SERVICEPRO.ID ADALAH SOFTWARE UNTUK PARA TEKNISI DAN BISNIS JASA SERVIS

 

Blog entries oleh EnWui

1 decade ago   -   504 comments   -   16.6K views
vote up
3
vote down
P990i Part 1


Please No OOT


Thanks !


 

Sonyericsson

 


1 decade ago   -   607 comments   -   25.4K views
vote up
6
vote down
Part 1


No OOT Please !!!

 

Sonyericsson

 


1 decade ago   -   16 comments   -   1.1K views
vote up
1
vote down
Belakangan ini tuntutan untuk melakukan kegiatan edukasi pelanggan makin tinggi. Tuntutan ini seiring makin dinamisnya program-program pemasaran/promo yang dirilis para operator telekomunikasi selular.

Jika biasanya program promosi berusia tiga bulan, kini perubahan makin cepat. Hampir setiap bulan promosi baru muncul, sehingga iklan-iklan yang bermuatan tarif murah nyaris mendominasi ruang-ruang advertensi, baik di media cetak maupun elektronik.

Menyimak fenomena tersebut, regulator telekomunikasi dan lembaga konsumen meminta kepada seluruh operator telekomunikasi agar lebih transparan dalam beriklan. Regulator juga mengharap operator mengedepankan unsur edukasi publik dalam aktivitas pemasaran — iklan.

Regulator bereaksi seperti itu karena beberapa pihak telah menuduh iklan gencar berisi promosi tarif yang dilakukan operator telepon sesuler itu sebagai jebakan konsumen. Iklan tarif promo dinilai tak memberikan deskripsi yang jelas dan bahkan terkesan over claiming karena semua mengaku paling murah.

Klaim ”paling murah” memang belakangan menjadi mantera iklan-iklan operator seluler. Kata itu diharapkan bisa menghipnotis pasar, untuk memakai produknya.

Masalahnya, yang dimaksud murah itu seperti apa dan bagaimana menghitungnya? Itulah yang tak banyak muncul di iklan. Iklan-iklan itu umumnya hanya mencantumkan tanda bintang sebagai catatan: syarat dan ketentuan berlaku. Syarat dan ketentuan tersebut biasanya adanya di situs resmi operator atau brosur yang belum tentu dibaca semua konsumen.

Operator dan biro iklan bisa jadi punya keterbatasan ketika harus menyampaikan semua pesan, termasuk muatan edukasi dalam sebuah iklan, karena terlalu panjang. Kalau dipaksakan masuk dalam sebuah iklan jadinya malah seperti pengumuman, bukan karya kreatif yang catchy dan memancing orang memperhatikannya.

Memang operator tidak diam saja. Mereka telah melakukan sejumlah edukasi tentang esensi dari kata murah tersebut. Edukasi biasanya dilakukan dalam acara talk show di radio atau program-program below the line.

Masalahnya, duplikasi media radio dibanding cetak dan televisi –- yang lebih sering digunakan operator untuk beriklan — sangatlah rendah. Akibatnya, hanya sebagian kecil masyarakat yang mengerti apa yang dimaksud murah dari para operator tersebut.

Yang lebih krusial lagi, akibat persaingan yang begitu ketat, mau tidak mau para operator terpaksa terus mengubah taktik pemasaran. Lihat saja dalam perang tarif ini. Selama 3 bulan terakhir saja setidaknya sudah beberapa kali promo tarif dikoreksi, dari Rp 1 per detik, jadi Rp 0, lalu Rp 0,1, kemudian Rp 0,01, lalu jadi Rp 0,000001, sampai bicara sepuasnya.

Itu artinya, ketika program edukasi untuk tarif yang Rp 1 per detik belum sepenuhnya dipahami publik, program promo Rp 0,1, sudah harus juga disosialisasikan. Publik belum ”ngeh”, sudah ada program lain lagi. Bisa jadi, ketika belum mencerna betul satu promo, publik sudah harus mempelajari promo senanjutnya.

Padahal, seperti dikeluhkan banyak pihak, publik tak pernah diberi edukasi tentang konsekuensi dari promosi tarif murah ini terhadap layanan. Publik hanya merasakan beberapa saat setelah program promo perang tarif berlangsung, hampir semua operator mengalami gangguan jaringan di saat-saat tertentu.

Gangguan yang terjadi, misalnya susah dihubung, network busy, success call ratio menurun, meski sinyal tetap penuh.

