujuan operator membeli lisensi."

Pendapat itu menanggapi pertanyaan kemungkinan langkah merger dan akuisisi terjadi lebih cepat dari perkiraan karena didorong perubahan di seputar kinerja industri telekomunikasi belakangan ini.

Di industri telekomunikasi, saat ini Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mencermati kesenjangan antara operator besar dn operator kecil terlalu lebar. Adapun, penurunan pendapatan operator seluler besar-menyusul kebijakan tarif interkoneksi yang diikuti penurunan tarif telekomunikasi-justru memunculkan pertanyaan sekaligus keraguan seputar apakah sebagian dari mereka dapat bertahan.

Danri mencontohkan secara logika penurunan harga yang disertai penambahan pelanggan di salah satu operator besar seharusnya mendorong pertumbuhan kinerja semester I/2008.

"Kenyataannya jauh dari teori, karena pendapatan operator justru menurun. Ini menarik untuk dikaji, apakah CEO [chief executive officer]-nya yang keliru mengelola ataukah ini justru sebenarnya karakter pasar Indonesia yang unik," ujarnya.

Sebelumnya, anggota BRTI Heru Sutadi menuturkan kompetisi pasar yang semakin ketat dan lebarnya kesenjangan antara operator existing akan mendorong langkah merger atau akuisisi.

Islah telekomunikasi

Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) menilai gencarnya perang promo tarif antaroperator sudah mulai memengaruhi kinerja keuangan sejumlah operator besar, kendati mereka memiliki elastisitasnya masing-masing terhadap penurunan tarif.

ATSI mencermati perang tarif promo sudah mengarah kepada persaingan tidak sehat, sehingga perlu diupayakan kesepakatan untuk menghentikannya agar tidak mengganggu kompetisi yang dinilai sudah berkembang baik dan sehat.

Saat disinggung kemungkinan operator duduk bersama untuk menghentikan perang tarif tersebut, Dirut PT Telkomsel Kiskenda Suriahardja mengatakan perseroan akan mencermati berbagai aspek yang menjadi perhatian industri.

"Ada istilah islah atau apa pun kami ikut saja dengan tetap memerhatikan aspek-aspek yang menjadi perhatian kami misalnya etika bisnis, regulasi investasi dan persaingan usaha," ujarnya di sela-sela peluncuran Telkomsel Siaga pekan lalu.

Pertimbangan Telkomsel, tuturnya, mencakup berbagai aspek dari lingkungan bisnis. "Orientasi regulasi juga bukan hanya aturan BRTI saja. Kami harus juga memerhatikan persaingan harga, promo, kualitas, juga persepsi pasar atau masyarakat," tegasnya. (roni.yunianto@[tautan dihapus])

