| 4d4ms (Penasihat) 06/02/08 22:05 | 🙂 mungkin enggak ada hp IP base next generation kalau kita amati perkembangan technologi ke depan semua ber basic IP dari gprs,3G,mungkin wimax next, sehingga saya berfikir mungkin dong hp ber basic IP yg nomornya kita bisa tentukan sendiri dimanapun bisa pakai tanpa roaming, tanpa ganti nomor apapun oprator yg di gunakan, dan oprator hanya sebagai penyedia layanan data/VPN & perang tarif hanya di data. singkatnya kayak email aja alamat email kita bikin sendiri dimanapun kita buku/kirim email bisa dg alamat yg sama. mohon pendapatnya rekan feper......... Post Extras: 🖨️ Cetak |
| evotech (Penasihat) 07/02/08 12:42 | 😐 Re: mungkin enggak ada hp IP base next generation Bisa... nantinya bisa saja 1 account itu untuk email, call, SMS, dll... Itu sangat mungkin.... Konvergensi ini sudah mulai kelihatan... Post Extras: 🖨️ Cetak |
| bienyu (Penasihat) 07/02/08 13:39 | 😐 Re: mungkin enggak ada hp IP base next generation Kalau HP-nya sudah berbasis IP mungkin tinggal menunggu ada operator yang mengeluarkan layanan VoIP. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| plinplanman (Penasihat) 07/02/08 18:37 | 😐 Re: mungkin enggak ada hp IP base next generation sangat mungkin. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| DrJones (Penasihat) 07/02/08 21:53 | 😐 Re: mungkin enggak ada hp IP base next generation dan itu artinya................................ tarif telepon murah.. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| 4d4ms (Penasihat) 08/02/08 10:27 | 😐 Re: mungkin enggak ada hp IP base next generation oprator tidak mikirin tarif sms & voice, hanya nyediain jaringan data dengan harga dan band wide yang kompetitif perlu segera terealisasi dong sistem ini Post Extras: 🖨️ Cetak |
| diktus_keren (Penasihat) 08/02/08 11:36 | 😐 Re: mungkin enggak ada hp IP base next generation yoii keren nich klo udah kaya gini pake VoIP nelpon kemana aja jadi murah banget. cuman apakah operator bisa menyediakan kapasitas bandwith data yang besar??mengingat akan banyak orang pake ini klo bandwithnya kecil sama aja donk kualitas voice juga akan berkurang Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 08/02/08 12:56 | 😐 Re: mungkin enggak ada hp IP base next generation Pengguna WiMax dunia akan lampaui 100 juta dalam 5 tahun JAKARTA: Perusahaan riset Maravedis memperkirakan jumlah pengguna layanan nirkabel pita lebar WiMax (worldwide interoperability for microwave access) akan mencapai 110 juta sambungan pada akhir 2013. Hal itu tertuang dalam laporan riset pasar dan analisis telekomunikasi yang bertajuk WiMax, LTE and Broadband Wireless Worldwide Market Trends 2008-2014." "Chipset WiMax akan mulai terpasang pada notebook pada semester kedua 2008. Adapun pada perangkat komputasi genggam akan tersedia pada 2009, kemudian berlanjut ke perangkat elektronik pada awal 2010," ujar Adlane Fellah, President dan CEO Maravedis sekaligus penulis dari laporan tersebut, seperti dikutip 3G.co.uk. Dia juga mengungkapkan adanya penggelaran jaringan WiMax besar-besaran yang dilakukan oleh operator seluler di AS seperti BSNL dan Sprint pada 2008-2009. Dari sisi teknologi, laporan tersebut mengonfirmasi bahwa teknologi WiMax akan berdampingan dengan teknologi LTE (long therm evolution) sebagai jaringan generasi keempat (4G). Penggabungan kemampuan ini akan terjadi yang termasuk dalam hal perpindahan jaringan secara mulus, kualitas pelayanan (QoS), fasilitas keamanan jaringan, arsitektur jaringan level atas, otentikasi pengguna dan pembayaran silang tagihan, tetapi tidak untuk jaringan hubungan dengan level rendah. Mengutip prediksi Nokia dan Ericsson, LTE kemungkinan akan memasuki pasar selambat-lambatnya pada 2009. Namun kemungkinan besar pasar utama LTE, yaitu para operator 3G, masih enggan mengadopsi LTE sampai 2012-2014. Perkembangan WiMax diperkirakan memperoleh keuntungan dari model pemasaran yang meniru Apple Macintosh pada 1984. WiMax akan sangat diminati oleh para early adopter dan mereka yang menentang bentuk-bentuk populer dari telepon seluler. (14) Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| prasetya_n (Penasihat) 08/02/08 19:17 | 😐 Re: mungkin enggak ada hp IP base next generation May.....be Yes May be No... Post Extras: 🖨️ Cetak |