Dengan edukasi yang lengkap dan transparan, pada akhirnya murah atau mahal, konsumen yang akan menentukan. Tarif rendah, bisa saja tak bisa disebut murah, bila ternyata susah dihubungi. Sebaliknya, tarif mahal, tapi semua keinginan konsumen terpenuhi, konsumen bisa saja menganggapnya murah.

Dalam Hukum Keterusterangan Al Ries & Jack Trout, disebutkan, ”Jika Anda mengakui segi negatif, calon pelanggan akan memberikan Anda segi positif.”

Jadi, tidak selamanya komunikasi pemasaran itu harus menyembunyikan hal-hal negatif, seperti risiko dan cara penghitungan tarif.

TAK CUKUP HANYA HARGA
Secara sederhana, yang dibeli pelanggan dari produsen (operator telekomunikasi) adalah sebuah produk atau layanan, tentunya yang berkualitas. Dalam layanan yang berkualitas tersebut ada dua komponen besar: harga dan manfaat.

Dalam jasa layanan telekomunikasi, harga adalah uang yang dibayarkan pelanggan untuk membayar lamanya ia menggunakan jaringan operator tersebut. Katakanlah pelanggan A, menelpon menggunakan fasilitas kartu prabayar operator X selama 3 menit, maka dia membayar umpamanya Rp 10.

Rupanya saat ini semua operator ”kompak” untuk fokus dan eksplorasi tarif dalam pesan komunikasi.

Tarif, atau harga bisa jadi secara jangka pendek merupakan taktik yang paling ampuh digunakan dalam promosi. Namun, potensi pengembangannya terbatas. Karena, promo tarif yang populer ya cuma turun, dan kalau bicara turun, pasti ada batasannya. Dan benarkah yang diinginkan pelanggan hanya tarif murah?

Sementara ada komponen layanan lain yang lebih unlimited untuk dieksplorasi, yaitu: manfaat. Sebut saja: coverage, customer service, jaringan distribusi (kemudaham mendapatkan isi ulang, dan sebagainya), sucess call ratio, fitur, dan layanan nilai tambahnya (SMS, MMS, m-banking, ring back tone), akses Internet dan sebagainya.

Jika ditelaah lebih jauh, sejatinya, untuk industri — yang berbasis teknologi yang cepat berubah — dalam berhubungan dengan pelanggannya, tak bisa melihat kebutuhan pelanggan hanya dari sisi ”past dan present” saja.

John F Lytle, dalam bukunya berjudul What do you your customers really want? mengatakan bahwa riset pemasaran harus difokuskan pada kebutuhan pelanggan di masa “present dan future”.

Artinya, memahami kebutuhan pelanggan saat ini saja tidaklah cukup. Operator juga harus mampu menangkap dan memprediksikan kebutuhan pelanggan di masa mendatang. Ini sangat relevan dengan industri telekomunikasi yang sangat dinamis.

Di satu sisi, perkembangan teknologi itu sendiri merupakan pemicu perubahan perilaku pelanggan. Di sisi lain, aspek sosial, ekonomi, budaya, dan kompetitor juga aspek sangat penting yang menyebabkan perubahan perilaku dan kebutuhan pelanggan.

Karenanya, untuk memasarkan produk-produk berbasis teknologi tinggi seperti ini aspek edukasi pelanggan menjadi faktor fundamental. Agar pelanggan dan calon pelanggan yang semula tidak paham, menjadi paham, dan kemudian menjadi loyal.

Untuk bisa memberikan edukasi yang tepat, tentunya pemahaman operator tentang siapa pelanggan yang dibidik sangatlah penting. Program komunikasi yang dibuat pun menjadi tepat guna dan tepat sasaran. Artinya, unsur konteks dan isi komunikasi harus dikelola dengan baik. Saat target pasar makin beragam, baik strata ekonomi, sosial maupun kultural, maka diferensiasi isi dan konteks pun dilakukan sesuai segmentasi pasar.

Apapun, pada akhirnya program komunikasi yang dilakukan oleh produsen adalah untuk menggiring calon pelanggan, mula-mula hanya aware, desire, kemudian trial, experience, akhirnya repeat.

Reaksi pengulanganlah (repeat) yang diharapkan semua operator. Reaksi ini membuat pelanggan paham kenapa membeli layanan sama artinya dengan memberikan alasan kepada pelanggan kenapa ia harus loyal atau malah lebih suka memilih situasi yang seperti sekarang ini: Satisfied today, dissatisfied tomorrow.