Oleh Roni Yunianto
Bisnis Indonesia
Post Extras: 🖨️ Cetak
ditdot
(Penasihat)
03/09/08 09:39
😐 Re: Telkomsel 100% No.1
bingung gw baca pesan moral yg disampaikan TS, intinya apa ya? bisa dipersingkat penjelasannya? maklum bukan org marketing..
Post Extras: 🖨️ Cetak
dollpin
(Penasihat)
03/09/08 19:30
😐 Re: Telkomsel 100% No.1
Kalo sampe cuma ada 1 operator seluler aja.. pasti wartel laku lagi. Jadi thread ini mungkin membahas nasib para pemilik wartel yang gulung tikar
Post Extras: 🖨️ Cetak
hendranata
(Penasihat)
03/09/08 19:31
😐 Re: Telkomsel 100% No.1
iya nih.. flash nya no 1
Post Extras: 🖨️ Cetak
neurobiz
(Penasihat)
03/09/08 22:36
😐 Re: Telkomsel 100% No.1
bahasa marketing mungkin ini TS ya...gak kesampeain ilmu ane kale,ora mudeng...
Post Extras: 🖨️ Cetak
diditnya
(Penasihat)
04/09/08 01:00
😐 Re: Telkomsel 100% No.1
maksudnya... jangan sampe Telkomsel hidup sendiri...yang laen saling bunuh...telkomsel ketawa ketiwi.... biar seimbang (ada penyeimbang) biar nga lupa... nasib konsumen
Post Extras: 🖨️ Cetak
hendranata
(Penasihat)
04/09/08 02:25
😐 Re: Telkomsel 100% No.1
ga ngerti jg maksud ts
Post Extras: 🖨️ Cetak
HajiGaul
(Penasihat)
04/09/08 07:18
😐 Re: Telkomsel 100% No.1
nah loh ... sepertinya TS harus bisa menjelaskan dengan bahasa yang simpel dan singkat, karena ternyata bukan cuma aku yang gak ngerti ...
Post Extras: 🖨️ Cetak
raysa
(Penasihat)
04/09/08 23:15
😐 Re: Telkomsel 100% No.1
setelah dijelasin ama om didit ... otak gue yg lemot akhirny ngerti jg
Post Extras: 🖨️ Cetak
bengQ
(Penasihat)
04/09/08 23:25
😐 Re: Telkomsel 100% No.1
Nice posting for TS....but pls more simple to be understanded...
Post Extras: 🖨️ Cetak
rony_ericsson
(Penasihat)
05/09/08 10:13
😐 Re: Telkomsel 100% No.1
Mungkin simpelnya gini, dng habit pelanggan seluler disini yg punya kartu seluler lbh dari satu, sedangkan kebanyakan yg jd kartu utama di indo adalah telkomsel, pasar untuk menjadi kartu kedua sangat besar untuk diraup operator2 lain. Telkomsel bisa aja menggiatkan marketingnya untuk jd kartu kedua (misal aja, kartu 1 Halo, kartu 2 Simpati, dan mungkin aja kartu 3 pakai As), shg spt judul thread ini, Telkomsel 100% No 1.

Namun jngan sampai lah telkomsel tetap menjadi pilihan sebagai kartu kedua, shg inilah yg mestinya jd PR utk operator2 lain utk mengisi celah pasar ini.

Gitu kalee... kalo msh bingungin juga, don't shoot me yah, i'm just a quick messenger
Post Extras: 🖨️ Cetak
ditdot
(Penasihat)
05/09/08 16:58
😐 Re: Telkomsel 100% No.1
ini kali ya yg bisa disebut telkomsel 100%

Pulau Telkomsel..! demikian sebutan baru untuk Pulau Miangas, Pulau kecil yang sangat terpencil di utara propinsi Sulawesi Utara yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, Philipina.

Sedikitnya 200 orang masyarakat Pulau Miangas yang sudah memiliki Ponsel GSM kini dengan leluasa menggunakan produk-produk Telkomsel seperti (Simpati, Simpati pede, Kartu As) sementara ratusan orang lainnya yang menggunakan produk Indosat (IM3), Excel, PSN dll terpaksa harus mengganti kartu GSMnya dan beralih menggunakan produk-produk Telkomsel. Pasalnya, di Pulau kecil yang terpencil ini hanya ada satu BTS, BTS Telkomsel!.Telkomsel membuat gebrakan baru mengakuisisi semua pelanggan GSM yang ada di Pulau Miangas dan menjadikan Pulau Miangas menjadi Pulau Telkomsel dimana semua pelanggan GSM yang berada di Pulau Miangas menggunakan Kartu GSM Telkomsel.

BTS ukuran kecil dalam skala pico

BTS ukuran kecil dalam skala pico hanya sebesar pesawat Flexi Home dengan antena di kiri dan kanan.Hanya dalam hitungan detik setelah Pico BTS Telkomsel On, Wartel VSAT yang sebelumnya ramai dikunjungi masyarakat Miangas langsung sepi dan semua orang menghidupkan Hpnya untuk berkomunikasi dengan kerabatnya di luar Pulau Miangas, tak lagi mempedulikan Wartel VSAT yang sebelumnya telah membuka komunikasi.