| merzy (Anggota) 09/02/08 14:11 | 😐 Re: mungkin enggak ada hp IP base next generation Operator enggan pakai teknologi Wimax karena kalo tarifnya murah = sedikit keuntungan (maybe) Post Extras: 🖨️ Cetak |
| evotech (Penasihat) 09/02/08 15:14 | 😐 Re: mungkin enggak ada hp IP base next generation Yup.. bisa jadi... ARPU turun... sementara investasinya mahal Post Extras: 🖨️ Cetak |
| barkowi (Newbie) 09/02/08 16:33 | 😐 Re: mungkin enggak ada hp IP base next generation Sebenarnya kalo ada yang berani bisa aja di indonesia ada provider Voip semacam skype and gizmo. Diluar negeri penggunanya udah jutaan. Itu indikasi bahwa gak lama lagi sarana telepon murah yang berqualitas suara tinggi akan menggeser mobil phone. Dan mungkin investasi gak semahal operator GSM. Dengan banyaknya penyedia data di indonesia yg udah mulai menjamur,makin murah dan makin cepet aja, masalah bandwith bisa diatur2 lah. hehehe. so i think IP phone is a must. Possibiltiesnya endless and lebih luas. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| DrJones (Penasihat) 09/02/08 17:47 | 😐 Re: mungkin enggak ada hp IP base next generation tapi coba klo dilihatnya dari sisi begini: tarif murah ====> makin banyak pengguna yg memakai telepon operator ?? bukannya malah makin untung tuh ?? Post Extras: 🖨️ Cetak |
| 4d4ms (Penasihat) 10/02/08 08:55 | 😐 Re: mungkin enggak ada hp IP base next generation kalau segi technogi sangat mungkin dalam waktu dekat, tetapi saya yakin justru kendala di regulai sekarang aja oprator masih ribut masah tarif voice&sms belum lagi rata-rata oprator mengeluarin 2 kartu yang mahal buat sms tapi murah buat call dan yang murah buat sms tapi mahal buat call , belum lagi kartel terif yg dilakukan telkomsel & indosat apalagi oprator telekomunikasi sekarang mayoritas udah dikuasai asing yang pasti mencari untung sebanyak mungkin untuk diangkut ke negara pemodal, tinggal kita berharap dan mengkritisi pemerintah untuk lebih selektif dalam mengeluarkan kebijakan dalam bidang telekomunikasi khususnya Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 25/02/08 16:34 | 😐 Re: mungkin enggak ada hp IP base next generation Qualcom uji coba UMTS/HSDPA (Bisnis Indonesia, edisi hari ini) JAKARTA: Qualcom Incorporated, Telefonica Espania dan Huawei Technologies mengumumkan telah menyelesaikan uji coba 3G UMTS dan HSDPA yang menggunakan spektrum 900 MHz di Talarrubias, Spanyol. Hasil uji ini membuktikan bahwa UMTS dapat berdampingan dengan GSM pada frekuensi 900 MHz untuk memperluas peningkatan efisiensi spektrum UMTS untuk suara dan data pada 2100 MHz yang saat ini digunakan di pasar 3G Eropa. Teknologi UMTS/HSDPA pada spektrum 900 Mhz menghadirkan layanan suara dan layanan 3G berkecapatan tinggi yang hemat biaya dibandingkan dengan 2.100 MHz. Hal itu karena ada frekuensi yang lebih rendah, keunggulan ini memungkinkan peningkatan pada wilayah yang telah dijangkau sebuah base station dan menghemat biaya bagi operator dan jangkauan sinyal dalam gedung yang lebih baik.(Bisnis/14) Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 25/02/08 16:38 | 😐 Re: mungkin enggak ada hp IP base next generation Mendulang omzet dengan layanan mobile data berkecepatan tinggi Atas undangan Ericsson Indonesia, Bisnis berkesempatan mengikuti GSMA Mobile World Congress di Barcelona 11-14 Februari 2008. Berikut laporannya: Ajang pameran dan konferensi telekomunikasi nirkabel terbesar di dunia yang digelar oleh asosiasi yang fokus di bidang teknologi seluler GSM (global system for mobile communication) kali ini memang bukan yang pertama. Namun, ada beberapa catatan penting dari