Ventura Elisawati
seperti dikutip dari http://vlisa.com

 

General How-to GSM Operator

 


1 decade ago   -   493 comments   -   42.1K views
vote up
3
vote down
Part 1


TheRealOne said:

Quote:

Beda antara hape SE yang Symbian dan Non-Symbian dalam hal Album Art atau ArtWork :

1. Non-Symbian
Album Art harus "dimasukkan" ke dalam setiap file lagu dengan menggunakan iTunes, baru akan muncul di handphone

2. Symbian
Album Art tidak perlu "dimasukkan" ke dalam setiap file lagu dengan menggunakan iTunes, cukup dengan cara : copy file image Album Art nya, simpan di dalam folder Album yang sesuai dengan nama file bebas (extension jpg), ukuran yang optimum adalah 100x100 pixel tetapi boleh juga 200x200 atau 300x300 pixel.

Selamat mencoba.






7118 said:

Quote:

mau tanya,

kabel data sync nya pendek yah ? atau gua dapat yg pendek ?















No OOT Please

 

Sonyericsson

 


1 decade ago   -   16 comments   -   1.5K views
vote up
2
vote down
Di saat berselancar di dunia maya sudah mulai menjadi gaya hidup sebagian masyarakat, khususnya di kota besar, saat itu pula kebutuhan untuk bisa “nyambung terus” pun makin tinggi.



Apalagi bagi mereka, kalangan pecinta gadget yang punya banyak email account, gemar bersosialisasi melalui dunia maya, atau hobi chatting.

Sebagai kalangan yang sangat haus akses Internet, mereka harus selalu connect selama 24 jam. Bila jaringan Internet putus atau lambat, maka segmen ini pulalah yang paling merasa paling terganggu, seakan kehilangan asupan oksigen bagi tubuhnya.

Belakangan mobile broadband Internet mulai marak di Indonesia. Beberapa operator yang sudah memiliki lisensi 3G seperti XL, Indosat dan Telkomsel, gencar berpromosi menawarkan layanan tersebut. Bagaimana layanannya?

Mereka memberi kemudahan layanan bagi pelanggan untuk mengakses Internet di mana saja, kapan saja, saat lagi jalan ataupun di tempat-tempat mereka biasa nongrong, di mal, kafe, kampus, busway, stasiun, dan lainnya.

Pada mulanya, layanan akses mobile broadband, sangat lancar jaya. Kecepatan aksesnya bahkan bisa mencapai 3 Mbps. Namun, belakangan kecepatan ini kian menurun. Ada apakah gerangan?

Masalah kecepatan akses muncul ketika jumlah pengguna/pengakses data kian meningkat. Para pengguna pun mulai merasakan lambatnya koneksi, bahkan acap kali mendapati “sinyal bengong”. Sinyal ada, mentok, tapi tak ada koneksi ke Internet. Dengan kata lain, sambungan ada tapi tak bisa browsing. Secara bercanda seorang pengguna menyebutnya “sinyalnya kok main petak umpet”.

Secara sederhana, berhasil tidaknya atau cepat lambatnya akses yang didapat seseorang ketika melakukan akses Internet menggunakan mobile broadband seperti 3G/HSDPA memang tergantung berapa banyak pengguna yang melakukan akses di satu titik (BTS) pada saat yang sama. Jika kapasitas di titik tersebut sedang penuh, maka koneksi yang dilakukan akan ditolak. Akibatnya, bisa saja pengguna mendapatkan sinyal, tapi tidak bisa melakukan browsing.

Ada juga dua orang pengguna yang sedang melakukan browsing di titik yang sama, menggunakan jaringan operator yang sama, namun mendapatkan speed yang berbeda. Si A bisa akses dengan kecepatan 450 Kbps, sementara si B hanya mendapat 135 Kbps.

Itu terjadi karena koneksi menganut konsep first come first serve. Artinya, si A yang terlebih dulu connect, kebetulan pengguna jaringan di wilayah tersebut belum penuh, sehingga si A bisa mendapat speed yang lebih tinggi. Sementara ketika kemudian si B masuk, ternyata jaringan di wilayah tersebut sudah mulai penuh, dan si B cukup puas mendapatkan kapasitas yang tersisa.