Pulau Marore : Pulau Telkomsel

Setelah berhasil merebut Pulau Miangas,Telkomsel menundukkan Pulau Marore tepat sehari sebelum peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-63 dan mengklaim Pulau Marore sebagai Pulau Telkomsel.

Seperti halnya Wartel VSAT Pulau Miangas, Wartel VSAT di Pulau Marore seketika langsung lumpuh juga. Tidak ada lagi masyarakat Pulau Marore yang bertelepon ke Wartel VSAT yang terletak di Kantor Desa Marore yang lama.

Masyarakat Pulau Kawio yang berada tak jauh dari Pulau Marore yang biasanya menggunakan Wartel Marore sebagai sarana telekomunikasi, kini tidak lagi. Mereka cukup naik perahu 30 menit sambil membawa Handphone GSMnya ke Pulau Marore dan duduk-duduk di sekitar Dermaga Marore, sudah bisa komunikasi.

Kalau Pico BTS Telkomsel di Pulau Miangas mungkin hanya digunakan oleh sekitar 400 Orang masyarakat Pulau Miangas, maka BTS Telkomsel di Pulau Marore bisa digunakan oleh lebih dari 1.000 Orang. Karena selain masyarakat Pulau Marore yang menggunakannya, juga masyarakat di Pulau Sekitarnya yang dijangkau dengan menggunakan Perahu dalam waktu 30 menit - 60 menit, termasuk para pelintas batas Warga Negara Philipina.

(dicuplik dari artikel dapat di milist tetangga)
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
08/09/08 20:45
😐 Re: Telkomsel 100% No.1
Telkomsel juga mengincar pasar TKI di luar negeri...
----------------
Telkomsel garap segmen TKI & iklan personal

JAKARTA: Layanan pengiriman uang lintas negara PT Telkomsel, T-Remittance, menyasar 120.000 masyarakat Indonesia yang bekerja di Hong Kong. Sementara itu, Telkomsel Area III Jawa Bali siap menjajaki pengembangan layanan iklan personal lewat kartu As Fress dengan menggarap perusahaan lokal.

Direktur Utama Telkomsel Kiskenda Suriahardja mengatakan implementasi T-Remittance yang telah mendapatkan izin Bank Indonesia selaku regulator pada 12 Agustus 2008 menjadi awal diversifikasi layanan.

"Layanan remittance melalui mobile wallet T-Cash [Telkomsel Cash] tidak sekadar komersialisasi konvergensi layanan operator seluler dengan perbankan , tetapi juga industri hasil kolaborasi banyak pihak," ujarnya baru-baru ini.

T-Remittance adalah layanan pengiriman uang lintas negara hasil kerja sama dengan Bank Negara Indonesia.

Menurut Kiskenda, layanan tersebut tidak hanya melayani masyarakat di dalam negeri, tetapi juga masyarakat Indonesia yang bekerja dan tinggal di luar negeri di antaranya melalui produk kartu prabayar Simpati Kangen hasil kerja sama dengan ShineTown Mobile dan operator besar Hong Kong, CSL.

TKI di Hong Kong rata-rata berpenghasilan HKD3.500 per bulan atau setara dengan Rp4,2 juta. Adapun distribusi uang dan trafik komunikasi anggota keluarga lintas negara menjadi hal utama.

Iklan personal

Telkomsel Area III Jawa Bali siap menjajaki pengembangan layanan iklan personal lewat kartu As Fress dengan menggarap perusahaan lokal yang ingin mempromosikan produknya untuk konsumen terbatas.

Manager Marketing Telkomsel Jawa Bali Syaiful Bachri mengatakan program layanan iklan personal lewat ponsel tidak menutup kemungkinan dapat dimanfaatkan oleh perusahaan di tingkat lokal.