perhelatan yang menunjukkan begitu kuat dan cepatnya inovasi teknologi seluler, tidak hanya dari sisi jaringan, tetapi juga pengembangan varian pendukungnya termasuk konten. Kota Barcelona kembali dipilih untuk ketiga kalinya secara berturut-turut menjadi tempat penyelenggaraan hajatan besar telekomunikasi nirkabel dunia. Bedanya, forum dunia yang digelar di kota kedua terbesar di Spanyol kali ini tampil dengan nama GSMA Mobile World Congress. Sebelumnya, perhelatan ini mengusung nama 3GSM World Congress. Perubahan nama acara agaknya memang disesuaikan dengan perkembangan teknologi seluler saat ini dan ke depan. Hal itu juga terlihat jelas dari isu-isu dan teknologi yang ditampilkan selama pameran dan konferensi digelar. Preferensi penggunaan lalu lintas data via ponsel di Indonesia Pemanfataan Persentase Download nada dering 20% MMS 9% Instant messaging (IM) 7% E-mail 6% Browsing 4% Sumber : Diolah dari Ericsson Dari sisi teknologi, misalnya, selain evolusi lanjutan dari layanan telekomunikasi generasi ketiga (3G), seperti HSPA (high-speed packet access) dan LTE (long term evolution), stakeholder industri ini juga mulai fokus pada pengembangan produk yang hemat energi dan berbiaya rendah. Dalam pandangan Presiden dan CEO Ericsson, Carl-Henric Svanberg, efisiensi energi kini menjadi masalah krusial dalam bisnis, bahkan mendominasi agenda politik secara global. Menurut dia, mengoptimalkan efisiensi energi tidak hanya akan mengurangi dampak pada lingkungan, tetapi juga memangkas biaya-biaya jaringan dan membantu komunikasi menjadi lebih terjangkau bagi setiap orang. "Ericsson sendiri telah menempatkan diri sebagai pemimpin di area ini [efisiensi energi] dengan mengembangkan radio base station (RBS) yang inovatif, seperti Tower Tube dan solusi energi alternatif," tutur Svanberg. Ericsson baru saja meluncurkan RBS 6000 yang merupakan sistem multistandar, mendukung jaringan GSM, HSPA, dan LTE dalam satu paket sehingga bisa menghemat biaya operasional. Internet bergerak Di sisi lain, kebutuhan pengguna telekomunikasi saat ini tidak lagi sekadar layanan telekomunikasi dasar, tetapi menginginkan layanan yang dapat mendukung aktivitas sehari-hari di manapun mereka berada. Dengan demikian operator dituntut bisa memberikan akses telekomunikasi bergerak di mana-mana. Itulah sebabnya, dalam beberapa forum konferensi yang digelar di ajang GSMA Mobile World Congress 2008, isu utama yang diangkat lebih fokus pada upaya untuk mengoptimalkan peluang dari layanan nirkabel yang sudah ada untuk meraih keuntungan yang berlipat sekaligus membangun kekuatan akses di masyarakat. Terkait dengan hal itu, para vendor jaringan dan penyedia konten bersaing menawarkan solusi kepada operator dengan mengusung konsep optimalisasi infrastruktur yang sudah ada agar belanja modal yang dikeluarkan lebih rendah. Beberapa aplikasi dari pita lebar bergerak (mobile broadband) dan multimedia dinilai menjanjikan peluang bagi operator untuk memberikan nilai tambah kepada pelanggannya sekaligus meningkatkan ARPU. Seperti diutarakan Sol Trujillo, CEO Telstra, operator telekomunikasi asal Australia, pendapatan perusahaan tersebut dari layanan bergerak tumbuh pesat setelah menggelar jaringan pita lebar nirkabel berkecepatan tinggi di negara itu. Jaringan yang digunakan Telstra dikenal dengan nama Next G yang dikembangkan oleh Ericsson. Bersama Ericsson, operator tersebut juga telah membuat roadmap (peta jalan) pengembangan layanan telekomunikasi nirkabel di mana pada tahun ini akan menyediakan kecepatan akses 21 Mbps pada semua jaringannya di Australia dan sebesar 42 Mbps pada 2009 dengan menggunakan teknologi HSPA+. Operator juga sebetulnya memiliki peluang untuk mendulang pendapatan yang besar dari aplikasi TV, seperti IPTV dan TV bergerak. Untuk mengoptimalkan peluang dari layanan tersebut, diperlukan sinergi antara vendor, operator, dan penyedia konten untuk merancang aplikasi yang mengarah