Saat ini, umumnya konfigurasi jaringan akses data yang diterapkan oleh operator selular berbasis teknologi GSM adalah: GPRS, EDGE, 3G, HSDPA/3,5 G. Untuk GPRS, boleh dibilang, semua BTS milik operator GSM, semisal XL, sudah mendukung (GPRS ready).

Sedangkan untuk cakupan 3G, memang belum menjangkau semua wilayah. Tapi setidaknya, sampai saat ini sudah sekitar 80 kota (sampai tingkat kabupaten) yang sudah 3G ready.

Jaringan HSDPA memang masih difokuskan di ibu kota-ibu kota provinsi, itu pun masih belum di semua pulau. EDGE yang diimplementasi belakangan adalah untuk menggantikan wilayah-wilayah yang utilisasi GPRS-nya cukup tinggi.

Dengan desain jaringan seperti ini, ketika pengguna sedang mobile dan akses data, tentunya kualitas sinyal yang didapatpun bisa beragam: bisa cepat, atau lambat, sesuai tipe BTS yang meng-cover-nya. Dan bisa saja, tiba-tiba koneksi terputus. Ini terjadi ketika pengguna melewati wilayah perbatasan antar-BTS. Pada saat itu, terjadi hand over antara satu BTS ke BTS lain. Dan kebetulan di BTS yang baru, kapasitas/kanal data sedang penuh, sehingga akses pengguna tersebut terpaksa mental.

Sejatinya, manajemen jaringan dan kapasitas memang tidak sesederhana gambaran di atas. Apalagi saat ini, dengan tarif murah (untuk voice) yang ditawarkan para operator, selain meningkatkan jumlah pelanggan, pastinya juga menambah jumlah trafik. Artinya, utilisasi jaringan pun jadi makin tinggi. Bisa jadi, tingginya trafik suara ini yang –- terpaksa — menggusur kapasitas yang semestinya dialokasikan untuk data.

Menghadapi situasi seperti ini memang para operator harus bekerja ekstra keras. Baik untuk membangun jaringan (terutama untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas) serta menyiapkan jaringan berbasis IP. Selain itu, mesti pandai-pandai mengelola frekuensi terbatas yang dimiliki operator agar mampu menampung jumlah pelanggan yang makin besar.

Jadi bila saat ini pengguna mobile Internet masih mendapati “sinyal palsu”, itu adalah bagian dari proses pertumbuhan yang cepat dari industri berbasis teknologi seperti telekomunikasi ini. Pemahaman para stakesholder dan sosialisasi persoalan ini menjadi sangat penting perannya. Dan tentu saja solusi adalah yang diharapkan.


Bagaimana Menurut Anda?






seperti dikutip dari http://vlisa.com

 

General How-to GSM Operator

 


1 decade ago   -   497 comments   -   16.3K views
vote up
7
vote down
Part 3


No OOT Please !!!

 

Sonyericsson

 


1 decade ago   -   497 comments   -   31.4K views
vote up
9
vote down
Part 2



No OOT

 

Sonyericsson

 


1 decade ago   -   511 comments   -   27.1K views
vote up
6
vote down



Part 1












No OOT

 

Sonyericsson

 


1 decade ago   -   557 comments   -   28.2K views
vote up
6
vote down
Part 1



Jangan OOT di Sini Please...!




HEADZ said:

klo gw inget2.. kmaren ada kejadian aneh
mungkin ini awal mulanya k770 gw jadi error
waktu itu mo instal music mate via MPE
karna gw lom pnah nginstal aplikasi sendiri,, gw ga tau ternyata klo pas kita ud klik file yg mo di instal,, ada konfirmasi di layar hp
karna gw kira instalnya gagal ( karna gw ga liat layar hp ),, lgs gw eject dan gw cabut kabel datanya ^ ^
pas gw ud sadar,, k770 gw ud nge blink2 ga jelas,,, eror gtu lah pokoknya
trus kmaren sempet keujanan juga sih >.<
tpi ga ada kontak lgs sih,, soalnya gw pke pouch bag yg kaya buat anak cewe.. bahannya beludru
pas nyampe rumah,, monitor ud kaya ngembun gtu.. sama bagian keypad juga
tadi juga mo trans data via blutut ke hp temen,, setengah jalan connection lost mulu..
ampe terakhir connection lost trus restart sendiri

klo bawa ke SESC,, semua modding dibalikin ke standard,, ketauan ga ya klo k770 gw pnah di modd?
kan klo ketauan,, garansinya void >.<

 

Sonyericsson

 


1 decade ago   -   61 comments   -   4.3K views
vote up
2
vote down
Beberapa hari lalu, Herry SW, pemerhati telekomunikasi dari Surabaya, meneruskan sejumlah komentar pengguna layanan selular yang diposting melalui blog-nya.