Pasalnya, tidak semua korporasi ingin membidik pasar secara luas. Sebaliknya, banyak dari mereka yang justru membutuhkan pemasangan iklan yang hanya untuk konsumen di daerah setempat.

Oleh Roni Yunianto & Dwi Wahyuni
Bisnis Indonesia
Post Extras: 🖨️ Cetak
devender
(Penasihat)
08/09/08 21:12
😐 Re: Telkomsel 100% No.1
emang urutan provider yg pertama tu siapa ya bos?
Post Extras: 🖨️ Cetak
h317di
(Penasihat)
11/09/08 10:47
😐 Re: Telkomsel 100% No.1
meski pelanggan sejak 2002, aku kurang begitu suka ma simpati. saat provider lain banting harga, tarif simpati masih tetep mahal dg berdalih pada kualitas sinyal. di tempatku sih telp+sms ga masalah. tapi gprs nya useless.
Post Extras: 🖨️ Cetak
Jayz
(Penasihat)
11/09/08 18:02
😐 Re: Telkomsel 100% No.1
di sumpahin cepet bangkrut deh tsel...bapuk puk puk puk
Post Extras: 🖨️ Cetak
smart40568
(Penasihat)
11/09/08 22:24
😐 Re: Telkomsel 100% No.1
Hem..kalo di liat dari segi marketting sih memang fakta dan kenyataan TELKOMSEL memang nomor 1 dari sapapun sudah tahu dan TELKOMFlexy juga nomor 1 dari CDMA,mo tahu kenapa?karena TELKOMSEL dan TELKOM merupakan produk domestik yang pertama kali berkembang pesat di indonesia,saya tidak bilang pertama kali ada,Mungkin saja TELKOM pertama kali ada dari segi Fixed Telepon,tetapi GSM TELKOMSEL bukan operator GSM pertama,GSM pertamakali ada sejak 1990an ialah SATELINDO melalui produknya SATELINDO PRABAYAR dan SATELINDO Paskabayar,tahun 1992 TELKOMSEL berkibar dengan munculnya KartuHALO dan itulah produk pertama,tetapi dengan Brand TELKOM yang telama selama ini juga telah menyatu dalam hai masyarakat tak di duga TELKOMSEL naik daun begitu cepat,banya masyarakat mesih sampai sekarang menganggap TELKOMSEL sama dengan TELKOM,tetapi fakta berbeda,kenaikan TELKOMSEL karena berkedok brand TELKOM yang menjadi tak terduga bagitu memboming di masyarakat,di lain pihak TELKOMSEL 75% masih dimiliki BUMN pada saat itu dan juga promosi yang sangat gencar tidak segencar SATELINDO.Tidak hear hari ini TELKOM dan TELKOMSEL menjadi no 1 dari bidang CDMA dan GSM
Post Extras: 🖨️ Cetak
Heats
(Penasihat)
12/09/08 03:43
😐 Re: Telkomsel 100% No.1
satelindo gsm adanya baru tahun 1994 pak, sedangkan telkomsel dengan kartuhalo nya baru hadir di tahun 1995. saat itu pernah sempat satelindo gsm berada di nomor 1 dalam hal jumlah subscriber tapi karena pengembangan jaringan yang kurang agresif dibandingkan telkomsel ya tergeserlah dia ke no. 2 yang sekarang telah melebur ke dalam indosat.
Post Extras: 🖨️ Cetak
bgroup
(Penasihat)
12/09/08 04:01
😐 Re: Telkomsel 100% No.1
Quote:
h317di said:
meski pelanggan sejak 2002, aku kurang begitu suka ma simpati. saat provider lain banting harga, tarif simpati masih tetep mahal dg berdalih pada kualitas sinyal. di tempatku sih telp+sms ga masalah. tapi gprs nya useless.