pada TV individual. Tentu saja dengan semakin canggihnya teknologi jaringan, yang kini rata-rata sudah mendukung HSPA dan segera menuju ke LTE atau dikenal dengan 4G, semua aplikasi mobile, termasuk akses Internet bergerak, tidak sulit dikembangkan. Bagaimana di Indonesia? Jan Signell, Presiden Ericsson Asia Tenggara, menuturkan peluang bagi operator di Indonesia untuk mendulang pendapatan dari layanan nonsuara secara mobile terbuka lebar. Dia menggarisbawahi layanan Internet bergerak (mobile Internet) berbasis HSPA sebagai peluang baru bagi operator telekomunikasi. "Di Indonesia, banyak PC [personal computer] yang belum terkoneksi dengan Internet, padahal penggunaan Internet saat ini jauh lebih beragam. Ini peluang besar bagi operator untuk memacu pendapatan dari layanan nonsuara," ujarnya. Signell mengungkapkan data penggunaan bulanan untuk perangkat bergerak di Indonesia menunjukkan 20% untuk download nada dering, sedangkan untuk mengirim dan menerima MMS sebesar 9%, e-mail 6%, IM 7%, dan browsing 4%. Bagaimanapun evolusi teknologi jaringan bergerak terus melaju. Namun, agak mengejutkan ketika sejumlah vendor dan operator memandang pesimistis terhadap masa depan teknologi worldwide interoperability for microwave access (WiMAX). Justru teknologi LTE yang diyakini lebih menjanjikan baik bagi vendor, operator, penyedia konten, maupun pengguna. (junaidi.halik@[tautan dihapus]) Oleh Junaidi Halik Wartawan Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
| ryolasta (Penasihat) 25/02/08 16:40 | 😐 Re: mungkin enggak ada hp IP base next generation wow... UMTS/HSDPA jalan di frekwensi 900Mhz......... hp jadul tetep nda bisa yah? tetep ujung2nya harus beli hp baru lagi ( Post Extras: 🖨️ Cetak |
| Prayudi76 (Penasihat) 25/02/08 19:25 | 😐 Re: mungkin enggak ada hp IP base next generation Ada setidaknya 1 operator telah menguji cobakan peralatan IP based di Indonesia, tepatnya di Jakarta Bukan hoax koq Kebetulan, sekitar 3 bulan lalu ngobrol dengan seorang enginering ( teknisi ) yang telah menguji coba Next.... Post Extras: 🖨️ Cetak |
| 4d4ms (Penasihat) 19/06/08 08:38 | 😐 Re: mungkin enggak ada hp IP base next generation StarHub Tengok Peluang 'Curi' Pelanggan Singapura - Singapura memiliki penetrasi telekomunikasi seluler melebihi jumlah penduduk. Meski demikian, StarHub yang duduk di posisi runner-up masih melihat adanya peluang mencuri pelanggan. Peluang itu timbul berkat adanya Full Mobile Number Portability yang diterapkan Singapura pada 13 Juni 2008. "Kalangan korporat atau perbankan banyak yang pelanggan lama dan telah menggunakan SingTel. Mereka sebelumnya sulit diraih karena tidak mau berganti nomor," tutur Jeannie Ong, Corporate Communications & Investor Relations, StarHub, dalam kunjungan media ke Control Center StarHub di Ayer Rajah, Singapura. Jeannie mengatakan, ada potensi untuk meraih pelanggan 'lama' tersebut setelah adanya Full Mobile Number Portability karena mereka bisa berganti operator tanpa berganti nomor. "Kebanyakan pelanggan itu juga sudah menggunakan layanan kami yang lain, yaitu televisi berlangganan dan akses broadband," ujarnya. Infocomm Development Authority (IDA), regulator telekomunikasi di Singapura, telah menerapkan Full Mobile Number Portability pada 13 Juni 2008. Lewat regulasi ini, sebuah nomor bisa dimiliki oleh pengguna hingga akhir hayat. Hal ini dilakukan melalui database terpusat yang dikelola oleh Centralised Database Administrator (CDA) Syniverse Technologies. Sebelum Full Mobile Number Portability, Singapura pernah menerapkan hal serupa melalui Call Forwarding (tetap harus berganti nomor). Upaya menerapkan Full Mobile Number Portability telah dilakukan sejak Juni 2006. Post Extras: 🖨️ Cetak |