Herry menampung komentar pengguna atas tarif baru XL bebas yang Rp 0,0000...1/dtk, yang diluncurkan sejak 5 Maret lalu. Yang justru menarik disimak adalah uneg-uneg sejumlah pengguna layanan paska bayar, yang terkesan selama ini merasa dianaktirikan.

Kebetulan Sabtu malam lalu, saat kondangan pengantin anak Pak Cahjana, Direktur Jenderal Telematika Depkominfo, di Bandung, aku bersua dengan Pak Hermawan Kartajaya (HK), dan sempat ngobrol ihwal topik di atas.

Kebetulan pula, kami sama-sama melanggani layanan pasca bayar beberapa operator selular. Obrolan jadi makin seru karena kami tak cuma berdiskusi sebagai pelanggan tapi juga sesama peminat marketing.

Sebagai pelanggan, para pengguna pasca bayar yang membayar tagihan rata-rata di atas Rp 1 juta saat ini memang tak lagi dianggap kalangan premium. Nasibnya sudah sama dengan pelanggan yang mengejar tarif murah: di mana saat mau menelepon belum tentu dapat sinyal. Saat sudah nyambung pun, teleponnya sering tiba-tiba terputus. Dan, saat ada masalah, petugas layanan pelanggannya makin susah dihubungi.

Pokoknya, kalau malam teleponku ini mandul, gak iso gae nelpon, ujar Adiana, seorang pemimpin cabang sebuah bank di Jawa Timur yang setiap bulan tagihan pasca bayarnya tak kurang dari Rp 2 juta. Padahal dia sudah berlangganan sejak 1999, dan selama ini cukup puas dengan layanan yang ada.

Mencermati perang tarif yang kini gencar dilakukan sejumlah operator selular, HK berujar, Promo prabayar yang gila-gilaan mungkin mampu mengundang crowd pelanggan baru prabayar dalam waktu singkat. Jumlah pelanggan bisa jadi menggelembung. Tapi, itu bukan jenis pelanggan yang bisa diloyalkan lho untuk jadi pelanggan jangka panjang.

Menurut HK, promo yang ada sekarang ini sama halnya mengejar segmen "atlet". Lho? Maksudnya pelari. Artinya, karakter segmen ini adalah begitu ada operator lain menawarkan promo yang dianggap lebih murah, segmen akan lari dengan cepat ke sana. Dan operator tidak akan sanggup berlari lebih cepat dibanding pelanggan "atlet" ini.

Kenapa pra bayar yang digarap habis-habisan? Bagaimanapun, kalau dilihat portofolio para operator saat ini, jumlah pelanggan masih didominasi segmen pra bayar (lebih dari 95 persen). Secara kuantitas, mengejar yang dominan dan memberikan pendapatan (cash in) di depan merupakan prioritas bagi para operator.

Namun, secara jangka panjang, menahan pelanggan atlet untuk menjadi pelanggan loyal dan menjadi pengisi tetap pundi-pundi operator juga bukanlah hal yang mudah.

Situasi ini berbeda dengan pelanggan pasca bayar setidaknya dari yang terlihat. Meski tanpa iming-iming penurunan tarif, pemberian hadiah maupun reward, mereka tetap setia dan tidak berlari.

Rasanya, sudah saatnya operator berpikir keras menambah manfaat bagi produk pasca bayar, sehingga pelanggan pra bayar mau masuk ke situ. Karena, jika diibaratkan operator itu adalah seorang pemburu, janganlah berharap mendapatkan 7 burung yang ada di pohon, sementara 1 burung yang sudah ada di tangan justru lepas (atau dilepaskan).

Bagaimana menurut Anda?




Ventura Elisawati
dikutip dari http://vlisa.com

 

General GSM Operator

 


 

EnWui
1,106
Addicted

 

RSS

 

Stats
Register: 1 decade ago
(Apr 28, 2002 10:39 pm)

Total topic: 156 topics
Total ads: 0 ads
Total review: 26 reviews
Total sharing: 125 shares

Blog views: 7759 hits

 

Recent post