sama bos, saya juga pelanggan dari tahun 1997. berhubung dulu lagi
beli simpatinya mahal banget jadi sayang mau diganti tuh..
Post Extras: 🖨️ Cetak
stickerlifter
(Penasihat)
12/09/08 09:05
😐 Re: Telkomsel 100% No.1
Quote:
JayZ said:
di sumpahin cepet bangkrut deh tsel...bapuk puk puk puk

Kayaknya nggak perlu nyumpahin deh Bro, nambahin dosa aja. Kalo Telkomsel servicenya jelek otomatis pasti ditinggal pelanggan. Tapi kenyataan khan Telkomsel masil leading. Kalau misalnya service Telkomsel tidak sesuai dengan standard anda mungkin sudah saatnya pindah ke provider lain seperti XL atau Smart misalnya. Silahkan nyesel nantinya he he he.....
Post Extras: 🖨️ Cetak
rusco
(Penasihat)
14/09/08 11:20
😐 Re: Telkomsel 100% No.1
Pembayaran mikro tanpa ribet

Fungsi ponsel sebagai alat telekomunikasi, media hiburan, dan akses Internet, kini bertambah lagi setelah PT Telkomsel meluncurkan layanan transfer uang lewat T-Remittance di Hong Kong, pekan lalu (Bisnis, 8 September).

Fitur ini melengkapi konten sebelumnya dalam cakupan layanan bernama T-Cash yang memungkinkan pelanggan berbelanja secara ritel di seluruh jaringan minimarket Indomaret di Pulau Jawa, Lampung, dan Bali.

Sekali pun terdengar keren, praktiknya Indonesia sangat tertinggal jauh dalam hal pembayaran mikro (micro payment) melalui peranti seluler ini. Sebab negara dunia ketiga saja sudah lebih modern mengimplementasikannya.

Misalnya di India, di mana pelanggan ponsel yang membayar lisrik via SMS akan dapat diskon 0,5%. Adapun di Kenya, Afrika Barat, limit transfer antarponsel di negeri itu sudah mencapai US$1 juta per transaksi.

Di Afrika Selatan, asuransi perjalanan cukup diakses via ponsel ketika perjalanan tengah berlangsung. Layanan itu sendiri telah diberikan sejak beberapa tahun lalu (Tomi Ahonen, Mobile is 7th Media Channel: 2008).

Pencapaian lebih fenomenal diraih Infonxx, sebuah perusahaan call center di Filipina yang telah membayar remunerasi bulanan langsung ke rekening ponsel karyawannya.

Faktor geografis

Di sisi lain, letak geografis Indonesia yang terpisah-pisah di lebih 17.000 pulau membuat kebutuhan pada akses pembayaran yang mudah kian mendesak. Masyarakat sangat perlu medium pembayaran baru yang lebih praktis.

Belum ditambah banyaknya anak bangsa ini yang mengadu nasib di negeri orang-jumlah TKI di Hong Kong saja mencapai sekitar 120.000 orang-, maka sarana pembayaran yang tak ribet adalah sebuah keharusan.

Dalam kaca mata moneter, simplikasi pembayaran ini menjadi solusi mahalnya biaya pembuatan uang kartal. Data Bank Indonesia menunjukkan pemerintah tiap tahun butuh sekitar Rp8 triliun guna cetak uang kartal yang semua bahan bakunya impor.

Pada sisi lain, pengguna seluler sendiri di Indonesia hingga paruh pertama tahun ini diproyeksikan mencapai sekitar 126 juta nomor. Ini hampir mencapai status teledensitas 50% dari total penduduk Indonesia.

Dengan demikian, apa yang sudah dirintis Telkomsel melalui T-Cash dan T-Remittance haruslah menjadi pemacu bagi pelaku usaha lainnya mengembangkan layanan serupa di masa mendatang.

Penulis menyumbang beberapa ide supaya rintisan micropayment mobile ini kian meluas. Pertama, fasilitas pembayaran baru akan diberikan jika telah memenuhi ekspektasi umum: Mudah, aman, pembayaran berbasis transaksi, dan terstandarisasi.