| rusco (Penasihat) 19/06/08 09:22 | 😐 Re: mungkin enggak ada hp IP base next generation 'Lingkungan untuk produksi WiMax sudah siap' JAKARTA: Lingkungan untuk mendukung produksi perangkat nirkabel pita lebar WiMax buatan lokal dipandang sudah memadai dan siap masuk ke tahap produksi massal. Trio Adiono, Kepala Tim Riset dan Pengembangan Chipset Xirka, mengatakan ekosistem untuk produksi perangkat WiMax atau worldwide interoperability for microwave access lokal sudah dibangun sejak dua tahun yang lalu. "Sekarang chipset desain lokal sudah ada. System integrator juga sudah siap," ujarnya kepada Bisnis kemarin. Xirka adalah nama dagang chipset WiMax dari PT Versatile Silicon Technologies yang dipasarkan melalui kerja sama dengan PT Dama Persada. Menurut rencana, pembuat chipset itu akan bekerja sama dengan system integrator lokal, seperti PT Hariff Daya Tunggal Engineering, PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Inti), serta TRG Indonesia Tower. System integrator inilah yang akan menjual produk akhir perangkat WiMax kepada operator telekomunikasi, penyelenggara jaringan, dan penyelenggara jasa. Komponen dalam pembuat perangkat WiMax, kata Trio, di antaranya mencakup chipset, PCB (plain circuit board), base station, serta perangkat microcell dan macrocell. "Ibarat komputer, kami ini Intelnya, sedangkan pihak lain membuat komponen lain serta menggabungkannya menjadi komputer," tambah Trio yang juga Kepala Laboratorium IC Design Institut Teknologi Bandung itu. Trio mengatakan Versatile Silicon Technologies dan Dama Persada siap memproduksi chipset WiMax Nomadic tahun ini, dan berharap tahun depan bisa memproduksi chipset untuk WiMax Mobile. Produksi massal, katanya, sudah siap, tetapi menunggu pesanan, misalnya dari para operator telekomunikasi dan penyelenggara jaringan. "Kalau ada pesanan sekian ribu, misalnya, kami siap produksi." Dia berharap perangkat buatan lokal akan memiliki daya saing tinggi karena biaya produksi, pemasaran, dan layanan purnajualnya bisa ditekan. Trio menargetkan pihaknya bisa menjual 1 juta-2 juta chipset WiMax per tahun hingga lima tahun ke depan. Menurut perkiraan dia, masih tersisa banyak ruang bagi pesaing untuk menggarap pasar itu. "Kami berharap bisa menguasai 40% pasar WiMax di Indonesia." Menurut Trio, Indonesia merupakan pasar besar bagi perangkat dan layanan pita lebar nirkabel seperti WiMax karena pita lebar berbasis kabel sangat terbatas. Dia memberi gambaran layanan Speedy Telkom yang kini tumbuh pesat akan terhenti pada angka 7 juta-8 juta sambungan karena ketersediaan telepon saluran tetap. Sisanya, menurut dia, akan dilayani menggunakan teknologi nirkabel. Indonesia yang memiliki pengguna Internet 25 juta dan pelanggan di bawah 3 juta, masih tersedia pasar yang besar. "Jika penetrasi bisa ditingkatkan menjadi 30%-40% akan sangat menarik." Komponen lokal Trio menyoroti aturan pemerintah mengenai keharusan penyelenggara jaringan telekomunikasi menggunakan konten lokal. Menurut dia, dukungan dari Departemen Komunikasi dan Informatika terhadap pengembangan konten lokal di sektor telekomunikasi, khususnya WiMax, sudah memadai. Namun, masih perlu kejelasan mengenai definisi konten lokal ketika pemerintah melakukan audit terhadap perusahaan pengguna di Indonesia. "Saya berharap faktor desain yang buatan dalam negeri juga dipertimbangkan. Desain itu nilainya tinggi sekali," ujarnya. Dia memberi gambaran dari harga chipset WiMax sebesar US$35, biaya untuk penyelesaian akhir hanya US$3. Sisanya untuk desain dan pemasaran. "Yang US$3 itu seperti biaya untuk sablon dalam produksi kaos. Murah. Yang mahal desainnya. Tetapi ketentuan yang ada mengenai konten lokal membuat kaos tersebut dianggap dibuat oleh tukang sablonnya." Investasi untuk membuat alat produksi chipset WiMax, katanya, sangat besar sehingga jumlahnya sangat terbatas di dunia. "Saya berharap faktor desain produk masuk dalam perhitungan komponen lokal." (widodo@[tautan dihapus]) Oleh Setyardi Widodo Bisnis Indonesia Post Extras: 🖨️ Cetak |
Kami memakai cookie Google Analytics untuk memahami cara situs ini dipakai. Anda boleh menerima atau menolak. Kebijakan privasi