Ini penting ditekankan karena pengalaman menunjukkan layanan yang prematur hanya menciptakan kekecewaan mendalam, yang gilirannya sangat menyulitkan terciptanya less cash society di Indonesia.

Karena itu, siapa pun yang akan mencoba menawarkan pembayaran mikro elektronik di masa mendatang, haruslah bersungguh-sungguh mewujudkan ekspektasi umum di atas manakala layanan mulai digelar.

Kedua, perlu dibangun kerja sama yang baik antara jaringan pembayaran (payment network) dengan penyedia jaringan telekomunikasi bergerak (mobile network) dalam menuntaskan berbagai kendala operasional.

Ini perlu digaungkan karena misi dan kekuatan kedua jaringan industri itu tidak persis sama, sehingga kendala operasional yang dihadapi sangat beragam. Ini, jelas, tidak mungkin tuntas bila masing-masing pihak berjalan sendiri.

Ketiga, perlu meyakinkan masyarakat bahwa layanan yang diberikan memiliki sistem yang teruji keamanannya. Studi yang dilakukan lembaga riset telematika, Sharing Vision (2007), menunjukkan keamanan itu terkait titik rawan.

Titik rawan micropayment seluler ini terletak pada transmisi sinyal antara ponsel ke base tranceiver station, arsitektur firewall, serta pada server pemrosesan sinyal.

Dilihat dari prosesnya, pemanfaatan titik rawan bisa dilakukan dengan tiga cara yakni langsung melalui perangkat telepon, pencurian data saat melewati proses over the air, hingga manipulasi (fraud) transaksi.

Pada perangkat telepon, hacker terkini telah mampu membuat piranti lunak yang bisa menghentikan proses pengiriman dan penerimaan pesan. Alhasil, kustomer pun dipalsukan sehingga seluruh isi account uang digital (e-money account) terkuras.

Ada pula yang menggunakan metoda peniruan identitas dan kode rahasia dengan cara menebak-nebak password. Untuk serangan via transmisi, pencurian data dilakukan saat data yang tidak dienkripsi melewati permukaan udara.

Proses ini juga akan mengakibatkan pencurian identitas dan kode rahasia kustomer. Karenanya, direkomendasikan agar desain otentifikasi dari perusahaan yang mengeluarkan kartu ke kustomer harus dibuat sehandal mungkin.

Masih banyak aneka contoh lainnya. Yang jelas, apabila titik rawan ini tidak diantisipasi dengan baik, maka yang segera terjadi adalah pencurian identitas personal yang akhirnya mematikan perlahan layanan pembayaran seluler ini.

Karenanya, di tengah tuntutan pasar yang kian kritis, operator seluler mutlak membangun sistem keamanan plus manajemen informasi komprehensif apabila ingin layanan ini segera memasyarakat.

Jadi, jika mengingat potensi pasar yang amat besar, maka pembayaran elektronik melalui ponsel adalah tugas bersama yang harus dikembangkan. Percayalah, bangsa ini sudah saatnya memperoleh kehidupan yang lebih aman, mudah, dan praktis! (muhammad.sufyan@[tautan dihapus])

Oleh Muhammad Sufyan
Wartawan Bisnis Indonesia
Post Extras: 🖨️ Cetak
🔒 Topik lama, hanya bisa dibaca. Isinya diambil dari forum Forum Ponsel yang dulu: tautan, nomor telepon, dan alamat email sudah disembunyikan. Ingin kiriman ini dihapus atau dikoreksi? Hubungi kami dan sebutkan alamat halaman ini. Ingin membahas topik serupa? Buat topik baru di Forum Innovative.
Isi forum adalah pendapat pengirimnya. Kiriman diperiksa sebelum tampil. © Forum Ponsel · Privasi · Syarat · Aturan forum